"Hey, ke mana Jung Soo-ssi? Bukankah tadi dia bersama kita? Hyung, kau tahu ke mana perginya Jung Soo-ssi?" Tanya Changmin tanpa henti.
Mendengar nama Jung Soo disebut, Donghae langsung bertanya, "Jung Soo hyung ada di sini? Benarkah?"
Changmin mengangguk membenarkan.
"Mungkin Jung Soo-ssi−" belum sempat Hankyung menyelesaikan ucapannya, sebuah teriakan diikuti suara derap langkah kaki memenuhi lorong tersebut.
Donghae kenal betul suara yang sedang memanggil-manggil namanya dan Kyuhyun. Sosoknya yang sedang berlari di ujung lorong sana makin lama makin mendekat, hingga berhenti tepat di depannya dengan napas yang terengah-engah dan kedua pasang mata yang terbelalak melihat kondisi Kyuhyun yang tidak sadarkan diri.
Jung Soo tentu saja panik. Namun pria itu tetap berusaha mengontrol emosinya, sampai mereka semua tiba di luar. Dan pastinya mereka disambut dengan tangisan Sungmin yang tidak dapat dibendung. Changmin hanya bisa menunduk. Bahunya gemetar, menahan tangis.
Apa yang dikatakan si brengsek Jongwoon benar, Kyuhyun sekarat. Untunglah, mobil ambulance sudah siap sedia. Heechul dan Hankyung benar-benar sudah mempersiapkan ini sebaik mungkin.
Tim medis segera membawa Kyuhyun ke dalam ambulance dan memasang alat bantu pernapasan untuknya. Tidak ada waktu untuk bertanya bagi Jung soo.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Tidak ada waktu ...
.
.
.
Eh? Di mana ini? Apa aku pernah ke sini sebelumnya? Kenapa terasa tidak asing? Dan..sepi sekali. Semuanya putih. Ini seperti..
Ah, ternyata bukan aku sendiri. Ada seseorang di sana. Sedang apa? Dia manusia kan? Eh? Bodoh kau Kyu, tentu dia manusia! Aku berjalan perlahan mendekat padanya. Suara langkah kaki ku tidak terdengar sama sekali. Sunyi.
Aku seperti sedang mendengar suatu isakan. Dari orang itu kah? Ya, dari siapa lagi.
'Hei, kenapa kau di sini? Apa kau tahu tempat apa ini? Kau tersesat, sama sepertiku?'
Aku menyentuh pundaknya, pelan. Tapi dia tidak merespon. Malah ku dengar, isakannya semakin keras. Ada apa dengan orang ini? Apa dia anak kecil? Ah, mana mungkin. Sepertinya dia seumuran denganku.
'Hei,' aku memaksanya untuk berbalik, menatapku. Dan, oh..
'Huaa~ kenapa kau meninggalkanku! Kenapa?! Sialan! Kau pergi begitu saja! Brengsek!'
Ya Tuhan, apa ini? Dia kenapa? Kekanakan sekali. Lagipula, aku tidak kenal di− sebentar, sepertinya aku kenal. 'Hey, coba tengadahkan wajahmu. Aku ingin lihat. Jangan menunduk terus.' Ucapku padanya. Lalu dia melakukannya seperti yang aku minta.
Dan..konyol. Ini pasti lelucon.
Atau, aku memang sedang bermimpi?
EXTRASENSORY PERCEPTION
By Cui'Pz Cherry & Kyunnieminnie-chan
INSPIRED BY KOTOURA-SAN © ENOKIZU
SUPER JUNIOR © They're belong to GOD and themselves
Cast:
Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun
Park Jung Soo as Cho Jung Soo (Leeteuk)
Lee Donghae as Cho Donghae
Lee Sungmin as Kim Sungmin
Kim Heechul as Kim Heechul
Max Changmin, and others.
Warning:
TeukHaeKyu!Brothership
KyuChangMinChulHyukHan!Friendship
Lil' bit Romance for HanChul and HaeHyuk
GENDERSWITCH!
Donghae tidak bisa berhenti menangis. Dia genggam terus tangan dingin itu, seolah akan lenyap jika dia melepasnya sedetik saja. Jung Soo pun sama.
Keduanya diliputi rasa takut yang amat besar, ketika melihat keadaan adiknya yang ditopang dengan selang dan tabung oksigen. Sungguh menyedihkan.
Ironis bagi Jung Soo. Ketika hubungannya dengan Kyuhyun mulai berjalan lancar, bocah itu justru terbaring tak berdaya.
Jujur, Jung Soo merasa menjadi kakak yang paling tidak berguna di dunia. Dilihatnya Donghae yang masih tersedu meratapi keadaan, dan seketika itu juga hatinya berdenyut sakit.
Ingin menenangkan, tapi tidak bisa. Lidahnya kelu. Tidak ada yang bisa terucap. Hanya tangis, tangis, dan tangis saja yang ada.
Suster yang melihat pun merasa iba dibuatnya. Namun apa daya? Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya perasaan cemas yang melingkupi hatinya ketika mobil putih itu semakin mendekati Rumah Sakit.
'Terlambat sedikit, nyawa anak ini akan dalam bahaya.' Begitu pikir sang suster.
"Kyu, bertahan. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit, dan kau akan baik-baik saja. Jadi kumohon..bertahan. Kau kuat. Kau ingin kita berkumpul lagi kan, seperti dulu? Hm? Jawab aku, buka matamu." Bisik Donghae di telinga adiknya dengan penuh harap.
Ya, berharap adik 'kecil'nya akan membuka kembali matanya, dan tersenyum padanya.
Seperti dulu, ketika mereka masih sama-sama berstatus sebagai bocah.
Donghae menarik napasnya dalam-dalam. Berharap rasa sakit di dadanya ketika melihat Kyuhyun begitu menderita karena dirinya, akan hilang.
"Bodoh. Aku bodoh. Sangat bodoh. Kau boleh memukulku jika nanti sudah sehat, Kyu. Tapi jangan benci aku ya? Ya?" Donghae mengoceh sendiri. Jung Soo yang melihat kedua adiknya dalam keadaan seperti itu, hanya bisa tertunduk. Tidak tahan, tidak sanggup.
Hatinya teriris melihat Donghae begitu depresi dan Kyuhyun yang tak sadarkan diri.
Dering ponselnya mengalihkan perhatian Jung Soo dari kedua adiknya. Segera diangkatnya panggilan tersebut ketika nama sang umma yang muncul di layar ponsel touchscreennya.
Jung Soo menghela napas lega saat mobil putih itu telah sampai di depan Rumah Sakit. Langsung saja para perawat dan dokter berdatangan untuk memberikan pertolongan yang lebih intensif kepada Kyuhyun. Bocah itu langsung dilarikan ke ruangan ICCU, dengan Donghae yang selalu menggenggam tangannya.
Sementara Jung Soo, terpaksa tidak ikut mengantar karena harus menjawab panggilan dari sang umma.
