Halo aku kembali lagi setelah agak lama Hiatus liburan untuk menjernihkan otak dari padatnya aktifitas dan menjernihkan otak lagi agar tak WB dan tetap terus mencari inspirasi meski agak sulit karena tak semudah dibayangkan karena khayalan sendiri adalah keenakan berbeda sekali dengan realita yang ada lol!. Ahh, sudahlah lupakan btw ini chapter 12 untuk fic HOTD yang dimana manga aslinya akan Hiatus selamanya karena sang Mangaka telah berpulang pergi meninggalkan dunia ini, semoga ada saja yang mau melanjutkan cerita ini karena lumayan seru seperti LN Infinity Stratos yang pembuat sebelumnya berhenti karena terlilit hutang (entah yang terakhir benar atau tidak tapi, aku baca dari beberapa forum sih) ahh kalau enggak yah sudah lah by Bondan Prakoso lol.
P.s : kayaknya ada rencana aku buat fic baru deh, mungkin masih sekedar wacana jadi gak usah terlalu dianggap serius walau begitu ada besar kemungkinan seperti fic saya sebelumnya tapi, beda manga atau Anime yah gak sama dah hahahaha!.
.
...
.
- Rumah Rika
"Mereka ini benar-benar keterlaluan sekali!"
Teriak salah seorang lelaki di rumah ini yang masih terjaga sementara yang lainnya sudah tertidur pulas tampak sekali wajah sangat marah dari lelaki itu yang sehabis melihat sesuatu yang tak begitu sangat manusiawi sama sekali yah, sebut saja dia adalah Takashi Komuro seorang remaja berumur 17 tahun dengan rambut pendek berantakan berwarna coklat.
Setelah semuanya lelah, berkeringat dan berhasil keluar bersama dari sekolah yang sudah kepungan para Zombie kini anak-anak yang pemberani ini mulai melanjutkan perjalanan bertahan hidup mereka dari Neraka ini setelah sempat sebelumnya turun dari bus karena ada perbedaan pendapat kini kelompok kecil ini memilih beristirahat semalaman saja di sebuah rumah yang diyakini sangat aman dari serangan Zombie.
dan sekarang semuanya sedang mengistirahatkan tubuh dari lelah yang sangat mendalam karena terus saja bergerak tanpa henti seperti robot untuk tetap terus bertahan hidup kecuali Takashi yang masih tetap terjaga sampai sekarang entah karena belum ngantuk atau memang waktu untuknya jaga memeriksa keadaan agar ketika para Zombie secara tiba-tiba masuk maka dia memberi tau yang lain.
dan alasan wajah dia kenapa begitu marah sekali adalah Takashi melihat sesuatu di luar yang tak begitu biasa atau lebih tepatnya di rumah lain yang letaknya tak begitu jauh dari rumah ini ketika dia melihat seorang lelaki paruh baya dengan membawa anaknya dan seekor anjing tengah mengetuk pintu dengan wajah ramah awalnya Takashi mengira hal itu biasa saja karena mungkin dia adalah korban yang masih selamat dalam insiden Neraka ini.
Tapi, makin kesini sudah mulai terlihat aneh karena sang pria sedikit berbicara kasar atau berdebat dengan pemilik rumah karena tak diizinkan masuk namun beberapa menit kemudian ada pintu terbuka dan sang pria tersenyum ramah tapi, ada yang aneh karena sang pemilik rumah menyodorkan tongkat panjang keluar yang di ujungnya sudah tertempel sebuah pisau yang begitu tajam sekali.
sang pria yang tak mengetahui akan hal itu atau tak melihat tetap berjalan hingga akhirnya dadanya tertusuk pisau yang begitu dalam sekali seketika pria itu langsung ambruk ke tanah dengan mulut mengeluarkan darah segar sambil memegang dadanya yang terluka juga tentu saja anaknya langsung berteriak histeris sambil mengguncang tubuh ayahnya.
Dan hal ini yang membuat Takashi sangat marah karena bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu, terlebih anak kecil tadi juga tak dibiarkan masuk meski menangis kencang seperti itu tapi, tetap saja orang-orang tadi tak peduli sama sekali yah, dia sudah tau bahwa pria tadi kemungkinan kecil bakal selamat setelah tertusuk sedalam itu.
