Disclaimer: Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
.
.
Malam itu cukup dingin, lebih dingin dibandingkan malam-malam sebelumnya bagi seorang Sasuke Uchiha. Biasanya malam di Konoha tidak sedingin ini, mungkin karena musim gugur akan segera datang maka tiupan angin lebih hebat dibandingkan sebelumnya. Berada di dalam kamar, di dalam selimut, Sasuke masih menemukan malam ini sangatlah dingin.
Maka dari itu, ia bangun dari tidurnya, menggaruk kepala merasa kesal karena tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Pikirannya memutar memori atas sebuah jaket yang baru ia beli beberapa hari lalu bersama yang lainnya, terpikir untuk memakai jaket tersebut untuk malam ini—menggunakan jaket itu untuk pertama kalinya.
Bibirnya tertarik saat mengingat pujian Naruto dan Sai mengenai betapa tampannya ia memakai jaket itu.
Tersadar, Sasuke menggelengkan kepalanya cepat, berusaha membangunkan dirinya dari hal yang ia mulai sukai. Tangannya mengacak rambutnya asal-asalan.
"Kuso—"
—Sasuke Uchiha mulai menyadari bahwa ia mulai jatuh ke dalam kesenangan yang terlarang untuknya tenggelam dalam.
3 + 1 = 7
oleh LuthCi
Sakura tersontak bangun dari dunia mimpinya. Chakra Sasuke tidak berada dalam ruangan yang seharusnya, ia panik setengah mati. Menoleh ke kanan, ia menyadari Sai menatapnya dalam diam, tampaknya Sai pun menyadari bahwa Sasuke bergerak. Namun, setelah mencoba tenang, Sakura menemukan chakra Sasuke berada di sekitar ruang tengah—mungkin dapur. Maka dari itu, Sakura tersenyum pada Sai sebagai pertanda bahwa hal itu bukanlah apa-apa.
"Biar kususul, kau tidur saja, Sai," ujar Sakura pada pemuda yang tidur dalam futon yang terpisah dengan futonnya tersebut.
Sakura berdiri, mulai beranjak keluar kamar lalu menuruni tangga untuk melihat Sasuke duduk di meja makan.
"Tak pernah lengah, huh?" Sasuke menyeringai dalam kalimatnya.
Sakura menyadari sepenuhnya itu bukanlah kalimat pujian. Hal yang aneh untuk Sakura karena perubahan sikap Sasuke—tepatnya kembalinya sikap Sasuke—seperti sebelumnya.
"Kenapa terbangun—"
"—urusanmu?" potong Sasuke terhadap pertanyaan Sakura. Sakura menautkan alis, tidak mengerti apa yang telah ia lakukan hingga membuat Sasuke menjadi berada di dalam suasana hati yang buruk begitu.
"Kembalilah ke kamarmu," perintah Sasuke pada Sakura yang baru saja menapakkan kakinya pada anak tangga terakhir. "Aku tidak akan mencoba kabur sekarang," ucap Sasuke sebelum terkekeh pahit, "memangnya apa yang bisa dilakukan orang buta?"
Sakura bersumpah ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Sasuke malam itu.
.
.
"Sasuke mana?" Sakura, dengan celemek biru yang ia kenakan, bertanya pada Naruto yang menuruni tangga dengan menguap.
Ritual mereka—tepatnya sarapan pagi mereka kembali dilakukan seperti pagi-pagi sebelumnya, berjalan seperti biasa. Namun, kali ini ada yang berbeda karena Sakura tak kunjung menemukan Sasuke turun dari kamarnya. Sai masih membantunya, Naruto masih turun dengan muka bantalnya, tapi tetap saja berbeda.
"Hngg..." Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tadi dia bilang, sih, akan turun nanti. Dia sudah mandi, kok." Naruto mempercepat langkahnya menuju meja makan. "Waaa! Pasti enak! Kita makan duluan, ya? Aku luaapaarrr!" kekeh Naruto yang tanpa menunggu persetujuan segera memasukkan sumpit berisi makanan ke mulutnya.