Mobilnya yang dibawa oleh Changmin juga telah sampai. Begitu juga dengan motor sport milik Hankyung. Heechul langsung berlari mengejar, masuk ke dalam. Disusul oleh Changmin, Sungmin, Eunhyuk, dan Hankyung.
Mereka seakan sedang berlomba dengan waktu.
Detak jantung mereka seolah tidak pernah tenang ketika tubuh teman mereka sudah dibawa masuk menuju ruangan ICCU.
Donghae terlihat sedang memeluk lututnya sendiri sambil menggumam, berdoa. Dia ingin ikut masuk, ingin mendampingi adiknya, ingin selalu berada disamping adiknya, namun dokter bilang tidak. Sekeras apapun Donghae memohon, dokter tetap berkata tidak.
"Sungmin noona, mau ke mana?" tanya Changmin saat dilihatnya Sungmin berjalan menjauhi mereka. Sungmin yang merasa dipanggil, menoleh dan berkata, "ke Gereja. Aku ingin berdoa di sana. Untuknya."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sungmin berjalan menjauh. Changmin sebenarnya ingin ikut, namun hatinya mengatakan untuk tidak beranjak sedikitpun dari pintu ruangan ICCU. Dia ingin terus berada di depan pintu itu sampai pintu yang terlihat menyeramkan itu terbuka.
.
.
.
"Kyuhyun kritis, umma." Ucap Jung Soo lirih.
Di seberang telpon sana sang umma langsung menitikkan airmata. Suaranya bergetar saat berucap, 'umma sedang menuju ke sana. Tunggu, ya? Katakan pada anak umma, untuk terus menunggu. Dia tidak boleh pergi. Umma mohon, Kyuhyun tidak boleh pergi, Jung Soo-ya..umma−'
"Umma, tenanglah. Kyu tidak akan pergi. Dia kuat. Umma menyetir sendiri kan? Jangan sampai umma kehilangan fokus. Itu berbahaya. Jangan menangis lagi. Kyu akan baik-baik saja. Umma harus percaya padanya, ya? Umma percaya pada Kyu, kan?"
'Ya...' sahut Nyonya Choi. Gemetar di suaranya belum hilang.
Jung Soo memutuskan untuk menyudahi perbincangan mereka, karena ummanya sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Tadi, saat ummanya menelpon, dia baru akan memasuki mobil, dan sekarang mungkin sudah setengah perjalanan.
Jarak Rumah Sakit ke rumah Nyonya Choi memang tidak terlalu jauh. Namun tetap saja membuat Jung Soo khawatir. Jika ummanya membawa mobil masih dalam keadaan menangis, bukankah itu akan berbahaya? Jung Soo tidak mau ada anggota keluarganya lagi yang diambang maut.
Sesaat setelah panggilan dari ummanya selesai, ponsel Jung Soo kembali berdering. Kali ini dari sang appa. Appa kandungnya yang berada di luar negeri, dan sekarang mungkin juga sedang dalam perjalanan pulang menuju Korea, tepatnya Rumah Sakit, untuk melihat kondisi anak bungsunya.
"Ini salahku. Ini memang salahku. Ya, akulah yang salah. Harusnya aku yang berada di ruangan itu, bukan Kyu. Tidak, dia tidak boleh pergi." Donghae masih terlihat syok. Dia begitu ketakutan.
Jung Soo merasa iba melihat keadaan Donghae yang tidak lebih seperti orang gila. Mungkin jiwanya terganggu karena melihat adiknya sendiri berlumur darah dan sangat kesakitan.
Pria itu berjongkok untuk memeluk Donghae, erat. Mengusap punggungnya dan membelai lembut helai rambut halusnya, untuk membuat Donghae merasa lebih tenang. Jung Soo tidak mau melihat Donghae lebih depresi dari ini.
Tidak, kejadian yang sama tidak boleh terulang lagi. Cukup sudah dia melihat Kyuhyun beberapa tahun lalu menangis sepanjang hari saat umma mereka dan Donghae pergi meninggalkan keduanya. Pada saat itu, keadaan Kyuhyun persis seperti Donghae saat ini.
"Hey, bukan salahmu. Harus berapa kali aku bilang, kalau itu bukan salahmu, hm? Kyuhyun juga pasti tidak akan menyalahkanmu, Hae-ya." Jung Soo mendekap wajah adiknya yang bersimbah airmata itu dan tersenyum menenangkan. Kata-katanya yang lembut mampu membuat Donghae berhenti terisak.
Namun sesaat kemudian, dia menangis lagi karena tiba-tiba saja kenangan saat dia meninggalkan Kyuhyun dan Jung Soo menyeruak begitu saja dalam pikirannya. Begitu jahat Donghae saat itu. Dia tidak peduli meskipun Kyuhyun menangis dan berlari, berusaha mengejar mobil yang membawa mereka pergi.
"Aku tidak membencinya, Hyung. Aku tidak membencinya. Aku hanya...merasa kesal padanya karena selalu mengambil perhatian Umma." Donghae mulai mengungkapkan perasaannya. Jung Soo diam mendengarkan dengan seksama. Jika Donghae mulai menangis lagi, maka Jung Soo akan mengusap-usap punggung itu agar tenang.
"Nanti, setelah Kyu sadar, kau harus bilang padanya bahwa kau sangat menyayanginya, ya?" Jung Soo mengusap airmata yang masih tersisa di pipi pucat Donghae. Pemuda itu mengangguk pelan sambil menarik napas dalam-dalam.
Perhatian mereka seketika teralihkan oleh suara hentakan sepatu yang semakin lama semakin mendekat. Lalu sosok seorang wanita paruh baya muncul di hadapan keduanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Umma mereka sudah datang.
Donghae berdiri untuk menghampiri sang umma, dan memeluknya, yang dibalas dengan pelukan serupa. Mereka berpelukan selama beberapa detik, karena sang umma segera melepaskannya.
Wanita itu melihat wajah sembab Donghae dan mengusap lebam yang ada di sana dengan lembut. Donghae terisak lagi. Ummanya belum melihat bagaimana keadaan Kyuhyun. Entah bagaimana ekspresi yang akan wanita itu berikan jika melihat keadaan anaknya yang satu lagi.
"Hae-ya, Kyu akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi, kau sudah besar." Ucap wanita itu dengan pelan.
"Umma harus bilang pada Kyu, kalau Umma benar-benar menyayanginya dan tidak membencinya. Umma harus bilang! Harus!" Donghae hampir kehilangan kendalinya lagi jika sang umma tidak segera memeluknya. Kali ini lebih erat. Wanita itu mengucapkan kata 'ya' berulang kali untuk membuat Donghae yakin, bahwa dia akan benar-benar mengatakannya.
Sesaat kemudian, seorang pria paruh baya datang dengan langkahnya yang tenang dan pelan. Wibawanya masih sangat terlihat walau usianya tidak lagi muda. Bahkan bertambah beberapa kali lipat.
