Hime : Hohoo itu sudah diatur :D stay tune yaakk. Sudah disiapkan sekuel untuk Wait for me kak. Makasih sudah read dan review xx

Lee : Mau nampar Lucius? Sini perang dulu sama saya /heh Luna bentar lagi hamil kok, tenang aja :D fb ku cari aja facebook-com/ hardiny-np (ganti tanda hubung pake titik. Spasinya hapus:D) Makasih sudah read dan review xx

Zielavienaz96 : Ini updatenya kak. Makasih sudah read dan review xx

Moku-Chan : Saya juga mau kok dipeluk sama Lucius /ngarep lu om/ tenang kak, tantangan kakak akan segera terpenuhi HAHAHAHAHA Makasih sudah read dan review xx

Terima kasih buat semua yang sudah follow, favs, dan subscribe.

WolfShad'z

.

.

.

A/N : Hai! Maaf update nya lama, saya lagi mengalami writer block. Jadi, hampir tak ada ide yang mengalir didalam kepala saya. Adakah yang mau menyumbangkan ide? *tergampar dengan elitnya* okay, okay, saya mau bikin chapter ini agak humor. Sebenarnya saya agak kesusahan nulis yang manis-manis apalagi humor, jadi akhirnya dengan bantuan perjuangan dan do'a saya bisa melanjutkan cerita ini :') Thanks for your support, guys! Ily xx

WolfShad'z

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya.

Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementrian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?

Rating : T+ lah. Eh sama parental guiding juga

Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.

Note : Snape, Dumbledore dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film. Lucius 45 tahun, Luna 21 tahun.

Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.

Happy Reading!

.

.

.

"Master Lucius Malfoy! Master Lucius Malfoy!" Suara peri rumah keluarga Malfoy yang bernama Puffy membangunkan Lucius dari tidurnya. Ia tidak berani naik keatas kasur super empuk itu, hanya membangunkan Masternya dari tepi ranjang.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi Lucius masih belum juga bangun dari tidurnya. Ia kelelahan karena semalam ia baru saja menghadiri rapat penting untuk laporan hasil kerja perusahaan Malfoy yang dikelolanya. Ia baru tiba dirumah pukul tiga pagi tadi, dan langsung melemparkan tubuhnya diranjang. Ia bahkan tidak melepas sepatu dan jubahnya yang panjang itu. Yah, memang tidak seperti kelakuan orang ningrat seperti Lucius Malfoy. Tapi pria tetaplah pria, jika sudah kelelahan pasti langsung tidur tanpa memandang situasi dan kondisi. Benar begitu, bukan?

Tapi sungguh, semalam ia benar-benar marah karena salah satu karyawannya membuat perusahaannya sebesar seribu Galleon. Bagi Lucius seribu Galleons bukanlah apa-apa, tetapi yang dipermasalahkan adalah kekonsistenan dan tanggung jawab masing-masing karyawan. Lucius benar-benar mengaplikasikan disiplin keras terhadap karyawan-karyawannya. Ia tidak ingin perusahaan yang sudah diturunkan turun temurun itu menjadi kacau gara-gara kesalahan satu-dua orang karyawan. Jadi terpaksa Lucius memberinya hukuman dengan pemecatan. Lucius Malfoy seorang perfeksionis yang tidak mentolelir kesalahan.

Puffy masih memanggil-manggil Lucius. Bukannya bangun, Lucius malah mengerang sambil mengkibas-kibaskan tangannya diudara, seakan-akan menyuruh Puffy pergi dari hadapannya sesegera mungkin. "Pergilah, Puffy!" Lucius bersuara dengan malas, seraya membalikkan badannya. Kedua tangannya menutup kepalanya dengan bantal.

Puffy mendesah. Ia terus membangunkan Lucius tetapi pria berambut pirang panjang itu masih juga ngebo diatas ranjangnya. Puffy berpikir, pastilah Master nya ini sangat kelelahan sampai-sampai ia begitu sulit untuk dibangunkan. Puffy sendiri sebenarnya enggan untuk membangunkan Lucius, tetapi ia harus. Karena hari ini Lucius benar-benar kedatangan tamu tidak terduga.

Lucius masih juga belum bergeming, ia masih menguburkan wajahnya dibantal berwarna putih. Nafasnya lambat, tetapi teratur. Melihatnya Puffy menjadi kesal sendiri. Master Lucius Malfoy benar-benar sedang kelelahan. Kinki menahan tamu mereka didepan pintu sampai Tuan rumah siap untuk menemui mereka. Kinki tidak pernah menolak perintah Master-nya meskipun permintaannya aneh-aneh.

