Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Preview Chap :

Luhan terisak melihat perilaku Sehun yang kelihatan sangat emosional dan tanpa fikir panjang. Ia tidak menyangka semuanya terjadi seperti ini.

"Sehun, lebih baik aku saja yang pindah. Kau tidak bisa berpisah dengan keluargamu!" Gumam Luhan dengan suara bergetar.

Sehun memandangnya tajam. "Keluargaku adalah kau dan anakku, aku tidak bisa berpisah dari kalian saat in!"

"Tapi kalian akan tinggal dimana?" Jackson kembali bergumam.


Sehun berfikir sejenak. "Mungkin aku dan Luhan akan ke Gass. Sementara ini aku sama sekali tidak terfikir akan pergi kemana. Yang penting aku dan Luhan segera keluar dari rumah ini."

"Tapi Sarah sudah seperti ibumu. Kau sangat menyayanginya, kan?"

"Ya, aku sangat menyayanginya dan itu tidak bisa dibanding -bandingkan dengan apapun. Tapi aku tidak bisa membiarkan Luhan hidup dalam kebencian bibiku. Aku akan membawa Luhan pergi jauh meskipun aku belum tau akan kemana!"

Jackson diam, tidak tau harus mengatakan apa. Tiba-tiba sesuatu hal penting melintas di ingatannya. Sesuatu tentang rumah kecil di ibu kota.

"Sehun, rumahmu di Ottawa, itu tidak kau beli dengan uang Oh, kan? Kalian bisa tinggal disana."

Jackson kemudian membongkar sisi lain dari lemarinya dan menemukan sebuah amplop besar berwarna abu-abu dengan kertas yang sangat tebal.

"Ini surat-suratnya. Kau memintaku untuk menyimpannya."

Sehun baru teringat akan hal itu. Ia membeli rumah di Ottawa dengan uang yang di tabungnya dengan susah payah. Bukan uang haknya sebagai bagian dari keluarga Oh, tapi uang yang di dapatnya dari mengurusi hal lain selain mengurusi saham Oh, selama ini ia hanya mengambil seadanya dan menabungnya sedikit demi sedikit.

Sehun beruntung karena ia orang yang aktif yang tidak hanya bergantung pada harta keluarga. Ia akan mendapatkan pekerjaan lain dan Luhan tidak akan kelaparan. Jackson memasukkan pakaiannya ke dalam tas dalam jumlah yang banyak.

"Ayo kita pergi!" gumamnya kemudian.

Sehun memandangnya heran. "Kita? Maksudmu?"

"Aku bekerja padamu. Kalau kau pergi aku juga pergi. Aku tidak akan meminta gaji yang besar. Cukup beri aku makan dan aku akan melanjutkan tugas untuk menjaga istrimu di Ottawa!"


Perjalanan panjang menuju Ottawa. Kali ini tidak se-praktis yang Luhan dan Jackson lakukan kemarin. Mereka benar-benar harus menunggu angkutan umum yang memaksa mereka untuk berada di dalamnya selama berjam-jam.

Selama di perjalanan, Sehun sangat khawatir karena Luhan tidak bisa berhenti menangis. Sehun berusaha membujuknya untuk diam, tapi Sehun tau kalau Luhan memang sangat mudah bersedih. Ia hanya bisa memandanginya dan memeluknya sampai akhirnya Luhan tertidur lelap karena lelah. Sesekali Sehun mengobrol bersama Jackson untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan begitu sampai disana.

Sehun berencana untuk membuka usaha sendiri, mungkin dirinya akan mencari pinjaman dan membuka sebuah distro kecil-kecilan dengan rumah di Ottawa sebagai jaminan. Tapi untuk itu, Sehun harus belajar lebih banyak. Untuk beberapa waktu, Sehun akan bekerja sebagai karyawan biasa di mana saja.

Ia yakin tidak perlu menunjukkan ijazah untuk itu karena terlalu banyak orang yang mengetahui reputasinya. Tapi ingatan untuk meninggalkan ke-Oh-annya membuat ego Sehun timbul. Dia tidak ingin diterima karena Oh. Sehun ingin di terima sebagai Sehun saja.

"Bagaimana dengan Truddy? Aku rasa dia mau membantu."

"Truddy?" Jackson bertanya heran.

"Truddy yang mana?"

"Truddy yang selalu mentraktir kita sewaktu sekolah!"

"Truddy yang bertubuh gemuk itu?"

Sehun mengangguk. "Aku bertemu dengannya di perusahaan Developer itu sewaktu akan membeli rumah. Kami sempat mengobrol lama dan dia memintaku untuk menghubunginya jika butuh bantuan lagi. Aku akan menemuinya begitu sampai di Ottawa."

Dan begitulah. Sehun optimis untuk menemui temannya. Ia semakin tidak sabar dan selalu menghitung waktu. Begitu tiba di Ottawa, Sehun membawa Luhan ke rumahnya tanpa membangunkan wanita itu sama sekali. Dia tidak ingin Luhan menangis lagi jika terbangun.

Sehun menggendong Luhan yang semakin berat ke dalam kamar utama di rumah itu dan membaringkannya di atas ranjang. Membuka sepatu dan jaketnya dengan hati-hati lalu menyelimutinya. Setelah itu Sehun mengganti pakaiannnya dan menemui Jackson yang sudah menyalakan televisi dengan suara kecil.

"Kau boleh memilih kamar yang mana saja, Jackson. Asalkan malam ini kau jangan coba-coba untuk menggantikanku di kamar istriku!"

