Feel The Different
Berawal dari kebodohan Park Jimin. Ia harus menanggung kemarahan Princess BTS, Min Suga. Dan kejutan menanti saat Min Suga terjebak dalam tubuh member lain yang notabene adalah namja paling terbully dalam IKON. Bagaimana perubahan hidup keduanya? Bisakah Suga menghadapi kekasih dari tubuh yang ditempatinya sekarang?
.
.
this is an IKON and BTS story with official pair. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
"Maaf karena ketidak jelasan fiction saya ini, saya akan memberi sedikit penerangan :D. saya menyebut nama Jinhwan, berarti yang saya maksud adalah roh Jinhwan. Begitu sebaliknya, bukan pada wujudnya yaa."
Couple Jimin Yoongi, Junhoe Jinhwan. Maaf, yang lain hanya slight.
Selamat menikmati
.
.
Apakah aku terlalu kasar padanya.., perlukah aku meminta maaf?
Chap 12
" hyung, kita pulang saja bagaimana?"
Yoongi menghentikan gerakan tangannya yang sedang memijit kepala pusingnya. Menoleh pada leader bermuka datar yang sibuk menscroll layar ponsel miliknya.
" kenapa begitu?"
" yea.., kulihat dari tadi kau tidak fokus. Dan Tae bilang Jimin juga demam..lagipula- ah! tapi tidak apa-apa lah.. kita lanjutkan saja kerja kita"
Pemuda pucat itu terdiam untuk beberapa detik. Menatapi kedua dongsaengnya bergantian yang masih tekun dengan pekerjaan mereka.
" eung.., bolehkah aku ijin sebentar?" suara itu akhirnya keluar dari bibir tipis semerah cherry milik Yoongi.
Namjoon dan Hoseok menoleh ke belakang, " mau pulang juga boleh, boleh banget malah hyung.." jawab mereka kompak, plus senyum murah.
" ..aku-"
" iya-iya..sana! Nanti Jimin baby-mu menangis"
Tak tahan dengan olokan mereka, Yoongi langsung saja pergi dan tak lupa sekalian membeli obat di apotek terdekat.
.
.
Cklek
" lho, Yoongi hyung?"
Jungkook yang tengah duduk di sofa langsung berdiri terkejut melihat kedatangan Yoongi. Ia masih trauma dengan perkelahian yang terjadi kemarin.
" oh, Jungkook.." Yoongi tampak memaksa senyumnya, Ia menahan hatinya. Sungguh.
" emm.., apakah- Jimin..?" ia tampak mengatur nafas.
Jungkook langsung mengangguk, tapi Ia masih diam tak berani melanjutkan kata-katanya. Takut akan terjadi percekcokan lagi.
Dan Yoongi sudah melesat menuju kamar Jimin- mantan kekasih-nya.
.
Yoongi mengintip melalui celah pintu yang tak tertutup rapat. Ia melihat kamar itu sepi, hanya ada Jimin yang sedang tidur.
Ia membuka pintu dengan hati-hati, melangkahkan kaki kecilnya untuk mendekat dan memutuskan untuk bersimpuh di samping ranjang Jimin alih-alih duduk di tepi ranjang. Hanya untuk menatap pemuda itu lekat.
Dalam hati Ia sangat mengutuk dirinya sendiri melihat Jimin sampai seperti ini. Bocah ini pasti ambruk juga jika terlalu banyak menenggak alkohol. Yoongi sudah terlalu hafal akan sosok Jimin.
Tangannya mulai menyentuh, tapi barusaja mencapai kulit tan itu Ia menarik segera tangannya, sungguh.. Jimin demam tinggi. Dan kenapa tidak ada yang menjaganya?
" ..hyunghh," dengan nafas yang berat Jimin mencoba mendapat perhatian namja pujaannya.
Sehingga suara serak mengalihkan Yoongi menatap pada Jimin, rupanya dia sudah terbangun. Dengan kikuk Yoongi tersenyum lalu mengambil tissue untuk mengelap keringat dingin di dahi Jimin.
