Rated: T

Disclaimer: all of these chara totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine

Warning!: Setting gajelas, alur lompat-lompat, bahasa aneh, Crack pairing, OOC tingkat dewa dsb

SasuTen slight ItaTen

Read it with ur own risks(:

Couple words from author:

Heioo Minna-san! bagaimana kabarnya? sehatkah? semoga sehat-sehat semua yaapp, yakk author kembali mengapdet fic ini... mulai sekarang isi chappy nya bakal lumayan panjang karena author gabisa sering-sering apdet hehe, mohon dimaklumi ya.. oh iya, senen besok author udh mulai UTS nih, doakan lancar yaapp :D okee author bales reviews duluu...

Princess Ama: heioo amaa, uwaa makasih yapp, semoga sejauh ini fic request ini sesuai harapanmu hehe, maaf agak lama apdet nya :( krn sebentar lagi uts jadi gabisa sering-sering apdet :( tapi aku tetep apdet kok hehe, tetep baca yaa..

Akira-ken: wehee, iya chappy ini juga lumayan panjang kok, semoga pada gabosen bacanya hehehe, wahaha begitu yaa, aku usahain bakal apdet secepatnyaa hehe... wahh kalo soal adegan seperti itu akan muncul di beberapa chap berikutnyaa hehe .-. gapapakok aku malah seneng kalo ada readers yang mengomentari fic akuu hehe..

Fumiyo Nakayama: wehehe bagusdeh kalo dapet romance nyaa ahahahaw :3... Sasuke kena fluu kalo Tenten... nah memang seperti itu jalan ceritanyaa wkwk, okee ini udh aku apdet silahkan dibacaa..

ItaTen: salam kenal jugaa :) ehehe iya gapapa kok, makasih ya udh nge review :) wehehe ngebayangin juga nih punggung klimisnya sasuke? *plak! wkwk, aku setengah cewek setengah cowok (apakah?) wkwkwk, lupakan-lupakan -_- okee keep reading yaapp

oke langsung aja yaa chappy 12!

Chapter 12

Sasuke membuka kedua matanya yang terasa sangat berat, lalu mendesah pelan. Laki-laki itu membiarkan dirinya berbaring diatas tempat tidurnya, menikmati betapa hangatnya gelungan selimut tebalnya dan nyamannya tempat tidurnya. Sasuke mengulurkan tangan kirinya ke meja kecil disamping tempat tidurnya dan meraih jam waker kecil berbentuk kotak. Jam 8:26 baiklah. waktunya untuk bangun.

Sasuke turun dari tempat tidur dan melangkah kearah pintu. Begitu ia membuka pintu, aroma kopi yang harum menerjang penciumannya, membuat rasa kantuk yang sedari tadi menggandrungi dirinya menguap tanpa sisa. Aroma kopi itu membuat tubuhnya terasa lebih rileks dan hangat.

'Gadis itu sudah datang.' Batin Sasuke. Ia memejamkan matanya sesaat, menyiapkan dirinya sebelum bertemu kembali dengan malaikat mautnya. Tepat pada saat itu, Sasuke menangkap alunan musik menari-nari diudara. Piano? Dengan hati-hati Sasuke menjulurkan lehernya melewati pintu kamar, mata onyxnya sibuk mengitari penjuru apartemennya. Mulai dari ruang makan, hingga akhirnya berhenti diruang duduk. Seulas senyum terukir jelas diwajah tampan Sasuke ketika melihat Tenten menari mengikuti alunan musik.

Sasuke membekap mulutnya dengan tangan ketika merasakan tawanya hampir meledak. Yang membuat Sasuke tertawa adalah, sebuah kemoceng yang Tenten pegang. Gadis itu tengah menari-nari sambil membersihkan apartemennya. Dan kalian sepakat bahwa hal itu tidak bisa disebut sebagai menari bukan? Tenten tersenyum seraya bersenandung mengikuti irama dari CD player, kedua tangannya dengan gesit menata meja kopi Sasuke yang penuh dengan kertas kosong dan beberapa majalah musik tahun lalu yang sampai detik ini ia simpan. Meski begitu, terkadang Tenten berhenti sejenak, menaruh kemoceng atau barang apapun yang ia pegang dan mengayunkan tangannya sesuai irama, seolah ia benar-benar menari. Lalu kembali berhenti, memiringkan kepalanya sedikit, tersenyum lebar dan kembali merapihkan meja kopi.

Walaupun begitu, Sasuke tetap terpesona, sama seperti ketika ia melihat Tenten menari diatas permukaan es beberapa hari yang lalu. Ia menyandarkan bahu kedinding, memperhatikan gadis bertubuh mungil yang tengah melenggang kesana kemari. Meski saat ini Tenten tak bisa disebut sedang menari, Sasuke tidak bosan melihatnya, bahkan Sasuke tidak keberatan jika harus melihat Tenten menari seperti ini sepanjang hari.

