Kurama menyipitkan mata karena sebutir benda asing yang menginvasi netranya. Ada pusaran angin iseng di tengah amfiteater dan sialnya itu menghalangi pemandangannya, menerbangkan pasir di bawah posisi Naruto bertarung. Adiknya dalam bahaya dan ia memutuskan untuk menyusulnya.
Baru tiga langkah, dua tubuh manusia berhelm jambul merah muncul dari pusaran angin itu dan...
Jatuh ke bumi.
Angin itu menghilang dan tinggallah sesosok pemuda tanggung yang memakai leather armor. Luka di pelipisnya ditempeli pasir dan gladius-nya masih meneteskan darah. Mata birunya menyalang mempertajam aroma kematian yang mengental sejak komentator berdiri.
Namikaze Naruto baru saja mencabut dua nyawa sekaligus sebagai korban pertamanya.
•••
AUREUS: Story of A Slave
Chapter 11: Antisipasi
•••
Hampir sore hari ketika keluarga Uchiha dan beberapa gladiatornya sampai di Villa Albarosa. Para budak rumah mulai sibuk ke sana ke mari membawa api kecil di tangan, menghidupkan seluruh penerangan. Burung-burung kutilang yang biasa bermain di pohon citrus di tengah taman dalam (peryculum) berkicau, menyalami kepergian sang Sol Invictus ──matahari akan segera terbenam.
Sasuke kecil kepalang penasaran dengan burung-burung. Dicobanya meraih satu ranting pohon dengan tangannya yang seputih salju. Matanya berbinar ditimpa kemilau langit yang masih terang, tapi sayang, masih terlalu muda untuk berhati-hati.
Jemarinya diarahkan ke salah satu daun lebar berwarna hijau tua, mencoba memenuhi rasa ingin tahunya. Matanya terfokus pada tiga ekor burung kutilang dan kulitnya berusaha menghindari duri tajam di pohon itu. Karena salah langkah, Sasuke kecil menjerit seketika.
"Mater!" pekiknya. "Mater!"
Ujung jarinya tidak terluka. Bukan duri yang membuatnya melaung panik. Kulitnya yang lembut menyentuh sesuatu yang lembut pula, lembek dan sedikit kesat.
Tak mau lagi Sasuke mendekati pohon citrus itu. Ketika Sakura membawa semangkuk kecil bubur daun komprei, ia segera menghampiri gadis kecil itu. Hampir saja ia menjatuhkan makanan itu saat Sasuke nyaris menabraknya.
"Ada ulat!" Sasuke masih berteriak sejadi-jadinya, berusaha menghilangkan persepsi jijik di kepalanya. "Ada ulat! Hijau! Geli!"
Domina Mikoto pun ditabraknya. Sasuke lekas-lekas memeluk paha ibunya dan tiba-tiba melepasnya, lalu menggoyangkan tangannya seperti memercikkan air. Kakinya berjingkat cepat dan itu membuat Sakura tertawa kecil.
"Ulat jeruk?" gumam Mikoto. Beberapa saat kemudian ia menyadari keberadaan Sakura. "Kau mau ke mana?"
"Ke amfiteater, Domina. Ini untuk Naruto," jawabnya sembari memberi isyarat pada benda yang dipegangnya.
"Oh, kebetulan." Mikoto nyaris tak mempedulikan anaknya yang masih mengernyit jijik pada benda lunak yang tersimpan baik dalam memorinya. "Katakan padanya untuk menemui suamiku di tabularium."
"Ya, Domina."
Si gadis budak itu baru saja akan berbalik, tetapi Mikoto langsung menyelanya. "Tunggu. Perlihatkan isi mangkukmu," perintahnya sambil mengangkat Sasuke ke gendongannya.
Mangkuk itu disodorkan. Hanya ada semacam pasta warna hijau nyaris hitam di sana. "Daun komprei, Domina. Tak ada yang lain."
"Kau yakin ini cukup?" Mikoto mengatakannya dengan nada tidak suka. Kegalakannya kini menyaingi Fugaku Uchiha, tentu dengan aura yang berbeda.
Sakura tidak menjawab. Sadar akan kesalahannya karena ia tidak menumbuk cukup banyak daun komprei. Ia hanya menggeleng.
"Apa yang ada di otakmu hanya Naruto, hah!?" bentaknya. "Pergi dan cari komprei lebih banyak! Kau pikir suamiku tidak mengeluarkan banyak uang untuk acara tadi!?" Yang dirujuknya adalah para gladiator yang ikut tanding ke Pompeii. Ujung telunjuk wanita terhormat itu mengarah ke atrium, yang sebenarnya adalah kode untuk mengusir.
