Hi, everyone!
Akhirnya kita sampai di chapter terakhir.. Anne sebenarnya sempat nggak percaya kalau fic ini tanggapannya wow banget. Aku malahan sempat hopeless, ngira kalau ya, cerita yang Anne buat ini nggak banyak yang suka. Eh, ternyata.. Thanks banget, ya! Kalian memang luar biasa! Maaf kalau baru bisa sekarang, soalnya kemarin ujan deres banget di sini. Anne nggak berani buat update, terus wordnya juga Anne rasa kurang. Tapi, sekarang sudah, kok.
ninismsafitri: aduhhh cupcupcup.. baca endingnya ini, ya! Thanks :)
alicia keynes: wahh nangis lagi :'( tak apa kok, kamu hanya baper aja. Hehehe.. iya, Harry biar sama aku. Thanks :)
AMAZING: huh! Ini baru kuat! Apa masih mau marah sama Ginny di chapter ini? Thanks ya :)
Rie Katsu: *Ginny lari* Semoga kau menerima ending yang aku buat, ya! Thanks :)
syarazeina: wahhh masih buat nangis, ya.. aku juga suka interaksi ayah-anak gitu. Sebenarnya lebih suka ayah-anak perempuannya, tapi yahh pokoknya kalau hubungan ayah-anak suka banget, lah. Hahahaha Harry aku penganin, buat aku :P hehehe.. baca aja chapter ini. Ceritanya kejutan.. Thanks, ya :)
Dande Liona: Huaaaa.. yahh mari di baca chapter terakhir ini! Thanks, :)
ayusyafitri132: balikan? Baca chapter ini! Wahhhh kepoin IG aku, nih! Hihihihi.. jadi, kok.. udah siap chapter satu buat HOME? Ditunggu, ya! Thanks :)
Mr Flammer Guest: hem.. aku selalu konsisten dengan ending cerita yang aku buat, sesuai konsep cerita awal. Untuk fic ini, memang aku mulai buat sesuatu yang berbeda.. thanks segala sarannya.. :)
Zifamalfoy: huhuhu *sodorin tisu* dibaca aja, deh. Thanks ya :)
NabilahAnanda: sedih ya.. aku juga waktu nulis part Harry nasihatin James juga ikut nangis. Thanks, ya :)
Mrs. X: wah iya nih, lama nggak muncul. Nggak apa, kok. Thanks ya, selamat membaca saja :)
Oke, Anne nggak janji lagi kalau airmata masih dibutuhkan keluar di chapter ini. Atau mungkin butuh senyuman? Lihat saja.
Happy reading!
BUKK!
Pendaratan tidak mulus James mengakibatkan lengannya menjadi satu-satunya anggota tubuh yang menjadi korban rasa sakit paling parah. Tubuhnya sempat terguling sebelum membentur kursi santai di depan perapian. Untuk pertama kalinya, James melakukan perjalanan floo sendiri tanpa dampingan siapapun. Meski keseimbangannya kurang baik ketika sampai di tujuan, paling tidak tempat yang ia harapkan sudahlah sangat tepat.
"Siapa di sana? Teddy?" teriak seseorang membuat James tersenyum gembira.
"Daddy!"
"Merlin, James!"
Harry berlari cepat sambil membanting handuknya menuju perapian di lantai bawah. Ia baru saja selesai mencukur jenggot dari arah kamar mandi atas. Ia sempat mendengar suara benda jatuh namun tidak begitu ia tanggapi. Ketika keluar, ia salah. Putranya datang dengan kondisi mengkhawatirkan.
James menangis dengan posisi tidur tertelungkup. Wajahnya kotor oleh debu. Ia memegang erat lengan kanannya sementara kedua telapak tangannya kotor dengan noda merah. Darah. Harry melihat sekelilingnya, takut jika James datang bersama orang yang sekiranya telah membuatnya seperti itu.
"Kau kenapa, nak? Kenapa ada darah di tanganmu? Kau terluka? Darah siapa ini—"
"Al, Daddy. Al berdarah! Mummy memukul Al. Aku takut," James mengadu dengan penuh emosi. Badannya bergetar dan kulitnya dingin. James hanya menggunakan kaus tipis dengan celanan pendek tiga perempat serta sepatu.
Harry memeluk James sambil menangis ketakutan. "Lalu sekarang Al di mana? Di mana?"
"Di the Burrow. Al di lantai, langsung tidur setelah kepalanya membentur meja. Darahnya banyak." Cerita James.
"Tidur?" Harry binggung dengan kata itu. Pikirannya melayang penuh dengan gambar-gambaran menakutkan paling maksimal. Ia menebak jika yang dimaksud James dengan tidur adalah pingsan. Walaupun sebenarnya ia tidak berharap jika itu terjadi.
James diam. Ia menunduk lantas memeluk Harry erat. "Lalu Mummy? Di mana? Grandma-Grandpa?" tanya Harry. Ia mendengar Andromedia dari arah dapur langsung berteriak meminta tolong.
"Tolong, ambilkan jaketku di kamar, Madam. Aku harus ke the Burrow sekarang," pinta Harry. Ia kembali melihat James. Andromeda bergegas naik menuju kamar.
James mengusap airmatanya lantas berkata, "Mummy juga tidur di lantai. Aku tak tahu bagaimana bisa, setelah Mummy memukul Al. Mummy langsung jatuh—"
"Lily? Dengan Grandma?"
James menggeleng, "Grandpa dan Grandma keluar ke rumah Uncle Bill, Lily di kamar waktu aku pergi ke sini."
"Kau sendirian? Itu bahaya, nak."
