137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.

.


Bab Dua Belas

Beberapa hari berikutnya berlalu dengan indah. Kyuhyun ternyata kekasih yang menggebu-gebu dan jarang merelakan Sungmin jauh darinya. Tidur sekamar tidaklah cukup. Pria itu harus menyentuhnya, kalau tidak dengan tangannya, dengan matanya. Malam-malam mereka diisi dengan gairah yang membuat mereka berdua takjub. Di siang hari, kalau Minhyun sedang bersama mereka, mereka menceritakan kebahagiaan mereka pada anak itu, dan ia ikut gembira.

Mereka sering pergi ke desa, berjalan di antara toko-toko yang mengapit jalan-jalan berbukit yang indah.

Suatu siang mereka mengunjungi Kangin di toko kerajinannya. Pria itu menerima mereka dengan hangat dan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia ingat kekasaran sikap Kyuhyun ketika mereka terakhir bertemu.

Sungmin bersyukur ketika Kyuhyun betul-betul berminat pada karya Kangin dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sopan tentang berbagai benda yang dipajang di etalase.

Kedua pria itu, meskipun berbeda bagai bumi dan langit, ternyata bisa juga asyik mengobrol. Meskipun demikian, Kyuhyun selalu memeluk bahu Sungmin dengan posesif. Itu merupakan pernyataan kepemilikan yang disadari Kangin.

Mereka menikmati acara jalan-jalan mereka, tapi saat favorit mereka adalah malam-malam tenang di rumah, duduk di dekat perapian, bertukar pikiran sambil minum sebotol anggur.

Sungmin biasanya duduk di sudut sofa sementara Kyuhyun telentang dengan kepala di pangkuan Sungmin seperti yang dilakukannya ketika orangtua Sungmin tiba-tiba datang berkunjung. Kyuhyun menceritakan ambisi-ambisinya, tangannya bergerak-gerak ekspresif, matanya berbinar-binar penuh semangat.

Tapi tidak peduli seberapa serius topiknya, pembicaraan mereka selalu pelan-pelan berakhir. Tangan Kyuhyun yang tadi menegaskan omongannya mulai mengusap dan membelai Sungmin sampai api di perapian tidak ada apa-apanya dibandingkan lautan api yang berkobar-kobar di antara mereka.

Ketika orangtuanya menelepon sebelum kembali ke Ilsan, Sungmin tidak perlu berpura-pura bahagia. Dia meminta mereka mampir ke Mokpo, namun berbagai kewajiban mengharuskan mereka pulang segera setelah konferensi usai. Sungmin menutup telepon, memberitahu mereka bahwa dia sangat bahagia. Karena saat itu memang begitulah perasaannya.

Mereka berjalan-jalan jauh ke tengah hutan setelah Sungmin dan Minhyun menyelesaikan pelajaran dan sebelum Ryeowook dan anak-anaknya datang untuk belajar bahasa isyarat. Sering Sungmin membawa bekal untuk makan siang, dan mereka duduk di selimut tua dan makan dengan santai di tepi sungai dan di bawah pohon-pohon aspen yang sekarang gundul karena sebentar lagi musim dingin.

Suatu siang yang cerah saat berjalan-jalan seperti itu, setelah mereka selesai makan, Minhyun mengantuk dan tidur, bergelung di atas selimut. Kyuhyun bersandar di pohon dan menarik Sungmin di antara kakinya yang menekuk, menekan punggungnya ke dadanya yang bidang.

"Bisa-bisa aku mengikuti jejak Minhyun kalau aku merasa makin nyaman," gumam Sungmin mengantuk sambil menyandarkan kepala di dada pria itu.

"Silakan saja," kata Kyuhyun di rambutnya dan menghamparkan selembar selimut lagi di atas tubuh mereka.