"Baik... Domina...," cicit si budak takut-takut. Sakura segera pergi meninggalkan peryculum, merutuki dirinya yang ceroboh, tak ingat bahwa yang luka tidak hanya suaminya ──mereka belum resmi tapi Naruto sudah menang dan masih hidup, jadi anggap saja mereka sudah menikah.
Hatinya berdebar takut ketika Sakura mendapat cercaan dari Domina-nya. Tidak biasanya wanita terhormat itu menaikkan emosinya tinggi-tinggi. Hanya dengan berwajah galak, budaknya sudah menciut nyalinya.
"Mungkin dia sedang haid," gumam Sakura selama ia melangkah menuju amfiteater.
Dieratkannya pegangan pada mangkuk itu dan ia sudah bertekad akan merawat suaminya malam ini. Kalau perlu, ia akan tidur di sana, di atas tumpukan jerami dalam pelukan si gladiator. Membayangkannya saja sudah membuat rasa kesalnya pada Domina Mikoto menghilang.
Namun siapa sangka yang ditemuinya pertama kali bukan Naruto.
"Kau... siapa?" tanya Sakura. Orang ini sedang berada satu kamar dengan Naruto. Kelihatannya mereka sangat akrab, tapi wajahnya sama sekali asing bagi Sakura.
Si pirang merespon pertanyaan itu dengan pertanyaan lain. "Sakura? Ada apa?"
Dengan langkah sehalus kucing di atas pagar, Sakura mendekati sang suami lalu duduk bersimpuh di hadapannya. "Hanya ingin mengobatimu," katanya.
"Oh, maaf kalau begitu," sela orang asing itu, seraya berdiri dan mengibaskan bokongnya. Dia mengacak rambut pirang Naruto dan tersenyum jahil. "Selamat menikmati, adik manis."
Naruto merespon perkataan itu dengan menendang kaki orang itu, tapi ia hanya menendang udara. Dia terlanjur senang sebenarnya, tapi Sakura memang tak bisa dilewatkan saja. Sudah lama ia menginginkan seorang teman tidur.
"Dia kakakku. Namanya Kurama, si rambut api kalau kata orang-orang di sana." Kedua netra biru Naruto bahkan masih mengikuti langkah orang itu. Ketika sosoknya tertutupi dinding, sang gladiator melanjutkan kalimatnya. "Dia petarung terbaik dalam pertandingan di Pompeii."
"Bukan kau?" Sepertinya Sakura terlalu berharap kalau suaminya yang keluar sebagai pemenang ──menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
Naruto menggeleng, kemudian menepuk tumpukan jerami di sebelahnya, menyuruh Sakura untuk duduk di sana. "Kau tahu tidak, kalau kau sama sekali tidak cantik."
Ingin sekali Sakura menonjok pemuda ini kalau tidak melihat luka di pelipis, tepat di atas alis pirang Naruto. Dia membeku untuk sesaat dengan pose aneh, tapi akhirnya ia mendaratkan bokongnya di sebelah suaminya. Tentu saja disertai raut kesal khas gadis yang ingin dipuji.
"Masa bodoh kalau aku tidak cantik. Dominus Fugaku menjodohkanmu denganku, bukan yang lain."
Dengan sikapnya yang demikian hangat, Naruto tertawa renyah. Sakura menempelkan bubur daun komprei di pelipisnya lalu membebatnya dengan kain, nyaris menghalangi pemandangan si pirang. Naruto sama sekali tidak mengaduh kesakitan dan bibirnya tidak kunjung mendatar.
"Kau lucu sekali," gumamnya pada gadis di hadapannya. "Baru segitu kau sudah merajuk. Aku hanya bicara tentang kenyataan."
"Apa maksudmu?"
Katup bibir Naruto semakin lebar. Hatinya tiba-tiba saja terasa seperti meledak-ledak, persis bunyi genderang saat pertandingan besar di Roma. Ini kali pertama pikirannya begitu berkabut sampai ia tak bisa melihat apa-apa.
Kecuali baju Sakura yang melorot kerahnya sampai separuh payudaranya.
Insting hewani sang gladiator terbit begitu saja, lalu memporakporandakan isi kepalanya. Pupilnya melebar kala mendapati netra emerald Sakura memberi sinyal yang sama. Sepasang tangan kurus yang bekerja pada lukanya turun ketika bebatan kain itu selesai dibuat.
