Tittle : A Moment to Forever
Pairing : Main!Krisyeol
Warning(s): slash! boyxboy, mpreg, het! couple, character death, typo(s) yang tidak terhingga
Disclaimer: Author hanya meminjam tokoh-tokoh di dalam cerita tetapi Krisyeol adalah emak babe author dan abang Sehun. Dan cerita ini murni hasil dari otak author yang sedang gosong. Terima Kasih.
Chapter 10
Riiiiing... riiinggg... Suara dering telepon panjang yang berasal dari sebuah ponsel layar sentuh milik seorang yeoja berambut pirang, mengagetkan yeoja itu dari kegiatan melamunnya.
" Aku menemukan apa yang kau cari, Sica-ah," kata si penelepon dengan singkat. Senyum atau lebih tepat disebut sebagai sebuah seringai mengerikan terulas di bibir tipis yeoja itu.
" Dia berada di Pohang. Kebetulan ia adalah seorang pasien dari rumah sakit tempatku bekerja," jelas si penelepon dari seberang sana.
" Apa kau bertemu dengannya secara langsung?" tanya yeoja yang dipanggil dengan nama Sica oleh penelepon itu.
" Ya, dia adalah pasien dari dokter kandungan terkenal di rumah sakit tempatku bekerja."
" MWORAGO?! Pasien dokter kandungan?! Seolma..." yeoja berbibir tipis itu mulai menggeram frustasi dengan kabar yang baru saja ia terima itu. Tidak mungkin namja itu hamil anak suaminya. Itu benar-benar tidak mungkin, batinnya. Ia harus benar-benar menyingkirkan namja itu sebelum semuanya berjalan semakin tidak lancar. Ia tahu kalau sekarang ini, mungkin suaminya yang bodoh itu sudah menyadari perasaannya untuk namja sialan itu. Dan ia harus memusnahkannya sebelum suaminya itu mencari keberadaan namja itu dan memintanya untuk kembali karena keadaannya saat ini yang tengah mengandung anak yang ia yakini sebagai anak suaminya itu. Ia harus segera mencari cara!
" Ne, dia sedang mengandung. Tujuh bulan lebih untuk lebih jelasnya," jawab orang itu dengan singkat.
" Baik, terima kasih atas informasimu, Hyo! Aku akan segera mentransfer bayaran yang telah kujanjikan untukmu." Dan dengan itulah sambungan telepon itupun terputus. Yeoja yang dipanggil dengan sebutan Hyo, itu pun menatap sedih pada ponselnya ketika sambungan teleponnya diputus secara sepihak. 'Kau benar-benar berubah, Sica-ah. Kau bukan lagi gadis yang pernah menjadi sahabatku,' batinnya dalam hati. Ia merasa menyesal telah memberi informasi pada sahabatnya itu. Namun, ia tentu saja tidak pernah bisa menolak apa yang gadis itu minta.
Sementara itu, di Seoul dan tepatnya di sebuah tempat hiburan terkenal, seorang yeoja sedang menjambak-jambak rambutnya karena kesal dengan informasi yang baru saja ia dapatkan dari temannya itu. Tak lama kemudian, seorang namja berbadan kekar masuk ke dalam ruangan temaran itu dan menarik yeoja itu ke dalam dekapannya.
" Apa yang membuatmu seberantakan ini, darling?" tanya namja itu sembari menciumi leher putih milik yeoja itu.
" Aku sedang mecari cara untuk menghacurkan seseorang tanpa mengotori tanganku," balas yeoja itu dengan angkuhnya. Namja itu pun menyeringai di sela-sela kegiatan menciumi leher sehalus porselen milik yeoja di sampingnya itu.
" Mudah," kata namja itu dengan enteng. Sedetik kemudian, yeoja itu menoleh dan memandangnya untuk meminta pejelasan pada namja yang masih sibuk dengan kegiatan favoritnya itu. Yeoja itupun menarik kepala namja itu dari lehernya dan memandangnya dengan tajam.
" Jelaskan," perintah yeoja itu dengan singkat dan dingin.
" Kau lupa siapa aku?" balas namja itu dengan singkat dan kembali melekatkan wajahnya di leher halus yeoja itu dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda itu.
" Bagus, aku tidak sabar untuk menjalankan rencana itu."
x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o
" Saekki-yah! Ada orang yang mencarimu!" teriak bibi Lee dari depan pintu rumah keluarga Lee dengan sangat kerasnya. Dua orang yang merasa terpanggil pun muncul di hadapannya beberapa saat kemudian. Satu orang dengan wajah kelelahannya karena harus menuruni tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua dengan kecepatan yang hampir menyerupai kecepatan cahaya. Sedangkan yang satunya, masih belum sampai tepat di hadapan Bibi Lee karena harus berjalan ekstra hati-hati dengan beban yang berada di perutnya yang terlihat sangat berat.
" Eomma memanggilku?" tanya Eunhyuk yang sudah terlebih dahulu sampai di hadapan kekuasaan tertinggi rumah itu.
" Ani, eomma memanggil saekki yang satunya," jawab Bibi Lee sambil menunjuk Chanyeol dengan dagunya. Wajah Eunhyuk pun berubah menjadi kesal sedangkan Chanyeol mengangguk dan segera mempercepat langkahnya untuk menemui tamu yang dimaksud oleh Bibi Lee.