Takashi tentu saja tak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi karena dia tau gadis kecil itu dalam bahaya karena para Zombie perlahan sudah mulai mendekatinya karena suara tangisan kencang itu yah, meski buta tentu saja mereka sangat peka sekali terhadap suara meski sekecil apapun itu dan dia ingin menyelamatkan anak itu karena Takashi tau bahwa ayahnya sudah tak bisa menjaganya.
sebagai seorang lelaki dia akan bergerak ke sana dan menyelamatkannya mungkin memberi sedikit penenang agar anak itu tak trauma mendalam tapi, dia tak bisa sendiri karena harus ada salah satu seorang yang menjaga rumah ini selagi dia pergi keluar tapi, nyatanya Tuhan mengabulkan harapan kecilnya dengan bangunnya Kohta dan Morita.
"Ughhhh! Heyy! bodoh! Berhenti berteriak seperti itu karena kau menggangu yang lain sedang tidur!"
"Huamzzz! Aku benar-benar masih ngantuk, memangnya apa yang sedang terjadi?"
"Oiii, kalian idiot disana cepat diam disini lalu bantu lindungi aku" Ucap Takashi langsung meloncat keluar rumah dan menolong gadis tanpa pikir panjang "aku akan tolong gadis kecil yang ada disana"
"Huh?" Morita memasang wajah bingung mungkin karena bangun tidur maka roh dan jasad belum menyatu seutuhnya.
Kohta yang langsung cepat tanggap dan mengerti langsung bicara "cepat siapakan senjatamu bodoh! Kita lindungi Takashi dari sini" dia langsung segera berada di posisi Takashi tadi dan memantau dari rumah dengan scope senjata miliknya.
"Ahhh, baiklah!" Morita akhirnya langsung mengerti dan melakukan sama seperti Kohta "tapi, sebenarnya apa yang terjadi"
"Aku tak tau jelas tapi, kita disuruh untuk menjaganya" Jawab Kohta memantau Takashi tengah berlari ke suatu tempat tapi, dia sudah tau tujuannya dan melihat disana ada anak kecil sedang menangis "ahhh, aku rasa alasannya seperti itu"
"Entah apa yang terjadi tapi, anak kecil itu terlihat menangis dengan mayat ayahnya yang sudah mati" Ucap Morita melihat hal yang sama "tapi, jika dilihat lagi dia baru tewas beberapa menit lalu kalau dlihat dari kondisi fisiknya"
"Aku rasa dia dia dibunuh oleh pemilik rumah yang mengira pria itu adalah Zombie karena berasal dari luar padahal bukan" Ucap Kohta yang sudah menduga satu hal "tapi, yang membuatku kesal adalah anak kecil itu yang tak dibiarkan masuk padahal, dia tak mengerti apapun"
"Ahh, orang-orang brengsek! seperti itu yang harusnya mati" Morita menggertakan giginya dengan sangat kesal sekali "meski dalam situasi Neraka dimana kau, tak percaya apapun tapi harus sedikit pintar dengan membedakan Zombie atau orang normal karena sudah sangat jelas sekali"
"Yah, yang kita lakukan hanya membantu Takashi agar gadis kecil itu selamat" Kohta mengangguk dan masih terus memantau jika, ada Zombie yang mendekati Takashi maka langsung dia tembak "ngomong-ngomong gunakan alat peredam suara di ujung senjatamu agar suara tembakan tak terdengar jelas oleh para Zombie dan memancing perhatian mereka"
"Okay!"
.
.
.
.
.
- Luar Rumah ( Posisi Takashi )
Takashi terus berlari kencang setelah keluar dari rumah itu demi menyelamatkan anak kecil itu yang sedang dalam kondisi berbahaya karena sudah mulai didekati oleh pasukwn Zombie yang mendengar suara tangisan itu karena mereka sangat peka sekali terhadap suara sekecil apapun. Dan ngomong-ngomong Takashi membawa Katana milik Immamura yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya di lantai sebagai pertahanan diri meski begitu dia cukup terampil untuk memainkan benda tajam itu.
Dia berlari sekuat tenaga dan berharap tepat waktu karena dia tau gadis kecil itu masih sangat trauma sekali setelah kehilangan ayahnya dengan cara tak bagus sama sekali tapi, jika dilihat lagi masih ada waktu dan dia mendengar beberapa tembakan dari kejauhan meski terdengar kecil tapi, dia tau itu kedua temannya yang sedang membantu.
