Haduh.. ini fic gak kelar-kelar. Gak terasa, nih fic dah berjalan setahun lebih. Yak! Ini chapter penghabisan! Chapter terakhir. Pengen cepet-cepet namatin sih.
Happy reading minna-san and here we go! XD
Disclaimer:
Papi Masako (Masashi Kishimoto) kemana ya? Katanya mau warisin Naruto ke gue.
*Masashi Kishimoto: mana mungkin! Btw, Jangan asal plesetin nama gue, author gila! –geplak author-*
Warning:
Tolong kasih teguran sama misstypo yang lagi berpesta pora dalam fic gaje ini, AU, OOC yang kelewatan, gaje berdatangan, lebay nginep -?-, terselip bahasa elo-gue, dwwgl (dan warning-warning gaje lainnya –ciptain singkatan gaje lagi-).
.
Notification:
"Blablabla": percakapan telepon
.
My Enemy My Love
By: Yui Hoshina
Chapter 12 or last chapter
.
Flashback ON
Drrrt.. Drrrt..
HP Naruto bergetar saat ia memasuki kamarnya. ia melihat layar Hpnya dan menampilkan layar 'Private Calling'. Naruto heran tapi ia pun mengangkatnya.
"Moshi-moshi.."
"Dengan Namikaze Naruto?" terdengar suara berat dari arah seberang.
"Ya. Dengan siapa?"
"Kau tidak perlu tau siapa aku. Aku hanya akan mengatakannya sekali saja. Aku akan menculik seseorang yang berharga bagimu besok. Semoga kau beruntung."
"A-apa? Tu-tunggu!"
Tut! Tut! Tut!
Belum sempat Naruto merespon, komunikasi antara mereka terputus secara tiba-tiba.
"Menculik.. orang yang berharga bagiku? Apa maksudnya orang ini? Orang aneh," batin Naruto. Ia pun mulai berpikir siapa saja orang yang terpenting atau berharga baginya. Walaupun ia berniat mengacuhkannya tapi entah kenapa hatinya merasa tidak karuan.
"Hmm.. coba kupikir sebentar. Kalau Sasame rasanya tidak mungkin. Aku sih ikhlas-ikhlas saja dia diculik. Mungkin rumah ini akan sedikit tenang tanpa adanya dia," batin Naruto tega.
Sasame yang sedang menonton TV di kamarnya tiba-tiba bersin.
"Huatchi! Ehh.. sepertinya ada seseorang yang sedang membicarakanku? Rasanya ada yang menginginkan aku pergi sejauh-jauhnya," kata Sasame sambil mengelap hidungnya dan melanjutkan kegiatannya.
"Kalau Kaa-san? Rasanya tidak mungkin juga. Pasti penculiknya langsung babak belur dihajar Kaa-san. Hmm.. Tou-san..? Mungkin saja. Tapi pasti Tou-san bisa kabur dengan cepat atau sempat menghajar mereka. Tou-san kan mantan atlet maraton yang dijuluki Yellow Flash. Mustahil bisa menculik Tou-san yang mempunyai kecepatan lari diatas rata-rata."
Kini Naruto mulai berpikir, siapa saja orang terdekatnya yang berharga baginya. Hm.. dimulai dari Kakashi, Nenek Tsunade, Kakek mesum alias Jiraiya, sepupu jauh, sepupu dekat, keponakan, guru, tukang kebun (?), tukang masak (?), warung ichiraku ramen? Oke. Sepertinya Naruto terlalu berpikir jauh.
Ia kembali mengingat-ingat lagi siapa orang yang paling berharga baginya.
Saat ia sibuk berpikir, pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Naruto, kau di dalam?" terdengar suara perempuan yang tak lain adalah Sasame.
"Masuk saja," Sasame pun masuk dan langsung menghampiri Naruto. "Ada apa?"
"Begini. Aku ingin meminta nomor ponsel Hinata. Aku lupa memintanya tadi. Kau punya kan?" tanya Sasame.
Tep!
Naruto menepuk dahinya.
"Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran kearah situ," ucap Naruto yang membuat Sasame langsung heran.
"He?"
Flashback OFF
.
.
"Arrghh.. sial! Kenapa aku bisa lengah sih? Aku harus menyelamatkan Hinata. Di saat begini aku harus lebih cepat!" Naruto pun mempercepat larinya.
Menggunakan sepatu roda tidaklah mudah di jalan yang licin karena ada es yang menggenang. Naruto sengaja tidak memakai motornya karena bisa membuatnya ketahuan.
Tapi perjalanan Naruto ke Dermaga Konoha tidaklah mulus. Karena banyak es di jalan (karena ini musim dingin) membuatnya nyasar ke berbagai arah. Entah itu jatuh ke tong sampah, nabrak pohon, nyusruk ke pagar rumah orang, kepleset sampai nabrak mobil yang lagi adem ayemnya tidur (?), dan paling parahnya, Naruto hampir nyasar ke pelukan banci kaleng.
Ugh.. sungguh naas nasibmu Naruto.