"Maaf, tapi aku bingung, Daddy. Aku tak bisa menolongnya. Aku tak bisa mengangkat badan Al. Berat. Terus aku ingat, kalau Daddy kuat angkat aku sama Al. Jadi aku masuk ke perapian buat cari Daddy." James terisak makin keras, takut jika ayahnya makin marah ia berbuat nekat pergi dengan perapian sendirian.
"Ini," Andromeda berlari kencang menyerahkan jaket Harry lantas menggendong James segera memasuki perapian. "Sebenarnya ada apa, Harry? Kenapa James kotor—"
"Penjelasannya nanti saja, Madam. Akupun belum begitu jelas. Menyusullah ke the Burrow. Bantu aku mengurus Ginny, Al, dan Lily di sana. Setelah aku dan James, datanglah dengan Teddy," pesan Harry langsung menghilang ditelan asap hijau.
The Burrow masih sepi. Dua orang yang James jelaskan 'tertidur' masih ada dengan posisi mereka di atas lantai depan perapian dengan bara api masih menyala. James diturunkan dari gendongan Harry langsung mendekati tubuh Al.
"Daddy, badan Al dingin."
Cepat-cepat Harry mengangkat badan lemas Al untuk segera dibopongnya. "Al, bangun, nak? Ini Daddy? Albus! Astaga!" Harry menyentuh dahi Al yang berdarah. Masih banyak darah segar yang dapat sering keluar dari pelipisnya yang sobek. Sisanya sudah mengering di sekitar pipi dan dahinya.
Suara perapian berdebum kembali. Andromeda keluar besama Teddy siap dengan jaket hangat yang mereka kenakan. "My Lord! Al!" pekik Andromeda.
"Uncle, Aunty Ginny pingsan." Teddy memilih mendekati Ginny untuk melihat keadaannya.
Harry melihat sekilas wanita berambut merah itu. Tidak bergerak dengan wajah memucat. Harry kembali bertatap muka dengan wanita itu lagi, ia sangat merindukan Ginny. "Ginny—" panggil Harry pelan.
"Harry, aku mendengar suara tangisan," Andromeda membuat Harry kembali teringat dengan Lily.
"Lily! James, Lily di mana?" tanya Harry pada James di dekatnya. Anak itu langsung menunjuk arah atas dengan dengan telunjuknya.
Andromeda bergegas naik untuk mencari Lily. Ia memerintahkan cucunya untuk tetap di bawah demi mengawasi Ginny. Harry melihat Ginny semakin tidak tega. Ia meletakkan sementara Al di atas sofa sementara ia coba mengecek keadaan Ginny.
"Badan Aunty Ginny dingin sekali, Uncle. Bagaimana ini?" bisik Teddy mulai panik.
"Sebentar, Ted. Singkirkan buku-buku itu," tunjuk Harry pada beberapa buku yang berserakan di sisinya.
Harry menyusupkan lengannya ke belakang leher Ginny. Salah satu tangannya di siku-siku kakinya. Ia mengangkat badan Ginny perlahan ke atas sofa panjang di dekat tangga. "Bangun, Ginny! Aku mohon. Kau mendengarku—"
"Daddy!" Kini gilian James berteriak. "Al bangun."
Bergantian, Harry menuju perapian sambil mengotong tubuh Al. Hanya suara isakan pelan yang mampu Al ucapkan tanpa bisa merespon banyak panggilan Harry. Mereka berdua menuju St. Mungo segera. "Aku akan datang lagi, tolong siapkan juga kamar atas nama Ginevra Pot—Weasley."
"Baik, sir. Kami akan mengurus putra anda terlebih dulu. Beberapa petugas kami akan berjaga di depan perapian kedatangan." Ujar salah satu Healer yang kini mengambil alih badan Al.
Harry kembali ke the Burrow secepat yang ia bisa. Harry bergegas menggotong tubuh Ginny sendirian lantas berpesan agar Andromeda menyusul dengan membawa serta Lily. Sedangkan James menjadi tanggung jawab Teddy.
Sesampainya kembali di St. Mungo, Ginny langsung dinaikan di atas brankar dorong menuju ruang pemeriksaan. Tidak ada kata yang mampu Harry ucapkan ketika Ginny didorong masuk. Dalam hatinya terus berharap jika dua orang yang sangat ia sayangi itu dapat kembali sadar. "Tolong kembalikan mereka padaku," batin Harry.
"Daddy—"
James langsung memeluknya lama. Menumpahkan rasa rindu dalam bentuk airmata yang begitu deras keluar dari kedua indra penglihatannya. James bergumam kata-kata seperti takut, maaf, dan rindu berkali-kali. Jangankan untuk marah, Harry bahkan tak tahu harus berbuat apa dengan keadaan ini. Rasa kantuk yang sempat membuatnya ingin segera tidur hilang sudah berganti rasa letih.
Rasa khawatirnya memuncak seratus persen memaksanya untuk tetap kuat. Dua nyawa di dalam sana menanti sebuah keajaiban.
"Maafkan aku, Daddy. Aku tidak bisa menjaga Al dan Lily. Mummy—Mummy jahat, aku mau sama Daddy. Aku nggak mau."
James menyusupkan wajahnya di dalam jaket Harry. Di depan ruang periksa, mereka saling melepas rindu sambil sesekali mencium pipi bergantian. Harry menggiring duduk di bangku panjang sementara James berdiri mendekat ke tubuh sang ayah mencari kehangatan. Ia tidak memakai pakaian hangat malam ini.
"Maafkan aku. Aku pulang ke rumah Daddy tanpa ijin. Aku tidak bisa menolong, Daddy."