Dan seketika dia sudah sampai dengan langsung saja Takashi mengayunkan Katananya dengan begitu cepat sekali hingga beberapa kepala mayat hidup itu terlepas dari tubuh dan darah menyembur keluar dimana-mana, dia melakukan itu lagi dengan cepat yaitu fokusnya adalah menyelamatkan gadis kecil itu dari bahaya mengancam.
Takashi lebih menfokuskan para Zombie yang sudah mendekati anak kecil itu meski dia tau suara berisik tadi cukup mengundang perhatian dari Zombie yang lain lalu tak lama dia membantai semua yang ada disana dan membersihkan tempat itu dari para Zombie meski banyak sekali darah yang berceceran di tanah seperti krim cair yang bocor begitu saja.
Takashi mendekati anak kecil itu yang terlihat menundukan kepala ketakutan dan tubuh gemetar "hey! gadis kecil kau tak usah takut karena semuanya sudah aman sekarang jadi, tenanglah" dia memberi senyuman yang bersahabat.
Gadis kecil itu sedikit terdiam dan akhirnya menunjukan wajahnya dengan ekspresi bingung "huh...?"
Takashi tak menyalahkan gadis ini sedang takut, bingung, dan tak tau cara berbicara dengan orang asing "hahahaha! Baiklah! Apa kau baik-baik saja?" dia mengusap rambut yang berwarna seperti cherry.
"I-iya!" Jawab gadis kecil itu agak gagap atau masih ragu "terima kasih Onii-Chan telah menyelamatkanku"
"Itu sudah jadi tugasku untuk menolongmu" Balas Takashi tersenyum "ngomong-ngomong siapa namamu? Namaku adalah Takashi Komuro"
"Na-namaku A-alice" Jawab gadis kecil itu masih dengan gugup "ta-tapi a-a-ayah!" dia melihat kondisi ayahnya yang sudah tak bergerak sama sekali.
Takashi hanya membalas dengan tersenyum masam saja melihat ekspresi tadi dia tau tak bisa berbuat banyak apapun lagi bahkan menghidupkannya kembali karena dia tau nyawa hanya satu dan setelah itu berakhir sudah apalagi jika dalam kondisi seperti ini nyawa adalah hal berharga. Dan Takashi hanya bisa mengelus kepalanya agar tetap tenang dari hal gak bagus.
"Tenang saja ayahmu meski pergi tapi, dia ada disuatu tempat mengawasimu dan berharap agar kau selamat" Ucap Takashi membuat gadis kecil itu tersenyum senang "bagaimana kalau kau ikut dengan aku dan pergi dari sini agar dirimu aman!"
"Iyah!" Jawab Alice mengangguk mau.
"Tapi, pertama-tama kita kubur dulu ayahmu agar tenang disana" Ucap Takashi melihat jasad itu dengan rasa iba.
Setelah mengubur jasad ayahnya yang mati dan disana pula di kubur Alice mendoakan ayahnya yang terakhir karena tak bisa berkunjung lagi jika situasi seperti ini agar tetap tenang di alam sana lalu tak lama dia menggendong gadis kecil itu ke punggungnya sambil memegang seekor anjing putih yang dikira milik Alice.
"Kau siap?" Tanya Takashi
"Iyah," Jawab Alice merangkul erat leher Takashi.
Takashi sedikit berpikir untuk mencari jalan alternatif untuk kembali lewat rumah tadi karena nyatanya dia ogah melawan para Zombie itu dengan begitu banyak darah karena akan membuat takut Alice dan dia sedikit termenung hingga akhirnya muncul ide di otaknys untuk mengggunakan sedikit kekuatannnya yang khusus.
"Baiklah berpegangan!"
"Yeayyyy!"
"Houggg!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Kembali Ke Rumah
"Kau lihat itu? Dan yang tadi benar-benar bukan mimpi"
"Oichh! Jelas bukan karena aku sudah mencubit diriku sendiri"
Morita tengah sangat kagum sekali dengan sesuatu selagi dia membantu Takashi untuk membasmi para Zombie yang mengganggu saja tapi, ketika mengintai karena tak ada sesuatu menarik dia dikejutkan dengan sebuah atraksi yang begitu hebat sekali di matanya dan ini baru pertama kali untuknya bahkan Kohta saja begitu kagum juga dengan mata berkilauan.