Jung Soo yang menyadari kehadiran sang appa, segera berjalan mendekatinya dengan kepala tertunduk. Menyesal karena tidak bisa menjaga kedua adiknya dengan baik, seperti yang dipesankan sang appa padanya dulu, sebelum pria itu memutuskan untuk terbang ke luar negeri.
Namun bukan amarah yang Jung Soo terima, melainkan tepukan pelan yang mampir di bahunya. Perlahan, Jung Soo kembali menegakkan tubuhnya untuk melihat ekspresi sang appa.
Datar, tanpa emosi. Begitulah yang dilihat Jung Soo dari wajah tegas yang sudah mulai dipenuhi kerutan itu. Entah harus bagaimana Jung Soo mengartikan sikap sang appa yang sangat sulit ditebak.
"Apa saja yang kau lakukan selama aku tidak ada? Menghabiskan uang suamimu?" Kata-kata pedas itu meluncur begitu saja dari mulut Tuan Cho. Membuat suasana yang awalnya hening, tenang, dan damai, menjadi panas karena emosi yang tiba-tiba meluap.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa malam yang kau habiskan bersama wanita-wanita pirang itu sudah membuatmu puas?" Nyonya Choi membalas dengan suaranya yang tenang, namun menusuk.
Mereka sudah berhadapan sekarang. Menatap satu sama lain dengan perasaan benci, marah, serta sesal yang menjadi satu. Jung Soo merasa tidak bisa berbuat apa-apa melihat kedua orangtuanya saling tuduh tanpa alasan yang jelas.
"Apa maksudmu? Aku di sana untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang dengan wanita, seperti yang kau lakukan dengan pria simpananmu! Harusnya kau sadar diri."
Sederet kalimat itu mampu membuat Nyonya Choi mendaratkan tamparannya di pipi sang mantan suami. Napasnya terengah-engah, dan matanya berair.
Jung Soo yang melihat perbuatan sang umma terkejut bukan main. Pria itu segera menghampiri keduanya untuk mencegah tamparan kedua yang akan dilayangkan sang appa.
"Cukup. Apa yang kalian lakukan? Apa kalian anak kecil? Dengar, Kyuhyun ada di sana, dia sedang berjuang! Jangan membuat keributan yang tidak ada artinya. Apa kalian ingin membuat Donghae semakin takut?!" Jung Soo menunjuk Donghae yang sedang menutup telinganya sendiri sambil membenamkan wajah diantara kedua lututnya.
Melihat sikap anaknya dan mendengar perkataan Jung Soo membuat kedua orang dewasa yang sebelumnya bersitegang itu, kembali tenang.
"Jangan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi. Aku mohon." Jung Soo tertunduk lemas. Hampir saja tubuh pria itu oleng ke depan, jika tidak ada Changmin yang dengan sigap membantunya unuk kembali tegak.
Satu lagi kesalahan yang dilakukan Tuan Cho dan Nyonya Choi, yaitu membiarkan teman-teman Kyuhyun mengetahui keburukan keluarga mereka.
Sekarang Changmin, Eunhyuk, dan Hankyung, tahu betul darimana sosok Kyuhyun yang dingin dan tertutup itu berasal. Mereka bertiga menyimpulkan, kalau sikap temannya itu adalah akibat perbuatan orangtuanya sendiri.
Beruntung bagi Donghae, dia dibesarkan oleh ibunya dan mempunyai ayah dan saudara tiri yang baik. Jadi semua masalah keluarganya tidak membuat Donghae terlalu dingin atau antisosial.
Saat berkenalan dengan Eunhyuk pun, kesan pertama yang gadis itu dapat adalah keceriaan seorang pemuda dengan latar belakang keluarga yang harmonis.
Donghae sama sekali tidak menunjukkan, bahwa dia mempunyai masalah yang berat dengan Kim Jongwoon, dan pernah sekali bermalam di bui. Semua itu dia rahasiakan dari Eunhyuk, kekasihnya.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati, dan jam demi jam mereka lalui dengan harapan yang sama. Namun sampai sekarang pun –sudah hampir 3 jam, pintu itu tidak juga terbuka.
Oh ayolah, sampai kapan kami harus menunggu dalam keadaan penuh rasa takut begini? Apa dokter-dokter itu begitu bodoh? Apa begitu sulit? Apa...Kyu...memang...
Tidak, jangan berpikiran seperti itu, Changmin!
Menghela napas panjang, Changmin memejamkan matanya sambil terus menggelengkan kepala beberapa kali. Mencoba mengusir berbagai pikiran buruk tentang keadaan sahabatnya yang sedang berjuang di dalam sana.
Kelakuan anehnya itu tertangkap oleh Sungmin yang baru saja memasuki ruang tunggu ICCU, diikuti oleh Heechul. Melihat Changmin yang terlihat sangat kalut, Sungmin langsung berlari menghampiri bocah itu, seraya bertanya dengan suara gemetar, "apa yang terjadi?"
"N-noona? Kapan kau−"
"Apa yang terjadi, Shim Changmin?" Sungmin jengkel melihat respon lambat yang diberikan Changmin. Bukannya menjawab pertanyaan sebelumnya, bocah itu sudah mengajukan pertanyaan lain.
Dengan tergagap, Changmin akhirnya menjawab, "b-belum ada perkembangan apapun, noona."
Sungmin merasa lututnya melemas. Dia butuh sandaran. Terlalu banyak hal mengejutkan yang terjadi hari ini. Terlalu banyak ketakutan juga dalam dirinya, hari ini.
"Sungminnie, tenang saja. Kita sudah berdoa kan, tadi?" Heechul menyentuh bahu adiknya lembut. Gadis itu membawa pelan kepala adiknya untuk bersandar di bahunya, dan mengusap helaian rambut hitam Sungmin.
Nyonya Choi tampak sedang dipeluk oleh Jung Soo, sedangkan Tuan Cho dan Donghae, mereka duduk bersebelahan dalam diam.
Tidak ada yang berbicara lagi setelahnya. Suasana benar-benar hening. Hanya detik jarum jam yang terdengar keras di telinga mereka masing-masing, bagai suara dentingan piano kematian.
Sementara itu, suasana di ruangan ICCU sangatlah berbanding terbalik. Para dokter dan perawat dalam keadaan panik, ketika dengan tiba-tiba, suara kardiograf yang dipasang di samping tubuh Kyuhyun yang terbaring lemah, menimbulkan bunyi piiiippp panjang.
Layar kardiograf pun menampilkan satu garis lurus panjang paling menyeramkan yang pernah ada.
Di situlah mental seorang dokter diuji. Apakah mereka akan panik kemudian pasrah, atau bersikeras pantang menyerah menyelamatkan satu nyawa paling berharga bagi semua yang menunggu di luar.
.
.
.
'Hei, jangan pergi.'
Dia bersandar di bahuku. Aku tidak mengerti, tapi anak ini memang mirip sekali denganku. Atau memang dia adalah aku? Entahlah. Tidak mungkin ada dua aku di dunia ini kan?
'Aku memang tidak bermaksud pergi dari sini, kok.'
Ya, rasanya aku tidak ingin pergi dari sini.