" k-kau.., sudah kubilang jangan minum lagi kan? Eoh..?"
Jimin tersenyum atas nada marah Yoongi yang jelas-jelas gagal.
" yak! Jangan tersenyum bodoh, kau jadi demam begini juga"
" dengan ini kau baru mau menatapku, bicara padaku,..apakah harus kulakukan ini setiap hari?"
Yoongi bisu, Ia hanya memainkan jemarinya di balik tatapan Jimin.
" kau sudah makan? Minum obat.. atau perlu kupanggilkan dokter?"
Jimin menggeleng, " Tae dan Jin hyung sedang mencarikan obat sekaligus makanan untukku"
Yoongi mengangguk paham, diam-diam menyimpan kembali obat yang dibelinya dan akan melangkah keluar jika Jin tidak masuk ke kamar diikuti Taehyung di baliknya. Yoongi yang terkejut sontak berjengit mundur menjauhi pintu.
" Yoongi? Baguslah..tolong kau jaga Jimin sebentar dan aku akan membuatkan makanan untuknya"
" tapi… Jin hyung, Taehyu-"
" dan kau Taehyung.., bantu hyung memasak oke?"
" siap boss!"
Yoongi menyimpan kembali kalimatnya. Jin sudah terlanjur keluar lagi dengan merangkul Taehyung. Sialan dengan pasangan tinggi itu.
Jimin tersenyum dan tertawa dalam hati, Yoongi tidak akan bisa kemana-mana kan?
" hei, Jeon Jungkook!"
Jimin lantas menoleh pada Yoongi yang memanggil Jungkook dari bibir pintu kamarnya. Pemuda itu tampak melambai sambil tersenyum pada Jungkook.
" ya, hyung?" Jungkook datang dengan segera.
Yoongi terlihat berpikir, tapi akhirnya Ia memohon pada Jungkook untuk menemani Jimin. Ia ada urusan.
" hyung, kajima.." ujar Jimin memprotes.
Disaat Yoongi akan melayangkan alasannya, ponsel miliknya tiba-tiba saja bergetar. Ia menerima panggilan itu sambil melangkah keluar kamar.
" hyung!" cegah Jimin dengan suara seraknya.
Jimin menunduk kecewa di ranjangnya, bahkan Yoongi juga tak menatapnya atau sekedar meminta ijin dulu.
" Jimin hyung?"
" gwenchana Jungie, hyung akan tidur saja. Lanjutkan kegiatanmu.."
Jungkook langsung mengangguk saja, Ia tahu perasaan Jimin pasti campur aduk.
.
.
" ne, SiHyuk hyung.. ada apa?"
Yoongi mendesah malas mendengar ocehan produser sialannya itu. Tetap saja membicarakan tentang jadwal itulah apalah dan segala tetek bengeknya.
" kau.., em. Baiklah Yoongi-ya, tolong kau ikat bocah itu kalau sampai dia kabur ke pub. Oh lagi, kau harus-"
" neee.." dan Yoongi sudah tidak tahan untuk segera memutus panggilan itu.
" berhenti mengomeliku, dasar!"
.
.
" WELLCOME BA-eh? Kalian kenapa?"
Sambutan selamat datang dari para iKON hanya bertahan dua tiga detik tepat setelah pintu terbuka. Memperlihatkan kedatangan saudara mereka yang diluar dugaan.
Jinhwan tertidur di punggung Junhoe dan tampak kelelahan. Sementara itu Jiwon berjalan di sampingnya seolah meminta ketenangan, kelinci itu tampak sangat lelah dan juga kesal, mungkin?
" apakah Jinan hyung baik-baik saja?" tanya Hanbin.
" yah, kau tanya pada pria ini saja" ujar Jiwon malas, lantas merangkul kekasihnya pergi. Sementara itu Hanbin masih sesekali menoleh khawatir ke arah Jinhwan.
