[Chaptered]
Title : You Can't Hear
Chapter : 12/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke.
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Fish Leong - Can't Hear


Neji galaw untuk yang kesekian kalinya, ayey!


"Sasuke?", panggil seseorang dari belakang kami.

Dengan cepat aku menghentikan ciumanku dengan Sasuke. Pandangan kami beralih ke sumber suara.

"Ne, Neji...", Sasuke mendorongku menjauh darinya. Kemudian dia berjalan menghampiri Neji.

Neji menatap Sasuke dengan pandangan tidak suka, ya, dia cemburu.
"Bisakah kau jelaskan se-mu-a-nya padaku, Sasuke?", tanya Neji penuh penekanan.

Sasuke hanya menunduk diam, dia bingung harus berkata apa?
"A, akan kujelaskan!", selaku sambil menghampir mereka.
"Aku tidak memintamu, Naruto!", bentak Neji.

Ini pertama kalinya aku melihat Neji marah dan membentak.
"Jelaskan semuanya padaku, Sasuke!', bentakan Neji membuat Sasuke semakin takut untuk bersuara.
"Jangan berteriak pada Sasuke!", marahku.
"Uchiha Sasuke, aku menunggu penjelasan darimu!", Neji kembali membentak Sasuke.
"Maafkan aku", kata Sasuke pelan sambil menunduk.
"Tatap aku ketika berbicara!", ketus Neji.
"Bisakah kau pelankan suaramu itu, Hyuuga Neji?", aku tidak suka Neji terus berbicara keras dengan Sasuke.
"Tatap aku!", Neji tetap berteriak pada Sasuke, dia tidak menghiraukanku.

Sasuke memberanikan diri untuk menatap Neji yang sedang marah.
"Maafkan aku, Neji...", lirih Sasuke, "Kurasa... aku menyukai Dobe",

"Kau tidak menyukaiku?", tanya Neji tidak terima dengan perkataan Sasuke barusan.
"Aku menyukaimu!", tegas Sasuke cepat.
"Lalu?",
"Aku tidak tahu mengapa aku juga bisa menyukai Dobe", cibir Sasuke sambil menggembungkan pipinya, lirikan matanya mengarah padaku.
"Kau pilih aku atau dia?", tanya Neji sambil menunjuk ke arah wajahku.

Sasuke menggeleng pelan.
"Aku bingung, Neji~", lirih Sasuke.
"Aku, atau dia?", tanya Neji lagi.
"Tidak tahu~", jawab Sasuke pelan.

Sasuke tertunduk sambil meremas celananya. Dia tampak gugup dan bingung.
Come on, Sas! Say you love me dan masalah selesai! Neji juga tidak akan memperpanjang masalah ini, karena dia tidak serius mencintaimu.

"Katakan dengan tegas! Siapa yang kau cintai!", bentak Neji sambil mencengkram pundak Sasuke dengan kuat.
"Sakit, Neji~", rintih Sasuke.
"Hentikan, Neji!", marahku.

Aku ingin mendorong Neji agar melepaskan cengkramannya dari pundak Sasuke, tapi Sasuke terlebih dahulu melepaskan diri.

"Maafkan aku, Neji~ Aku mencintai Dobe. Entah setan apa yang merasukiku sehingga aku bisa berpaling darimu", sesal Sasuke.

Sasuke menggigit bibirnya, dia takut Neji akan mengamuk dan berubah menjadi Hulk.

Neji menepuk pelan kepala Sasuke.
"Aku menyukaimu. Meskipun kau telah berubah haluan", Neji tersenyum pada Sasuke, sikap garangnya mendadak luntur.
"Aku, tetap menyukaimu. Terimakasih telah jujur pada perasaanmu", Neji dengan gemas mencubit pipi Sasuke.

Sasuke hanya menatap Neji keheranan.

"Kita putus, OK?", tanya Neji lembut.

Sasuke langsung memeluk Neji.
"Maafkan aku, Neji~",
"Cup cup cup", Neji menepuk-nepuk punggung Sasuke layaknya menenangkan bayi yang sedang menangis.

Tubuh Sasuke bergetar, aku tahu pasti dia sebentar lagi akan menangis.


Malam hari di asrama.

