Title : Back To Tomorrow.
Author : Me, Echa.
Cast : Yunho, Jaejoong, Changmin, Yoochun, Junsu and other Cast.
Genre : Romance, Genderswitch! Drama, Gaje, etc.
Pair : Yunjae.
Lenght : Chapter 11.
Warning : A Gender bender, Genderswitch FF, No Bash, No Flame, Dont Like Dont Read. Saya cinta damai, jika tidak berkenan dengan ff GS harap back segera, jika memaksa membaca saya tidak tanggung jawab!
The Begining...
Check it.
Doe eyes Jaejoong mengerjap-ngerjap sesaat mendengar apa yang dibisikkan Yunho. Sepersekian detik berikutnya mulutnya menganga lebar dan melepaskan diri dari dekapan mesra sang kekasih. Segera Jaejoong berbalik dan menatap intens Yunho. Keningnya tertaut sempurna. Cukup bingung dengan hal yang diutarakan Yunho.
"Yun, kau serius?" Tanya Jaejoong, sungguh ia sangat terkejut dengan segala hal dihari ini. Namun, tak disangkal gadis itu, perasaan senang bergemuruh hebat di dalam dadanya.
"Sangat serius, Boo," jawab Yunho, musang pria itu balas menatap sang kekasih. Dengan kesungguhan yang tak main-main.
Ya, beberapa saat lalu, dia membisikkan sebuah kalimat yang hanya akan sekali diucapkannya pada seorang wanita. Dan Yunho yakin, Jaejoong-lah orang yang tepat untuk menerima pernyataannya itu. Mengingat masa depan mereka yang sudah mempunyai Changmin. Yunho sangat yakin, dia tak salah langkah untuk melakukan ini tergesa-gesa.
"Tapi Yun, kita baru saja menjalin hubungan dan..."
"Kita sudah melakukan hubungan jauh dari sekedar pacaran, Baby," ucap Yunho cepat, dan menghela napas. Selangkah dimajukannya kakinya mendekat pada Jaejoong.
Yunho mengulurkan tangannya, meyentuh perut rata sang gadis yang masih cukup bingung harus berkata apa. "Di sini, ada calon benih cinta kita, Changmin akan segera ada, Boo."
Jaejoong menatap ragu Yunho, perasaannya mulai tidak menentu. Di lain sisi, tentu dia ingin bersama dengan Yunho. Tapi, ketika mengingat apa yang terjadi pada keluarga mereka. Sulit bagi Jaejoong harus mengambil sikap.
Dan yang paling penting, apa dikatakan Yunho memang benar. Mereka sudah lebih dari sekedar pacaran. Faktanya dia sudah tidak perawan lagi. Jaejoong sendiri tidak menyesal akan itu. Dia senang dan bahagia karena memberikan hal terbaik dari dirinya pada Yunho. Tapi mendengar penuturan Yunho tentang Changmin akan segera ada di dalam perutnya, cukup membuat Jaejoong syok.
"Tapi Yun, apa kau tidak berpikir bagaimana..."
"Apa kau tidak ingin menikah denganku, Jae?"
Pertanyaan bernada dingin beserta musang yang menatap tajam langsung diberikan Yunho pada kalimat protesan Jaejoong.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Sudah jelas dia juga sangat ingin menikah dengan Yunho. Hal yang dibisikkan Yunho. Pria itu memintanya untuk menjadi istri. Jaejoong menatap sekilas musang Yunho, dia tahu Yunho tak main-main dengan permintaannya ini.
"Banyak pertimbangan yang harus kita lakukan, Yun. Kau tahu keluarga kita tidak akur. Dan untuk menikah kita harus mengambil banyak resiko," ujar Jaejoong, itu lah hal yang membuatnya sulit untuk mengiyakan permintaan Yunho. Meski baru mengenal dan berpacaran tapi Jaejoong yakin Yunho adalah masa depannya kelak. Dia sangat mencintai pria itu. Sangat.
"Aku tahu, Jae. Aku sudah memikirkan semuanya jauh sebelum kita menjadi kekasih," sahut Yunho yang kemudian menghempaskan tubuhnya duduk di sofa.
Desahan frustasi keluar dari bibir hatinya. Yunho tidak berbohong, jauh sebelum dirinya mengenal dengan baik Jaejoong, sebuah pikiran menganggunya.
"Maksudmu ? Kau sudah mempunyai cara ?" Tanya Jaejoong cukup terkejut dengan pernyataan Yunho tadi.
