Menangis seharian sangatlah melelahkan, apalagi tidak ada seorangpun yang menghibur di kala sedih melanda. Natsu berdiri lemas, pergi ke dapur dan memasak mi instant sambil melamun. Meski perutnya berbunyi terus sedari tadi semangkuk mi panas hanya menjadi pajangan di atas meja makan, ia terus menangis hingga matanya terasa sakit dan bengkak, sulit sekali untuk berhenti, apalagi melupakan...semua bertambah rumit setelah Lucy mengirimkan SMS yang berbunyi "Tidak usah temui aku lagi" Dia benar-benar membenciku...gumam Natsu bertambah putus asa.

Kriing...kriing...kriing...

"Halo?"

"Halo, ini Erza-sensei"

"Oh sensei rupanya, ada apa?" tanya Natsu langsung to the point, merasa malas untuk berbicara dengan siapapun saat ini

"Ibu dengar kamu memenangkan lomba lukis dan menjadi juara satu, selamat ya"

"Terima kasih"

"Temanya tentang Lucy ya, dia pasti merasa senang"

"..."

Seketika Natsu langsung menjatuhkan gagang telepon, merasa shock karena nama itu kembali terdengar. Apa memang mustahil melupakan seorang Lucy Heartfilia yang telah memberikan banyak kenangan dan juga pelajaran berharga? Natsu mengigit bibirnya sendiri, merasa kesal, sedih semua bercampur aduk menjadi tidak karuan, kalau memang setiap orang datang lalu pergi untuk apa memberikan semua hal-hal indah selama hidup?!

"Sensei saya telah gagal sebagai sahabat Lucy, sekarang kami bukanlah lagi teman maupun sahabat, kami adalah musuh..." jawab Natsu setelah sekian lama terdiam

"Ada apa, kalian bertengkar? Ibu akan segera kesana, tunggu ya"

Tut...tut...tut..

Erza-sensei menutup telepon dan bergegas pergi menuju rumah Natsu, meski ia sendiri tidak meminta untuk ditemani ataupun bercerita, tetapi sia-sia saja jika ditutupi lebih lama lagi, semua akan terbongkar cepat atau lambat. Sesampainya di rumah Natsu, beliau segera berlari menaiki tangga dan menuju arah dapur, terlihat jelas bahwa dia sedang terdiam merenung sambil duduk di kursi meja makan.

"Natsu, tenangkan dirimu!"

"Oh sensei rupanya, padahal tidak perlu repot-repot datang kemari"

"Menangis sampai seperti ini, pasti ada masalah serius bukan?"

"Ti...tidak kok..." jawab Natsu berbohong, padahal raut wajahnya mengatakan hal lain

"Anak bodoh, jangan berbohong seakan kamu baik-baik saja, ceritakan ya?"

"Sebelum perlombaan dimulai dari jauh-jauh hari saya dan Lucy berjanji bahwa saya tidak boleh melukisnya saat lomba nanti. Tetapi..."

"Tetapi apa?"

"Sa...saya melanggar janji dan melukis Lucy, saat memperlihatkan hasil karyaku dia langsung marah besar"

"Kamu tidak salah cerita-kan?" tanya Erza-sensei terdengar tidak percaya, marah karena mengingkari janji memang tidak salah, tetapi karena sebuah lukisan? Itu terdengar konyol dan aneh

"Untuk apa berbohong, saya merasa lelah hingga kesulitan berpikir..."