Wajar saja mereka bereaksi seperti itu karena selagi memantau situasi mereka melihat Takashi berlari kencang dan sangat lincah sekali melewati para Zombie dengan cara melompat pagar tinggi, berjalan di tembok, dan berayun dari satu pohon ke pohon yang lain dengan sangat cepat sekali seperti seekor Kera tapi, anehnya Takashi terlihat biasa saja malahan menikmati itu meski sedikit membawa beban.
"Ohhj, apa yang sedang terjadi disini?"
"Benar! Kalian orang-orang bodoh ini mengganggu tidur orang lain saja"
Muncul suara lain yang satu agak lembut dan yang satu lagi agak sedikit kasar ketika menoleh disana ada gadis berambut pink Saya Takagi dengan hanya mengenakan Tanktop biru yang menonjolkan sangat jelas sekali bulatan dadanya dan seorang gadis berambut ungu Saeko Busujima yang hanya mengenakan Celemek putih saja, lalu thong dan stocking panjang berwarna hitam dengan menonjolkan lekuk tubuhnya yang langsing.
"Guhaaaaaa!"
Seketika Morita langsung mimisan dahsyat yang begitu banyak sekali hingga pingsan bukan tanpa alasan dia seperti itu karena pada akhirnya yang diimpikan olehnya yaitu melihat seorang Kapten Klub Kendo Saeko Busujima hanya mengenakan celemek saja dan hal seperti ini akan diingatnya sampai mati karena kesempatan jarang yang ada dua kali.
"Heheheh! Mati sekarang pun tak masalah" Ucap Morita mengigau dengan darah mengucur dari hidung.
Dan tak lama setelah kejadian itu Takashi langsung kembali dan tentu saja dia tak sendiri sambil membawa anak kecil "yo! Semuanya! Aku pulang" dia melambaikan tangan dengan grin.
"Heyy! Bakashi! Siapa yang kau bawa itu?" Tanya Saya seperti biasa dengan suara agak kasar sekali meski dia anak kolongmerat mungkin tingkahnya yang agak sombong seperti yang membuatnya seperti ini.
"Ahhh! Dia adalah Alice anak kecil yang aku selamatkan tadi" Jawab Takashi memperkenalkan gadis kecil itu dan tentu berkat tadi yang lainnya ikut bangun juga sementara Alice hanya membungkuk.
Saya sadar sesuatu dengan ucapan Takashi tadi "tunggu! jangan bilang kau keluar sendiri" dia tau kekuatan lelaki hebat tapi, ketika situasi seperti ini tak bisa menutup rasa khawatir baginya lagi dan dia teringat kembali kejadian waktu penculikan itu ketika dia melihat kondisi orang yang dia suka sangat parah sekali sebelum wujud monster itu muncul.
"Yah, aku memang keluar sendiri tapi dengan bantuan Morita dan Kohta untuk mengcoverku dari belakang" Jawab Takashi.
Sebelum Saya ingin marah atau berteriak kesal sekali karena bertingkah ceroboh seperti itu tapi, sudah terlebih dahulu oleh gadis di sampingnya yaitu Saeko Busujima.
"Ahh, aku senang kau baik-baik saja" Ucap gadis berambut ungu itu dengan tersenyum.
"Yah, tak usah terlalu khawatir" Balas Takashi dan tentu saja Saya memasang wajah jengkel atau tak suka sama sekali meski dia tak sadar dengan apapun tapi, tentu saja keributan itu membangunkan yang lainnya juga.
"Uhmnmm maaf apa yang sebenarnya terjadi dengan Morita-San?" Tanya Yoshino mengangkat tangan dengan wajah khawatir.
"Lebih baik kau abaikan saja" Balas Saya mendengus.
Hisashi melihat keluar jendela "entah ini apa aku yang salah melihat atau semua Zombie itu bergerak ke rumah kita?"
"Apakah kalian membuat keributan tadi ketika melindungi aku?" Tanya Takashi.
Kohta menggeleng "tidak, bahkan kita sudah menggunakan alat peredam suara untuk membantumu tapi, tetap saja terdeksi meski begitu mungkin saja indra suara mereka sangat sensitiv"
"Tapi, bukankah ada tembok penghalang yang dialiri oleh listrik?" Tanya Immamura bingung "jadi, itu kita hanya perlu bersantai saja?"