"Kami ingin bertemu Lucius dan Luna Malfoy untuk wawancara Weekly Witch," suara seorang wanita dengan kacamata besar yang aneh.

"Master Lucius Malfoy dan Mistress sedang tidak bisa diganggu. Jika Mrs Skeeter memiliki pesan yang ingin disampaikan, maka Kinki akan dengan senang hati menyampaikan pesan kepada Master dan Mistress Malfoy," suara fals Kinki bisa didengar oleh wanita paruh baya bernama Rita Skeeter.

Skeeter mendesah, kemudian memutar bola matanya. Para juru kameranya sudah siap dibelakang, "Katakan pada Mr dan Mrs Malfoy jika Weekly Witch sedang menunggu. Dan, kau juga bisa mengatakan pada tuan mu jika menolak, maka ia akan menyesalinya."

Kinki memandang Skeeter dengan kesal. Ia tidak pernah menyukai Skeeter sejak pertama kali bertemu bertahun-tahun lalu, saat Lucius diketahui terlibat insiden di Kementerian pada tahun 1995. Ia benar-benar melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Oh, astaga, Kinki yang tidak begitu menyukai tuan-nya saja sampai merasa tidak terima dengan penyihir aneh ini.

"Kinki tidak akan melarang Mrs untuk menunggu Master," ia berkata lagi. Sedetik kemudian peri rumah dihadapan Rita Skeeter dan tiga orang jurnalis itu menghilang. Ia kembali muncul dihadapan Luna, yang tengah berbincang dengan Smitty.

"Ada apa, Kinki?" Luna bertanya begitu melihat Kinki muncul disebelah Smitty.

"Master dan Mistress kedatangan tamu dari Weekly Witch. Kinki sudah menyuruh mereka pergi tetapi Mrs Skeeter bersikeras untuk menunggu Master dan Mistress Malfoy. Mrs Skeeter juga mengatakan jika Master dan Mistress akan meyesal apabila Master dan Mistress menolak untuk diwawancara olehnya," jawabnya panjang lebar. Smitty ikut memandang Luna yang nampak berpikir.

Butuh beberapa saat bagi Luna untuk mencerna semua ucapan Kinki yang bertele-tele itu. ia melihat Kinki saling melempar pandangan kepada Smitty. Luna akhirnya tersentak, matanya terbelalak. Ekspresinya benar-benar menunjukkan kekagetan. Ia pun berlari keluar kamarnya, menuju kekamar Lucius yang tidak jauh dari kamarnya. Ia mencoba membukanya, tetapi terkunci.

"Lucius! Lucius bangun! Kita kedatangan pers!" Luna menggedor-gedor pintu kamar Lucius Malfoy dengan keras. Lucius masih juga tidak kunjung bangun, ia malah mendengkur. Luna bisa mendengarnya, dan ia menggeleng beberapa kali. Dalam hati ia membatin, ternyata Lucius tidak selalu tampil elegan dan disiplin seperti biasa. Ternyata ia juga memiiki waktu-waktu dimana ia harus berlaku layaknya pria rumahan pada umumnya.

Ia menarik nafas panjang, menodongkan tongkat sihirnya dihadapan gagang pintu itu sembari berbisik, "Alohomora!" Dan pintu itu terbuka, ia begitu terkejut melihat Lucius tertidur dengan posisi tengkurap. Wajahnya menghadap bantal. Ia bahkan tidak melepas sepatunya, membuat mata Luna berkedut beberapa kali karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Maksudnya, hey, Lucius Malfoy tidur dengan tidak elitnya seperti itu?

Ia berjalan menghampiri Lucius, kesisi kanan ranjang. Ia—Luna dapat melihat Lucius tertidur dengan pulas. Ia tidak tega untuk membangunkannya begitu melihat wajah Lucius yang memancarkan kedamaian, menyiratkan ekspresi watandos atau wajah tanpa dosa. Arogansinya, keras kepalanya, keangkuhannya seakan-akan menghilang dari diri Lucius Malfoy saat ini. Luna benci harus melakukan ini, tapi ia harus membangunkan Lucius dan menyuruhnya untuk segera bersiap dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari pers.

"Lucius bangun! Ada Rita Skeeter diluar!" Luna mengguncang-guncangkan tubuh Lucius. Pria itu tidak terbangun, malah mengerang, membalik posisinya untuk membelakangi Luna. Tangannya menggantung ditepi ranjang, hampir menyentuh lantai.

"Ini masih terlalu pagi, Narcissa. Kembalilah ti..." tidak sampai ia menyelesaikan ucapannya, Lucius tertidur lagi.

