Pair : Sasuhina

Rate : M

Genre : Angst, Romance, Drama

warning : Typos, OC, Only for 18+, Full of Drama, etc


It Can't be

"Ah, hampir saja aku lupa….". Naruto menepuk jidatnya. "Hina-chan… kenapa malam itu kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku atau teman-teman yang lain?". Tanya Naruto tiba-tiba saat mereka sudah berada di dalam kelas. Mereka duduk berdampingan.

"I-itu a-aku… a-aku merasa tidak enak badan…". Ia tetap tidak bisa memberitahu Naruto apa yang sebenarnya terjadi.

"Benarkah?". Naruto terlihat khawatir.

Hinata mengangguk dan menatapnya sebentar kemudian menunduk. Ia tidak berani menatap lama mata Naruto.

"Maafkan aku, Hina-chan…aku tidak datang tepat waktu…". Naruto merasa bersalah.

Hinata menggelengkan kepalanya pelan. "I-iie i-itu bukan salahmu Naruto-kun… seharusnya aku menyadarinya sejak awal… kau adalah panitia festival dan kau pasti sedang kerepotan menangani festival malam itu…".

"Tapi… itu memang salahku, Hina-chan…". Kata Naruto pelan. 'Benar… itu adalah salahku…'. Ia meraih satu tangan Hinata dan menggenggamnya.

"Na-Naruto-kun?". Wajah Hinata memerah. Ia tidak bisa menatap Naruto karena terlalu gugup.

"Sebenarnya aku ingin-"

"Dobe".

Naruto dan Hinata tersentak kaget . "Te-teme?". Naruto melepaskan genggaman tangannya pada tangan Hinata.

"Hn".

"Kenapa kau duduk di sini,?". Tanya Naruto dengan penuh rasa ingin tahu saat sahabatnya itu tiba-tiba duduk di baris ketiga dari depan, dan tepat di meja samping tempat Ia dan Hinata duduk. Karena biasanya temannya itu selalu duduk di baris paling belakang.

"Karena aku ingin duduk di sini,". Jawab Sasuke santai.

Naruto menyipitkan matanya dan hendak menanggapi Sasuke, tapi ia mengurungkan niatnya karena professor sudah terlihat memasuki ruangan. Ia melihat jam tangannya. 'Apa-apaan ini? Ibiki sensei datang terlalu awal…'.

Hinata sendiri tidak bisa menyembunyikan ketidaknyamanannya. Tubuhnya mulai menegang. Ia tidak berani melihat ke arah Sasuke.

Profesor segera memulai kelasnya dan meminta semua mahasiswa dan mahasisiwi untuk mengumpulkan tugas yang ia berikan di minggu sebelumnya. Dan sesuai perintah professor, semuanya mulai maju ke depan untuk mengumpulkan laporan mereka satu persatu. Setelah menghitung jumlah laporan yang terkumpul, ia mendesah lelah. "Uzumaki!". Ia mengangkat suaranya dan menatap si pirang.

"Hai sensei…". Naruto segera menjawab dan berdiri saat ia mengira akan dimarahi.

"Dimana laporanmu?"

"Apa?"

"Kau tidak mengumpulkan laporanmu Uzumaki Naruto…".

"Ha ha itu…". Naruto tertawa canggung. "Go-gomenasai Ibiki sensei… Saya…. saya lupa mencetak laporan yang saya kerjakan…"

"Maju ke depan dan jelaskan tentang subjek laporan yang kau miliki… Jika kau memang sudah mengerjakannya, pasti kau tidak akan melupakan isi laporanmu itu...". Profesor menantangnya langsung.

Mata mutiara Hinata menatap Naruto yang tertawa gugup dan kemudian ia bergidik ngeri saat menyadari seseorang menatapnya dengan intens. Ia melihat mata hitam Uchiha menatapnya datar tapi juga tajam secara bersamaan. Wajah pemuda itu terlihat tenang dan tak tergoyahkan. Ia menelan ludah dan dengan cepat menunduk. 'Apakah lukanya baik-baik saja?'. Ingatannya kembali saat ia tidak sengaja menusuknya. Ia sendiri tidak tahu seberapa dalam ia menusuk pemuda itu. Saat ia ke dapur untuk melihat pisau yang digunakannya untuk menusuknya, ia tidak menemukan apapun. Kemungkinan yang terjadi adalah pemuda itu membersihkan pisau itu dan meletakkannya ke tempat semula sebelum ia keluar dari apartemennya.

