Unperfect Kyungsoo

Cast : All member EXO

Other Cast

Genre : Action, Romance

Rate : T

Typo(s), abal, no plagiat!, plot pasaran, tidak suka jangan dibaca!

...

...

Mata pria itu terpaku pada satu arah. Disana, tengah berdiri seseorang yang saat ini sangat ia hindari. Bukan karena ia membencinya, tapi karena sosok itu adalah salah satu alasannya berbuat demikian. Konyol memang, namun itulah kenyataannya.

"Apa kabar...Appa?"

Dingin dan datar.

Bahkan suara yang keluar dari mulutnya tidak ada getaran sama sekali. Jika orang lain yang mengatakan hal itu pada sang Appa yang tengah menjalankan tugas bangsatnya, maka dapat ia pastikan orang itu akan bergetar kecewa.

Bukannya Sehun tidak kecewa, bahkan ia sangat kecewa. Jauh didalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menarik sang Appa menjauh dari situasi yang mungkin akan menyulitkannya. Namun mengingat janji yang telah ia ucapkan untuk melindungi Kyungsoo, maka melawan Appanya adalah pilihan bijak yang memang harus ia ambil.

Sehun bukanlah seorang pengecut ataupun penghianat, bukan. Appanya mengajarkannya seperti itu, dulu. Dan sekarang ajaran baik itu berguna, meskipun yang harus ia lawan adalah seseorang yang telah mengajarkan segalanya padanya.

"S-Sehun" sang pria tua mencicit pelan. Suasana mendadak hening. Mata tua yang telah berkantung itu tak lepas menatap sang putra yang tengah berdiri dengan gagahnya disana.

"Bahkan ludahku belum sempat kutelan, Appa. Dan kau telah mengingkari janjimu. Kau mengecewakanku"

Bagaikan dirobek belah mata pisau tajam, dada Changmin terkoyak. Hantaman kalimat datar penuh kekecewaan seakan memberi stimulasi menggetarkan dalam tubuhnya. Kalimat yang keluar dari bibir Sehun begitu menyakitkan.

Entah sejak kapan hati selembut kapas milik Appanya berubah keras dan beku. Sehun tidak tahu pasti.

Yang ia tahu adalah menghentikan sesuatu yang bisa saja menghantarkan sang Appa pada kemungkinan terburuk.

"Apakah darah yang mengalir didalam tubuhku adalah hasil dari pekerjaanmu ini, Appa?"

Tangan Changmin bergetar, hatinya hancur berantakan. Bahkan kertas-kertas berkas yang tengah ia genggam terjatuh begitu saja.

Dari balik dekapan pria berbadan tegap ini, Kyungsoo mengetahui jika Sehun sedang berada diantara dua pilihan tersulit. Kalimat serta pertanyaan yang keluar dari bibirnya adalah kalimat yang tidak pernah ia dengar. Kalimat penuh tekanan dan kekecewaan.

Mata bulatnya menatap nanar pada Paman Oh dan Sehun bergantian. Menyadari jika keadaan yang sekarang ia alami disebabkan oleh Paman Oh, membuat getaran didalam jantungnya kembali berdesir.

Mengapa harus Paman Oh?

Mengapa harus Sehun?

Kyungsoo memejamkan matanya sesaat kemudian beralih menatap Jongin.

Jika Sehun berada dalam dua titik yang membuat pikirannya terpecah, apakah Jongin juga demikian?

Ya, ia baru menyadadi sesuatu. Apakah Jongin memilih melawan Nyonya Yixing demi pekerjaannya?

"Sehun" suara parau yang keluar dari bibir Changmin membuat atensi Kyungsoo, Sehun dan juga Jongin kembali pada sosok tua itu. Suara ini terdengar begitu memilukan. Mereka yakin jika Paman Oh tengah dalam suatu tekanan. Dan Sehun menyadari itu.

Tunggu, tekanan?

Dari siapa?

Apakah benar jika Appanya bekerja pada Yunho?

'Lakukan tugasmu, Changmin! Atau sesuatu yang buruk akan terjadi!'

Suara dari seberang earclip begitu jelas terdengar.

Changmin tersadar dari lamunannya, matanya kembali menatap tajam. Ini adalah tanggung jawab dan resiko yang harus ia emban. Ia sudah terlanjur masuk kedalam jurang, dan satu-satunya pilihan adalah tetap melanjutkan langkahnya atau apa yang dikatakan Yunho benar-benar terjadi.