Sehun berusaha mencairkan perasaannya yang beku. Untungnya Jackson tertawa dan sebagian beban di dadanya menghilang.

"Aku akan memilih kamar di dekat dapur. Aku ingin mengenang Mrs. Philarette dan masakannya!"

Sehun tertawa lagi. Jackson memang cukup dekat dengan Mrs. Philarette ketika mereka masih berada di Calgary.

"Baiklah, aku akan menemui Truddy dulu! Jaga Luhan baik-baik!"

"Tentu saja. Kau menyimpan kartu namanya?"

"Tentu saja. Aku sudah menelponnya dari dalam kamar tadi. Sekarang tinggal mencari uang untuk membayar tagihan telpon! Aku pergi dulu!"

"Semoga sukses, kawan!"

Sehun mengangguk sebagai ucapan terimakasih. Ia segera keluar dari rumah itu dan menghindari kendaraan umum untuk menghemat uang. Ia dan Truddy berjanji bertemu di sebuah taman kota dan tempat itu memang agak jauh dari kompleks.

Sehun harus berjalan kaki hampir setengah jam untuk sampai disana. Semua bangku terisi, tapi hanya satu buah kursi yang menarik perhatian Sehun. Karena ada Truddy disana. Laki-laki itu melambai-lambaikan tangannya sehingga Sehun menyongsongnya sambil berlari. Sehun duduk di sebelah Truddy dengan nafas terengah -engah. Ia sangat lelah karena berjalan jauh dari rumahnya.

"Apa yang terjadi padamu? Aku terkejut saat kau menceritakan sinopisnya di telepon!"

Sehun tertawa renyah saat mendengar kata sinopsis di dalam kalimat Truddy barusan.

"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku dan istriku di usir dari rumah karena aku menikah dengan Xiao Lu!"

"Wanita yang membawa Yifan ke Denmark?"

"Di bawa Yifan ke Denmark!" Sehun meralat ucapan Truddy.

"Yifan yang membawanya ke Denmark."

"Bagaimana kalian bisa bertemu?"

"Yifan mewariskan semua hartanya kepada wanita itu!"

"Dan kau merasa tidak adil, lalu mencari wanita itu untuk membunuhnya. Atau memastikan dia mati agar suatu saat dia tidak datang tiba -tiba dan menuntut harta itu?"

"Aku hanya memintanya menyerahkan harta warisan itu secara baik-baik. Jika dia tidak bersedia baru aku akan melakukannya!"

Kali ini Truddy yang tertawa. "Lalu apa yang dilakukannya hingga kalian berakhir dengan pernikahan?"

"Haruskah ku ceritakan?"

"Aku harus tau semuanya, barulah aku akan memberimu pekerjaan!"

"Aku tertarik padanya, pada pandangan pertama. Tapi kau tau bagaimana aku, saat itu dia terlihat sangat jalang, tidak ada bedanya dengan perempuan murahan manapun di dunia ini. Dan aku hanya ingin menikmati keindahannya sampai aku bosan, aku hanya berfikir untuk bermain-main. Sungguh!. Tapi ternyata pertahanannya cukup besar. Kau tau kenapa?"

"Karena dia mengetahui hubunganmu dengan Yifan?"

"Ya, karena dia tidak ingin berhubungan dengan Oh manapun di muka bumi ini!"

Sehun menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku semakin tergila-gila padanya karena ciuman kami yang pertama. Dia sangat berpengalaman dan liar, astaga. Aku bahkan tidak bisa melupakannya."

"Kau sepertinya mendapatkan perempuan yang cocok dengan mu."

Sehun mengangguk setuju. Ya, Luhan sangat cocok dengannya. Sehun sangat menggebu-gebu dan Luhan cukup liar dan mampu bertahan atas segala perlakuan Sehun kepadanya. Sehun tidak pernah kecewa kepada Luhan sama sekali dalam semua aktivitas seks mereka, bahkan untuk sekedar berciuman.

"Dia meminta izin untuk melahirkan anakku!"

"Maksudmu?"

"Aku belum menikahinya saat itu. Siang itu, seks pertama kami dan sangat hebat. Aku bersumpah. Aku bahkan melupakan segalanya termasuk kontrasepsi karena yang ada dalam fikiranku saat itu hanya memeluknya. Waktu itu aku mengatakan hal yang sama dengan apa yang ku katakan pada perempuan perempuan sebelumnya. Aku akan mencarikan dokter terbaik untuk menggugurkan kandungannya bila dia sampai hamil karena itu. Dan respon yang kudapat berbeda. Dia memintaku untuk mengizinkannya memiliki anakku. Dia berjanji akan membawanya pergi jauh, dia juga berjanji tidak akan menggangguku lagi seumur hidupnya dan…"

"Dan kau tergugah?"

"Kau selalu bisa membaca fikiranku, Trude!"

"Wanita yang baik. Wanita yang berfikir untuk memiliki anak dan menjadi ibu pastilah wanita yang baik. Aku percaya itu. Kau memilih wanita terbaik untuk menemani hidupmu kawan."

"Sayangnya aku tidak berfikir begitu pada awalnya, aku masih meragukan kalau aku bisa setia kepadanya. Aku hanya mencintainya lebih lama dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah ku cintai selama ini. Sekarang dia sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa membuatnya terlantar dan kelaparan meskipun aku tau kalau dia tidak akan protes dengan itu. Hidupnya sebelum ini bahkan lebih buruk dibandingkan dengan kelaparan dan bersamaku!"