Tapi demi cinta, apapun akan di lakukan!
Tak terasa, Naruto sudah sampai di Dermaga dengan penampilan.. yah.. gak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hanya satu kata buat Naruto. NAAS!
"Aaah.. sial banget sih gue hari ini! Udah jatuh, ketimpa tangga pula. Walaupun udah jatuh beberapa kali, syukurlah gue gak berakhir ke pelukan banci kaleng itu. Parah! Haah.. sekarang gue harus kemana dulu nih?" pikir Naruto. Ia mencoba-coba menerka dimana tempat Hinata disekap.
Saat sibuk mencari, tiba-tiba ia melihat sebuah spanduk norak berwarna kuning berhiasan barang pecah belah, ups.. maksud author coret-coretan gaje bertuliskan..
To: Namikaze Naruto
Ikuti tanda panah ini (-). Maka kau akan bertemu kekasihmu.
Tertanda..
Penculik tertampan yang pernah ada. :D
Naruto langsung sweatdrop membaca spanduk norak itu.
"Nih spanduk norak banget. Baru kali ada penculik narsis," batin Naruto sweatdrop. Tapi apa boleh buat, Naruto pun mengikut petunjuk itu.
Naruto yang mengikuti petunjuk jalan yang gak jelas itu mulai mengalami kesulitan. Bukan karena di ganggu para pemalak yang ada di sana atau dicegat banci kaleng lagi, tetapi jalan yang di tunjukkan benar-benar membuat Naruto frustasi.
"JALANAN APA INI? INI MAH JALANAN BUAT KUCING LIAR!" umpat Naruto kesal karena sekarang ia harus berdiri di atas pagar tembok setinggi 1 meter. Tadi saja ia harus bersempit-sempit ria dengan gang-gang sempit gak jelas, dan sekarang malah harus akrobat (?) di atas pagar setinggi 1 meter. Sepertinya perjuangan cintamu sedang di uji, Naruto.
Setelah perjalanan nggak jelas yang memakan waktu hampir setengah jam. Akhirnya Naruto sampai juga di tempat tujuan dan..
"APA MAKSUDNYA INI? INI SIH TEMPAT YANG TADI!" teriak Naruto kesal. Ternyata petunjuk jalan itu hanya membuatnya berputar-putar alias mengelilingi jalan-jalan yang ada di Dermaga.
"Haahh.. sudahlah. Sebaiknya aku masuk saja ke ruangan itu. Semoga ini tempat yang benar," harap Naruto ketika mendapat sebuah petunjuk baru lagi yang menyuruhnya masuk dalam sebuah gudang dermaga.
Krieeet!
Naruto membuka pintu yang terbuat dari besi itu hingga menimbulkan bunyi deritan yang cukup keras untuk membangunkan seseorang di dalamnya.
Saat pintu terbuka, terlihat Hinata terikat di sebuah kursi dan mulutnya di tutup memakai sapu tangan.
Mendengar suara deritan yang cukup keras tadi, Hinata terbangun dari pingsannya dan langsung menatap siapa pembuat suara itu.
"Hinataaa!" teriak Naruto begitu melihat Hinata yang terikat.
"Na-.." Hinata ingin berteriak juga tapi melihat penampilan Naruto yang mengenaskan alias kotor dan compang-camping di sana-sini membuatnya jadi il-feel dan lebih memilih memalingkan wajahnya.
"Oi, kenapa kau memalingkan muka?" protes Naruto melihat Hinata memalingkan wajahnya dan enggan menatap Naruto.
Hinata tidak menjawab.
"Hinata!" panggil Naruto sedikit kesal karena dicuekin. "Jawab aku!"
"Naruto-kun baka! Mana bisa aku menjawab kalau mulutku di tutup begini. Lagipula.. apa-apaan penampilanmu yang mirip habis dikeroyok kucing liar itu. Gak ada kerennya sama sekali," batin Hinata. Padahal dalam hatinya, Hinata berharap bisa diselamatkan oleh seorang pangeran gagah berani berpenampilan keren. Tapi nyatanya...
"Jangan-jangan kau memikirkan penampilanku yang berantakan ini ya?" tebak Naruto polos.
"Ugh!" sepertinya Hinata tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kalau begitu.." Naruto langsung menurunkan tasnya dan mengobrak-abrik isi tasnya. Ia mengeluarkan sebuah kaos berwarna hitam lengan pendek dan sebuah jaket bertudung berwarna orange dari dalam tasnya. "Syukurlah aku membawa kaos cadangan dan jaket."
Hinata sedikit melirik ke arah Naruto yang siap-siap ganti baju. Naruto yang merasa dilirik oleh Hinata langsung angkat suara.
"Ng.. Hinata.. bisa tutup matamu? Aku ingin ganti baju. Jangan mengintip ya?" pinta Naruto malu. Hinata menatap Naruto tidak percaya.