Changmin mengarahkan pandangannya pada Sehun kemudian tersenyum miring. Sehun tercekat. Senyum itu, senyum yang belum pernah ia lihat selama hidupnya. Mungkin yang ada dikepalanya sekarang sama dengan apa yang dipikirnya Kyungsoo, takut dan kecewa. Takut karena mungkin tindakannya akan melukai Appanya dan kecewa atas apa yang telah Appanya lakukan.

"Kau hanya belum mengetahui duduk permasalahannya, Sehun" suara Changmin kembali tegas. Tangannya yang memegang handgun kembali ia acungkan pada kepala Kyungsoo hingga membuat lelaki mungil itu memejamkan matanya, takut.

Sehun melirik sekilas pada tangan sang Appa, kemudian pada Kyungsoo. Ia dapat menangkap dengan jelas mata bulat Kyungsoo yang tertutup rapat. Ingin sekali rasanya ia memeluk Kyungsoo seperti biasanya. Kyungsoo pasti membutuhkan sebuah pelukan dan sentuhan lembut untuk menenangkannya disaat seperti ini. Namun harapan kecil itu sulit terwujud untuk sekarang. Karena pelatuk yang berada diujung jari Changmin bisa saja melukai Kyungsoo kapanpun.

"Hyung~" suara lemah Taeoh membuyarkan suasana tegang yang terjadi. Semua mata tertuju pada bocah kecil itu, tak terkecuali Sehun. Mereka tahu jika Taeoh sedang memberontak, mencoba lepas dari gendongan pria berbadan besar itu. Matanya yang bulat telah basah oleh deraian airmata. Lengan bocah kecil itu juga mulai membiru karena pria brengsek-anak buah Changmin itu mencengkeramnya dengan kasar.

Kyungsoo membuka matanya saat mendengar suara Taeoh. Matanya melebar tatkala melihat Taeoh yang terus meraung. Bocah kecil itu ketakutan karena ujung handgun yang terus mengarah pada pelipisnya. Kemudian Kyungsoo menatap kearah Jongin yang juga tengah berusaha melepaskan diri dari dekapan pria berbadan besar lain yang masih saja mengunci kedua lengannya dibelakang tubuhnya.

Bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan Taeoh?

"Drama ini akan segera berakhir jika kau mau menandantangani kertas-kertas ini, Kyungsoo" kata Changmin datar memecah keheningan. Tangan kanannya menyodorkan kertas-kertas yang baru saja ia pungut dari atas aspal. Kyungsoo mendelik tak percaya. Bahkan disaat seperti ini Paman Oh masih saja memojokkannya.

"Kau keterlaluan" desis Sehun yang tentu saja dapat didengar jelas oleh Changmin.

Pria itu mengarahkan pandangannya pada Sehun lalu mendecih. Setahunya Sehun adalah anak manis dan penurut. Ia yakin kedatangan Sehun hanya untuk memberi gertakan bawang padanya. Ya, tidak akan merubah apapun.

Namun dugaannya salah. Changmin belum tahu siapa Sehun jika diluar rumah. Setahunya Sehun adalah anak baik-baik. Bahkan temannya hanya Kyungsoo setiap harinya. Ia tidak pernah tahu jika ternyata Sehun adalah seorang berandal terlatih.

"Bukankah Appa sudah bilang padamu, Sehun. Seharusnya kau belajar dan menjadi anak manis dirumah"

"Cih!" Sehun mendecih "Kau terlalu meremehkanku, Tuan Oh"

Deg

Lagi-lagi dada Changmin terasa didobrak. Ia tidak pernah tahu jika nada bicara Sehun bisa menjadi penuh dendam seperti itu.

Sehun melirik sekilas pada Jongin, memberi gesture untuk melakukan rencana yang sebelumnya telah mereka diskusikan bersama.

Ya, mereka sempat bertemu sesaat sebelum semua kejadian membingungkan ini terjadi. Saat itu Jongin maupun Sehun telah lebih dulu mencium ketidakwajaran dari sikap Changmin. Kalian tentu tidak lupa siapa Jongin bukan? Ia memiliki banyak taktik untuk mengetahui siapa dalang dibalik ini semua. Maka dari itulah mereka berdua sempat beradu pikir untuk sekedar merencanakan suatu hal yang mungkin saja terjadi. Dan ternyata dugaan mereka benar.

Jongin menatap mata Sehun, ia membaca setiap kalimat tak kasat mata yang tertulis pada kelopaknya. Dan Jongin mengerti. Ia mulai bersiap-siap. Sedikit melebarkan kakinya untuk membentuk posisi kuda-kuda. Setelah ia rasa posisinya tepat, ia mengangguk sekali guna memberi tanda pada Sehun.