Geram karena dikira Narcissa, Luna pun berjalan kesisi lain ranjang Lucius untuk melihat suaminya ini sudah bangun atau tidak. Luna memandangnya lagi, memikirkan cara yang tepat untuk membangunkan Lucius yang masih ngebo alias tidur yang tidak bangun-bangun. Sebuah ide gila terbesit dalam pikirannya, ia sebenarnya ragu untuk melakukan ini, tapi Luna harus benar-benar membangunkan Lucius. Ia tak bisa menghadapi Rita Skeeter seorang diri.

Terakhir kali ia membaca ulasan Rita Skeeter adalah tentang Dumbledore dan Orde. Ia mengatakan jika Dumbledore hanyalah pria tua yang ingin ketenaran. Skeeter juga mengatakan jika Dumbledore dan Voldemort tidak ada bedanya; mereka sama-sama haus akan kekuatan. Tetapi ulasan Skeeter itu banyak menuai kecaman, baik dari Kementerian, yang sudah dikuasai oleh Death Eaters, atau dari kalangan penyihir biasa sekalipun.

Luna pun mulai mengacungkan tongkat sihirnya didepan wajah Lucius. Luna menelan ludah, memberanikan diri untuk segera melakukan rencananya. "Maafkan aku, Lucius. Tapi aku tidak ingin Rita Skeeter menulis yang aneh-aneh lagi," bisiknya. Sebuah seringai terbentuk dibibir Luna, pertanda ia sedang menikmati apa yang ia lakukan.

"Aguamenti!"

Kucuran air keluar dari ujung tongkat Luna, menyiram wajah Lucius yang masih tertidur. Air itu bergemericik begitu menabrak wajah Lucius. Luna sebenarnya tidak tega membangunkan Lucius dengan cara ini. Tetapi ia tidak punya cara lain selain dengan cara seperti ini. Ia mengerti jika Lucius pastilah kelelahan sampai-sampai ia tidak mempan dibangunkan dengan cara biasa. Paling tidak, mendinglah Luna menggunakan Aguamenti dari pada menyiram Lucius dengan satu ember air dingin.

"Banjir!" Lucius berteriak, berguling-guling kesisi lain ranjangnya hingga ia terjatuh dilantai. Ia mendarat dilantai dengan punggung terlebih dahulu, satu tangannya menarik selimut sebagai penahan agar ia tidak terjatuh. Tetapi selimut yang ia cengkram itu malah ikut terseret Lucius kebawah, hingga menutupi seluruh tubuhnya.

"Tidak ada banjir, Lucius," Luna bersuara, sembari kembali memasukkan tongkat sihirnya di sakunya. Ia menahan tawa saat melihat ekspresi wajah panik Lucius. Wajah tampan yang garang itu tiba-tiba menjadi lucu ketika panik. Terlebih, saat ini Luna hanya melihat rambut Lucius yang kelewat berantakan. Wanita berbaju merah itu menahan tawanya.

Lucius mendapati rambut dan jubahnya basah. Rambutnya yang mengkilat juga masih meneteskan air. Ia melihat dirinya sendiri, merasa benar-benar kacau. Ia mendongak, melihat Luna yang sudah rapi sedang berdiri disisi lain ranjangnya. Lucius murka, "Apa-apaan ini? Kenapa kau menyiramku?" ia bertanya, tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Ada pers diluar, Lucius," Luna berkata.

"Oh, alasan yang bagus untuk mengganggu tidurku," Lucius berkata singkat. Ia nampak belum benar-benar menangkap kalimat Luna. Jiwanya masih belum benar-benar kembali kedalam tubuhnya, jadi wajar jika ia tidak nyambung dengan ucapan Luna tadi. Luna hanya memiringkan kepalanya, ia merasa jika Lucius tidak benar-benar mencerna informasi yang dikatakan Luna tadi.

Ekspresi wajah Lucius mengeras, memandang Luna penuh pertanyaan. Ia masih dalam posisi duduk diatas lantai. Ia memijit kepalanya, mencoba mencerna ulang ucapan Luna tadi. Wanita muda dihadapannya masih menunggu dengan menghembuskan nafas panjang. "Tunggu, ada pers diluar?" Lucius akhirnya bersuara lagi, ia mengulangi ucapan Luna.

"Itu yang kubicarakan, Lucius. Ada Rita Skeeter diluar!" Luna bersuara.

"APA? RITA SKEETER? Apa yang ia lakukan di Malfoy Manor?"

Luna mengangkat bahunya, tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan topik pembicaraan, "Sebaiknya kau segera bersiap, Lucius. Kau tidak ingin menemui pers dengan penampilan...seperti itu bukan?"