Tenten melakukan gerakan berputar dan tepat pada saat itu ia memergoki Sasuke yang tengah memandanginya. Tenten memekik dan tanpa sadar menjatuhkan kertas-kertas yang sedari tadi ia kumpulkan. Sasuke melangkah dengan santai menghampiri Tenten dan berhenti di hadapan gadis itu yang terlihat tengah sibuk mengumpulkan beberapa lembar kertas. Dan tanpa perintah dari otaknya yang normal, Sasuke berjongkok dihadapan gadis itu dan membantunya merapihkan kertas-kertas yang berserakan. Tenten mendongak menatap Sasuke, dirinya tidak percaya bahwa Sasuke menolongnya.

Setelah semua kertas sudah tersusun rapih diatas meja kopi, kedua manusia berbeda gen itu berdiri.

"Selamat pagi." Ucap Tenten sambil tersenyum lebar, Sasuke memandangi Tenten selama beberapa detik dengan sebelah alis terangkat.

'Sepertinya suasana hatinya cerah sekali.' batin Sasuke. "Pagi." Jawab Sasuke sesingkat biasanya. "Apa aku membuatmu terbangun?"

"Tidak." Sahut Sasuke. "Sudah berapa lama kau disini?"

"Hampir setengah jam, tadi aku sempat melongok kekamarmu. Sepertinya kau tertidur pulas sekali jadi kuputuskan untuk membiarkanmu tertidur." Tenten memandang Sasuke dengan tatapan bertanya-tanya. "Biasanya kau tidak tidur sampai sesiang ini."

Sasuke tersenyum tipis. "Aku hanya merasa lelah karena kelakuanmu kemarin." Tenten memutar kedua bola matanya.

"Maaf, aku hanya ingin bertindak benar, tapi sepertinya aku salah." Sasuke terkekeh. "Hei aku hanya bercanda, bodoh." Tenten mengerjap kaget, merasa terkejut karena kata-kata Sasuke barusan. Kenapa kata-kata Sasuke terdengar akrab ditelinganya? Seolah dirinya dan Sasuke sering melakukan hal itu, seolah ia dan Sasuke memang sudah seharusnya seakrab ini?

"Kau sendiri bagaimana?" Tenten mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu, sejauh ini sepertinya aku sehat-sehat saja." Sasuke tidak bergeming dan tanpa diduga oleh keduanya, tangan kiri Sasuke terulur dan mendarat dikening Tenten. Gadis itu hampir saja memekik kaget ketika tangan besar dan hangat Sasuke menyentuh keningnya, seolah ada aliran listrik yang menyengat ketika kulit mereka bergesekan. "Sepertinya masih sedikit demam." Tenten bergumam pelan dan melirik kearah tangan Sasuke yang masih menempel di dahinya. Sasuke mengikuti arah tatapan Tenten dan pandangannya jatuh pada tangan kirinya yang masih menempel di dahi Tenten. Ini aneh, sangat aneh. Sasuke tahu ia harusnya sudah menarik tangannya dari kening Tenten, harusnya. Tetapi yang membuat hal ini menjadi tambah aneh adalah, karena somehow Sasuke enggan menarik tangannya, seolah ini sangatlah wajar, seolah kulitnya tak ingin terpisah dari kulit Tenten. Seolah menyentuh Tenten seperti ini terasa benar. Tetapi akhirnya Sasuke menarik tangannya dari kening Tenten dan menjejalkannya kedalam saku celana trainingnya. Ia berdeham, memandang kesekitar.

"Jadi.. sejak kapan kau menggunakan ruang tengahku sebagai sarana latihan?" Wajah Tenten kembali memanas.

"Sebenarnya baru kali ini… tapi jangan salahkan aku! Salahkan koleksi-koleksi lagumu yang indah itu… termasuk lagu ini-"

"Lagu karya George Gershwin? Lullaby?" Sela Sasuke merujuk lagu yang masih mengalun memenuhi apartemennya. Tenten mengangguk penuh semangat. "Ya! Lullaby, aku sangat menyukai lagu ini. Oh, tidak bahkan aku jatuh cinta lagu ini." Tenten memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap nada yang mengalun, menyesapi kedamaian dari lagu ini, dan seulas senyum merayapi wajah cantiknya. Gadis itu membuka matanya dan menatap kearah Sasuke dengan tatapan yang membuat Sasuke tanpa sadar menahan nafasnya.

"Tadi aku membayangkan tengah meluncur diatas es, dan sepertinya aku menemukan koreo baru. Aneh, padahal baru sekali ini aku mendengar lagunya. Tapi aku bisa langsung terinspirasi." Sasuke mengangguk dan mengalihkan tatapannya dari Tenten agar ia bisa kembali merasakan oksigen merasuki paru-parunya. "Kurasa kau sudah membuatkanku kopi?"