Mengerti akan kode itu, secepat kilat Sehun mengeluarkan dua buah handgun dari dalam mantelnya. Sedangkan Jongin memulai penyerangan dengan menendang tulang kering serta memukul perut seorang pria yang sedari tadi mengunci pergerakannya. Pria itu mengeram kesakitan hingga membuat pegangan pada tubuh Jongin terlepas. Melihat Jongin yang telah berhasil melakukan perlawanan dengan segera Sehun melemparkan satu handgun-nya pada Jongin dan ditangkap dengan cekatan olehnya.

Changmn dan juga beberapa anak buahnya tercekat. Kejadian ini terlalu cepat hingga tak ada kesempatan untuk mereka melakukan suatu tindakan. Kini Sehun dan Jongin tengah berdiri dengan kedua punggung mereka saling bertemu. Mata mereka mengedar, mengawasi setiap gerakan yang mungkin saja dapat melukai mereka secara tiba-tiba.

Anak buah Changmin melakukan respon baik. Beberapa yang ternyata bersembunyi dari balik peti kemas langsung berlarian keluar. Membentuk lingkaran, bermaksud mengepung dan melumpuhkan Jongin dan Sehun. Namun hal itu tak membuat mereka takut.

Saat tengah mengawasi para pria berbadan tegap itu, tiba-tiba saja mata Jongin menangkap pergerakan pria yang tengah membekap Taeoh diujung sana. Pria itu mengendap menjauhi lokasi ini, mungkin membawa Taeoh ketempat Tuannya. Entahlah.

Kemudian Ia melirik pada pria yang membekap Kyungsoo. Sepertinya pria itu tidak berniat membawa Kyungsoo menjauh seperti yang dilakukan pria tadi dengan Taeoh.

Tunggu, bukankah ini aneh?

Taeoh dan Kyungsoo adalah sandera. Tapi mengapa hanya Taeoh yang dibawa pergi jika ternyata kunci mereka adalah Kyungsoo? Siapa Taeoh? Atau siapa pemilik Taeoh?

"Cih!" decihan keras itu membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang berputar dikepala Jongin. Membuat atensinya kembali pada Changmin dan anak buahnya yang tengah bergerombol mengelilingi dirinya dan Sehun.

"Jadi ini bentuk perlawanan kalian padaku?" tangannya kembali mendekatkan ujung handgun pada pelipis Kyungsoo "Menarik" lanjutnya.

Jongin tercekat saat melihat mata Kyungsoo yang lagi-lagi terpejam. Sedangkan Sehun yang tak dapat melihat Kyungsoo (karena posisinya yang berhimpitan punggung dengan Jongin) membuatnya mengeram. Ia tahu jika Appanya pasti tengah melakukan sesuatu jika tubuh Jongin mendadak tegang seperti ini.

"Menurutmu begitu?" nada yang keluar dari bibir Jongin terdengar sangat dipaksakan. Mengerti jika sesuatu yang tidak baik dari diri Jongin akan segera bangkit, Sehun berusaha mengalihkan perhatian. Dengan cekatan ia berbalik, mengganti posisi. Kini ialah yang menghadap sang Appa sedangkan Jongin berhadapan dengan para pria berbadan besar yang tengah mengacungkan handgunnya kearah mereka.

"Kau melupakan satu fakta, Appa" suara parau Sehun mengalihkan atensi. Changmin mengerutkan dahi, menunggu kalimat apalagi yang akan keluar dari bibir putranya.

"Kau melupakan siapa dirimu sebenarnya. Kau menganggap jika kau dihianati Tuan Junmyeon maka kau membalasnya dengan penghianatan. Namun kau melupakan hal terpenting dari itu,,," Sehun menjeda kalimatnya. Ia membentuk sebuah seringaian mengerikan yang membuat Changmin berkerut "Tidakkah kau berfikir jika penghianatan itu akan kembali terjadi?"

Deg

Kali ini bukan hanya Changmin, namun Kyungsoo dan Jongin pun ikut larut dalam situasi yang dibawa Sehun. Mencekam.

Miris memang saat melihat pasangan Ayah dan anak ini. Rasa sayang dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun lamanya hancur hanya dalam waktu beberapa menit saja. Dan masalahnya hanya sederhana, sebuah kedudukan.

Bukankah ini terlalu brengsek jika harus dilewati dengan tetesan darah akibat lolosnya proyektir dari selongsongnya?

"Hahahaha..." Changmin tertawa lebar, begitu menggema hingga membuat sosok bermata bulat kembali bergetar takut "Kau lucu sekali, Sehun. Darimana kau belajar merangkai kata seperti itu, hah?"

Sehun berseringai kemudian sedikit menyikut Jongin, memberi kode.