Harry merasa ia tidak pantas untuk marah pada James. Bagaimana jadinya jika James hanya diam dan memilih tidak mencari bantuan. Ia hanya sendirian. Seorang anak yang belum genap lima tahun memberanikan dirinya pergi dengan jalur floo tanpa didampingi orang dewasa. Alasannya hanya satu, menyelamatkan nyawa adik dan ibunya.
Harry menggeleng pelan pada James bersamaan dengan usapan lembut tangannya di atas rambut acak-acakan milik putranya. Rasa marah seketika hilang dan digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa. James melakukannya untuk menolong ibu dan adiknya, Harry menggarisbawahi alasan utama itu. James hanya ingin mematuhi pesan Harry dengan menjadi anak laki-laki yang baik dan bertanggung jawab pada anggota keluarganya. "Maafkan aku, Daddy—"
"No, Daddy bangga padamu, James." Harry kembali membawa James ke pelukannya. Teddy ikut tersenyum di dekat Harry. Terharu. "Kau menepati janjimu pada Daddy, hanya saja.. itu berbahaya, sayang. Daddy takut jika kau tidak berhasil menggunakan jalur perapian. Kau bisa saja tersesat jika salah menyebut tempat. Kau bisa hilang—"
"Tapi aku berhasil, Daddy!" kata James berusaha membela diri.
"Ya, iya," Harry mengecup dahi James bersyukur putranya selamat, "kau hebat, James. Kau sangat berani. Daddy bangga padamu."
Sesaat kemudian, Teddy memanggil Harry menunjuk seorang Healer yang baru keluar dari ruang periksa Al. "Mr. Potter," panggil Healer.
"Ah, iya. Bagaimana dengan kondisi Al?"
"Lengan kirinya terkilir dan ada ruam seperti cengkraman di pundak kirinya pula. Dan juga putra anda mengalami sobek di bagian pelipis hingga dahinya. Cukup panjang dan dalam. Kami sudah membersihkan lukanya dan terpaksa harus menjahitnya untuk menutup lebih cepat luka itu. Saat ini, putra anda masih tertidur akibat ramuan yang kami berikan. Mungkin sebentar lagi dapat segera sadar kembali."
Harry, Andromeda bersama anak-anak yang lain dipersilakan masuk asalkan tidak menganggu Al beristirahat. Hampir saja menutup pintu, seorang Healer keluar dari salah satu ruang periksa yang berbeda. Healer wanita itu memanggil Harry dan mencegahnya untuk masuk.
"Maaf, Mr. Potter, ada yang perlu saya bicara mengenai kondisi.. Mrs. Weasley."
Harry meminta Andromeda dan anak-anak untuk masuk terlebih dahulu sementara ia menemui Healer yang ingin mengabarkan informasi Ginny padanya.
Harry mengenal Healer itu. Healer yang memang menangani kondisi Ginny sejak kecelakaan itu merenggut ingatannya. Healer Audy sedikit tidak nyaman ketika ia merubah sebutan Ginny dengan Mrs. Weasley, di depan Harry.
"Bagaimana keadaan Ginny, Madam? Ia pingsan," Harry mengingat-ingat lagi bagaimana cerita James yang mengatakan jika Ginny terjatuh setelah memukul Al. "Ia pingsan setelah memarahi putra kami, Madam. Aku juga tidak tahu persis bagaimana kejadiannya."
Healer Audy mengangguk-angguk paham lantas menjelaskan. "Mrs. Weasley tidak sadarkan diri. Menurut pemeriksaan saya, cedera di kepalanya mulai menunjukkan reaksi penolakan lebih besar. Maksud saya, baru saja terjadi proses memori itu kembali dengan sangat kuat kepada Mrs. Weasley." Ujar Healer Audy masih dengan ekspresi khawatir.
"Berarti, Ginny sudah kembali ingat—semuanya?"
"Saya belum bisa memastikannya, Mr. Potter. Hanya saja, menurut saya ini bukan kabar bagus."
Harry merinding. Memori yang sekiranya datang kembali dapat menjadi petaka baru untuk Ginny. Harry takut. "Penolakan itu muncul karena saat memori datang begitu besar, tubuh Mrs. Weasley dalam keadaan stress dan tertekan. Sehingga semua memori itu terhalang dan terjadi penolakan kuat oleh tubuh Mrs. Weasley sendiri."
Healer Audy mengajak Harry untuk berbicara lebih nyaman di bangku tunggu. Hanya ada mereka berdua di sana dan beberapa Healer jaga yang masih mondar-mandiri di sekitar lorong. Jauh lebih baik dibandingkan reporter Daily Prophet yang ada di sana. "Tubuh Mrs. Weasley tidak mampu bertahan sehingga tidak sadarkan diri. Hasilnya akan sangat baik, jika Mrs. Weasley mengingat semuanya sebelum ia pingsan. Tapi—"
"Tapi apa?" pinta Harry tidak sabar.
"Jika ingatan itu belum sepenuhnya sampai dan penolakan itu masih tetap bekerja, Mrs. Weasley tidak hanya kehilangan sebagian memorinya. Bahkan keseluruhan. Ia bisa melupakan dirinya sendiri."
Bukan hanya kesempatan untuk kembali lebih baik, kemungkinan buruk itu tetap ada, bahkan semakin parah. Ginny memiliki kesempatan untuk sembuh, mengingat semuanya. Tapi, Harry sadar jika cerita James tentang kelakuan Ginny sebelum akhirnya pingsan bisa mengguatkan jika seandainya, Ginny sadar dengan keadaan melupakan segalanya.
"Berbagai mantera dan ramuan sudah kami berikan, Mr. Potter. Hanya menunggu sampai beliau sadar. Dan, sebelum semuanya terjadi, kami tidak bisa memastikan apapun sebelum Mrs. Weasley benar-benar sadar dan melihat sendiri apa reaksi pertama yang keluar dari dirinya."