Sakura tersenyum melihat tingkah Naruto tersebut. Makanannya dihargai, tentu saja ia merasa senang. Namun, beberapa saat setelahnya senyuman itu memudar, matanya mengerling pada tangga, berharap pemuda yang ia tunggu segera turun dan memakan sarapannya.
.
.
"Kau sudah bisa melihat?" Sai membuka mulut, bertanya pada pemuda di sebelahnya yang kini sedang melihat ke luar melalui jendela kamar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung celana, sedangkan matanya melihat ke arah pemuda itu melihat.
Jujur saja, ia sendiri tidak mengerti apa yang ia lakukan di sini, di kamar Sasuke dan Naruto, untuk lebih rincinya. Yang ia tahu tadi Sasuke tidak turun untuk sarapan—dan Sakura akan mengantarkan makanan untuk Sasuke namun ia selak—karena entah mengapa ia ingin saja ia yang mengantarkan makanan pada Sasuke. Aneh, 'kan? Tetapi semua orang memang selalu mengatakan ia aneh, jadi biarlah ia bertingkah aneh—walau ia tidak tahu ia aneh di sebelah mananya.
Masuk ke kamar Sasuke dan Naruto, yang pertama Sai lihat adalah Sasuke yang berdiri di depan jendela kamar. Sai pun berdiri di sebelah Sasuke setelah meletakkan sarapan Sasuke di samping futon beserta meja kecil untuk makan. Mengerling pada Sasuke yang berdiri di sebelahnya, Sai mengerutkan alis. Ia tidak mengerti mengapa raut wajah Sasuke terlihat berbeda. Tidak seperti Sasuke yang ia kenal (walau memang Sai belum terlalu percaya diri untuk mengatakan ia mengenal Sasuke).
"Kalau kepalamu lurus begitu, kau hanya melihat atap-atap rumah penduduk desa. Tapi kalau kau melihat ke kanan, kau baru bisa melihat Gunung Hokage dan di kiri ada gerbang. Setidaknya dua hal itu lebih menarik untuk dilihat dibandingkan atap-atap rumah," ujar Sai panjang lebar sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti kenapa ia mengatakan hal-hal tersebut. Nah, belakangan Sai tidak terlalu mengenal dirinya—walau ia menikmati dirinya yang baru.
Sai menoleh pada Sasuke dan kembali mengernyit karena Sasuke tidak mengatakan apa pun sebagai jawaban dari omongannya yang menurutnya sangat panjang. Sai memiringkan kepalanya seraya menggaruk pipinya lagi, berpikir apakah ada yang salah dengan yang ia katakan. Namun, memutuskan mungkin Sasuke butuh waktu sendiri, Sai pun memu—
"—apa warna cat kamar ini?"
Sai menoleh cepat pada Sasuke, berpikir apa ia baru saja salah mendengar atau memang Sasuke bertanya. Karena menurut buku yang ia baca, orang yang butuh waktu sendiri tidak akan mengajak interaksi orang di sekitarnya—karena ia butuh waktu benar-benar sendiri. Apalagi bertanya berarti butuh jawaban, yang berarti orang di sekitarnya tidak dapat pergi. Namun, sepertinya ia harus kembali bekerja, kan?
Bekerja sebagai mata.
.
.
Saat Sakura melihat Sasuke dan Sai berjalan menuruni tangga, ia merasa begitu lega. Lega bukan main—lega tak terkira. Agaknya ucapan dingin Sasuke dini hari tadi (ataukah tengah malam?) membuat Sakura sangat berpikir keras tentang apa yang salah, belum lagi fakta bahwa Sasuke tidak turun untuk makan.