"Jika ucapanku kau anggap lucu, maka yang ini akan jauh lebih lucu,,,Appa"

DOR! DOR!

...

...

Beberapa tim dari masing-masing agent itu tengah sibuk melaksanakan tugas mereka masing-masing. Tim Kris yang tengah mencoba menahan serangan dari pertahanan depan, Tim Chanyeol yang tengah sibuk mempertahankan penjagaan dari sisi kanan dan kiri markas, Tim Xiumin yang mempersiapkan jalan rahasia untuk mereka lari jika saja sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan Tim Jongdae yang diberi kepercayaan untuk pergi membantu Jongin dan Sehun. Mereka melakukan tugas dengan sangat baik. Berusaha untuk tetap tenang dengan perlawanan yang maksimal adalah salah satu cara untuk tetap menjaga otak mereka agar tak terpancing emosi.

DUUUMB!

Satu lagi ledakan granat yang membuat kaca-kaca disetiap ruangan markas bergetar. Kris sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab atas anggotanya menginteruksi agar mereka melindungi diri masing-masing. Karena keselamatan anggotanya juga adalah prioritas utama.

"Bersiaplah Chanyeol, mereka mulai ganas" ucap Kris melalui earclipnya.

"Aku tahu" balas Chanyeol dari seberang.

Markas ini sangat besar dan luas. Pertahanannya-pun juga sangat hebat, namun seberapapun kuat dan hebatnya pertahanan markas, jika telah diterpa granat dan bom dengan daya ledak kecil saja juga pasti akan runtuh.

Kris memicing saat merasakan getaran yang lebih besar dari yang sebelumnya. Ia melihat dengan sangat jelas jika dinding beton yang menjulang kokoh dihadapannya kini mulai retak. Kris menginteruksikan pada seluruh anggota timnya untuk bersiap menyerang. Dan benar saja, setelah ledakan terakhir terdengar, dinding beton itu hancur tak berbentuk.

Kris dan juga seluruh anggota timnya bersiap, mengangkat senjata mereka masing-masing untuk menyerang balik. Keadaan sangat kacau, orang-orang berpakaian serba hitam itu terus saja menembak apapun yang mereka anggap mengganggu. Mereka menyerang dengan brutal, sangat menunjukkan betapa inginnya mereka melumpuhkan markas beserta para tim Kris.

Suara riuh alarm menandakan jika pertahanan depan telah terbobol. Chanyeol dan Xiumin yang berada ditempat berbedapun mengerti akan situasi ini. Mereka memerintahkan sebagian pasukan untuk menuju markas depan untuk membantu tim Kris. Mereka tahu jika keadaan pasti akan terus memburuk setelah ini.

Kris menunduk saat sebuah tangan kekar hendak menghantam sisi wajahnya. Dengan cekatan ia menepis segala serangan dan menembak siapapun yang berusaha mendekat padanya. Suasana sangat kacau, tim SWAT yang bekerjasama dengan polisi sedikit banyak membuat tim Kris kewalahan. Mereka terlalu banyak dan serangan yang mereka keluarkan juga terlampau ganas.

Lelaki bersurai pirang itu melirik pada beberapa orang yang sedang bersiap akan menyerang salah satu timnya, namun dengan sigap Kris menembak orang-orang itu dengan tepat. Kris berseringai saat melihat sasarannya tergeletak tak bernyawa dengan darah berceceran dilantai. Jika serangannya selalu tepat sasaran seperti ini, maka akan sangat membantu tim Chanyeol menyisakan sisianya.

DOR! DOR!

Duuumb!

Brakk!

Suara-suara kehancuran mulai tercipta. Kris bersembunyi dibalik lemari besi besar disudut ruangan. Matanya yang awas menatap tajam pada beberapa orang yang hendak menembak timnya. Ia berseringai lebar sambil mengangkat hangdunnya kearah lawan saat mengetahu pergerakan itu.

"Mati kalian, brengsek!" desisnya penuh ancaman. Dan beberapa proyektil berhasil bersarang pada dada dan kepala mereka hingga membuat tubuh sang lawan terkapar begitu saja.

...

...

Sementara itu ada Tuan Wu dengan beberapa anak buahnya yang tengah mengendarai mobil hitam mewah menuju kesuatu tempat. Sebuah markas dimana relasinya bekerja untuk mencari bantuan. Terkesan mendadak memang, namun inilah satu-satunya cara untuknya dapat menyelamatkan markas yang telah ia bangun dengan susah payah sejak awal masa jayanya dulu.