"Tentu saja, akan kuambilkan untukmu." Tenten berjalan kedapur dan anehnya Sasuke mengikuti gadis itu. Sasuke duduk di balik meja makannya dan mengamati gadis berambut auburn yang tengah menuangkan kopi untuknya.

Melihat Tenten di dapurnya anehnya membuat Sasuke senang, sepertinya ia sudah terbiasa melihat gadis itu membuatkan kopi untuknya. Yang pasti keberadaan Tenten di apartemennya tidak lagi terasa aneh, apalagi sejak kemarin ketika tanpa sadar ia meminta Tenten untuk menemaninya. Sasuke tidak yakin apa yang menguasai dirinya saat itu hingga bisa berkata hal aneh seperti itu pada Tenten.

Sasuke menangkup cangkir putihnya dengan kedua tangannya. "Rasanya aku sangat merindukan kopi ini."

"Tak kukira kau begitu merindukanku, padahal baru kemarin kita bertemu." Gurau Tenten sambil duduk di hadapan Sasuke, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Satu hari tanpa meminum kopi terasa sangat menyedihkan." Sasuke menyesap kopinya dengan nikmat. "Lagipula aku merindukan kopimu, Tenten. Aku merindukan kopimu."

"Itu tidak bisa dibilang sebagai perbedaan. Kopiku. Aku. Terdengar sama bagiku." Tenten mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Kalau kau tidak bisa hidup tanpa kopiku, berarti kau tidak bisa hidup tanpaku." Lanjutnya sambil terkekeh. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana saat semua ini berakhir."

"Apa yang berakhir?" Tanya Sasuke tak mengerti.

"Ketika tanganmu sembuh."

"Memangnya kenapa kalau tanganku sembuh?" Tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat. "Uchiha Sasuke, kalau tanganmu sudah sembuh, kau tidak butuh lagi pesuruh untuk merapihkan apartemenmu dan membuatkan kopi untukmu bukan?"

Sasuke mengernyitkan hidungnya ketika mendengar Tenten menyebutkan kata 'pesuruh'. Sudah dua minggu lebih Sasuke mengenal Tenten, hampir setiap hari Sasuke melihat gadis itu membuatkan kopi dan membereskan apartemennya, dan entah mengapa hal itu membuat pandangan Sasuke pada Tenten berubah, terlebih ketika melihat Tenten di Clinton beberapa hari yang lalu, Sasuke tidak percaya bahwa seorang figure skater seperti Tenten menjadi pesuruhnya. Ia tidak lagi menganggap Tenten sebagai seorang pesuruhnya. Sama sekali tidak. Ia mulai berpikir bahwa gadis ini adalah… entahlah apapun itu asalkan bukan pesuruh, dan Sasuke menjadi bingung kenapa pemikirannya pada gadis ini bisa berubah dalam waktu singkat? Entahlah. Sasuke sendiri tidak tahu dan sepertinya tidak berminat untuk mencari tahu.

Dan tunggu dulu, apa Tenten baru saja berkata bahwa ia akan meninggalkan Sasuke begitu tangannya sembuh? Sasuke tertegun. Gagasan itu, Sasuke sama sekali tidak menyukainya. Sama sekali tidak. Sebagian darinya meronta-ronta menentang gagasan yang beberapa menit lalu di lontarkan oleh Tenten. Sasuke menunduk menatap tangan kanannya yang masih terbungkus perban. Ia sudah mulai bisa menggerakan pergelangan tangannya, bahkan mulai terbiasa tanpa penyangga yang biasanya menggantung tangan kanannya didepan dada. Sasuke tahu bahwa tak lama lagi tangannya bisa kembali berfungsi seperti semula, dokternya sendiri yang berkata begitu. Berarti setelah tangan Sasuke sembuh, Tenten tidak akan lagi datang ke apartemennya? Ia tidak bisa melihat gadis itu menyiapkan makan siangnya? Ia tidak bisa melihat gadis itu menyiapkan kopi setiap pagi?

'Apa Tenten akan pergi setelah tanganku sembuh? Apa kami akan menjadi sepasang strangers ketika semua ini selesai? Adakah cara yang bisa membuatku dan Tenten tetap seperti ini? Hei! Apa yang kupikirkan?! Kenapa aku jadi berpikiran tidak rasional seperti ini?!' Suara deringan ponsel Tenten membuyarkan lamunan Sasuke. Tenten segera berlari kecil kearah ruang duduk dan menyambar ponselnya.

"Oh halo, Itachi-senpai?"

Sasuke mendesah kesal dan menyesap kopinya.

"Apa? Wah.. sayang sekali aku tidak bisa, senpai. Aku sudah berjanji pada Sasuke akan menemaninya malam ini." Sasuke mengangguk-angguk sendiri, merasa puas dengan ucapan Tenten. Sasuke tahu apa yang diajukan oleh kakak laki-lakinya kepada Tenten. 'Sayang sekali, kau terlambat satu langkah big bro.' batin Sasuke seraya tersenyum puas.