" Junhoe-ya, apa yang terjadi? Semalam kalian tidur dimana?" ungkap Yunhyeong kebingungan.
Junhoe hanya tersenyum sambil berlalu, " maaf, akan kuceritakan nanti saja hyung. Sekarang kami butuh istirahat..oh ya, kalian habiskan saja makanan itu. Kami sudah kenyang, dan.. terimakasih atas kejutannya"
Chanwoo menganga diikuti Yunhyeong dan Donghyuk. Mereka masih diam menatapi Junhoe sampai sosok itu menghilang di balik tembok.
" itu, kalimat terpanjang yang pernah appa ucapkan.." gumam Chanwoo.
Chanwoo mengidap father complex terhadap Junhoe, eh bukan. Sebenarnya Ia menganggap Jinhwan-lah sosok ibu baginya, tapi berhubung Junhoe adalah kekasih Jinhwan. Ya, dengan terpaksa Junhoe merangkap jadi ayahnya.
" baiklah!" keheningan itu terpecahkan oleh suara Chanwoo. Donghyuk dan Yunhyeong lantas mengalihkan perhatian mereka.
" apanya yang baiklah, Chanumon?"
" karena appa bilang untuk menghabiskan makanannya, ayo kita habiskan hyung!"
Sedetik kemudian mereka tertawa senang, mulai menyerbu makanan yang sudah mereka persiapkan sejak pagi.
" tunggu, apakah ada yang bilang makanan?" entah darimana sosok Bobby tiba-tiba muncul dan merusuh acara makan mereka. Membuat ketiga makhluk di sana mendesah kecewa.
.
.
Yoongi terpaksa kembali ke kamar Jimin karena ancaman dari PD mereka. Dan entah darimana orang itu tahu Jimin jatuh sakit, mendadak saja Ia menelpon Yoongi untuk menjaga Jimin. SiHyuk hyung bilang, Jimin hanya menuruti apa kata Yoongi.
Diam-diam Yoongi mendesah lega melihat Jimin sudah kembali tertidur. Ia mulai duduk di lantai samping ranjang Jimin dan mulai meracau lirih.
" gara-gara kau mabuk dan sakit begini, aku jadi diomeli SiHyuk hyung tahu!"
Yoongi mencebikkan bibirnya, Ia lalu menarik selimut Jimin agak tinggi hingga menutupi seluruh tubuh Jimin sebatas dagu.
" dasar Jimin jelek, menyebalkan"
Yoongi menjatuhkan kepalanya di sisi ranjang Jimin. Ia melakukannya dengan sangat pelan, takut mengganggu Jimin yang sedang tidur.
" hiks.., kenapa kau bisa sakit, eoh?! Kau menghukumku dengan cara murahan seperti ini?!" ujar Yoongi lirih, sepelan hembusan nafas Jimin.
Ia menangis dalam diam, sedih akan Jimin yang selalu membuatnya ragu.
.
.
" Jin hyung.."
Sosok itu menoleh untuk menemukan kekasihnya telah kembali dengan semangkuk bubur yang baru dibuatnya tadi. Ia mengernyit heran.
" kau tidak memberikannya pada Jimin?"
Taehyung menggeleng ringan, Ia menaruh mangkuk itu pada meja lalu menghambur memeluk Jin.
" eh? Ada apa denganmu sayang..hm?"
" Yoongi hyung tertidur di kamar Jimin, dan bocah itu juga masih tidur. Aku jadi tidak tega membangunkannya"
Astaga.., Taehyung-nya yang manis dan idiot.
" kalau begitu kita bangunkan mereka sekarang-"
" tidak!" Taehyung menahan tubuh Jin, semakin mengeratkan pelukkannya.
Ia menengadah, tersenyum pada Jin dengan mata berbinarnya. Tanpa sadar Jin menelan ludah, tenggorokannya kering mendadak.
" Jin hyung kau tahu? Tadi sebelumnya Yoongi hyung tertidur di lantai lhoo.."