"Aku tidak berpikir bagaimana skandal keluarga kita," jawab Yunho, maniknya menatap lekat mata Jaejoong. Dia menarik pinggang Jaejoong mendekat dan mendudukkan kembali gadisnya di atas pangkuannya.
"Aku hanya berpikir tentang Changmin, Boo," timpal Yunho lagi seraya memeluk erat tubuh Jaejoong.
Jaejoong tidak mengerti arah pembicaraan Yunho kali ini. Bukankah masalah utama mereka adalah keluarga. Dan Changmin, memang akan ada di masa depan sana. Lagi pula mereka sudah melakukan kegiatan intim suami istri. Lalu kenapa Yunho berpikir tentang anak mereka itu ?
"Yun, kau terlalu jauh berpikir, Changmin akan ada, itu sudah jelas dan masalah kita adalah..."
"Changmin memang akan ada di masa depan sana, tapi tanpa seorang ayah."
Betapa sangat terkejutnya Jaejoong mendengar hal itu. Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk di dalam otaknya. Kenapa Yunho berbicara seperti itu ? Bukankah sudah jelas bahwa Yunho adalah ayah dari Changmin. Apa sekarang pria itu mulai meragu ?
"Yunho, kenapa kau mengatakan hal itu, kau meragukan Changmin sebagai anak kita?" Langsung Jaejoong menyambar Yunho dengan pertanyaannya yang tak dimengerti.
Yunho menggeleng pelan, sedikit mendesah sebelum menjelaskan apa yang selama ini dipikirkannya, "Dari awal dia hanya menceritakan tentangmu, dia tidak pernah tahu bagaimana aku, dia bahkan hanya mengenaliku karena sebuah photo itu. Kau lihat dompetnya yang lusuh? Di sana hanya ada photo kalian berdua, di mana aku? Lalu pertama kali dia mengenalkan dirinya, Changmin mengatakan Kim Changmin bukan Jung Changmin, aku memikirkannya sejak dulu. Itu juga alasanku untuk tidak terlalu mempercayainya tapi setelah bertemu denganmu. Aku menjadi yakin, jika dia adalah anakku, namun feelingku selalu mengatakan ada yang tidak semestinya terjadi di masa depan."
Mata Jaejoong mengerjap-ngerjap, dia memproses dengan baik ucapan Yunho. Ketika dia paham, mata besarnya membelalak lebar tak percaya.
"Yun, maksudmu..."
"Ya, apa yang kau pikirkan benar. Itu lah kenapa aku ingin segera menikahimu, Boo. Aku ingin Kehidupan kita kelak akan menjadi sempurna, aku takut jika perpecahan keluarga kita menjadi penghalang utamanya," ujar Yunho, semakin mengeratkan pelukan pada pinggang ramping Jaejoong.
Kini Jaejoong paham maksud Yunho apa. Tentu, hal itu dapat dipahaminya, bagaimana kegetiran Yunho. Air matanya ingin menetes. Hubungan cinta mereka memang teramat rumit. Jika seandainya keluarganya dan Yunho tidak berselisih mungkin akan mudah.
Namun, ketika berpikir tentang keluarga, Jaejoong segera tersadar. Jika menikah berarti dia harus memberi tahu kedua orang tuanya dan juga Yunho. Lalu bagaimana itu bisa dilakukannya. Dia terlalu takut akan amukan ayahnya.
"Yunnie, bagaimana kita akan mengatakan pada orang tuaku dan orang tuamu, aku takut Yun, aku takut," cicit Jaejoong seraya menatap mata musang Yunho yang teduh.
"Aku akan memberitahu pada umma dan appa, aku yakin mereka pasti akan setuju karena Changmin. Tapi aku tidak yakin pada orang tuamu, Baby."
Hening terjadi sesaat, setelah Yunho mengucapkan itu. Keduanya tidak ada yang berbicara. Hanya deru napas Yunho yang meciumi lekukan leher jenjang Jaejoong terdengar memburu.
Hingga akhirnya suara Jaejoong memecah hening, dan cukup membuat Yunho terkejut, "Kapan kita akan menikah, Yunnie?"
Kening Yunho setengah terangkat, kemudian ia tertawa pelan dan mengecup bibir Jaejoong. Perasaan Yunho sungguh lega mendengar hal itu. Setidaknya nanti ketika Jaejoong mengandung Changmin, mereka sudah menikah.
"Besok, Boo. Kita tidak perlu perayaan, hanya bersumpah satu sama lain dan mendaftarkannya ke catatan sipil," ujar Yunho cepat dan mengecupi seluruh permukaan wajah Jaejoong.