Napas teratur Kyuhyun bagai lagu pengantar tidur yang tidak sanggup dilawannya, dan tak lama kemudian Sungmin sudah tidur. Dalam keadaan antara pulas dan sadar, pikiran-pikiran meresahkan mengganggu ketenangan yang menyelimutinya. Selama berhari-hari dia berhasil menyingkirkan Chengmin dari benaknya. Perasaan sayang Kyuhyun tidak perlu diragukan, tapi ketika sedang bercinta pun, tidak pernah sekali pun pria itu mengucapkan cintanya.

Pernahkah dia dan Chengmin duduk seperti ini? Apakah percintaannya dengan Chengmin lebih panas? Bisakah dia mencintai Sungmin seperti ia mencintai Chengmin?

Sungmin pasti bergerak-gerak resah karena berbagai pikiran mengganggu itu. Kyuhyun memeluk nya lebih erat dan berbisik, "Mimpi buruk?"

Sungmin menggeleng, namun lamunannya telah membuyarkan kebahagiaan hari ini dan menimbulkan secercah keraguan dalam hatinya.

Tepat ketika akan menegakkan tubuh dan menjauh dari Kyuhyun, dia merasakan tangan pria itu menjelajahinya.

Kyuhyun menghentikan tangannya di pinggangnya dan menyusupkannya di antara sweater dan pinggang jinsnya. Gerakan itu sudah cukup untuk menimbulkan gelenyar gairah yang membuatnya pasrah dan tak berdaya.

Sweaternya terangkat sedikit ketika Kyuhyun memasukkan tangan ke dalamnya. Sungmin merasakan sentuhan pria itu di payudaranya, mengelus, memijat. Belaiannya sama lembut dan penuh gairahnya dengan ketika ia pertama menyentuhnya. Kyuhyun sudah sangat mengenal tubuhnya, namun dia membuat Sungmin merasa seakan setiap kali Kyuhyun menyentuhnya, itu adalah yang pertama.

"Kyu?"

"Jangan ganggu pria yang sedang sibuk," geram Kyuhyun di telinga Sungmin.

Tiba-tiba Sungmin merasa malu. Jika dia tidak bisa memberitahu pria itu bahwa dia mencintainya, dia ingin mengatakan sesuatu yang membuat pria itu tahu seberapa dalam perasaannya terhadapnya. "Aku cuma ingin kau tahu bahwa setiap kali kita bersama, rasanya sangat istimewa bagiku."

Tangan Kyuhyun berhenti bergerak dan memegang lembut payudaranya. Sungmin diam sama sekali. "Sungmin," katanya serak. "Pandang aku."

Sungmin menyandarkan kepala di bahunya dan memiringkannya ke belakang supaya bisa melihatnya. "Bagiku juga sangat istimewa," kata pria itu. Dia menciumnya begitu penuh gairah sehingga pembuluh-pembuluh darah Sungmin berdenyut akibat aliran darahnya yang seakan mendidih.

Tangan Kyuhyun turun ke pinggang melewati rusuknya, kemudian kembali melalui perut untuk menggenggam payudaranya. Pria itu membelai-belainya sambil menciumi telinganya. Sungmin menjerit pelan dan menggeliat-geliat sementara tangan Kyuhyun telah bergerak ke pahanya.

Ketika suaminya itu sibuk membuka kancing jinsnya, Sungmin menyadari apa yang akan terjadi dan kaget dengan kelakuannya sendiri. Dia dilanda perasaan malu dan minder.

"Kyuhyun, tidak," Sungmin terkesiap dan meronta. "Jangan di luar sini," katanya marah, merapikan pakaian di balik selimut.

"Kenapa?" tanya pria itu, matanya berkilat nakal. "Di hutan asyik, kau tahu. Pikirkan orang-orang Viking, Romawi, Robin Hood dan Lady Marian-"

"Yah, aku bukan mereka. Lagi pula, anakmu berbaring di sana."

Dengan memiringkan kepala dia menunjuk Minhyun yang tidur nyenyak. Sungmin masih menjauhkan tangan Kyuhyun darinya dan tidak berani melepaskannya.