"Hoeee? Mau ganti baju di sini? Naruto-kun baka! Mau ganti baju di depan seorang gadis? Benar-benar tidak tahu malu! Mengintip? Apa maksudnya itu?" pekik Hinata dalam hati. Hinata pun memalingkan wajahnya dengan angkuh dan menutup matanya. Semburat merah menghiasi wajahnya.
Setelah Naruto merasa aman, ia pun membuka blazernya. Ia tidak tau bahwa banyak pasang mata memperhatikannya.
Suara cetekan (?) kancing alias blazer yang dipakai Naruto membuat Hinata tidak kuat untuk tidak melihatnya. Hinata sedikit membuka sebelah matanya dan melihat Naruto tengah membuka kemeja putihnya dan.. WOW! Hinata tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menempel di pipinya melihat tubuh Naruto yang toples tanpa pakaian atas apapun. Walaupun jauh dari kata sixpack, tapi sanggup membuat Hinata hampir nosebleed (jika tidak di tahan sekuat tenaga oleh Hinata). Tubuh Naruto terlihat atletis namun berisi. Tubuhnya yang terkena bias cahaya sinar matahari sore membuatnya terlihat keren dan err.. sexy.
Bahkan para pengintip tersembunyipun tidak dapat menahan darah segar mengalir di hidung mereka.
Hinata buru-buru menutup matanya kembali. Tidak tahan akan sensasi yang diperlihatkan Naruto. Jika dilanjutkan acara 'mengintip' tadi, pikiran Hinata benar-benar akan masuk ke tahap err.. mesum. =/=
"Aku pasti sudah gila! Aku pasti sudah gila!" batin Hinata mengumpat dirinya sendiri dan menutup matanya erat-erat. Rona wajahnya semakin memerah kala mengingat kejadian tadi.
Naruto yang tidak menyadari bahwa sejak tadi dia 'diintip' oleh Hinata dan pengintip tersembunyi lainnya dengan santainya memakai kaosnya dan memasukkan seragamnya di tas sekolahnya.
"Yosh! Aku sudah selesai. Hinata! Bagaimana penampilanku?" tanya Naruto dengan polosnya.
Hinata menoleh pada Naruto yang sudah berpakaian lengkap. Dan kembali muka Hinata memerah melihat penampilan Naruto yang sudah berbalut kaos hitam dengan jaket bertudung warna orange. Benar-benar terkesan energik.
Hinata tidak menjawab dan malah memalingkan wajahnya lagi dengan angkuh dengan semburat merah menghiasi wajahnya. Ia sekarang sudah tidak bisa mengatur detak jantungnya lagi.
"Kenapa kau memalingkan muka lagi? Aku kan sudah berpenampilan lebih rapi. Oi, Hinata!" panggil Naruto. Hinata tidak menjawab maupun menatap wajah Naruto. Ia benar-benar tidak berani menatap wajah Naruto.
"Haahh.. ya sudahlah. Aku akan melepaskan tali yang mengikatmu," kata Naruto seraya mendekati Hinata.
Sebelum Naruto melepas tali yang mengikat Hinata, tiba-tiba saja ada suara yang menginterupsi.
"Hohohoho.. tidak semudah itu kau melepas tawananku, Namikaze Naruto."
Naruto tersentak kaget mendengar suara asing tepat di belakangnya. Ia pun berbalik dan terlihat seorang pria dengan pierching-pierchingnya. Dia tidak lain adalah Pain!
"Si-siapa kau?" tanya Naruto.
"Akulah si penculik tertampan yang pernah ada. Namaku Pein!" kata Pein narsis.
"Heeee~?" Naruto menatap Pein dengan tatapan il-feel.
"Apa? Kau menghinaku ya?" bentak Pein yang tidak suka pandangan merendahakan ala Naruto.
"Tidak," jawab Naruto singkat sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jelas-jelas kau menatapku dengan tampang menghina begitu, masih juga mengelak!" tuduh Pein. Naruto sweatdrop dengan tingkah Pein yang terlihat kekanak-kanakan.
"Tidak sesuai bayanganku. Ternyata kau kekanak-kanakan juga," kata Naruto cool seraya melepas ikatan Hinata dan mulutnya.
"Apa? Beraninya kau menghinaku! Kurang ajar!" Pein menjentikkan jarinya dan keluarlah beberapa anak buahnya dan salah satunya mendekati Naruto hendak memukulnya menggunakan balok kayu.
Hinata yang menyadarinya langsung berteriak, "NARUTO-KUN! AWAS!"
KRAAK!
Naruto reflek menendang balok kayu itu hingga terbelah. Membuat sang pemukul terlonjak kaget.
"Adududuh... itai!" Naruto meringis kesakitan dan langsung memegang kakinya yang agak bengkak.
"Naruto-kun.." Hinata sweatdrop dengan tingkah Naruto. Padahal tadi Naruto terlihat keren.
"Huh! Kau hebat juga, bocah. Bagaimana kalau lawan anak buah yang lain. Ctek!" Pein menjentikkan jarinya lagi dan muncullah beberapa orang dengan tampang aneh.
