PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari ff yang PERNAH SAYA saya baca tp entahlah di lanjuutin apa ga dan ternyata ada novel nya
The Rocker That Hold Me
by
TerryAnne Browning ...
saya juga belum baca jadi lansung copy dan replace... Entah ada nya peruahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !1
Bab 11
Dengan perutku yang kenyang karena bubur jagung buatan Youchun, yang ternyata cukup spektakuler walaupun rasanya tidak menyerupai buatan ibuku, aku memutuskan untuk menghabiskan sisa pagiku berbaring di pantai. Kami mendapatkan pantai pribadi sekitar seperempat mil luasnya dan aku mengambil keuntungan dari hal itu.
Changmin membawakan kursi panjang untukku sementara aku mengambil payung sehingga aku tidak terkena paparan sinar matahari terlalu banyak. Dengan buku ditanganku dan botol air minum di tempat minumku, aku siap. Aku mengambil buku What To Expect When Expecting sehari sebelumnya saat kami di bandara tapi aku belum bisa membaca melewati beberapa halaman pertama.
Mengatakan bahwa aku merasakan ketakutan tentang janin ini adalah pernyataan yang meremehkan kenyataan sebenarnya. Tapi aku berusaha mengatasinya. Setidaknya aku merasa lebih baik hari ini dibandingkan dengan apa yang kurasakan selama ini. Rasa mualku kelihatannya mulai mereda dan walaupun aku kelelahan tapi aku merasa cukup istirahat.
Para priaku meninggalkanku untuk beberapa saat. Changmin menggumamkan sesuatu tentang kembali tidur setelah dia begitu baik membawakanku kursi panjang yang berat. Aku senang mendapatkan waktu untukku sendiri, sesuatu yang jarang kudapatkan. Ini sungguh menyenangkan untuk meluruskan tubuh, dengan sinar hangat matahari di atasku dan tidak harus khawatir akan para priaku. Menjelang siang aku kulemparkan bukuku ke kursi dan berdiri. Aku merasa kelaparan dan berpikir betapa Yunhomatnya sandwich (roti tangkup isi) keju panggang dengan tomat dan bacon. Saat aku memasuki rumah melalui pintu samping yang langsung mengarah ke ruang tamu, aku menemukan Junsu dan Yunho tengah menonton Sports Center di televisi layar datar 90 inci yang tergantung di dinding.
"Kalian lapar?" Tanyaku saat aku berjalan melintasi ruang menonton menuju kamar mandi. Aku harus buang air kecil layaknya...Yah, layaknya wanita hamil! Kandung kemihku terasa seperti seukuran semangka karena terasa begitu penuh.
"Aku mau." Jawab Junsu padaku. "Apa yang kau buat?"
"Sandwich." Jawabku, bergegas ke kamar mandi. Ketika aku duduk di tiolet, rasanya sungguh melegakan hingga tak sadar aku mengerang.
Setelah mencuci tangan, aku langsung menuju dapur dan mulai menggoreng beberapa bacon. Kurasa ini menjadi makanan idamanku sekarang, tapi aku tidak masalah. Bacon sungguh enak! Aku membuat sepiring besar sandwich yang banyak. BLT (sandwich tanpa isian daging), dengan keju panggang, dan dengan irisan daging kalkun. Aku sedang memasukkan seiris bacon dimulutku ketika Yunho masuk.
"Oh Tuhan, baunya enak disini." Dia mengambil bir dari kulkas dan membuka tutupnya. "Angin laut sungguh membuat seorang pria menjadi lapar."
Aku memutar mataku padanya, nyengir. "Benarkah? Dan sejak kapan kau berada diluar untuk menghirup udara laut itu?" Dia menyeringai malu dan mengambil sepotong BLT. "Rakus."
"Tidak bisakah aku tidak menahannya ketika kau membuat sandwich terbaik didunia?" Dia menarikku mendekat ke arahnya dengan tangannya yang bebas. Sepasang mata biru esnya itu menangkap mataku dan aku terjebak di kedalaman indahnya.
Tangannya mengelus sisi tubuhku, membuat jantungku berhenti berdetak. Aku tidak terbiasa dengan sentuhan Yunho seperti ini. Aku telah mendambakannya, ya. Tapi hingga saat itu aku tak pernah berpikir akan menerima belaian kasih sayangnya. Ketika tangannya menyentuh pinggulku, pinggulku yang ada tatonya dan menarikku lebih dekat ke sisinya, aku mendekat dengan senang hati.
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh dadanya. Jantungnya berdebar-debar. Panas dari kulitnya membakarku dan aku menyandarkan diriku padanya, ingin merasakan kulitnya yang terlihat dari baju kausnya tepat diatas kerah bajunya. Aku ingin menjilati lehernya dan menggigit kupingnya. Aku ingin...
"Makan siang." Changmin masuk ke dapur sambil menggosokan kedua tangannya, rambutnya berantakan karena tidur siang panjangnya.
"Mengagumkan, aku belum pernah lagi menikmati keju panggang setelah sekian lama."
Merasa lemah, aku beranjak menjauh dari Yunho. Dia menjatuhkan tangannya di sisi tubuhnya dan rahangnya mengetat. Aku menyiapkan sepiring sandwich keju panggang untuk Changmin dan menyodorkannya sekantong keripik sebelum menyiapkan sandwich untukku sendiri.
Jantungku berdetak terasa seperti aku akan mati dan jemariku gemetar saat aku mulai menyusun bacon dan tomat di atas keju panggangku.
