Miss Wuhan present

Tittle : Timeless Love

Main cast : Xiumin

Chen

Luhan

Pairing : Chenmin slight Xiuhan

Genre : School life, romance, a little bit sad

Length : Chaptered

Happy reading ^^

Chapter 12

Luhan berlarian di sepanjang koridor rumah sakit dengan tergesa – gesa. Perasaan khawatir membuncah di dadanya ketika mendengar kabar bahwa Xiumin dilarikan ke rumah sakit. Dia tidak sengaja melihat ketika mobil ambulan datang dengan membawa Xiumin di dalamnya. Luhan yang saat itu masih menangani pasien seketika berlari menginggalkan pasiennya menuju ke tempat Xiumin dirawat.

Luhan membungkukkan tubuhnya untuk menstabilkan nafasnya yang masih terasa terputus – putus setelah berlarian di sepanjang koridor rumah sakit. Akhirnya saat ini dia sampai juga di tempat Xiumin dirawat. Ia mengetuk pintu perlahan kemudian menerobos masuk ke dalam kamar rawat tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dahulu. Setelah ia masuk, Luhan melihat Xiumin yang tertidur dengan wajah yang pucat pasi. Melihat keadaan Xiumin yang seperti itu membuat hati Luhan teriris.

"Bagaimana keadaannya Dokter Kang?" tanya Luhan tanpa bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya akan kesehatan Xiumin.

"Dia pingsan karena terlalu kelelahan bekerja. Dia terlalu memforsir tenaganya untuk bekerja keras. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya sarankan agar dia beristirahat penuh karena seperti yang kita ketahui Minseok tidak boleh terlalu lelah."

Kini Luhan bisa bernafas lega ketika mendengar kabar bahwa Xiumin tidak mengalami hal yang serius. Setelah kepergian dokter Kang, Luhan berjalan mendekati ranjang Xiumin. Ia duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Xiumin erat.

"Mengapa kau hobi sekali membuatku khawatir? Apa yang harus kulakukan agar beban yang kau tanggung menghilang Minnie. Kau terlalu banyak memikul beban yang ada di pundakmu. Tak bisakah kau mengijinkanku untuk membagi bebanmu kepadaku?"

Jemari Luhan bergerak menelusuri wajah pucat Xiumin. Jemarinya berhenti tepat di pipi Xiumin. Ia baru menyadari bahwa Xiumin tampak lebih tirus daripada saat terakhir mereka bertemu. Tidak ada lagi pipi tembam yang selalu membuat Luhan merasa ingin selalu menciumnya. Dielusnya perlahan pipi tirus Xiumin dengan penuh kelembutan. Lalu ia menundukkan wajahnya agar sejajar dengan Xiumin. Dikecupnya lembut pipi Xiumin.

Jantung Luhan berpacu dengan cepat. Tidak. Kali ini ia tidak bisa lagi memendam perasaannya kepada Xiumin. Perlahan jemarinya menyentuh bibir pucat Xiumin lalu ia menempelkan bibirnya lembut kepada bibir Xiumin. Tak lama Luhan mulai berani memberikan lumatan pada bibir Xiumin. Perasaan yang selama ini dipendam oleh Luhan, ia sampaikan dalam ciuman itu. Luhan melepaskan tautannya lalu memeluk erat tubuh Xiumin.

Chen memandang nanar pergelangan kakinya yang saat ini tengah di perban. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya bahwa air mendidih yang tumpah ke kakinya tersebut membuat kakinya melepuh. Chen mendesahkan nafasnya berat merasa frustasi. Ia berpikir kecelakaan yang menimpanya akan menghambatnya dalam bekerja. Padahal ia harus secepatnya mengumpulkan uang untuk biaya sekolah Xiumin. Tetapi ia masih merasa bersyukur bahwa yang melepuh itu adalah kakinya. Chen bergidik ngeri membayangkan jika kaki Xiuminlah yang melepuh.

"Ini adalah resep obat untuk menyembuhkan kakimu yang melepuh. Cobalah berjalan dengan menggunakan tongkat. Kau akan mengalami kesulitan berjalan dengan kakimu yang melepuh seperti itu." ucap suster yang telah selesai memperban kaki Chen.

Chen mencoba mengerakkan kakinya perlahan menuju ke apotek untuk menebus obat. Chen harus menahan rasa sakit yang timbul setiap kali ia berjalan. Namun Chen mengabaikan rasa sakit yang di deritanya. Ia tidak mau membuang uang hanya untuk membeli tongkat yang nantinya tidak akan berguna lagi jika kakinya sudah sembuh. lebih baik uangnya ia tabung untuk membantu Xiumin.

Berbicara tentang Xiumin ia jadi menyadari bahwa ia belum mengetahui kabar Xiumin. Apakah ia baik – baik saja? pertanyaan itulah yang selalu menghantui Chen. Selesai dari apotek Chen berjalan tertatih menuju ke ruang resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Xiumin. Chen tanpa terasa semakin mempercepat langkahnya ketika ia sudah mendapatkan informasi dimana Xiumin dirawat. Meskipun sesekali ia merintih namun hal itu tidak membuat Chen menghentikan langkahnya. Rasa khawatir yang begitu membuncak mengalahkan rasa sakit yang berpusat pada kakinya.