Di sini menyenangkan. Tempatnya sangat bagus, dan aku suka. Tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada udara tercemar dari asap pabrik.
Dan tidak ada orang lain selain kami.
'Bukan itu maksudku, bodoh!' Dia kembali bicara. Namun kali ini perkataannya membuatku sedikit kesal. Apa itu? Atas dasar apa dia menyebutku bodoh?
'Ck, kau membuatku kesal.' Aku menyingkirkan kepalanya yang bersandar di bahuku dengan kasar. Dia jatuh terjengkang di atas rumput hijau yang empuk. Ku rasa itu tidak akan membuatnya marah, karena rasanya pasti tidak sakit.
'Apa itu? Kau kekanakan sekali!'
Heh, yang dari tadi menggelayut manja itu siapa, hah? Siapa yang kekanakan di sini?! Kalau memang benar dia adalah aku, apa sikapku seperti ini? Menyebalkan? Manja? Kekanakan? Hey, jangan bercanda!
'Dengar ya, kau harus kembali. Kau tidak boleh di sini terus! Mereka masih membutuhkanmu, bodoh!' Lagi, dua kali dia menyebutku bodoh. Akan aku pukul kepalanya nanti.
'Kenapa aku harus kembali?' aku bertanya dengan nada malas, sambil mencabuti rumput hijau yang ada di sana. Udaranya yang sangat sejuk membuatku ingin berbaring memejamkan mata.
Tapi sepertinya tidak bisa, karena dia menarik tubuhku untuk segera bangun, dan akhirnya kami saling bertatapan. Ya..aku seperti sedang bercermin.
'Kau tega meninggalkan mereka?' Jari telunjuknya mengarah pada sekumpulan orang di bawah sana. Apa? Sedang apa mereka? Kenapa kelihatannya...
Tunggu, tunggu dulu. Aku..aku kenal siapa mereka.
Ya, aku sangat mengenal mereka.
'Sudah sadar? Mereka sangat berharga, kan?' Dia menatapku lagi. Kali ini tatapannya sangat sangat serius, sampai aku tidak bisa membuka mulut dan membalas kata-katanya.
Sebenarnya, dia siapa? Wajah kami serupa, tapi aku rasa..tetap ada yang aneh saat melihatnya. Kenapa? Ada apa dengan semua ini?
'Dengar, bagaimanapun juga, kau harus kembali. Jangan sia-siakan semua usahaku selama ini.'
Sial, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Usaha apa? Kenapa dia yang harus memutuskan? Ini hidupku. Harusnya aku yang..
Ah, hidup!
Tiba-tiba kepalaku rasanya sakit sekali. Seperti dihantamkan ke tembok berulang kali, lalu dihantam lagi menggunakan palu besi yang besarnya sangat sangat besar. Pokoknya sakit yang tidak tertahankan mendera seluruh bagian kepalaku.
Bayangan orang-orang yang ada di bawah sana muncul satu-persatu dalam pikiranku. Mereka bagaikan film yang diputar secara berulang-ulang. Ada rasa senang, sedih, terkejut, marah, benci, sesal, sakit, semua bercampur menjadi satu. Membentuk suatu kesimpulan bahwa itulah hidup.
Hidupku dengan mereka semua.
Aku mengerti sekarang. Aku berada di persimpangan antara hidup dan mati. Tempat indah ini bukanlah tempat untukku tinggal, dan dia...
'Kau siapa? Katakan apa maksud dan tujuanmu! Kenapa saat kali pertama kita bertemu tadi, kau bilang, aku meninggalkanmu? Bukankah kita memang tidak pernah saling kenal sebelumnya? Lalu kenapa wajahmu sangat mirip denganku? Apa aku punya semacam kepribadian...'
Aku terdiam, lidahku kelu. Senyumannya seolah menegaskan bahwa dia memang bagian dari diriku. Kepribadianku.
'Tolonglah, daya ingatmu ternyata rendah sekali ya? Padahal aku selalu bersamamu selama ini. Saat kau merasa terpuruk, aku selalu hadir. Saat mereka selalu menghinamu, menjauhimu, aku yang berada di sisimu. Tidak ingatkah kau, Kyu?'
Sialan. Sialan. Sialan. Apanya yang selalu berada di sisiku?! Dia terus saja membuatku sakit dan takut, kan? Cih!
Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat, berniat untuk menghajarnya dengan tinjuku. Namun sebelum aku melakukannya, dia telah lebih dulu memelukku. Kami berdua terdiam dalam posisi ini selama beberapa saat. Hembusan angin yang entah datangnya dari mana, telah membuat hatiku terasa hangat dan nyaman.
'Pulanglah. Kembali pada mereka yang sangat menyayangi dan mengasihimu, Kyu. Sekarang aku bisa melepasmu, karena kau tidak sendiri.'
.
.
.
"Cepat, tidak ada waktu lagi! Terus pompa jantungnya, sampai dia kembali bernapas! Jangan menyerah, kami mohon, jangan menyerah."
Karena kami akan sangat sedih jika kehilangan satu pasien lagi hari ini, batin sang dokter penuh harap.
Bukan hanya Kyuhyun yang sedang berjuang untuk hidup. Namun mereka pun sama. Para dokter dan perawat itupun sama-sama sedang berjuang untuk menyelamatkan satu nyawa yang sangat berharga bagi mereka-mereka yang menunggu di luar.
Lelah rasanya jika harus terus disalahkan atas kematian seseorang. Pun sedih rasanya jika harus melihat airmata yang tak kunjung henti ketika melihat jasad yang tertutupi kain putih itu diam tak bergerak.
Kematian itu hal yang mutlak. Tidak bisa ditunda, apalagi dicegah. Lantas, kenapa harus selalu dokter yang menjadi kambing hitamnya?
"...ter, dokter...dok?"
"Dokter!"
Tersentak.
Dokter itu terheran kala melihat asistennya, bahkan perawat yang membantu, tersenyum penuh rasa lega.
Mungkin karena terlalu banyak berpikir akan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi, serta kenangan masa lalu ketika dia harus dibenci oleh salah satu keluarga pasien yang meninggal, dokter itupun tidak menyadari bahwa kardiograf yang semula bergerak lurus, kini naik turun secara teratur.
Keajaiban, mukjizat, atau entah apalah namanya. Yang penting sekarang, mereka harus memberitahu keluarga pasien yang sudah menunggu selama berjam-jam, hanya untuk satu kepastian; tertolong atau tidak.
Selang beberapa saat, dokter itu pun keluar dari ruang ICCU. Masker yang menutupi wajahnya dia lepas, sehingga menampakkan raut letih yang jelas terlihat.
Nyonya Choi yang menyadari bahwa pintu itu telah terbuka, segera mennghampiri sang dokter dengan penuh harap. Donghae dan Jung Soo juga melakukan hal yang sama, hanya Tuan Cho lah yang tetap duduk diam sambil terus menundukkan kepala.