Sakura masih berdiri di dapur. Naruto sudah pergi entah ke mana karena katanya ada urusan dan Sakura masih berada di lantai dasar—padahal sarapan sudah usai sejak dua jam yang lalu. Biasanya Sakura akan ke lantai atas dan beres-beres kamar—masalahnya jika ia ke lantai atas tadi, ia tidak tahu dapat menahan diri atau tidak memasuki kamar Sasuke dan bertanya apa yang salah dengannya—
—hal ini membuat Sakura merenung tentang bagaimana satu kalimat dari Sasuke dapat mengganggu pikirannya sehebat ini.
Tangan Sakura memegang teko berisi air hangat karena ia baru saja hendak membuat ocha untuk menenangkan diri—tapi kini tangannya terdiam di tempat, terabaikan karena mata Sakura dan pikirannya sedang terarah pada pemuda yang menuruni tangga dengan menutup mata. Kedua tangan pemuda itu masuk ke dalam kantung celana, sama persis dengan gestur pemuda itu kala mereka masih kecil hingga remaja. Tak banyak berubah, eh?
Sakura sejenak memindahkan pandangannya pada pemuda yang berjalan di sebelahnya—kedataran wajah mereka mirip, eh? Seperti saudara. Bedanya pemuda yang memiliki kulit lebih pucat itu—Sai, lebih banyak berbicara. Walau memang Sai berbicara dengan nada yang masih terdengar tanpa intonasi berarti. Sakura menemukan ujung bibirnya tertarik melihat dua orang serupa namun tak identik tersebut. Sai sibuk berbicara (yang Sakura dengarkan adalah menjelaskan bagaimana ruangan tempat mereka berada sekarang—bahkan Sakura mendengar kalimat "—dapur banyak perlengkapan masak, Sakura-san sedang memerhatikan kita, sofa berwarna—" yang refleks membuat Sakura menunduk malu).
Telinga Sakura masih siaga mendengar. Sakura tak dapat menghentikan rasa penasarannya atas bagaimana Sasuke tidak terlihat terganggu dengan penjelasan Sai yang tanpa henti. Jika Naruto atau ia yang berbicara—Kakashi pun juga begitu, akan ada mimik tidak sabar di wajah Sasuke. Walau tidak begitu jelas, tapi dapat kau bedakan jika kau sudah dua tahun lebih mengenalnya. Sedangkan dengan Sai? Sedikit pun tak ada. Sasuke hanya memejamkan mata, memasukkan tangan ke saku, dan mendengarkan baik-baik ucapan Sai, seolah ucapan Sai adalah penjelasan misi yang harus ia kuasai.
Merasa terganggu? Sedikit. Tentu Sakura merasa terganggu tentang bagaimana Sai dapat diterima begitu baik oleh Sasuke sedangkan dirinya tidak. Namun, ia merasa cukup senang karena Sai memang perlu teman untuk belajar bicara—berekspresi dan mengeluarkan apa yang ada di pikirannya dalam bentuk kata-kata, dan Sasuke pun perlu belajar untuk mendengar, menjadi lebih sabar. Dan bagaimana kedua pemuda serupa namun tak identik tersebut berinteraksi agaknya membuat Sakura merasa tenang—dan lucu untuk dipandang.
Mulut Sakura sempat terbuka sesaat untuk bertanya apakah Sasuke sudah makan atau belum, tapi ia tutup lagi sepasang bibirnya—karena mungkin, kalimatnya akan merusak suasana.
Melihat punggung Sasuke dan Sai berjalan menuju halaman belakang, Sakura pun segera membuat ocha untuk dirinya, lalu berjalan ke lantai atas. Beres-beres kamar!—batinnya riang.
.
.
Seusai membereskan kamarnya dan Sai, Sakura pun membereskan kamar Sasuke dan Naruto. Dua futon tergeletak di lantai. Yang satu terlipat rapih yang satu tergelar berantakan. Sakura hanya menghela napas maklum pada tingkah kawan pemilik futon berantakan tersebut, siapa lagi kalau bukan Naruto? Sakura segera merapihkannya sekaligus merapihkan beberapa hal lain yang menurutnya kurang pantas. Memang Sakura bukan pembantu di sini, ia tahu, tapi ia juga tahu jelas bahwa ia satu-satunya perempuan—dan mengikuti insting, Sakura setidaknya harus membereskan seisi rumah mereka seminggu sekali saat ia cuti, seperti hari ini.
