.
Fight With Me
.
Pengarang: Kristen Proby
.
.
.
Park Chanyeol
Kim (Byun) Baekhyun
.
.
Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.
.
Please read a/n
.
Hope u will enjoy this remake^^
Sorry for typos
Happy reading!
.
.
Previous chapter:
"Terima kasih untuk menolak Playboy, Baekhyunie," kata Chanyeol lembut dan tatapanku terpaku ke matanya seksi itu. Dia sedang memotong kentang baby yang berwarna merah, dan wajahnya kelihatan serius.
"Aku sudah bilang bahwa aku akan melakukannya."
"Aku tahu." Dia menghela napas dan menggelengkan kepalanya, seolah-olah membebaskan diri dari sebuah suasana hati yang tidak nyaman, kemudian memberiku sebuah seringai yang seksi.
"Bagaimana kau menginginkan steakmu, sayang?"
"Secepat mungkin sehingga aku bisa membuatmu telanjang."
Chanyeol tertawa.
"Aku bisa melakukannya."
.
.
please read a/n and vote
.
.
Chanyeol memukul pantatku, membuatku melompat. "Memang apa yang kukatakan?"
"Berhentilah membicarakan tentang pria seksi," Dia menggeram dan aku tertawa geli. Kami baru saja meninggalkan gedung bioskop setelah menyaksikan film terbaru Sehun,Never Surenderyang dibintangi oleh Hugh Jackman. Kami berjalan bersama di trotoar menuju ke arah bar yang ada di dekat gedung bioskop itu.
"Apa masalahnya? Jika kau berkataScarlett Johanson adalah wanita yang sangat seksi, aku pasti akan setuju denganmu."
Aku menyelipkan tanganku di bawah lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya saat kami berjalan. Luhan dan Sehun berjalan bergandengan tangan di depan kami.
"Lagi pula, cuma kau pria seksi yang aku inginkan Yeol."
"Wow aku sangat senang mendengarnya." Chanyeol menggerutu dengan nada datar, membuatku tertawa lagi.
"Apakah Ibu mertuamu sudah mematikan handphonenya Luhanie?" Aku memanggil Luhan. Luhan sudah sepuluh kali mengirimkan sms pada wanita malang itu.
"Belum, dasar kau cewek sok pintar. Dia baru saja mengirimkan foto lucu Ziyu dan Kyungsoo yang sedang tertidur di sofa." Luhan menunjukkan foto tersebut kepadaku dan Chanyeol, dan kami berdua mengagumi foto yang manis itu dengan berdecak ohh dan ahh.
"Aku ingin minum bir." Kata Sehun. "Chanyeol bolehkan aku mentraktirmu minum bir?"
"Tentu saja, terima kasih, aku juga menginginkannya."
"Kalian berdua sadar bahwa kalian juga suka melihat foto bayi itu," Aku tersenyum sinis.
"Ya, tapi kami adalah seorang pria Baekhyun, dan pria hanya menyimpan perasaannya untuk diri mereka sendiri." Sehun mengendus leher Luhan, akupun membuat suara seperti ingin muntah di tenggorokanku.
"Simpan tanganmu untuk dirimu sendiri bung, dan kita semua akan baik-baik saja. Ya Tuhan, kenapa aku mau pergi keluar denganmu?"
"Karena kau berpikir bahwa aku keren, tampan dan pintar."
"Dan modis," Aku meledeknya dan kami semua tertawa.
Aku memang sangat senang bisa keluar bersama mereka.
Oasis, nama bar yang kami datangi malam ini, cukup ramai, dengan cahaya yang remang-remang dan dipenuhi oleh alunan musik rock. Pemain band saat ini sedang memainkan laguMaroon5, mereka cukup bagus saat memainkannya, itu merupakan pertanda yang bagus, karena aku dan Luhan adalah penggemar berat Marron5. Kami segera menemukan meja dan tempat duduk kosong, jadi kami tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan tempat duduk.
"Ini menyenangkan," Cetusku sambil memandang sekeliling bar yang ramai. Lantai dansa cukup luas dan di penuhi orang-orang yang menari dengan berbagai macam gaya. Terdapat dua buah meja billyard yang terletak berlawanan dari sisi panggung, keduanya sedang digunakan untuk saat ini. Bar ini sendiri berbentuk memanjang dan cukup besar, dengan tiga orang bartender yang berjalan kesana kemari untuk melayani pesanan.
Seorang pelayan wanita mengenakan kemeja putih ketat dan rok pendek berwarna hitam dengan celemek yang juga berwarna hitam, berjalan mendekati meja kami untuk menanyakan apa yang ingin kami pesan.
"Hey tuan dan nyonya, apa yang bisa aku berikan untukmu?"
Sehun memesan bir untuk dirinya dan Chanyeol, sementara untukku dan Luhan dia memesan margarita. Dia tahu bahwa kami berdua menyukai margarita.
"Musiknya sangat keren! Berikan aku dan Luhan beberapa gelas minuman lagi dan aku pasti akan berjoget tidak karuan."
Aku tersenyum malu pada Chanyeol.
"Malam ini kau terlihat sangat cantik dengan gaun merah itu," Chanyeol berbisik di telingaku.
Kami selalu berdandan rapi setiap kami pergi ke malam pemutaran perdana film Sehun, itu merupakan sebuah tradisi.
Aku mengenakan gaun berwarna merah dengan model halter dari bahanchiffon yang jatuh melayang hingga ke bagian lutut. Bagian belakangnya yang terbuka mengekspos tulang bahuku, namun semua tepat pada tempatnya, ini sangat modis. Rambutku kuangkat keatas menjadi sebuah sanggul yang berkepang, dan aku memilih untuk melengkapinya dengan riasan yang cukup dramatis untuk malam ini. Aku juga mengenakanstiletto hitam Louboutin milikku.
Gaun ini membuatku terlihat menawan.
Luhan juga terlihat menawan malam ini dengan gaun hitam berlengan satu, yang juga berbahan chiffon, yang melambai hingga bagian lututnya. Dengan aksesoris dari mutiara dan sepatuLouboutinmerah.
Sehun si bintang film terlihat tampan dengan celana hitam dan kemeja berkancing warna putih serta jaket hitam, Dan Chanyeol terlihat sangat menggiurkan dalam balutan celana hitam serta kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai ke siku.
Aku menelusuri tatonya dengan jariku dan tersenyum padanya melalui bulu mataku. "Kau juga terlihat tampan."