" Aish, eomma! Menyebalkan sekali eomma ini! Eomma tidak tahu betapa lelahnya harus naik turun tangga?!" omel Eunhyuk pada eomma-nya itu.
" Kau, dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kau mengomeli ibumu seperti itu, hah?! Lihat saja, aku tidak akan memberikan warisanku kepadamu! Anak kurang ajar!" seru Bibi Lee tepat di depan muka Eunhyuk yang menatapnya dengan malas.
" Bukannya rumah ini memang milik appa? Jadi appa yang akan memberikannya padaku. Kalau bukan aku siapa lagi yang akan kau beri warisan eomma? Dan lagi, eomma masih cukup sehat untuk hidup lima puluh tahun lagi jadi jangan khawatirkan hal tidak penting seperti itu!" balas Eunhyuk dengan enteng. Dan berikutnya, Bibi Lee pun mengejar anak satu-satunya itu dengan sapu yang berada di tangannya dan berkali-kali memukulkannya ke semua bagian tubuh anaknya yang bisa sapu ajaibnya jangkau.
" Ah, hyung-deul annyeong. Tumben hyung-deul datang kemari sesore ini," sapa Chanyeol ketika ia melihat kedua tamunya itu. Dua wajah yang sudah sangat ia kenal. Ia pun duduk dengan santai di sofa yang berhadapan dengan kedua tamunya itu. Karena ia sudah sangat mengenal keduanya, ia pun merubah posisi duduknya itu menjadi bersandar pada sisi samping sofa tersebut dan menyelonjorkan kakinya di sofa.
" Ani, kami hanya ingin mengajakmu menonton film di bioskop, bagaimana? Mumpung ada film baru yang tayang di bioskop," kata Jongsuk.
" Tumben kalian mau mentraktirku menonton? Biasanya kalian hanya akan mengajakku untuk menonton drama di rumah kalian. Memboroskan uang, kata hyung-deul dengan sangat kompak," sindir Chanyeol.
" Itu karena kau pasti akan merengek untuk menonton film genre melodrama yang sangat kau gemari itu," balas Woobin dengan sangat enteng.
" Jadi, kalian ingin mengajakku menonton film karena film yang akan kalian tonton itu bukan ber-genre melodrama begitu?" tanya Chanyeol dengan tatapan yang memicing curiga ke arah kedua namja yang duduk di hadapannya itu.
" Tentu saja! Buat apa kami mentraktirmu kalau kami tidak menyukai film itu? Bukankah itu hanya membuang-buang uang kami saja?" balas Jongsuk dengan tidak kalah entengnya dengan ucapan Woobin sebelumnya.
" Otthae? Kau mau tidak?" tanya Woobin. Chanyeol pun semakin memajukan bibirnya karena mau tidak mau ia harus menonton film genre yang tidak ia sukai yaitu horror. Karena kedua hyung-nya itu adalah penggemar berat film horror semenjak ia bertemu dengan masing-masing dari mereka.
" Baiklah, dengan satu syarat! Kalian harus menuruti permintaanku apa pun itu!"
" Tidak! Aku menolaknya! Aku tidak akan menuruti permintaanmu terutama untuk menemanimu shopping! Kau adalah seorang monster jika kau sudah berada di pusat perbelanjaan!" tolak Woobin dengan keras. Sedangkan Jongsuk hanya memperhatikan dengan seksama proses tawar-menawar yang ada di hadapannya itu.
" Baiklah! Bagaimana kalau hyung-deul harus mentraktirku makanan apapun yang aku inginkan! Tidak ada tawar-menawar!" Woobin terlihat berpikir sebentar dan kemudian mengangguk mengiyakan. Chanyeol pun bersorak kegirangan. Jongsuk memandang Woobin seakan-akan menanyakan mengapa ia menyetujui permintaan dongsaeng kesayangan mereka berdua itu.
" Aku tidak ingin kedua anaknya menjadi anak yang ileran karena permintaan eommanya yang tidak dituruti," jawab Woobin sekenanya. Chanyeol pun kemudian setengah berjalan cepat menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi bersama kedua hyung-nya itu.
Setengah jam kemudian, ketiga orang itupun telah berada di dalam sebuah mobil berwarna hitam mengkilap milik Woobin untuk bergerak menuju ke tempat yang mereka tuju, yakni pusat kota Pohang yang berada di bagian utara.
" Aku ingin makan lasagna dan fettucini yang enak!" seru Chanyeol ketika mereka sedang berada di dalam perjalanannya.
" Baik, akan kubawa kau ke tempat restoran pasta yang paling enak di Pohang!" kata Woobin sambil tersenyum mendengar tingkah kekanak-kanakan dongsaeng yang sudah ia urus bertahun-tahun lamanya itu. Dan ketika akhirnya sampai di kawasan intersection yang terkenal di Pohang, tepat pada pukul tujuh malam, mereka bertiga pun bergegas menuju ke dalam jalanan yang penuh dengan tempat perbelanjaan dan hiburan yang terkenal di Pohang itu. Woobin mengarahkan mereka berdua untuk memasuki sebuah restoran yang terletak di lantai dua, yang bernama "Viva Polo" itu. Yang sepertinya memang terkenal dengan masakan Italianya, hal itu bisa dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang kemari untuk mencicipi masakan pasta di restoran tersebut.