"Lalu apa rencanamu?"

"Aku akan mengumpulkan uang, mungkin suatu saat nanti aku akan membuka usaha sendiri. Apa saja asalkan bisa menghidupi istri dan anakku!"

"Sayangnya kami tidak bisa menerimamu sebagai kariawan di perusahaan kami Sehun!" Truddy berujar dengan suara penuh kekecewaan.

Sehun benar-benar kecewa. Bahkan Truddy pun tidak bisa membantunya. Tapi Sehun harus berfikir positif bahwa itu semua bukan keinginan Truddy. Truddy tidak mungkin menolaknya. Sehun menepuk-nepuk bahu Truddy beberapa kali.

"Tidak masalah, Trude! Aku tau kau akan membantuku jika kau bisa melakukannya. Mungkin kesempatan untuk membantuku belum ada untukmu!"

"Tapi aku akan meminta batuanmu!" Truddy memandang Sehun dengan senyum.

"Kau bersedia, kan? Membantuku untuk menangani perusahaanku bersama-sama? Aku akan memberikan uang yang pantas untuk orang yang kompeten sepertimu!"

Sehun sempat bingung, tapi kemudian ia tertawa. Truddy mempermainkan nya dengan kata-kata. Ia hampir saja memukul Truddy karena senang. Sudah lama Sehun tidak tertawa bersama teman-temannya. Bahkan bersama Jackson.


Hari ini, Sehun mendapatkan satu temannya kembali. Truddy mengajaknya untuk makan -makan. Tapi Sehun menolak, ia harus pulang dan memberitahukan kabar gembira itu kepada istrinya. Truddy menawarkan diri untuk mengantar, tentu saja Sehun setuju. Ia sudah terlalu lelah karena berjalan kaki tadi.

Di sepanjang jalan, Truddy menceritakan tentang rencana kerja dimana Sehun akan di pekerjakan sebagai Marketting officer. Setiap kali Sehun berhasil menangani satu penjualan rumah, maka Sehun akan mendapat lima belas persen dari harga rumah yag ditawarkan. Selain itu Sehun akan mendapatkan gaji bulanan yang menurut Truddy tidak terlalu besar. Tapi Sehun bersyukur karena setidaknya akan ada pemasukkan untuknya dan istrinya.

Truddy membekali Sehun dengan Pizza sebagai hadiah kerjasama mereka sebelum mereka akhirnya berpisah. Sehun pulang dengan bangga, memasuki rumahnya dan melihat Jackson masih menonton televisi. Saat Sehun memamerkan Pizzza di depan wajahnya, Jackson bersorak kegirangan karena ia juga sudah sangat lapar.

"Luhan sudah bangun?" Jackson mengangguk.

"Iya, Dia bertanya tentangmu lalu kembali masuk ke kamar."

Sehun menoleh memandangi pintu kamar sejenak. Ia membongkar kotak Pizza dan mengambilnya beberapa potong lalu membawanya masuk ke kamar. Luhan duduk termenung di atas ranjang. Begitu mendengar Sehun menutup pintu, Luhan langsung bangkit dan memeluk Sehun erat-erat. Sehun membelai punggungnya lalu mengajaknya untuk duduk kembali sambil menyodorkan beberapa potong Pizza yang di bawanya.

"Kau lapar, kan? Makanlah!"

Luhan menggeleng. "Aku tidak berselera."

Sehun menyentuh perut Luhan yang semakin membesar lalu membelainya perlahan.

"Kalau kau, lapar tidak? Ibumu sedang tidak berselera. Bagaimana ini? Kau keluar saja dan makan bersama ayah!"

Luhan tergelak pelan. "Ya, baiklah. Aku akan makan!"

Beberapa potong Pizza di lahap Luhan dengan cepat, ia meninggalkan setengahnya untuk Sehun.

"Kau makan juga!"

"Aku akan makan sisanya!"

"Ini kedua kalinya kau makan makanan sisa!"

Sehun tersenyum dan merasa sangat lega karena Luhan tidak menangis lagi. Setelah memastikan Luhan tidak ingin makan lagi, Sehun memakan potongan Pizza yang tersisa di tangannya dan dengan cepat rasa laparnya berkurang. Setelah santapannya habis, Sehun kembali berbicara kepada Luhan.

"Aku dapat pekerjaan hari ini. Besok, aku akan meminjam uang Jackson untuk belanja bahan makanan, begitu mendapatkan gaji aku akan mengembalikan uangnya. Aku yakin Jackson tidak akan menolak!"

"Kau seharusnya tidak melakukan ini, Sehun! Kau dan aku hanya sementara, kan? Sampai anak kita lahir. Aku bisa tinggal sendirian, atau kau bisa meminta Jackson menjagaku jika kau khawatir Seulgi akan menggangguku. Kau tidak perlu keluar dari rumahmu."

"Itu bukan rumahku!"

Sehun merengkuh Luhan, menggenggam lehernya dengan kedua tangan lalu menciumnya. Ia sangat merindukan Luhan. Segala kelelahan yang dialaminya membuatnya merindukan istrinya dengan sangat.

"Jangan pernah mengatakan kalau kita hanya sementara."

Sehun menyentuh perut Luhan lagi. "Mulai sekarang, aku ingin bersama kalian selama yang aku bisa, seumur hidupku. Bagaimana?"