Chanyeol mendekat untuk tersenyum dan berbisik di telingaku. "Aku tidak sabar untuk melepas gaunmu dan bercinta denganmu."
Pahaku menegang saat mendengar ucapannya dan aku mencondongkan badanku kearahnya untuk berbisik pada dirinya. "Tidak perlu melepasnyaYeol, saat ini aku tidak mengenakan celana dalam."
Aku kembali ke posisi dudukku semula dan menyeringai saat Chanyeol memejamkan matanya dengan erat dan berbisik, "Sialan."
Aku tertawa, waitress datang untuk mengantarkan pesanan kami dan kami tenggelam dalam diskusi mengenai film yang baru saja kami tonton.
"Baiklah, jadi kita sepakat bahwa Hugh Jackman sangat seksi," Chanyeol menyipitkan matanya saat menatapku, aku memberikan senyum polos pada dirinya dan menyesap minumanku. "Tapi, apa pendapat kalian mengenai film-nya?"
"Aksi, seks, darah, ledakan... film yang fantastik." Chanyeol bersulang dengan Sehun kemudian meminum bir-nya, kami pun tertawa.
"Aku juga menyukainya." Aku mengangguk. "Aku mulai terbiasa dengan darah, tapi aku tidak yakin bagian seksnya tadi bisa di bilang panas, karena tidak sepanas Hugh."
Chanyeol menggelitik tulang igaku, membuatku tertawa. "Ya ampun, rasanya begitu mudah untuk meledekmu!"
"Aku pikir filmnya murni merupakan sebuah produksi dari orang yang jenius," Luhan menambahkan. "Sudah jelas pria yang memproduksi film tersebut adalah orang yang pintar, seksi, dan sangat tampan."
"Well, kau tak perlu mengucapkannya, baby." Sehun mengecup leher Luhan dan aku memutar bola mataku."
"Rasanya aku ingin muntah."
"Kau bilang aku tidak seksi?" Sehun bertanya padaku sambil menaikkan alis matanya. "kalau aku tak salah ingat, saat pertama kali kita bertemu denganku, pendapatmu sungguh berbeda."
"Well, setelah tanganmu menggerayangi sahabatku dan hal lain yang kau lakukan padanya, itu semua membuatku ingin muntah, kau sudah tidak lagi terlihat seksi di mataku. Lagipula kau dulu adalah seorang bintang film. Sekarang kau cuma Sehun, kakak iparku yang manis."
"Itu adalah hal termanis yang pernah kau katakan padaku." Sehun menyeka airmata imajinasi dari sudut matanya dan aku melemparkan es batu ke arahnya.
Pelayan datang sekali lagi untuk menggantarkan minuman dan mengganti minuman kami yang memang sudah habis dan Sehun mengganti topik pembicaraan.
"Jadi, aku dengar kau memiliki rumah pantai yang indah, Chanyeol."
"Benar." Chanyeol menautkan jari tangan kami kemudian mengecup punggung tanganku, dan menempatkan tangan kami di atas meja. "Baekhyunie dan aku akan sangat senang jika kalian bertiga mau bergabung bersama kami untuk menghabiskan akhir pekan bulan depan." Aku tersenyum kearahnya, merasa berbahagia dan dia mencium dahiku.
"Aku akan senang sekali! Aku suka pantai." Luhan mengangguk dengan antusias. "Aku akan membawa kameraku dan memotret kalian."
"Bagus," Aku tesenyum lebar pada Luhan. "Mungkin kami juga harus membuat janji denganmu untuk melakukan pemotretan di studio."
Mata Luhan melebar, senyuman yang dipaksakan mengembang di wajahnya. "Kapanpun kau mau, sweetie."
"Uh," Dahi Sehun berkerut memandangku. "Kau yakin itu ide yang bagus?"
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Chanyeol, aku terkekeh.
"Sudahkah kau menceritakan pada Chanyeol mengenai foto seperti apa yang aku ambil, Baekhyun?" Luhan bertanya lalu menyesap minumannya, tanpa memberikan sedikitpun indikasi bahwa kami baru saja menghabiskan waktu di studio, awal minggu ini.
Aku menggelengkan kepalaku dan mengedipkan mata pada Luhan.
"Jadi?" Chanyeol bertanya padaku.
"Bolehkah aku menunjukkan sesuatu padanya?" Aku meminta persetujuan Luhan.
"Tentu." Luhan mengangkat bahu dan Sehun tersenyum lebar saat aku mengeluarkan Iphone-ku, lalu mencari di galeri foto, menggeser foto yang ada di layar hingga aku menemukan sebuah foto kanvas yang aku ambil dari kanvas yang tergantung di dinding studio, kanvas yang berisi foto pasangan telanjang yang sedang berpose dengan berbagai posisi sensual, dan menunjukannya pada Chanyeol.
Mata Chanyeol terbelalak, ibu jarinya sibuk menggeser gambar yang ada di layar melihat foto-foto yang ada disana, lalu kembali menggeser gambar yang ada di layar sekali lagi, untuk melihat semuanya sekali lagi, dan mengembalikan handphoneku kepadaku.
Chanyeol menenggak birnya dalam satu tegukkan panjang, tidak melihat ke arah salah satupun dari kami. Kami memandangnya, tersenyum, dan akhirnya Chanyeol menatap Luhan dan berkata, "Jika saja aku tidak begitu mencintai kekasihku, dan menghormati suamimu seperti yang sekarang ini aku lakukan, aku pasti sudah bercinta denganmu disini, di atas meja ini. Foto-foto itu benar-benar panas."
Tawa kami meledak, Sehun dan Chanyeol melakukan toss dengan tangan mereka dan wajah Luhan sedikit merona.
"Bagaimanapun juga," Chanyeol melanjutkan, "Aku pikir aku tidak akan merasa nyaman dengan siapapun yang akan mengambil fotoku saat aku sedang bercinta, terlebih jika orang tersebut adalah kau Luhan. Jadi kami akan tetap melakukannya berdua saja di dalam kamar tidur, terima kasih."
"Sebenarnya," Aku menambahkan, "Tidak hanya di kamar tidur..."
"Eww," Luhan mengerutkan hidungnya dan aku tersenyum sombong padanya.
"Tidak begitu bagus dilihat dari sisi lain, benar begitu teman? Baiklah, tidak ada foto-foto panas. Tetapi aku masih bisa melakukan pemotretan biasa kapan-kapan."