Sedangkan Changmin dan yang lainnya merasa tahu diri, kalau hanya keluarga Kyuhyun lah yang berhak untuk mendengarkan informasi yang akan disampaikan sang dokter dari jarak dekat.
Tidak perlu ikut-ikutan berkerumun di depan pintu masuk ruang ICCU, batin Changmin.
"Kondisinya masih belum stabil. Tapi masa kritisnya..sudah lewat." Dengan senyum puas terkembang di wajah, sang dokter pun menyampaikan kabar gembira tersebut.
Semuanya menghela napas lega.
"Tapi ada satu hal yang perlu anda─" rangkaian kalimat itu tiba-tiba terputus, saat seorang perawat berteriak dari dalam ruangan. Mengatakan bahwa, "dokter, pasien tiba-tiba siuman dan ingin bicara dengan ummanya."
Tanpa perlu menunggu, Nyonya Cho segera menerobos masuk ke dalam, diikuti dengan Donghae.
Keduanya tak sampai hati saat melihat Kyuhyun terbaring dengan berbagai macam alat menempel pada tubuhnya. Dan Donghae lah yang pertama mendekat dan memegang tangan dingin itu dengan erat.
Pemuda itu berulang kali mengatakan, "kau akan baik-baik saja, kau akan baik-baik saja, Kyu," seperti mantra.
Anehnya, Nyonya Choi masih tetap berdiri diam di tempatnya semula, berjarak sekitar satu meter dari tempat anaknya berbaring saat ini. Sampai telinganya menangkap sebuah suara yang terdengar sangat lirih, baru dia pelan-pelan mencoba mendekat.
"U-mma..."
Saat namanya keluar dari bibir anaknya, Nyonya Choi refleks memegang tangan dingin itu dan mendekapnya. Donghae sudah pindah ke sisi yang lain, saat ummanya mendekati mereka.
Tidak ada yang lebih mengharukan lagi selain pertemuan kembali ibu dan anak, yang beberapa tahun terakhir ini selalu bersitegang.
Namun yang sangat Donghae sayangkan adalah, kenapa harus dalam keadaan seperti ini? Tidak bisakah dia mengulang waktu?
"Umma...kau...di...sini..?" susah payah Kyuhyun berucap di sela napasnya yang masih tersengal. Entah keajaiban macam apa yang bisa membuatnya langsung tersadar di saat masa kritisnya belum terlewati.
"Kau jangan bicara dulu ya, umma di sini karena umma sadar, kalau kau sangat berharga untuk umma." Nyonya Choi membelai helaian coklat itu lembut. Pandangannya hanya tertuju pada Kyuhyun. Senyum memenangkan itu juga hanya tertuju pada Kyuhyun. Seluruh fokusnya kini hanya tertuju untuk Kyuhyun.
Seolah takut kalau sedetik saja pandangan atau fokusnya beralih, Kyuhyun akan menutup matanya.
"Umma...bo..leh...aku...meme...luk..mu?"
.
.
.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda mengenai Kyuhyun, Tuan Cho." Ucap sang dokter. Mimiknya terlihat serius, begitu pun Tuan Cho. Mereka berdua akhirnya berjalan ke arah ruangan sang dokter, diikuti oleh Jung Soo.
"Appa, boleh kan aku ikut?" tanya Jung Soo. Tuan Cho hanya mengangguk dalam diam.
Entah mengapa perasaan Jung Soo yang semula lega setelah mendengar bahwa Kyuhyun selamat dan sudah siuman, kini menjadi tidak enak kembali.
Pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh dokter itu. Sesuatu yang penting. Pasti. Batin Jung Soo.
"Silahkan masuk." Dokter itu berucap setelah mereka bertiga tiba di depan pintu bercat putih.
Jung Soo kira ruangan dokter itu penuh dengan bau obat dan organ-organ tubuh manusia, tapi ternyata tidak. Wangi aroma terapi yang menenangkanlah, yang memenuhi seisi ruangan.
Maklum, Jung Soo tidak pernah memasuki ruangan dokter seperti ini.
Tuan Cho berdeham, membuyarkan lamunan Jung Soo tentang ruangan yang wangi aroma terapi itu. Sang dokter pun memulai percakapan mereka dengan bertanya, "apa Kyuhyun mempunyai riwayat penyakit tertentu?"
Jung Soo menaikkan sebelah alisnya, bingung. Apalagi Tuan Cho, pria itu tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Dan juga...sudah lama sekali dia tidak tinggal bersama dengan mereka.
Oh, orangtua macam apa aku ini? Batin Tuan Cho.
"Setahuku, tidak dokter." Jung Soo yang menjawab. Dia tampak berpikir sejenak, sebelum melanjutkan, "tapi beberapa kali aku pernah menangkap basah Kyuhyun sedang kesakitan entah karena apa. Saat kutanya, dia hanya menggeleng, lalu pergi. Kondisi kejiwaannya juga saat itu sedang terguncang, karena perceraian orangtua kami. Itu sudah lama sekali."
Mendengar perkataan Jung Soo, Tuan Cho seakan tersadar bahwa apa yang selama ini dia lakukan adalah suatu kesalahan yang amat besar dampaknya.
"Jadi, ada apa dengan anak saya?" tanya Tuan Cho.
"Jantung anak anda lemah. Apalagi setelah kejadian ini. Racun yang masuk ke dalam tubuhnya memang sudah kami keluarkan, tapi karena kondisinya yang memang lemah sejak awal, jadi─"
"Lakukan apapun untuk membuatnya tidak merasakan sakit lagi! Aku mohon." Sambil terisak, Tuan Cho dengan cepat memotong perkataan sang dokter. Dan tanpa disangka, pria paruh baya itu membungkuk begitu dalam di hadapan dokter tersebut.
Jung Soo yang melihat sang appa begitu terpukul pun, sampai meneteskan airmatanya tanpa sadar.
"Tuan Cho, angkat kepala anda. Tidak perlu sampai begitu pun, saya pasti akan membuat Kyuhyun sehat kembali." Sang dokter tersentuh hatinya melihat seseorang dengan derajat tinggi seperti Tuan Cho, rela membuang jauh harga dirinya demi kesembuhan anaknya tersayang.
"Appa," Jung Soo memeluk tubuh sang appa dengan erat. Selama ini, Jung Soo tidak pernah melihat appanya begitu rapuh dan sedih.
Lagipula, orangtua mana yang tidak akan bersedih ketika tahu kondisi anaknya begitu memprihatinkan? Apalagi, Tuan Cho sudah lalai menjalankan tugasnya sebagai orangtua selama ini.
Materi berlimpah yang selalu dia kirimkan untuk anak-anaknya, tidak menjamin sang anak akan hidup bahagia. Yang mereka inginkan justru perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Dan Tuan Cho baru tersadar sekarang, saat semuanya sudah seperti ini. Saat dia hampir kehilangan salah satu anaknya.
"Lalu dokter, bagaimana kondisi Kyuhyun yang sebenarnya sekarang?" tidak dapat dipungkiri, masih tersisa getar dalam suara pria paruh baya tersebut.