"Kau sama sekali tidak mengerjakan apapun, bukan?". Suara professor menggema keras di ruangan.

"Tentu saja saya mengerjakannya…". Naruto dengan langkah mantap maju ke depan kelas membuat teman-teman sekelasnya menatap heran. "Tapi saya lebih suka menjelaskannya langsung dengan kata-kata yang sederhana beserta contohnya hingga orang lain bisa mengerti…" Kata Naruto percaya diri.

Profesor tersenyum tipis. Ia tahu jika Naruto sebenarnya adalah mahasiswa yang memiliki pikiran yang sederhana. Dan pikiran sederhananya itulah yang brilian. Jika di fakultas bisnis ada Naruto, maka di fakultas hukum ada Nara Shikamaru. Keduanya sama-sama malas mengerjakan tugas. Mereka lebih suka bicara langsung daripada menuliskannya di atas kertas.

"Baiklah, saya akan mulai menjelaskannya… subjek laporan saya adalah….". Tidak sulit bagi Naruto untuk berbicara di depan audiens, karena ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Ia menjelaskan secara detail dengan kata-kata yang sederhana. Semua mahasiswa, mahasiswi dan bahkan professor terdiam mendengarkan penjelasannya.

Mata hitam Uchiha menatap Naruto yang berbicara di depan. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia memperhatikan sahabat bodohnya. Ia masih tidak mengerti apa yang istimewa dari Naruto. Yang ia tahu, sahabatnya itu hanya bisa mencari perhatian dan membuat onar. ia melihat bagaimana dia berinteraksi dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas saat menjelaskan subjeknya dan tertawa dengan suara nyaring saat ia sadar dengan beberapa kesalahannya dalam beberapa hal dan dengan segera mengoreksinya. Tatapan matanya yang dalam kemudian jatuh pada gadis Hyuuga lagi yang memegang pensilnya diantara jari-jarinya tanpa mencatat seperti yang lainnya. Gadis itu menatap dengan penuh perhatian pada Naruto. Wajahnya tiba-tiba bersemu merah saat tidak sengaja Naruto menatapnya dan tersenyum padanya. 'Mereka pikir hanya ada mereka saja di kelas ini?'. Ia memainkan pensil di tangan kanannya dan memijit pangkal hidungnya dengan tangan kirinya. Ia merasa seperti orang ketiga di antara dua orang yang saling menyukai. Dan itu membuatnya kesal.

'Ini akan segera berakhir,'. Ia meyakinkan dirinya sendiri. Jika dia menginginkan sesuatu, dia akan mendapatkannya. Itu hanya masalah waktu.

"Baiklah… sudah cukup Uzumaki…". Proffesor menghentikan presentasinya.

"Eh?".

"Saya pikir semuanya sudah mengerti… sekarang duduklah… dan untuk selanjutnya, cukup tulis pendapatmu di atas kertas…"

Dengan cengiran khasnya, Naruto mengangguk cepat. Padahal ia membual tentang tugasnya yang sama sekali belum dikerjakannya. Setelah itu professor menuju papan tulis dan menuliskan item berikutnya.


It Can't be

Seorang pria kurus berambut gelap tersenyum tipis saat mata onyxnya menangkap siluet seseorang yang sudah lama ia tunggu-tunggu memasuki cafe yang menjadi favoritnya. Ia menatap orang itu yang berjalan lamban dan berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung yang ada. Mungkin karena bekas luka yang melintang di mata kirinya.

"Nah, sepertinya kau masih sama dengan kebiasaan burukmu yang selalu terlambat, Kakashi". Katanya kemudian menyesap kopi di tangannya.