Tepat pada pukul setengah sembilan malam, mereka bertiga keluar dari restoran tersebut dengan perut yang terisi penuh sampai-sampai rasanya tidak ada ruangan lagi bagi mereka untuk sekedar meminum air putih.
" Aigoo... jeongmal bae beullo! Masakan di restoran tadi benar-benar daebak sampai-sampai aku merasa sayang jika tidak menghabiskannya," seru Chanyeol.
" Apa kubilang, itu adalah restoran pasta yang paling enak di Pohang!" balas Woobin.
" Ahh, kalau begitu, hyung harus sering-sering mentraktirku di restoran itu!" balas Chanyeol, sedangkan Woobin memasang wajah seperti memakan asam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dompetnya kalau ia harus sering-sering mentraktir dongsaeng-nya yang doyan makan itu di restoran tersebut.
" Ah, aku harus menelepon Bibi Lee dahulu. Kalau nanti malam aku akan menginap di apartemen Bin-hyung. Aku tidak mau eomonim mencariku ke penjuru Pohang dan melaporkan ke polisi karena aku tidak memberitahunya." Kedua namja yang lebih tua itupun terkekeh membayangkan kalau kata-kata Chanyeol benar-benar terjadi.
" Baiklah, kami akan menunggumu di depang bioskop saja," kata Jongsuk sambil menggeret lengan sebelah kiri Woobin. Woobin hanya menurut saja ketika namja yang dicintainya itu menarik lengannya meskipun dengan paksa ke arah bioskop yang tidak jauh dari tempat makan mereka sebelumnya.
Chanyeol terpaksa harus menyeberang jalan karena suasana yang ada di sekitarnya begitu ramai dan bising. Ia terus saja menyeberang tanpa melihat ke kanan ataupun ke kiri karena ia tahu kalau jalanan tersebut dilarang dilewati oleh kendaraan bermotor. Namun, tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju dari arah kiri dengan kecepatan yang lumayan kecang menuju ke arah Chanyeol yang saat itu masih sibuk dengan telepon genggamnya.
" Chanyeol-ah! Awas!"
CKIIIT... BRUAKKK...
x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o
Seorang namja berdiri di tengah-tengah kegelapan yang melingkupi sebuah gang yang terletak di pedesaan Pohang. Ia terlihat gelisah sambil menggigiti kukunya. Saat ini, ia sedang menanti sebuah telepon yang akan ia terima untuk memberitahukan kegagalan misi yang diberikan oleh sang penelepon. Dan baru saja ia memikirkan betapa mengerikannya kalau ia harus dihukum oleh bosnya karena takut kalau ia telah gagal dalam menjalankan sebuah misi, telepon genggamnya berdering dengan keras, dengan sebuah nomor yang tidak dikenal terpampang di layarnya.
" Bagaimana misimu?" tanya suara dingin dari seberang telepon. Ia terlihat ragu untuk menjawabnya. Bosnya mengatakan kalau orang yang ada di seberang sambungan ini adalah seorang yang perfeksionis yang tidak ingin rencananya kacau akibat ketidak becusan orang yang ia gerakkan. Ia pun menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan diri.
" Sukses, agasshi," jawabnya.
" Bagus. Aku akan mengirimkan separuh bayaran yang telah kujanjikan ke rekening." Dan detik berikutnya, sambungan itu terputus. Ia pun segera keluar dari gang sempit itu dan berjalan ke arah halte bis terdekat untuk melarikan diri.
x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o- x-o-x-o
Daegu, Korea Selatan
Pukul 16:24 KST
" Entah mengapa, perasaanku jadi tidak enak begini ya?" gumam Kai pada dirinya sendiri sambil menatap keluar jendela yang menampilkan turunnya tetesan-tetesan air dari langit yang tidak terlalu deras. Namun, tetap membuat suhu udara di akhir musim semi itu semakin lembab. Ia bisa merasakan rona muncul di sekujur tubuhnya di tengah-tengah keadaan normalnya. Banyak orang mengatakan kalau merasakan sekujur tubuhmu mendadak merinding, bisa saja kau merasakan kejadian yang akan datang yang akan menimpa seseorang yang memiliki hubungan dekat denganmu. Itu adalah bagian dari premonisi dan insting yang dimiliki setiap manusia kepada orang-orang terdekatnya karena adanya perasaan terikat yang kuat dengan orang lain itu. Bisa saja pertanda itu adalah sesuatu yang benar tetapi, bisa juga sebaliknya, premonisi itu salah dan tidak terjadi apapun.
Jongin berdiri mematung di depan kaca jendela apartemennya yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota Daegu yang diselimuti oleh hujan yang terus-menerus turun semenjak pagi tadi dengan segelas kopi yang sudah menghangat berada dalam genggamannya. Langit di luar sana terlihat sangat gelap dan pekat dengan awan kelabu yang menggantung meskipun waktu belum sedikit pun beranjak dari pukul empat sore. Kai memandang tajam pemandangan yang ada di bawahnya itu sampai-sampai kaca yang berhadapan dengannya tertutup oleh uap air yang mengembun yang dihasilkan oleh sisa pernafasan Jongin dan uap dari dalam gelas kopi yang sejak tadi ia genggam.