Berdasarkan penjelasan Healer Audy, Ginny tidak bisa lagi diberikan mantera-mantera ataupun ramuan sebelum Ginny kembali sadar. Sehingga, Healer Audy meminta Harry untuk segera mengurus ruang inap sembari menunggu Ginny kembali sadar dan menentukan penangan apa yang selanjutnya dapat diberikan.
Mengingat Al juga sedang dirawat bersama di St. Mungo, Harry berinisiatif untuk menggabungkan Ginny dan Al dalam satu ruang rawat yang sama. "Jika ada ruangan yang lebih dan baik untuk keduanya, saya ambil, Madam." Kata Harry.
"Baiklah, ada di lantai dua. Kami akan persiapkan ruang rawatnya dan memindahkan Mrs. Weasley serta putra anda ke sana."
Ruang rawat yang dipilih Harry cukup luas dan nyaman. Dua ranjang di pasang di sana untuk segera ditempati Ginny maupun Al. Mereka hanya dipisahkan dengan kain tinggi yang membagi antara bagian perawatan mereka masing-masing.
"Daddy," panggil Al lirih. Andromeda baru saja selesai memberi Al minum.
Al langsung menangis di pelukan sang ayah begitu kencang. Dengan hati merintih berusaha kuat, Harry mengecup lama kepala Al. Pundak pakaiannya langsung basah karena airmata Al. Harry mengusap perlahan airmata itu sambil terus menguatkan putranya agar tidak cengeng.
"Hayo, mana King Arthurnya Daddy? Jangan nangis begitu, dong, sudah ada Daddy di sini," bisik Harry masih memeluk Al dengan hati-hati. Lengan kiri Al masih dibebat kain.
"Al dan James baru saja menceritakan perlakuan Ginny sebelum James akhirnya datang ke rumah, Harry." ujar Andromeda pelan lantas melihat ke arah James dan Al bergantian. Keduanya menunduk masih takut untuk bercerita.
Harry mengangkat James untuk ikut naik ke atas ranjang. Teddy pun turut serta untuk naik dan duduk di ujung ranjang, berdekatan dengan Andromeda yang memilih duduk di atas kursi.
"Ceritakan lagi, Albie. Mengapa sampai kau dipukul," perintah Teddy.
Al melihat sang ayah sejenak lantas bercerita, "aku mengambil buku-buku di depan perapian. Aku menumpuknya tinggi supaya cepat selesai, tapi aku tak bisa melihat jalan. Bukunya jatuh. Buku Mummy jatuh ke atas api, Daddy. Aku mengambilnya lagi dengan tangan—" Al melihat jari-jarinya yang melepuh merah, "panas, Mummy langsnung marah padaku—"
"Aku yang menyuruh Al, Daddy. Tanganku sakit, jadi aku minta tolong Al membawakan buku-buku itu. Maafkan aku, Albie," bisik James di sisi adiknya. James memeluk Al meminta maaf.
"Iya, aku juga minta maaf. Sampai-sampai buku Mummy terbakar." Ucap Al semakin tenang.
"Memangnya," Harry mulai mengajukan pertanyaan, "buku apa itu, anak-anak?"
James melihat sekilas Al lantas menggeleng, "aku tidak tahu, Daddy. Bukunya bagus, warna—" James menunjuk warna kaus yang dipakai Teddy.
"Merah?" kata Teddy.
"Terus ada huruf seperti ini di depannya," James coba menggerakkan jari telunjuknya di atas selimut Al membentuk huruf G dengan cara aneh seperti membentuk spiral, titik di tengah lalu memutar naik.
Paling tidak Harry paham jika yang dimaksud adalah huruf G. "Aku selalu melihat Mummy membaca buku itu sebelum tidur. Sampai-sampai aku dan Jamie tidak lagi mendengar cerita sebelum tidur. Tidak seperti Daddy kalau kami mau tidur," Al memeluk Harry sekali lagi. Ia bersandar lemas di dada sang ayah.
Malam semakin larut, Al sudah terlelap di atas ranjangnya. Begitu juga Andromeda, Lily dan Teddy tertidur di atas ranjang ekstra yang dipesan Harry di sisi ranjang Al. Ia memesan itu agar putri kecilnya dapat tidur di temani Andromeda dan Teddy. Ranjangnya cukup luas untuk tidur mereka bertiga.
James memilih tidur di ranjang yang sama dengan Al, sedangkan Harry mengalah untuk tetap duduk sambil terus menggenggam pergelangan tangan Al berjaga. Hampir saja terlelap, Harry sesuatu yang belum sama sekali ia jaga sejak dipindahkan ke rungan itu. Harry hampir melupakan Ginny di sana.
"Ginny?"
Harry perlahan melepas pegangan tangannya dari Al lantas beranjak menuju bagian rawat Ginny. "Ginny—" bisik Harry sangat pelan.
Ginny masih dalam posisi tidur nyaman di atas ranjangnya. Matanya terpejam. Pergerakan dadanya stabil menandakan Ginny sedang bernafas dengan tenang. Wajahnya tidak sepucat ketika Harry membawanya pergi ke St. Mungo. Ia coba menyentuh pipi Ginny pelan.
Tangan Harry bergetar. Berbulan-bulan ia tidak pernah lagi untuh menyentuh kulit yang sejak remaja ia akui keindahannya. Ginny tidur begitu damai, ia selalu suka melihat orang-orang yang sedang tidur. Salah satunya Ginny. Harry tidak pernah bosan memandangi paras cantik wanita yang kini hanya menjadi mantan istrinya. Mereka tidak memiliki ikatan apapun sekarang.