Setibanya ditempat yang ia tuju, Tuan Wu segera menemui teman lamanya yang sudah lebih dari 5 tahun tak dijumpainya. Dengan pengamanan markas yang tak kalah hebat dengan markasnya, ia dapat dengan mudah memasuki lokasi tersembunyi itu. Bagaimana bisa? Jangan lupakan statusnya sebagai relasi lama sang pemilik markas.

Setelah bertemu dan membicarakan maksud dari kedatangannya, akhirnya Tuan Wu mendapat kepercayaan dari sang teman lama. Mereka menyebutnya Tuan Donghae. Sang pria berkharisma dengan pemikiran tegas namun penuh simpati. Tuan Donghae dengan sennag hati membatu Tuan Wu, mengingat pria itu juga pernah membantunya semasa muda dulu.

Kesepakatan tercapai dan Tuan Donghae telah memerintahkan anak buahnya untuk segera bergerak. Senyum penuh rasa terimakasih mengembang dari belah bibir Tuan Wu, kemudian ia beranjak pergi setelah mendapat kepercayaan besar dari sang sahabat.

"Tinggal satu lagi tempat yang harus kita kunjungi. Lajukan mobil dengan cepat, Sungjae. Keadaan genting ini harus segera diakhiri" ucapnya pada Sungjae, sang asisten pribadi kepercayaannya.

Mobil itupun melaju kencang membelah jalanan kota Seoul yang sudah menggelap menuju sebuah kantor besar dengan beberapa mobil bersisirine yang terparkir apik dihalaman luas bangunan kokoh itu. Tempat yang biasa mereka sebut, Kantor Polisi Pusat.

...

...

Jongin tengah menembakkan handgunnya kearah pria berbadan tegap yang berlari menyerangnya. Entah sejak kapan pria-pria itu datang. Yang ia ingat hanya beberapa mobil besar datang membawa pasukan dan menyerang dirinya dan Sehun.

Jongin, lelaki berkulit tan itu masih berusaha melawan, bersembunyi dibalik tumpukan petikemas untuk melindungi dirinya dari serangan para mafia gadungan itu. Hal tak jauh berbeda dialami Sehun, lelaki berkulit putih itu berlari ketempat sempit untuk melindungi dirinya dari tembakan-tembakan ganas yang mereka berikan.

"Jongin, kau sudah memakia earclipmu?" desis Sehun

"Ya. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Mereka terlalu banyak" ucap Jongin sambil terus berusaha menembak musuhnya.

Sehun terdiam, matanya mengawasi setiap orang yang terus berusaha mengincarnya dan Jongin. Namun tiba-tiba suara riuh dari deru mobil menerpa pendengaran mereka.

Mata kedua lelaki yang berada ditempat persembunyian berbeda itu melebar kala melihat sosok yang sangat mereka kenal.

"Jongdae hyung" gumam Sehun dan juga Jongin bersamaan.

DOR!

DOR!

Suara tembakan langsung menggema menandakan jika Jongdae dan juga pasukannya berusaha mengambil alih penyerangan.

Sehun dan Jongin tersenyum lebar, ah...akhirnya mereka datang disaat yang tepat.

"Hyung~...hyung~"

Pendengaran Jongin menajam ketika samar-samar suara bocah masuk kedalam rongga telinganya.

Ia meneliti sekitar, lalu melihat siluet pria berbadan besar yang tengah membekap tubuh Taeoh. Ia menggemeretakkan rahangnya kala erangan dari sang bocah menusuk dadanya.

"Sial!" tanpa berpikir dua kali lagi, Jongin akhirnya berlari sambil merunduk untuk mendekati Taeoh.

"Jongin, kau mau kemana?" tanya Sehun saat melihat gerakan tiba-tiba dari lelaki berkulit tan itu.

DOR!

DOR!

Atensi Sehun langsung teralihkan.

"Sehun, kau dimana?" bisik sebuah suara dari seberang earclip. Jongdae.

"Aku berada tak jauh darimu, hyung. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kyungsoo sedang dalam keadaan tidak baik. Haruskah aku datang menyelamatkannya sekarang?" Sehun berkata seperti orang kesetanan. Yang ada diotaknya hanya Kyungsoo. Tak mempedulikan Jongin yang baru beberapa detik lalu meningggalkannya.

Jongdae terdiam sesaat, kemudian matanya melirik kearah Kyungsoo berada. Ia sangat tahu jika Sehun dalam keadaan panik. Bagaimana tidak, Kyungsoo sudah terlihat lemas disana. Dan Paman Oh masih saja mengarahkan handgun pada pelipisnya hingga membuat Kyungsoo tak dapat bergerak barang sedikitpun.