"Siapa tau Lucy hanya marah sesaat, nanti juga dia minta maaf"

"Lucy tidak akan pernah meminta maaf, semua tergambar jelas dari ekspresi wajah dan nada bicaranya, dia sangat serius"

"Mau ibu temani ke rumah sakit? Mungkin dengan begitu rasa gugupmu akan hilang dan kamu bisa minta maaf"

"Maaf sensei, saya tidak akan pernah datang menjenguk sampai Lucy keluar dari rumah sakit sekalipun"

Usai mendengar penolakan halus dari Natsu, Erza-sensei langsung terdiam seribu bahasa, sedang berpikir tentang cara yang lebih baik agar mereka bersahabat kembali. Mungkin setiap peristiwa saling berhubungan dengan suatu hal, Lucy tidak akan marah tanpa alasan jelas, pasti ada rahasia dibalik semua ini. Erza-sensei amat menyakini hal tersebut, beliau tau Lucy bukanlah murid seperti itu.

"Apa kamu tau penyakit yang Lucy idap saat ini?"

"Kalau itu saya tidak tau, memang berhubungan?" tanya Natsu balik merasa heran

"Merasa aneh saja, besok ibu akan menjenguk kakek di rumah sakit, mau ikut?"

"U-untuk apa? Nanti saya malah menganggu"

"Asal tau saja, kakek adalah penggemar beratmu! Jadi jangan kecewakan beliau ya?"

"Baiklah, mohon bantuannya"

Kira-kira di rumah sakit mana ya? Jangan sampai sama dengan yang Lucy tempati saat ini. Erza-sensei pamit dan pulang ke rumah, sedangkan Natsu segera melahap semangkuk mi dingin di depan matanya saat ini. Rasa dingin tanpa kehangatan bagai bentakan keras dari Lucy, terdengar dingin juga serius tanpa rasa maaf sedikitpun. Apa memang harus berakhir? Kalaupun iya bukankah lebih baik berpisah secara baik-baik?

Keesokan harinya...

Sekitar jam satu siang Natsu sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap untuk keluar, sebelum pergi ke rumah sakit ia sempat memandangi kediaman Heartfilia dengan wajah sendu. Padahal dulu Lucy selalu melambaikan tangan setiap kali akan pergi, sekarang di sana kosong tanpa seorangpun. Selama perjalanan mereka berdua terus diam tanpa berbicara sedikitpun, Erza-sensei sendiri lebih memilih untuk diam karena baik hati maupun pikiran Natsu tidak berada di sini.

"Kita sudah sampai"

"Bukankah ini...?"

Rumah sakit tempat Lucy dirawat, dan sekali lagi ia datang untuk berkunjung. Karena suatu kebetulan ruangan kakek Erza-sensei dan Lucy saling berdekatan, Natsu sempat melihat "mantan sahabat"nya itu sedang melihat pemandangan dari jendela, jika diingat-ingat kembali sangat mirip dengan posisi yang digambar waktu perlombaan. Saat Erza-sensei sudah memasuki kamar nomor sembilan ratus satu, Natsu tidak sengaja berpapasan dengan ayah Lucy.

"Natsu, kamu tidak salah masuk kamar bukan?"

"Tidak, saya diminta Erza-sensei untuk menjenguk kakeknya. Jarang sekali paman terlambat untuk menjenguk Lucy"

"Hahaha, kamu tau saja. Hari ini tidak ingin menjenguk?"

"Sa-saya dan Lucy bukan lagi sahabat"

"Jadi kalian benar-benar bertengkar ya, oh iya ini untukmu"

"Komik buatan Lucy...?"

"Paman terlambat karena mengurus komik ini, Lucy pasti senang karena pembaca pertamanya adalah kamu"

"Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu"

Dengan ragu ia menerimanya tetapi seketika juga senyum langsung merekah. Kalaupun pemberian komik ini bukan berdasarkan usul dari Lucy melainkan inisiatif dari paman untuk memperbaiki hubungan mereka, apapun motif dibalik semua ini Natsu akan tetap menerima karena itu ditujukkan untuknya. Di dalam kamar nomor sembilan ratus satu itulah dia membuka hadiah tersebut, membaca isinya dari awal hingga akhir. Entah kenapa manga ini terasa spesial, ending, karakter, alur cerita, perasaan campur aduk semua menjadi satu kesatuan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Kenapa karakter laki-laki di tokoh ini mirip denganku?"