"Satu.. dua.. tiga?" Naruto menghitung jumlah anak buahnya Pain. Tampang mereka aneh-aneh. Ada manusia hiu, manusia tanaman, yang satunya lagi manusia ubanan (?). "Orang aneh."
Jlegar! Tiga manusia jad- ehem.. maksud author tiga anak buah Pein langsung pundung mendengar Naruto menyebut mereka aneh.
"Oi, kalian bertiga! Jangan diam saja! Hajar bocah kuning itu!" perintah Pein galak.
Ketiga orang 'aneh' itupun bangun.
"Sebaiknya kau menyerah saja, anak muda. Biar kau tidak di hukum Jashin-sama," kata manusia ubanan (?) yaitu Hidan.
"Menyerah atau jadi makananku?" kata manusia tanaman a.k.a Zetsu.
"Menyerah atau jadi makanan ikan peliharaanku?" kata manusia hiu a.k.a Kisame.
Naruto tambah sweatdrop dengan penawaran aneh dari makhluk aneh itu.
"Kalian bicara apa sih? Tawaran kalian semua aneh-aneh," kata Naruto.
DUG!
HiZeKi (Hidan, Zetsu, Kisame) merasa kepala mereka ditimpa batu besar bertuliskan 'ANEH'.
"Kalian semua kenapa sih? Lawan dia!" perintah Pein lagi.
Ketiga orang itupun mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Hidan dengan tongkat baseball, Zetsu dengan pot tanaman (?), dan Kisame dengan.. tong sampah kosong (?).
"AAAAAH~! Curang! Curang! Main keroyok aja. Mana senjatanya gak elit banget lagi! Kalian curang!" protes Naruto yang tanpa sadar bertindak OOC.
Semua yang ada di sana sweatdrop dengan tingkah Naruto yang OOC.
"Ce-cerewet! Walaupun gak elit juga kami punya senjata tau! Ayo serang!" seru Hidan. Mereka bertiga pun mulai menyerang Naruto.
"A-APA! Hinata, cepat sembu-.."
"Berjuanglah, Naruto-kun," dukung Hinata yang ternyata sudah sembunyi duluan membuat Naruto sweatdrop.
"HIYAAAAA!" Hidan mulai melancarkan serangannya. Naruto yang sempat terdiam langsung menghindar.
"Hieeeee! Cu-curang! Aku kan belum siap!" protes Naruto yang menghindari serangan Hidan.
"Siapa suruh ngelamun terus!" Hidan kembali melancarkan serangannya beserta Kisame dan Zetsu. Pein? Lagi asyik nonton sambil makan popcorn bareng Hinata. *he?*
"Daripada nonton action di bioskop, mahal. Mending nonton di sini. Gratis," komentar Pein. Hinata mengangguk sambil memakan popcornnya yang entah dapat darimana.
BUGH!
Naruto mendapat pukulan telak di kepalanya.
"Aaaaargh!" jerit Naruto kesakitan sambil menyentuh kepalanya yang kena pukul oleh Kisame.
"Naruto-kun!" pekik Hinata khawatir. Naruto terkejut dengan suara pekikan gadis itu.
"Hinata.. kau khawatir padaku ya? Senangnya..." kata Naruto terharu seperti anak kecil. Hinata sweatdrop.
"Bu-bukan. Aku cuma mau bilang, pukulannya kurang keras. Actionnya kurang greget. Dan.. dan.." Hinata terus berkomentar layaknya sutradara yang sedang mengomeli para aktornya. HiZeKi dan Naruto langsung sweatdrop.
"Kalian mengerti? Yak! Lanjutkan! Action!" seru Hinata layaknya sutradara memberi komando.
"Haahh.. aku tidak mengerti tapi.. ya sudahlah," Hidan kembali melancarkan serangannya dan kali ini Naruto tidak bisa menghindar karena shock dengan perkataan Hinata yang sepertinya tidak khawatir sama sekali dengan kondisinya.
"Hinata jahat! Kenapa kau tega membiarkanku dipukuli seperti ini?" rengek Naruto dalam hati. "Akan kubuktikan bahwa aku kuat. Lihat saja, Hinata. kau akan aku buat terpesona padaku."
Narutopun melancarkan serangannya ke arah Hidan secara bertubi-tubi. Ia pun mencoba menghindari serangan Kisame dan Zetsu secara bersamaan.
Pertarungan itu berlangsung cukup lama hingga..
PRAAANG!
Kepala Naruto terkena lemparan pot dari Zetsu hingga bagian belakang Naruto berdarah.
"NARUTO-KUN!" jerit Hinata seraya berlari mendekati Naruto. HiZeKi langsung gemetaran melihat Naruto mengeluarkan darah.
"APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN?" teriak Pein histeris.
"Ze-Zetsu! I-itu pot beneran ya? Kenapa kau membawa pot beneran sih? Itu tidak ada dalam naskah (?)," desis Hidan ketakutan.
"Go-gomen. Sepertinya aku salah mengambil pot bohongan dengan pot asli," jawab Zetsu yang ikut ketakutan.