"Dia kan tidur," bantah Kyuhyun. "Ayolah, Sungmin. Kumohon." Dia merengek sekarang.

"Tidak. Bagaimana kalau ada yang datang?"

"Mereka akan malu dan membuang muka."

"Aku akan malu setengah mati!" teriak Sungmin.

Lalu dilembutkannya nada suaranya dan dibuatnya terdengar penuh janji. "Bagaimana kalau kau menunggu sampai nanti malam?" dia bertanya dengan gaya menggoda.

"Yah," gerutu Kyuhyun. "Kurasa mau tidak mau harus begitu. Kau cium aku sekali, aku membalasnya, lalu kita pulang." Sungmin tidak melihat kilatan di mata Kyuhyun, dan permintaannya terdengar masuk akal.

Dia berpaling untuk menghadapnya dan mencium bibirnya. Ciumannya tanpa nafsu, tapi mengandung semua cinta yang dirasakannya terhadap pria itu. Ketika akhirnya bibir mereka berpisah, Kyuhyun berkata, "Sekarang giliranku."

"Apa-apaan kau?" Sungmin kaget ketika Kyuhyun mengangkat bagian depan sweaternya.

"Aku akan menciummu. Aku tadi kan tidak bilang apa yang akan kucium."

Kyuhyun mengangkat bahan rajut lembut itu dan mencium payudara Sungmin. Ketika memandang wanita itu lagi, dia menatap mata Sungmin.

"Sekali lagi, ya?" katanya dan mulai mencium bibirnya.

Sungmin yakin tentang satu hal. Kyuhyun tidak memikirkan Chengmin.

.

.

.

"Ada beberapa urusan di kota yang harus kubereskan," kata Kyuhyun, mengulurkan kepala dari luar kelas keesokan paginya. "Bagaimana kalau aku membereskannya, lalu membeli jajjangmyun untuk makan siang?"

Lauri tertawa ketika pria itu berdecap-decap. "Yah, kalau kau suka wanita gemuk, aku setuju untuk makan jajjangmyun."

"Aku menyukaimu," katanya tegas, dan memandang sekujur tubuh Sungmin dengan tatapan nakal. "Sampai ketemu nanti," katanya jail. "Sampai jumpa, Minhyun," dia bicara pada putrinya, yang sibuk menumpuk balok-balok yang tadi digunakan untuk pelajaran berhitung.

Anak itu membalas dan Kyuhyun pergi.

Kira-kira setengah jam sebelum Kyuhyun kembali, Sungmin membawa Minhyun ke dapur.

"Kau akan menyukai ini, Minhyun," katanya dan mendudukkan anak itu di meja dapur.

"Kita akan melakukan permainan untuk melihat apakah kau bisa membedakan susu putih dengan cokelat."

Seperti biasa, Sungmin mengisyaratkan setiap kata. Minhyun mengamati dengan penuh minat. Pelajaran tentang makanan adalah pelajaran favoritnya.

"Oke," lanjut Sungmin, "aku akan mengisi dua gelas. Kau lihat? Yang satu berisi susu putih dan yang lain cokelat. Aku ingin melihat kau mengatakannya."

Setelah Minhyun dengan benar mengisyaratkan susu putih dan susu cokelat dan mengucapkannya sebisanya, Sungmin berkata, "Sekarang aku akan memberimu sedotan. Akan kuletakkan tiap gelas di hadapanmu, dan beritahu aku susu yang mana yang kau minum. Kau mengerti?"

Minhyun mengangguk, dan ikal-ikal rambutnya bergerak-gerak.

"Tutup matamu supaya kau tidak bisa melihat," perintah Sungmin. Setelah yakin Minhyun tidak curang, Sungmin memasukkan sedotan ke gelas berisi susu putih.

Minhyun minum seteguk, lalu mengisyaratkan jawaban yang benar. Mereka mengulangi latihan itu sampai Sungmin yakin anak itu sudah memahami kata-kata tadi dan dapat mengasosiasikan rasanya dengan namanya.

