Length : Chaptered
Disclaimer : All characters belong to God, their parents and their agency. But this fanfic belong to me
Cast : All BTS member
Rating : T
Warning : YAOI. MPREG. OOC. Typo(s) (g saya edit ulang. He he), story line agak gajelas, etc.
[Tolong perhatikan ya! Kalau yang kata dicetak miring itu berarti flashback. Aku ga menggunakan keterangan kata 'flashback on / off' karena kurasa itu menganggu jalan ceritanya. Thankyou~]
.
.
~Hunaxx present~
.
.
A Gift from The Hell
.
.
This is Yaoi. MPREG. Don't like? Don't read. NO BASH! And NO PLAGIAT! NO NO NO
.
.
ENJOY!~
.
.
.
.
.
"Jepang—
Sungyeon menuliskan sesuatu pada secarik kertas.
—Yokohama. Yoongi berada di Yokohama—
Disebuah perumahan yang ada dikota itu. Aku sudah menuliskan alamat detailnya disitu. Temuilah. Temui Yoongi." Sungyeon menyudurkan kertas yang tadi ditulisnya pada Jimin.
Mata Jimin menatap sederet alamat yang terdapat di kertas itu, lalu tersenyum tipis pada Sungyeon. "Terima kasih noona."
"Apapun akan kulakukan untuk kalian."
.
Sesampainya di dorm, Jimin langsung menyambar ponselnya yang tadi memang tidak dibawanya dan tergeletak di sofa. Menghubungi sederet nomor yang ada di kontaknya dan menunggu dengan tidak sabar.
"Ha—
"Sejin hyung!" Jimin hampir memekik ketika panggilannya diangkat dan suara seseorang yang sangat dikenalinya terdengar.
"Astaga tidak perlu berteriak seperti itu. Ada apa?"
"Batalkan semua jadwalku untuk besok hyung—
"APA?! Kau gila—
"Ya, memang aku gila. Dan hyung kumohon bantu aku kali ini. Pesankan aku tiket pesawat untuk keberangkatan besok langsung ke Yokohama."
.
.
"APA?! KAU AKAN KE JEPANG?" ini suara Taehyung. Yang langsung histeris saat Jimin memberitahu niatnya untuk berangkat ke Jepang.
"Kau serius?"
"Aku ingin ikut Jimin ke Jepang!"
"Jungkook!"
"Ih iya iya maksudnya ingin ikut Jimin hyung ke Jepang."
Ini sudah pukul sembilan malam. Tapi para penghuni dorm ini masih berkumpul duduk membentuk lingkaran di ruang tengah. Ini terjadi karena Jimin yang tiba-tiba bilang bahwa dia akan membericakan sesuatu.
"Yoongi hyung ada di Yokohama. Aku harus pergi kesana. Kau tahu aku bisa gila jika lama-lama jauh darinya." Jimin mengusak rambutnya frustasi.
Cukup.
Sudah cukup kemarin-kemarin dia gila karena Yoongi yang pergi darinya. Kini tidak lagi. Dia akan menemui Yoongi. Tidak peduli Yoongi akan menolaknya nanti.
"Kau benar-benar yakin akan pergi besok? Besok kita ada jadwal." Namjoon berucap. Mengingat-ingat tentang jadwal grup mereka untuk esok hari.
"Iya hyung. Aku sudah bicara pada Sejin hyung dan dia bisa menanganinya. Aku—aku hanya perlu bertemu Yoongi hyung."
Member lain terdiam. Mereka tahu bagaimana Jimin begitu merindukan Yoongi. Mereka saja rindu berat dengan Yoongi. Apalagi Jimin?
Seokjin yang saat itu duduk disebelah Jimin, menepuk pundaknya. "Kau tahu tidak mungkin kami melarangmu untuk pergi. Pergilah dan bawa pulang Yoongi kembali."
Jimin tersenyum lebar. Dia tidak sabar menunggu hari esok.
.
.
"Kau belum menjelaskan padaku semuanya, Park." Lelaki disampingnya mendengus lalu memukulkan tangannya pada kepala lelaki yang satunya. Sedangkan yang menerima pukulan hanya tertawa.