Chen telah sampai di kamar nomor 17 tempat dimana Xiumin akan dirawat. Ia sudah akan membuka pintu sebelum kejadian yang menghancurkan jiwanya terjadi tepat di depan matanya. Saat ini Chen tengah melihat Luhan mencium bibir Xiumin. Bara emosi menguasai diri Chen. Ia menggenggam sadel pintu begitu erat sampai kukunya berubah menjadi memutih.

Ini memang bukan kali pertama Chen melihat Luhan yang mencium Xiumin. Tetapi tetap saja ia merasakan amarah membuncak di dadanya melihat kejadian itu. Memutuskan untuk tidak mengikuti emosinya ia berjalan munduk dan duduk di bangu tepat di depan kamar rawat Xiumin. Ia harus menstabilkan emosinya yang meledak – ledak. Chen tak menampik jika ia melihat bagaimana Luhan menyampaikan perasaannya yang begitu mendalam lewat ciuman tersebut. Chen juga pernah merasakan apa yang saat ini tengah dirasakan Luhan.

Chen mendongakkan kepalanya ketika ia mendengar suara pintu di depannya terbuka. Luhan tampak kaget melihat Chen yang berada di hadapannya dengan raut wajah mengeras. Dalam benak Luhan ia bertanya apakah Chen melihat apa yang baru saja ia lakukan kepada Xiumin.

"Bisa kita bicara" ujar Chen dingin.

.

.

.

.

.

.

"Ada apa dengan kakimu Chen?" tanya Luhan ketika menyadari bahwa kaki Chen di balut oleh perban.

Chen tadi mengajak Luhan untuk berbicara empat mata dengannya. Dan disinilah mereka berada sekarang di kawasan belakang rumah sakit yang cukup sepi sehingga tidak ada orang yang memperhatikan keberadaan mereka. Setelah beberapa lama hanya keheningan yang menemani mereka berdua. Baru pertanyaan yang terlontar oleh Luhan tadi menghapus keheningan di antara mereka.

"Kakiku terkena air panas pada saat aku menyelamatkan Xiumin." jawab Chen datar tanpa sekalipun menoleh ke lawan bicaranya.

Luhan hanya menggumamkan kata oh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung menghadapi suasana canggung di antara mereka. Memang pertemuan diantara Luhan dan Chen selalu berlangsung canggung apalagi setelah Chen mengetahui bahwa Luhan juga menyimpan perasaan yang sama kepada Xiumin. Namun pertemuan mereka tidak pernah secanggung ini. Luhan lebih memilih jika Chen akan marah kepadanya karena ia mendekati Xiumin. Karena dengan hal itu ia mengetahui perasaan Chen. Tetapi dengan situasi yang seperti ini, Luhan-pun tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Chen.

"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan kepadaku?" tanya Luhan pada akhirnya karena ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Apakah kau mencintai Xiumin hyung dan sanggup melindunginya?"

Luhan membelalakkan kedua matanya tatkala mendengar pertanyaan dari Chen. Ia tidak menyangka jika Chen akan mempertanyaan hal tersebut kepadanya.

"Tentu saja aku sangat mencintainya. Dua belas tahun aku memendam rasa untuk Xiumin dan tentu saja perasaan yang kupendam selama ini tidak main – main."

Chen memejamkan kedua matanya untuk menghalau rasa sakit yang dirasakan ketika mendengar ucapan Luhan. Hanya dari perkataan tegas Luhan itu ia mengetahui betapa tulusnya ia mencintai Xiumin.

"Bisakah kau menjaga dan membahagiakannya seumur hidupmu?"

Luhan kembali terhenyak ketika ia mendengar perkataan Chen. Ia masih belum mengerti dengan arah pembicaraan antara dirinya dengan Chen.

"Apa maksudmu?"

"Bukankah pertanyaanku sangat sederhana. Bisakah kau menjaga dan membahagiakan Xiumin hyung seumur hidupmu."

"Aku tahu maksud pertanyaanmu, yang kutanyakan adalah mengapa kau tiba – tiba bertanya seperti itu. apa sebenarnya yang ada di dalam benakmu Chen?"

Chen mengalihkan pandangan kedua matanya kepada bangunan rumah sakit yang berada di hadapannya. Matanya berubah sendu memandang jendela pada lantai dua tempat dimana kamar rawat Xiumin berada. Sekilas memori kebersamaannya dengan Xiumin berputar di dalam benaknya. Betapa ia sangat menikmati kebersamaan itu meskipun ia lebih banyak beradu mulut dengan lelaki itu. Namun itu merupakan saat terbaik di dalam hidupnya, seluruh kekayaan yang dimiliki keluarganya pun tidak pernah membuat Chen sebahagia itu.

"Aku hanya takut jika perbuatan yang dilakukan ibuku semakin menyakiti Xiumin hyung. Hari ini Xiumin harus masuk ke rumah sakit karena kelelahan bekerja. Aku tidak bisa membayangkan hal buruk apa lagi yang terjadi pada Xiumin jika aku masih berada di dekatnya. Ibuku akan melakukan segala cara untuk memisahkanku dengan Xiumin."

"Jadi kau akan merelakan Xiumin."