Mereka baru saja selesai belajar ketika Kyuhyun masuk dari pintu belakang sambil membawa bungkusan.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kyuhyun, menaruh bungkusan itu di permukaan meja dan membuka jaket.

'Coba kita lihat apa Kyuhyun bisa melakukannya', Sungmin mengisyaratkan pada Minhyun, dan anak itu bertepuk tangan gembira. Sungmin menjelaskan aturan permainan, dan untuk membuat Minhyun senang Kyuhyun pura-pura tidak yakin bisa melakukannya dengan benar.

Pria itu memejamkan mata dengan gaya berlebihan, tapi akhirnya menyesap susu dan berkata dalam bahasa isyarat, 'Itu susu putih'. Tapi ketika Sungmin meraih gelas susu cokelat, dia melihat Minhyun hampir menghabiskan isinya.

"Minhyun!" tegurnya, tapi mereka semua tertawa.

Minhyun menunjuk bibir atasnya, di sana tampak kumis susu berwarna cokelat tua.

'Kau juga, Sungmin', Minhyun mengisyaratkan. 'Kau juga'.

Sungmin protes keras, tapi Minhyun dan Kyuhyun tidak mau tahu. Dia mengambil gelas berisi susu cokelat dan meneguknya banyak-banyak, memastikan ada yang menempel di bibir atasnya. Minhyun menjerit girang dan melompat-lompat. Setelah mereka akhirnya bisa menenangkannya, Sungmin memerintahnya, "Pergilah ke atas, cuci muka dan tanganmu sementara aku menyiapkan makan siang." Minhyun pergi dengan melompat-lompat riang.

"Kau tidak akan mencuci mukamu?" tanya Kyuhyun sambil tersenyum geli. "Kumismu tidak cocok dengan rambutmu."

"Oh. Aku lupa," jawab Sungmin dan berbalik ke arah wastafel.

"Izinkan aku," kata Kyuhyun, memegang bahunya.

Lidahnya yang bagai beludru dengan cepat membersihkan kumis susu Sungmin, tapi seperti ciuman-ciuman mereka, pelukannya berlanjut. Sungmin memeluknya dan mereka lama berciuman sampai keduanya memisahkan diri dengan napas terengah-engah.

"Kalau kita teruskan ini, bisa-bisa kau tidak jadi makan siang," gumam Sungmin sementara bibirnya menciumi dagu pria itu.

"Aku mungkin ingin mengubah menunya," balas Kyuhyun parau. Diciumnya leher Sungmin.

"Makanannya bisa dingin." Sungmin mendesah ketika Kyuhyun menemukan titik yang sensitif.

"Itu sebabnya orang menciptakan microwave. Masa kau tidak tahu itu?" gumam Kyuhyun di telinga Sungmin.

Sungmin menarik napas pasrah dan dengan lembut melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. "Kita harus menjaga sikap. Sebentar lagi Minhyun datang untuk minta makan."

"Di mana bandit kecil itu?" tanya Kyuhyun. "Kuharap dia tidak kabur lagi." Sorot matanya menghangat waktu memandang Sungmin. Kyuhyun ingat, seperti dia juga, bahwa pada malam Minhyun kabur, mereka bercinta untuk pertama kalinya.

"Biar kutengok dia," kata Sungmin cepat-cepat. "Kalau kau tidak keberatan menata meja." Kyuhyun menggeleng, dan Sungmin melesat keluar ruangan supaya tidak dipeluk pria itu lagi.

Dia menaiki tangga dan tengah berjalan ke kamar Minhyun waktu melihat gerakan di kamarnya sendiri. Oh, jangan ada keributan lagi, pikir Sungmin ketika mendorong pintu supaya terbuka lebih lebar.