Jin mengerjab, Ia terkejut. Bagaimana bisa Yoongi seceroboh itu tertidur di lantai?!
" tapi, setelah itu aku lihat Jimin menaikkan Yoongi hyung ke tempat tidurnya lalu memeluk Yoongi hyung. Dan mereka tidur lagi.."
Jin tersenyum dengan keantusiasan Taehyung berceloteh. Ia berpura-pura tertarik dan ikut memasang mimik ingin tahu.
" aaih.. itu yang kuharapkan sejak dulu. Jadi jangan bangunkan mereka, kumohon hyung.."
Lagi-lagi Jin tersihir pesona anak anjing macam Taehyung.
" tapi Tae, Jimin akan tambah sakit jika dia melewatkan waktu makannya. Jadi kita terpaksa harus membangunkan mereka..kalau tidak-"
Taehyung langsung melepas pelukan mereka dan menyambar mangkuk panas itu, tapi..
"ouch..!"
Jin dengan sigap menangkap mangkuk itu, Ia lalu meraih dan meniupi tangan memerah milik kekasihnya.
Jin dengan gemas mengigit bibir Taehyung, " dasar ceroboh"
Taehyung masih berkedip hingga langkah kaki Jin tak lagi terdengar. Beberapa detik kemudian,
" Jin hyung kau mencuri ciumanku! Dan kau masih berani mengataiku?!"
.
.
Jimin mengusap surai halus Yoongi. Ia tersenyum sangat lebar, sampai saat ini Yoongi masih berada di pelukannya. Tertidur dengan wajah yang begitu polos.
Ia kembali mengeratkan pelukkannya dan mengecupi puncak kepala kekasihnya. Yoongi-nya pasti kelelahan..
Tunggu, apa barusan Ia menyebut Yoongi sebagai kekasihnya? Begitukah? Biar saja, Jimin tak peduli.
" Jimin-ah?"
Jin berdiri di ambang pintu dengan senyuman. Ia mengacungkan jempolnya lalu menunjuk Yoongi melalui ekor matanya.
" Jimin, you got your jams"
Jimin tersenyum lagi, lebih lebar sebelum-
" tapi sekarang kau harus bangun, makan buburmu sampai habis dan jangan lupa bangunkan Yoongi sekalian"
APA?!
Jimin mencebik seolah protes pada Jin. Tapi jelas hal itu sia-sia karena Jin justru menusuk Yoongi dengan telunjuknya.
" agh, shirreoo.." erang Yoongi lirih. Tangannya melingkari leher Jimin dan mengusak hidungnya di sana.
Jimin tertawa tanpa suara dan sekaligus menerima pelototan mata dari Jin. Jimin menyerah, menghela nafas lalu mulai mengusap lembut pipi Yoongi.
" hyung bangunlah.."
" uunghh.., chuo" gumamnya masih belum sadar, semakin mendekat pada tubuh hangat di sampingnya.
" kita makan dulu, kau belum makan kan?"
Tak ada reaksi
Jimin menjilat bibir keringnya lalu mengecup lama bibir Yoongi. Sepersekian detik karena merasa ada gangguan, sosok itu bergerak gusar dan melenguh.
" Yoongi hyung?"
Yoongi langsung terduduk saat mengenali suara Jimin. Ia terkejut bukan main, bagaimana bisa dirinya ada di atas ranjang bersama Jimin? Dan apakah Ia berliur saat tidur tadi, Ia merasa bibirnya basah?
Ia menatap Jimin dan Jin bergantian, Ia masih bingung dan linglung.
" Yoongi hyung?" Jimin mulai khawatir karena Yoongi tidak merespon panggilannya. Ia mulai menyentuh bahu namja cantik itu, namun Yoongi dengan halus melepas tangan Jimin darinya.
" i-iya, ada apa?" kikuk Yoongi.
Ia menunduk, tidak berani menatap wajah kecewa Jimin. Ia sempat melihat Jimin menggigit pipi bagian dalamnya menahan amarah.