Chen menghela nafasnya lelah. Ini keputusan yang sangat berat yang harus segera diambilnya. Jika ia boleh memilih ia tidak akan merelakan Xiumin begitu saja ke Luhan. Ia akan terus memperjuangkan cintanya kepada Xiumin. Berusaha semaksimal mungkin agar kedua orang tuanya dapat menerima Xiumin sebagai orang yang sangat dia cintai. Namun kali ini ia tidak boleh egois. Jika ia tetap keras kepala nanti hanya berujung dengan Xiumin yang terluka. Chen bersumpah ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. maka dari itu ia merelakan Xiumin kepada Luhan.

"Sulit bagiku untuk merelakan cintaku. Aku begitu tersiksa jika berada jauh darinya. Namun ia akan lebih tersiksa jika tetap berada di sisiku. Kumohon padamu jagalah Xiumin. aku percaya kau bisa menjaganya dan membahagiakannya. Karena aku tahu hanya jika bersamamulah Xiumin bisa tersenyum bahagia."

"Apakah sampai di sini saja kau memperjuangkan cintamu. Apa kau akan menyerah sampai di sini saja?"

Luhan menatap tajam ke arah Chen yang masih setia menatap jendela kamar rawat Xiumin. Dia tahu keraguan yang tampak jelas di raut mukanya. Maka ia ingin menegaskan apa sebenarnya hal yang diinginkan oleh Chen. Apakah ia ingin mempertahankan Xiumin, atau ia ingin melepaskan Xiumin ke dalam pelukannya.

"Aku tidak menyerah gege. Aku hanya memperjuangkan cintaku dengan cara yang lain. Dengan cara yang aman dan menghindarkan Xiumin dari jangkauan ibuku. Dengan cara mencintainya dalam diam dan menjaganya dari kejauhan. Oleh karena itu aku rela melepaskannya kepadamu. Mesipun itu akan membuatku mati secara perlahan. Namun ini semua demi kebaikan Xiumin. Aku sudah bersumpah bahwa aku akan melakukan apa saja agar membuat dia bahagia meskipun tanpa aku yang berada di sisinya."

Luhan benar – benar dibuat takjub dengan ketulusan cinta yang dimiliki oleh Chen. Jika ia berada di posisi Chen ia belum tentu akan berbesar hati merelakan pemilik hatinya kepada orang lain. Namun Chen tidak mau bersikap egois yang mengakibatkan orang yang dicintainya terluka. Ia dengan ikhlas merelakan kisah cintanya. Di dalam hati ia menempatkan Chen sebagai orang yang dikaguminya. Karena ia bisa bersikap sangat dewasa meskipun umurnya berada jauh di bawahnya.

.

.

.

.

.

.

Chen memasuki ruang kelasnya dengan wajah bermuram durja. Teman – teman sekelasnya yang awalnya ramai mendadak hening ketika menyadari Chen memasuki ruang kelas dengan aura menyeramkan. Mereka semua tidak ada yang berani berkomentar mengenai mood Chen kali ini. Alhasil mereka hanya mampu menyimpan beribu pertanyaan mengenai anak pemilik yayasan sekolah itu di dalam hati. Chen meletakkan tasnya dan langsung merebahkan kepalanya di meja. Tidak ia pedulikan lagi keadaan di sekitarnya yang kasak – kusuk mengenai dirinya. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah ketenangan untuk menghilangkan segala masalah yang muncul dalam hidupnya.

Chen menggeram pelan ketika ia merasakan sebuah tepukan pelan yang mendarat di bahunya. Ia sudah akan memaki orang yang sudah mengganggu ketenangannya namun ia membatalkan niatnya ketika menemukan Kris-lah yang menepuk pundaknya tadi.

"Ayo membolos. Kau sepertinya sedang suntuk saat ini."

Tanpa menunggu persetujuan dari Chen, Kris berlalu begitu saja meninggalkan Chen. Chen tersenyum simpul dalam hati ia bersyukur mempunyai sahabat yang peka seperti Kris.

Chen memejamkan matanya membiarkan angin pantai menembus wajahnya. Ia merasakan perasaannya menjadi lebih rileks setelah merasakan ketenangan yang di suguhkan oleh pemandangan di depan matanya ini. Suara deburan ombak seakan menjadi lagu merdu dalam pendengaran Chen menjadi simfoni yang menenangkan jiwanya. Perjalanan selama hampir 2 jam terbayar sempurna dengan pemandangan spektakuler dan ketenangan jiwa yang dijanjikan.

Mereka melepaskan sepatu dan membiarkan air pantai membasahi kaki telanjang mereka. kris memang sengaja membawa sahabatnya itu untuk menenangkan diri dari masalahnya sejenak. Dari raut wajah Chen tadi ia dapat mengetahui bahwa ia sedang dalam masalah yang cukup berat. Meskipun ia tidak mengetahui bagaimana permasalahan yang dihadapi Chen, Kris berharap dengan membawanya kesini dapat membuat pikiran Chen menjadi rileks. Ia akan memberikan waktu kepada Chen untuk membagi beban yang berada di pundaknya. Ia tidak akan memaksanya untuk bercerita tentang masalah yang dihadapinya.

"Thanks bro, kau telah membawaku ke sini. Pikiranku menjadi rileks setelah kau mengajakku ke sini."