"Kalau begini kejadiannya, kita.. KABUR!" seru Kisame kabur seraya diikuti Pein, Zetsu dan Hidan.
"Na-Naruto-kun, kau tidak apa-apa?' tanya Hinata khawatir seraya membantu Naruto untuk duduk.
"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya.."
Bruk!
Naruto terjatuh tepat di pundak Hinata. Hembusan nafasnya mengenai leher Hinata membuat sang gadis merinding dan detak jantungnya seakan berdetak lebih cepat.
"Na-Naruto-kun.."
.
.
"Ng.." Naruto membuka matanya perlahan-perlahan dan terlihat ruangan bercat kuning. Ya, itu adalah kamarnya.
"Na-Naruto-kun, kau sudah sadar?" terdengar suara lembut memasuki indra pendengaran Naruto. Naruto menoleh ke tempat asal suara dan terlihat Hinata menatapnya khawatir.
"Hinata.." ucap Naruto ketika kesadarannya perlahan-lahan mulai membaik. Naruto mencoba untuk bangun tapi dilarang oleh Hinata.
"Tidak boleh! Kau jangan bangun dulu. Lukamu masih parah," kata Hinata mencoba menidurkan Naruto lagi. Tapi, bukannya Naruto senang atas perlakuan lembut Hinata, ia malah cemberut.
"Kenapa baru sekarang khawatirnya. Padahal aku terluka tapi kau malah enak-enakan nonton. Kau kira tadi lagi syuting, hah?" omel Naruto.
"E-eh.. i-itu.." Hinata sedikit salting sambil memainkan kedua jarinya.
"Lalu, apa-apaan reaksimu itu? Kau kira aku senang diperlakukan seperti ini? Kau tau, aku bisa mati tadi," omel Naruto lagi.
"Ma-maaf.." Hinata tertunduk lemas.
"Kau pikir dengan kata maaf bisa menyelesaikan permasalahan? Apa kau tau, ini semua kesalahanmu juga karena aku terluka," kata Naruto. Entah apa yang ada dipikiran Naruto sampai-sampai memojokkan Hinata.
Hinata semakin tertunduk lesu, "Maaf. Aku tidak sengaja terbawa suasana. Aku.."
Tes!
Sebulir air bening menetes dari pelupuk mata Hinata dan mulai mengalir deras.
Naruto yang melihatnya jadi tidak tega tapi ia harus memegang 'prinsipnya'.
"Jangan menangis. Kau cengeng sekali," ledek Naruto.
"A-aku tidak menangis. Hanya kelilipan," elak Hinata seraya menghapus sisa-sisa cairan bening yang terus turun dari pelupuk matanya.
"Bohong. Kau menangis."
"Ti-tidak. Hanya kelilipan saja. Aku akan keluar sebentar," kata Hinata seraya bangkit dari duduknya.
"Tunggu!" cegah Naruto. Hinata menoleh pada Naruto yang mencoba untuk duduk dan berhasil.
"A-apa?" tanya Hinata takut-takut.
"Tidak semudah itu kau bisa kabur begitu saja. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang membiarkanku terluka seperti ini," kata Naruto menatap Hinata tajam. Yang ditatap hanya bisa mematung dan pasrah dengan apa yang akan dialaminya sekarang.
"Haahh.. baiklah. Apa maumu?" tanya Hinata pasrah. Naruto tersenyum licik.
"Kemarilah. Akan kubisikkan sesuatu apa yang kuinginkan," pinta Naruto. Hinatapun medekatkan dirinya pada Naruto.
Naruto tersenyum lagi, ia sedikit mendekatkan mulutnya di telinga Hinata.
"Cium aku."
"A-APA!" teriak Hinata terkejut dengan permintaan Naruto. Wajahnya langsung merah padam.
"Kenapa? Tidak setuju?" tanya Naruto.
"Bu-bukan begitu. Ta-tapi.. bisakah diganti yang lain saja?" pinta Hinata. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus saja mendengar permintaan aneh Naruto.
"Tidak mau! Kau harus menuruti perintahku!" kata Naruto yang bertindak seperti boss saja.
"Ugh.. baiklah. Di, di mana?" tanya Hinata pasrah. Walaupun ia sedikit tidak rela dengan permintaan Naruto.
Naruto menunjuk bibirnya sendiri. Tindakan itu membuat wajah Hinata kembali memerah.
"Ja-jangan bercanda!" bentak Hinata malu.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto polos, walaupun dalam hatinya juga ia berdebar-debar.
"I-itu.." Hinata memalingkan wajahnya. "K-kau licik! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" bentak Hinata malu. Wajahnya sudah merah padam.
"Hmm.. kalau aku licik lalu kau apa? Ratu tega?" ledek Naruto menyeringai jahil.
"Ugh! Kau menyebalkan! Bisakah kau sehari saja tidak meledekku?" dengus Hinata.
"Tidak bisa," ucap Naruto tersenyum jahil. "Jadi.. kapan?"
"Apa?" tanya Hinata kesal.
"Kiss me please, Hinata," ucap Naruto lembut.