"Aku akan menjelaskannya nanti hyung. Aku harus mengejar cintaku."
"Bodoh. Cepat selesaikan urusan kalian dan bawa Yoongi kembali padaku. Aku rindu dengannya."
"Tentu. Aku akan membawa Yoongi hyung kembali."
"Hati-hati Jimin-ah."
"Ya. Terima kasih untuk bantuannya Sejin hyung." lelaki yang menggunakan kaus biru itu mengangguk. Lalu berjalan menjauhi Jimin yang sudah mengambil duduk di ruang tunggu. Pesawat yang akan menerbangkannya menuju Yokohama berada di jam delapan. Jimin sengaja mengambil keberangkatan pagi agar lebih cepat sampai disana.
Karena Jimin benar-benar merindukan Yoonginya.
.
.
Yoongi menggeliat dalam tidurnya. Sedikit terusik karena cahaya matahari yang menerobos masuk ke kamarnya melalu celah jendela. Yoongi meregangkan tubuhnya sedikit. Dia merasa pegal. Selalu seperti ini ketika bangun tidur. Yoongi duduk dan memerhatikan jam dinding. Sudah pukul setengah sebelas. Berarti dia tidur lama juga. Oh mungkin tidak juga. Semalam Yoongi baru tidur jam tiga pagi karena insomnia nya yang entah bagaimana bisa tiba-tiba kambuh kembali.
Kaki nya melangkah menuju dapur. Yoongi melihat sebuah post it berwarna biru yang ditempelkan di pintu kulkas.
Oppa, jangan lupa memakan rotinya dan minum vitaminmu!
Semoga harimu menyenangkan!^^
Tangan Yoongi mencopot post it itu lalu meletakkannya di meja makan yang sudah terdapat beberapa roti dengan selai dan segelas susu. Hana benar-benar gadis yang dapat diandalkan. Yoongi cukup diuntungkan dengan keberadaan gadis tersebut. Mungkin kalau Hana tidak ada Yoongi tidak akan mengingat untuk meminum vitaminnya setiap hari.
Yoongi mengambil roti tadi lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi. Mencari-cari channel yang sekiranya menarik. Tapi beberapa saat kemudian Yoongi mengingat sesuatu.
'Oh iya aku harus ke supermarket'
Yoongi memang ingin ke supermarket karena bahan makanan di kulkas sudah menipis. Tidak mungkin dia menyuruh Hana berbelanja karena pastilah gadis itu sibuk dengan pekerjaannya. Maka dari itu Yoongi dengan cepat memakan rotinya dan meminum susunya. Dia berniat untuk mandi dan akan ke supermarket setelahnya.
Tapi saat akan beranjak ke kamar mandi, Yoongi mendengar bel rumah berbunyi. Yoongi mengernyit. Selama dia tinggal disini, jarang sekali ada yang bertamu. Itu dikarenakan dia tinggal di kawasan perumahan cukup elit yang rata-rata berisi orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri tanpa perlu repot-repot bertamu ke rumah orang lain.
Akhirnya Yoongi berjalan menuju pintu depan, tanpa curiga apa-apa membuka pintunya. Dia berfikir mungkin saja Sungyeon? Wanita itu pernah bilang akan mengunjunginya.
Dan betapa terkejutnya Yoongi ketika membuka pintu dan melihat seorang lelaki dengan surai dark brown yang berdiri tegap dihadapannya sekarang. Walaupun lelaki tadi menunduk dan warna rambutnya yang berbeda, Yoongi tetap dapat mengenalinya.
"J-jimin."
Merasa ada yang memanggilnya, lelaki tadi menegakkan tubuhnya. Matanya menatap langsung pada Yoongi yang berada tepat dihadapannya. Kilat matanya menunjukkan kerinduan yang begitu besar.
"Yoongi hyung" Jimin melangkah maju melihat Yoongi yang masih berdiri kaku didepannya. Yoongi hanya terlalu terkejut. Bagaimana bisa Jimin berada didepannya sekarang?