Dari tadi sore hingga sekarang, Sasuke masih betah bersembunyi di dalam selimut. Dia malu untuk menatap wajahku.

"Sampai kapan kau mau seperti ini?", aku menarik selimutnya dengan paksa.
"Sampai kau pergi!", ketus Sasuke sambil mencengkram kuat selimutnya.
"Kau tidak lapar? Ayo, kutraktir kau makan ramen!", bujukku.
"Aku tidak boleh makan ramen!", tolak Sasuke.

Tumben sekali dia menolak ajakan makan ramen.

"Kau tidak suka ramen?", tanyaku.
"Neji melarangku untuk makan ramen. Ramen itu berlemak, tidak sehat!", jawab Sasuke.

Neji, Neji~ Sasuke itu perlu lemak, apa kau tidak melihat tubuh Sasuke yang kurus ini?

"Kita makan yang lain saja!", bujukku lagi.
"Tidak mau, aku mau kau pergi!", usir Sasuke.
"Come on, Sas! Bukankah kau mencintaiku? Mengapa harus malu?", aku menjatuhkan diri di atas tubuh Sasuke.
"Menjauh dariku, Dobe! Kau berat!", Sasuke mendorong-dorong tubuhku.

Aku memeluk pinggangnya yang ramping.
"Kau mencintaiku kan?", tanyaku.
"Maybe", jawab Sasuke ambigu.
"No maybe, Sasuke~", rengekku.

Aku berpindah posisi menghadap ke depan Sasuke, kemudian aku menarik paksa selimut yang menutupi wajah Sasuke hingga pandangan kami saling bertemu.
"Aku mencintaimu. Bagaimana denganmu?", kataku sambil menatap wajah manis Sasuke.
"...Hn...", guman Sasuke.
"Hey, Uchiha Sasuke! Si Dobe ini mencintaimu. Apakah kau dengar?", teriakku usil.
"Dobe!", ejek Sasuke.

Sasuke kembali menutupi wajahnya dengan selimut. Dan aku kembali menarik selimutnya.
"I love you, I love you, I loveeeee youuuu!", beoku sambil menatap wajahnya.

Sasuke menatapku dengan ekspresi yang sulit kutebak. Aku hanya membalasnya dengan senyum mentari. Tangan kanannya terangkat untuk membelai pipi kiriku.

"Neji bahkan lebih mulus darimu", sindir Sasuke.
"Temeeee~", aku menjauhkan tangan Sasuke dari pipiku.

Plup
Sasuke menepuk pelan kedua sisi pipiku dengan kedua tangannya.

"Mengapa wajah jelek ini selalu ada di pikiranku?", Sasuke menekan gemas pipiku dengan telapak tangannya, sehingga bibirku mengkerucut.

Aku menjauhkan tangan Sasuke dari wajahku, aku tidak mau Sasuke mengacak-ngacak wajahku.

"Aku memang jelek, tapi kau suka kan?", godaku.

Sasuke langsung berbalik badan untuk menghindari tatapan dariku. Aku menarik bahu Sasuke agar dia menatapku kembali, aku tidak akan membiarkan Sasuke terus menghindariku.

"Kau mencintaiku?", tanyaku.

Sasuke hanya diam sambil menoleh ke samping, menghindari tatapanku. Aku duduk di perut Sasuke, kemudian aku mencengkram kedua tangannya yang hendak mendorongku supaya menjauh darinya. Aku menempelkan keningku ke kening Sasuke, hidung kami saling menyenggol. Aku dapat merasakan nafasnya yang hangat.

"Kau mencintaiku, Uchiha Bakasuke?", tanyaku lagi.
"Ya. Aku mencintaimu, Uzumaki Narudobe", jawab Sasuke pelan.

Wajahnya merona, sangat manis. Aku tidak tahan untuk tidak menyerangnya sekarang.

Aku mengecup bibir Sasuke. Sasuke membalas ciumanku. Aku menekan kepala Sasuke untuk memperdalam ciuman kami, aku tidak ingin ciuman ini berakhir.


Keesokkan paginya.

"Ng~", erangan Sasuke mulai terbangun.
"Ohayou, Sasu-koi!", sapaku sambil menoel-noel pipinya.