Dibilang sepenuhnya mirip juga tidak, hanya saja ciri fisik hingga sifat dan tingkah laku sama persis dengan Natsu yang sekarang, begitu juga dengan karakter perempuannya. Ini bukan sekedar kebetulan belaka, kisah cinta dalam manga tersebut pun mirip dengan yang mereka jalin selama beberapa bulan belakangan. Natsu selalu menyukai segala sesuatu yang Lucy buat, meski buruk sekalipun. Tetapi untuk kali ini sedikit berbeda...

BRUKKK!

"Natsu?" tanya Erza-sensei merasa heran melihat tingkah laku Natsu berubah drastis

"Ah ya, tidak ada apa-apa" balasnya santai sambil memungut kembali komik tersebut

"Jadi anak ini adalah Natsu yang selalu kamu ceritakan?"

"Begitulah, Natsu perkenalkan beliau adalah kakek saya"

"Ma...maaf karena menganggu!"

"Dia mirip dengan yang di televisi, tetapi..."

"Tetapi apa?" sempat timbul rasa penasaran dalam benaknya, mungkin tidak jika kakek mengetahui sesuatu?

"Ekpresimu berbeda sekali dengan di televisi, sedang memiliki masalah?" kakek bertanya lembut sembari tersenyum, langsung membuat hati Natsu luluh untuk bercerita

"Be-begitulah, saya sedang memiliki masalah dengan seseorang..."

"Sudah minta maaf?"

"Meminta maaf sia-sia saja, karena saya tau dia tidak akan pernah memaafkanku"

"Jangan sekedar diucapkan saja, bagaimana jika diungkapkan?" usul kakek memberi saran

"Di...ung...kap...kan?" bagaimanapun dipikirkan Natsu tetap tidak mengerti, bagaimana caranya, memang bisa, apa tidak sia-sia?

"Kakek menyukai lukisanmu karena menurutnya, karya seorang Natsu Dragneel memiliki kekuatan untuk membuat seseorang tersentuh" jelas Erza-sensei secara singkat, padat dan jelas, namun gagal dimengerti oleh Natsu

"Ta-tapi kekuatan apa? Kenapa saya tidak tau?"

"Anak bodoh...masih terlalu dini untuk mengerti, suatu saat nanti pun kamu akan tau"

"Sensei, jangan membuatku bingung!"

"Jika kamu merasa bingung, maka caritaulah jawabannya"

Saat Erza mengatakannya, hari sudah sore dan matahari nyaris terbenam. Semua terjadi dalam sekejap, dan sampai sekarangpun Natsu terus melamun sambil berteduh di bawah pohon rindang. Sekarang harus bagaimana? Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, merasa kesal, bingung dan bisa diibaratkan seperti tersesat di sebuah jalan asing tanpa seorangpun yang bisa memberikan petunjuk.

"Eh?" seseorang menahan tangan kirinya untuk terus bertindak, dan saat ditengok...

"Paman?!"

"Kamu terlihat seperti orang stres saja, apa paman bisa membantu?"

"A...ah...eto..."

"Sebelum itu, bagaimana pendapatmu tentang komik baru buatan Lucy?"

"Karakter dalam tokohnya mirip dengan saya dan Lucy, alur cerita pun sama persis seperti pertemanan kami berdua, tetapi..."

"Apa ada bagian dalam cerita yang tidak kamu sukai?" tebak Jude dibalas anggukan dari Natsu, hal itu sudah dirasakannya sewaktu membaca komik tadi

"Tokoh wanita dalam komik meninggal setelah pertemanannya dengan tokoh laki-laki hancur karena sebuah lukisan, saat membacanya saya merasa..."