"Tenangkan pikiranmu, Sehun. Kau boleh menyelamatkan Kyungsoo jika emosimu terkontrol. Kau tidak ingin sesuatu terjadi padanya, bukan?" Jongdae menginterupsi.

Dari seberang earclip, Jongdae dapat mendengar helaan napas panjang Sehun. Ia tahu jika Sehun tengah berusaha melakukan apa yang baru saja ia katakan. Bukankah Sehun begitu manis untuk ukuran remaja nakal? Tidak seperti Jongin yang justru tak menghiraukan Kyungsoo yang sedang dalam bahaya. Kemana bocah tengil itu sebenarnya?

...

...

Reflek berkedipnya seolah hilang saat melihat bocah kecilnya berada didalam dekapan pria berjas hitam. Matanya menatap tajam. Rasa ingin menyerang seketika menyergap. Didepannya, berdiri sosok yang sudah tak asing lagi baginya. Sosok yang selama ini menjadi musuh dalam keterdiaman keluarga Do. Yunho.

Pria itu berseringai saat tubuh bocah kecilnya mengalung erat pada lehernya. Taeoh seolah tak merasa takut barang sedikitpun.

Tunggu, bukankah Yunho dalang dari semuanya? Sangat aneh jika Taeoh merasa tak takut padanya.

"Kau memiliki insting yang sangat kuat, Tuan Muda Kim" suara paraunya membelah pikiran Jongin. Seketika atensinya kembali.

"Kembalikan Taeoh" ucapnya datar tanpa mempedulikan beberapa bodyguard Yunho yang mulai mengacungkan senjata kearahnya.

"Meminta Taeoh? Hahaha..." tawa Yunho pecah. Tawa meremehkan yang membuat kepala Jongin mendidih seketika "Wah,wah instingmu benar-benar kuat ternyata. Tak heran jika Yixing sangat berhati-hati terhadapmu"

Deg

Jongin mematung ditempat.

Mengapa Yunho membawa-bawa nama Umma-nya?

Ada apa sebenarnya?

"Tidak heran jika kau lebih memilih menyelamatkan saudara seibumu dari pada saudara kandungmu" ucap Yunho sambil merapatkan gendongan Taeoh padanya kemudian berseringai lebar saat mendapati kebingungan dari Jongin.

"Jangan berlagak bodoh Tuan Muda Kim. Bukankah kau telah mengetahui segalanya mengenai Ibumu? Atau kau belum mengetahui sama sekali? Wah, sayang sekali" ejeknya.

Jongin masih terdiam. Ia merasa belum mengerti dengan perkataan Yunho.

Apa maksud dari saudara seibu?

Tunggu!

"Jadi maksudmu Taeoh adalah..." Jongin menggantung kalimatnya.

"Bagus jika kau telah memahaminya" Yunho kembali berseringai "Kau tidak akan membawa Taeoh kemana-mana Tuan Muda Kim Jongin. Karena Taeoh adalah putraku"

Bagaikan dihantam benda tumpul, dadanya terasa sakit. Jadi selama ini Umma-nya tak hanya menghianati keluarga Do, melainkan juga menghianati dirinya dan Jongdae?

Jongin merasakan lututnya melemas seketika. Ia tidak cukup bodoh untuk mengerti arti kata 'saudara seibu'. Taeoh adalah adiknya. Adik dari hasil perselingkuhan Umma nya dengan Yunho. Tapi mengapa Yunho menjadikan Taeoh sebagai alat pengintaian? Ayah macam apa dia?

"Brengsek!" ucap Jongin penuh tekanan. Namun dibalas senyum miring dari Yunho.

"Ya, aku memang brengsek. Untuk itulah aku berjalan sejauh ini. Dunia perbisnisan memang sangat kejam Tuan Muda. Aku rasa kau memahaminya"

"Manusia macam apa kau?!" desis Jongin penuh kebencian.

"Bukankah kau telah mengetahui seluk belukku? Ahh...aku lupa, kau tidak lebih dari bocah ingusan yang berpura-pura sok pahlawan"

Jongin merasa geram. Ia menggerakkan kakinya dengan cepat berniat menyerang Yunho. Namun baru beberapa langkah ia berjalan para bodyguard Yunho mendekat kearahnya sambil mengarahkan handun ketubuhnya.

Jongin terdiam. Ia lupa jika banyak sosok pelindung Yunho sekarang. Ia harus menjernihkan kepalanya. Ini bahaya, jika Yunho tega menjadikan Taeoh sebagai umpan maka tidak menutup kemungkinan ia akan melukai Taeoh juga. Meskipun ia tahu jika Taeoh adalah putra kandungnya. Hati manusia, siapa yang tahu.