Pria jangkung itu mendesah letih. "Apa kau harus memilih tempat seperti ini untuk bicara? Itachi". Ia melihat sekeliling. Ruangan terlihat gelap dengan meja kayu yang tertata rapi. Orang-orang yang ada di dalamnya hanya duduk, makan, dan minum dengan hening. Ia sendiri merasa tercekik berada di tempat itu.

Itachi tersenyum tipis. "Aku suka tempat ini karena keheningannya... dan tentu saja karena tempat ini dekat dengan perusahaan". Katanya sambil melihat taman yang tertata rapi terbentang di sisi jendela samping mejanya. "Apa kau hanya akan berdiri saja?".

Kakashi memutar matanya bosan dan dengan segera duduk berhadapan dengan Itachi. "Kali ini apa yang ingin kau dengar?".

"Kau tidak ingin memesan sesuatu?". Tanya Itachi mengabaikan pertanyaan Kakashi.

"Itu tidak perlu…". Kakashi mengeluarkan buku yang baru ia beli beberapa hari yang lalu. "Sasuke tidak membuat kekacauan di kampus". Katanya langsung tanpa basi basi. "Jika itu yang ingin kau dengar".

"Itu bagus… tapi sebenarnya aku masih mengkhawatirkannya". Itachi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Sasuke sangat impulsif".

"Aku tahu…". Kata Kakashi sambil membaca buku. "Mungkin itulah kenapa dia tiba-tiba bergabung dengan tim basket".

"Tim basket?"

"Ya, Guy yang memberitahuku".

Itachi menyeringai. "Souka".


It Can't be

"Hyuuga". Suara berat Sasuke membuat perhatian Hinata dan Naruto tertuju padanya. Mereka baru saja menyelesaikan kelas mereka dan berada di lorong depan kelas.

"Ada apa teme?". Tanya Naruto saat melihat Hinata yang terlihat ketakutan.

"Aku tidak bicara denganmu, dobe". Kata Sasuke datar. Tatapannya masih tertuju dengan gadis Hyuuga yang menunduk.

"Apa yang ingin kau bicarakan dengannya?". Naruto menyipitkan matanya karena penasaran.

"Kau seharusnya ingat dengan tugas kelompok yang Iruka sensei berikan kemarin, dobe".

"Eh?". Naruto tertawa canggung. "Ha ha aku lupa memberitahunya…". Naruto langsung menghadap Hinata. "Hina-chan… kemarin saat kau tidak masuk, Iruka sensei memberikan tugas kelompok pada kita…".

Hinata mendongak menatap Naruto yang tersenyum lebar. "Be-benarkah? Ja-jadi aku dan Naruto-kun satu kelompok?".

Naruto mengangguk cepat. "Ya, itu benar… jadi selama dua minggu kita akan sering bersama untuk mengerjakan tugas itu…".

Hinata tersenyum dan mengangguk.

"Tapi Hina-chan… untuk dua minggu selanjutnya…". Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Kau satu kelompok dengan Sasuke…".

-Deg-

Hinata membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "A-apa?". Ia membeku.

Sasuke menyeringai. "Kuharap kau tidak akan membuang waktuku dengan tugas kelompok itu, Hyuuga". Setelah itu ia berjalan melewati mereka dengan seringaian angkuhnya.

"Hina-chan?". Naruto memanggil Hinata yang terlihat pucat pasi. "Kau baik-baik saja? Apa kau masih tidak enak badan?". Tanya Naruto khawatir.

"Ti-tidak Naruto-kun… aku baik-baik saja…". Hinata mencoba tersenyum.

"Syukurlah…". Naruto memijat tengkuknya. "Ummm Hinata…". Suaranya menjadi serius saat ia memanggilnya seperti itu. "aku ingin… maksudku malam itu…"

"Ha-hai?".

"Aku ingin memberitahumu bahwa…"

"Hinata~". Kalimat Naruto terpotong dengan suara teriakan seseorang. Kiba menghampiri mereka dan meletakkan kedua tangannya di kedua pundak Hinata sambil mengguncangnya.

"Ki-Kiba-kun?".

"Aku senang kau kembali… kau tidak tahu bagaimana kami merindukanmu…". Kata pemuda itu dengan senyuman yang lebar dan mengabaikan Naruto yang melihatnya kesal.