Sedangkan Jimin hanya menatap rindu pada Yoongi. Matanya menelisik Yoongi dari atas hingga bawah. Yoongi dengan piyamanya yang bermotif kumamon. Tidak ada yang berubah. Mungkin sedikit. Perut Yoongi sudah terlihat sedikit buncit. Jimin tersenyum melihatnya. Ah pasti anak mereka tumbuh dengan pesat didalam sana.
Yoongi perlahan mundur, dengan Jimin yang semakin melangkah maju. Jimin menutup pintu dengan kakinya. Matanya masih belum lepas menatap Yoongi. Dia benar-benar merindukan Yoongi, dan sekarang doanya terkabul. Dia dapat melihat Yoongi, Yoongi hyungnya yang begitu dicintainya.
Mata Yoongi menatap pada Jimin. Jimin terlihat berbeda. Pipinya terlihat tirus dengan kantung mata yang terlihat mengerikan. Jimin jadi terlihat agak menyedihkan.
"Yoongi hyung—aku merindukanmu. Sangat."
Bruk
Dan Jimin langsung berlutut dan memeluk pinggang Yoongi erat. Tidak peduli Yoongi akan menolaknya atau menendangnya nanti. Jimin tersenyum merasakan pipinya yang bersentuhan dengan perut buncit milik Yoongi. Jimin berkali-kali menciumi perut itu dengan Yoongi yang masih diam tidak bergerak. Terlalu terkejut melihat Jimin datang.
"Papa merindukan kalian. Selama papa tidak ada kalian tidak merepotkan mama, 'kan?" Jimin berbicara di depan perut Yoongi yang berbalut piyama tersebut. Kemudian menciuminya. Yoongi hanya diam saja menatap Jimin.
Merasakan tidak ada penolakan dari Yoongi, Jimin menegakkan tubuhnya kembali. Menatap dalam pada mata Yoongi. Lalu dalam sekejap, tubuh Yoongi sudah berada didalam dekapannya.
"Tidak—jangan pergi lagi hyung." Jimin menumpukkan dagunya pada pucuk kepala Yoongi. Suaranya seperti ingin menangis. Yoongi jadi merasa bersalah.
"Maaf. Maafkan aku." perlahan tangan Yoongi merambat ke punggung Jimin, balas memeluknya.
"Jangan. Jangan pergi dariku. Aku tidak bisa. Aku hancur tanpamu hyung."
Jimin menciumi pucuk kepala Yoongi. Yoongi hanya diam sedari tadi. Bukan, bukan Yoongi tidak suka Jimin berada disini. Dia memang kaget, tapi bukannya tidak suka. Yoongi hanya merasa kepalanya berputar sejak melihat Jimin berada didepannya saat tadi dia membuka pintu. Dan dalam sekejap Yoongi merasa sesuatu seperti menghantam kepalanya kuat-kuat.
Mendapati tidak adanya respon dari Yoongi, Jimin melepaskan dekapannya pada Yoongi. Dan mendadak panik melihat Yoongi yang memejamkan matanya, wajahnya pucat sekali.
"Hyung! Yoongi hyung!"
.
.
Beberapa menit kemudian dua orang wanita datang. Satunya ber jas serba putih sedangkan yang satunya memakai celana jeans dengan sweater merah. Saat mengetahui Yoongi tidak sadarkan diri, Jimin langsung menghubungi Sungyeon, dan wanita itu bilang akan menghubungi dokter yang biasanya menangani Yoongi selama berada di Jepang. Tapi Jimin sedikit bingung melihat seorang gadis muda yang datang bersamaan dengan wanita yang Jimin tebak adalah dokter yang menangani Yoongi. Gadis muda itu nampak seumuran dengannya.
"Yoongi oppa!" saat masuk kedalam kamar Yoongi, gadis itu langsung duduk di pinggir ranjang Yoongi. Jimin agak sebal melihatnya karena gadis itu menyentuh-nyentuh tangan Yoongi.
Jimin hanya memerhatikan dokter wanita itu yang sedang memeriksa Yoongi. Dalam hati berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Yoongi beserta bayi mereka.
"Yoongi tidak apa-apa, dia hanya kelelahan. Sepertinya dia kurang tidur."