"Tentu saja, Kapan?" Luhan tersenyum dan mengedipkan mata padaku, menikmati apa yang sedang kami lakukan untuk menggoda Chanyeol, Kemudian Luhan melihat kearah Chanyeol dan dahinya berkerut. Aku melihat mata itu menjadi dingin.
"Ada apa?"
"Kenapa?"
Aku meremas tangannya, mendekatinya dan berbisik padanya. "Sebentar lagi adalah hari ulang tahunmu,Yeol."
"Apa minggu depan bisa?" Chanyeol bertanya pada Luhan, membuat kami semua tertawa lagi, dan membuatku lega karena dia pasti akan menyukai hadiah ulang tahunnya.
Tiba-tiba, pemain band memainkan lagu seksi lainnya dari Maroon5. Aku dan Luhan saling bertukar pandang dan tersenyum.
"Mau berdansa?" Tanyaku.
"Tentu," Respon Luhan.
Para pria mempersilahkan kami menuju ke lantai dansa, aku menggandeng tangan Luhan saat kami berjalan menuju lantai dansa. Kami bergabung dalam lautan manusia yang ada disana dan mulai bergoyang. Tubuh Luhan benar-benar mengagumkan, dengan lekukan tubuh yang indah serta keanggunan alami, dia bergoyang dengan mudah walaupun dengan stiletto yang hak-nya tinggi. Sedangkan aku, aku bersyukur karena sudah belajar bela diri cukup lama, sehingga aku memiliki keseimbangan tubuh yang bagus, dan ritme yang Natural, aku mengayunkan pinggul dan lenganku mengikuti irama lagu. Aku memejamkan mataku, berputar dalam sebuah lingkaran kecil, tenggelam dalam alunan musik.
Saat aku membuka mataku, para pria sudah bergabung dengan kami, Sehun membungkus tubuh Luhan dalam pelukannya dan bergerak bersamanya, keduanya berpostur tinggi, seksi, dan berambut pirang. Tiba-tiba Chanyeol mendekap tubuhku dari belakang, tangannya berada di pinggangku, dan wajahnya berada di leherku.
"Kau sangat menggoda baby," Chanyeol menggeram di telingaku.
Aku tersenyum padanya dan kami berdansa hingga lagu berakhir, kemudian berdansa lagi di dua lagu berikutnya, tubuhnya menekan erat tubuhku, mengirimkan bara api ke sekujur tubuhku.
Sampai akhirnya pemain band memainkan musik slow dari tembang milik Matchbox Twenty, Chanyeol melingkarkan lengannya di tubuhku, mengayun tubuhnya kedepan dan kebelakang, tangannya berada di pinggangku. Chanyeol mengecup dahiku, kusandarkan kepalaku di dadanya, menikmati alunan musik yang ada dan berada dalam dekapan kekasihku yang kekar.
Saat lagu berakhir, aku dan Luhan memutuskan untuk beristirahat sejenak, dan para pria memutuskan untuk bermain billyard. Mereka mengantar kami kembali ke meja kami, dan pergi untuk menggunakan meja billyard yang sudah tidak digunakan lagi.
"Sialan," Aku menggerutu saat aku menyesap minumanku dan melihat Chanyeol membungkuk kearah meja untuk menyodok bola.
Pantatnya terlihat begitu menawan memenuhi celananya.
"Kekasih kita memang seksi." Komentar Luhan dengan senyum yang lebar.
"Sangat seksi." Aku mengangguk dan kami berdua tertawa cekikikan. "Aku sangat senang kita melakukan ini. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga. Setahun yang lalu tidak ada orang yang menyangka bahwa sekarang hidup kita bisa berubah seperti ini?"
"Betulkan? Aku tahu semua yang terjadi adalah hal yang baik, dan aku bersyukur akan semua itu, tapi aku tetap saja merindukanmu."
"Well, kita harus berusaha agar kita bisa lebih sering bertemu." Luhan memeriksa handphonenya dan aku tersenyum kepadanya.
"Kenapa tidak kau menelpon Ibu mertuamu?" Tanyaku.
"Aku yakin mereka baik-baik saja," Jawab Luhan, dan kemudian handphonenya berbunyi. "Oh Ibu mengirimkan pesan padaku. Yup, mereka baik-baik saja." Luhan tersenyum lebar.
Aku memandang sekilas kearah meja bilyard dan menemukan mata Chanyeol sedang memperhatikanku. Aku menyeringai padanya dan sisi ujung mulutnya naik keatas untuk membentuk senyuman kecil, aku merasakan seperti ada sebuah serangan yang langsung menuju ke pusat tubuhku.
Ya Tuhan, dia mampu membuatku merasa seperti ini.
"Halo Cantik."
Aku memutar kepalaku dan menemukan DJ, seorang pria yang kukencani dua tahun yang lalu, berdiri di ujung meja kami.
Tadinya aku sangat terpesona pada Chanyeol, sehingga aku bahkan tidak memperhatikan bahwa DJ ada di sini.
"Hai DJ." Responku malas.
"Luhanie," DJ mengedipkan matanya pada Luhan dan Luhan membalas kedipannya dengan pandangan yang menusuk.
Keadaan antara aku dan DJ memang tidak berjalan baik.
"Jadi bagaimana kabarmu, Baekhyun?" Tanya DJ, sebuah seringai sombong menghiasi wajahnya yang "terlalu tampan. DJ memang tampan, tinggi, dengan rambut berwarna gelap. Dia bekerja di gedung olahraga di mana aku dulu biasa berolah raga, dan dia dulu merupakan pelatihku untuk beberapa saat.
"Aku baik-baik saja DJ."
"Senang mendengarnya, dan aku juga senang melihat kau tetap menjaga tubuhmu yang manis itu." Dia mengedipkan matanya padaku, membuat perutku mual. Dia seorang bajingan. Aku ingin dia segera pergi dan berdoa semoga saja Chanyeol terlalu sibuk dengan permainannya sehingga dia tidak menyadari kehadiran DJ.
"Terima kasih sudah mampir, tapi aku dan Luhan sedang menikmati minuman kami, DJ. Semoga malammu menyenangkan."
"Apa kau tidak keberatan jika aku bergabung?"
Ya Tuhan, tidak pernah ada orang yang mengatakan bahwa dia adalah seorang pria yang pintar.
"Ya, kami keberatan. Selamat tinggal DJ."
"Ayolah, jangan seperti itu." Dia menjalankan jari tangannya di pipiku, aku memegang pergelangan tangannya dan menyingkirkan tangannya dari wajahku.
"Jangan sentuh aku. Pergilah."
"Atau apa Baekhyun?"