Mengelap keringat tipis pada keningnya, Sakura menghela napas lega. Rapih sudah kamar Sasuke dan Naruto—atau kamar Naruto dan Sasuke, Sakura tidak tahu nama siapa yang harus disebutkan lebih dahulu karena sekalipun tidak penting untuk dibahas, tapi baginya itu cukup penting untuk dipikirkan—entah untuk apa. Sakura kini berjalan ke pinggir jendela yang terbuka, dan membukanya lebih lebar.
Perumahan, Gunung Hokage, dan gerbang dapat dilihat dengan jelas dari jendela tersebut. Sakura sengaja memilih kamar yang lain untuk menjadi kamarnya—dengan harapan ketika Sasuke sudah dapat melihat, Sasuke dapat melihat perumahan Konoha dan mungkin akan merasa senang karenanya. Namun, agaknya kala Sakura melirik gerbang, ia merasa khawatir. Khawatir salah satu hal pertama yang Sasuke dapatkan ketika dapat melihat adalah keberadaan gerbang—yang mana mungkin mengakibatkan Sasuke untuk ingin melarikan diri—pergi lagi.
Sakura memejamkan mata dan menarik udara segar dari jendela dalam.
Srek.
Sakura menoleh untuk menemukan Sasuke berdiri di pintu. "Ah, maaf," ujar Sakura cepat, merasa tidak sopan karena berada terlalu lama di kamar orang lain. Namun, Sakura sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri—karena Sasuke tidak menjawab ucapannya, pun tidak menunjukan gestur yang menjawab ucapan maafnya.
Dan Sasuke maju beberapa langkah, dalam diam.
Sakura berpikir keras ke mana Sai saat ini. Setahunya dan seharusnya Sai menemani Sasuke seharian—karena saat sarapan pun Sai mengatakan ia tidak ada kegiatan. Pikiran Sakura mengenai Sai menguap seketika saat Sasuke berhenti berjalan—berhenti tepat sebelum Sasuke menabrak jendela. Kadang (contohnya saat ini) Sakura ingin sekali tahu sejauh mana Sasuke mengetahui keadaan rumah mereka—banyaknya langkah untuk sampai kamar mandi, tinggi tangga, arah menuju pintu keluar, apa saja yang Sasuke ketahui, sejauh apa, sedetil apa.
Sibuk dengan rangkaian pikirannya membuat Sakura menatap sosok Sasuke di sebelahnya—melihat sisi kiri wajah Sasuke dengan sempurna dari posisinya kini. Tangan Sakura berkedut—tergelitik untuk menyentuh wajah Sasuke dari kening hingga dagu, menyusuri wajah Sasuke dengan telunjuknya, bersamaan dengan melepas rasa rindunya dengan gesekan kulit wajah dengan ujung jemari. Namun ia tahan, tahan setengah mati, karena jika ia melakukan hal itu artinya ia harus memulai segalanya dari awal lagi. Ditambah dengan fakta bahwa hatinya masih mengingkari bahwa ia masih terkubur dalam perasaan lama, perasaan yang seharusnya sudah habis lapuk dimakan waktu.
Sasuke membuka mata. Membuat Sakura sadar sedari tadi kedua bola mata itu tertutup rapat, pun membuat Sakura sadar betapa lurus mata tersebut kala terbuka—sekalipun Sakura tahu tidak ada yang dapat terlihat. Mungkin hanya abu-abu, itu pun sudah sangat patut disyukuri.
"Apa yang dapat dilihat dari jendela ini?"