Lalu jantungnya bagai berhenti berdetak. Benda pertama yang dilihatnya adalah sepasang sepatu balet dari satin pink. Sepatu itu pasti pas di kaki mungil dan langsing dengan cekung tinggi. Benda itu jelas kelihatan sering dipakai untuk latihan, karena bagian jarinya yang membulat dan datar tampak usang, dan pita satinnya berkerut-kerut karena sering dibuka dan diikat.

Sepatu itu tergeletak di antara foto-foto, pakaian-pakaian, beberapa buku acara teater, dan sebuah buku kliping besar bersampul kulit. Mata kaget Sungmin yang terkejut melihat pintu lemari terbuka dari sanalah kotak-kotak barang itu berasal.

Minhyun duduk di lantai memandangi salah satu foto dengan konsentrasi penuh. Pelan-pelan, kakinya seperti diganduli bola besi, Sungmin mendekatinya dan menarik perhatiannya.

'Sungmin, lihat? Wanita cantik', Minhyun mengisyaratkan dan menunjuk foto yang dipegangnya.

Dengan tangan gemetar Sungmin mengambil foto itu dan menatap wanita yang diabadikan dalam foto itu. Dia cantik. Dia mengenakan baju latihan. Warmer kaki dari bahan wol yang hampir selalu dipakai para penari membungkus betis indahnya dan menonjolkan kesempurnaan pahanya.

Wanita itu bersandar di palang seakan sedang beristirahat setelah melakukan plie dan tendus. Dia memandang lurus ke kamera, tak acuh dan tidak berpose, menantang lensa fotografer untuk mendeteksi kekurangannya. Rambutnya berwarna gelap, dibelah tengah, dan disanggul di dasar leher angsanya. Mata hitamnya besar dan merupakan bagian yang paling menarik di wajahnya yang berbentuk hati.

"Ya, dia cantik," kata Sungmin dengan suara nyaris tidak terdengar. Tanpa sadar dia duduk di lantai di samping Minhyun. Bahunya turun karena kecewa setelah melihat untuk pertama kalinya wanita yang masih memiliki hati Kyuhyun.

"Hei, kalian, aku sudah lapar. Ada apa sih di atas?" Teriakan gembira Kyuhyun menyentakkan Sungmin dari lamunannya. Tapi sebelum dia sempat menenangkan diri, pria itu sudah berdiri di ambang pintu. Mata dan wajahnya cerah karena senyumnya, tapi waktu dia melihat kamar Sungmin yang berantakan, kotak-kotak yang isinya berserakan tanpa menghargai pemiliknya dahulu, anak dan wanita yang telah mencemari kenangannya pada istrinya, wajahnya berubah menyeramkan.

Sungmin membuang muka supaya tidak melihatnya, dia tak sanggup menyaksikan penderitaan hebat itu.

Diambilnya sepatu balet dari tangan Minhyun, yang berusaha dipakainya.

'Minhyun, cucilah wajah dan tanganmu', kata Sungmin setenang mungkin. Minhyun akan memprotes dan mengambil sepatu itu lagi, tapi Sungmin memerintahkan,

"Ayo!" Sikapnya yang mendesak menghilangkan bantahan apa pun, dan Minhyun berjalan melewati ayahnya, yang berdiri di atas foto dan memandanginya, tidak menyadari keadaan di sekelilingnya.

Setelah anak itu meninggalkan ruangan, Sungmin berkata, "Maafkan aku, Kyuhyun. Dia mengacak-acak. Biar kubereskan-"

"Tidak, jangan," bentak Kyuhyun. "Biarkan apa adanya. Aku akan merapikan dan menyimpan semuanya."

Sungmin menjatuhkan sepatu satin pink itu seolah tangannya terbakar. "Baik," katanya, dan berlari keluar kamar.

Kyuhyun masih berdiri di tengah ruangan, menatap foto-foto yang berserakan.

.

.

Sungmin membuatkan roti isi selai kacang untuk Minhyun. Anak itu mengobrol dengan Bunny, yang duduk di meja di samping piringnya sementara dia makan. Sungmin memberinya semua yang diendusnya dan ditunjuknya.