"Tidak, bukan seperti itu karena pagar tadi hanya keamanan sementara saja" Jawab Takashi menggeleng "karena tujuan awal adalah kita beristirahat disini agar para Zombie tak mendekat dan pagar itu sebagai pertahanan sementara karena kondisi daya listrik itu tak cukup banyak untuk mengatasi mereka semua jadi, tak bakal menutup kemungkinan jebol jika Zombie sebanyak itu"
Takashi melihat para Zombie yang sudah mulai mendobrak pagar besi itu ada beberapa yang tersetrum oleh tenaga listrik itu dan ada yang tidak sama sekali untuk mencoba menjebol pagar itu dan dia tau kondisi seperti ini tak begitu baik sama sekali apalagi jika menunggu saja tanpa berbuat sesuatu.
"Tunggu! bukankah kau bilang para Zombie itu cukup sensitiv dengan cahaya?" Tanya Hisashi.
Takashi hanya menggeleng "tidak, ini yang aku maksud adalah Zombie khusus dengan kemampuan tinggi dan yang menyerang kita adalah para Zombie biasa saja dan tak ada kelemahan apapun selain membunuh mereka saja"
"Terus kita harus bagaimana?" Tanya Rei dengan wajah bingung.
Takashi menjawab "yah, kita tak bisa menyalahkan mereka berdua karena insiden bahwa akulah yang harus disalahkan atas hal ini karena menyuruh mereka berdua melindungiku untuk menolong gadis kecil ini" dan dia mulai berpikir untuk rencana selanjutnya "tapi, kita harus segera keluar dari sini meski resiko ketemu Zombie itu cukup besar tapi, ini lebih baik daripada tak berbuat apapun"
"Lalu apa rencanamu?" Tanya Kohta
"Heyy, Shizuka-Sensei bukankah di garasi rumah ini ada sebuah mobil besar?" Tanya Takashi yang waktu itu sedikit berkeliling dan menemukan sebuah mobil
"Ahhh, ada sih hahahaha! tapi jika kau ingin menggunakan itu tak masalah lagipula Rika tak begitu peduli" Jawab Shizuka masih terlihat efek mabuk tadi.
"Kita harus segera kabur dari sini menggunakan mobil itu" Jawab Takashi dengan wajah serius.
"Apa kau yakin mobil itu akan muat untuk kita semua?" Tanya Liona.
"Yah, sangat yakin sekali karena itu mobil seperti perang maka cukup besar sekali dan muat untuk kita apabila ada orang yang tak bisa masuk mending di atas mobil saja" Jawab Takashi.
"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Immamura masih bingung.
"Yang, bisa bertarung ikut denganku dan kita hadang mereka untuk membuka jalan yang lain" Jawab Takashi yang terlihat seperti seorang pemimpin saja "dan yang tidak masuk segera ke dalam mobil lalu Immamura kau matikan listrik itu setelahnya kau langsung bantu kita"
"Okay!" Immamura mengangguk lalu langsung pergi begitu juga dengan yang lain.
Setelah melihat pagar besi itu yang sudah tak dialiri oleh listrik lagi seketika pagar yang melindungi rumah itu langsung jebol karena banyaknya Zombie yang memaksa mencoba masuk ke dalam dan seketika Takashi, Morita, Kohta, Hisashi, Saeko, dan Immamura yang bergabung meladeni mereka semua.
"Sial! mereka terlalu banyak!" Ucap Immamura mulai menebas tubuh mereka yang mulai mendekat.
"Jika ingin cepat serang langsung di kepala karena itu sensitiv dan sangat lembek sekali" Jawab Takashi menggunakan alat sederhana seperti Palu untuk menghancurkan kepala mereka semua "jangan tubuh karena mereka mayat hidup dan takkan merasakan sakit apapun"
"Ahhh aku tau itu! Mati kalian! brengsek!" Ucap Morita mengeluarkan kata kasar dan langsung menembakan tepat di kepala hingga terjadi cipratan darah yang begitu banyak sekali.
"Kita harus membukakan jalan untuk mereka" Ucap Saeko yang berdiri paling belakang untuk menjaga jika ada serangan sesuatu yang tiba-tiba.
"Mereka seperti pasukan semut! tak pernah ada habisnya" Ucap Kohta agak kesal dengan sesuatu yang banyak sekali dan tak ada habis.
Selagi mereka membantai semua pasukan Zombie dengan senjata tajam dan begitu banyak sekali yang namanya hujan darah, pintu Garasi terbuka dan menunjukan sebuah mobil Jeep warna coklat tua dan di dalam sana sudah ada orang-orang yang tak ikut membantai Zombie duduk dengan selamat.