"Apa semua akan baik-baik saja Yunnie?" Entahlah, Jaejoong sendiri kurang mengerti, dia masih bingung dan ragu. Tapi, mendengar kata-kata Yunho tentang Changmin, dia juga tidak ingin jika di masa depan nanti hanya ada mereka berdua tanpa ada Yunho. Ya, itu lah yang ditangkap oleh sistem otak Jaejoong.
"Pasti sayang," bisik Yunho, kemudian menjilat daun telinga Jaejoong. Lagi-lagi libidonya meningkat, apa lagi mengingat Jaejoong yang sudah bersedia untuk dinikahinya. Rasa-rasanya tak ada hal yang perlu dikhawatirkannya lagi untuk bisa memiliki gadis ini. Selain keluarga Jaejoong yang mungkin akan menolaknya. Tapi sungguh, Yunho tidak peduli.
Yang dipedulikan pria itu saat ini adalah hanya dirinya, Jaejoong dan juga Changmin. Tentang kehidupan masa depan mereka yang Yunho pikir suram. Maka dari itu dia berniat untuk segera memperbaiki hal itu, dengan pernikahan semua akan cukup jelas untuk ke depan. Setidaknya begitu lah pikiran Yunho.
"Uunnghh Yunh..." Desahan erotis mulai keluar dari bibir cherry Jaejoong. Yunho yang tidak sabaran itu mulai menjilati lehernya dan sesekali mengukir kissmark di sana. Bahkan, bekas yang tadi malam masih sangat membekas di kulit putih Jaejoong.
Gadis itu mulai menggeliat-geliat tak tenang kala tangan besar Yunho menelusup masuk ke dalam dressnya. Menyentuh bagian terdalam dirinya yang mulai terangsang karena ulah Yunho yang tak bisa membendung sebuah hasrat yang ingin menyentuh Jaejoong lagi.
.
.
.
Jaejoong menatap takut pada ayah Yunho yang ada di depannya. Dadanya naik turun, perasaan gugup menjadi-jadi di rasanya. Setelah dia dan Yunho berbicara tadi, dan sebelum Yunho sempat kembali menggagahinya. Changmin datang diantara mereka.
Bocah itu mengatakan jika kakeknya sudah tiba dan ingin bertemu dengan Jaejoong. Kontan membuat Jaejoong terlonjak kaget dan memasang wajah pucatnya. Segera gadis itu membenahi dirinya dan penampilannya. Sedangkan Yunho pria itu hanya bisa mengerang frustasi.
Kini Jihoon, ayah Yunho menatap intens Jaejoong. Dia memperhatikan dengan seksama Jaejoong. Kemudian pandangan pria itu dialihkan pada Yunho yang ada di samping Jaejoong. Beberapa menit lalu, perbincangan antara ayah dan anak itu terjadi cukup menegangkan.
Yunho mengutarakan perihal pernikahannya dengan Jaejoong yang akan dilaksanakan besok dengan sangat sederhana. Dan kali ini, keduanya menunggu putusan Jihoon untuk restunya.
Sedetik berlalu, Jihoon menghela napasnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi empuk. "Jika itu yang kau mau, Appa tidak bisa mengatakan apa-apa, semua demi Changmin," ujar Jihoon yang membuat kedua orang di depannya terlonjak.
Yunho tersenyum penuh setelah menguasai rasa kagetnya. Dia sudah cukup mengira, ayahnya akan mudah memberi restu. Sekeras-kerasnya Jihoon, pria itu sangat sayang pada keluarga. Apa lagi alasannya tadi sangat masuk akal.
Benar, Yunho mengatakan tentang kekhawatiran yang terjadi di masa depan sana. Alasan Changmin yang hanya kenal dengan Jaejoong tapi tidak dengan mereka awalnya membuat Jihoon sedih. Tapi, dengan cermat pria berusia empat puluh tahunan itu mengambil sikap.
"Appa, kau benar-benar merestui hubungan kami kan?" tanya Yunho, hanya sekedar meyakinkan kembali.
"Ya, appa merestui kalian, Changmin sudah ada untuk masa depan nanti, dan appa sudah terlanjur sangat menyayanginya sebagai cucu appa. Appa tidak ingin cucu yang lain lagi kelak," ujar Jihoon kemudian tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
Yunho mengerti maksud ucapan ayahnya itu, dia menatap Jaejoong yang mengulum senyum senangnya. Walau bagaimana pun juga hal ini sangat membahagiakan untuk mereka. Kenyataannya sedikit akan berubah jika akan begini, dia semakin yakin untuk memiliki Jaejoong sebagai istri.