"Atau aku terpaksa akan menghajarmu." Chanyeol berkata dengan tenang, dia sekarang sudah berdiri di belakang DJ.
Sialan.
Aku melihat Sehun dan Chanyeol, mereka berdua sedang berdiri di belakang DJ, Sehun menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya, sedangkan Chanyeol menatap bagian belakang kepala DJ dengan penuh kemarahan, mata tajam dan menyipit.
DJ membalikkan tubuhnya dan memberikan senyum sombongnya kepada Chanyeol, senyuman yang dia pikir mempesona dan mengedipkan matanya pada Chanyeol. "Hey, Bung, aku bisa menangani ini. Aku pernah bercinta dengannya beberapa tahun yang lalu, dan jika aku memainkan kartuku dengan benar malam ini, aku mungkin bisa bercinta dengannya lagi malam ini."
Aku mendengar Luhan terkesiap, dan kemudian semuanya seperti terjadi dalam gerakan lambat. Gigi Chanyeol bergemeretak dan menarik baju DJ kemudian secara fisik menyeret DJ menjauh dari meja kami, melewati meja bar dan bergerak menuju ke pintu keluar, Sehun mengikuti mereka dari belakang.
Untuk sesaat Natali dan aku bertukar pandang, lalu kami kemudian memutuskan untuk mengikuti mereka keluar.
Chanyeol mendorong tubuh DJ ke dinding bangunan, wajahnya berjarak tidak lebih dari satu inci dari wajah DJ, dan terlihat penuh amarah.
"Siapa yang mengajarkanmu sopan santun, bajingan?"
"Sialan kau," DJ mengatakan itu sambil menendang kaki Chanyeol. Chanyeol mengerang namun tidak melepaskan pegangannya pada baju DJ.
DJ memandangku melalui bahu Chanyeol dan tersenyum angkuh padaku, "Hey baby, apa kau merindukan ini?" Dia memegang kejantanannya melalui celana jeansnya dan tertawa pada leluconnya sendiri.
"Kau tidak sadar dengan siapa kau mencari masalah," Jawabku.
Chanyeol tidak bergerak sedikitpun. Matanya menatap DJ dengan pandangan tajam, nafasnya terengah, namun dia tetap terkontrol, dan tentu saja itu tidak menyakiti DJ, malah memberikan DJ kesempatan untuk membuat gerakan tubuh yang tidak senonoh kepadaku.
DJ memandang Chanyeol dari atas hingga kebawah lalu kembali tersenyum angkuh.
"Apa yang kau ingin aku lakukan Baekhyunie?" Chanyeol bertanya padaku dengan lembut.
DJ menyeringai, "Apa kau harus minta persetujuan dari pacarmu dulu, banci?"
"Hajar dia, Chanyeol."
"Aku pikir kau takkan memintanya baby."
Chanyeol melangkah mundur, melepaskan DJ, lalu berbalik membelakangi DJ, dan aku tahu apa strateginya, yaitu membiarkan DJ memukul lebih dulu.
Chanyeol tidak kecewa.
DJ menarik bahu Chanyeol, memutar badannya agar bisa berhadapan dengannya, dan memukulnya tepat di bagian rahangnya. Darah menetes dari ujung bibir Chanyeol.
"Bagaimana menurutmu pukulanku tadi, brengsek?" DJ tersenyum congkak.
"Aku rasa kau memiliki pukulan hook kanan yang sangat menyedihkan, dasar bodoh."
Chanyeol meninju DJ dua kali, satu pukulan di hidung, dan satu lagi di perut, membuatnya jatuh tersungkur ke tanah. Namun dasar pria bodoh, DJ kembali bangkit untuk mengayunkan pukulan. Chanyeol mengelak dengan mudah dan membalasnya dengan hook kanan tepat ke rahang DJ, lalu mencengkram bahu DJ dan menarik tubuh DJ ke bawah dan memberikan sebuah tendangan dengan menggunakan lututnya, tepat di bagian perut DJ, yang mengakibatkan tubuh DJ kembali menyentuh tanah.
"Tetap di tempatmu," Chanyeol mengeram.
"Sialan kau!" DJ kembali berdiri, kali ini dia lebih gemetar, tangannya mengosok perutnya. Dia kembali menyerang Chanyeol lagi, mencoba menyergap, namun Chanyeol membungkukkan badannya dan menangkap DJ di sekitar batang tubuhnya, lalu mengangkatnya, dan dengan otot bahunya yang kuat Chanyeol membenturkan tubuh DJ ke tembok, dan DJ kembali jatuh ke tahan.
Ya ampun! Aku tahu Chanyeol adalah pria yang kuat, tetapi melihatnya bertarung seperti ini, sangat luar biasa. Dia bukan hanya bisa melukai seseorang, namun dia sanggup untuk membunuh seseorang.
"Jika kau tahu apa yang terbaik untukmu, kau pasti akan tetap berada di tempatmu sekarang, bajingan."
DJ bernafas dengan susah payah kemudian terbatuk-batuk, meringis kesakitan. Aku tahu tulang iganya pasti memar, atau mungkin patah. DJ bangkit berdiri di atas lututnya, dan untuk pertama kalinya Sehun membuka suara.
"Apa kau punya kesulitan untuk memahami sesuatu, dude? Tetap berada disana atau dia akan mengirimmu ke rumah sakit."
Jelas DJ sudah dipermalukan saat dia akhirnya terpaksa duduk kembali ke tanah, di atas kedua pantatnya dan meringis kesakitan lagi. Sekelompok kecil orang yang sudah berkumpul dan menyaksikan apa yang terjadi, mengomel dan menertawai DJ. DJ melihat ke atas, menatap tajam ke arahku.
"Aku seharusnya menghabisimu saat aku memiliki kesempatan, lagi pula kau tidak lebih dari seorang wanita murahan."
Chanyeol kembali mendekat untuk menendang wajah DJ, tapi aku berteriak. "Jangan!"
Chanyeol berhenti dan berbalik ke arahku, matanya di penuhi oleh amarah. "Apa?"
Aku menggelengkan kepala dan melihat ke bawah, ke arah DJ. Memberikan kepadanya senyuman manis yang palsu, dengan santai aku berjalan kearahnya, dan berjongkok diatas hak sepatuku agar aku bisa lebih dekat dengannya.
"Kau sudah pernah mencoba menghajarku, apa kau ingat DJ? dan aku mengalahkanmu. Aku sangat yakin bekas luka yang ada di mata kirimu itu adalah hasil karyaku."