Luhan menatap Sehun berharap kalau semua yang didengarnya bukan hanya mimpi belaka. Sehun mengatakan ingin bersama dengannya selamanya dan Luhan sangat bahagia. Tiba-tiba ingatan tentang Sarah muncul, kebahagiaanya segera terlupakan.

"Tapi aku merasa tidak enak kepada Sarah. Aku sudah merampas Yifan dan sekarang membuat satu-satunya putra yang tersisa keluar dari rumahnya. Aku sungguh tidak nyaman!"

Sehun mengulum bibir Luhan sekali lagi, lebih lama lalu melepasnya degan tidak rela.

"Kalau ini, bagaimana? Sudah bisa membuatmu merasa nyaman?"

Lalu berpindah ke telinga, Sehun menjilatinya sehingga Luhan bergindik karena geli dan tertawa.

"Kalau yang itu? Atau perlu kita bercinta malam ini juga?"

"Hentikan, Aku tidak bisa melakukan itu tanpa suara. Bagaimana dengan Jackson!"

"Dia akan maklum! Atau aku harus memberikannya headphone agar Jackson menutup telinga!"

Luhan tertawa lagi. "Kapan kau akan mulai bekerja?"

"Besok!"

"Kalau begitu istirahatlah. Kita bisa melakukannya lain kali. Tapi kau harus memastikan Jackson pergi keluar rumah selama kita melakukannya!"


Oh Sarah benar-benar tidak mau keluar kamar sekalipun semenjak kepergian Sehun. Ia juga tidak memiliki selera makan yang baik. Mrs. Philarette selalu mendapati sisa makanan yang sangat banyak dari piring -piring yang diantarkan ke kamarnya, terkadang Mrs. Philarette juga harus kecewa karena Sarah bahkan tidak menyentuh makanannya.

Dalam waktu singkat, bobot tubuhnya berkurang drastis, untungnya Sarah cukup kuat untuk tidak jatuh sakit seperti kebanyakan orang seusiannya saat mengalami stress berat. Ia hanya seringkali terdengar menangis, sesekali Sarah meminta Mrs. Philarette memanggilkan Seulgi untuknya. Tapi Seulgi sama sekali tidak bisa menghibur. Seulgi malah semakin memperburuk suasana dengan terus mengeluarkan kata-kata penuh hasutannya hingga pada akhirnya Sarah tidak ingin di temui Seulgi lagi.

Sarah tidak bisa memungkiri kalau dirinya merindukan Sehun, juga Istrinya. Kasih sayang Sarah kepada Luhan sudah dirasakannya sejak awal karena menurut perasaannya Luhan adalah sosok yang sangat istimewa. Terlebih setelah wanita itu mengguncang seisi rumah dengan kehamilannya. Bukan hanya mereka, bahkan seisi rumahpun ikut bahagia karena kebahagiaan mereka menular dengan cepat.

Sarah menatapi pemandangan yang sudah ribuan kali dilihatnya melalui jendela kamarnya. Ia terkenang tentang segalanya, tentang bagaimana Sarah membawa Sehun pulang dari rumah sakit saat di ketahui bahwa ibu kandungnya meninggal. Saat itu Sarah juga baru saja melahirkan anak berusia enam bulan, Yifan. Ia membawa Sehun pulang karena kebutuhan Sehun akan asi harus tetap terpenuhi meskipun anak itu tidak memiliki ibu lagi dan Sarah merasa bisa menggantikan mendiang adiknya untuk itu. Sayangnya, Sarah sudah terlanjur tidak bisa berpisah dan malah memisahkan Sehun dari ayah kandungnya.

Pada awalnya Sehun masih sering pulang ke rumah ayahnya sewaktu libur sekolah, Sarah kadang-kadang juga merasa kehilangan saat sekolah menelpon bahwa kedua anaknya tidak masuk sekolah hari ini dan pada sore harinya kedua anak itu di temukan di Danau Louise sedang bermain-main. Marah yang di rasakannya selalu sama dengan marah kepada anak kandungnya sendiri, sayangnya juga. Sarah tidak pernah merasa membeda-bedakan satupun di antara mereka. Tapi teryata Sehun menganggap semua itu adalah beban? Perempuan itu bukan hanya merampas Yifan dari hidupnya. Tapi juga Sehun. Dosa apa yang sudah di perbuatnya hingga segala kehidupannya menjadi seperti ini?

Apa lagi yang tidak kulakukan untuk keluarga ini? Aku menganggapmu sebagai ibuku
sendiri. Aku juga sedih karena kehilangan Yifan. Aku selalu berusaha dengan baik
menggantikan Yifan mengurusi segala kewajiban-kewajiban yang di lalaikannya, termasuk kewajibanku terhadap Seulgi meskipun aku sangat tertekan karena itu.

Kata-kata Sehun begitu terngiang-ngiang. Benarkah kalau selama ini Sarah membuat Sehun tertekan dengan segala kasih sayang yang di berikannya?

"Nyonya, kau tidak makan lagi?" Mrs. Philarette menegurnya.

Sarah menoleh, ia seringkali tidak sadar saat wanita itu mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya.

"Aku sedang tidak berselera, Philly!"

"Kalau begitu paksakanlah, bagaimana kalau anda sakit?"

"Aku tidak sakit. Aku rasa tidak akan sakit meskipun aku sangat menginginkannya!"