BLUSH!
Wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus saja.
"Pi-pipi," ucap Hinata memalingkan wajahnya.
"Apa?" tanya Naruto tidak mengerti.
"A-aku akan menciummu, t-tapi di pipi. Bagaimana?" tawar Hinata malu.
"Hmm.." Naruto tampak berpikir sebentar dan, "Baiklah."
"Ba-baik. Tu-tutup matamu," pinta Hinata gugup.
"Haruskah?" tanya Naruto polos.
"Harus! Pokoknya harus tutup!" pinta Hinata bersikeras.
"Baiklah," akhirnya Naruto mau tak mau menutup matanya juga. Hinata mendekati Naruto perlahan, wajah mereka perlahan-lahan semakin mendekat dan tinggal 2 cm lagi, Hinata akan mendaratkan ciumannya di pipi Naruto.
Tinggal sedikit lagi dan..
BRAAAK!
"HUAAAAAAAAAAAAAAAA!" BRUK!
"NARU-CHAN! KAU SUDA SA-.. are? Na-Naru-chan..?" mata Kushina terbelalak memandang pemandangan yang membuat jiwa novelis romansanya berkobar.
Mau tau apa yang dilihat Kushina? Yuk kita intip.
"Hah!" mata NaruHina terbelalak kaget. Bagaimana tidak, sekarang posisi mereka sedang err... berciuman. Sepertinya karena efek dobrakan tadi, membuat Hinata kaget dan tidak sengaja malah mendorong Naruto sampai posisinya berbaring dan Naruto yang kaget tanpa sadar membuka matanya dan mendapati dirinya tidak sengaja berciuman.
"HUAAAAAAAAAAAAAA!" Hinata dan Naruto langsung bangkit dari posisinya dengan wajah yang merah padam.
"Wah~ pemandangan yang bagus. Cocok untuk referensi novelku selanjutnya, fufufufu.." Kushina tersenyum jahil.
"Huwaaaaaa! O-OKaa-san se-sejak kapan ada di sini?" tanya Naruto terkejut dengan penampakan Kushina.
"Ah, Okaa-chan baru saja sampai dan tidak kusangka, Okaa-chan malah mendapat pemandangan bagus, fufufu.."
BLUSH!
Wajah NaruHina semakin terbakar. Tak berapa lama kemudian, ponsel Kushina berbunyi.
"Ah, maaf. Okaa-chan angkat telpon dulu ya. Naru-chan jangan macam-macam ya?" pesan Kushina tersenyum jahil.
"MANA MUNGKIN!" teriak Naruto malu. Kushina pun langsung beranjak keluar.
.
.
Kushina's POV
Huuh.. mengganggu saja. Padahal tadi asyik-asyik mendapat 'pemandangan' yang bagus, kenapa harus dapat telpon sih?
"Moshi-moshi?" sapaku.
"Hai, Kushina. Sesuai perintahmu, aku sudah menghukum Pein dan yang lainnya," aku mengenali suara ini. ini suara Konan, teman lamaku.
"Benarkah? Apa mereka benar-benar jera?" tanyaku.
"Ya. Oya, Pein ingin bicara denganmu," aku menduga, Konan memberikan ponselnya pada Pein karena sekarang mulai terdengar suara berat.
"Kushina, kau tega sekali pada kami. Padahal kau yang mempunyai rencana, kenapa malah kami yang mendapat imbasnya? Kami kan sudah melakukan perintahmu."
"Tapi menyakiti Naruto sampai berdarah bukan prosedur yang aku buat. Bukankan aku sudah mengatakan, jangan sampai Naruto terluka, kalian malah melanggarnya," kataku sedikit kesal.
"Tapi itukan salah Zetsu. Aku tidak tau apa-apa," katanya membela.
"Kesalahan anak buahmu adalah kesalahanmu juga. Kau harus ikut bertanggung jawab juga," kataku. "Tunggu saja hukumanmu selanjutnya. Aku belum puas menghukummu jika tidak dengan tanganku."
Akupun mematikan ponselku dan tidak mau mendengar protes lagi dari Pein. Memang, akulah yang merencanakan rencana penculikan itu tapi.. aku sama sekali tidak berniat membuat Naruto terluka.
Haah... sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang, aku ingin melihat perkembangan anakku lagi.
End's POV
.
"A-aku pulang saja," Hinata berniat pergi karena sudah 2 kali ini ia tidak sengaja berciuman dengan Naruto. Itu membuatnya malu setengah mati.
"T-tunggu!" cegah Naruto. Hinata pun menghentikan langkahnya.
"A-ada apa lagi?" tanya Hinata gugup.
"Ayo, Naruto. Ini waktunya. Katakan perasaanmu sekarang juga. Beranikan dirimu. Jangan buang-buang waktu lagi," batin Naruto menyemangati dirinya. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Hi-Hinata!" Naruto menatap lurus ke arah Hinata membuat yang bersangkutan menjadi berdebar-debar.
"A-apa?"