"Entahlah, akan kutanyakan padanya nanti.. aku benar-benar minta maaf, sebenarnya aku ingin sekali pergi bersamamu, tapi apa boleh buat." Sasuke mengernyitkan hidungnya ketika mendengar suara Tenten. 'Apa-apaan ini?' Batin Sasuke. "Baiklah, lain kali mungkin… bye, senpai." Beberapa detik kemudian Tenten muncul kembali ke dapur.

"Itu tadi Itachi-senpai." Ujar Tenten tanpa ditanya. "Dia bertanya padaku apa aku ada acara malam ini dan dia mengajakku untuk menemaninya malam ini, kemudian aku mengatakan padanya bahwa aku sudah berjanji akan menemanimu malam ini… sekarang katakan, apa yang ingin kau lakukan malam ini? Sebaiknya ini sesuatu yang penting karena aku sudah menolak ajakan Itachi-senpai."

"Sepertinya kau sangat menyesal telah menolak ajakannya." Gumam Sasuke sambil kembali menyesap kopinya.

"Tentu saja. Sangat."

"Sepertinya dia dan aku memiliki gagasan yang sama, calon kakak ipar." Tenten mengangkat kedua alisnya, merasa kaget karena tiga kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sasuke. Kedua pipi Tenten memanas.

"A-Apa maksudmu?"

"Kau menyukai kakakku bukan, calon kakak ipar?"

"Itu bukan urusanmu, dan jangan alihkan pembicaraan Uchiha Sasuke." Sasuke menghela nafas panjang dan meletakkan cangkirnya diatas meja makan.

"Aku rasa ia akan mengajakmu kepesta yang akan kami hadiri malam ini, sayangnya ia tahu kau akan datang ke sana, bersamaku."

"Pesta? Pesta apa?"

"Kau pernah mendengar Dearburn Figure Skating Company?" Tenten terdiam sejenak lalu berkata. "Ya tentu saja, itu nama salah satu club figure skating terkenal di eropa dan amerika yang berbasis di Canada, banyak anggotanya yang menjadi juara di Vancouver olimpic. Kudengar mereka akan mengadakan tour musim dingin di New York dan Washington DC minggu depan." Sasuke mengangguk.

"Malam ini mereka akan mengadakan pesta yang merangkap konferensi pers untuk mengumumkan tour musim dingin mereka ." jelasnya. "Karena direkturnya, Gustav Mahler, adalah kerabat dekat kedua orangtuaku kami diundang ke pestanya hari ini."

"Oh."

"Tadinya aku sama sekali tidak berminat pada acara ini, selain karena ini bukan 'bidang'ku, aku pasti tidak mengenal siapapun disana. Tapi kemudian aku teringat padamu, kupikir karena kau adalah seorang figure skater, kau pasti ingin menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh club skater terkenal. Lagipula kalau kau disana, aku tidak akan bosan. Kau bisa menemaniku dan membuatku tidak terlihat bodoh karena tidak mengenal siapapun."

"Oh." Sasuke memperhatikan gadis yang berdiri disampingnya dengan tatapan heran. Tadinya ia mengira Tenten akan melonjak kegirangan dan berlarian di apartemennya karena begitu gembira diajak ke pesta yang diselenggarakan oleh klub skater terkenal, tapi sepertinya ia salah. Gadis itu terlihat sama sekali tidak antusias.

"Sepertinya kau terlihat tidak antusias?" Komentar Sasuke sambil menyipitkan kedua matanya.

"Memangnya aku harus berkata apa?" Ujar Tenten sambil membalas tatapannya. "Entahlah mungkin sesuatu seperti 'Astaga Sasuke! Terimakasih banyak karena sudah mengajakku ke pesta yang diselenggarakan oleh klub figure skater terkenal di seluruh dunia, aku berhutang budi padamu.' Atau semacam itulah?" Tenten tersenyum kecil.

"Dan kudengar banyak sekali figure skater professional disana." Lanjut Sasuke. "Iya, aku tahu." Gumam Tenten. Ia menatap Sasuke sekilas lalu berkata. "Baiklah, terimakasih banyak karena sudah mengajakku kepesta yang diselenggarakan oleh klub figure skater terkenal diseluruh dunia, aku berhutang budi padamu."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Dan?"

"Dan apa?"

"Kau belum menjawab apakah kau mau pergi bersamaku atau tidak."

"Aku tidak tahu kalau sedari tadi kau menunggu jawaban." Sahut Tenten jujur dan agak heran "Kukira kau hanya memberi perintah seperti yang biasa kau lakukan."

"Aku tidak dalam mood yang bagus untuk menanggapi kata-katamu dengan nada sinis sekarang."kata Sasuke mengabaikan nada sinis Tenten. "Jadi bagaimana? Kau mau pergi denganku atau tidak?"