" em, Yoongi-ya. Kau suapi Jimin dan berikan obat ini padanya, pastikan dia menghabiskannya" menyerahkan mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap panas.
" ne, Jin hyung. Gomawoyo"
Setelah kepergian Jin, Yoongi mulai menyendok dan meniup bubur itu.
Setelah lama hingga mungkin buburnya mendingin, Jimin tidak juga menoleh pada Yoongi.
" Jimin-ah? Igo moko..,ne? jebal"
Jimin menahan nafasnya lalu menoleh pada Yoongi, namja manis itu memasang senyumnya. Memohon pada Jimin agar mau memakan sarapannya, meski jam menunjuk pukul 11 siang.
Jimin mulai menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum ringan, hal itu disambut Yoongi dengan senyuman yang lebih hangat dari sebelumnya.
Jimin membuka mulutnya dan Yoongi dengan senang menyuapkan bubur itu pada Jimin. Hal itu terus berulang diselingi tawa mereka berdua, sampai bubur di mangkuk itu habis. Tanpa lupa Yoongi juga meminumkan oat pada Jimin.
Tanpa mereka ketahui, kelima member lainnya sedang mengintip di balik pintu. Mereka tersenyum lebar, tak terkecuali Jungkook.
" akhirnya mereka mulai baikan, setidaknya tidak ada ketegangan di sini"
.
.
" tidurlah lagi, aku akan ke dapur sebentar"
Jimin mengangguk, dan Yoongi berlalu keluar dengan sebuah senyuman untuk Jimin.
Selepas Yoongi menutup pintu, senyuman Jimin luntur. Hanya ada wajah kosong dan mata yang mulai mengembun.
" kenapa harus seperti ini? Seolah tidak terjadi apapun diantara kita hyung? Aku tahu kau sedang tidak tertawa kan?"
.
Yoongi menutup pintu kamar mandi dan menyandarkan punggungnya di sana. Merasakan udara dingin mulai menyentuh kulit hingga ke tulangnya.
Ia terisak, kenapa Ia begitu lemah karena Jimin. Apakah tidak bisa, dirinya benar-benar lepas dari Jimin?
" hiks.."
Ia berusaha membuat pemikiran dimana dirinya sungguh pantas terlepas dari Jimin. Hari dimana Ia pergi meninggalkan dorm..
Flashback
Jimin mendudukkan dirinya kelelahan. Ia bersama Taehyung masih berkeliaran di jalan untuk mencari Yoongi.
Jimin tidak bodoh untuk mengetahui alasan konyol kekasihnya kembali ke studio. Namja itu, dia berbohong, buktinya studio telah kosong dan staff yang berjaga sudah mengakuinya.
" Tae.., kemana dia pergi?"
Taehyung menenggak air mineralnya, lalu membuang botolnya ke tempat sampah. Ia mengedikkan bahu, " dia bilang ke studio.."
" tapi dia tak ada di sana!"
" aku tidak tahu, Park! Kau itu kekasihnya seharusnya tahu dia ada dimana, bukannya bertanya padaku!"
Jimin bungkam mendengar teriakan Taehyung. Mungkin Taehyung benar, ya..Taehyung memang benar.
" maaf Tae, aku emosi"
Taehyung membuang nafas lelah, " hari sudah sangat gelap, dan angin bertiup kencang Jimin-ah.. ayo kita pulang?"
" apa kau gila? Aku bahkan belum menemukan Yoongi hyung.."
" dari tadi kita hanya mencarinya di studio, gereja, dan apalagi itu. Semuanya sia-sia Jimin! Yoongi hyung tidak di sana!"
" arghh! Aku tidak tahu harus mencarinya di mana lagi, semua tempat favoritnya sudah kita datangi Tae!"
Taehyung mendudukkan dirinya di samping Jimin. Ia menatap sahabatnya lekat, mencari tahu bagaimana wajah seorang Park Jimin saat ini.