Jika dilihat mobil Jeep itu bisa dibilang lumayan besar dan panjang jadi itu pasti cukup sekali dengan kelompok mereka terlebih lagi itu bukan mobil Jeep biasa yaitu khusus untuk pasukan tentara yang cukup banyak untuk orang masuk terlebih ada sebuah senjata mesin berwarna hitam di atas mobil jadi, itu cukup membantu.
"Cepat! Yang lain masuk mobil!" Teriak Takashi masih tetap membasmi Zombie yang lain ibarat seperti umpan dan membiarkan teman-temannya masuk ke dalam mobil "aku akan mengulur waktu sebentar!"
"Bagaimana dengan kau?!" Tanya Saeko khawatir mendengar rencana yang terkesan mengorbankan diri.
"Lakukan saja" Balas Takashi dengan jawaban mantap.
Saeko melihat mata Takashi yang begitu dalam dan sangat sungguh-sungguh seperti ini akhirnya menuruti saja kata orang itu, sementara Takashi masih sibuk sekali membasmi mereka dan setelah jalan dirasa kosong atau longgar.
"Cepat berangkat!" Teriak Takashi yang berharap tak memancing perhatian Zombie yang lain.
Dan ketika mendengar sebuah sinyal Liona yang bertindak sebagai supir langsung menyalakan mesin dan tancap gas menjalankan mobil itu dan bergegas sekuat tenaga pergi dari tempat situ sementara Kohta memegang senjata mesin itu sambil menembaki para Zombie yang menghalangi jalan.
"Hahahaha! Rasakan itu sialan!" Kohta tertawa sangat puas sekali.
"Bakashi! Cepat naik!" Teriak Saya yang begitu khawatir sekali dengan rencana absurd tadi meski ingin menolak tapi, dia tau lelaki itu akan sangat keras kepala sekali dan itu membuatnya jengkel "sensei! Sedikit pelankan laju mobil ini karena Takashi belum naik"
"Okay!"
Takashi langsung berlari kencang meski tertinggal dia tak peduli karena sudah tau bakal terkejar dan dia melihat laju mobil agak sedikit melambat, tak ingin menyia-nyiakan itu dia berlari lebih kencang lagi dan sangat bersyukur memiliki kekuatan yang tak normal seperti karena takkan merepotkan orang lain meski, dia juga bingung berasal dari mana kekuatan aneh ini.
Dan tangan Takashi berhasil meraih pegangan mobil dan nangkring disana dan berteriak kencang "kecepatan penuh!" dia tak melihat ke belakang karena sudah tau teman-temannya naik semua ke dalam kecuali Alice, Kohta, dan beserta Anjing yang berada di atas.
Liona langsung tancap gas setelah mendengar itu dengan kecepatan penuh meninggalkan rumah yang sempat disinggahi tak begitu lama hingga akhirnya mobil itu menghilang jauh.
.
.
.
.
.
- Keesokan Harinya ( Di Mobil Jeep )
"Akulah seorang polisi! yang senantiasa menjaga keamanan wilayah tapi, kenapa saat polisi dibutuhkan! Dia menghilang seperti bajingan yang tak tau malu dan mementingkan diri sendiri lalu mengabaikan tugasnya dan itu sungguh brengsek!"
"Akulah seorang polisi! yang senantiasa menjaga keamanan wilayah tapi, kenapa saat polisi dibutuhkan! Dia menghilang seperti bajingan yang tak tau malu dan mementingkan diri sendiri lalu mengabaikan tugasnya dan itu sungguh brengsek!"
"Gogggg!" "Goooggg!"
Kohta sedang bernyanyi di atas sebuah mobil Jeep dengan begitu bahagia sekali dan disusul oleh gadis kecil yang ada di sampingnya dengan mengikuti ucapan lelaki tadi dengan canda riang juga seolah, tak terjadi masalah atas ucapan tadi meski begitu itu tak bagus untuk seorang anak kecil.
*branggg!
Yuuki langsung muncul ke atas setelah mendengar tadi "Kohta Hirano! meski peraturan disini sudah bebas tapi, kau tak bisa mengajarkan anak kecil kata-kata kotor seperti itu!" dia terlihat sangat kesal sekali walaupun dirinya sering berbicara seperti itu tapi, tidak di depan anak kecil.
"Ahh, iya! iya! Maaf!" Balas Kohta tertawa kering menanggapi tadi.