Aku berdiri dan berjalan menjauh darinya, kemudian DJ berteriak, "Pelacur murahan!"
"Lakukan." Aku berguman pada Chanyeol saat aku berjalan melewatinya, kemudian terdengar suara DJ mengerang, kepalanya membentur trotoar, saat Chanyeol meninju wajahnya sekali lagi, membuatnya tak berdaya.
ooOoo
"Well, satu hal yang akan kukatakan mengenai malam ini, sama sekali tidak membosankan." Luhan membalikkan badannya di kursi penumpang depan di dalam mobil Mercedes milik mereka dan menengok ke arah Chanyeol dan aku berada.
"Tidak, sama sekali tidak membosankan," Jawabku, kemudian aku mencium punggung tangan Chanyeol yang lebam dan membengkak. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku.
"Aku tidak apa-apa," Jawabnya pelan. Dia tidak mau melihat wajahku, dan menghindariku agar aku tidak menyentuhnya, dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali.
Sehun berhenti dan memarkirkan mobilnya di depan rumahku, aku dan Chanyeol keluar dari tempat duduk kami yang ada di belakang. Aku membungkuk kearah kaca mobil Luhan dan mencium pipinya, "Cium Ziyu untukku, aku akan menghubungimu besok."
"Oke, Bye, Chanyeol. Kau benar-benar hebat." Luhan mengedipkan matanya pada Chanyeol, Sehun melambaikan tangannya pada kami berdua, kemudian mobil berjalan meninggalkan kami.
"Ayo masuk." Aku berjalan menuju beranda depan, tapi Chanyeol masih berdiri di tempatnya sambil meletakkan tangannya untuk menyentuh rambutnya.
"Mungkin malam ini aku harus kembali ke apartemenku."
"Apa?" Aku berbalik menghadap kepada dirinya. Bingung dan takut. "Kenapa?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan kemudian menundukkan kepalanya. "Kau sendiri pernah mengatakan, berpisah hanya untuk satu malam tidak akan membunuh kita."
Aku benar-benar tersentak. Pria yang dingin dan asing ini bukan Chanyeol milikku.
"Aku tidak ingin tidur tanpa dirimu," Ucapku lirih, perutku bergejolak saat dia hanya tersenyum dan kemudian berjalan menjauh dariku.
"Dengar, Chanyeol, aku menyesal tentang DJ.." Chanyeol kembali berputar ke arahku. Ada amarah di matanya dan wajahnya menegang.
"Jangan pernah meminta maaf untuk bajingan itu, Baekhyunie."
"Oke." Aku melangkah mundur dan melipat tangan di depan dadaku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak tahu apa yang salah.
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun."
"Oke," Aku mengulangi ucapanku, dengan gugup membasahi bibirku dengan lidahku. "Jadi kenapa kau menghukumku?" Tanyaku pelan.
Chanyeol menegakkan kepalanya, menempatkan tangannya di pinggangnya, dan menarik nafas panjang. "Bukan itu yang aku lakukan."
"Bicaralah padaku, Chanyeol."
"Aku sangat marah, Baekhyun. Lebih dari marah. Aku ingin terus memukulinya, lagi dan lagi, hingga dia tidak berdaya. Saat ini tubuhku dikuasai oleh adrenalin dan amarah dan aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri untuk tidak melukaimu nanti. Aku tidak akan pernah dengan sengaja melukaimu, tapi saat ini perasaanku sedang tidak enak." Dengan kasar Chanyeol mendorong jari tangannya melalui rambutnya dan dengan frustasi dia berjalan menjauh.
"Jangan lari dariku." Aku mengucapkan kembali kata-kata yang pernah dia ucapkan padaku. Dia memunggungiku, menatap pelataran hitam yang ada di depan rumahku. "Kau tidak akan membiarkan aku lari, itu juga berlaku pada dirimu,Yeol. Jika sekarang kau marah, itu tidak apa-apa. Jika sekarang kau frustasi, tidak masalah. Tapi kau harus melaluinya bersamaku, tidak menjauh dariku dan menghadapinya sendiri."
Kami berdiri seperti ini dalam waktu yang terasa sangat lama, padahal sebenarnya waktu mungkin hanya berlalu beberapa detik.
Akhirnya, aku mendengar suara rendahnya. "Kenapa kau membiarka orang idiot itu berada di dekatmu?"
"Sialan," Aku menggerutu dan mengosok dahiku.
"Sungguh, Baekhyunie. Aku tidak mengerti." Chanyeol berbalik dan menatapku, matanya tidak terbaca.
"Chanyeol, itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Bertahun-tahun."
"Dan?" Chanyeol menaikan alisnya.
"Dulu aku biasa pergi ke tempat olah raga dimana dia bekerja. Dia mungkin saja masih menjadi pelatih disana sekarang ini. Aku dulu masih muda dan bodoh karena berpikir bahwa dia manis. Kami hanya pergi berkencan dua kali, Chanyeol, dan aku berhubungan intim dengannya hanya sekali, dan kemudian dia berubah menjadi seorang penguntit gila yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku bilang padanya bahwa aku sudah tidak tertarik untuk bertemu dengannya lagi, dia marah dan melakukan kekerasan padaku, aku melawan dan merontokkan beberapa giginya."
Aku berjalan ke arah Chanyeol dan mendekat untuk menyentuhnya, namun dia mundur kebelakang menjauh dariku.
"Hentikan ini," Ucapku lirih.
"Kau tidak mengerti. Mengetahui dia pernah menyentuhmu membuatku muak." Chanyeol kembali menyentuh rambut dengan menggunakan tangannya, mendongak ke atas, menatap langit, kemudian kembali menatapku. "Aku tahu kau sudah tidak suci saat aku bertemu denganmu, tapi aku tidak perlu bertemu dengan orang yang pernah berada di dalam dirimu. Meskipun jika dia bukan seorang bajingan, aku pasti akan tetap menghajarnya."
"Chanyeol, dia tidak berarti apa-apa untukku. Kau sudah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Bahkan aku memintamu untuk menghajarnya."
"Yeah, itu juga merupakan hal yang baru bagiku. Aku tidak pernah meminta persetujuan untuk melindungi seseorang sebelumnya."
Jadi ini masalahnya.
"Kau tahu apa artinya bagiku saat kau meminta persetujuanku sebelum kau menghajarnya?" Chanyeol mengerutkan dahinya padaku dan aku terus berbicara. "Kau tidak akan pernah menyakitiku, babe."