Tenten menghela nafas panjang. "Memangnya aku punya pilihan lain?"

"Tidak." Sahut Sasuke ditambah senyuman miringnya yang bisa membuat lusinan gadis berteriak. "Oh dan asal kau tahu, pesta ini pesta formal. Maksudku, aku akan mengenakan tuksedo dan kau-"

"Harus mengenakan gaun pesta." Tenten terseyum samar. "Aku tahu, tenang saja aku tidak akan membuatmu malu."

"Baiklah aku mau mandi, dan sebaiknya kau-"

"Menyiapkanmu sarapan? Aku tahu." Ucap Tenten sambil mengibaskan tangannya. "Good girl." Sahut Sasuke sambil tersenyum samar.

"Oh ya setelah sarapan-"

"Aku harus membersihkan apartemenmu? Aku juga sudah tahu." Sasuke mengerjap menatap gadis berambut auburn yang sedang memeriksa isi lemari dapurnya. Merasa diperhatikan, Tenten menolehkan kepalanya dan mendapati Sasuke tengah memperhatikannya.

"Apa?"

"Kau bisa membaca pikiranku." Kata Sasuke dengan mata disipitkan. "Itu menakutkan kau tahu?"

"Benarkah?" Sahut Tenten "Kurasa itu salah satu akibat dari seringnya aku bertemu denganmu." Lanjut Tenten sambil tertawa renyah.

"Kalau begitu, aku tidak bisa mengeluh." Gumam Sasuke dengan suara rendah.

"Apa katamu?"

"Bukan apa-apa." Sasuke hanya tersenyum singkat dan beranjak meninggalkan Tenten didapur.

xXx

"Akhirnya! Miso ramenku datang juga!" Gumam Naruto kegirangan ketika mata biru lautnya menangkap siluet mangkuk besar dengan kepulan asap putih di letakan dihadapannya. Ia mendongak menatap sosok laki-laki paruh baya dengan baju ala penjaga kedai ramen dihadapannya.

"Paman memang pembuat ramen terbaik di New York! Oh tidak bahkan seluruh dunia." Ujar Naruto sambil merentangkan kedua tangannya. Laki-laki paruh baya dihadapannya hanya tersenyum lalu mengacungkan spatulanya.

"Satu-satunya di New York, kiddo." Ujarnya sambil tertawa, lalu mata gelap laki-laki paruh baya itu melirik kearah Sasuke yang sedari tadi belum menyantap makanannya. "Kau yakin bisa menggunakan sumpit dengan tangan kiri? Aku bisa meminjamkanmu sendok dan garpu jika kau mau." Sasuke mengalihkan tatapannya dari ponselnya dan menatap laki-laki paruh baya yang menatapnya dengan tatapan khawatir. "Tenang saja paman, tangan kananku sudah bisa kugerakkan, aku bisa menggunakan sumpit."

"Kalau tanganmu sudah sembuh, kita bisa membicarakan konsermu yang tertunda." Kata Naruto dengan mulut yang penuh, merasa kedua pemuda dihadapannya mulai membicarakan pembicaraan penting, paman penjaga kedai ramen segera pergi. "Mungkin bulan febuari atau maret? Bagaimana menurutmu?"

"Kita akan membahas konser setelah tanganku benar-benar sembuh." Kata Sasuke sambil kembali menatap ponselnya dengan alis berkerut. "Tidak perlu terburu-buru."

Naruto mengangkat sebelah alisnya dan menaruh sepasang sumpitnya ke meja kedai. "Kalau aku tidak salah ingat, dulu kau sendiri yang ingin cepat sembuh dam menjalankan konser yang kau tunda. Sekarang kau malah seperti pasrah begitu saja, apa kau sudah nyaman dengan hidup bermalas-malasan dan menjadi pengangguran?"

"Bukan bermalas-malasan." Ucap Sasuke yang akhirnya meraih sumpit dan menjepit ramen dengan sumpitnya. "Hanya berusaha menikmati waktu liburan yang tersisa."

"Baiklah terus-terusan saja 'berlibur'." Gerutu Naruto dengan penekanan dikata 'berlibur' "Dan biarkan manajermu yang malang ini yang menghadapi orang-orang yang mendesak ingin tahu kapan kau bisa melanjutkan konsermu."

Sasuke terkekeh pelan. "Bukankah Uzumaki Naruto bisa mengatasi segala masalah?"

"Tentu saja, tidak ada yang tidak bisa kuatasi." Ujar Naruto dengan bangga hati. "Tapi, aku butuh beberapa dokumen yang waktu itu kutinggalkan diapartemenmu? Bisa kita mampir setelah makan siang?"

"Tentu."