Setelah malam yang panjang tanpa henti dan terus berjalan seolah tak ada habisnya kini hari sudah esok dan kondisi sedang berjalan dengan aman karena tak ada para Zombie yang mendekat atau mengganggu karena mereka semua mengenakan Jeep tapi, itu cukup beruntung karena selama malam mereka tak menemukan Zombie khusus yang dibicarakan Takashi meskipun sudah ada tanda-tanda kemunculan mereka yah, setidaknya kali ini selamat.
Setelah keluar dari rumah itu kini posisi mereka sedang melewati sungai lagi secara langsung dengan menggunakan Jeep karena ini adalah mobil tentara jadi serba guna dan bisa dipakai berjalan di Air karena apabila melewati jembatan bakal tak menutup kemungkinan ada serangan Zombie lagi dan itu cukup merepotkan karena lelah sekali.
Yah,setelah keadaan benar-benar cukup tenang semuanya mengistirahatkan tubuh dengan tidur karena sangat lelah sekali dan kurang tenaga sama sekali, mereka semua tertidur sangat pulas sekali seperti mayat minus Kohta yang mengawasi sekitar dari atas mobil bersama Alice dan Shizuka yang menyetir karena bergantian dengan Liona.
beruntung sekali karena ukuran mobil ini sangat luas sekali dan muat untuk mereka semua jadi, untuk tidur tak ada yang masalah di barisan pertama Liona sedang tertidur dan Shizuka tengah menyetir, di barisan kedua Yoshino tertidur sambil memeluk Morita tertidur juga dan di sampingnya Yuuki dengan Immamura agak sedikit menjauh waktu tidur, dan barisan terakhir Rei tertidur bersandar di bahu Hisashi, dan Takashi sangat pulas sekali seperti mayat di samping kanan ada Saya yang bersandar lalu di kiri ada Saeko tertidur di pangkuannya benar-benar bajingan beruntung.
"Ughhhh! Selamat pagi" Rei mengerang sambil membuka matanya setelah tidur yang lumayan panjang dan dia orang kedua setelah Yuuki yang bangun meski tertidur lagi "ahhh, dia benar-benar tukan tidur sekali" dia mencium kening pacarnya dengan senyuman bahagia tapi, ketika dia menoleh ke kiri.
Entah karena apa atau tanpa sebab dia seolah tak suka sekali pada sesuatu yang dia lihat sekarang karena Takashi meski tertidur tangannya merangkul erat seorang Saya Takagi ke pundaknya dan perasaannya seperti tercampur aduk antara kesal, gak terima, atau cemburu. Dia juga tak mengerti padahal hubungannya sudah berakhir dan Takashi juga sudah terlihat move on meski terasa sakit tapi dia memilih membiarkan ini saja dan menatap arah lain karena semakin terpikiran bakal menyusahkan saja.
"Huamzzz kali ini benar-benar melelahkan sekali!" Saya kali ini yang terbangun dan menguap mulutnya dengan lebar dia tersenyum ke orang di sampingnya karena tidurnya sangat nyenyak sekali karena Takashi dan alasan dia berani seperti ini karena orang itu tertidur kalau sedang terjaga yang ada di ogah karena gengsi yang cukup tinggi.
Tapu, seketika senyuman tadi berubah menjadi ekspresi jutek atau jengkel kepada lelaki itu karena dia melihat bukan hanya dirinya saja yang tidur di samping Takashi karena ada seorang gadis berambut ungu bernama Saeko Busujima yang tertidur di pangkuannya dengan nyenyak seketika Saya langsung mencubit hidung Takashi dengan kencang.
Takashi langsung bangun karena sedikit sesak nafas dengan cepat "gahhh! siapa sih! mengganggu tidurku saja?" dia melihat pelakunya adalah Saya Takagi.
"Nohhh!" Ucap Saya menunjuk sesuatu.
"Sa-Saeko-san?" Ucap Takashi terkejut melihat gadis itu tertidur di pangkuannya tapi, ada yang lucu karena Saeko langsung ngiler waktu tertidur.
"Huh?!" Saeko merasa namanya terpanggil dan melihat Takashi tapi, seketika langsung sadar apa yang diperbuat olehnya sendiri "aku minta maaf!" dia langsung mengusap ilernya seketika sambil menghadap arah lain dengan wajah malu-malu.
"Ahhh, tak masalah" Balas Takashi tertawa kering dan mengabaikan tatapan mengerikan yang ada di sampingnya.