Kris hanya mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan sahabatnya itu. Kris termasuk pribadi orang yang setia kawan. Ia akan melakukan apa saja agar sahabatnya berbahagia dengan selalu berada di sisi mereka. setelah puas bermain air mereka pun duduk – duduk di pasir pantai untuk menikmati hembusan angin dan suara deburan ombak. Chen meraba saku celananya dan mengeluarkan selembar foto. Ia memandang foto tersebut dengan sendu. Kenyataan yang menyakitkan kembali menghantam pikirannya yang sempat tenang karena suasana tenang di pantai.

"Ini adalah foto Xiumin hyung yang paling ku suka. Di foto ini dia terlihat begitu bahagia dengan Kirara yang berada di pangkuannya. Ia terlihat seperti malaikat yang diturunkan langsung oleh Tuhan dari surga."

Kris hanya diam mendengarkan Chen mencurahkan seluruh isi hatinya.

"Aku mengingat pertama kali aku bisa jatuh cinta kepadanya. Pertama aku terpaksa mendekatinya karena taruhan itu. Namun ketika aku melihatnya di rumah sakit hatiku bergemuruh hebat dan sejak saat itulah hatiku tertawan kepada Xiumin. Aku seharusnya berterima kasih kepada kalian, jika kalian tidak melakukan taruhan itu maka aku tidak bisa merasakan cinta yang begitu mendalam terhadap Xiumin."

"Aku begitu mencintainya. Seluruh jiwa dan ragaku akan kupersembahkan untuknya. Tetapi kali ini aku akan merelakannya. Aku merelakannya untuk lebih berbahagia meskipun itu bukan denganku."

"Kenapa kau merelakannya Chen? Tidakkah itu menyakiti perasaanmu?"

"Tentu saja ini sangat menyakiti perasaanku. Kehilangan Xiumin sama saja dengan kehancuran hidupku. Namun aku tidak ingin bersikap egois. Ibuku akan melakukan segala cara untuk memisahkan kami berdua. Termasuk cara yang akan membuat Xiumin terluka. Dan melihatnya terluka akan semakin membunuhku secara perlahan."

"Kalau begitu keluarkanlah segala emosi yang kau pendam. Teriaklah sekeras – kerasnya. Lepaskan semua beban yang berada di pundakmu."

Tanpa menunggu perintah dua kali Chen berteriak sekeras – kerasnya untuk mengeluarkan semua luapan emosi yang tersimpan di dadanya. Chen berteriak lantak disertai uraian air mata yang seakan tak berhenti mengalir melalui kedua mata Chen.

"KIM MINSEOK AKU SANGAT MENCINTAIMU."

.

.

.

.

.

.

Xiumin memandang refleksi dirinya di depan cermin dan membetulkan letak dasinya yang sedikit kurang rapi. Hari ini adalah hari pertamanya masuk kembali ke sekolah setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit 4 hari yang lalu. Meskipun wajahnya masih pucat, Xiumin tetap memutuskan untuk masuk ke sekolah. ia kini sudah kelas 3 dan jika ia masih tidak masuk maka ia akan semakin ketinggalan pelajaran. Sejak 4 hari yang lalu ia harus terpaksa beristirahat total di rumah sakit. Beruntung Xiumin mempunyai sahabat seperti Luhan. Dialah yang membiayai perawatan Xiumin selama berada di rumah sakit dan selalu berada di sisinya. Xiumin sempat memprotes tentang tagihan rumah sakit yang di bayar oleh Luhan. Namun Luhan lagi – lagi keras kepala dan tetap membayar biaya itu. Xiumin pun hanya bisa mengalah tapi ia bertekat setelah ia melunasi biaya sekolahnya dia akan membayar hutangnya kepada Luhan.

Suara ketukan pintu menghentikan lamunan Xiumin. Ia bergegas menuju pintu dan membukanya. Sosok Luhan yang pertama kali di lihat oleh Xiumin ketika ia membuka pintu. Xiumin memandang heran dengan kedatangan Luhan ke rumahnya pagi ini.

"Selamat pagi Minnie. Mulai hari ini aku yang akan mengantar jemputmu ke sekolah. Jangan memprotes karena aku tidak menerimanya. Kulihat kau sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Ayo kita langsung saja berangkat ke sekolahmu."

Luhan langsung saja menarik tangan Xiumin dan membawanya ke mobil yang sudah terparkir di depan rumah Xiumin. Xiumin memandang Luhan dengan raut wajah heran. Hari ini ia merasa Luhan bersikap aneh. Tidak biasanya Luhan memaksa untuk mengantarkannya ke sekolah. Karena selama ini Xiumin tahu betapa sibuknya dokter muda itu. Dan yang membuat Luhan semakin aneh hari ini ia tidak pernah berpakaian semodis ini hanya untuk mengantarkan Xiumin ke sekolah. Yang dikenakan Luhan hanyalah kaos hitam polos yang dipadukan dengan kemeja kotak – kotak sebagai outer dan celana jeans sobek pada bagian lututnya. Meskipun hanya berpakaian seperti itu, di mata Xiumin ia tampak sangat modis. Karena Xiumin sudah terbiasa melihat Luhan dengan setelan jas dokternya.

"Kenapa kau mengantar jemputku? Tidak biasanya kau melakukan hal itu gege?" tanya Xiumin memecah keheningan di antara mereka.

"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu Min. Karena saat ini tidak ada lagi orang yang akan menghalangiku untuk mendekatimu." Jawab Luhan dengan senyum misterius.