Ia terus saja memikirkan perasaan tidak enaknya itu sampai ada sepasang lengan yang ramping yang melingkar di pinggangnya untuk menunjukkan kehadiran orang tersebut di balik badannya. Ia pun tersadar dari lamunannya dan tersenyum kecil merasakan kemanjaan yang ditunjukkan oleh orang yang sudah hampir lima tahun menjadi pendampingnya itu. Meskipun pasangannya itu sering sekali melakukan hal-hal spontan untuk menunjukkan perhatiannya untuk Jongin. Tapi, jarang sekali namja yang lebih pendek dari Jongin itu menunjukkan keinginannya untuk bermanja-manja seperti sekarang ini. Biasanya, Jongin-lah yang melakukan inisiasi untuk melakukan skinship semacam ini meskipun pasangannya itu tidak menolak usaha dari Jongin.
" Apa yang membuatmu terdiam sampai-sampai kau terlihat seperti akan memecahkan gelas malang itu, Jongin-ah?" tanya pasangannya itu dengan suara manja dan sambil menyurukkan kepalanya pada punggung Jongin yang hangat. Kai tersenyum dengan hangat mendengarnya lalu membalikkan badannya dan membuat pasangannya itu harus melepaskan pelukannya pada tubuh bagian belakang Jongin. Kai pun meraih kedua tangan pasangannya itu dan melingkarkannya pada pinggangnya. Jongin pun kemudian semakin menenggelamkan namja yang berada di dalam pelukannya itu dengan merengkuh bahu mungil dari pasangannya itu.
" Tidak biasanya kau bersikap semanja ini, Kyungie-ah. Aku sudah cukup senang dengan perhatianmu setiap harinya. Tapi, bisakah kau bermanja-manja padaku sesering mungkin? Karena sepertinya aku sangat menyukai sisi manjamu ini, Kyung," kata Kai dengan penuh kelembutan. Sedangkan namja yang berada di dalam pelukannya itu semakin mengeratkan pelukannya dengan wajah yang tertunduk karena malu.
" Bisakah kau menutup mulutmu itu, Kim Jongin? Atau aku tidak akan pernah melakukan hal memalukan seperti ini lagi." Baru saja Jongin atau Kai akan membalas perkataan pasangannya itu, namun, ia harus menutup mulutnya ketika mendapati Kyungsoo memandangnya dengan tajam meskipun dengan wajah yang masih memerah.
" Baiklah, baiklah, aku kalah kali ini," kata Jongin sambil mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kepalanya. Persis seperti pose "aku menyerah" di dalam berbagai drama yang menampilkan cerita-cerita kriminal. Kyungsoo pun mengangguk dan menenggelamkan wajahnya kembali dalam dada bidang Jongin yang sangat nyaman itu. Hanya Kyungsoo sajalah yang bisa menikmati segala yang ada di diri Jongin termasuk dengan pelukan yang hangat dan dada bidang Jongin yang nyaman dan siap kapanpun untuk menjadi sandarannya. Begitu pula sebaliknya, bagi Kyungsoo, hanya Jongin-lah yang bisa menikmati segalanya yang ada di dalam diri Kyungsoo termasuk cinta dan perhatian Kyungsoo.
" Baiklah, tuan Kim. Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan lagi."
" Sekarang, jawab pertanyaanku kenapa kau melamun seperti ini huh? Tidak biasanya kau bisa terdiam selama sepuluh menit lebih tanpa bergerak ataupun tanpa berbicara seperti tadi. Apa yang mengganggu dalam pikiranmu, Kai-ah?" tanya Kyungsoo dengan khawatir pada namja yang berstatus sebagai suaminya semenjak empat tahun yang lalu itu.
" Entahlah, Kyungie. Mendadak seperti ada yang mengganjal dan tiba-tiba saja perasaan tidak enak muncul di kepalaku. Aku merasa sangat tidak nyaman, Kyung-ah," jawab Jongin yang kini menampilkan wajahnya yang khawatir.
" Kau tahu, Jonginnie. Tidak semua perasaan mengganjal itu akan menjadi kejadian buruk. Kau tahu itu hanyalah perasaanmu saja. Lebih baik kita beristirahat saja, mungkin perasaanmu akan lebih baik setelah beristirahat," bujuk Kyungsoo untuk menghilangkan kerutan gelisah yang tertampil di wajah berusia 27 tahun yang sangat ia cintai itu.
" Kau benar, soo. Sebaiknya kita beristirahat sejenak," kata Jongin sambil membimbing tubuhnya dan tubuh pasangannya itu menuju kamar mereka berdua dan merebahkan tubuhnya yang lelah setelah bekerja hampir sepuluh jam di rumah sakit Daegu di kasur yang nyaman yang berada di kamar mereka berdua.
Seoul, Korea Selatan
Pukul 18:27 KST
Kris berjalan memasuki apartemen mewahnya yang masih tetap terasa dingin dan kosong meskipun ia tidak lagi tinggal sendirian di dalam apartemen yang terletak di puncak salah satu gedung pencakar langit di kota Seoul. Hawa dingin dan kegelapan menyapu seluruh pandangannya ketika ia menginjakkan kakinya setelah melalui hari-hari melelahkan yang sudah biasa ia jalani. Hari ini ia merasa lebih beruntung bisa pulang ke dalam apartemennya sebelum jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Berkat bantuan dari salah satu pegawai seniornya yang merangkap tugas sebagai sekretarisnya setelah ia terpaksa memecat sekretaris barunya karena ketidak becusannya dalam bekerja. Ia menghela nafas panjang dan mencopot semua atribut yang ia gunakan untuk ke kantor tadi dan melemparkannya ke sofa beserta dengan tas kerjanya.