"Hinata mengerjapkan mata beberapa kali. "Apa… apa yang terjadi padamu, Kiba-kun?". Suaranya yang lemah terdengar khawatir saat ia membawa jari-jari rampingnya ke sudut bibir Inuzuka.

"Ah, itu karena aku bertengkar dengan Sasuke". Kata Kiba santai.

"Nani?". Hinata terkejut mendengarnya.

"Kau pantas mendapatkannya karena kau membuatnya kesal, dattebayo~". Kata Naruto yang masih memperhatikan kedua tangan Kiba di bahu Hinata.

"Si angkuh itu… suatu hari nanti aku akan mematahkan tulang hidungnya dengan satu pukulan telak". Kata Kiba percaya diri.

"Aku ragu itu akan terjadi,". Naruto mengejeknya.

"A-apa… apa yang terjadi?" Tanya Hinata khawatir saat melihat sepasang tanda lebam di wajah Kiba. Meski tidak terlalu terlihat, tetapi itu tidak luput dari penglihatannya.

"Tidak ada yang serius Hina-chan… mereka bertengkar hanya karena masalah keanggotaan…". Naruto menarik Hinata dari Kiba.

"Keanggotaan?". Hinata mengernyit bingung.

"Ah, souka… kau belum tahu… hehe teme bergabung dengan tim basket kita dattebayo~". Kata Naruto senang. "Jadi kita akan sering berkumpul bersama…".

Hinata tersenyum hambar. Ia sendiri tidak begitu tertarik dengan bergabungnya pemuda itu di tim basket.

"Guy sensei menyuruh kita berkumpul sekarang, Naruto…". Kata Kiba memberitahu.

"Benarkah? Haaahhh baiklah kalau begitu… kau pergilah dulu… aku akan menyusul".

"Tapi cepatlah…". Keluh Kiba. Ia kemudian menatap Hinata lagi dan tersenyum. "Sampai jumpa lagi Hinata…". Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka.

"Ada apa dengannya?". Naruto mengernyit bingung melihat tingkah Kiba, tapi dengan segera ia mengabaikannya dan menghadap Hinata. "Hina-chan?".

"Hai?"

"Apakah kau akan langsung pulang setelah ini?".

"Ti-tidak… aku akan menemui Ino-chan…".

"Souka…".

"A-ada apa Naruto-kun?"

Naruto menggaruk kepala belakangnya dan tertawa canggung. "Bisakah kau menungguku di taman utama kampus? Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu….". Katanya malu-malu.

"Eh?". Hinata menatap Naruto bingung.

"Baiklah sampai bertemu nanti Hina-chan…". Naruto langsung berlari meninggalkan Hinata yang berdiri mematung.

Senyuman Hinata mengembang. Semburat merah muncul di kedua pipinya. "Ah, benar juga… Ino-chan…".


It Can't be

"Sepertinya kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, Hyuuga".

Hinata yang sedang berjalan santai di jalan setapak taman kampus terkejut dengan suara seseorang yang terdengar sinis. "U-Uchiha-san?". Ia panik dan berusaha lari.

Pemuda berambut gelap itu dengan cepat menyudutkannya di salah satu batang pohon terdekat. "Jangan membuat keributan!". Ancam Sasuke tajam. "Aku tidak akan melakukan apapun padamu, apalagi di sini".

Tubuh Hinata menegang. Kurang dari dua puluh meter dari tempatnya berada, ia bisa melihat Ino yang duduk di salah satu gazebo taman kampus dengan earphone di telinganya dan dengan posisi memunggungi mereka. Jika sahabatnya itu berbalik, ia pasti akan melihat mereka.

"A-apa yang kau inginkan?". Hinata berusaha menatapnya. Ia menelan ludah saat melihat pemuda di depannya tersenyum. Jujur saja ia lebih takut, karena ia sama sekali tidak pernah melihat Uchiha Sasuke tersenyum.

"Apa yang kuinginkan?". Sasuke mengamati bibir Hinata sejenak sebelum menatap matanya kembali. "Tubuhmu".