"Ada dua pilihan untukmu, Tuan Muda Kim"

Jongin kebali menatap Yunho. Lebih tajam kali ini. Ia menangkap pergerakan tangan Yunho lalu beberapa detik berikutnya pria itu menunjukkan beberapa lembar kertas padanya.

"Tanda tangani kertas ini atau" Yunho menjeda kalimatnya. Bibirnya berseringai ketika lagi-lagi tangannya bergerak, mengambil sesuatu yang tersimpan pada saku celana kainnya "melihat Taeoh mati"

Lagi-lagi ucapan mengejutkan itu berhasil membuat Jogin menggemeratakkan rahangnya. Ia melihat sebelah tangan Yunho yang tak menopang Taeoh tengah menggenggam sebuah suntikan.

"Apa maksudmu, brengsek!" sekuat tenaga Jongin meredam emosinya, hingga suara yang ia keluarkan terdengar sedikit bergetar.

"Ini adalah cairan metanal. Jika masuk ketubuh Taeoh, maka ia akan mati dalam hitungan jam"

Jongin mengeram, ia melirik pada kertas itu dan pada Taeoh bergantian. Ia tak habis pikir, ancaman macam apa ini? Mengapa harus mengorbankan Taeoh?

"Bukan hanya Taeoh, mungkin sekarang Kyungsoo juga tengah berada dalam situasi yang sama. Bukankah menyuntikan cairan ini akan lebih mudah ketika sang korban tak dapat berkutik seperti sekarang? Benar kan, Taeoh?"

Sang bocah kecil mengerjap polos. Ia memang tidak mengerti dengan perkataan Yunho, namun melihat senyum manis dari sang Appa membuat Taeoh ikut tersenyum. Sangat berbeda dengan rasa ketakutannya beberapa saat yang lalu.

"Benal, Appa"

"Kau benar-benar bajingan, Yunho! Terbuat dari apa hatimu!"

Senyum yang semula mengembang dari bibir Yunho tiba-tiba menghilang. Berganti dengan raut penuh amarah dari sorot matanya.

"Bajingan? Brengsek? Kau harus mengetahui batasanmu, bocah sialan!" Yunho memberi gesture pada bodyguard-nya, kemudian secara bersamaan mereka semakin mendekat kearah Jongin dengan handgun yang masih mengarah ketubuhnya.

Mata tajamnya menatap Yunho yang kembali tersenyum. Sambil menggendong Taeoh, ia mendekat kearahnya. Tangannya yang lain mengarahkan kertas-kertas itu didepan wajahnya.

"Keputusan berada ditanganmu, Tuan Muda Kim"

Wajah Jongin memerah karena berusaha menahan emosi dan tidak menyerang Yunho sekarang juga. Ia tidak mungkin menandatangi kertas ini dan mempercayai gertakan bodoh dari Yunho. Tidak! Ia harus mencari cara agar ia dapat keluar dari lingkaran penjebakan ini.

Kemudian satu ide muncul dikepalanya. Ya, mengapa itu tidak terpikirkan sedari tadi. Earclip yang terpasang ditelinganya belum ia nonaktifkan, itu berarti Sehun maunpun Jongdae mengetahui isi percakapannya dengan Yunho.

Tiba-tiba senyum Jongin mengembang. Ia sedikit berdehem dan menggerakkan bibirnya.

"Bebek" sebuah kode yang tentu saja tak dimengerti oleh Yunho maupun para bodyguard-nya.

Benar saja, Yunho merengut bingung. Sementara Jongin kembali melebarkan senyumnya saat earclip itu bergemerisik. Sebuah respon.

"Berhenti menggunakan kode'bebek' bodoh!" sewot sebuah suara dari seberang "Aku mengawasimu sekarang. Gunakan rencana awal, aku dan tim yang akan menyelesaikan sisanya"

Guratan kemenangan nampak jelas pada air muka Jongin. Ia melirik salah satu anak buah Yunho yang berada paling dekat dengannya. Dengan handgun yang masih ia genggam, ia yakin jika rencananya kali ini akan berhasil.

"Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa diakhir drama, Tuan Yunho yang terhormat"

Yunho menatap tajam mata elang milik Jongin. Belum sempat ia mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba saja dengan cepat Jongin bergerak meraih handgun dari tangan anak buah yang berjarak paling dekat dengannya. Ia memiliki dua handgun sekarang. Namun ia tahu jika tindakannya menimbulkan reaksi cekatan dari anak buah Yunho yang lain. Jongin bukan seorang agent abal yang tak dapat melihat pergerakan dari anak buah Yunho, justru sekarang ia dapat melihat mereka dari sisi manapun.