Xiumin semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti akan perkataan yang disampaikan oleh Luhan. Ketika ia ingin menanyakan maksud perkataannya itu kepada Luhan mobil yang mereka tumpangi telah berhenti. Xiumin menolehkan kepalanya dan mendapati mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Luhan membukakan pintu penumpang dan mempersilahkan Xiumin untuk keluar. Tindakan gentleman Luhan itu tentu saja menarik perhatian orang – orang di sekitarnya. Xiumin memutar bola matanya malas melihat banyak orang – orang yang kini tengah menatap kepadanya. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian, maka kondisi saat ini sangat membuatnya tidak nyaman.

Di sana, di sebelah kanan tempat Xiumin berdiri ia melihat keberadaan Chen. Kedua pandangan mereka bertemu dan seketika itu juga Xiumin merasakan seperti ada aliran listrik di sekujur tubuhnya. Keduanya terpaku, diam membisu memandang pancaran netra yang entah darimana memancarkan rasa kerinduan mendalam. Waktu serasa berhenti bagi mereka berdua. Xiumin merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya ketika melihat kedua netra Chen. Harus ia akui ia merindukan kedua mata tersebut ketika menatapnya dengan pandangan penuh cinta.

Yang tidak di ketahui Xiumin, di satu sisi pandangan kerinduan tersebut juga menyiratkan sebersit rasa luka. Chen merasa hatinya tercabik melihat Luhan memperlakukan Xiumin dengan istimewa. Ia merasa iri kepada Luhan. Karena ia tidak akan bisa memperlakukan Xiumin seistimewa itu. Hanya luka dan sakit yang akan di dapatkan oleh Xiumin ketika bersamanya. Chen memutuskan membuang pandangannya kemudian berjalan tergesa menuju ke kelasnya. Ia harus segera pergi dari tempat itu sebelum hatinya akan mati secara perlahan. Xiumin yang melihat Chen pergi dari hadapannya hanya bisa memandang sendu dan tidak rela.

Xiumin menghela nafasnya lelah. Ia meletakkan kepalanya di atas meja café dengan lesu. Saat ini tidak ada pengunjung yang datang di tempatnya bekerja maka ia bisa menyempatkan untuk beristirahat sejenak melepaskan lelah. Ia kembali mengingat peristiwa – peristiwa yang terjadi pada hari ini. tidak tahu mengapa tapi Xiumin merasa jika Chen saat ini sedang menghindarinya. Sebagai buktinya ketika dirawat di rumah sakit tidak satu kalipun Chen datang untuk menjenguknya. Biasanya, Chen akan selalu berada di sisi Xiumin selama hampir 24 jam. Kedua, waktu di depan sekolah. Chen akan langsung menghampirinya dan menanyakan keadaannya bukan memalingkan muka dan bersikap acuh. Dan alasan yang membuat Xiumin semakin yakin dengan dugaannya adalah ketika Chen mengajukan pindah shift bekerja.

Awalnya Xiumin merasa bingung karena tidak mendapati Chen berada di café. Xiumin dan Chen selalu berada di shift yang sama karena dulu waktu awal bekerja di café ini, Chen memaksa bos mereka untuk memberikan shift yang sama dengan Xiumin. Ketika ia akan menyanyakan alasan kepada bos mengapa Chen tidak masuk justru membuat Xiumin membelalakkan kedua matanya. Bosnya mengatakan bahwa Chen mengajukan shift yang berbeda dengannya. Hal apa lagi yang terlintas di benak Xiumin jika bukan Chen sengaja menghindarinya.

"Sial. Kenapa si kepala onta itu menghindariku? Memang apa salahku?"

Xiumin mengacak rambutnya frustasi. Seharian ini pertanyaan itu saja yang selalu bersarang di dalam benaknya. Tanpa Xiumin sadari seharian ini dia uring – uringan hanya karena Chen menghindarinya.

"Apa ada yang salah denganku? Kenapa aku sangat kesal ketika Chen menghindariku? Bukankah aku seharusnya senang ketika ia menghindariku. Aghhh aku bisa gila jika memikirkan semua ini."

Xiumin mendongakkan kepalanya, ia memutuskan bahwa ia tidak akan lagi memikirkan tindakan Chen yang menghindarinya. Ia mesugestikan pikirannya sendiri bahwa sikap Chen yang menghindarinya tidak akan memperngaruhi hidupnya. Namun…

"MUKA ONTA KAU MEMBUATKU GILA." Teriak Xiumin frustasi yang langsung mendapatkan pandangan heran dari pengunjung café. Karena terlalu asyik melamun, Xiumin bahkan tidak menyadari jika café mulai dipenuhi oleh pengunjung. Berlari terbirit – birit, Xiumin menundukkan kepalanya dalam menahan malu.

Keesokan paginya matahari bersinar dengan cerah. Banyak orang – orang yang bersemangat untuk memulai aktivitas ketika cuaca cerah. Berbeda dengan Xiumin, cerahnya matahari tidak mampu mengembalikan moodnya menjadi lebih baik. Ia berjalan dengan langkah di seret menuju ke kelasnya. Sugesti yang di tanamkan mati – matian di dalam otaknya tidak berhasil membuat Xiumin berhenti mempertanyakan sikap Chen.