"Kau benar. Kau jangan hanya menunggu disana, bantu aku dengan melakukan sesuatu," Lucius berkata, setengah memerintah. Ia mengangkat alisnya tinggi disertai seringai. Luna tidak paham apa maksudnya, tetapi ia berusaha untuk tidak menanggapinya serius. Ia berpikir untuk melempar gurauan sesekali. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi, tangannya sudah membuka pintu kamar mandinya yang kelewat mewah.

"Apa kau ingin aku memandikanmu?" Luna membalasnya dengan gurauan aneh. Lucius yang mendengar Luna seperti itu sama sekali tidak menyangka jika Luna akan menanggapinya seperti itu. Sebenarnya Lucius berpikir jika respon Luna adalah, 'aku akan menemui pers terlebih dahulu'. Tapi ini, responnya benar-benar tidak seperti Luna yang biasanya.

"Jika kau tidak keberatan, tentu saja," Lucius menjawab dengan seringai nakal, membalik badannya untuk melihat Luna. Lucius balik menantang Luna, berharap jika wajah cantik wanita muda dihadapannya itu akan memerah. Tetapi yang diharapkan Lucius tidak terbukti, karena Luna membalasnya dengan sesuatu yang lagi-lagi membuatnya terkejut.

"Keberatan? Oh, tidak. Aku akan senang jika kau mengijinkanku untu memandikanmu," Luna menjawab dengan mengedipkan sebelah matanya. Kakinya berjalan mendekat kearah Lucius perlahan-lahan. Senyuman nakal Lucius semakin melebar, sementara pikirannya yang kotor sudah terbang kemana-mana.

"Tentu saja tidak keberatan, sayang," Lucius bersuara. Ia merentangkan kedua tangannya. Luna yang sudah berjalan mendekat, mendorong Lucius masuk kedalam kamar mandi. Ia masih menggoda Lucius dengan senyuman aneh diwajahnya. Lucius tidak tahu apa yang ada dipikiran Luna saat ini, yang tiba-tiba menjadi nakal seperti itu. Lucius berpikir untuk menantang Luna balik.

Luna menarik tongkat sihirnya. Sebuah ember berisi air besar tumpah dari atas Lucius. Air itu dengan kerasnya menyiram Lucius hingga seluruh tubuhnya basah kuyup. Lucius memandang melihat dirinya basah kuyup akibat ulah dari istrinya. Ekspresi wajah Lucius menjadi tidak terbaca hingga berjalan mendekati Luna. Luna tersenyum puas melihat wajah Lucius seperti itu, hingga berjalan mundur, keluar dari kamar mandi Lucius. Ia kemudian mengayunkan tongkat sihirnya untuk menutup pintu kamar mandi. Pintu itu tertutup dihadapan Lucius.

"LUNA LOVEGOOOOOOODD!" Luna bisa mendengar Lucius berteriak keras dari dalam kamar mandi.

"Aku sudah memandikanmu, kan, Lucius sayang?" Luna bersuara cekikikan. Lucius mendengus kesal, tapi ia merasa bahagia. Tidak ada orang yang memperlakukan dirinya seperti ini, dan hal ini membuat Lucius merasa lebih menyukai istri barunya itu daripada Narcissa. Ia masih berdiri dibalik pintu, dengan senyum bermekaran diwajahnya yang rupawan. Ia tidak marah. Sama sekali tidak.

"Tunggu pembalasanku!" Luna mendengar Lucius berteriak, wanita muda itu cekikikan lagi kemudian menyiapkan pakaian untuk Lucius dari almarinya. Sungguh kali ini Luna merasa istri Lucius sebenar-benarnya. Dan Luna benar-benar menikmati apa yang ia lakukan ini. jika saja Lucius tahu apa yang didalam hatinya saat ini, Luna rela dijadikan selir hatinya.

Ah, tidak. Ia ingin lebih dari sekedar selir hati.

Okay, Lucius lagi-lagi terjebak dipermainan gadis ini. pikiran kotornya benar-benar mempermalukan membuatnya terbodohi lagi. ia seharusnya sudah menduga jika Luna akan menyiramnya dengan seember air. Tapi Lucius justru merasa senang, ia merasa bunga-bunga sedang bermekaran di dalam hatinya.

Lucius memulai mandinya dengan cepat-cepat. Pikirannya melayang-layang, hatinya berbisik, "gadis itu benar-benar polos. Aku tidak menyangka dia akan melakukan itu padaku. Apakah itu berarti ia sudah melupakan pertengkaran bulan bulan lalu? Aku harus membicarakan ini segera," Lucius membatin.