"Mungkin hidupnya tidak akan sama lagi setelah kejadian ini, karena Kyuhyun pasti akan mudah merasa lelah. Selain itu, dia juga harus selalu mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh Rumah Sakit. Dan dia akan dirawat di sini selama sekitar 2-3 minggu sampai kondisinya benar-benar pulih."
Mendengar penjelasan sang dokter, Jung Soo mengangguk mengerti. Tangannya mengusap-usap punggung sang appa, seolah mengatakan bahwa Kyuhyun pasti akan baik-baik saja.
Sementara itu di ruangan tempat Kyuhyun berada, suasana penuh haru tercipta. Tidak ada yang tidak menangis melihat Nyonya Choi yang memeluk anaknya dengan lembut dan penuh perhatian. Semua perasaannya selama ini tercurah saat itu juga.
Tergambar dengan jelas di raut wajahnya yang cantik, bahwa dia sangat merindukan seseorang yang sedang dipeluknya sekarang. Seorang anak yang sudah lama dia abaikan, dia jauhi.
Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menguras emosi.
Changmin dan yang lainnya juga turut menyaksikan suasana penuh haru tersebut, setelah diizinkan masuk oleh salah seorang perawat, walaupun belum boleh melihat terlalu dekat. Karena dikhawatirkan akan membuat udara disekitar Kyuhyun menjadi sesak.
"Umma...jangan pergi lagi..." Kyuhyun berucap pelan dalam pelukan sang umma. Walau dalam keadaan sakit, dia merasa sangat bahagia.
Ingin rasanya dipeluk seharian oleh umma. Pasti menyenangkan jika bisa begitu.
"Umma tidak akan pergi kemana-mana lagi sayang. Umma sudah menyadari kebodohan umma selama ini. Kau begitu berharga untuk ditinggalkan. Maafkan umma..." Nyonya Choi mengusap-usap punggung anaknya penuh kasih.
"Aku juga...ingin minta maaf pada umma...maaf..kan..aku." Kyuhyun berucap dengan susah payah. Dia sudah berhasil lolos dari maut, dan sadar dengan cepat. Namun tubuhnya masih terasa sangat sakit.
Rasa takut yang luar biasa langsung memenuhi benak dan pikiran Nyonya Choi, saat menyadari ada yang aneh dengan kondisi anaknya. Donghae juga segera menyadari kalau Kyuhyun sedang merasa kesakitan.
Satu orang perawat yang berdiri di dekat Nyonya Choi segera melakukan tindakan pertolongan pertama dengan menaikkan kadar oksigennya, agar Kyuhyun dapat bernapas kembali dengan lancar.
"Sayang, kau akan baik-baik saja. Pasti, kau pasti akan baik-baik saja. Umma yakin, kau kuat. Bertahanlah.." Airmata tidak dapat dibendung. Melihat anaknya begitu bergantung pada sebuah mesin dan alat-alat yang dia tidak tahu namanya itu, membuat Nyonya Choi merasa sakit juga.
Donghae pun sama. Kalau bisa, kalau saja bisa, dia ingin menggantikan posisi Kyuhyun.
"Changmin?"
Kakinya seakan bergerak sendiri. Melangkah ke depan untuk lebih dekat melihat sahabatnya. Panggilan yang Sungmin tujukan padanya pun, diabaikan. Seluruh pusatnya kini tertuju pada Kyuhyun.
Baru kali ini aku merasa ada seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Seseorang yang aku tidak mau dia pergi begitu saja.
"Kyu?" ucap Changmin pelan. Pemuda itu baru bisa melihat keadaan Kyuhyun dari dekat. Menyedihkan rasanya, ketika melihat sahabatmu, hidupnya bergantung pada selang-selang dan alat-alat kedokteran yang sungguh membuat siapapun takut.
Kehadiran Changmin membuat Nyonya Choi mengalihkan pandangannya. Wanita paruh baya itu menatap Changmin dari samping. Matanya sembab, dan hidungnya merah. Dari sorot matanya pun, Nyonya Choi bisa tahu, kalau pemuda ini adalah salah seorang yang sangat menyayangi anaknya.
Kyuhyun beruntung memiliki orang-orang yang begitu peduli padanya.
"Kyu, ini aku, Changmin. Kau bisa mendengarku?" Changmin menggenggam tangan sahabatnya erat, tapi tetap lembut.
Kyuhyun mengangguk pelan. Napasnya berangsur-angsur kembali normal. Namun dia masih belum bisa untuk sekadar berucap, 'hai' pada Changmin.
"Masih banyak hal yang belum bisa kita lakukan bersama, lho. Jadi kau harus segera sembuh ya, Kyu!" Ucap Changmin semangat.
"Ya, benar apa yang dikatakan Changmin. Kau harus cepat sembuh! Setelah kau sembuh, aku akan membayar semuanya. Semua yang belum pernah kita lakukan bersama, Kyu!" Donghae juga tidak kalah semangat dari Changmin. Saking semangatnya, dia hampir berteriak, hingga sang umma pun menegurnya dengan cepat.
Tanpa disangka, keadaan yang semula tegang dan penuh kepanikan, kini berubah menjadi lebih tenang, berkat Changmin. Energi positif yang dibawa oleh bocah kelebihan tinggi badan itu seolah menular kepada semua orang yang ada di sana.
"Maaf, sudah waktunya pasien untuk beristirahat." Ucap sang perawat dengan sopan. Dia tahu, jika ada yang sangat keberatan dengan kata-katanya barusan. Lagipula, sudah 30 menit berlalu sejak mereka semua memasuki ruangan tempat Kyuhyun berada.
Heechul, Sungmin, Eunhyuk, dan Hankyung lah yang pertama kali keluar terlebih dahulu. Baru setelah itu, diikuti oleh Changmin. Hanya tinggal Nyonya Choi dan Donghae yang masih enggan beranjak dari sisi Kyuhyun.
"Umma tidak akan pergi lagi, Kyu. Umma janji." Ucap Nyonya Choi ketika dilihatnya sang anak masih menggenggam erat tangannya. Mengisyaratkan agar sang umma tetap berada di sisinya, sampai dia terlelap.
Sang suster yang menyadarinya pun, akhirnya membuat pengecualian untuk Nyonya Choi.
Dengan berat hati, Donghae melangkahkan kakinya perlahan ke luar ruangan sambil terus menatap ranjang di mana Kyuhyun berada. Pandangannya tidak mau lepas dari sang adik, bahkan ketika selangkah lagi dirinya berada di luar.
"Hae-ya, bagaimana keadaan Kyu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Jung Soo, wajahnya penuh harap. Wajar, berita baik lah yang ingin dia dengar.
Donghae tidak langsung menjawab pertanyaan hyungnya. Pemuda itu menghela napas terlebih dahulu, kemudian memposisikan dirinya duduk di sebelah sang appa. Penasaran, Jung Soo pun ikut duduk di sebelah Donghae, masih menatap adiknya penuh harap.