Meskipun ia telah menikah saat ini, tapi, ia merasakan hal yang biasa saja dengan semuanya. Tidak ada hal yang berbeda dari kehidupannya semula sebagai seorang barchelor paling diinginkan nomor se-daratan China dan Korea dengan kehidupan pernikahannya. Awalnya memang terasa berbeda, ada orang yang selalu menunggu kepulangannya, tetapi, lama-kelamaan kebiasaan itu menghilang. Dan lihatlah keadaan apartemen yang dingin dan gelap ini, bukankah hal inilah yang menyambutnya setiap kali ia pulang kerja sebelum menikah. Timbul perasaan menyesal di hatinya karena ia harus melepas masa lajangnya. Ia merasa menyesal kenapa ia harus menikahi yeoja itu meskipun ia tahu kalau ia memang harus menikahi yeoja itu karena berkat ialah yeoja itu mengandung seorang anak.
Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa dan sejenak memejamkan matanya di tengah kegelapan total ruangan apartemennya. Jangan salahkan kehidupannya sebagai namja yang sudah beberapa tahun terbiasa hidup sendiri itu, yang membuatnya lebih nyaman dengan kegelapan. Bahkan ia bisa berjalan ke sudut ruang apartemennya di tengah kegelapan seperti ini, tanpa harus menggeser satupun barang yang sudah menjadi penghuni tetap apartemennya itu. Ia berjalan ke arah dapurnya yang terlihat terlampau rapi karena memang hampir tidak pernah disentuh itu. Baik oleh dirinya maupun yeoja yang sudah beberapa bulan itu menjadi istrinya. Ia membuka lemari pendingin dan mengambil sebuah botol air mineral dan meminumnya. Ia kemudian berbalik kembali menuju ruang keluarga apartemen mewahnya. Namun, dalam perjalanannya ia tidak sengaja menyenggol sebuah pigura foto yang tergantung di dinding apartemennya, hingga kaca pelapis pigura tersebut pecah berkeping-keping.
Mendadak saja timbul perasaan yang sangat mengganjal di hatinya disertai dengan bulu kuduknya yang meremang. Terlebih lagi ia merasa ada hal yang janggal, tidak biasanya ia menabrak sesuatu hingga menjatuhkan sebuah figura seperti ini, karena matanya yang sudah sangat terbiasa dengan kegelapan. Tetapi, ia kemudian menepis perasaan tersebut dan beralih untuk meraih saklar lampu ruangan tersebut. Ia tidak ingin mengambil resiko berjalan di apartemen dengan kegelapan total yang melanda ditambah lagi dengan pecahan kaca yang berserakahan.
Ia dengan segera mengambil mini vacuum cleaner yang terletak di atas rak buku yang ada di ruangan yang sama dan membersihkan pecahan kaca yang bisa membahayakan dirinya terutama kakinya. Setelah semua pecahan kaca yang berserakahan itu menghilang, ia kemudian meraih pigura yang terletak tak jauh darinya itu. Ia pun melihat sebuah foto yang mengingatkannya akan seorang namja yang telah berbulan-bulan menghilang dari hadapannya itu. Sejenak, sebuah perasaan rindu yang sangat mendalam menghantam dadanya dan membuat jantungnya terasa berdenyut dengan keras hingga hanya rasa nyerilah yang bisa ia rasakan.
Foto itu menampilkan seorang namja yang sedang tertawa sangat lebar sedangkan di sampingnya, Kris berdiri di sampingnya dengan mimik wajah sama gelinya, sambil mengulas sebuah senyum simpul yang tergolong sangat langka di bibirnya, ketika sedang memandang sesuatu. Kris mengingat kejadian itu. Saat itu, karyawan Wu corp cabang Korea tengah mengadakan piknik ke sebuah daerah di Kangwon-do yang terkenal akan daerah pegunungan dan peternakan. Dan foto itu diambil saat banyak dari karyawannya yang tercebur ke dalam kubangan lumpur karena kenekatan mereka untuk mencoba mengendalikan sebuah sapi. Ia tidak tahu bagaimana bisa seseorang mengambil foto itu, tapi ia bisa menemukannya tersimpan di dalam kamera SLR yang ia miliki. Namun, anehnya ia tidak menghapusnya dan malah mencetak foto itu. Dan seminggu tepat setelah ia memajang foto itu, Victoria memutuskan pertunangan mereka.
Lagi-lagi perasaan tidak enak itu muncul dan menimbulkan nyeri di dadanya.
" Chanyeol-ah, are you alright, right there?" setiap kali nama namja itu terselip di bibirnya, ia merasakan perasaan yang menghangat dan bibirnya yang mau tidak mau terangkat membentuk sebuah senyuman lembut. Ia baru menyadarinya beberapa hari yang lalu ketika ia di jahili habis-habisan oleh Sungmin, karyawan senior di perusahaannya yang merangkap menjadi sekretarisnya untuk sementara ketika namja cerewet itu menemukannya sedang melamun sambil menatap sebuah foto persahabatannya dengan Chanyeol serta dengan Baekhyun dan Tao yang terpampang dengan jelas di atas meja kerjanya.