Yang lainnya turut bergabung dan kami semua duduk untuk menikmati hidangan bersama. Ini terasa nyaman, sungguh sangat menyenangkan. Kami jarang makan seperti ini. Biasanya hanya makanan siap saji dan terburu-buru, tidak pernah masakan buatan sendiri dan tidak pernah bersama-sama.
Liburan kali ini sungguh senilai dengan setiap sen uang yang aku benci untuk dihabiskan.
Tidur siang sangat menyenangkan. Tidur malam adalah surga.
Aku tidur lebih banyak dalam dua hari terakhir ini daripada minggu- minggu sebelumnya. Aku tertidur di kursi panjangku setelah makan siang kemarin. Kemudian pagi ini aku tidur hingga siang setelah pergi tidur jam 8 malam tadi malam. Dan sekarang sudah hampir jam 3 sore dan mataku sudah terasa berat lagi.
Menguap, aku melempar bukuku ke handuk pantai di samping kursiku dan meregangkan lenganku hingga ke atas kepalaku. Ketika aku melakukan itu, bahan kain dari atasan bikiniku mengencang dan aku menyadari sesuatu yang tidak aku sadari sebelumnya.
Payudaraku besar! Tampaknya kurang lebih naik satu ukuran lebih besar dari ukuran normalku. Kabar ini menggembirakan hatiku dan aku nyengir saat aku menutup mata. Hal kehamilan ini ternyata tidak begitu buruk juga...
Tetesan air dingin menyentuh kulitku dan aku menjerit ketika aku tersentak dari kursiku, kaget terbangun dari tidur indahku. Sambil melotot pada Yunho, aku mendorong kacamataku dari wajahku ke rambutku. "Brengsek kau!"
Dia tertawa kecil dengan suara khasnya yang dalam dan seksi lalu menjatuhkan diri di samping kursiku. Celana renang basahnya menekan paha hangatku yang telanjang dan aku memukul perutnya.
"Kau membeku, Yunho. Apakah airnya begitu dingin?"
"Tidak. Terasa pas untukku." Dia menarik kacamata dari kepalaku dan memakainya di matanya. "Ini bagus." Dia memindahkan lengannya hingga kepalaku berbantalkan bahunya daripada gulungan handuk pantai yang sebelumnya kupakai. Dadanya sungguh dingin untukku tapi aku meringkuk mendekatinya hingga kepalaku dapat bersandar di dadanya. "Ayo kita membeli sebuah rumah di pinggir pantai. Bukan yang seperti itu, tapi sesuatu yang menyerupainya.
Yang lebih besar."
Kubiarkan lengan hangatku memeluk pinggangnya, merasa nyaman didalam pelukannya. "Sungguh?"
Dia mengangguk. "Aku suka pantai. Dan kau kelihatannya bahagia disini. Kita tidak bisa tinggal selamanya di bus tur dan kamar hotel,
Jae. Terutama sekarang." Jemarinya mengelusku lenganku naik turun. "Apakah kau ingin tinggal di Florida atau di California?"
"Aku tak perduli." Dan memang aku tidak perduli. Sepanjang aku bersama orang-orang yang kucintai, aku yakin aku bisa tinggal walau itu di kotak kardus.
"Aku akan menelpon Rich nanti dan menyuruhnya mencari seorang makelar. Aku ingin kita mendapatkan rumah sebelum musim panas ini berakhir. Dan aku ingin mengatakan padanya bahwa tur untuk musim gugur ini dibatalkan. Kita tak bisa banyak bepergian dengan usia 7 bulan kehamilanmu."
Kepalaku mendongak. "Tunggu. APA? Kau tidak bisa membatalkan tur."
"Tentu aku bisa. Kau tidak bisa ikut tur dengan kami selama hamil, Jae. Dan aku tidak ingin meninggalkanmu seperti itu di rumah. Rich akan bisa mengatasinya." Dia membuatnya terdengar seperti masuk akal, tapi itu hanya makin membuatku merasa bersalah. Dia membatalkan sesuatu yang besar, hanya untukku. Aku tak bisa membiarkannya berkorban sebesar itu.
Yunho..."
Dia mendorong kacamataku ke rambutnya. "Jangan berdebat denganku, Jaejoong. Tidak ada satupun yang kau katakan akan mengubah pikiranku. Ada hal yang lebih penting dibanding dengan tur bodoh sialan itu."
Aku rasa aku jatuh cinta sekali lagi padanya saat ini. Aku tak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahku saat aku kembali bersandar di otot dadanya yang keras. "Terserah apa katamu, Yunho."
"Itu benar, sayang." Kami berdua tertawa dan kemudian kurasakan bibirnya di rambutku. "Mari kita tidur siang. Aku kelelahan."
"Ide yang bagus." Aku bergeser sehingga kakiku terjalin dengan kakinya.
"Kemudian kita bisa pergi makan malam." Jemarinya tertaut di rambutku sambil dia memijat kulit kepalaku. "Hanya kau dan aku."
Kepalaku mendongak lagi. "Seperti...kencan?"
Ada sebuah senyuman di bibir 'cium aku' nya yang sempurna. "Sama seperti sebuah kencan, baby girl."
aku baru tau The Rocker That Hold Me ada lanjutan nya berarti aku salah memilih karakter :-( ... teryata masing masing anggota band nya memiliki kisah sendiri ... seharus nya junsu nanti aja ya di keluarinya ... pan seharusnya junsu menjadi orang yang di cintai youchun ... tapi mau ganti karakter lgi males ... -_-
ada kah saran ...?