Langkah kakinya berhenti tepat di kelas Chen. Ia membelalakkan matanya kaget ketika tanpa disadarinya kedua langkah kakinya berjalan menuju kelas Chen. Xiumin bimbang. Apakah ia ingin mencari keberadaan Chen di kelasnya dan bertanya mengapa ia menghindarinya atau pergi sebelum ada orang yang tahu tentang keberadaannya di sini. Akhirnya pilihan pertama – lah yang akhirnya di pilih oleh Xiumin. Ia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya akan sikap Chen.

Xiumin melihat ke dalam kelas melalui jendela untuk mencari Chen. Tapi ia tidak menemukan keberadaan Chen di kelasnya. Di dalam kelas hanya terdapat dua orang, karena jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi tidaklah heran jika hanya segelintir orang yang sudah berada di sekolah. Xiumin mendesahkan nafas kecewa karena tidak dapat menemukan Chen. Hal itu berarti ia harus menahan rasa penasarannya lebih lama lagi. Xiumin berbalik untuk menuju ke kelasnya. Baru beberapa langkah, Xiumin menghentikan langkahnya ketika ia melihat Chen berdiri mematung tak jauh di hadapannya.

Bereaksi sama dengan Xiumin, Chen juga terkejut mendapati orang yang berusaha mati – matian dihindarinya kini berdiri tepat di hadapannya. Pandangan mata Chen menatap intens Xiumin yang begitu di rindukannya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan diri agar ia tidak memeluk Xiumin saat ini juga. Chen mengalihkan pandangannya dari Xiumin setelah ia merasa tidak mampu lagi untuk menatap Xiumin lebih lama. Setiap melihat kedua mata Xiumin rasa rindu yang begitu menyiksanya menyeruak di dalam dada. Ia sudah akan pergi meninggalkan Xiumin sebelum suara indah itu menghentikan langkahnya.

"Mengapa kau menghindariku Chen?"

Chen tidak menduga jika ia akan mendapatkan pertanyaan ini dari Xiumin. Tanpa membalikkan badannya Chen menjawab, "Apa urusanmu? Itu hakku jika aku ingin menghindarimu atau tidak."

"Memang apa salahku kepadamu? Kau tahu seharian aku memikirkan mengapa kau menghindariku dan itu membuatku hampir gila Chen. Sekarang katakan kepadaku mengapa kau menghindariku!"

Darah Chen berdesir hebat. Kinerja jantungnya tidak lagi berjalan normal. Sebersit rasa senang menjalar di hatinya tatkala mendengar penuturan dari Xiumin. Xiumin hampir gila ketika Chen menghindarinya, apakah mungkin jika Xiumin kini telah mencintai dirinya.

"Mengapa kau hampir gila hanya karena aku menghindarimu. Bukankah kau tidak menyukaiku. Justru kau seharusnya senang karena aku menghindarimu. Memang ini kan yang kau inginkan dari dulu. Mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi dan aku harap kau akan melakukan hal yang sama."

Hati Chen hancur berkeping – keping ketika ia mengatakan itu kepada Xiumin. Bisa ia lihat jika Xiumin terkejut atas kata – kata yang terlontar melalui mulut Chen. Tak berapa lama setetes air mata mengalir dari kedua mata indah Xiumin. Xiumin membekap kedua mulutnya sendiri untuk menahan isakan. Xiumin tidak mengerti mengapa ia bisa menangis karena perkataan Chen. Bukankah perkataan Chen benar. Ia tidak menyukai Chen dan seharusnya ia senang karena Chen menghindarinya. Tapi hatinya berkata lain. Hatinya begitu sakit mendapati kenyataan bahwa Chen tidak akan lagi berada di sisinya. Di satu sisi Chen merasakan kepedihan yang sama. Air mata yang keluar dari mata Xiumin merupakan racun tersendiri yang dapat membuat Chen meraung kesakitan. Hatinya tidak akan kuat lagi jika lebih lama lagi ia melihat air mata Xiumin maka Chen bergegas pergi dari Xiumin. Meninggalkan Xiumin yang terisak hebat di belakangnya.

.

.

.

.

.

.

"Tuan muda Jongdae sudah tidak lagi berdekatan dengan Kim Minseok. Bahkan tuan muda menghindarinya nyonya. Sudah dua minggu ini saya mengawasi tuan muda dan beliau sama sekali tidak bertemu dengan Kim Minseok. Saat bekerja di café pun tuan muda Jongdae memilih shift bekerja yang berbeda dengan Kim Minseok." Ujar pria berbadan tegap dan memakai setelan serba hitam itu kepada Seul Bi yang tengah duduk di kursi taman belakang rumahnya.

"Bagaimana keadaan anakku, Dong Wook?"

"Sepertinya tuan muda banyak kehilangan berat badannya karena terlalu lelah bekerja nyonya. Dalam satu hari beliau bekerja di tiga tempat yang berbeda."

Tubuh Seul Bi menegang mengetahui fakta bahwa anaknya bekerja terlalu keras. Tubuhnya lemas seketika seakan seluruh tulang tidak mampu mempertahankan tubuhnya. Hati ibu mana yang tidak tercabik mengetahui anaknya yang bekerja terlalu keras sampai kehilangan banyak berat badan. Seumur hidup Chen dibesarkan dengan penuh kemewahan. Tidak akan pernah dia membiarkan Chen mengeluarkan setetespun keringat hanya untuk mendapatkan uang. Sekarang, demi seorang pemuda bernama Kim Minseok Chen melakukan hal itu.