Kedua insan muda ini seolah terbang ke angkasa, melayang di udara Teluk Napoli yang hangat. Sebuah gelora yang tak pernah menyala, tiba-tiba saja menyeruak ke dalam jiwa, menimbulkan panas di dalam dada hingga terbentuk guruh di dalam jantung.
Naruto memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke muka Sakura, berhati-hati sekali laksana singa afrika yang menguntit seekor rusa montok di padang rumput. Napas penuh nafsu lepas menerpa kulit pipi si rusa tanpa satu pun tembok penghalang.
Bibir mereka bersentuhan tatkala sepasang burung gereja melesat ke angkasa. Tidak jelas mana birahi dan mana cinta. Dua anak muda yang kadang masih naif ini sedang menelusuri dimensi baru.
Sore itu hingga petang, keringat menjadi selimut senggama mereka. Mengadu dengan daya penuh, hingga tumpukan jerami berubah menjadi surga kecil sekaligus arena tarung bagi keduanya. Maskulinitas bertumbukan dengan bibir bunga anggrek merah muda, menjadi asal muasal kehidupan baru.
Sakura dibuat gila oleh Naruto.
Tidak pernah ia merasakan sensasi seperti ini. Meski di bayangan terliarnya tentang tubuh berkilat sering menyapanya, ternyata sang gladiator adalah kesintingan itu sendiri.
"Narutohhh~"
Lepas satu kata dengan desah manis dari si mangsa, lepas juga semua hal di luar naluri kebinatangan. Tak perlu lagi ditahan karena segalanya sudah menjadi dunia mereka sendiri.
"Kaulah Luna, Sakura... Luna..."
Tidak ada yang tahu kapan mereka selesai. Yang jelas, manusia selain Naruto dan Sakura harus terganggu. Entah bagaimana reaksi mereka di balik pintu jeruji; menutup telinga, menggenggam kemaluan atau berusaha tidur.
Taburan bunga imajiner berhenti setelah tenaga mereka terisi kembali. Antara Naruto dan Sakura kini sudah menikah, dengan Dewi Venus sebagai saksi yang memandangi mereka dari langit. Lupa bahwa ada kewajiban majikan-budak yang seharusnya dipenuhi saat itu juga.
•••
Selembar jubah kusam yang robek di tepinya melambai di atas punggung seorang pemuda. Angin genit mengelus helai pirangnya yang laksana rumput duri. Bulan purnama berada tepat di atas atap Villa Albarosa yang belum juga terlelap padahal sudah hampir jam ke sepuluh.
Naruto meninggalkan Sakura menuju tabularium setelah pergulatan sengitnya. Biarkan udara lembab kamarnya menyerap bebauan hasil kegiatan mereka, toh segalanya tetap akan baik-baik saja karena sang gladiator adalah aset Keluarga Uchiha dan Sakura akan menjadi penjamin aset itu. Gemeritik api obor yang bergoyang di pilar atrium menyapanya disertai dua penjaga yang tidur-tidur ayam dalam tugasnya.
Tabularium selalu diberi pencahayaan minim bila sedang digunakan di malam hari. Ruangan itu begitu berharga karena semua arsip Keluarga Uchiha ada di sana, sejak zaman Naka Uchiha yang ikut berperang bersama Scipio Africanus di Zama. Naruto masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu karena seorang pria berdiri di sana dengan pose pongah.
"Menyenangkan bersama istimu?" ejek Itachi, yang menghalangi Naruto dengan tembok kekesalannya.
"Sangat." Sejujurnya di antara semua Uchiha yang ada, Itachi adalah yang paling tidak disukai oleh Naruto. Baginya dia seperti perempuan; banyak bicara dan keras kepala ――antara tipikal politisi atau bermulut besar. "Minggirlah."
Pantaskah seorang budak berbicara seperti pada tuannya? Pada masa itu, antara pantas dan tidak, muncul dari opini. Pada malam itu juga, Naruto telah membangun citra tentang dirinya sebagai gladiator potensial milik Herculaneum.
Suara yang jauh lebih berat menyapa telinga. "Menyingkirlah, Itachi. Biarkan dia lewat."
Sang kepala keluarga baru meletakkan piala perunggunya. Shisui sama sekali tidak terkejut, mungkin tepatnya tidak peduli pada kedatangan sang gladiator karena ia masih fokus pada selembar papirus di tangannya. Naruto tak lantas menghampiri mereka seolah sedang menjaga jarak dari api tanur tinggi.