Hinata tersentak dengan pengakuan jujur Sasuke yang menurutnya sangat menjijikkan. Ia menatap wajah Sasuke yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan. Dan ia tahu, apa yang dikatakannya bukan lelucon. "Aku bukan pelacur". Dengan sekuat tenaga ia mendorong Sasuke.

"Argh". Sasuke memegang sisi kiri perutnya.

"U-Uchiha-san?". Hinata terkejut melihat Sasuke yang mengernyit seperti menahan sakit sambil memegang perut kirinya. "K-kau baik-baik saja?". Tapi ia hanya berdiri mematung dan sama sekali tidak bergerak ke arah Sasuke. Perhatiannya fokus pada perut kiri pemuda itu.

Sasuke ingin sekali tertawa. Bagaimana bisa orang yang sudah berani menusuknya bertanya padanya apakah ia baik-baik saja. Dengan menahan sakit ia kembali mendekati Hinata yang masih berdiri mematung. "Jangan melihatku seperti itu, Hyuuga". Ia menyudutkan gadis itu kembali di batang pohon pinus di belakangnya. "Apa kau tahu apa yang ingin Naruto bicarakan denganmu?".

Hinata menggeleng pelan.

"Dia ingin memintamu menjadi kekasihnya".

"A-apa?". Hinata tidak tahu apakah ia harus percaya atau tidak.

"Bukankah kau ingin melupakan semuanya?". Sasuke mempertanyakan lagi tentang apa yang sudah jelas gadis itu inginkan. "Kalau begitu biarkan aku merasakan tubuhmu atas kehendakmu sendiri dan berpura-puralah tidak terjadi apa-apa". Bibirnya melengkung menjadi seringaian yang menakutkan. "Aku bisa mendapatkanmu dengan paksa jika aku mau…". Kata Sasuke sambil mengangkat dagu Hinata. "Tapi itu tidak akan menyenangkan, Hyuuga".

Hinata merasa sedang berhadapan dengan orang gila. Ia tidak tahu jalan pikiran pemuda itu.

"Apa kau tahu apa yang akan dilakukan Naruto jika aku memberitahunya sekarang bahwa aku menyukaimu?". Kata Sasuke pelan sambil membelai pipi Hinata.

"K-kau tidak akan bisa mengatakan kebohongan itu…". Hinata menolak untuk mempercayainya.

Sasuke menyipitkan matanya mendengar Hinata yang meragukan kata-katanya. "Aku bisa melakukannya, Hyuuga". Katanya dengan nada tajam, lalu mendekatkan wajahnya. "Naruto adalah orang bodoh…". Bisiknya tepat di telinga Hinata membuat gadis itu gemetar. "Jika aku mengatakan padanya kalau aku menyukaimu dan bahkan mencintaimu…. Dia pasti akan menjauh darimu… dan aku bersumpah, kau akan sulit menemuinya lagi…". Katanya lagi dengan menempelkan bibirnya di pipi Hinata. "Pikirkanlah!". Setelah itu ia menutup matanya dan menciumnya pelan. Karena tidak mendapatkan respon dari ciumannya, ia menekan dagu gadis itu dengan jarinya dan membelai bibirnya dengan lidahnya sebelum memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya.

Katakutan Hinata semakin terlihat saat tubuhnya mulai gemetar hebat dan air matanya mengalir.

Sasuke yang menyadari itu, dengan perlahan menghentikan ciuman sepihaknya. "Tolak dia!". Bisiknya lagi mengabaikan ketakutan Hinata padanya dan berbalik pergi meninggalkannya. Baginya, untuk memiliki tubuh gadis itu di bawah tubuhnya, dan mendengarnya terkesiap, mengerang, dan juga mendesahkan namanya, ia rela melakukan apa saja. Meskipun itu dengan cara mengancamnya atau dengan cara kotor lainnya, ia sama sekali tidak peduli. Ia akan mendapatkannya.

-TBC-

Gomen, Author agak nggak fokus :(

Jujur, Author seneng karena ada juga yang suka genre angst. Awalnya agak ragu nulis fanfic genre angst, karena mungkin genre ini adalah genre yang paling banyak dihindari pembaca di Indonesia.

Terima kasih banyak untuk semua yang udah ngasih dukungan dan semangat… :)