Karyawannya itu bercerita panjang lebar tentang bagaimana kantor headquarter Wu Corp di Korea itu menjadi sepi semenjak Chanyeol meninggalkan kantor itu. Ia juga menceritakan bagaimana hampir semua orang yang ada di kantor itu mengidolakan Chanyeol untuk berpasangan dengannya. Bisa dibilang, hampir semua karyawan di kantornya adalah Krisyeol shipper. Betapa menggelikannya nama itu di telinganya.
Flashback ON
" Ahh, sungguh mengesalkan kenapa Chanyeol harus berhenti bekerja dan meninggalkan posnya," kata Sungmin setelah berhasil menyadarkan Kris dari lamunannya.
" Huh?" balas Kris sekenanya, tanpa menatap lawan bicaranya pula.
" Kau memang sungguh mengesalkan, Tuan Wu. Coba saja kau lihat betapa kau menjadi seorang gentleman sejati ketika that fluff ball berada di sekitarmu. Kau benar-benar namja bermuka dua, Tuan Wu," cerocos Sungmin.
" Apa maksudmu, hyung?" jawab Kris masih tetap sambil memeriksa satu persatu laporan yang baru saja di serahkan oleh sekretarisnya yang sangat cerewet itu.
" Lihat aku, Kris Wu!" dan dengan bentakan itupun Kris mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang isinya tentu saja sangat membosankan itu untuk memandang sekretarisnya yang sedang memasang wajah sebalnya sembri berkacak pinggang di depan atasannya itu. Pandangan yang Sungmin dapatkan pun hanya sebuah pandangan malas sekaligus mematikan milik atasannya yang seolah berkata " apa urusanmu untuk menyuruhku memandangmu" dan " cepat katakan apa urusanmu sebelum aku memecatmu juga" yang menciutkan nyali siapapun yang dihadapkan dengan pandangan itu tetapi, tidak untuk Sungmin.
" Lihatlah betapa dingin dan datarnya wajahmu itu ketika memandang seseorang. Tidakkah kau tahu Kris, kalau ekspresi dinginmu itu, sama sekali tidak pernah tertampil ketika kau berada di sekitar Chanyeollie?" tanya Sungmin pada Kris. Tetapi, ekspresi Kris tidak berubah dan tetap memandang Sungmin dengan pandangan malasnya.
" Dan lagi, ketika kau berada di sekitar bocah itu kau menjadi lebih banyak tersenyum. Senyuman yang sangat berbeda ketika kau menghadiahkannya kepada istrimu itu, senyuman itu terlihat sangat lembut dan sangat tulus, seperti ini," kata Sungmin lagi sambil membentuk bibir atasannya ketika ia sedang tersenyum. Sungmin pun kemudian menghadiahkan sebuah cermin yang selalu ia bawa kemanpun ia pergi ke hadapan Kris. Dan betapa kagetnya Kris ketika ia melihat cerminan wajahnya di dalam cermin yang masih dipegang oleh Sungmin.
" Kau kaget? Kau bahkan tidak pernah menyadarinya. Itu bukan yang akan kau katakan? Kau memang sedikit lambat dalam percintaan, Kris-ah," kata Sungmin lagi. Dan Kris pun tersadar dan memandang Sungmin dengan padangan dinginnya lagi.
" Lalu? Aku harus apa, Sungmin-hyung?" kata Kris dengan wajah datarnya. Sungmin pun menepuk jidatnya lantaran perasaan kesalnya kenapa ia harus memiliki atasan yang benar-benar tidak peka dengan perasaannya sendiri.
" Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang tidak peka ini! Kau tahu tentang perasaan cinta? Suka? Atau perasaan sayang? Tidakkah kau menyadari kalau kau menyukainya Kris? Kau bahkan tidak pernah menunjukkan senyum ini di hadapan istrimu! Aku yakin 1000 persen tentang itu! Apa lagi yang bisa menggerakkan seorang pangeran es sepertimu tersenyum selembut kalau ia tidak benar-benar sedang jatuh cinta pada seseorang!" terang Sungmin dengan tingkat kefrustsasian yang sudah mencapai puncaknya.
" Bagaimana kau bisa seyakin itu, Sungmin-hyung?" tanya Kris masih dengan wajah datarnya. Namun, kesan dingin yang ia tampilkan perlahan menghilang.
" Kau benar-benar tidak menyadari kalau kau sedang jatuh cinta? Kau benar-benar manusia terbodoh yang pernah ada. Bahkan Kyuhyun yang sikap cuek bebeknya yang tidak ada tandingannya pun bisa mengatakan kalau ia jatuh cinta! Kau benar-benar kasus yang tidak terpecahkan, Kris!" teriak Sungmin sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Sungmin benar-benar tidak habis pikir dengan namja yang berusia satu tahun dibawahnya ini. Benar-benar tidak peka dalam taraf tertinggi pada manusia diantara orang-orang yang pernah ia temui selama ini. Benar seperti yang ia katakan, Sungmin kira, suaminya yang sangat cuek bebek itu adalah taraf tertinggi dari ketidakpekaan. Ternyata ia salah, namja yang berada dihadapannya itu mengalahkan rekor yang diciptakan oleh suaminya sendiri.
" Memang bagaimana rasa jatuh cinta itu hyung?" tanya Kris masih dengan tatapan datarnya. Sedangkan wajah Sungmin yang frustasi berubah menjadi horor, mata dan mulut secara bersamaan membentuk huruf "O" dengan tangan yang menangkup kedua belah pipinya sendiri. Namun, Kris yang membalas tatapan horor itu dengan pandangan tajam dan menusuk yang seolah berkata " cepat-jawab-atau-aku-akan-menendangmu-keluar-dari-ruangan-ini-atau-yang-paling-buruk-adalah-menendangmu-dari-lantai-20"
" Baiklah, tuan Wu yang tidak pernah merasakan jatuh cinta," kata Sungmin sambil menenangkan dirinya.