Mrs. Philarette terdiam mendengar keluhan itu. Dia tidak berani terlalu banyak bicara jika tidak di ajak bicara. Mrs. Philarette berusaha keras untuk membawa kembali semua makanan yang tidak di sentuh sama sekali itu ke dapur dengan tanpa suara, tapi bunyi dentingan halus dari piring -piring yang di bawanya membuat langkahnya harus terhenti karena Sarah memanggilnya lagi.

"Philly!"

Mrs. Philarette membalikkan tubuhnya dan mendapati Sarah sudah memandangnya. "Ya?"

"Tinggallah sebentar. Aku ingin bertanya mengenai sesuatu hal kepadamu!"

Mrs. Philarette meletakkan kembali piring-piringnya di tempat semula dan berdiri dengan kokoh.

"Apa yang harus saya jawab, nyonya?"

"Selama ini kau membantuku merawat Yifan dan Sehun, benarkah aku membeda-bedakan mereka? Sehun berkata seolah-olah berada di rumah ini adalah beban untuknya. Karena aku membeda-bedakan mereka?"

"Tidak, saya tau betul nyonya tidak begitu. Kasih sayang yang nyonya tunjukkan sama besarnya. Keduanya selalu di perlakukan sama."

"Lalu mengapa Sehun berkata seperti itu? Di bagian mana dari hidupnya aku pernah menyakitinya, Philly? Aku merasa sudah mencurahkan kasih sayangku sepenuhnya kepada Sehun. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri dan terus berkembang semenjak kepergian Yifan. Bagiku saat ini, Sehun-lah putraku satu-satunya!"

"Maafkan saya, Nyonya. Jika saja boleh jujur saya ingin mengatakan ini sejak lama. Tapi kami selalu di minta untuk tidak terlihat dan tidak bersuara. Pelayan disini hanya boleh menyaksikan apapun yang terjadi di rumah ini. Jadi saya sama sekali tidak kuasa mengatakan apa-apa tanpa di pinta!"

Pandangan Sarah kepada Mrs. Philarette semakin serius. "Sekarang katakanlah apapun yang ingin kau katakan. Aku tidak ingin ada satu halpun yang terlewat dari hidupku."

"Nyonya, kekesalan Sehun memang terpupuk baru-baru ini—jika saja delapan tahun masih bisa di bilang baru."

"Maksudmu?"

"Sebelum pergi, Yifan mengatakan kalau Sehun selalu bisa menggantikan posisinya dengan baik dan Yifan menginginkan Sehun untuk terus melakukan itu seumur hidupnya. Mungkin selama ini, Sehun tidak merasakan adanya beban di sana. Tapi, seperti umumnya anak-anak, mereka selalu merasa ada yang lebih disayangi di antara mereka dan Sehun merasa kalau Nyonya jelas lebih menyayangi putra nyonya sendiri, Yifan. Saat itu Sehun sama sekali tidak protes, di cukup bersyukur dan berterima kasih. Saya mendengar percakapan mereka di suatu hari. Yifan mengatakan kalau dia akan menjadikan Sehun satu-satunya anak di rumah ini karena Yifan akan menghilang. Sehun tentu saja merasa senang meskipun ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya juga merasa sedih karena akan kehilangan Yifan, tapi dia yakin kalau Yifan akan bahagian dengan keputusan yang di ambilnya karena Yifan bukanlah orang bodoh yang akan menyebabkan dirinya sendiri menderita."

"Jadi Sehun tau kalau Yifan akan pergi?"

Mrs. Philarette mengangguk. "Sehun juga ingin merasakan kesempatan menjadi anak satu-satunya, tapi begitu Yifan pergi, anda menjadikan Sehun sebagai Yifan tapi terus menangisi kepergian Yifan yang sebenarnya. Dari sana sakit hatinya timbul, hanya ada Yifan dan tidak ada Sehun. Sejujurnya saya juga merasakan hal itu. Nyonya selalu menyebut-nyebut nama Yifan, memanggil Sehun juga dengan nama Yifan. Menyerahkan semua tanggung jawab Yifan kepada Sehun, juga memaksa Sehun untuk membawa Yifan pulang karena saat itu nyonya selalu mengatakan ingin mati bila harus kehilangan Yifan. Aku rasa Sehun pada akhirnya terpaksa mencari Yifan dan membawanya pulang dengan paksa."

"Ya. Aku sangat senang saat Yifan berada di rumah. Tapi Yifan sama sekali tidak betah, dia malah melarikan diri dua hari setelahnya dan mengalami kecelakaan itu!"

"Saat itu Sehun menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Yifan. Dia selalu mengeluh, Seandainya Sehun melarang Yifan untuk pergi sejak pertama kali, mungkin hal seperti itu tidak akan terjadi. Dia kehilangan saudaranya. Meskipun Yifan hidup, dia tidak ada bedanya dengan orang mati. Setelah Yifan pulang pun anda sama sekali tidak berubah, anda menciptakan dua Yifan dan menyingkirkan Sehun jauh-jauh. Jadi anda pada akhirnya memiliki Yifan yang sehat dan bisa memeluk anda kapanpun anda ingini, dan Yifan yang sakit yang selalu anda manjakan. Sehun semakin terluka menyadari itu. Tapi saya rasa, dia terus menjalaninya karena Sehun menyayangi anda. Dia menjalankan segala aktifitasnya sebagai Yifan meskipun terus mengeluh. Dan…"

Mrs. Philarette berdiam diri sejenak. "Dan, maafkan saya nyonya, seharusnya saya tidak mengatakan hal ini, tapi…"

"Katakan saja Philly. Aku sudah mengatakan padamu untuk mengatakan apapun yang kau simpan hari ini juga!"