Kebiasaan ini biasanya tidak diperbolehkan, tapi saat ini Sungmin kehabisan energi untuk memedulikannya.

Setelah Minhyun selesai makan siang, Yewook dan Ryeosung datang lewat pintu belakang untuk mengajaknya bermain di rumah mereka. Sungmin memakaikan sweater yang dibelikan Kyuhyun waktu mereka pergi ke pusat kota dan minta Yewook mengantarkannya pulang setengah jam lagi.

"Tentu. Kami juga harus tidur siang kok," kata Yewook sambil membantu Minhyun menuruni tangga sampai halaman.

Sungmin mengawasi mereka berlari melintasi halaman, tapi sebetulnya dia tidak melihat mereka. Di benaknya terbayang foto-foto balerina yang menatap kamera dengan begitu percaya diri.

Apa penyebab kematiannya? Kyuhyun tidak pernah mengatakannya. Pria itu betul-betul menghindari pembicaraan tentang istrinya. Sungmin tidak tahu apa-apa tentang wanita itu, kecuali bahwa dia dulu ballerina klasik yang ikut audisi, dan di audisi itu bertemu laki-laki yang kemudian menikahinya.

Apakah dia meninggal karena kecelakaan? Pesawat terbangnya jatuh? Apakah dia mengidap penyakit mengerikan yang men ambil nyawanya? Pasti bukan, dia masih semuda itu. Apa yang terjadi padanya?

Sungmin membereskan piring-piring yang tadi dipakai Minhyun. Dibawanya bungkusan jajjangmyun itu ke tong sampah besar di luar. Rumah sepi. Dia keluar-masuk kamar-kamar, mencari sesuatu untuk dikerjakan untuk mengisi kekosongan hatinya, tapi tidak ada apa-apa. Dia menghitung menit demi menit sampai Minhyun pulang, dan setelah itu Sungmin mengusulkan mereka membaca buku. Minhyun masuk ke kelas dan memilih buku tentang macam-macam alat transportasi.

Mereka duduk di sofa dan berdiskusi tentang berbagai mobil, bus, pesawat, dan boat di dalam buku bergambar itu. Sudah dua jam Kyuhyun di atas sampai Sungmin mendengar langkahnya di tangga.

Dia bersiap-siap menghadapi apa pun. Seperti apa sikap Kyuhyun sekarang? Bagaimana reaksinya terhadap semua yang telah terjadi? Ketika memandang pria itu, dia tahu. Kyuhyun memakai celana panjang, jaket sport, dan dasi, pakaian yang jarang dikenakannya sejak datang ke Mokpo. Di tangan kirinya ada koper kecil. Jas hujan tersampir di bahu kanannya.

Sungmin berdiri dan meremas-remas tangan ketika pria itu menghampirinya. Waktunya telah tiba.

"Sungmin, aku akan kembali ke Seoul," katanya singkat.

"Ya."

Kyuhyun mengalihkan pandangan darinya. "Sudah terlalu lama aku di sini," katanya. Pria itu ingin meyakinkan dia atau dirinya sendiri? "Ada hal-hal yang harus kukerjakan. Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya."

"Betul." Jika Kyuhyun menginginkan persetujuannya, pria itu harus bersiap-siap kecewa. Sungmin tidak mau mempermudah situasi ini baginya. Dia pernah memohon pada Jungmo supaya mengizinkannya membantunya. Tawarannya ditolak mentah-mentah.

Satu penolakan sudah cukup. Dia takkan membiarkan Kyuhyun mengorek luka lamanya.

"Kau akan menjelaskan kepergianku pada Minhyun?" tanyanya, tidak terlalu mengharapkan Sungmin menjawab.

Ketika yang terjadi sebaliknya, jawaban wanita itu mengejutkannya.