Ia keluar dari kamar mandi begitu selesai dengan kegiatan pribadi itu. Ia sedikit kaget melihat kemeja, jubah dan celana sudah tertata rapi diatas ranjangnya. Ia menerka-nerka siapa yang menyiapkan pakaiannya seperti ini. Peri rumahnya tidak memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal demikian. Tak salah lagi, pasti Luna yang menyiapkan pakaian untuknya. Lucius mengerti jika wanita muda itu mungkin masih membencinya, tapi ia tidak menyangka Luna akan melakukan ini tanpa Lucius memintanya. Bahkan, Narcissa pun tidak pernah melayani Lucius seperti menyiapkan pakaiannya, membangunkannya dengan Aguamenti atau apapun itu.

Luna begitu berbeda.

-ooOOoo-

"Ah, Rita Skeeter. Silakan masuk," Luna bersuara. Ia mencoba sesopan mungkin dengan jurnalis super menyebalkan ini. Ia tidak ingin membaca ulasan yang tidak mengenakkan tentang Malfoy besok. Lucius nampak sedang berjalan menghampiri Luna untuk memberi sambutan sehangat mungkin kepada Skeeter dan anak buahnya.

Mereka berjalan masuk menuju rumah semegah istana ini. Lucius mempersilakan mereka untuk duduk dikursi mewah berwarna merah. Peri rumahnya yang bernama Puffy menyuguhkan brandy sebagai welcome drink. Satu-satunya alasan Lucius memperlakukan Skeeter dan Weekly Witch dengan sebaik mungkin adalah karena ia tahu siapa Skeeter sebenarnya. Ia selalu menulis pendapatnya sendiri, yang kadang mengabaikan keaslian dan keakuratan ulasannya itu.

"Aku minta maaf sudah membuat kalian menunggu. Ada sedikit masalah dengan kamar mandiku," Lucius menyeringai, kemudian melempar pandangan geram kepada Luna yang duduk dekat sekali disampingnya. Lucius menarik nafas panjang, "jadi, bisa kita mulai?"

Rita bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Luna. ia memandang Luna dengan sorot mata aneh. Bibirnya yang merah sekali itu berkedut. Luna menduga, pasti Skeeter menghabiskan satu kilogram lipstik setiap harinya. Belum lagi bedak yang cukup tebal dan maskara anti badai. Oh, betapa ribetnya wanita tua dihadapannya ini. "Jadi, kau adalah Mistress Malfoy yang baru. Ternyata Lucius Malfoy juga memiliki selera yang bagus," ia bersuara.

Luna diam, melemparkan pandangan kepada Lucius yang juga sedang meliriknya. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Lucius terkejut, tak berani memandang Luna. Ia pun kemudian mengalihkan pandangan dari Luna menuju gelas brandy. Luna melakukan hal yang sama, sementara pipinya tak bisa berhenti untuk memerah.

"Mrs Skeeter, aku yakin you, yourself and yours sudah tidak sabar untuk mengeksploitasi kami dengan pertanyaan-pertanyaanmu. Jadi, aku akan senang jika kau segera memulainya," Lucius bersuara dengan nada rendah yang dingin. Ia memberikan seringai andalannya lagi.

"Ah benar sekali, Mr Malfoy. Me, myself and I ingin tahu. Belum lagi para pembaca setiaku," ia terhenti. Wanita berpakaian merah dan hitam itu mengeluarkan pena ajaibnya. Pena yang bisa menulis sendiri.

Luna memandang pena ajaib Rita Skeeter tanpa berkedip. Bukan keajaibannya yang membuat Luna tak bisa berhenti memandangnya, tetapi kecepatan menulis pena itu yang membuat Luna memandangnya aneh. Lucius mendapati Luna sedang teralih perhatiannya, ia pun memperdekat jarak mereka dengan cara melingkarkan tangannya dipundak pinggang Luna.

Luna menyadari dirinya sedang melamun, ia tersadar ketika tangan Lucius sudah berada dipinggangnya. Ia sebenarnya sedikit risih, tetapi ia tidak bisa melepaskan pegangan Lucius sekarang. Wajahnya sudah benar-benar seperti kepiting rebus, ditambah kamera yang dari tadi bercekrak-cekrek. Ini hampir membuat mata Luna silau.

"Kita mulai denganmu, Mrs Malfoy," ia terhenti. Quick-Notes Quill nya mulai bersiap untuk bergerak lagi. "Coba kita mulai, seorang wartawan dari the Quibbler—"

"Aku editor," Luna mengkoreksi.