"Me-menikahlah denganku," lamar Naruto tiba-tiba.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
"HEEEEEEEEEEEEEEEE?" Hinata berteriak kaget. Wajahnya memerah, "A-apa? N-Naruto-kun melamarku? Tidak mungkin! Ini terlalu tiba-tiba!"
"Hi-Hinata!"
"Haik!" jawab Hinata reflek.
'Ba-bagaimana?" tanya Naruto. Wajahnya seperti kepiting rebus saja.
"Apa? Apa yang harus aku jawab? Ini terlalu tiba-tiba! A-aku belum siap! Pasti Naruto-kun hanya menggodaku saja. Pasti!"
"Ja-jangan bercanda. Leluconmu tidak lucu, Naruto-kun. Aku.. aku.." Hinata ragu dan kalang kabut.
"Jadi.. kau menganggap bercanda?" tanya Naruto memelas. Wajahnya terlihat sedih.
"K-kau benar-benar.. serius? Kita masih SMA. Aku tidak mungkin menikah secepat itu," bantah Hinata.
"Tenang saja. Kita menikah setelah lulus kuliah. Aku ingin mengikatmu terlebih dahulu dengan tali pertunangan," kata Naruto lembut.
"Hoeeee.. di-dia serius! Tapi.." Hinata mencoba mengatur nafasnya terlebih dahulu, "Be-beri aku waktu untuk berpikir. Ini terlalu mendadak. Beri aku waktu 10 hari."
"3 hari," tawar Naruto.
"A-apa! Ba-bagaimana 7 hari saja," tawar Hinata lagi.
"2 hari."
"Apa!" pekik Hinata kaget karena tawaran Naruto semakin sedikit.
"Atau kau mau 1 hari?"
"Kau pasti bercanda!"
"Atau se-.."
"3 HARI!" teriak Hinata membuat Naruto budeg seketika.
"B-baiklah. Deal?" tanya Naruto tersenyum penuh kemenangan.
"Gawat! Aku terjebak!" batin Hinata shock. "B-baik. Deal."
.
.
3 hari kemudian
"Haaahh.. apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Bisa saja aku tolak dengan mudah tapi... perasaan apa yang mengganjal ini? aku benar-benar tidak tau," gumam Hinata bingung. Ia menenggelamkan wajahnya di bantal, benar-benar tidak bisa berpikir jernih.
Atarashii watashi ni
Umarekawaru yuuki wo..
Ponsel Hinata berbunyi melantunkan lagu Heartful song menandakan ada sms yang masuk. Hinatapun mengambil ponselnya dan membacanya.
From: Kumis Kucing
Aku akan menjemputmu. Sebaiknya kau bersiap-siap. Jam 4 sore nanti aku akan datang ke rumahmu.
"NANIIII! Naruto-kun akan menjemputku? Pasti dia mau menagih jawabanku. Huwaaaa... bagaimana ini?" Hinata panik.
"Ti-tidak ada cara lain. Aku harus menghadapi ini!" batin Hinata tegas walaupun masih ada sedikit keraguan.
.
Jam 4 sore Naruto benar-benar datang dan menjemput Hinata. Hinata mau tak mau harus mengikuti kemana Naruto akan pergi. Sekarang ia ada dalam mobil Naruto dan pergi menuju suatu tempat.
Hinata tidak bisa berbicara sedikitpun karena sibuk memikirkan jawaban apa yang akan ia utarakan.
"Kita sudah sampai!" ucap Naruto menghentikan mobilnya di sebuah sungai kecil yang terlihat sangat alami. Itu membuat Hinata sedikit terkejut.
Hinata pun turun dari mobil dan berjalan mengikuti Naruto yang sudah berjalan di depan.
"Hinata.." panggil Naruto. Hinata menoleh pada Naruto. "Apa kau sudah memikirkan jawabanmu?"
Hinata tersentak kaget.
"A-aku.. aku.." Hinata tertunduk lemas.
"Sebelum aku mendengar jawabanmu, aku akan mengatakan sesuatu padamu."
Hinata menoleh lagi pada Naruto. Kali ini ia menatap langsung sang pemilik mata safir itu.
"Apa?"
Naruto terdiam sesaat dan..
"Aku.. sudah lama menyukaimu. sejak pertemuan pertama kita waktu kelas 1 dulu, aku sudah menyukaimu sejak awal."
Hinata hanya diam, tidak merespon.
"Maaf, jika selama ini aku selalu menggodamu, menjahilimu bahkan merepotkanmu. Tapi, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana untuk mendekatimu. Aku.."
"Bodoh!"
Naruto terkejut dengan ucapan Hinata.
"A-apa maksudmu?" tanya Naruto heran.
"Bodoh! Jadi kau menganggap pertemuan pertama kita saat kelas 1 dulu? Kau benar-benar bodoh. Ternyata kau sudah melupakan kejadian 'itu'," ucap Hinata sedikit bergetar.