"Yoongi oppa belakangan ini sering tidur larut, dia bilang insomnianya kambuh."
Dokter yang memeriksa Yoongi tadi menuliskan beberapa resep untuk Yoongi, lalu memberikannya pada Jimin. Setelah membereskan barangnya, dokter tersebut pergi. Menyisakan Jimin, Yoongi dan Hana di kamar tersebut.
"Kau siapa?"
Jimin tidak basa-basi. Sejujurnya dia tidak suka melihat gadis itu dekat-dekat dengan Yoongi. Apa-apaan. Dia saja jarang menyentuh Yoongi, tapi gadis itu malah seenaknya memegang-megang tangan Yoongi.
Hana, gadis itu melihat Jimin yang memandang tidak suka padanya. "Aku?—
Hana menunjuk dirinya sendiri. Jimin mengangguk. Senyum kecil mulai muncul di bibir gadis dengan tahun kelahiran yang sama dengan Jimin itu.
—pacarnya Yoongi oppa."
.
.
Jimin mendengus keras-keras. Sedangkan gadis yang sedang duduk disebelah Yoongi masih sibuk tertawa dengan Yoongi yang menggelengkan kepalanya melihat mereka.
Kalau saja Yoongi tidak sadarkan diri tepat waktu, mungkin Jimin sudah mencekik leher gadis dengan sweater merah itu.
"Aku?—
Hana menunjuk dirinya sendiri. Jimin mengangguk. Senyum kecil mulai muncul di bibir gadis dengan tahun kelahiran yang sama dengan Jimin itu.
—pacarnya Yoongi oppa."
"APA?!" Jimin membulatkan matanya. Hampir meremas kertas resep yang ada ditangannya. Kalau saja tidak ingat itu resep untuk obat Yoongi, kertas itu pasti sudah dia sobek-sobek sejak tadi.
Gadis dengan sweater merah itu memerhatikan Jimin yang nampak –sangat- tidak suka melihatnya. Dia juga melihat Jimin yang mengepalkan sebelah tangannya. Dalam hati dia ingin tertawa kencang.
Ternyata bisa juga dia mengerjai seorang bintang besar.
"Iya. Aku ini pacarnya—
Ucapan Hana terpotong saat dia melihat Yoongi yang mulai membuka matanya. Jimin langsung duduk di pinggir ranjang, tangannya menepis tangan Hana yang hendak menyentuh tangan Yoongi. Hana jadi makin ingin tertawa.
"Yoongi hyung? Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit hyung? Katakan padaku." Jimin mengelus telapak tangan Yoongi, Hana hanya memerhatikannya.
Ternyata benar.
Dari apa yang gadis itu lihat, dia bisa tahu bahwa Jimin sangat mencintai Yoongi. Bagaimana lelaki itu memerlakukan Yoongi dan tatapan matanya, itu semua sudah jelas menggambarkan betapa Jimin mencintai Yoongi.
Dan Hana rasa-rasanya ingin menjitak kepala Yoongi saja.
Bagaimana bisa Yoongi mengabaikan lelaki yang begitu mencintainya?
Hana jadi agak merasa bersalah mengerjainya seperti tadi. Tapi tidak apa, 'kan. Toh juga tidak mungkin dia menyukai Yoongi.
"Tenang saja. Aku tidak suka dengan lelaki yang tidak peka seperti Yoongi oppa." Hana berucap, setelahnya tertawa.
Jimin mendengus keras-keras. Sial. Dirinya sudah dikerjai oleh seorang gadis yang bahkan baru dia temui beberapa menit yang lalu. Yoongi hanya menggelengkan kepala melihatnya. Hana itu, diam-diam mempunyai sifat yang agak usil.
.
.
Yoongi hanya diam saja dari tadi.
Bahkan ketika Jimin duduk disebelahnya, dia tidak berkata apa-apa.
Saat ini hanya ada Jimin dan Yoongi di ruangan tersebut. Hana sudah keluar, entah kemana. Sempat berbisik pada Yoongi, tidak ingin menganggu katanya. Yoongi melemparnya dengan bantal, Hana keluar kamar dengan tawa.