Harry menjauhkan tangannya dari wajah Ginny. Menghembuskan napasnya berat membiarkan dirinya semakin sadar. Semuanya telah berakhir. "Seandainya saja aku bisa menawar takdir hidupku, aku akan memilih untuk tetap membiarkanmu hidup bahagia dengan pria lain yang lebih baik dariku, tanpa pernah berharap kau bertemu denganku, jika akhirnya seperti ini. Aku selalu membuatmu tersakiti. Kau pantas melupakanku, Ginny, tapi aku tak pernah lelah untuk memperjuangankan apapun.. agar kau bahagia."
Sendirian tanpa cinta. Harry tidak merasakan gelombang menakjubkan itu lagi sejak Ginny benar-benar pergi dari sisinya. Cinta menahannya pada wanita itu, Ginny menyiksanya dengan sisa cinta yang selalu membekas di lubuk hati Harry sepanjang hidupnya. Mengurungnya untuk selalu memilih sendiri daripada membuka hati untuk wanita lain.
"Aku tak sedikitpun berharap lebih darimu, terima kasih, Ginny."
"Daddy—"
Harry menghabus jejak airmatanya ketika sosok kecil itu mendekatinya. James, terbangun dengan mata membulat sempurna. "Daddy kenapa?" tanya James.
"Emm, tidak. Daddy tak apa-apa, Jamie." Kata Harry berusaha menyamarkan suara seraknya.
James melihat ke arah ranjang ibunya sejenak, ia lantas menunduk dan bergumam. "Mummy dan Daddy bercerai, ya?"
"Ja—" Harry tergagap ketika akhirnya James mengatakan kata-kata paling menakutkan yang selalu disembunyikan Harry dari anak-anaknya itu, "James—"
"Kata Fred dan Vic, Mummy dan Daddy bercerai. Itu artinya kalian tidak lagi suami istri. Bukan Mummy dan Daddy aku lagi. Mummy bisa mencari Daddy baru untuk menggantikan Daddy. Karena—"
James sejenak terdiam. Harry menaikkan dagu James agar anak laki-laki itu melihat wajahnya lebih jelas. "Katakan," perintah Harry pelan.
"Aku sekarang tidak punya Daddy," James menangis.
Mereka saling berpelukan menumpahkan tangis masing-masing. Harry tidak lagi kuat untuk terus bertahan dengan kepura-puraannya di depan James. Ia lemah. "Daddy tidak pernah berhenti untuk terus menjadi ayah untuk kalian. Meskipun kini Daddy bukanlah siapa-siapa Mummy lagi. Tapi, percayalah James. Daddy tetaplah milik kalian. Sampai kapanpun, kalian milik Daddy. Anak Daddy. Dan seandainya saja, Mummy kembali menikah dan kau memiliki Daddy baru, Dad sangat berpesan padamu, James, sayangi dia. Seperti kau menyayangi Daddy."
"Tapi—"
"Dan kau akan menjadi anak yang bahagia karena memiliki dua Daddy yang akan selalu sayang padamu. Pada Al dan juga Lily," lanjut Harry. Airmata itu membuat wajahnya semakin kacau.
"Mummy?"
"Mummy—Mummy akan kembali tersenyum, kembali seperti dulu. Daddy percaya, James, bahwa Mummy adalah orang yang baik. Ia sangat baik, Daddy mengenalnya sejak kecil. Jadi, Daddy bersyukur bahwa kau, Al, Lily berada di tangan yang tepat. Kau hanya perlu mengenal Mummy kembali. Ada malaikat di hatinya."
James tetap menangis di pelukan Harry. Anak beranak itu terhanyut dalam sunyinya malam. Tidak patut menjadi sebuah kesedihan jika suatu hal membuat mereka berpisah. James milik Harry, begitu sebaliknya. Darah mereka satu, hati mereka terbagi. Saling merasa dan menjaga membuat mereka selalu dekat. Harry percaya, ia percaya dengan James.
"Ah, James, Daddy lupa. Daddy belum mengabari Grandma dan Grandpa. Mereka bisa khawatir kalau mendapati mereka tidak melihat kalian. Jadi—" Harry berdiri perlahan mengusap kepala James berpesan, "jaga Mummy, ya."
"Daddy mau ke mana? Daddy jangan pergi—"
"No, Daddy hanya keluar sebentar. Daddy mau menghubungi Grandma di the Burrow. Daddy tidak akan lama, James. Ok, kau temani di sini, ya?"
James mengangguk paham. "Aku akan menjaga Mummy!"
Perapian mulai menyala. Bara api memerah menunjukkan percikan api di atasnya. Harry terduduk di depan kursi kecil pihak St. Mungo. Menunggu suara seseorang muncul yang ia harap dapat membuatnya lega.
"Merlin, HARRY!"
Suara wanita membuat Harry terkejut dan lega. Panggilannya direspon. Suara Molly terdengar keras hingga petugas jaga St. Mungo melihat ke arah Harry saking terkejutnya. Mereka hanya mengangguk memberikan hormat pada Harry yang sangat mereka kenal.
"Harry, dear! Untung saja kau menghubungi kami? Ini sudah sangat malam. Kau dari mana saja, nak? Rumahmu kosong! Kami kehilangan anak-anak dan—"
"Ginny?" tanya Harry pelan. Ia tersenyum.
"Harry, kau tahu mereka di mana?" kini suara Ron yang terdengar.
"Maafkan aku, semuanya. Mereka sekarang di St. Mungo. Panjang jika aku harus menjelaskan semuanya di sini. Datanglah kemari, aku tunggu." Pesan Harry sebelum akhirnya sambungan itu terputus.