"EOMMA"

Seul Bi menghapus air mata tatkala mendengar suara anaknya yang memasuki gendang telinganya. Jantung Seul Bi berdetak cepat, ia mengulas senyum bahagia. Akhirnya setelah penantian panjangnya ia dapat bertemu dengan buah hatinya. Dengan cepat ia berdiri menyambut kedatangan Chen dengan pelukan hangat melepas rindu. Tak berapa lama, Chen kini tengah berada di hadapannya. Air mata keharuan menetes dari kedua mata Seul Bi. Benar apa yang dikatakan oleh Dong Wook tadi bahwa anaknya tampak lebih kurus dengan kantung mata yang menghitam. Seul Bi terisak, tidak pernah ia melihat anaknya dalam keadaan sekacau ini.

"Chen. Akhirnya kau pulang juga nak."

Seul Bi berlari ke arah Chen kemudian memeluk anaknya erat. Dia menangis bahagia karena dapat memeluk anaknya kembali. Chen hanya berdiri dalam diam. Tidak ia balas pelukan erat ibunya. Chen hanya membiarkan ibunya melepaskan rindu kepadanya.

Setelah merasa ibunya mulai tenang, Chen melepaskan pelukannya. Ia menatap ibunya sendu. Chen sangat menyayangi ibunya tetapi mengapa ibunya melakukan hal yang membuat dia terluka.

"Eomma sungguh merindukamu Chen. Apakah kau merindukan eomma? Apakah kau memutuskan untuk pulang dan tidak akan pergi lagi." Seul Bi mengusap wajah tirus Chen "lihat kau sekarang sangat kurus itu membuatku sakit nak melihat keadaanmu seperti ini."

"Sudah puaskah eomma melakukan hal ini kepadaku? Eommalah yang membuat keadaanku begitu menyedihkan seperti ini."

"Apa maksudmu nak? Eomma tidak mengerti."

"Sesuai dengan permintaan eomma aku sudah menghindari Xiumin. memang ini kan yang eomma mau melihat anak kandungmu menderita. Kedatanganku ke sini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada eomma dan appa. Karena aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini sebelum eomma merestui perasaan cintaku kepada Xiumin. Satu pesanku eomma jangan pernah ganggu kehidupan Xiumin. Dia sudah sangat menderita janganlah lagi tambah pernderitaan di hidupnya"

"Tunggu dulu, Chen kau tidak bisa melakukan ini kepada eomma. Kau tidak boleh meninggalkan eomma."

Seul Bi terisak hebat sambil terus meneriakkan nama Chen. Seluruh orang yang mendengarkan tangisannya tentu saja juga merasakan kesedihan mendalam yang dialami oleh Seul Bi.

.

.

.

.

.

.

Senyum merekah menghiasi wajah Chen. Baru kali ini semenjak hampir sebulan hidup penuh tersiksa ia bisa menyunggingkan sebuah senyum tulus pada wajahnya. Hari ini ia menerima hasil jerih payahnya selama ini. Meskipun ia memutuskan untuk menjauhi Xiumin namun ia tetap bertekat untuk melunasi semua kebutuhan sekolah Xiumin menggunakan uang dari jerih payahnya sendiri. Walaupun gajinya tidak seberapa tetapi dia akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan janjinya. Karena bagi Chen hanya ini hal yang bisa ia lakukan untuk membahagiakan Xiumin.

Tetesan gerimis hujan membasahi kota Seoul. Semenjak sore memang langit kota Seoul sudah hitam pekat menandakan bahwa ribuan tetes air hujan akan turun membasahi bumi. Beruntung bagi Chen bahwa hujan deras baru saja berhenti dan kali ini hanya tersisa gerimis. Ia keluar dari café dan merapatkan jaketnya untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Suasana terasa mencekam karena jarangnya orang yang berlalu lalang di jalan. Jam yang menunjukkan hampir tengah malam dan cuaca yang gerimis yang mengakibatkan suasana menjadi mencekam.

Chen memang sudah terbiasa pulang kerja hampir tengah malam seperti hari ini. Karena itulah ia tidak merasa ketakutan akan suasana yang mencekam. Langkah Chen melambat ketika ia melihat di depannya ada sekumpulan anak – anak punk yang sedang mabuk. Tidak ingin terlibat dalam masalah, Chen berbalik badan dan memutuskan jalan memutar agar tidak melewati gerombolan orang mabuk tersebut. Sayangnya, sebelum rencananya terealisasikan para anak punk yang sedang mabuk itu mengetahui keberadaannya.

"Hey mau kemana kau. Ayo bergabung dengan kita bersenang – senang malam ini." ajak pemuda mabuk tersebut kepada Chen.

Meskipun Chen mendengar dengan jelas perkataan orang mabuk tersebut tetapi dia lebih memilih untuk tidak menghiraukan perkataan mereka. Ia sudah terlalu lelah dan ingin secepatnya bisa beristirahat di rumahnya. Ia meneruskan langkahnya yang sempat terhenti karena perkataan salah satu anak punk itu. Namun sikap acuh tak acuh yang perlihatkan oleh Chen justru menyulut api emosi kumpulan anak punk. Mereka berlari menyusul Chen dan membuat barisan yang membuat Chen terjebak dan tidak bisa melangkah kemanapun.