Juga ketika Jimin ikut berbaring disebelah Yoongi, lelaki itu diam saja. Tidak protes, ataupun mendorong Jimin menjauh. Dan Jimin memberanikan diri membawa tubuh Yoongi ke dalam pelukannya. Dan beruntung, Yoongi tidak memberontak.
"Yoongi hyung, jangan pergi lagi."
"Maaf. Maafkan aku Jimin."
"Aku maafkan. Tapi dengan satu syarat hyung."
Jimin mengelus pipi Yoongi yang agak sedikit tirus. Jimin jadi sedih, apa mungkin Yoongi tidak makan dengan benar?
"Apa?"
"Ikut pulang denganku, hyung. Jangan pergi lagi. Jangan menjauh dariku. Biarkan aku mencintaimu, hyung."
"A-aku—
Cup
Kalimat Yoongi terputus ketika bibir Jimin sudah menyapa permukaan bibirnya, mengecupnya lembut, menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar pada Yoongi.
Yoongi meremas kaus bagian depan milik Jimin, menatapnya ragu. "Tidak bisa Jim—
"Kenapa?" Jimin menatapnya tajam, Yoongi benci mengakuinya tapi dia menyukai tatapan Jimin yang begitu dalam, terkesan manly.
"Jangan gila! Tidak mungkin aku kembali ke Korea dengan keadaan seperti ini!—
Yoongi memerhatikan tubuhnya sendiri, perutnya sudah agak membuncit.
—bagaimana dengan reputasi Bangtan nanti! Apa kata para fans nanti? Apa kata PD-nim? Apa kata para netizen. Apa kata mereka semua Jimin!"
"AKU TIDAK PEDULI!—
Jimin membentak, Yoongi agak takut melihatnya. Sadar Yoongi yang terlihat takut padanya, Jimin cepat-cepat menariknya kembali ke dalam dekapannya, menciumi pucuk kepalanya.
—maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu, hyung. Tapi aku benar-benar tidak peduliapa kata mereka, hyung. Aku akan tetap bersamamu. Tidak akan kubiarkan mereka menyakitimu sedikitpun."
Yoongi merasa, sepertinya dia harus mencoba percaya pada Jimin kali ini.
Apa salahnya kalau dia membuka sedikit hatinya untuk lelaki bermarga Park itu?
Yoongi menatap pada manik mata milik Jimin yang selalu memancarkan pesonanya, "jangan. Jangan tinggalkan aku Jimin. Jangan pernah."
Jimin mengangguk cepat. Mencium kening Yoongi lembut. Menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar pada lelaki yang lebih tua darinya tersebut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, hyung. Kau boleh membunuhku jika itu terjadi."
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
a/n :
HALOOOOO.
Uh maaf ya baru update :"" kemarin aku baru aja selesai UAS, aku ga fokus soalnya kalo ngetik pas lagi ujian gitu U_U maaf yha huhuhu doain aku kedepannya gak kena wb(?) jadi bisa update terussssss :3
Special thanks to :
xoaeri12, GustiAyuari9, , flyhjgh, Guest, pjmygnet, Nurul9171, SyugarMint, An, ica, ParkJiyoonie, BabyByunie, Phylindan, byby614, hana, Kiki411, sooindri09, Shin Chami, MinReri Kujyou, IzzSuzzie, Kim Minkyu, Hantu Just In, CamillaThnrm, kyuminmi, GaemGyu92, Lani Novita, kuramauchihakyu69, Mtyrn, she3nn0, bangtaninmylove, ming97, rossadilla17, lunch27, pjmygtrash, yuu, wonderfulwoo, .shoot, Fika598, BumBumJin, zizi'd exo, 07, UkhRayy, KittiToKitti, haneunseo, minyoonlovers, vivikim406, Call Me Kunti, Reny246, Mini Yoongi t'D, Park RinHyun-Uchiha
buat nama-nama diatas yang udah bersedia meluangkan waktunya memberi review yang sangat berharga untukku. Juga untuk yang fav / follow. Luv yaaa~
Mind to review?