Rita Skeeter nampak tidak mempedulikannya. Ia terus nyerocos sendiri, Lucius mendengarnya dengan sedikit kesal. "... yang tiba-tiba mendapat kutukan, atau mungkin keberuntungan dengan menikahi duda beranak tunggal, yang lebih berpengalaman, lebih tua dan lebih kaya baik secara finansial atau mungkin emosional. Apa kau tidak merasa takut, Mrs Malfoy?"

Luna diam beberapa saat, ia kemudian menjawab dengan sejujur-jujurnya, "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Suamiku orang yang baik," ujarnya. Masih memandang pena ajaib itu. ia berpikir untuk membeli satu untuk The Quibbler.

Lucius mendengarnya dengan bimbang, ia tidak tahu itu sebuah pernyataan atau hanya sekadar kepura-puraan belaka. Mereka sudah merencanakan ini sejak awal, dan Lucius ingin semuanya terlihat sebaik mungkin. Tapi apakah jawaban yang dikatakan oleh Luna itu benar? Apakah dirinya orang yang baik? Lucius tidak berani berharap tinggi-tinggi.

"Kau tidak memiliki niat terselubung, kan?" Rita bertanya.

Luna diam lagi, kemudian tertawa. "Terselubung apa maksudmu? Aku tidak memiliki niatan apa-apa kepada Lucius," Luna menjawab.

"Kau tidak tergoda dengan jumlah emas yang terhingga dibrankasnya?" Skeeter bersuara lagi. luna tertawa pelan sebelum berujar lagi,

"Aku sudah memiliki cukup emas dari The Quibbler," Luna menjawab. Ia kembali memandang pena ajaib itu. Sekilas ia membaca ulasan-ulasan yang tidak benar didalamnya. Luna merasa tidak terima. Ia pun protes, "Hey! Aku sama sekali tidak tergoda dengan emas!"

"Tentu saja tidak," Skeeter menyahut. Ia menyeringai, kemudian berkata, "semua orang suka menyangkal kebenaran, Mrs Malfoy," Skeeter menambahkan.

Luna melempar pandangan kepada Lucius, pria disampingnya hanya diam. Ia mengangkat bahu, tidak paham dengan maksud Skeeter. "Coret yang tadi," perintah Skeeter kepada pena ajaib itu. wanita berambut pirang itu terkekeh sendiri.

"Berbicara tentang pernikahan, jika kau memiliki kesempatan untuk mengubah peraturan undang-undang ini, apa kau ingin kembali kepada Narcissa Thicknesse nee Black, Mr Malfoy?" kali ini pertanyaan itu ditujukan kepada Lucius.

Lucius tiba-tiba menjadi diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa berbohong, dan tidak bisa juga untuk jujur. Ini sama seperti terjebak ditengah-tengah lapangan tempur yang sedang dihujani oleh mortir. Lucius tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, dan kepada siapa ia berlabuh. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Luna yang melihat Lucius melamun, langsung merangkul Lucius dengan memberikan sedikit remasan dibahunya. Pria itu kemudian kembali sadar dan terbangun dari lamunannya. Dengan reflek sebuah jawaban keluar dari mulutnya, "Tidak!"

"Ah, bisa kulihat. Aku merasa ada yang ditutupi disini. Bisakah kau memberiku informasi, atau paling tidak penjelasan mengenai hal yang mungkin sedang kau tutupi itu, Mr Malfoy?"

Lucius menyeringai, mengangkat alisnya tinggi. Ia memandang Rita Skeeter dengan tajam sebelum akhirnya ia berbicara lagi, "Rita Skeeter, jika memang ada yang sedang kami tutupi, kami tidak akan mempersilakan kalian untuk masuk dan mewawancarai kami. Benar begitu, my dear?"Kali ini Lucius memandang Luna dengan senyuman diwajahnya. Lucius tidak memberikan senyuman palsu kepada Luna. senyumnya itu benar-benar murni cerminan atas perasaannya.

Luna balik tersenyum, kemudian mengangguk cepat. "Benar sekali," balas Luna. ia menjawab disertai dengan kepalanya yang tiba-tiba bersandar dipundak Lucius. Pria paruh baya itu agak terkejut, tetapi ia tahu jika apa yang dilakukan Luna saat ini hanya berpura-pura.

Tapi, Luna tidak berpura-pura. Mereka berdua menggunakan kebenaran untuk sebuah kepura-puraan. Parahnya, tidak ada yang menyadari hal ini sedikit pun. Lucius tidak terlalu berharap jika Luna memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan Luna, tidak begitu berharap jika Lucius akan mencintainya seperti Luna mencintai Lucius.