"Kyu baik-baik saja kok..." ucap Donghae akhirnya, dengan suara pelan. Jung Soo mengangguk. Pria itu memeluk pundak adiknya dengan hangat sambil mengatakan, "ya, Kyu akan baik-baik saja. kita harus percaya itu."
"Aku harus menemui seseorang, hyung." Donghae dengan pelan melepas pelukan Jung Soo, dan bangkit berdiri menuju satu tempat, di mana Eunhyuk berada.
Kekasihnya itu asyik menatap semut-semut yang berjalan beriringan di lantai, tidak menyadari bahwa Donghae sudah ada di depannya.
Tanpa kata-kata, terjadi dengan begitu tiba-tiba, Donghae merengkuh gadis pujaan dalam pelukannya. Yang menerima perlakuan tersebut jelas tergagap. Tubuhnya menghangat dan perasaan yang begitu nyaman mengalir ke seluruh aliran darahnya.
"Terima kasih ya, Hyukkie. Sudah mau bersamaku selama ini. Maafkan aku." Bisikan lembut yang keluar dari bibir Donghae membuat Eunhyuk merasa terenyuh. Walau sudah tahu bahwa Donghae pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, gadis itu tetap berada di sisinya.
"Manusia tidak luput dari yang namanya kesalahan, oppa. Jadi jangan takut, aku akan selalu ada di sisimu." Senyum merekah di bibir ranum Eunhyuk, meskipun cairan bening yang berkumpul di sudut matanya berdesakan ingin keluar karena rasa haru.
"Ehm! Bukannya aku iri atau apa ya, tapi bisakah kalian tidak bermesraan di depanku?" kalimat protes yang meluncur dari bibir Changmin membuat Eunhyuk dan Donghae seketika menghentikan kegiatan mereka. Rasa haru yang tadi sempat memenuhi atmosfer, kini tiba-tiba mendadak canggung sekaligus malu.
"Makanya cepat cari pacar sana, bocah!" Heechul menyenggol pundak Changmin, bermaksud untuk menggodanya. Bahkan sampai membuat tubuh jangkung Changmin goyah!
Gadis monster. Batin Changmin.
"Aku tidak mau berpacaran dulu sebelum Kyuhyun dinyatakan benar-benar sehat!" Changmin diam-diam mengedipkan sebelah matanya ke arah Sungmin, yang dibalas dengan kepalan tangan oleh gadis itu.
Donghae menatap teman-teman adiknya itu dengan sorot mata sayu. Dirinya sedang menyesali sesuatu yang telah dia sia-siakan sekian lama. "Aku iri padamu Changmin-ah. Kau dan Kyu terlihat akrab sekali."
"Eh? Aku memang sudah menganggapnya seperti saudara sendiri kok, hyung."
Mendengar ucapan Changmin tersebut, bibir pemuda itu tertarik ke atas, menepuk pundak Changmin dua kali, lalu pergi menjauh.
Eunhyuk sadar betul, bahwa kekasihnya begitu terpukul atas kejadian yang menimpa Kyuhyun. Ingin rasanya kaki Eunhyuk juga ikut melangkah bersama Donghae, tapi mungkin kekasihnya itu juga butuh waktu untuk sendiri.
Mereka pernah saling berjanji untuk selalu bersama sampai kapanpun.
Mereka pernah saling bersumpah setia untuk sama lain.
Mereka pernah saling berbagi dalam susah maupun senang, dalam canda dan tawa.
Mereka pernah saling membutuhkan, merindukan, dan saling mencintai.
Namun sekarang apa yang terlihat? Mereka seakan dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Bertatap saja enggan. Hanya demi satu orang tersayang, mereka berada dalam satu ruangan.
"Kita harus bicara." Pria paruh baya itu menatap lembut anaknya yang sedang terbaring, berusaha untuk tidak menatap lawan bicaranya.
"Aku ingin kita berdamai dengan masa lalu, demi Kyuhyun," ucap Tuan Cho, pandanganya tidak lepas dari raut wajah sang anak yang sedang terlelap. "Namun aku yang akan tinggal bersamanya," lanjutnya kemudian. Keputusan sepihak pun terlontar begitu saja.
Nyonya Choi tidak tahan lagi. Ingin rasanya dia berteriak, memaki pria yang berada di hadapannya ini dengan segala macam sumpah serapah yang ada di muka bumi.
Ulah siapa sampai dirinya berani untuk pindah ke pelukan pria lain? Kalau saja suaminya tidak begitu tergila-gila oleh pekerjaan, mungkin sampai saat ini mereka masih berbahagia dengan ketiga anaknya. Mungkin Nyonya Choi tidak akan mempermasalahkan kelebihan yang dimiliki Kyuhyun.
Mungkin ...
Mungkin ...
"Apa kau bilang? Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, apalagi mengurusnya? Satu-satunya yang berhak atas Kyu adalah aku, ibunya." Ucap Nyonya Choi dengan penuh penekanan dan sindiran.
Ego yang seharusnya bisa mereka tahan, kini menguasai keduanya secara penuh. Tidak ada satupun yang terlihat bersedia mengalah.
Sampai akhirnya satu kejutan membuat Tuan Cho tersentak. Tangan yang sedang digenggamnya bergerak pelan, seakan memberitahu bahwa kehadirannya juga diperhitungkan di sini.
Kata-kata yang sudah dipersiapkan untuk membalas mantan istrinya itu seolah lenyap tertelan rasa haru.
Kyuhyun merespon genggaman tangannya. Anak itu juga mungkin mendengar segala ucapannya dengan sang umma. Karena walaupun matanya terpejam, dan mulutnya tidak mampu berucap, telinganya masih mendengar dengan jelas.
Kedua orang dewasa itu seolah tertampar oleh kenyataan. Untuk apa mereka terus berdebat? Apakah dengan berdebat, Kyuhyun bisa sembuh dengan cepat? Apa dengan berdebat, mereka bisa menghapus kesalahan yang sudah mereka perbuat?
Jawabannya sudah tentu tidak.
Apa yang mereka lakukan tadi hanya akan menambah masalah.
Bukankah mereka sudah berjanji dalam hati masing-masing, untuk memperbaiki diri, demi keluarga?
"Aku berubah pikiran. Tidak seharusnya kita bertindak egois di saat Tuhan telah memberikan kesempatan keduanya kepada kita."
Setuju dengan ucapan pria di hadapannya, Nyonya Choi hanya bisa mengangguk. Hatinya luluh hanya dengan melihat wajah Kyuhyun yang begitu manis saat sedang tertidur, sama seperti saat masih berusia lima tahun.
"Emm.. maaf Tuan dan Nyonya, waktu kalian sudah habis. Pasien benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup. Kalau kondisinya sudah stabil, Tuan dan Nyonya boleh menemaninya selama mungkin." Ucap seorang suster yang sedari-tadi memperhatikan mereka berdua. Senyum canggung menghiasi wajahnya yang bulat.
Karena jika aku biarkan mereka saling tatap sambil mengeluarkan hawa membunuh, bisa jadi nanti keadaan pasien akan semakin memburuk. Ugh, aku tidak mau dimarahi dokter. Batin suster tersebut.