"Apa kita akan bertemu Tenten disana?" Tanya Naruto penuh harap. Sasuke hampir saja tersedak ramen ketika mendengar pertanyaan sahabatnya, laki-laki itu menolehkannya kesamping dan menatap Naruto dengan mata disipitkan. "Memangnya kenapa?" Naruto mengangkat kedua bahunya.

"Ya karena sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan gadis itu. Jadi apa dia ada diapartemenmu?"

"Tidak." Sahut Sasuke. "Tadi dia bilang kalau dia ada jadwal mengajar siang ini."

"Sayang sekali, kalau begitu sampaikan salamku padanya."

"Sepertinya kau tertarik sekali dengan dia? Bukankah kalian baru bertemu satu kali?" Tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat.

"Ya menurutku wajar tertarik dengan Tenten, dia gadis yang ramah dan murah senyum, dan menurutku dia lumayan cantik jadi wajar saja kalau aku tertarik padanya bukan?" Sasuke hanya bisa mendengus kesal dan kembali menyantap makanannya.

"Hey aku serius, mungkin kapan-kapan aku harus mengajak Tenten makan malam bersama. Oh! Mungkin malam ini bagus juga."

"Tidak mungkin." Sela Sasuke cepat. Terlampau cepat.

"Memangnya kenapa?"

"Karena kami akan menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh Dearburn malam ini." Jawab Sasuke santai. "Astaga! Aku tidak tahu nomor apartemennya." Sasuke segera merogoh sakunya dan meraih ponselnya yang baru satu detik di taruh di kantung dan menelpon nomor Tenten, sementara Naruto hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Sasuke dengan tatapan tak percaya.

"Astaga Sasuke, kau sedang mencari-cari kesempatan untuk menelpon Tenten bukan?"

"Apa?" Sasuke menoleh menatap sahabatnya. "Tentu saja tidak?!" Naruto terkekeh geli lalu menepuk pundak Sasuke.

"Kau tahu? Kau tidak perlu mencari alasan untuk menelpon gadismu."

"Gadisku? Siapa?" Tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat. "Tentu saja Tenten." Sasuke segera mengalihkan pandangannya dari Naruto dan menempelkan ponselnya ke telinga.

"Dia bukan gadisku."

"Tapi kau ingin dia menjadi gadismu bukan?" Sasuke memutar kedua bola mata onyxnya. "Aku tidak mendengar kata-katamu, Naruto." Naruto hanya bisa tertawa renyah dan kembali menyantap ramennya. Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sudah ia hafal di luar kepala.

"Ya, Sasuke? Ada apa?"

Tanpa disadarinya seulas senyum mengembang diwajah tampan Sasuke. "Kau lupa memberitahu nomor apartemenmu."

xXx

Tenten mendesah pelan sambil meletakan majalah Vogue edisi bulan lalu ke kursi kosong disebelah kanannya. Hanya beberapa kursi di ruang tunggu itu yang terisi. Tenten menoleh kesamping ketika mendengar langkah kaki menghampirinya. Sosok gadis berambut pirang pucat menghempaskan tubuhnya disebelah Tenten dan meraih majalah cosmopolitan edisi bulan lalu. Tenten menghela nafas panjang dan berkata.

"Sudah kubilang aku bisa datang sendiri, kau tidak perlu bolos kerja dan menemaniku, Ino." Ino menutup majalahnya dan menoleh kearah Tenten.

"Aku ingin mengantarmu Tenten, kau pikir bagaimana perasaanku ketika tadi malam kau baru memberitahuku soal ini?!" Ucap Ino dengan suara melengking. Tenten hanya bisa menghela nafas panjang dan menundukan kepalanya, melihat sahabatnya seperti itu, membuat Ino mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh bahu Tenten.

"Aku seperti itu karena aku peduli padamu Tenten, kau seharusnya tidak merahasiakan semua ini dariku, kita sudah bersahabat sejak kecil. Kau tahu bukan peraturan abadi sahabat? Tidak ada rahasia diantara sahabat."

"Yeah, aku tahu. Maaf, aku hanya tidak ingin membuat semua orang berteriak panic." Ino terkekeh dan menepuk kepala Tenten.

"Sudahlah tenang saja, semua akan baik-baik saja, Tenten." Tenten memaksakan seulas senyum, karena walaupun ia ragu dengan kata-kata Ino, ia rasa Ino ingin melihatnya tersenyum. "Ya tentu saja semua akan baik-baik saja." Gumamnya. Lalu Tenten mengalihkan pembicaraan "Siang ini kita makan siang dimana? Atau apa kau akan kembali ke café?"

"Tidak, Itachi-senpai menyuruhku untuk tidak kembali ke café dan menemanimu seharian ini."

"Apa kau memberitahukannya tentang hal ini?"

"Tidak, tentu saja tidak." Tenten menghela nafas lega. "Baguslah." Ino mengernyitkan hidungnya dan menatap Tenten heran.

"Menurutku memberitahu Itachi-senpai bukan hal yang buruk, ya kan?"