Lagi pula, dengan begini Yunho berharap kenyataan di masa depan akan berubah. Mengingat Changmin di sana membuatnya sedih. Jujur, sebenarnya Yunho kurang mengerti kenapa anaknya itu tidak memberitahu perihal sebenarnya. Changmin terkesan menutup-nutupi ketika dia bertanya bagaimana kehidupan mereka di masa depan. Tentang anggota keluarga mereka dan yang lain sebagainya.
Maka dari itulah kecurigaan Yunho berkembang hingga dia mengambil kesimpulan demikian. Dan semua kecurigaannya semakin lengkap saat mengetahui Jaejoong yang ternyata dari keluarga Kim. Musuh bebuyutan keluarganya sejak dulu.
.
.
.
2 Month Later...
Kehidupan rumah tangga Yunho dan Jaejoong sangat bahagia. Setelah menikah keduanya bisa hidup bebas bersama. Sebagai hadiah pernikahan, Taehee memberikan pasangan itu sebuah apartemen. Mereka menempati apartemen itu bersama. Kegiatan suami-istri sudah menjadi makanan sehari-hari untuk keduanya.
Changmin juga tinggal bersama dengan mereka. Bocah itu terus merengek pada Taehee untuk tinggal bersama dengan orang tuanya. Layaknya sebuah keluarga yang harmonis. Setiap pagi Jaejoong bangun membuat sarapan untuk suami dan anaknya. Setelahnya dia akan pergi ke kampus dengan sebuah taksi yang menjadi langganannya.
Ya, Jaejoong menggunakan taksi. Meski Yunho ingin sekali pergi bersama dan pulang bersama. Hal itu tidak akan bisa untuk mereka jalani. Jelas, Hyunjoong adalah alasan utama Jaejoong memilih untuk memakai jasa taksi.
Sepupunya itu masih mengawasinya di sekitar kampus. Bahkan, Hyunjoong juga cukup sering menelponnya. Itu lah kenapa Jaejoong menyembunyikan tentang kehidupannya sekarang. Jika Hyunjoong tahu, semuanya akan berakhir buruk.
Jaejoong merapikan meja makan yang sudah tersusun sandwitch buatannya. Dia tersenyum manis sebelum melangkah ke kamarnya dan Yunho. Membangunkan anak dan suami adalah rutinitas yang selalu dijalaninya. Jaejoong menyukai perannya sebagai istri dan juga ibu. Meskipun umurnya cukup muda. Jaejoong sangat paham bagaimana menjalankan posisinya dalam rumah tangga.
Namun, belum-belum Jaejoong sempat memutar kenop pintu kamarnya. Telpon di ruang tamu mereka berdering. Sedikit menghela napas, Jaejoong segera menghampiri telpon berwarna merah itu.
Biasanya, Yoomi, sang kakak ipar menelponnya setiap pagi, hanya ingin menanyakan apakah Changmin sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Ya, Changmin. Bocah remaja yang berstatus anak masa depannya itu kini bersekolah. Ide untuk Changmin sekolah keluar dari mulut Yunho.
Ayah satu anak itu ingin putranya pintar dan tidak hanya berkeluyuran atau pun menempel pada nenek dan bibinya saja. Maka dari itu Changmin sekolah tepat satu bulan yang lalu. Tanpa sebuah ijazah yang sangat berarti. Lagi pula sekolah tempat Changmin menuntut ilmu adalah milik dari keluarga Jung sendiri.
Sejujurnya hal itu membuat Changmin menganga lebar. Bocah itu sengaja memilih untuk bersekolah di sana. Karena di masa depan, Changmin juga disekolahkan Jaejoong di tempat itu.
Jaejoong mengangkat gagang telpon, kemudian menyapa sang penelpon dengan sopan, "Hallo."
Belum ada beberapa detik gagang telpon berwarna merah itu ditempelkan ditelinganya. Wajah Jaejoong yang tadinya sumringah menjadi pucat pasi dengan badan bergetar setelah mendengar suara dari sang penelepon.
.
.
.
TBC ?
Well, aku ga punya feels untuk lanjutin ini :( . Sengaja aku bikin langsung begini, supaya ga bertele" lama dan malas ._.
Maaf kalau feelsnya kurang atau acak adul dan sejenisnya. Ini sangat gaje. aku tahu T . T
EYD ga beraturan, typo dimana" . Maaf ga sepanjang biasanya. Tolong jangan protes u,u
Hey this, buat anak" (?) saya yang bilang penasaran sama ini ff... udah dilanjutin nih :D
Maaf ga bisa balas review -bow-
Spesial Thank, all reader and reviewers
.
.
.