"Nyonya, Sehun bahkan menggantikan kewajiban Yifan kepada Seulgi di atas tempat tidur!"

"Astaga philly. Kau sadar dengan apa yang kau katakan?"

"Karena itu saya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi itu kebenarannya! Saya bisa memanggil beberapa orang pelayan untuk bersaksi. Saat itu Seulgi mengeluh karena Yifan sakit terlalu lama. Dia meminta Sehun melakukan itu dan pada awalnya, Sehun menolak. Tapi Seulgi tidak menyerah sampai Sehun jatuh kepelukannya beberapa lama. Seorang pelayan muda pernah mengatakan kalau Seulgi mengancam Sehun dengan bermacam-macam ancaman sehingga Sehun tidak bisa melepaskan diri. Dia bahkan mengatakan akan menghabisi nyawa Yifan dan akan menjadikan Sehun pemilik harta Oh jika Sehun menjadi kekasihnya dan membuang Sehun jika Sehun terus menolaknya. Beberapa kali Seulgi benar-benar menyakiti Yifan secara sengaja di hadapan Sehun untuk menegaskan ancamannya. Sehun sangat ingin berontak, tapi anda sangat menyayangi Seulgi sehingga dia tidak ingin menambah beban fikiran anda. Sampai di suatu hari, Sehun terpaksa bercerai dengan istrinya karena Seulgi. Seulgi mengatakan kalau dia sedang mengandung dan akan melahirkan anak Sehun! Saat itu mereka bertengkar hebat di halaman belakang karena istri Sehun bertekad mengadukan semuanya kepada anda. Sehun berusaha agar semua itu tidak sampai ke telinga anda dan memberikan wanita itu uang yang sangat banyak asalkan dia mau tutup mulut, wanita itu memilih untuk bercerai."

"Seulgi mengandung?"

"Tidak, ku rasa! Dia berbohong saat itu. Seulgi tidak pernah menunjukkan perubahan pada tubuhnya. Dia juga tidak pernah mengungkit hal itu lagi. Tapi dia mengancam akan memebeberkan kepada Anda tentang kehamilan palsunya."

"Seharusnya Sehun mengatakan itu padaku!"

"Anda tidak akan mempercayai Sehun, nyonya. Bagi anda, Seulgi adalah menantu terbaik yang selalu menemani Yifan selama delapan tahun. Anda selalu menganggap Seulgi sebagai wanita yang sangat mulia. Jika saat itu Seulgi mengatakan kalau Sehun memperkosanya, lalu dia hamil. Atau Sehun berusaha untuk membuat Seulgi jatuh ke pelukannya karena Sehun tau kalau Seulgi adalah orang yang paling berhak terhadap harta Yifan jika Yifan mati, anda akan membuang Sehun dalam arti yang sebenarnya! Sehun selalu mengeluh di samping tubuh kaku Yifan, hingga akhirnya Yifan terbangun. Hari itu, Yifan bertanya kepada Seulgi tentang hubungannya dengan Sehun, dan Seulgi melancarkan fitnahan-fitnahan terhadap Sehun. Tentu saja Yifan tidak percaya, nyonya! Yifan bertanya langsung kepada Sehun, meminta Jackson dan saya untuk ikut bercerita tentang kelicikan Seulgi."

"Jadi itu penyebab Yifan mewariskan segala wasiat hartanya kepada Xiao Lu? Tapi mengapa wanita itu?"

"Yifan meminta Sehun mencari siapapun nama yang tercantum di dalam wasiat itu. Melimpahkan segala harta kepada Xiao Lu akan membuat wanita itu terpaksa terpaksa tinggal di rumah Oh dan mendampingi anda. Yifan mengatakan kalau wanita itu lebih pantas mendampingi anda di bandingkan dengan Seulgi."

"Kau juga tau sejak awal kalau wanita itu adalah Xiao Lu?"

Mrs. Philarette menggeleng. "Saat Jackson membawa masuk seorang wanita yang tidak sadarkan diri ke kamar tamu, aku sudah menduga seperti itu. Tapi kecurigaanku sirna saat melihat Sehun terus menggodanya, aku memutuskan kalau gadis itu adalah kekasih Sehun. Sehun tidak mungkin menggoda wanita yang dicintai Yifan. Saat Sehun mengaku kalau wanita itu adalah istrinya, hatiku membenarkan.
Wanita itu memang istrinya karena hatiku mengatakan seperti itu. Tapi Seulgi tidak bisa menerimanya, Nyonya. Seulgi terus menyakiti istri Sehun dengan berbagai macam cara sampai di suatu saat aku mendengar Sehun bertengkar dengan Xiao Lu karena wanita itu ingin pergi dari rumah ini. Pertengkaran itu tidak begitu jelas, yang pasti aku melihat Sehun keluar dari kamar dan menguncinya rapat-rapat, ia menghalangi istrinya untuk pergi dengan mengurungnya seharian di dalam kamar. Setelah itu Sehun melarang Jackson untuk datang ke kantor agar Jackson punya waktu penuh untuk menjaga istrinya. Aku baru mengetahui kalau istri Sehun adalah Xiao Lu setelah pertengkaran mereka dengan anda hari itu."

"Seharusnya kau mengatakannya sejak awal, Philly. Seharusnya aku tau kalau yang jahat pada saat itu siapa? Aku harus menyelidikinya. Aku bahkan menjadi curiga kalau kecelakaan Yifan saat itu di rekayasa!"