Jongin berseringai kecil ketika melihat reaksi Yunho, hingga sebuah suara memekakkan menggema memecah keheningan malam.

DOR!

DOR!

...

...

TBC

...

...

Selamat malam readers tercinta...

JongSoo hadir membawa chapter 12. Maaf karena terlambat update lagi. JongSoo mengalami kejadian tidak mengenakkan beberapa hari terakhir dan itu berdampak pada mood menulis yang ababil ini. Maaf juga jika chapter ini terkesan sangat terburu-buru. Maafkan, huwee...

Untuk readers yang bertanya-tanya siapa Taeoh, disini sudah terjawab kan? Jadi kehadiran Taeoh ditengah-tengah mereka itu ada alasannya, dan alasannya adalah seperti yang tertulis diatas. Khekhe...

Umh, mengenai fic Vampire or Dog? JongSoo nggak janji bisa update cepet ya, tapi akan tetap diupdate pada bulan ini kok.

.

Park Rinhyun-Uchiha : Mian karena lagi-lagi terlambat UP. Semoga nggak lupa jalan ceritanya lagi ya :D

Kim YeHyun : Sudah up lagi. Mian kalau adegan actionnya terkesan terburu-buru. Feel nya radak nggak ngena.

justme : Hunhan nya kagak ada khekhe... karena Luhan sudah nggak ada skenarionya lagi disini, chingu-ya. Mianhae...

keyd.o : Khekhe...yang ini masih bikin serangan jantung nggak? Atau serangan yang lainnya malah? *eh?

whenKmeetK : Sudah up. Gomawo~

kaidossi : Jongin bego? Hahaha...kesannya begitu ya? Ahh...mungkin memang iya. *lhoh?

rakaahmada : Gomawo sudah meneliti tulisan Jongsoo, chingu-ya~

fani : Markas dihancurkan? Umh, akan dipikirkan :D Kalau moment Kyungsoo bisa bicara lagi sepertinya nggak bisa chingu. Bukan apa-apa, kalau dipikir secara logika kan nggak mungkin sesuatu yang sudah rusak bisa kembali normal apalagi organ manusia, Radak sedikit mustahil

Rahmah736 : Ini sudah next chingu-ya~

waiz Snivy : Sudah update dek. Setelah melewati berbagai tantangan dan rintangan *eaa...

kianaevellyn : Iya, yang datang thi cadel :D

dinadokyungsoo1 : Makin menegangkan ya? Sengaja memang :D

yuniawijayanti2002 : Iya itu thi thehun. Udah Up kok. Gomawo~

Dyeolatte6112 : Hunsoo moment belum ada lagi. Huwee...gak papa kan ya? :D

dokyungie aL : Iya, bapaknya thehun emang gila :D Sudah up, gomawo~

Sofia Magdalena : Iya, pahlawan kesiangannya thi thehun, wkwk...

dobylovesbanana : Mian karena nggak fast update nya. Semoga memuaskan chap ini :D

Yessi94esy : Iya posisi thehun memang sangat sulit tapi thehun anak pinter kok hehe... di chap ini udah kejawab kan rasa penasaran sama sosok Taeoh? :D

Ji Minsoo : Huwaa...maafkan Jongsoo yang lagi-lagi nggak fast update. Semoga chingu nggak harus baca dari 2 chap sebelumnya lagi ya :D

Ara : Sudah update chingu~ gomawo~

anisafransiskaa : Terimakasih karena terus menunggu fic ini chingu-ya. Huwaa...aku terhura :D Kaisoo akan tetap bersatu kok, kan mereka jodoh *eh?

: Sudah Update chingu~ semoga nggak penasaran lagi ya?

SevtrisaV : Iya thi thehun dek :D Chap 12 nya udah update :D

xkaisoone : Sudah dilanjuut~ gomawo sudah menanti

Guest : Iya, Kyungsoo akan tetap nggak bisa bicara. Mianhae...

meliarisky7 : Iya, thi thehun yang hadir :D Themoga aja kyung taeoh bitha thelamat ya :D Tunggu chap depan

1 : Sudah dilanjut, gomawo~

xxxibgdrgn : Kyaa...kok aku digigit :D

nabila1201 : Sudah dilanjut, gomawo chingu-ya

KimJongRa : Khekhe mencak2 nya sama Tao, berani? Ini sudah update, yaey!

meyriza : Iya mey, no problem :D gomawo~

.

Maaf atas keabsurd-an chapter ini. Maaf jika ada yang nggak puas, tapi tolong hargai kerja keras saya sebagai Author. Caranya?Dengan meriview :D

Gomawo readers baik :D

Saranghae :*