Harry bersiap kembali ke kamar rawat. Tepat di depan pintu yang ia buka, ada sesuatu yang berbeda di sana. Ginny tidak ada di atas ranjangnya melainkan James yang tertidur sedikit minggir di ranjang itu. Selimutnya terpasang rapi di atas tubuh James. Harry panik, ia takut Ginny hilang.
Namun, betapa terkejutnya Harry melihat Ginny duduk di atas kursi yang ia pakai menemani Al. Ginny menggenggam tangan Al sambil membelai rambut hitam anak itu. Tanpa suara.
Takut, Harry mencoba mendekati Ginny. Kata-kata Madam Audy membuatnya bertanya-tanya, ada apa dengan Ginny? Ia sadar, berjalan sendirian menuju ranjang Al dan terdiam di sana.
"Hai—"
Ginny berbalik menatap Harry. Mereka saling berpandangan. Lama.
"Ginny, kau harus—"
Belum selesai Harry meminta Ginny kembali, wanita itu berdiri dari atas kursi menuju ranjangnya kembali. Ia kembali naik, memposisikan tubuhnya setengah berbaring sambil mengusap James yang lelap di sisinya. Ginny menangis.
"Aku panggilkan Madam Aud—"
"Kau tahu, kan," Ginny melihat ke atas meja kecil di sisi ranjangannya. Botol aromaterapi tergeletak di atasnya, sedikit terbuka sehingga ruangan itu tercium bau khas yang menenangkan. "Aku suka dengan bau bunga azalea sejak mengandung Al, harus ada botol aromaterapi itu setiap aku sedang stress. Tapi—"
Harry tertahan di tempatnya berdiri melihat Ginny kembali meraih botol aroma terapi yang sempat ia beli di apotek St. Mungo beberapa waktu yang lalu. "Kau suka lupa melepas karet penguncinya. Itu akan menghalangi baunya untuk keluar," ujar Ginny.
"Nah, sekarang lebih harum, kan?" Ginny tersenyum senang membuang lapisan kecil yang mengganjal bagian tengah mulut botol.
Harry terpukau dengan penjelasan Ginny itu. Ginny ingat semuanya. "Ginny, kau—"
"Aku malu, Harry. Aku malu padamu." Ginny merundukkan wajahnya menatap kedua lututnya.
Harry mendekat dengan terburu-buru, siap menyentuh kepala Ginny namun secepatnya ia mengurungkan niat untuk kembali menyentuh wanita itu. "Semuanya sudah terjadi, Ginny," bisik Harry pelan.
"Aku selalu menjadi wanita bodoh yang tak pernah tahu apa arti sebuah kepercayaan. Aku mengingkarinya, Harry. Kau tahu jika memang aku bersalah. Aku yang akhirnya.. membuat semuanya hancur. Aku merusak janji suci kita—"
"Husss, no.. no! Apa yang kau lakukan sekarang sudah terjadi. Tidak ada yang patut disalahkan karena jika iya, antara aku dan dirimu akan selalu menyalahkan diri masing-masing. Ini semua takdir yang berbicara, Ginny. Takdir mengantarkan kita seperti ini."
"Harry—"
Ginny menatap lekat wajah Harry seperti pertama kali mereka bertemu, rasa itu masih ada. "Kau dengarkan aku, Ginny. Kita kalah, kita merasa selalu kalah dengan takdir. Tapi sebenarnya, kita hanya lupa. Kita punya sesuatu yang jauh lebih kuat." Harry mengarahkan tatapannya pada James di depannya.
Putra pertama Harry dan Ginny, "kalau mungkin aku dijadikan pahlawan bagi sebagian besar masyarakat sihir di Inggris ini, aku tidak ada apa-apanya dengan dia," Harry membelai pelan rambut James mengikuti arah jatuhnya helaian hitam itu di kepala kecilnya.
"James mengajarkan pada kita bahwa tanggung jawab adalah segalanya. Al, dia mengajarkan pada kita bahwa kejujuran adalah sebuah cerminan diri seseorang di mata orang lain. Serta Lily, bahwa kesabaran akan berbuah indah pada waktunya."
Ginny menangis. Ia meremas piama St. Mungo yang ia kenakan begitu erat. Merasa lemah dan tak berdaya dibandingkan dengan darah dangingnya sendiri. "Kita patut bangga memiliki mereka, Ginny. Jika kita harus malu, kita patut malu pada mereka."
Mereka berdua saling merenungi kesalahan masing-masing. Menyadari jika mereka hanyalah manusia biasa yang selalu menyerah pada keadaan. Menyalahkan sesuatu yang telah mereka kerjakan sendiri tanpa melihat sisi baiknya. Pesan kebaikan yang datang dibalik semua cobaan yang coba menguji mereka.
Di balik pintu ruang rawat itu, Andromeda telah lama keluar dari dalam ruangan itu demi memberikan kesempatan Harry dan Ginny berbicara dari hati ke hati. Ia menangis haru sendirian sampai akhirnya beberapa anggota keluarga Weasley datang. Arthur menahan istri, serta anak dan menantunya untuk masuk ke dalam ruang rawat Ginny dan Al. Andromedalah yang akhirnya menjelaskan semua tentang kejadian menegangkan itu pada mereka semua.
Ron, tertegun ketika akhirnya ia mendengar sendiri bagaimana Harry dan Ginny seolah memiliki nyawa mereka kembali. ketegangan antara keduanya mengabur lantas hilang ditelan malam. Tak terasa ia ikut menangis, membuat George semakin penasaran dengan apa yang adiknya dengar.
"Badai sudah berlalu, Ron." Bisik George tersenyum senangmelihat dengan mata kepalanya sendiri, Harry dan Ginny saling berpelukan, menangis bersama.
Bola menukik tajam menuju selasar. Perasaan James kacau.