Aku menarik nafas panjang sebelum aku melanjutkan. "Aku juga sudah pernah bertemu langsung dengan wanita yang masih memiliki margamu, Chanyeol. Aku ingin menarik keluar jantung wanita itu melalui lubang anusnya, dan mempertahankan apa yang sekarang menjadi milikku. Aku juga tidak ingin kejadian itu terulang lagi."
"Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya."
Aku hanya memiringkan kepalaku ke samping dan menatap matanya dengan wajah datar sampai dia mendesah panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Aku mengerti maksudmu."
"Jika aku membiarkan diriku berpikir mengenai fakta bahwa kau dulu pernah menikah, atau memikirkan tentang wanita yang pernah bersamamu, Chanyeol, itu akan membunuhku. Aku menolak untuk memikirkan itu semua. Aku bersamamu sekarang, dan aku tahu akulah satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupmu sekarang, dan bagiku hanya itu yang penting untuk saat ini." Aku kembali melangkah maju mendekatinya dan menangkap wajahnya dengan kedua tanganku, menjalankan jari tanganku di rambutnya, dia tidak menjauh, namun dia juga tidak menyentuhku.
"Terima kasih untuk malam ini, untuk melindungiku dan membuatku merasa begitu dicintai."
"Aku memang mencintaimu." Dia berbisik dan aku tersenyum kepadanya, sangat jatuh cinta padanya.
"Aku tahu." Aku berbisik lagi, lengan Chanyeol datang untuk merengkuh tubuhku, menarik tubuhku kedalam pelukannya. Dia menempatkan kepalaku di bawah dagunya dan memelukku dengan erat. Aku melingkarkan lenganku di tubuhnya dan melekat erat padanya saat dia menggoyangkan tubuhku kedepan dan kebelakang, mencium rambutku.
"Jadi, um, apa ini berarti kau akan tinggal?" Tanyaku dan perutku terasa membaik saat aku mendengar dia terkekeh di pipiku.
"Yeah, aku akan tinggal, baby." Chanyeol mencium rambutku sekali lagi dan aku menunduk. Chanyeol memegang daguku dengan jari tangannya dan mengangkat kepalaku ke atas. "Kau adalah milikku."
Perlahan sebuah senyuman mengembang di wajahku. "Kau juga."
"Ya Tuhan, kau begitu cantik."
Tiba-tiba aku sudah berada dalam gendongan lengan Chanyeol, dan dengan susah payah dia bergelut dengan kunci, berusaha membuka pintu depan dan tetap menggendongku saat berjalan masuk ke dalam rumah. Chanyeol menurunkanku saat kami sudah berada di dalam rumah, kemudian dia menutup dan mengunci pintu, dan dengan perlahan berjalan ke arahku saat aku berjalan menaiki tangga.
"Apakah kau tahu apa yang telah kau lakukan padaku?" Chanyeol bertanya, suaranya pelan dan kasar, matanya menyipit, dan tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Apa?" Tanyaku dengan nafas terengah-engah.
"Kau membuatku menginginkan sesuatu yang tak pernah aku inginkan sebelumnya. Kau membuatku menginginkanmu. Kau membuatku bergairah."
Hak sepatuku berdetak di tangga, dengan pelan aku menaiki tangga, dengan berjalan mundur, tidak mampu melepaskan pandanganku dari wajahnya. Aku sudah melewati sekitar lima anak tangga saat dia berguman. "Berhenti."
Chanyeol mulai menaiki anak tangga di bawahku sambil membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemejanya dari bahunya, membiarkan kemejanya jatuh ke lantai. Chanyeol sampai di anak tangga ke empat dan matanya sekarang sejajar dengan mataku. Aku berpegangan pada sisi pegangan tangga untuk menjaga keseimbangan tubuhku, aku terpesona oleh matanya yang indah, dia masih belum menyentuhku, namun kulitku sudah merinding membayangkan sentuhannya.
"Sentuh aku." Bisikku.
Chanyeol mencondongkan tubuhnya ke arahku, menggesekkan bibirnya di bibirku, dengan cepat, dan lalu kembali berdiri tegak dan memandangku.
"Ku mohon, sentuhlah aku." Aku berbisik lagi.
Matanya menelusuri mulai dari rambutku, wajahku, turun ke gaunku lalu ke sepatuku dan kembali melihat ke atas."Duduk di tangga." Perintahnya.
Aku mengerutkan dahiku, dan dia menyipitkan matanya. "Duduk."
Aku duduk di atas anak tangga dan mendongak ke atas untuk melihat wajahnya, dan bertanya-tanya apalagi yang akan dia lakukan. Chanyeol melepaskan kaitan ikat pinggangnya lalu membuka celananya, dan di saat aku mengira dia akan mengeluarkan kejantanannya agar aku bisa melakukan oral pada benda miliknya itu, teryata dia hanya berlutut di hadapanku.
Mataku melebar, terbawa kemarahan yang terlihat pada wajah pria tampan ini. Chanyeol berlutut di hadapanku, masih belum menyentuhku.
"Bersandar kebelakang pada sikumu," Ia berbisik dan aku menurut.
"Naikkan rok-mu keatas pinggangmu." Sekali lagi aku mematuhinya, nafasku mulai memburu. Aku merasa begitu terekspos, karena sekarang aku memang terekspos mulai dari pinggang hingga ke bawah. Aku tidak berbohong saat aku mengatakan bahwa aku tidak memakai celana dalam.
Mata Chanyeol melebar dan dia menarik napas panjang. Saat dia melihat kewanitaanku, matanya meyipit, lengannya menegang dan tangannya mengepal, aku tahu dia sangat ingin menyentuhku.
"Sentuhlah aku babe," Aku berbisik.
Matanya yang berkilat menemukanku saat dia menempatkan rambut ikalku ke belakang telingaku, mengirimkan getaran hingga ke daerah kewanitaanku.
"Kau sangat cantik, Baekhyunnie."
"Sentuh Aku" Aku berbisik lagi dan dia memejamkan matanya untuk sesaat, kemudian melihat ke bawah, ke arah tubuhku lagi, menelanjangiku dengan tatapan matanya.
"Chanyeol," Aku mendapat perhatiannya dengan kekuatan di suaraku. "Kau tidak akan menyakitiku, cintaku."