" Apa kau pernah merasakan, betapa rindunya kau pada seseorang meskipun kau tidak bertemu denganya satu hari saja? Perasaan bahwa kau tidak bisa berada jauh darinya? Perasaan kalau kau tergantung pada keberadaan orang itu di sekitarmu? Apa kau pernah merasakan kau ingin menyentuhnya, meskipun itu hanya dengan sentuhan sederhana yang akan mengatakan kalau ia memiliki perhatianmu? Atau mungkin yang paling sederhana adalah ketika kau berada di dekatnya, tubuhmu terasa ringan dan seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam tubuhmu?" jelas Sungmin. Kris terlihat berpikir sebentar, sampai akhirnya sebuah ekspresi kaget muncul di wajahnya yang sangat tampan itu.
" Kau baru menyadari itu, Kris-ah?" tanya Sungmin yang langsung bisa menyimpulkan arti dibalik ekspresi kekagetan Kris. Namun, sedetik kemudian, wajah Kris kembali ke ekspresi datarnya.
" Bagaimana kalau dia adalah seorang namja?" tanya Kris.
" Kau masih berpikiran kalau perasaan cinta itu diberikan oleh yang di atas sana kepada namja untuk mencintai seorang yeoja? Bukankah cinta itu diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia? Lalu, apa salahnya kalau kita mencintai seorang namja bukan yeoja? Apakah merasakan cinta sebuah dosa ketika kau mencintai sesama jenismu?" jelas Sungmin dengan suara yang lembut layaknya seorang ibu yang sedang mengajari anaknya. Kris kembali tenggelam dalam badai yang saat ini sedang melanda isi pikirannya.
Flashback OFF
" Chanyeol-ah, neon eodisseo? Hyung neon neomu bogoshippesseo..."
" ... Because I think I love you," ucap Kris ditengah kegiatannya memandang senyum yang tergambar di wajah manis milik Chanyeol. Ia baru menyadari kalau senyum itulah yang membuatnya jatuh cinta pada namja itu. Tetapi, bukankah penyesalan akan selalu datang ketika orang yang kau cintai itu telah lepas dari genggamanmu. Benar apa kata mantan tunangannya itu, kau baru akan menyadari perasaan cintamu itu ketika kau telah kehilangan orang yang sangat berarti bagimu itu.
Daegu, Korea Selatan
Pukul 21 : 03 KST
Setelah hampir lima jam tertidur, sepasang manusia yang saling mencintai itupun terusik tidurnya akibat salah satu ponsel mereka yang berbunyi sangat nyaring yang terletak di nakas yang berada di samping tempat tidur pasangan itu. Kai yang tergagap karena kerasnya ringtone handphone-nya terlonjak dan segera meraih ponselnya dari meja nakas dan mengangkatnya. Biasanya hanya rumah sakit saja yang sewaktu-waktu bisa meneleponnya, biasanya itu karena rumah sakit kekurangan tenaga pasien saat itu sudah menumpuk. Jadilah Jongin sering bekerja ekstra untuk membantu rumah sakit tempatnya bekerja untuk menyelesaikan masalah-masalah di sana. Ia melirik sebentar ke arah pasangannya yang kembali jatuh tidur setelah ia menyadari kalau bukan ponselnya-lah yang berdering.
Dokter berwajah tampan tersebut meraih ponselnya dan menekan gambar virtual berwarna hijau. Kai belum sadar sepenuhnya dari rasa kantuknya ketika mengangkat sambungan telepon itu, sehingga ia tidak menyadari siapa si penelepon yang mengganggunya di jam yang sangat tidak manusiawi ini, namun, apa yang dikatakan oleh penelepon yang ada di seberang membuat ia tersentak dan mengeraskan wajahnya. Ia benar, firasatnya benar-benar terjadi, dan kejadian itu menimpa orang yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri.
" Baiklah aku akan segera ke sana, hyung. Tolong tunggu sebentar. Aku akan segera menjemputnya dari sana."
"..."
" Ne, ne, arraseo."
"..."
" Arraseo. Jamshimaneyo. Annyeong." Dan dengan begitu sambungan telepon itupun terputus. Kai segera beranjak dari tempat tidurnya dan nyaris saja ia berlari menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamar tidurnya untuk sekedar membersihkan mukannya agar terlihat lebih segar dan menghilangkan sisa rasa kantuknya. Kyungsoo yang seorang light sleeper, terbangun akibat pergerakan Jongin yang terkesan sangat darurat. Ia pun duduk bersandar pada sandaran kasur dan menanti Jongin untuk keluar dari balik pintu yang menghubungkan antara kamar tidur dan kamar mandi.
Kyungsoo melirik ke arah jam digital yang terletak di samping tempat tidur mereka dan menunjukkan baru pukul sembilan malam lebih.