Sasuke tersenyum tipis, matanya belum terbuka sepenuhnya.
"Kau tidak ada kelas pagi ini?", tanyaku.

Sasuke hanya menggeleng dan melanjutkan tidurnya.
"Dasar pemalas!", aku menarik hidungnya dengan gemas.

Sasuke tidak merespon, cepat sekali dia tertidur.

"Love You~", aku mengecup bibirnya.

Setelah berpamitan, aku langsung pulang ke rumah Shikamaru untuk mengambil buku dan mengganti pakaian.


Setelah sampai di kampus, aku berpapasan dengan Gaara.
Gaara mengkerucutkan bibirnya, dia pasti kesal karena aku tidak menghubunginya kemarin.
"Maafkan aku, Gaara~", pintaku memelas.
"Ponselmu bahkan tidak aktif ketika kuhubungi, padahal aku penasaran dengan apa yang terjadi pada kalian berdua", cibir Gaara.

Aku hanya tercengir sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

"Well, noprob! Kita putus! BTW, Apakah kau suka kadonya?", tanya Gaara.

Aku berpikir sejenak.
"Kado?", tanyaku.
"Sebagai sahabat, aku mungkin tidak bisa memberimu kado yang special. Tapi aku yakin kau menginginkan kado yang special darinya. Kau menginginkan cintanya, dan aku tahu bahwa dia akan memberikan cintanya padamu", jelas Gaara tersenyum.
"Mengapa kau bisa seyakin itu?", aku kagum dengan perkataan Gaara yang begitu yakin.
"Meskipun aku telah putus dengan Neji, tapi komunikasi kami tidak pernah putus. Neji menyadari bahwa Sasuke mencintaimu. Nah di hari ulang tahunmu ini, kami membuat rencana untuk menyatukan kalian. Then, see? Rencana kami berhasil, bukan?",

Aku sangat terharu dengan usaha mereka untuk mengembalikan Sasuke kepadaku. Aku bahkan tidak menyadari rencana mereka ini.

"Arigachuu, Gaara! Itu kado terindah yang pernah kudapat!", seruku sambil memeluk Gaara dengan erat.

Gaara langsung mendorongku menjauh darinya.
"Kalau dia melihatnya, dia bisa cemburu!", omel Gaara.
"Hehehe...", cengirku.
"Haaah~ Masalah kalian sudah selesai. Berikutnya tinggal menunggu Neji kembali padaku", Gaara bernafas lega.
"Mengapa kau harus menunggu Neji lagi? Bukankah Neji telah kembali padamu?", tanyaku heran.

Gaara menggeleng.
"Neji butuh waktu untuk bergalau", jelas Gaara sambil tersenyum.

Bergalau? Apa yang terjadi dengan Neji? Apa dia belum bisa melepas Sasuke? Atau dia sudah tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Gaara?


Aku bertemu dengan Neji yang sedang duduk sendirian di pojok kantin kampus.

"Yo, Neji!", sapaku.

Aku langsung mengambil tempat dan duduk berhadapan dengan Neji.

"Yo, Naru!", sahut Neji.
"Sedang apa?", tanyaku basa-basi.
"Berpikir", jawab Neji.
"Kau masih mengingat kejadian kemarin?", tanyaku langsung.
"Hn!", Neji mengangguk pelan.

Aku yakin Neji masih keberatan untuk putus dengan Sasuke.
"Kau menyukai Sasuke?", tanyaku menyelidik.

Neji hanya mengangguk.
"Kau serius?", tanyaku.
"Rasanya aneh ya. Awalnya aku tidak serius dengannya, tapi setelah berpacaran dengannya, aku merasa bahwa aku serius mencintainya... Hehehehe...", Neji tertawa hambar.

Aku menatap Neji dengan pandangan tidak percaya.
"Aku mencintainya, Naru~ huhuhu~", rengek Neji sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Neji telah terkontaminasi dengan gaya manja Sasuke.

"Aku mencintainya, tapi aku harus rela melepaskannya, karena kutahu orang yang dicintainya adalah kau", jelas Neji.
"Benarkah?",
"Dia selalu membicarakan tentangmu, kadang dia suka menjelek-jelekkanmu", jelas Neji.