Chanyeol menggeram lalu menempatkan kepalan tangannya di tangga, tepat di samping pinggulku dan memaksakan dirinya untuk bergerak dan menciumku, memasukkan lidahnya kedalam mulutku, meluncur dan bersentuhan dengan lidahku. Ciuman ini sangat panas dan penuh hasrat. Jari-jari tanganku meremas rambutnya, berharap agar aku bisa menahan kepalanya tetap berada di dekatku, namun dia menjauh, dengan napas terengah-engah dan mata yang berapi-api dia berkata. "Tempatkan sikumu di tangga."
"Oh."
Akhirnya - AKHIRNYA!- tangannya yang besar itu meluncur dari sisi luar pahaku lalu menuju ke pinggulku, menarik tubuhku maju kedepan, ketepian anak tangga dan dia menurunkan kepalanya. Dia bernapas di depan kewanitaanku, membuat sekujur kulit tubuhku merinding. Dia lalu membuka lebar pahaku, melebarkan labia kemaluanku dan mulai menjilatinya, mulai dari celah di antara kedua pantatku hingga ke titik sensitif yang ada di daerah kewanitaanku. Setelah sampai di area kewanitaanku, dia mengulangi proses tersebut sekali lagi dari awal.
"Astaga!" Aku menghentakkan kepalaku kebelakang dan panggulku sedikit naik keatas. Namun Chanyeol menahan panggulku agar tetap berada di tempatnya, menekankan wajahnya di pusat kewanitaanku dan menciuminya, memasukkan lidah terampilnya yang lembut kedalam kewanitaanku, lidahnya berputar-putar di dalam rongga sensitifku sementara hidungnya menekan titik sensitif yang ada di sana.
Aliran listrik menyengat inti kewanitaanku, dengan cepat naik ke tulang ekorku dan mengoyak tubuhku. Aku melihat ke arahnya dan tatapan matanya yang berapi-api itu menatap tajam padaku, terbakar oleh gairah.
"Oh Tuhan, sayang, aku akan..." Aku tidak mampu meyelesaikan kalimatku. Lidahnya kemudian bergerak naik ke bibir kewanitaanku agar dia bisa menekan titik sensitif yang ada disana dengan lidahnya, kemudian dengan kasar dia memasukkan dua jari tangannya ke dalam rongga sensitifku, dan terus menusuk ke dalam, membuatku gelombang kepuasan mengalir dari dalam diriku dengan seketika, otot kewanitaanku berdenyut membasahi jarinya dengan cairan yang berwarna putih, bagian sensitif yang sedang dimanjakan oleh lidahnya itu juga ikut berdenyut.
Chanyeol mencium dan menggigit sisi bagian dalam pahaku dan pubisku, kemudian dia mengeluarkan jarinya dari dalam kewanitaanku dan memasukkan jarinya itu ke dalam mulutnya, menghisap dan menikmati cairan manis yang keluar dari dalam tubuhku.
"Kau terasa sangat nikmat," bisiknya. Kemudian dia meraih tali baju halterku dan melepaskan ikatannya, membiarkan bagian atas gaunku jatuh ke bawah hingga mencapai pinggang, membuat payudaraku terekspos. "Ya Tuhan."
Chanyeol membungkukkan badannya ke arahku, dengan hidungnya dia membuat gerakan memutar di payudaraku. Napasku masih belum stabil akibat gelombang kepuasan luar biasa yang baru saja Chanyeol berikan padaku, dan sekarang hidungnya berada di payudaraku, membuat bagian kewanitaanku kembali terbakar karena gairah yang muncul kembali dan membuatku mengerang memanggil namanya.
Chanyeol menghisap puting payudaraku, dan tidak lupa untuk memberikan perhatian pada puting yang lain dengan menggunakan jarinya. Aku tak kuasa untuk menahan salah satu tanganku tetap berada di tempat, dan mulai menggerakkannya menuju ke rambutnya, namun dia kembali menjauh dan menatapku dengan mata yang tajam.
"Tempatkan sikumu di tangga," Dia mengulangi perkataannya.
"Tidak, aku ingin menyentuhmu."
"Aku akan menahanmu jika memang terpaksa. Tempatkan sikumu di tangga."
Sial!
Aku mematuhinya, keinginannya untuk mengendalikan diriku benar-benar membuatku bergairah. Dan juga keinginannya untuk mengendalikan apa yang sedang kami lakukan saat ini.
Mulutnya kembali menutupi payudaraku dan mulai membuatku gila, gemetaran di bawah tubuhnya.
Mendadak dia berhenti, kemudian dia mencengkram panggulku, mengangkat tubuhku dan membalikkannya, membuatku membungkuk di atas lututku, membelakanginya.
"Aku menginginkanmu." Dia mengerang, aku bisa mendengar Chanyeol membuka celananya. "Sekarang."
Chanyeol menghantam masuk kedalam diriku, dengan keras, membuatku berteriak karena terkejut dan kesakitan. Apa-nya terasa lebih besar dari biasanya, menghujam kedalam inti kewanitaanku.
"Ya Tuhan, baby, kau sangat sempit dan begitu basah." Dia mengeluarkan miliknya dan kemudian memasukkannya lagi, dengan keras, sama seperti sebelumnya, membuatku kembali mengerang.
"Yeah." Aku berbisik.
"Ini akan menjadi sedikit kasar, baby."
"Bagus." Jawabku.
"Jika ini terlalu berlebihan, katakan saja padaku."
"Lakukan saja, babe. Bercintalah denganku."
Chanyeol menampar pantat bagian kanan milikku, dan dengan kasar mencengkram pinggangku, mulai begerak keluar masuk di dalam rongga sensitifku dengan gerakan yang cepat, dengan ritme yang tidak terkendali. Dia kembali menampar pantatku, dua kali, dan aku mengerang karena kenikmatan yang ditimbulkan oleh tamparan itu, menyukai betapa dia bisa tergila-gila oleh gairahnya pada diriku, dan mengetahui bahwa aku bisa membuatnya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri saat berhadapan denganku.
"Sialan, baby." Chanyeol mengencangkan pegangannya pada pinggangku, dan untuk terakhir kalinya menghantamkan miliknya kedalam rongga sensitifku, kemudian melepaskan gelombang kepuasannya ke dalam diriku, membawaku bersamanya untuk mendapatkan kepuasanku sendiri untuk yang kesekian kalinya.
Di belakangku, napasnya masih terengah-engah dan tubuhnya gemetar. Chanyeol masih belum mengeluarkan miliknya dari dalam diriku. Dia membungkuk dan mencium bagian tengah punggungku dan merebahkan pipinya di sana, menempatkan tangannya di tangga, memagari kedua sikuku yang berada di sana.
"Apa kau baik-baik saja?" bisiknya, membuatku tersenyum.