Harry berjalan pelan sambil memegang pergelangan tangan kirinya. Rambutnya masih basah karena baru saja mandi. Ia pulang lebih cepat dari Kementerian setelah penyerangan yang dipimpinnya selesai lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Strateginya ampuh menangkap kawanan penyihir gila yang nekat mempertaruhkan nyawanya masuk ke bank dengan penjagaan paling ketat dari para goblin-tidak-bersahabat itu.
Bulan-bulan ini Harry semakin bersemangat dalam bekerja. Hubungannya dengan Ginny kembali membaik demi anak-anak mereka. Hampir setahun berlalu, tidak ada lagi rasa canggung ketika keduanya bertemu.
Bola James mengarah tepat ke arah Harry. Meski bola plastik, jika terkena kepala akan sakit juga. Sebelum semuanya terjadi, James siap berteriak kencang memperingatkan ayahnya. "Daddy awas!"
Jangan lupakan siapa Harry ketika ia di Hogwarts dulu. Seeker termuda serta salah satu kapten Quidditch Gryffindor terbaik yang pernah ada di Hogwarts. Melihat bola itu semakin dekat, Harry hanya selangkah mundur dari dekat kursi santai, lantas mengangkat tangan kanannya tidak terlalu tinggi dan.. hupp!
"Dapat!"
Mudah bagi Harry untuk mendapatkan bola sebesar kepalan tangan itu yang meluncur dengan kecepatan sesuai hukum gravitasi yang berlalu. Tanpa sihir. "Main apa, sih?" tanya Harry pada anak-anak di hadapannya.
Teddy, sedang bermain bola basket mini bersama James dan Al di halaman. Ada sebuah ring kecil dengan diameter seukuran mulut ember dipasang di atas sebuah tiang vertikal berukuran sekitar satu setengah meter. Sejak awal, Teddylah yang mampu memasukkan bola kecil itu dengan baik. Hanya beberapa kali saja. Karena terlalu kecil, lemparan Al tidak pernah sampai. Sedangkan James selalu luput, meleset, ataupun membentur pagar rumah sehingga bola seringkali memantul kembali masuk ke dalam rumah. Seperti yang baru saja terjadi tadi, hampir mengenai Harry jika James tidak memperingatkannya.
"Susah Daddy!" teriak Al langsung mendapat anggukan setuju dai James.
"Ah," Ginny mengambil bola dari tangan Harry lantas berdiri dari batas selasar. "Kau hanya perlu fokus, Jamie. Jangan terlalu keras melempar. Perkirakan jaraknya. Kalau sejauh ini—"
Ginny melihat lingkar ring basket itu dari jauh. Memfokuskan bola yang akan dilemparnya nanti. Dengan gaya seorang chaser handal, Ginny melempar bola yang digenggamnya menuju ring mainan itu dan akhirnya—
"Masuk!" pekik Ginny senang.
"Yeah!" Harry ikut senang.
James, Al, Teddy, terpukau bersama untuk kesekian kalinya. Selesai dengan kesigapan Harry menangkap bola yang terlempar liar langsung berlanjut pada kemampuan Ginny memasukkan bola ke dalam ring dengan jarak yang cukup jauh.
"Wow!" gumam Al.
"Keren!" kata Teddy.
"Hebat!" James berteriak bangga pada kedua orang tuanya. Selesai menonyon pertunjukkan itu, mereka kembali melanjutkan permainan bersama kembali.
Ginny kembali duduk di bangkunya, tepat di sisi Harry yang kini sibuk memutar-mutar pergelangan tangan kirinya. "Oh, sakit?"
"Sedikit.. sempat tergores pinggiran tebing Gringort. Tidak sampai berdarah, kok," ujar Harry pelan. Ginny segera meraih tangan kiri Harry,mengeceknya sendiri.
"Ada sedikit goresan. Ini harus dibersihkan. Di kotak obat ada alkohol?"
Harry mengangguk. Ginny segera berlari menuju penyimpanan obat-obatan dan ramuan di rumah itu. beberapa saat kemudian, Ginny sudah kembali dengan beberapa lembar kapas, handuk, baskom berisi air hangat, dan sebotol alkohol.
Ginny membersihkan luka Harry dengan begitu teliti. Sambil menahan rasa perih, Harry sempat meminta untuk Ginny pelan-pelan.
"Sudah. Lain kali, hati-hati. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu menyelamatkan dunia sihir. Sampai kau tidak mempedulikan keselamatan dirimu sendiri." Ujar Ginny, ia memijat pelan pergelangan Harry agar semakin nyaman.
"Itu yang selalu kau keluhkan padaku, kan?" kata Harry sambil tersenyum.
Ginny ikut tersenyum. "Yah, dan itu yang membuatku selalu ingin dekat denganmu." Ginny merubah kalimatnya lebih umum, daripada kalimat 'yah, itu sebabnya aku sangat menyukaimu,' seperti kata-katanya dulu.
"Coba bayangkan seandainya saja kau terluka dan tak ada yang tahu kau di mana, bagaimana perasaan orang-orang yang mengenalmu. Mencemaskanmu?" tanya Ginny.
"Kalau aku tak peduli?" tantang Harry.
"Tapi aku peduli." Ginny kelepasan.
Mereka berdua terdiam lama. Mata Ginny masih melihat lekat pergelangan Harry. Sesuatu yang berkilau mengalihkan perhatianya.
"Masih yang sama?"
"Apa?"
Ginny mengarahkan pandangannya lurus kepada cincin putih yang melingkar di jari manis tangan Harry. Cincin pernikahannya dulu. "Ah, ya. Aku tak pernah melepasnya. Ow, pernah. Setiap mandi atau cuci tangan. Tapi aku langsung memakainya lagi. Aku juga masih menyimpan milikmu." Harry melihat wajah Ginny dengan senyuman terindahnya.