Faktanya adalah, mereka sebenarna saling mencintai. Tetapi mereka terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaan mereka. yang terjadi sebenarnya hanyalah salah paham antar dua kubu. Hal ini tidak serumit pikiran mereka jika Luna dan Lucius mau berkata jujur satu sama lain.

"Ah baiklah, baiklah. Kurasa aku sudah mendapatkan cukup banyak bahan untuk ulasanku minggu depan. Senang bisa bekerja sama Mr dan Mrs Malfoy," Rita Skeeter bersuara lagi. ia kemudian bangkit, diikuti dengan para juru foto yang berdiri dibelakangnya.

Lucius mengangguk, membiarkan Rita Skeeter untuk keluar dari Malfoy Manor. Lucius dan Luna ikut berdiri, mengantar pers Weekly Witch kedepan pintu. Tangannya masih merangkul pinggang Luna, dan nampaknya wanita muda itu mulai terbiasa dengan kemesraan buatan yang mereka buat. Kepura-puraan ini tanpa sadar sudah membuat dua orang pasangan ini saling jatuh cinta satu sama lain. Mereka masih belum benar-benar yakin, mengingat benih-benih yang tumbuh dihati mereka belum tumbuh sepenuhnya. Ibarat sebuah tanaman yang ditanam, perasaan mereka masih berupa tunas.

Sejenak Lucius berharap, jika kedatangan pers bisa membuat Luna nyaman dengannya, maka Lucius berharap para pers ini akan berada dihadapannya setiap hari. Dengan begitu, Lucius bisa merasakan cinta Luna padanya meskipun hanya sebatas pencitraan semata. Lucius diam-diam sudah hoplessly desperate akanperasaan tak terbalas ini.

Ini salahnya. Ini salah Lucius yang membiarkan dirinya terjatuh lebih dalam. Seharusnya sejak awal ia sudah mempersiapkan rencana cadangan jikalau kejadian seperti ini terjadi. Seharusnya ia bisa mempertimbangkan langkahnya ketika ia menyadari perasaan itu mulai tumbuh. Tapi Lucius tidak bisa berbuat apa-apa. Ia seakan tak berkutik, diperdaya oleh perasaan yang kekanak-kanakan ini.

"Terima kasih sudah datang. Datang lagi kapan-kapan, ya!" Luna berseru kepada para wartawan Weekly Witch yang sudah menghilang dari hadapan mereka. Lucius tidak paham dengan maksud Luna tadi untuk menyuruh pers kembali, tapi ia setuju. Ia setuju jika pers datang lagi. karena apa? Jika pers ada dihadapan mereka, Lucius bisa memperlakukan Luna seakan-akan ia adalah miliknya. Ia bisa menunjukkan perasaannya kepada Luna tanpa menimbulkan kecurigaan Luna.

Luna yang juga sedang merangkul Lucius kemudian melepaskan rangkulannya. Lucius sedikit tercekat ketika Luna melepaskan tangannya dari dirinya dengan sigap. "Aku senang mereka akhirnya pergi. Aku benar-benar hampir mati kelaparan," Luna bergumam sendiri.

Lucius mengangguk setuju, ia kemudian menjawab, "Lebih baik kita sarapan sekarang."

Mereka berjalan menuju meja makan. Lucius melihat jam dinding yang tak disangkanya sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Lucius tak percaya ia harus melewatkan sarapan lagi selama dua hari ini. Yang pertama saat kemarin, ia harus segera kekantor pusat perusahaannya. Yang kedua hari ini, kedatangan pers yang membuat dirinya kelaparan setengah mati.

Tapi rasa lapar itu terbalas seimbang dengan Luna yang menggusel-nya tadi. Lucius sepenuhnya mengerti jika Luna melakukan itu karena memang sudah kesepakatan mereka untuk memasang kemesraan didepan publik. Ia juga berharap jika dirinya dan Luna bisa mengelabuhi Rita Skeeter dan Weekly Witch dengan permainan kecil yang mereka buat. Permainan kecil yang diam-diam ia nikmati.

Mereka duduk dimeja makan dengan posisi biasa. Makanan kelewat banyak kembali muncul dihadapan Luna dan Lucius. Luna mengambil porsi dua kali lebih banyak dari biasanya, hal ini sedikit membuat Lucius kaget. Hey, porsi makannya lebih dari cukup untuk dua orang.

"Wow, kau benar-benar...kelaparan," Lucius bersuara. Ia memandang Luna makan dengan perlahan-lahan.