" kalau aku boleh tahu, kenapa kau tadi masuk dengan Jungkook? Menghentakkan kaki segala"
" aku sebal denganmu, kenapa kau harus mengoloki aku dan Yoongi hyung sih? Aku kan malu Tae.." Jimin mengusap wajah dengan kasar.
" tapi kenapa Jungkook? Bukan Yoongi hyung?"
"…"
" yah, Park?!"
" aku ingin merapikan kamarku dulu sebelum kami..yah kau tahu maksudku, jadi aku meninggalkan Yoongi hyung di luar. Dan kuharap saat Ia masuk nanti semuanya sudah rapi sebagai kejutan. Kupikir dia tidak akan semarah ini.."
Taehyung menepuk dahinya keras, " demi alien Jimin, kau itu bodoh atau apa?"
Jimin menyipitkan matanya tidak suka dengan cara Taehyung menyebutnya.
" kau pikir kekasih mana yang baik-baik saja saat melihat kekasihnya justru menggandeng tangan orang lain di depan mata kepala mereka sendiri. Apalagi kau kan sempat suka dengan Jungkook, dan Yoongi hyung tahu itu!"
Jimin mengacak surainya kasar, " ahss! Dia pasti marah besar, aigoo Tae aku harus bagaimana?!"
" mana aku tahu!"
Sempat terdiam beberapa detik, Taehyung mendapat pesan dari Jin. Mereka harus pulang sekarang, hujan akan turun.
" Jimin, kita harus pulang.."
" aku tidak akan pulang"
" tapi Jin Hyung-"
" kau pulanglah,"
Taehyung menghela nafasnya, Jimin memang keras kepala dan tidak tahu keadaan. Ia pun dengan terpaksa berdiri dan meninggalkan Jimin sendirian.
.
.
Yoongi mendudukkan diri di bangku taman. Ia tidak tahu ini di daerah mana, yang Ia tahu.. Ia berada jauh dari Park Jimin.
Menengadahkan kepalanya sambil membuang nafas, berharap sesak di hatinya ikut terbuang. Matanya menatap langit mendung.. tanpa bintang.
Sama seperti dirinya tanpa Jimin..
Jrashh..!
Hujan turun membasuh tubuhnya, sekaligus menyembunyikan aliran air matanya. Ia hanya bisa duduk teridam, mengutuk betapa bodoh dirinya oleh Jimin.
Dengan mudahnya dibohongi, mempercayai dan memaafkan seseorang yang jelas-jelas tidak mencintaimu.
Ia mulai terisak, menyenderkan bahunya pada pohon disampingnya. Menunduk dalam, hingga..
Pluk
Yoongi masih menunduk, merasakan selembar kain menutupi puncak kepalanya.
.
.
Jimin menggeram, kemana lagi Ia akan melangkah mencari Yoongi. Ia putus asa, sungguh. Kekasihnya itu bisa saja nekat, dalam emosinya yang seburuk sekarang ini.
Hingga Ia akhirnya terduduk dan berteriak keras, tapi toh Yoongi tak mendengarnya. Hanya ada air hujan dan dedaunan pohon yang menyapanya.
" Yoongiya maafkan akuu!"
.
.
Yoongi kembali membuka matanya saat hujan mereda. Langit cerah, dan burung berkicauan.. pagi hari. Ia bangkit perlahan dan melihat sesuatu terjatuh dari kepalanya.
Sebuah handuk bermotif kulit sapi, hitam putih. Dengan jahitan ' JJ'
Ia mengulurkan tangannya dan mengambil benda itu.
Bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk.
Flashback end
Ia meremas dadanya yang berdenyut sakit, kemudian melangkah keluar. Ia tertahan saat menemukan Jungkook sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
" aku ingin berbicara padamu hyung.."
Yoongi menarik senyumnya, Ia mengikuti Jungkook yang telah duduk di pinggir ranjangnya.
" apa yang ingin kau katakan?"
Jungkook menarik nafas, memberanikan diri menatap Yoongi yang menunggu kalimatnya.