Ponsel Tenten berbunyi, menyelamatkannya dari keharusan untuk menimpali kata-kata Ino. Ia bergegas menyambar ponselnya didalam tas tangannya. Tenten mengerutkan kedua alisnya ketika melihat nama yang tertera di layer ponselnya yang berkedip. Tenten menghela nafas panjang dan akhirnya menempelkan ponselnya ditelinga.

"Ya Sasuke? Ada apa?"

"Kau belum memberitahuku berapa nomor apartemenmu." Kata Sasuke disebrang sana. "Apa?" Tanya Tenten ta mengerti.

"Nomor apartemenmu, bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan menjemputmu di apartemenmu."

"4-a, Sasuke." Jawab Tenten. "Tapi bukannya kita sudah sepakat kalau kau hanya perlu menelponku ketika kau sudah sampai didepan apartemenku dan aku akan turun menghampirimu?"

"Aku bisa saja berubah pikiran." Tenten tidak mengerti tapi ia tidak bertanya pada laki-laki itu maksud dari perkataannya.

"Jadi, apa yang sedang kau lakukan?" Tenten menggigit bibir dan melirik kearah Ino yang terlihat sudah kembali membaca majalahnya.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sedang mengajar."

"Apa aku mengganggumu?"

"Tidak." Jawab Tenten cepat. "Um.. aku kebetulan sedang menunggu Dorris dan murid yang lain."

"Hn begitu." Gumam Sasuke. Tenten menimbang-nimbang sejenak. "Jadi apa yang sedang kau lakukan, Sasuke?"

"Aku sedang makan siang. Bersama Naruto. Dia titip salam untukmu." Sahut Sasuke. Laki-laki itu terdiam sejenak lalu tiba-tiba berkata. "Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu berbicara dengannya dan menghancurkan semuanya, lagipula aku sudah menyampaikan salammu padanya bukan? Jadi sekarang diamlah." Tenten mengerjap kaget, "Sasuke?"

"Maaf.. tadi aku sedang berbicara dengan Naruto, kata-kata itu bukan untukmu." Sahut Sasuke cepat. Tenten terkekeh lembut.

"Sampaikan salamku pada Naruto." Sasuke menggerutu tak jelas. "Kalian makan siang dimana?"

"Disebuah kedai ramen, didaerah upper side."

"Kedai ramen? Aku baru tahu kalau di New York ada kedai ramen?!" Ucap Tenten penuh semangat. "Yeah, begitupun aku."

"Sepertinya sangat menyenangkan, sudah lama sekali aku tidak makan di kedai ramen." Gumam Tenten. "Akan ku ajak kau kesini kapan-kapan." Ucap Sasuke. "Kedai ini sudah di rekomendasikan oleh Naruto sebagai kedai dengan ramen terenak diseluruh dunia." Tenten tertawa kecil.

"Yea aku percaya saja." Gumam Tenten. "Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang, jangan lupa nanti malam oke?"

"Yeah tentu saja, Sasuke." Setelah berkata seperti itu, sambungan telpon terputus dan dengan lesu Tenten menyelipkan ponselnya kembali kedalam tas tangan. "Sepertinya kalian semakin dekat."

"Apa?" Tanya Tenten tak mengerti. Ino menutup majalahnya dan menoleh kearah Tenten. "Yeah, sepertinya hubungan kalian bukan lagi sebagai majikan dan pesuruh." Tenten terdiam sejenak, merenungi kata-kata Ino. Yeah, sejak Tenten mengantar Sasuke ke Clinton, sikap laki-laki itu jadi berubah, berubah ke sisi yang bagus sebenarnya. Dan jujur saja, Tenten menikmati Sasuke yang sekarang, maksudnya yeah siapa juga yang ingin selalu ditatap dengan sinis dan selalu di cemooh dengan kata-kata menusuk?

"Entahlah, sepertinya begitu." Gumam Ino. Gadis itu menyenderkan tubuhnya di kursi. "Aku jadi penasaran bagaimana kalau kedua Uchiha itu menyukaimu." Lagi-lagi Tenten dibuat terkejut oleh perkataan sahabatnya.

"Apa maksudmu?"

"Yeah, Itachi-senpai sudah jelas-jelas menyukaimu." Ino menundukan kepalanya, mata aquamarinenya memperhatikan ujun sepatu converse birunya.

"Tenten?"

"Ya?"

"Jika hal itu benar-benar terjadi.. siapa yang kau pilih?" Tenten tersentak kaget, gadis itu menoleh kesamping, menatap sahabatnya dengan tatapan heran. "Hal itu? Hal apa? Apa yang terjadi, Ino? Aku tidak mengerti."

Ino menghela nafas panjang, Tenten bisa melihat mata aquamarine milik Ino terlihat sendu. "Jika dua Uchiha itu menyukaimu, siapa yang akan kau pilih?" Tenten hanya bisa terdiam, hatinya berteriak meneriaki nama Itachi tapi anehnya lidahnya kelu, bibirnya bisu.