Luna tersenyum dengan mulut yang masih penuh makanan. Ia tak menjawab sebelum menelan semua makanannya. Ia kemudian berkata, "nafsu makanku bertambah sejak beberapa hari ini. Mungkin karena kebosanan dan depresi ini."

Lucius mendesah, "Kau depresi lagi? apa yang membuatmu demikian, Luna? katakan padaku," Lucius bersuara setengah memerintah. Luna terlihat baik-baik saja, tapi ia tidak tahu apa yang terjadi didalam kepalanya.

Luna menghentikan makannya, kemudian melemparkan pandangan sedih kepada Lucius. Lucius bisa menyimpulkan jika pandangan Luna disampingnya seakan-akan tidak setuju dengan ucapan Lucius tadi. Ia mengangkat alis sebelah kirinya, membuat Luna menjadi gugup sendiri.

"Aku butuh udara segar," Luna menjawab.

"Luna, aku tidak melarangmu untuk pergi kemanapun dan kapanpun kau mau," Lucius menjawabnya dengan nada datar. Sorot matanya menerobos masuk kedalam mata Luna. Pria berkemeja hitam itu tak berekspresi. Lucius tidak melihat sorotan mata kekecewaan didalam mata wanita-nya itu. ia tidak paham dan tidak mengerti sama sekali kenapa Luna nampak kecewa. Lucius pun bertanya lagi, "Ada apa, Luna?"

Luna tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan senyumnya untuk membuat Lucius tenang. Sebenarnya adalah, Luna ingin berjalan-jalan berdua dengan Lucius keluar manor. Ia sebenarnya benar-benar ingin untuk 'kencan' dengan Lucius, entah itu Diagon Alley, atau mungkin ke Hogsmeade. Luna benar-benar ingin, tetapi ia memilih untuk tidak meminta kepada Lucius. Luna takut jika Lucius akan berubah menjadi dingin lagi jika ia meminta sesuatu lebih dari yang bisa diberikannya kepada Lucius.

Tapi, ayolah, itu hanya permintaan kecil, bukan? Kenapa Luna tidak berani? Itu aneh sekali.

"Jika begitu, bolehkah aku menginap di The Burrow? Aku sangat merindukan Ginny dan Harry. Aku mungkin akan berkunjung ke rumah Hermione juga. Apa kau memberiku ijin, Lucius?" Ia bersuara. Luna butuh waktu untuk memahami dirinya. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri, dan memastikan jika perasaannya kepada Lucius ini tidak benar.

Tetapi Lucius datang disaat yang tepat. Lucius datang menyembuhkan luka dihati Luna disaat yang tepat. Ia datang menggantikan posisi Neville dihatinya. Lucius datang memberinya pelukan disaat ia butuh bahu untuk bersandar. Lucius memperlakukan Luna layaknya seorang ratu. Dan yang paling menyentuh hatinya adalah kata-kata Lucius; ""Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Luna."

Kata-kata itu membuat hati Luna bergetar. Apakah itu berarti Lucius peduli terhadapnya?

"Kenapa kau meminta ijinku?" Lucius bertanya, mulai bersikap kritis.

"Bagaimanapun, kau adalah suamiku, Lucius. Dan suamiku adalah orang yang wajib kuhormati," Luna menjawab. Lucius mendengarnya dengan hati berdesir.

"Ia menghormatiku? Tapi kenapa?" batin Lucius.

Lucius tersenyum. Benar-benar tersenyum. Ia tersenyum dengan senyum tulus untuk pertama kalinya dihadapan Luna. Wanita dihadapannya membalasnya dengan senyuman. "Luna, lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku tidak akan melarangmu," Lucius menjawab dengan senyum yang semakin lebar.

"Terima kasih, Lucius," Luna berujar. Lucius tak menjawab, hanya memberikan sebuah anggukan. Tangannya yang masih memegang garpu bergetar ketika tangan Luna tiba-tiba sudah mengenggam tangannya erat. Lucius merasa jantungnya berdebar tidak karuan. Tangannya yang dingin menjadi hangat ketika tangan Luna mengenggamnya. Ia merasakan kedamaian didalam hatinya.

"Aku harap, sinyal yang kuberikan padamu cukup kuat. Aku harap kau tahu jika aku telah jatuh cinta padamu, Lucius Abraxas Malfoy," Luna membatin dibalik senyuman.

BERSAMBUNG

A/N : Another hard chapter gaaahh! Ini bukan chapter terbaik saya, dan saya pribadi kecewa karena saya lagi kehilangan mood untuk nulis. Tapi saya akan tetep melanjutkan fic ini sampai selesai :'D Alles fur yah my dearests!

As always, kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus. Feel free to ask, guys

Ily

WolfShad'z xx