Chen diam tak berkutik tapi ia masih memasang sikap waspada di seluruh tubuhnya. Ia menyadari bahwa sekarang dirinya berada di dalam bahaya. Sosok bertubuh paling tinggi berjalan mendekati Chen. Dengan tubuh yang penuh dengan tato dan wajahnya yang terdapat bekas luka sayatan ditambah sorot matanya yang bengis membuat siapa saja akan bergidik ngeri jika berurusan dengannya. Bau pekat alcohol menusuk alat penciuman Chen ketika pria itu berdiri hanya berjarak sejengkal dengan Chen.

"Melihat dari tampangmu sepertinya kau orang kaya. Jung periksa barang bawaannya. Aku mempunyai firasat jika hari ini kita akan berpesta minuman keras."

Tubuh Chen mematung dengan wajah yang berubah pucat pasi. Di dalam ransel yang saat ini tengah ia bawa terdapat gaji yang akan dipergunakannya untuk membayar biaya sekolah Xiumin. Orang yang bernama Jung tadi berjalan menghampiri Chen dengan seringai di bibirnya. Dia memukul perut Chen keras sehingga menyebabkan Chen terhuyung – huyung ke belakang.

Chen merasakan rasa sakit yang bersumber dari perutnya lalu dengan langkah terhuyung dia berusaha mengejar Jung yang saat ini membawa tas ranselnya. Ia tidak bisa hanya berdiam diri saja melihat hasil jirih payahnya untuk membayar sekolah Xiumin akan berakhir mengenaskan seperti ini. Semua bulir keringat yang mengalir dari tubuhnya semua ia dedikasikan untuk kebahagiaan Xiumin. Dan ia akan mengutuk dirinya sendiri jika karena kesalahannya Xiumin akan menderita. Chen memejamkan matanya dan mengingat kembali bagaimana rupa wajah Xiumin yang selalu saja membuat hatinya bergemuruh.

Bagai mendapatkan sumber kekuatan baru, Chen menendang punggung Jung keras hingga dia jatuh terjerembab di tanah. Ia lampiaskan seluruh rasa amarahnya yang terpendam kepada Jung. Pukulan dan tendangan dilayangkan Chen hingga Jung tak berdaya. Melihat temannya yang tak berdaya, segerombolan itu mulai menyerang Chen. Karena kalah jumlah tentu saja Chen tidak sanggup melawan mereka semua. Namun ia tidak akan menyerah begitu saja. membayangkan wajah tersenyum Xiumin menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi Chen.

Chen melihat celah yang bisa digunakannya untuk melarikan diri. Melalui ekor matanya ia dapat melihat jika ranselnya kini tengah teronggok di pinggir jalan. Memanfaatkan kesempatan yang ada dia menendang kemaluan lawannya kemudian bergegas menuju ke arah ranselnya. Tapi langkah Chen terpaksa terhenti ketika ketua dari anak punk tersebut menghadangnya dengan sebilah pisau yang saat ini tepat menusuk di perutnya. Tubuh Chen seketika itu juga luruh ke tanah dengan tangan yang penuh dengan cairan merah pekat.

Para gerombolan anak punk tersebut panik ketika melihat Chen jatuh ke tanah dan mengerang kesakitan. Mereka berlarian meninggalkan Chen dengan tak lupa membawa tas ransel yang berisikan uang hasil jirih payah Chen. Chen mengerang kesakitan. Sungguh ia saat ini tidak bisa berbuat apa – apa selain mengharapkan sebuah keajaiban yang diberikan oleh Tuhan. Dengan mata yang sudah mulai sayu, ia menoleh ke sekelilingnya dan tidak menemukan siapapun di tempat ini kecuali dirinya.

Tuhan apakah ini akhir dari hidupku?

Dia mengadahkan kepala demi melihat ribuan bintang di angkasa yang mungkin akan menjadi saksi saat – saat dia menghembuskan nafas yang terakhir.

Tuhan, jika ini memang kehendakmu

Bisakah engkau membantuku

Chen mulai terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya

Jika aku tidak ada

Bisakah aku berubah menjadi bintang yang paling terang

Yang akan selalu menerangi Xiumin

Perlahan kesadaran Chen mulai menghilang…

Jika engkau masih memberikanku kesempatan untuk hidup

Maka

Ijinkanlah aku

Untuk membahagiakan Xiumin

Karena

Aku sangat mencintainya

Dan aku berjanji

Jikalau aku sudah tidak lagi berada di dunia yang sama dengan Xiumin

Cinta ini akan tetap abadi

(TBC/END)

Oh mai gat maafkan saya yang lagi – lagi sangat lama dalam mengupdate ff ini. dan sekalinya update malah membuat Chen semakin ternistakan. Kemungkinan ff ini akan tamat dalam 2 atau 3 chapter kemudian. Jadi saya harap para reader semuanya akan bersabar dan menantikan akhir dari kisah cinta segitiga Xiumin. Pada siapakah dia akan melabuhkan hatinya kepada Chen atau Luhan.

Sebelum berpisah saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada para reader yang setia membaca dan mereview ff ini. juga bagi yang sudah menfollow atau favorite cerita ini.

Mind to review?