"Tidak. Jelaskan saja sendiri padanya." Dia mengenali apa arti dagunya yang terangkat dengan angkuh itu dan tahu percuma saja mendebatnya.

Kyuhyun meletakkan kopernya di lantai dan berjongkok di depan putrinya, yang masih asyik melihat-lihat buku.

"Minhyun," kata Kyuhyun. Cuma itu yang didengar Sungmin.

Dia cepat-cepat pergi ke pintu depan dan menekankan keningnya di kayu dingin keras itu. Aku tidak sanggup menghadapi ini, teriaknya dalam hati. Aku akan mati kalau dia pergi, erangnya. Tapi waktu mendengarlangkah kaki Kyuhyun mendekat, dia menegakkan tubuhdan menghadapi pria itu dengan keberanian yang samasekali tidak dirasakannya.

"Dia merajuk. Tolong tenangkan dan hibur dia demi aku," kata pria itu.

Dan siapa yang akan menghiburku?

Sungmin ingin bertanya padanya. Dia melihat Kyuhyun sendiri pun goyah. Jika tidak mengenalnya, dia pasti mengira kilau aneh di mata pria itu disebabkan oleh air mata.

Apakah dia begitu galau karena akan meninggalkan anaknya? Atau apakah ini cuma adegan perpisahan menyedihkan yang dimainkannya dengan handal?

"Aku harus membawa mobilmu, tapi akan kuatur supaya ada yang mengantarkannya kembali kemari besok."

Sungmin mengangguk.

"Yah, kalau begitu selamat tinggal. Nanti kuhubungi."

Kyuhyun bersikap seolah masih ada yang ingin dikatakannya. Atau tidak, tidak mungkin dia ingin menciumnya, walaupun Sungmin merasa kepala pria itu menunduk sedikit untuk mencoba-coba.

"Selamat tinggal, Kyuhyun," kata Sungmin datar, dan membukakan pintu depan.

Kerut-kerut di sekeliling mulut Kyuhyun menegang, dan alis tebalnya berkerut. Pria itu mendesah kesal sebelum melewatinya. Sungmin menutup pintu begitu pria itu keluar.

Seolah mengetahui suasana mendung ini, awan-awan kelabu bergulung dari puncak pegunungan dan menggantung di atas Mokpo. Awan-awan itu menaburkan salju pertama musim ini. Entah mengapa selimut putih bersih itu tidak mampu menghilangkan kemuraman yang menyelubungi rumah.

Minhyun tidak mau terlibat dalam aktivitas apa pun, dan Sungmin membiarkannya menonton televisi sepanjang hari ini.

Ketika waktu tidur akhirnya tiba, gadis kecil itu memeluk Bunny dan dengan suaranya yang manis tapi nyaris tidak jelas berkali-kali mengatakan, "Daud-y." Air mata mengalir di pipinya yang bersemu merah. Emosi Sungmin yang sedang kacau-balau membuatnya tidak sanggup melihatnya. Dia berbaring di samping Minhyun dan memeluk anak itu erat-erat.

Mereka pun menangis sampai tertidur.


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Halo^^ Ada yang kangen sama aku? Gak ada ya? Oke bye /?

For Hamano Hiruka , aku gak tau u.u

For nugu , banner Leeteuk? Aduh aku lupa u.u

For Guest , waduh. Masalahnya yang ngajak main tebak-tebakkan ada tiga orang nih, nanti ke tuker u.u

For alit dan semua yang menunggu FF ini. Maaf mengecewakan kalian karena lama gak update ^^

Just it, and…

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , Girls in awesome world , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 , Shengmin137 , lee kyuza , mandwa , gogoflo55 , kyuna36 , Loving Kyu and Ming , Anisa Jung , kaissss , Cho Minseo , gaemxian137 , arinafebianca07 , WineKyuMin137 , saturn99 , kim nophi , nugu , MaVK9597 , leleekyumin , Karen kouzuki & Guest.

Special thank's for Fanya Amelia137.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 11 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^