Ia mengira kalau, rumah sakitlah yang menelepon Jongin sehingga memaksa Kai harus berangkat ke rumah sakit saat ini untuk mengatasi kondisi darurat yang terjadi di sana. Maka, Kyungsoo pun hanya menyenderkan kepalanya sambil terbuai dengan rasa kantuknya yang masih melekat di tubuhnya. Kyungsoo akhirnya tersadar ketika Jongin telah keluar dari kamar mandi sambil menyambar sebuah celana jeans berwarna biru gelap dan sebuah kaos oblong dan memakai keduanya dengan asal-asalan. Namja bernama Do Kyungsoo sebelum ia menikah itupun akhirnya menyadari kalau suaminya itu tidak pergi menuju rumah sakit dan ia pun membuka suaranya.
" Kau mau kemana, Jongin-ah? Ini sudah cukup malam, bukankah lebih baik kembali tidur?" tanya Kyungsoo dengan lembut.
" MANA BISA AKU KEMBALI TIDUR, KIM KYUNGSOO!" jawab Jongin dengan penuh penekanan di setiap katanya. Kyungsoo pun turun dari tempat tidurnya dan menghampiri suaminya yang berdiri membelakangi dirinya itu. Ia pun meraih tangan Jongin dan memaksanya untuk berhadapan dengan namja yang lebih pendek dari Jongin. Kyungsoo pun melihat betapa tegang dan kakunya setiap otot wajah Jongin sampai-sampai tergambar dengan jelas di wajah tampan milik suaminya itu.
" Kalau begitu ceritakan padaku kenapa kau memaksa untuk keluar dengan tergesa-gesa seperti ini?" tanya Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo tahu kalau Jongin sama sekali tidak berniat untuk membentaknya barusan. Itu bisa ia lihat dari sorot matanya yang menyesal ketika matanya bertatapan dengan sepasang mata bulat yang menjadi ciri khas istrinya itu. Kyungsoo menunggu dengan sabar jawaban yang akan diberikan oleh Jongin selama apapun Jongin memerlukan waktunya.
" Channyeol..." jawab Kai lirih setelah ia bisa menenangkan diri dan memastikan emosinya tidak lagi berada di garis depan perasaannya.
" Ada apa dengan Chanyeol, Kai-ah?" tanya Kyungsoo lagi. Kali ini sorot mata Jongin berubah menjadi sangat khawatir mendengar nama itu disebutkan kembali. Butuh waktu lima menit bagi Jongin untuk menjawabnya, namun, kata yang keluar berikutnya tidak terdengar seperti sebuah jawaban yang jelas.
" Chanyeol... mobil... kecelakaan," gumam Kai dengan tidak jelasnya.
" Apa maksudmu, Jongin? Tenangkan dirimu, yeobo," tanya Kyungsoo lagi.
" Chanyeol hampir mengalami kecelakaan dan dia mengalami shock berat. Aku tidak mengetahui bagaimana bisa dan bagaimana keadaannya saat ini. Bin-hyung hanya menyuruhku untuk segera datang ke rumah sakit Universitas Dongguk karena saat ini mereka sedang berada di sana. Dan aku tidak tahu bagaimana keadaan Chanyeol saat ini," jawab Kai kembali dengan suaranya yang sangat lirih.
" Baiklah, aku mengerti. Kau tunggu saja di sini sebentar aku akan bersiap," kata Kyungsoo sambil mendudukkan suaminya yang seperti terkena disorientasi itu di tempat tidur mereka yang nyaman. Jongin terlihat sangat kacau mendengar berita itu. Sementara itu, Kyungsoo meraih pakaian baru serta jaket untuk mereka berdua.
" Chanyeol-ah, neon gwaenchana? Kyungsoo... otthokhae?"
Te to the Be to the Ce alias TBC
A/N1: Huaaaaa maapin author yang nggak jelas ini ya readers deul karena telaaat banget updatenya! soalnya ini author masih di tengah-tengah mid-term test yang bikin otak author gosong! Dan ini author memaksakan diri buat ngetik cerita padahal essay politik korea authoe belom kelar sama sekali. tapi, author lebih takut dihantui sama readers-deul dari pada dosen author yang menghantui *dilempar readers ke exo-planet*
Seperti biasanya, author akan sungguh sangat minta maaf sekali kalau di dalam chapter ini penuh dengan ke-typo-an karena nulis paper dan essay aja penuh dengan typo apalagi, chapter yang author ketik kilat. Untuk kali ini author nggak bisa ngasih balesan review apapun buat reader-deul. soalnya seperti yang udah author jelasin tadi, author lagi ngerjain essay author dan tangan author mendadak lemes gara-gara kebanyakan ngetik hari ini... terima kasih atas perhatian readers deul.
Big thanks to : sayakanoicinoe, park in, adiliataruni.7, AQuariisBue, ayumKim, irna-eonnie, rizqibilla, Dragonius Meidi Lee, Misyel, Lulu Auren, Yulika19343382, BlueKim, enchris.727, ren tobi, Bubblegirl1220
Dan pokoknya semua yang sudah mendukung kelangsungan ff ini baik yang menjadi follower atau yang memfavoritkan ff ini, terutama untuk orang-orang yang setia membaca dan mereview ff gaje ini. Karena buat author, dukungan kalian bikin author semangat buat update ff ini terus... meskipun author nggak bales review kalian satu-satu hehehe... jadi jangan bosen buat baca dan ngasih review yaa ^^
A/N2: jangan lupa tinggalkan review di chapter ini yaa reader-deul! hidup mami papi! *angkat banner Krisyeol sama abang sehun*
Regards,