"Apa? Kejadian apa yang kau maksud?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Kau benar-benar bodoh, Namikaze Naruto. Kau benar-benar sudah melupakan pertemuan pertama kita. AKU BENCI KAU!" teriak Hinata kesal. Hinata berniat pergi tapi Naruto menahannya.
"Tunggu! Apa maksudmu? Tolong jelaskan padaku?" pinta Naruto.
"Lebih baik kau ingat siapa yang telah kau ejek 'lemah, cengeng dan ceroboh' waktu kecil dulu. KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!"
Ingatan Naruto seakan-akan kembali memutar saat kecil dulu, saat ia bersama seorang anak perempuan waktu kecil dulu.
"Jangan bilang kau adalah anak perempuan saat aku bermain bola waktu itu," tanya Naruto.
"Kalau memang iya kenapa? Kau benar-benar sudah melupakan-.." belum sempat Hinata melanjutkan kalimatnya, Naruto langsung memeluknya.
"Akhirnya kutemukan!" ucap Naruto.
"Apa?"
"Akhirnya kutemukan dirimu! Sudah lama aku mencari-carimu. Tapi kau tidak pernah muncul lagi. Ini benar-benar kau!" Naruto sedikit terharu karena ia menemukan teman masa kecilnya.
"Bohong! Kalau kau benar-benar tidak melupakanku, kenapa kau diam saja saat kita bertemu waktu kelas 1 dulu. Kenapa? Padahal aku langsung mengenalimu," kata Hinata sedikit terisak.
"Maaf. Karena waktu itu kau sangat berbeda. Aku tidak menyangka itu adalah kau karena kau terlihat feminim sekali, hehe.." goda Naruto.
"Dasar Naruto-kun bodoh. Kenapa kau baru sadar sekarang," kata Hinata.
"Maafkan aku yang sudah mengabaikanmu. Jadi.. apa kau menerima lamaranku?" tanya Naruto.
Hinata tersentak kaget, ia melepaskan pelukan Naruto dan sedikit menjauh.
"Hinata?" Naruto sedikit heran dengan tindakan Hinata.
"Bodoh! Dasar Naruto-kun bodoh!" Hinata langsung berlari dan berhambur memeluk Naruto.
GREB!
"Hi-Hinata?" tanya Naruto blushing.
"Kau sudah tau jawabanku sekarangkan? Jangan paksa aku untuk mengatakannya," kata Hinata malu. Naruto tersenyum lembut mengerti dengan maksud Hinata dan membalas pelukan Hinata.
"Arigatou.. Hinata."
.
1 tahun setelah kelulusan SMA
"Ne, ne, Hinata-chan, tidak kusangka kau akan bertunangan dengan Naruto sekarang," goda Sakura saat acara pemasangan cincin sudah selesai.
"I-iya.." jawab Hinata malu.
"Tidak kusangka, aku kira kau akan menolak Naruto tapi ternyata.. kau menerimanya juga?" goda Temari.
Hinata semakin malu dengan godaan teman-temannya itu. Naruto yang melihat Hinata dikerubungi oleh 2 makhluk penggosip itu langsung menghampiri mereka.
"Nona-nona, bolehkan aku pinjam tunanganku sebentar?" pinta Naruto formal.
"Wah~ Naruto. Sejak kapan kau sopan begitu? Tentu saja," kata Sakura langsung mendorong Hinata ke arah Naruto dan Naruto reflek memeluknya.
"Terima kasih," ucap Naruto sambil menggandeng Hinata ke tempat lain.
Di tempat lain, Neji dan Tenten memperhatikan kedua pasangan itu yaitu Naruto dan Hinata.
"Hinata beruntung sekali. Di usia ini dia sudah bertunangan. Kapan, ya, aku bisa seperti Hinata?" tanya Tenten berharap.
Neji sedikit tersentak dan wajahnya malu mengingat sekarang statusnya adalah kekasih gadis bercepol ini.
"K-kalau aku melamarmu, apa kau mau menerimanya?" tanya Neji malu. Pernyataan itu membuat Tenten kaget.
"Kau.. melamarku?" tanya Tenten memastikan.
"Bagaimana?" tanya Neji.
Tenten tersenyum manis, "Tentu saja aku menerimanya," kata Tenten sambil memeluk lengan Neji erat.
Hinata yang sempat melirik Neji dan Tenten yang terlihat mesra tersenyum manis.
"Ada apa?" tanya Naruto heran melihat Hinata tersenyum.
"Bukan apa-apa," ucap Hinata tersenyum manis.
.
The End
Huft.. benar-benar ending yang gantung. Maaf ya telat banget. Untuk balesan review saya gak sempat. Ini aja sempat-sempatin publish.
Yak! My enemy my love dah tamat! Akhirnya.. berkurang juga tanggungan fic q, hiks.. *lebay*
Untuk chapter ini kayaknya terlalu kecepatan, gomenasai. (_ _)
Please review ya? Dan maafkan keterlambatan fic author abal ini.
Dengan ini menyatakan.. (ceile bahasanya), sampai jumpa lagi di karya ku berikutnya! XD
.
Cute smile..
Yui Hoshina ^^v