"Milikku?" tanya Ginny. Sebenarnya ia tahu bahwa yang dimaksud Harry adalah cincin pernikahan yang pernah ia kembalikan setelah persidangan perceraian waktu itu.
"Aku memberikannya padamu, jadi itu adalah milikmu." Jawab Harry tegas. Kembali memperhatikan pijatan tangan Ginny di pergelangan tangan kirinya.
"Kau bisa memberikannya ke istrimu yang baru nanti."
"No, aku bukan tipe orang yang berani mengambil barang milik orang lain dan memberikannya pada orang yang berbeda. Itu sama saja mencuri. Apalagi berani meninggalkan—"
Harry terdiam langsung berdiri dari bangkunya. Ginny bingung karena pijatannya langsung berhenti melihat Harry secara tiba-tiba bangkit dari kursi dan melihat serius ke arah berlawanan dengan dirinya.
Harry tesenyum bangga ketika melihat Andromeda berani melepas pegangan tangannya pada Lily, yang secara perlahan melangkahkan kaki mungilnya menuju pintu selasar. "Apalagi melewatkan momen berharga seorang princess yang bisa berjalan dengan dua kakinya untuk pertama kalinya," kata Harry tidak nyambung dengan penjelasannya di awal.
Ginny menoleh cepat mencari tahu apa yang sedang terjadi. Harry bersiap di depan pintu sambil berdiri membungkuk merentangkan tangannya kepada Lily, yang berhasil berdiri tanpa pegangan siapapun.
"Ayo, princess. Beberapa langkah lagi," bujuk Harry.
"Dada dada.." panggil Lily tidak jelas pada Harry. Senyumnya menggembang indah menunjukkan dua gigi yang baru muncul di gusi merah mudanya.
Ginny melihatnya terpukau. Lily mencoba untuk berjalan sendiri. Beberapa saat diam, Lily kembali melangkahkan kakinya. Satu tapak, dua tapak, tiga tapak. Pelan namun pasti. Sedikit bergoyang-goyang ke kanan dan kiri, Lily mempercepat langkahnya.
Hup hup hup! Lily menjejakan kakinya bersemangat menuju pelukan Harry dan berhasil tanpa terjatuh. "Wow, princess Daddy hebat! Sejak kapan sudah mulai bisa berjalan?"
"Di the Burrow Lily masih belum mau dilepas." Kata Ginny heran.
"Tapi tadi Lily seperti bertekat untuk berjalan sendiri saat mendengar Harry pulang. Eh, ternyata, aku lepas tanganku.. Lily bisa berjalan sendiri." Andromeda tertawa puas melihat usaha Lily yang sejak pagi bersamanya selalu terjatuh ketika belajar berjalan bersamanya. Namun sore ini, Lily diam-diam mencoba sendiri untuk segera berdiri. Bahkan berlari menemui ayahnya dengan kedua kaki kecilnya.
Harry menciumi pipi Lily sampai tertawa kencang kegelian. "Mungkin sebentar lagi kau akan sembunyi-sembunyi mengambil sapu dan terbang sendirian ke halaman belakang the Burrow, Lily!" bisik Harry penuh kebanggaan. Sekaligus menyindir seseorang di sisinya, Ginny.
Ginny tersenyum malu-malu merasa disinggung-singgung. "Aku pernah tahu cerita itu," Andromeda ikut menggoda lantas menyenggol pundak Ginny pelan.
"Ah, Madam.. kalian itu bisa saja," ujar Ginny malu-malu.
"Ayo, ikut main sama James, Al, dan Teddy. Kau juga harus belajar menjadi chaser atau seeker, sayang," goda Harry sambil mengendong Lily menuju halaman belakang.
Teddy, James, dan Al tampak senang ketika ayah mereka memanggil meminta untuk ikut bermain dengan Lily. Namun tiba-tiba, Ginny memanggil Harry cukup keras. "Harry!"
"Iya?" Harry menoleh menatap Ginny lembut.
Ginny tersenyum lantas berkata, "aku akan menjadi diriku sendiri, aku tak akan pernah benar-benar menyerah mengharapkanmu.. Harry."
Dan Harry hanya bisa tersenyum. Ia mengangguk empat kali naik turun, mengambil tangan Lily dan menggerakkannya melambai ke arah Ginny. Andromeda mendorong tubuh Ginny agar ia ikut bermain. Dua kali dipaksa, Andromeda berhasil membuat Ginny menyusul Harry. Berlari ke halaman dan bermain bola bersama anak-anak yang telah memberi mereka sebuah pelajaran penting.
Makna cinta dan kasih sebuah keluarga.[]
- FIN -
#
Ending ini sudah Anne konsep dari awal.. So, menurut kalian apakah Anne butuh sesuatu 'lagi' untuk fic ini? Cukup? Atau...
Oke, sekali lagi Anne ucapkan terima kasih banyak.. atas semua review kalian, favorite, follow, atau sekedar baca saja.. Anne ucapkan banyak-banyak terima kasih. Anne masih ada fic baru yang akan Anne post sebelum Februari berakhir. Yang udah tahu di IG Anne pasti udah paham. Judulnya HOME? Pair Ron-Hermione. Ceritanya? Baca saja nanti, OK! Ditunggu ya!
Anne tunggu review kalian. Maaf kalau masih ada typo. Jika selama update fic ini ada yang tidak berkenan, Anne mohon maaf ya. Thanks banget! Yang mau request juga boleh. Kalau Anne bisa, Anne buatkan. Anne sayang kalian semua! Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya :)
Thanks,
Anne xoxo