"Heyyy! aku sudah melihat daratan yang ada disana!" Teriak Kohta yang tugasnya memantau keadaan.
"Takashi apa yang kita lakukan sekarang?" Tanya Morita yang sudah terbangun bahkan yang lainnya juga.
Takashi memantau keadaan sekitar dan entah kenapa tempat ini cukup tak asing atau dirinya sering lewat kesini kalau ingin bekerja "ahhh, bicara soal itu bukankah setelah kita melewati tempat ini, bakal ada Kantor Polisi terdekat?"
"Yah, cuman Kantor cabang saja sedangkan pusat hanya ada di Ibukota" Jawab Hisashi mengangguk "memangnya apa kita akan ke sana?"
"Yah, begitulah karena sudah pasti kebanyakan orang yang masih selamat akan berada di sana mencari perlindungan" Jawab Takashi "dan terlebih kita harus sedikit mencari bahan bakar dan beberapa onderdil karena mobil ini tadi, aku lihat sempat ada bermasalah"
"Apakah jika ada orang-orang yang selamat? kita akan membawa mereka?" Tanya Immamura.
Takashi menggeleng kepala "sudah jelas tidak karena kebanyakan mungkin akan jadi beban daripada berguna terlebih lagi dalam situasi seperti bahkan kita tak bisa mempercayai orang asing begitu saja karena mereka bisa jadi sangat licik ketika ada sesuatu yang menguntungkan"
Yah, mungkin secara tak langsung Takashi tengah menyinggung seseorang yang sudah berpisah dari kelompok mereka yah, siapa lagi kalau bukan seorang guru yang menjengkelkan yaitu Shido Kouji dilihat dari insiden bus itu mereka bisa tau bahwa guru itu merencanakan sesuatu yang lain dari sekedar menyelamatkan diri bahkan sempat menahan Shizuka dan Liona untuk tetap tinggal di Bus selagi kelompok Takashi memilih berpisah tapi, yah pokoknya dia orang yang berbahaya apalagi ketika melihat Rei tak suka sama sekali dan itu menunjukan ada sifatnya yang belum ditunjukan ke publik dan mereka harus hati-hati.
"Hah, lebih baik tak perlu menambah Anggota lagi karena yang kita perlukan adalah saling bekerja sama dan terlebih kita semua sudah saling mengenal karakter masing-masing orang yang ada disini" Ucap Liona menghela nafas lelah "yah, tujuan kita cuman satu yaitu tetap hidup dan selamat, gak ada yang lain"
"Yeah!" Semuanya berteriak kompak.
"Tapi, ngomong-ngomong setelah sampai daratan kalian harus berganti pakaian" Ucap Takashi menunjuk orang-orang yang hanya mengenakan daleman "karena kita tak ingin melihat para Zombie nafsu atau apapun itu ketika berpakaian seperti itu" semua perempuan menutup tubuh mereka masing-masing dengan wajah merasa malu.
Hisashi memutar bola matanya dengan bosan "kau, ini yang benar saja mana ada Zombie memiliki nafsu seperti manusia lagipula memang mereka punya benih? lagipula ketika orang mati segala sesuatu akan terhenti dalam daya kerja tubuh itu"
"Hanya kemungkinan kecil tapi, gak usah kau terlalu pikirkan" Balas Takashi.
"Begini nih kalau sering kebanyakan baca Doujin, otaknya selangkangan melulu" Ucap Morita.
"Bukannya kau yang sering?" Tanya Immamura.
"Berisik!" Balas Morita dan semuanya pada tertawa lebar.
"Hahahaha!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
Tampak seseorang pria paruh baya berambut coklat dengan bagian depan berwarna kuning emas, dan mata ungu, tengah berdiri di sebuah rumah yang masih terlihat bersih meski situasi dunia yang sudah kotor dengan memegang jenis senjata Magnum B905E tipe pistol yang memiliki daya kekuatan tembak seperti tipe jenis Shotgun pada umumnya yah, ini berguna untuk menghancurkan para Zombie dengan sekali tembak.
"Baiklah! siap atau tidak aku akan datang karena diriku ini tau bahwa engkau masih disana bersembunyi dalam keadaan selamat"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Dan cutttt! Akhirnya selesai lagi setelah membuat tiga fic dan sekarang tinggal dua fic yang belum tergarap karena masalah waktu tapi, satu hal aku tak Hiatus dan masih hidup jadi see ya!
Pm
RnR