"Aku merasa luar biasa. Bagaimana denganmu?"
"Apakah aku menyakitimu?"
"Tidak sayang." Aku mencium bisepnya. "Kau mengguncang duniaku."
Chanyeol tertawa terkekeh lalu mengeluarkan miliknya dari dalam tubuhku, membuatku terkesiap saat aku merasakan apa itu menggesek dinding kewanitaanku.
"Ya Tuhan, aku akan sangat bersyukur apabila kau tidak takut dengan jarum." aku membalikkan tubuhku dan duduk di tangga, kemudian melihat keatas, ke mata Chanyeol yang bersinar. Chanyeol terlihat lebih tenang sekarang, kemarahan dan rasa frustasi yang tadi menguasainya sepertinya telah hilang tersapu oleh seks yang kasar dan orgasme yang luar biasa barusan.
"Kau akan terlihat sangat mempesona dengan tato." gumamnya.
Aku menyipitkan mataku. "Kurang dari tiga puluh detik yang lalu kau berada di dalam diriku, dan sekarang kau bersikap kejam padaku."
"Aku tidak bersikap kejam, aku sedang besikap serius."
Aku memiringkan kepalaku dan mengamati tatonya yang seksi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mempertimbangkannya. "Tatomu sungguh seksi."
"Aku memiliki seniman yang hebat, jika saja kau berubah pikiran." Matanya begitu hangat dan dipenuhi oleh gairah, bibirnya sedikit tersenyum saat melihat kearahku, dan ada sesuatu hal yang sepertinya telah mengubah pendirianku.
"Mari kita menemuinya besok."
Mulut Chanyeol ternganga dan matanya melebar. "Serius?"
"Serius. Aku akan mempertimbangkannya." Aku mengangkat bahu dan mencoba untuk menyembunyikan rasa takutku saat membayangkan seseorang datang padaku dengan membawa pistol dengan jarum di ujungnya, namun Chanyeol bisa melihat ketakutanku.
Dia selalu bisa melihat ke dalam diriku.
"Kau tidak perlu melakukan itu untukku." Ucapnya lirih.
Aku menggelengkan kepalaku. "Menghiasi tubuhku dengan pekerjaan seni yang permanen dan menghadapi siksaan oleh manusia bertangan jarum adalah hal yang tidak mungkin kulakukan untuk pria manapun sebelumnya. Mungkin ini adalah saatnya untuk menghadapi ketakutanku."
Chanyeol tertawa, menarik tubuhku hingga berdiri, lalu mengangkat tubuhku dan menggendongku di bahunya serta memukul pantatku, lalu berjalan menaiki tangga.
"Mandi," Ucapnya sambil tersenyum.
"Ide yang bagus."
please read a/n and vote
.
ooOoo
.
TBC
.
ooOoo
.
.
.
Thanks to:
wwawabaek87 | Guest apdetnya malem ya :') | NoTime To MilkTe kenapa pengen banget baek hamil :') hahaha menurutku lebih memukai crossdress baek daripada abs baek xD | exindira read a/n^^ | taolinna6824 jika kamu penasaran dengan cerita Luhan, silakan baca remake Came Away with Me di akunku^^ iya, sesuai peraturan yang melanggar akan dipecat | rly cy suami idama :') | parkbaexh614 | puppyyeol siap~ | pcybbhosh udah diapdet^^ | BaekQiu ziyu baby gahul hahaha | parkobyunxo iya masama^^ makasih sudah baca remake-ku kkk | chenma jiwa baek terlalu bebas susah terikat :') iyaaa crossdress dia cuntik bangeeet | SehunbigdickUkemendesah read a/n^^ | keenz chanbaek pasangan terpanasss hahaha | Asmaul kado ultah yang memukau | jumarohfauziyah read a/n^^ | ChristyLeyla nikahnya kamingsun~ | sehunshit94 baek merasa seperti di surga saat chan berada didekatnya :') | rdavika ya ampun.. apdetnya padahal g ampe seminggu masak lama sih :') | sehunfans /hug/ aku akan berusaha serajin mungkin tapi kamren apdetnya g ngaret iiih kan masih pd harinya g kelewat hari :') | Rain030 aku kalo baca novel online tokohnya selalu aku ganti OTP xD kagak ada bayangan kalo kagak OTP :') | JonginDO iya^^ | ChanBMine chan akan menunggu kado baek dengan sabar kkk | mrsbunnybyun sabar ya menghadapi baek :') semoga chan kagak lelah dengan sikap baek wkwkk ekspresi cy liat hadiah kamingsuuun~
.
.
a/n
Kalian yang nunggu baek hamil sepertinya tak ada di ff ini :'( atau aku kelewatan search aku tak tahu TAT
Maafkan aku yang lupa jalan cerita remake ini. Akupun tak sempat membaca ulang Q.Q #deepbow
Seperti hunhan yang sering muncul di seri remake ini, kemungkinan besar Chanbaek juga akan muncul di seri menyusul yang lain^^
FF ini akan selesai dalam 3 chapter lagi /tebar confeti/
.
.
Tolong bantu aku dengan vote, please ^/\^
sesuai rencana aku akan meremake lima karya Kristen Proby, yaitu:
Come Away With Me (HunHan) 81k+ DONE
Under The Mistletoe With Me (SuLay) 18k+ DONE
Fight With Me (ChanBaek) 81k+ TBC
Play with Me (KrisTao) 72k+ …PENDING...
Rock with me (KaiSoo) 71k+ ~COMING SOON~
Aku ingin mengganti Play with Me (KrisTao) dengan pasangan yang lain, tapi pilihanku ini bisa aku ganti atau tidak sesuai hasil voting. Maafkan aku yang tak profesional /deep bow/
Sebagai tambahan:
- jika aku tetap menggunakan KrisTao, tokoh Chanbaek Hunhan dll masih tetap sebagai diri mereka di ff remake ini
- jika aku mengganti menjadi pasangan lain, tokoh lain otomatis akan diatur ulang
Sebagai gambaran ff Play with Me tokoh prianya berprofesi sebagai pamain sepak bola terkenal dan si wanita sebagai perawat^^
Tolong menjawab pertanyaan ini di kolom review:
Ganti tokoh atau tidak? Jika ganti, tolong rekomendasikan pasangan yang menurut kalian cocok!
Voting akan ditutup dan diumumkan hasilnya saat chapter terakhir ff ini^^
Maaf jika mengganggu /bow/
Sampai jumpa di next chapter ya~ hari selasa^^