" aku ingin, hyung memaafkanku dan Jimin. Sungguh, kami tidak ada hubungan apapun selain kakak dan adik"
Yoongi mengangguk dengan senyuman, " aku tahu itu"
" kalau begitu jangan buat dia bersedih, hyung. Apa yang membuatmu begitu menjaga jarak dengan Jimin hyung?"
Yoongi menggigit bibir bawahnya, menatap Jungkook dan berucap sangat pelan.
" aku tidak ingin terluka Jungkook-ah, walaupun aku tahu kalian tidak ada hubungan apapun seperti yang barusaja kau katakan"
" tapi kenapa hyung?" Jungkook menuntut.
" ak-aku merasa bersedih tiap aku melihat Jimin denganmu"
" hanya itu?"
Cukup sudah, Yoongi terlalu jujur tadi. Mungkin memakai sedikit gengsinya tidak apa kan?
" bukan begitu, aku rasa.. aku tidak mencintai Jimin. Seperti yang kau alami, aku hanya menjadi kakaknya.. tak lebih" Ia kembali berbohong.
Jungkook mengernyit tidak paham, " hyung kau-"
Brak!
Jungkook dan Yoongi menoleh pada pintu yang tertutup lumayan keras itu.
Huft, mengagetkan saja..
" hyung kau berbohong kan?" tebak Jungkook, melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
" aku lebih nyaman seperti ini, tolonglah..jangan bertanya hal itu lagi"
Jungkook mendunduk, " apa hyung marah padaku? Semua karena aku, bukan?"
Yoongi menggeleng, lantas Ia memeluk Jungkook erat.
" ini bukan salahmu, memang sejak awal harusnya seperti ini. Jangan berfikir seperti itu Jungkook-ah..semuanya karena aku. Semua salahku"
" aku tidak mengerti hyung.."
" kau tidak perlu mengerti, "
.
.
" Yoongi-ya!" panggil Jin panik, Ia masuk begitu saja ke kamarnya dan mengguncang Yoongi. Pria itu jatuh tertidur setelah Jungkook keluar dari kamarnya tadi.
" iya Jin hyung.." erangnya malas.
" kau tahu kemana Jimin?!"
Yoongi mengernyitkan dahi, bukannya Jimin sakit? Dia pasti ada di kamarnya.
" aku sudah mengelilingi dorm Yoongi-ya, tapi dia tidak ada.."
Ia langsung terduduk, membuka matanya lebar-lebar dan meraup kesadaran sebanyak mungkin.
" a-apa hyung?"
" Jimin tidak ada di dorm! Aduh ini sudah pukul 7 malam.., kalau dia sehat saja sih tidak masalah. Tapi sekarang keadaannya berbalik"
Yoongi mengacak surainya kasar, Ia bangkit dan menyambar jaketnya. Berlari keluar tanpa perduli dengan Jin maupun saudaranya yang memanggilnya.
" Yoongi hyung!"
Ia berhenti di ambang pintu, menanti perkataan yang mungkin akan diucapkan Taehyung usai memanggilnya.
" tolong bawa Jimin kembali, pastikan dia baik-baik saja.."
Yoongi mengepalkan tangan, lalu mengangguk yakin. Sebelum dirinya melesat keluar.
" kuharap Jimin tidak bertindak macam-macam, bocah itu terlalu gegabah"
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : GithaAC, zewail licht, Hantu Just In, Laily591, Park Rinhyun-Uchiha, syub0393, mysuga, namusaurus, Dessy574, kyuminmi, minyoonlovers, ranrann, XiayuweLiu, Reny246.
hoi, para reader. dewa author telah comeback, berbahagialah kalian MINYOON CRUSH. setelah chapter ini diupdate, kalian harus memperbanyak review kalian untuk mendapatklan NC no cut dari dewa author. karena jika dewa author bad mood, bisa di cut NC yang kalian nanti selama ini#ketawa ala j-hope, lari ngibrit. at last, happy read and LET'S GET DUMB.
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