"Kalau begitu anda akan membawa mereka berdua kembali kerumah ini, nyonya? Sehun sangat bahagia saat bersama wanita itu. Aku tau karena Sehun sudah berubah semenjak dia membawa istrinya datang ke rumah ini."

Sarah menggeleng. Ia belum bisa menerima Xiao Lu sepenuhnya. Tapi sedikit kebenciannya berkurang. Setidaknya Sarah harus menerima kalau putranya yang tersisa sangat mencintai wanita itu dengan sepenuh hatinya! Kelihatannya ia akan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk memikirkannya. Yang pasti, saat ini ia harus menangani Seulgi secepatnya.


Keindahan itu mungkin dibangun dengan kesedihan. Tapi rasanya Luhan akan menghadapi segala kemalangan di dalam hidupnya dengan senang hati. Seandainya dia tau kalau akhir hidupnya tetap akan indah seperti ini. Akhirnya Luhan memiliki keluarga yang sebenarnya, memiliki seorang suami yang mengatakan ingin bersama dengannya seumur hidup. Juga memiliki anak yang terus bertumbuh kembang di dalam kandungannya. Kebahagiaan yang mungkin tidak akan pernah berakhir seumur hidupnya.

Seperti halnya hari-hari sebelumnya, Luhan terbangun dan menemukan Sehun berada di sebelahnya. Sehun selalu bangun lebih dulu dan menanti Luhan untuk bangun sesegera mungkin. Setelah itu mereka akan menjalani hari -hari paling luar biasa.

Sehun memandangi wajah Luhan seolah-olah Luhan adalah perhiasan terindah dalam hidupnya. Luhan beruntung karena mendapatkan pandangan seperti i tu setiap kali dia terbangun dari tidurnya.

"Seharusnya kau membangunkan aku." Luhan menggerutu.

"Aku tidak bisa mengganggu tidurmu."

"Benarkah? Kau tidak pernah bersikap seperti itu kalau gairahmu muncul. Kau akan membangunkanku di tengah malam sekalipun!"

Sehun tertawa renyah. "Kalau untuk yang satu itu, pengecualian!"

Luhan mendekat dan berusaha memeluknya tapi sesuatu mengganjalnya untuk berada lebih dekat dengan Sehun. Luhan mengeluh karena perutnya yang semakin membesar dan Sehun mengejeknya dengan mengucapkan kata,

"Hati -hati dengan perutmu" sambil tertawa.

"Aku tidak bisa berdekatan denganmu lagi seperti dulu!"

"Kau ingin selalu berdekatan denganku?"

"Ya, tentu saja! Aku tidak ingin berpisah denganmu!"

"Lalu, aku akan mengabulkan permintaanmu seperti biasa!"

Sehun bangkit dari tempat tidurnya dan berpindah ke sisi lain tubuh Luhan. Ia memeluk Luhan dari belakang dengan sangat rapat.

"Sekarang, kita tetap bisa berdekatan, kan?"

Luhan mengangguk senang. "Kau mengabulkan banyak impianku Sehun! Dimulai dengan anak ini, lalu keluarga dan cinta…"

"Aku akan memberikan apapun untukmu. Kau juga sudah mengabulkan impianku untuk menjadi Sehun. Kau mencintaiku karena aku Sehun dan aku sangat menghargai itu!" Sehun berbisik dengan lebih mesra.

Telapak tangannya membelai perut Luhan dengan lembut. "Kau semakin gendut!"

"Memangnya kenapa? Kau tidak menyukai aku yang gendut?"

"Aku menyukainya karena disana ada anakku. Tapi berjanjilah setelah anakku lahir kau harus tetap cantik. Aku tidak ingin berpaling sedikitpun hanya karena kau lalai menjaga dirimu!"

"Ah, seharusnya kau mengatakan 'aku menyukai apa adanya dirimu', itu lebih romantis. Kau terlalu jujur."

"Pernikahan harus di landasi dengan kejujuran, sayang! Jadi hargailah kejujuranku untuk melihatmu tetap cantik dan tidak gendut!"

Tawa Luhan terdengar sangat halus. Ia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh kepada Sehun yang bersandar di bahunya.

"Itu hal mudah selagi kau terus mengkritik jika aku memiliki kekurangan yang tidak kau sukai. Aku akan berusaha untuk tetap cantik seumur hidupku. Tapi aku butuh biaya yang banyak untuk menghindari kerutan di suatu saat nanti!"

Sekarang Sehun yang tertawa. Walau bagaimanapun, kecantikan tidak akan bertahan selamanya, ia hanya bercanda saat mengatakan hal itu. Sesungguhnya Sehun mencintai Luhan yang meminta izin untuk mengandung anaknya. Sehun mencintai Luhan apa adanya dan itu sungguh-sungguh merasukinya belakangan ini. Mereka selalu berbicara tentang cinta setiap pagi, semoga hal itu akan terus bertahan selamanya. Sehun akan selalu memluk istrinya setiap pagi sebelum ia memutuskan untuk berangkat kerja seperti halnya saat ini.


Hari ini Sehun berangkat lebih pagi karena ada janji dengan salah seorang pembeli. Setelah Luhan mengantarkan Sehun pergi kerja sampai di depan rumah, Luhan kembali ke dapur dan mulai membersihkan rumah dari bagian itu.