"Lucy membuat komik itu bukan tanpa alasan, Natsu dia sudah lama merencanakan ini semua sebelum masuk rumah sakit, dari siang hingga larut malam Lucy terus menggambar dan menggambar, meskipun sekarang tangannya mati lemas ia tetap memaksakan diri. Apa kamu sudah membaca halaman belakang?"

"Ta...tapi u-untuk apa?" tanya Natsu langsung membuka halaman akhir, menemukan dua kata berbunyi 'for Natsu'

"Dia membuat komik itu untukmu seorang..."

Usai mendengar kronologi dibalik pembuatan komik tersebut Natsu hanya bisa terdiam seribu bahasa, jika disebut sebagai hadiah untuk teman terbaik cocok bukan? Omong-omong soal hadiah, ia langsung teringat akan ulang tahun Lucy yang tinggal beberapa minggu lagi. Terukir sebuah senyum di bibirnya, semua kerja keras selama beberapa minggu ini akan segera terbayar, ucap Natsu merasa yakin dalam hati.

"Biarkan paman bertanya lagi, apa kamu ingin membiarkan Lucy meninggal seperti tokoh wanita dalam komik?"

"Tentu saja tidak! Kalaupun memang umurnya tidak lagi panjang, biarkan saya memberikan hadiah spesial kepada Lucy ketika ulang tahun nanti, dengan begitu janji yang selama ini tertunda bisa segera ditepati"

"Jadi kamu sudah menemukan jawabannya ya...buatlah hadiah itu dengan perasaan tulus, tuangkan segala keinginanmu dan capailah dia"

"Saya pasti bisa mencapainya, karena Erza-sensei berkata jika lukisan buatanku memiliki kekuatan untuk menyentuh hati seseorang"

"Paman akui, selain keindahan dan teknik menggambar memang tersimpan kekuatan spesial di dalam lukisanmu"

"A-apa paman mengetahuinya?"

"Jika penasaran cari tau saja sendiri"

"Jangan meniru sensei! Aku heran kenapa orang dewasa sangat suka membuat anak-anak mereka penasaran..." gerutu Natsu tidak suka, merasa dipermainkan oleh kakek, sensei dan sekarang paman

"Kami melakukannya agar anak mandiri, jika diberitau terus-menerus kapan mereka bisa mengetahui dunia luar yang belum tentu diketahui oleh orang dewasa, potensi dalam diri dan hal lain? Semua itu dilakukan demi kebaikan anak seorang"

Pada akhirnya Natsu harus mencari tau sendiri perihal jawaban tersebut. Dari perkataan Jude barusan ia juga menyadari satu hal "tidak semua hal bisa didapatkan dengan bertanya, terkadang kamu harus mencari tau sendiri supaya tidak terus-menerus bergantung pada orang lain" jika segala sesuatu bisa didapatkan dengan bertanya, lalu untuk apa Tuhan memberikan otak?

"Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu" ucap Natsu berlalu, pulang menuju rumahnya

Matahari sudah terbenam, langit oranye akan segera berganti menjadi biru tua penuh kerlap-kerlip bintang, dalam hatinya Natsu berjanji satu hal.

"Lihat saja, aku akan membuat happy ending untukmu Lucy..."

Bersambung...

Balasan Riview :

Anonim : Thx ya atas pujiannya, terima kasih juga udah riview dari chapter2 lalu hingga sekarang :D Syukur deh kalo kamu suka, semoga chapter ini tidak mengecewakan!

Kaoru Dragneel : Oke dehh, thx ya udh riview jadi tmbh semangat nih :D Tenang aja kok, hasil kerja keras Natsu gak akan sia-sia karena dia ingin berusaha. Semoga chapter 12 tidak mengecewakan cc! Oh iya, thx ya udh riview di cerita Yuuhi wo Miteiruka. Kalau untuk membuat cerita genre horror harus dipertimbangin dulu, karena aku sendiri sadar gak pandai2 amat bikin cerita horror. Kalau kamu mau ganti aja request-nya, aku gak sibuk kok hehehe...