"Kasus Titus ini sebenarnya tidak rumit, hanya saja pemuda ini menjadi satu-satunya anak laki-laki di keluarganya," ucap Shisui di tengah diskusi. Itachi mengambil posisi di kursi kayu di sisi berlawanan dari Fugaku, lalu meremas tinjunya di atas meja. Shisui memperhatikan gerak-gerik adiknya dengan tatapan penuh maklum. "Tapi sepertinya ini bisa dilanjut besok. Sisanya biar kukerjakan sendiri."
"Kalau begitu aku saja yang mengerjakannya." Dengan sedikit mengabaikan sopan santun, ia menadahkan tangannya seperti meminta sesuatu pada Shisui. "Berikan papirus itu. Aku bisa menyusun gugatan dengan cepat."
Seulas senyum tipis terlukis di wajah tegas Fugaku. "Datanya sudah cukup?"
"Aku akan mengumpulkannya lagi setelah pembacaan gugatan. Aku yakin Drusus tidak akan berani menampakkan wajahnya di hadapanku lagi," putus Itachi mantap.
Selama itu Naruto hanya menonton. Politik dan hukum bukan dunianya ――dua hal itu tidak akan bersatu dengan dimensi perbudakan di mana ia terjebak di dalamnya. Ia menatap ke langit-langit, mencoba melihat sejauh apa kain perban yang dipasang Sakura menghalangi pemandangannya.
Sang kepala keluarga kembali bertitah, "Pergilah tidur kalian berdua. Kau, duduk."
Kedua anak laki-laki keluarga Uchiha berdiri, Itachi membawa gelas anggurnya hingga ke luar ruangan lalu menghabiskan isinya dalam sekali tenggak dan melemparnya ke salah satu budak yang menungguinya. Pemuda itu tampak seperti seorang petarung, tetapi arenanya adalah forum persidangan di pusat kota, bukan amfiteater. Sikap angkuhnya persis seperti yang ditampakkan para gladiator unggulan.
Setelah langkah mereka tak terdengar lagi, Naruto baru memberanikan diri untuk duduk. Sikap sopan masih sering ia tunjukkan pada beberapa orang, Fugaku tentu termasuk di dalamnya. Ingatlah bahwa kerendahan bisa menyelamatkan kulitmu dari cambukan atau bahkan kedua tanganmu.
"Titus Livius, seorang pemuda bodoh yang membunuh ayahnya sendiri," beo Fugaku meringkas apa yang dibicarakan barusan. Entah mengapa Naruto jadi merasa bahwa tuannya seperti membicarakan dirinya. Hinaan mungkin, atau ejekan?
Fugaku tertawa remeh, tapi kemudian wajah seriusnya timbul lagi. "Apapun yang aku bicarakan di sini, tidak boleh keluar dari mulutmu dan tidak boleh keluar dari ruangan ini." Sebagai pembukaan, kalimat itu berat. Dengan kemampuan intelegensi yang seadanya, ia mencoba menangkap setiap frase yang diucapkan sang tuan. "Dengarkan baik-baik."
"Ita, dominus." Suaranya bahkan seperti seorang murid yang gugup saat dipanggil oleh pelatih. Dan Naruto tidak pernah sekikuk itu di hadapan Ibiki.
"Seseorang sedang berusaha membunuhku lalu merampas seluruh harta benda keluarga ini, bahkan termasuk anak-anakku."
Seperti tidak biasa menerima perintah, sang gladiator mengerjabkan matanya dengan cepat. Kilau matanya menuntut penjelasan lebih. Meski begitu, hatinya tak bisa berbohong bahwa ia mendapati keluarga terhormat ini dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
"Kau harus mengawasinya seintensif mungkin. Hanya kau yang bisa melakukannya," lanjut Fugaku.
"Aku... tidak yakin, dominus. Aku masih hidup saja karena kebetulan berpasangan dengan Kurama――"
"――Kurasa istriku jatuh cinta padamu," potong Fugaku.
Seketika itu juga, Naruto bisa merasakan ada retakan dalam pondasi Villa Albarosa. Tak pernah ada sejarah seorang gladiator mencampuri urusan tuannya, tetapi si pirang tak bisa lepas begitu saja dari perintah Fugaku, atau katakan, ancaman yang ada di belakangnya. Harga diri sang kepala keluarga sedang dipertaruhkan di atas meja, di mana Naruto bisa memolesnya atau memecahkannya.
Lalu pilihan mana yang akan ia ambil?
To be continued
Nah loh om Fuga tau bininya berpaling :"
Oh iya untuk yang minta jumlah words lebih panjang, maaf saia belum mampu utk menulis dg words yang lebih banyak. Kemampuan saia masih segini :"