Ia tengah duduk di ruang tengah dan beristirahat ketika Jackson datang dengan membawa seorang gadis kecil kedalam rumah. Anak yang cantik itu memiliki rambut berwarna hitam dan kulit yang kemerah-merahan. Sangat manis dengan gaun merah jambu yang dikenakannya.

"Kau tidak sedang beralih profesi sebagai penculik, kan?"

"Aku? Astaga, kau berfikir aku bisa melakukan itu? Tidak. Tentu saja tidak!"

"Lalu darimana kau mendapatkan anak ini?"

Luhan mengulurkan tangannya untuk membelai kepala gadis kecil itu, rambutnya sangat halus. "Siapa namamu sayang?"

"Hyunnie!" Gadis itu berujar halus.

"Chanhyun!" Jackson melanjutkan ucapannya.

"Hari ini Sehun memintaku datang untuk membantu tetangga sebelah pindah rumah. Suaminya sedang bersama Sehun di kantor dan dia tidak mungkin mengangkat perabotan rumah yang berat sendiri. Aku mendapatkan uang, lumayanlah!"

"Seharusnya kau bekerja yang baik, Jackson. Kau memiliki pendidikan yang bagus! Aku sudah aman, selama ini aku baik-baik saja, kan?"

"Ah, ya baiklah. Aku memang berniat untuk mencari kerja dan pindah dari rumah ini. Aku fikir aku ingin menikah secepat mungkin. Aku bersumpah merasa sangat iri melihat kalian berdua yang selalu kelihatan mesra!"

Senyum Luhan merekah. Ternyata kisah cintanya bukan hanya bisa menjadi cemoohan belaka. Tapi Jackson memang harus merasa iri karena Luhan dan Sehun tidak ingin Jackson terus mengorbankan dirinya di rumah ini untuk menjaga Luhan. Seharusnya Jackson menyongsong hidupnya dengan senyum cerah, bukan malah ikutikutan di rong-rong ketakutan seperti yang selalu Luhan lakukan.

"Lalu, sudah ada seorang gadis yang membuatmu tertarik?"

Jackson mengangguk lalu mendekatkan tubuhnya agar bisa berbisik. "Di ujung gang sana. Hari ini aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik. Dia lebih cantik darimu dan aku akan mulai mengejarnya!"

Luhan tertawa jenaka. "Ya, tapi kau harus segera mendapatkan kerja tuan muda! Kau tidak mungkin mendekati perempuan manapun jika tidak memiliki uang!"

"Aku rasa begitu. Makanya hari ini aku meminta izin pada Sehun untuk mulai mencari kerja besok. Sehun menyambutnya dengan baik. Tapi, kuharap kau baik-baik saja di rumah selagi aku pergi!"

"Hyunnie, kau di dalam?" Sebuah suara teriakan terdengar agak samar dari dalam rumah.

"Itu pasti ibunya Chanhyun!"

Luhan memandang Jackson serius. "Kau membawa anaknya tanpa izin?"

"Aku sudah minta izin. Hanya saja sebentar lagi sudah waktunya makan siang."

Jackson mengangkat Gabrielle dan menyerahkannya kedalam gendongan Luhan. Bocah itu terlihat patuh.

"Luhan, kau serahkan dia kepada ibunya, ya? Aku mau ke kamar mandi dulu. Perutku sakit!"

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdecak saat melihat Jackson melarikan diri ke kamar mandi. Ia memandangi Chanhyun sejenak lalu bergumam,

"Ayo sayang, kita temui ibumu"

Sebelum beranjak menuju pintu, sebuah bayangan yang sedang mengintip di jendela dapat Luhan lihat, ibu Chanhyun sudah menanti anaknya disana. Luhan berusaha membuka pintu yang ternyata terkunci, Jackson memang selalu mengunci pintu demi keamanan. Itu yang selalu dia katakan.

Beberapa saat kemudian, Luhan sudah berada di ambang pintu yang terbuka dan menatap seorang wanita dengan perasaan terkejut yang mencabik-cabik.

Byun Baekhyun berada disana dan sama terperangahnya dengan Luhan. Luhan lebih terkejut lagi saat Baekhyun berhamburan kedalam pelukannya, sehingga tubuhnya membentur perut Luhan dengan keras. Secepat mungkin Baekhyun melepaskan pelukannya dan memandang Luhan dengan tatapan tak menyangka. Baekhyun masih mau memeluknya?

"Luhan, aku mencarimu selama ini!" Desisnya.

"Aku sangat merindukanmu!"

"Baekhyun?"


TBC


Apdeett!

Gue gak tau harus ngomong apa aja, abisnya ini apdet pake buru-buru. Dan ini udah seyeo panjangin ya, soalnya seyeo sadar chap kemaren emang pendek. Pokoknya makasih banyak buat yang udah nge-fav, ngefoll, sama yang nge-review.

Big Thanks and Big Hug to :

PxnkAutumnxx, Nam NamTae, ElisYe Het, hunnaxxx, misslah, fitry .sukma .39, Angel Deer, Arifahohse, Seravin509, Luniaakimwu, nisaramaidah28, Selenia Oh, Juna Oh, Navizka94, Haruka Zaoldyeck, Name VyAeri, Princess Xiao, ljissi, SyiSehun, Sarrah HunHan, HunHanCherry1220, JodohSeHun, OhXiSeLu, molly a.k.a syfr17, ramyoon, XikaNish, rikha-chan, pinkeuxo, Ludeer, and all Guest.

Last..
Review juseyo..
Gomawooo..:*:*