Dasar Bakasuke!

"Kadang juga dia memujimu walau sedikit",

Kau bisa memujiku juga ternyata... Hehehee...

"Saat kencanpun dia bisa memikirkanmu. Kau ingat waktu itu aku mengajaknya ke pantai, dia membelikanmu cindera mata berupa kalung dengan bandul sapphire?", curhat Neji.
"Hn! Dia bilang warna bandulnya sama seperti warna mataku", jawabku.
"Dia tidak membelikan untukku juga~", cibir Neji.
"Hehehee..", cengirku.

Ngomong-ngomong, dimana aku meletakkan kalung tersebut ya?

"Setiap kali kami berkencan, dia pasti membelikan sesuatu untukmu", Neji menggembungkan pipinya dengan sebal.
"Dia hanya menghambur-hamburkan uang saja", akuku, jujur aku tidak suka sikap Sasuke yang suka memberiku barang yang aneh-aneh.
"Kurasa dia hanya menganggapku kakak ketimbang pacar",
"Haah?",
"Aku yakin itu setelah melihat Itachi-san. Secara fisik aku memang mirip dengan Itachi-san",

Ya, kalian memang mirip.

"Ketika Sasuke bermanja-manja dengan Itachi-san, barulah aku menyadari bahwa sikap manjanya terhadapku adalah sikap manja seorang adik terhadap kakaknya. Kurasa aku terkena karma. Dulu aku selalu memperlakukannya seperti Hinata-chan, dan sekarang dia memperlakukanku seperti Itachi-san. Mirisnya. Selama berpacaran, dia bahkan tidak pernah menciumku di sini", Neji menunjuk bibirnya.
"Setidaknya dia pernah mencium pipimu. Dan kau juga pernah menciumnya di bibir!", protesku.
"Hn! Kau benar~ Aku memang pernah mencium bibirnya, tapi aku ingin dia menciumku terlebih dahulu~", lirih Neji.
"Kau harus kembali pada Gaara secepatnya!", paksaku.

Neji menggeleng.
"Aku ragu apakah aku bisa mencintai Gaara seperti dulu lagi?",
"Kau!",
"Aku memang brengsek. Kau boleh memukulku", Neji menatapku dengan sendu, seperti ingin menangis, tapi menangis karena apa?

Neji melipat kedua tangannya di atas meja dan menenggelamkan kepalanya di sana.

"Maafkan aku, aku terlanjur mencintai Sasuke~", lirih Neji.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu jatuh cinta pada Sasuke?",
"Aku juga tidak tahu~ Tiba-tiba saja dia telah meracuni pikiranku. Mungkin karena dia manis? Atau mungkin karena senyuman polosnya? Aduuuh! Aku galau, Naru~",

Aku mengacak-ngacak rambut panjang Neji, ini pertama kalinya aku menyentuh rambutnya.
"Jangan membuat Gaara menunggumu terlalu lama",
"Maafkan aku, Naru~",
"Kau tidak salah",

Aku tersenyum pelan.
"Arigatou, Neji~ Kau telah menjaga Sasuke dengan baik selama aku tidak ada. Maaf kalau aku telah mencuri Sasuke darimu", hiburku, apa benar akulah yang telah mencuri Sasuke dari Neji?

Neji menaikkan sedikit kepalanya, hingga dia bisa melihatku.
"Bahagiakan Sasuke, jangan menyakitinya, karena dia sangat sensitif", pesan Neji.
"Kalimatmu ini seperti seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya saja. Kau memang cocok jadi kakaknya", godaku.
"Kumohon, jaga Sasuke dengan baik. Awasi pola makannya, jangan membuatnya melakukan aktivitas yang melelahkan", pesan Neji lagi.
"Ckckck! Kau bahkan seperti orang tuanya saja! Hahahaaa", tawaku.
"Sasuke... Dia sakit parah...", lirih Neji tertunduk.

Perkataan Neji barusan membuatku berhenti tertawa.

Sasuke sakit parah? Damn! Lelucon apa lagi ini! Ini sangat tidak lucu!


Terputus


Makin aneh kah ceritanya?
Gomen kalau romance NaruSasunya hambar.

Review please ^^v