"Tenten? Dokter Hamilton sudah menunggumu." Lagi-lagi sepertinya Tuhan berpihak kepada Tenten dan meloloskan Tenten dari keharusan untuk menjawab pertanyaan sahabatnya

xXx

"Aku akan mengambil dokumen yang kau perlukan, kalau kau ingin minum atau apapun, kau bisa mengambil sendiri di dapur." Naruto hanya menyeringai dan melangkah kedapur, begitupun Sasuke yang menyeret langkahnya ke kamarnya. Setelah menemukan map berwarna kuning berisi dokumen-dokumen yang dibutuhkannya diantara ratusan map dirak bukunya, Sasuke berjalan ke ruang duduk dan menghempaskan tubuhnya di sofa kulitnya. Jari jemari tangan kirinya membelah kertas-kertas itu, memeriksanya kembali dengan teliti.

"Hei, Sasuke!" Panggil Naruto dari dapur, Sasuke mengerutkan kedua alisnya dan menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen.

"Apa?" Tak lama kemudian Naruto sudah berdiri disamping Sasuke. Laki-laki berkulit kecoklatan itu menatap sahabat karibnya dengan tatapan curiga.

"Apa semua ini membuatmu tertekan?" Kali ini Sasuke mengalihkan tatapannya dari dokumen dan menatap Naruto dengan tatapan heran.

"Apa?"

"Kubilang, apa semua ini membuatmu tertekan? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"

"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke yang semakin bingung dengan kata-kata sahabatnya yang kelewat serius. Naruto menunjukan tabung kaca kecil yang berisi kapsul-kapsul berwarna merah-putih. "Kapsul ini, apa ini milikmu?"

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Dimana kau menemukan itu?"

"Di lemari dapurmu."

"Mungkin milik Tenten." Sahut Sasuke tidak peduli, laki-laki itu kembali mencurahkan perhatiannya kepada dokumen yang belum selesai ia periksa. "Milik Tenten?" Gumam Naruto terlebih untuk dirinya sendiri.

"Mungkin ia meninggalkannya di apartemenku, dia memang ceroboh dan bodoh." Timpal Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya. Naruto mengernyitkan hidungnya dan memperhatikan kapsul-kapsul itu dengan ragu.

"Tapi obat ini…"

"Kenapa? Kau tahu obat apa itu?" Naruto mengangguk kecil. "Yeah.. aku pernah melihat kapsul seperti ini sebelumnya."

"Ayolah Naruto, kapsul berwarna merah dan putih seperti itu banyak ditemukan di apotik umum, mungkin saja itu hanya obat sakit kepala." Ujar Sasuke berusaha menenangkan sahabatnya yang jarang-jarang merasa khawatir seperti ini. Naruto tidak memperdulikan kata-kata Sasuke dan meraih satu kapsul itu, dengan mudahnya ia membuka kapsul itu dan menuangkan bubuk-bubuk kristal berwarna putih susu ke telapak tangannya.

"Kurasa ini benar Sasuke." Sasuke melirik kearah sahabatnya yang terlihat tengah mengendus serbuk-serbuk itu. "Tak salah lagi, aku hafal benar bubuk-bubuk ini."

"Apa maksudmu? Kau pernah melihat obat seperti itu? Kau meminumnya?"

"Tidak.. sepupuku Rosalie, dia sering meminum obat ini. Rosalie masih berumur lima tahun saat itu dan dia tidak bisa menelan kapsul seperti ini, jadi ia sering membuka kapsulnya dan menuangkan bubuk-bubuknya kedalam sendok berisi air, aku sering melakukan itu untuknya.. dan kode di kapsul ini." Sasuke hanya mendengarkan gumaman sahabatnya.

"Jadi obat apa itu?" Tanya Sasuke sambil menoleh kearah Naruto. "Ini obat yang selalu diberikan dokter Rosalie setelah ia selesai menjalani kemoterapi." Sasuke mematung, kata-kata Naruto berputar dikepalanya.

"Sasuke, apakah… Tenten mengidap kanker?"

nah disini udah mulai kebuka semuanya kann, dan disini juga Sasuke udh mulai bermetamorfosa menjadi... wkwk, pokoknya mulai dari chappy ini Sasuke bakal berubah banget deh, begitu juga Itachi yang lama kelamaan berubah... oh iya, sekedar pemberitahuan, fic ini sepertinya masih sangat panjang, karena author sendiri belom bisa nentuin ending yang tepat ._. dan juga disetiap chappy nya bakal panjang-panjang banget, author bakal berusaha buat bikin para readers gaakan bosen meski panjang hehe :) oke segini aja, sekali maaf atas keterlambatan apdetnyaa. jaa ne! ;)