Pertanyaan Sasuke membuat Sakura tersentak. Tersentak bangun dari pikirannya sendiri dan mulai berpikir ulang apa yang baru saja Sasuke tanyakan.
"…apanya?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan—hal yang paling Sakura benci dari Kakashi tapi ia lakukan kini. Apalagi kalau bukan karena ia benar-benar bingung apa maksud pertanyaan Sasuke.
Jika Sasuke bertanya pada Sai, maka Sai pasti mengerti. Karena Sai sudah terbiasa memberikan petunjuk Sasuke mengenai arah dan apa yang dapat dilihat. Sedangkan Sakura? Ia tidak mengerti bagaimana caranya—bagaimana caranya untuk memberikan petunjuk pada Sasuke tanpa melukai harga diri Sasuke. Walau berusaha tidak melukai harga diri Sasuke sudah termasuk dalam daftar hal yang akan melukai harga dirinya.
Sasuke menarik napas, berusaha keras untuk tidak terlihat jengkel. Mulutnya masih terkunci, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Sakura—karena berarti ia harus mengulang perkataannya. Sasuke benci untuk mengulang ucapannya lagi.
Sakura kemudian segera kikuk saat melihat ekspresi jengkel di wajah Sasuke. Sakura dapat melihatnya dengan jelas sekalipun Sasuke berusaha menutupinya—sangat jelas, bahkan. "Ada perumahan, rumah sakit, Gunung Hokage, dan—"
Sakura menimang apa yang harus ia katakan selanjutnya. Apakah harus dikatakan atau ia telan kembali bulat-bulat.
"—gerbang."
Jantung Sakura berdegup kencang. Mengatakan gerbang pada Sasuke terasa seperti memberikan Sasuke kesempatan untuk pergi lagi—walau Sakura entah mengapa yakin Sasuke tidak cukup bodoh untuk pergi saat pengelihatannya belum kembali.
"Arah?"
Untuk pertama kali Sakura membenci pertanyaan mengenai arah yang berasal dari Sasuke. Biasanya ia akan senang saat Sasuke menanyakan arah pada Sai atau Naruto, karena itu berarti Sasuke ingin belajar dengan keterbatasan pengelihatannya kini. Tapi sungguh, untuk siang ini, Sakura benci setengah mati pada pertanyaan Sasuke mengenai arah. Arah gerbang, khususnya.
Dengan merasa kaku sekujur tubuh karena bingung akan apa yang harus ia katakan, Sakura berpikir keras. Haruskah ia mengatakan di mana arah gerbang, atau ia berbohong dan mengatakan arah berlawanan? Atau mungkin, Sasuke sudah tahu dan hanya ingin mengetahui bagaimana Sakura dalam menjawab pertanyaan semacam ini?
Menggenggam tangannya keras hingga gemetar, Sakura berusaha menstabilkan suaranya. "Aku ke dapur dulu," ujarnya yang memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Sasuke dan memilih untuk segera meninggalkan kamar tersebut.
Terserah Sasuke mau berpikir apa, yang jelas Sakura belum merasa sanggup untuk memberikan arah di mana gerbang keluar desa, belum sanggup memikirkan kemungkinan Sasuke akan pergil lagi dari mereka.
.
.
—karena jauh di dalam hatinya, Sakura belum bisa untuk percaya lagi pada sang pemuda.
.
.
Oke saya tahu chapter ini gembel. Saya tahu banget, tapi mohon maaf saya menggunakan chapter ini untuk kepentingan pribadi saya yaitu biar mancing diri saya untuk menulis lagi cerita ini.
Kritik saran dan masukan diterima. Mohon maaf enam bulan nggak update, saya usahakan chapter selanjutnya akan lebih cepat diupdate karena saya pribadi sudah tahu mau meletakkan scene apa untuk chapter selanjutnya.
Terimakasih karena membaca, mohon maaf lama update dan tidak memuaskan, doakan chapter selanjutnya jauh lebih baik dari ini. Makasih :D
Review?
[Story only: 2254 words]