Tuan Cho dan Nyonya Choi akhirnya sepakat untuk keluar, meninggalkan sang anak yang masih asik memejamkan matanya.
"Kalian pulanglah, nanti kalau Kyu sudah sadar, pasti akan kuberitahu." Jung Soo mengambil sebuah korek dari dalam saku celananya, dan mendekatkan benda kecil itu ke arah rokok yang tersemat diantara bibirnya. Seolah tidak cukup dengan semua kelelahan yang Jung Soo hadapi hari ini, pria itu harus berhadapan dengan sekelompok remaja yang tidak mau beranjak sedikitpun dari depan ruang rawat Kyuhyun.
Harus dengan cara apa lagi, untuk membuat mereka mematuhi perkataanku? Batin Jung Soo, sambil menghisap rokoknya.
"Aku akan tetap di sini. Lagi pula, besok sekolah libur." Ucap Changmin dengan santai sambil menguap. Yang lain pun sama, mereka terlihat mengantuk sekali. Bahkan Hankyung sampai harus bersandar di bahu Heechul, karena tidak kuat menahan mata yang semakin memberat.
Beruntung, Heechul tidak keberatan dengan tindakan Hankyung, yang kalau dalam situasi biasa, akan jadi suatu tindakan yang fatal. Patah tulang misalnya.
"Nah, biar aku antar kalian pulang agar bisa tidur nyenyak di rumah." Jung Soo masih berusaha. Tidak akan dia biarkan mereka sampai sakit gara-gara tidak mendapat istirahat yang cukup.
Namun perkataannya hanya dianggap angin lalu oleh Heechul, Changmin, Sungmin, Eunhyuk dan Hankyung yang sudah setengah terpejam, saling bersandar pada bahu satu sama lain. Yang merupakan kesempatan emas bagi Changmin, karena Sungmin ada di sebelahnya.
"Biarkan saja mereka, hyung." Tiba-tiba Donghae sudah berdiri di sebelah Jung Soo, menyodorkan segelas minuman hangat yang dari aromanya sudah pasti itu kopi.
Hening untuk beberapa menit.
Jung Soo sibuk dengan rokoknya yang tinggal tersisa setengah, sedangkan Donghae masih asik meniup-niup gelas berisi kopi, sampai uapnya membuat wajah pemuda itu hangat.
Melirik ke samping, sepertinya Eunhyuk kedinginan. Tanpa ada satu detik untuk berpikir, Donghae langsung melepas jaket yang dipakainya untuk menghalau udara dingin yang mengganggu tidur sang gadis.
"Aku rasa...kau perlu tahu tentang ini, Hae-ya." Jung Soo sudah mematikan rokoknya. Dia memperhatikan Donghae yang masih membenarkan posisi jaketnya di tubuh mungil Eunhyuk.
Pria itu menunggu sampai sang adik selesai dengan kegiatannya.
Merasa posisi jaketnya di tubuh mungil Eunhyuk sudah pas, Donghae pun kembali berkutat dengan gelas kopinya. "Mau bicara apa?" lanjut Donghae, setelah merasakan rasa kopi itu memasuki mulut, mengalir menuju tenggorokan.
"Tentang kondisi Kyuhyun saat ini." Jung Soo sengaja memberi jeda pada perkataannya. "Sebelum aku bilang, tolong jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Hae-ya."
Sebagai jawaban, Donghae mengangguk.
"Kondisi Kyuhyun saat ini tidak bisa dibilang baik. Walau racunnya sudah berhasil dihentikan untuk menyebar sampai ke jantung, namun tetap saja...berefek pada tubuhnya. Dan..." ada jeda lagi. "Setelah dia dinyatakan sembuh pun, tubuhnya tidak sekuat dulu. Tanpa disangka, jantungnya akan melemah."
Donghae tidak menyahut. Pemuda itu hanya diam sambil menatap cairan hitam yang mulai menghangat di dalam gelasnya.
Mungkin Donghae hanya tidak tahu harus bereaksi apa saat mendengar berita itu dari Jung Soo. Atau mungkin Donghae, sedang menyalahkan dirinya sendiri lagi di dalam hati.
Tanpa diduga, Changmin masih memasang baik-baik telinganya dan mendengar semua yang dikatakan oleh Jung Soo.
Perasaan bocah itu bercampur aduk. Sedih, marah, kesal. Namun tidak tahu harus dilampiaskan kepada siapa. Kenapa pula harus sahabatnya yang menanggung semua itu?
"Hyung, aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri lagi atas apa yang telah terjadi saat ini pada keluarga kita. Karena aku tahu, percuma saja. Semuanya tidak akan kembali seperti semula. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menjaganya dengan sepenuh hati, tidak menyia-nyiakannya lagi, dan yang paling penting dari itu semua, aku akan selalu menemaninya seperti yang dia inginkan sedari dulu." Donghae menatap Jung Soo penuh kesungguhan. Tidak ada satupun keraguan dalam tatapan dan ucapannya.
"Adikku sudah dewasa dan bertanggung jawab. Baik hati, dan sangat menyayangi keluarganya. Hanya saja, dia sedikit bodoh, haha." Ucap Jung Soo sambil tertawa. Dan anehnya, airmata juga ikut mengalir di sela-sela tawa itu. Airmata haru, bukti bahwa Jung Soo telah bangga kepada dua adiknya yang begitu hebat.
"Ck, setelah memujiku, kau lalu mengejekku. Apa maksudnya itu, huh?" Donghae sedikit merajuk. Tetapi kemudian, dia memeluk hyungnya itu dengan erat sambil berulang kali mengucapkan kalimat, "aku janji."
END
Thanks to:
kyunoi, Guest, tary sa, kyuhae, widiantini9, cho sabil, Patrisya921, Whii ElfSparkyu, Bmw, kyukuk, angella, kyukyung19, sugarfree97, firaarifin21, cindy, ilmah, alicehamy, Hanna shinjiseok, Filo Hip, yul, tantwill, , Emon204, , yunia christya, ryeonias, Rye, waow, kakagalau74, sarah, chairun, iloyalty1, hyunchiki, dewidossantosleite, bydnunas, readerfanpit, meimeimayra, ainkyu, phiexphiexnophiex, Sparkyubum, sfsclouds, Chiffa Kazza, kyu doilove, hee seol, yunacho90, septianurmalit1, yolyol, hyunnie02, , phn19, ririzhi, Nisa, gui88, dewiangel, nanakyu, sitihalimatussadiah124, ayuesetya, kyuli99, cinya, Awaelfkyu13, Rahma94, oktalita1004, Raein13, Desviana407, Shofie Kim, kyume801, fikyu, oracle88, dan masih banyak lagi. Tanpa kalian, saya gak akan semangat
Makasih, makasih, makasih, dan maaf updatenya terlalu lama :") maaf juga kalo hasilnya kurang berkenan di hati kalian masing-masing.
Ini belum benar-benar berakhir
#masihadaEpilog
Review? ^^
