"JEON WONWOO!"

Lee Jihoon menjerit keras tak terima ke arah Wonwoo yang berlari kabur setelah berhasil mengerjainya.

Baru saja, Wonwoo dengan wajahnya yang terkejut mengatakan bahwa ada cicak belang-belang merayap di bahu Jihoon saat ia bersandar di pohon sambil mendengarkan musik. Jihoon yang dasarnya sangat takut dengan reptil kecil itu pun langsung menengok, menjerit, dan menepuk-nepuk bahunya heboh.

Namun ia tidak menemukan apapun di bahunya. Ia lihat Wonwoo yang justru tertawa terpingkal-pingkal melihatnya, hingga Jihoon sadar bahwa ia baru saja dikerjai gadis jahil itu.

"Tunggu Wonwoo! Ish! Awas kau ya!" Umpat Jihoon kesal.

Wonwoo terus berlari mengitari pekarangan rumahnya yang luas, jarak mereka cukup jauh sampai ia melewati pintu utama rumahnya.

"Nona Wonwoo jangan berlarian." Tak dihiraukannya peringatan halus dari beberapa asisten rumah tangga yang dilewatinya, Wonwoo masih berlari dengan Jihoon yang mengejarnya di belakang.

"Wonwoo!"

BRUK!

Wonwoo sudah menghilang dibalik pintu dan malangnya Jihoon, gadis mungil itu jatuh terpelanting setelah menabrak seseorang.

"Astaga! Kau baik-baik saja?"

Jihoon seketika blank. Hidungnya nyeri sekali setelah bertubrukan keras dengan sesuatu. Ia yakin itu adalah dada laki-laki, karena terasa dari ototnya yang keras.

"Kau baik-baik saja?"

"Jihoon, kau kenapa?"

Jihoon meringis pelan. Matanya menangkap dua orang lelaki, satu orang –yang pasti adalah orang yang ditabraknya- tengah berjongkok mengkhawatirkannya, dan seorang lagi ia kenal sebagai kakak Wonwoo.

"Seungcheol Oppa.." Jihoon sempat menundukan kepalanya ke arah Seungcheol yang berdiri di depannya sembari melipat dada, sebelum akhirnya pandangannya beralih pada lelaki yang ditabraknya tadi.

"Kami tidak sengaja bertabrakan, Seungcheol-ah."

Seungcheol berdecak pelan melihat Jihoon.

"Wonwoo berlari masuk ke kamarnya. Kalian ini jangan berlarian, kalau jatuh sakit kan?" Seungcheol malah dengan cerewetnya mengomel.

Jihoon yang masih memegangi hidungnya yang memerah hanya bisa menunduk. Ingin sekali ia menjawab omelan Seungcheol, namun Jihoon ingat bahwa salahnya juga karena berlarian di kediaman keluarga Jeon ini.

Plus Jeon Wonwoo sahabat jahilnya yang justru menghilang dan membuatnya terjebak di antara dua lelaki dewasa ini.

"Hidungmu sakit sekali ya?" Jihoon tanpa sadar menganggukan kepalanya. Lelaki yang ditabraknya itupun ikut meringis, ia nampak menyesal.

Setelah menggumamkan kata maaf, ia bantu Jihoon berdiri.

"Eoh! Jihoon kau kenapa?!"

Wonwoo tiba-tiba saja muncul, tanpa dosa ia datang dan menyeru keras tepat di telinga Seungcheol. Sang kakak yang terkejut pun refleks memukul bokong Wonwoo keras dengan map kertas yang dibawanya.

PLAK!

"Ish! Oppa!" Wonwoo mengaduh kencang. Seungcheol sampai mengernyit, telinganya lagi-lagi berdengung mendengar jeritan Wonwoo.

"Jihoon jatuh karena mengejarmu! Makanya jangan berlarian bodoh!" Seungcheol balas berteriak.

"Yak! Kau yang bodoh! Pabbo Oppa!"

DUAGH!

"ARGHHH! WONWOO!"

"Rasakan!" Wonwoo dengan senang hati balas menendang bokong Seungcheol. Lalu melenggang melewati sang kakak menuju Jihoon yang masih duduk melongo melihatnya.

"Permisi ya Soonyoung Oppa, aku mau ajak Jihoonnie ke kamarku."

Langsung saja Wonwoo menyeret Jihoon yang masih bingung melihat kelakuannya dan Seungcheol sebelumnya. Seungcheol sampai membungkuk-bungkuk menahan sakit. Namun ia ingat cerita Wonwoo soal tanda sayangnya pada Seungcheol.

Saling pukul bokong, katanya.

"Ish! Wonwoo! Awas kau ya!" Seungcheol mengepalkan tangannya ke udara, seperti hendak meninju sang adik.

Wonwoo lalu menjulurkan lidahnya ke arah Seungcheol sebagai balasannya; dan tak berbeda dengan Jihoon, lelaki yang Wonwoo panggil 'Soonyoung Oppa' itu juga tak kalah bingung melihat kelakuan aneh kakak beradik ini.

"Dasar anak itu!"

Soonyoung berdecak pelan. "Wonwoo berani menendangmu?" Ucapnya takjub dengan keberanian Wonwoo yang semakin membuat Seungcheol kesal.

Seungcheol memutar matanya malas. "Dia memang menyebalkan!" Gerutu Seungcheol sembari menepuk-nepuk bokongnya.

Wonwoo pasti bermain di halaman depan tanpa menggunakan alas kaki, akibatnya belakang celana Seungcheol kotor karena terkena tendangannya.

"Gadis mungil itu temannya?"

Seungcheol mengangguk. "Ya, Namanya Lee Jihoon."

Soonyoung pandangi Wonwoo yang berjalan cepat menaiki tangga bersama Jihoon yang mengikutinya. Jihoon sempat menarik tangannya dari Wonwoo dan mereka berdebat kecil di tengah tangga.

Soonyoung tanpa sadar tersenyum melihat keduanya.

"Adikmu dan temannya lucu.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Prosaic

By : Dara

Summary : "Aku ini biasa saja, Mingyu." Mingyu memang terkecoh awalnya, namun kali ini tidak. Mingyu yakin bahwa penilaian Wonwoo akan dirinya sendiri salah, karena apa yang dinilai biasa saja oleh seseorang belum tentu biasa pula menurut penilaian orang lain. "Tidak, kau jauh dari kata biasa Wonwoo." You aren't prosaic, you're totally shocking! Meanie, Jeon Wonwoo Kim Mingyu FF, GS.

Cast : Kim Mingyu – Jeon Wonwoo. Meanie – Minwoo. Genderswitch. Don't Like Don't Read.

Special Chapter : Lee Jihoon.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


0000000000000000000


"Wonwoo-ya, dia siapa?"

Jihoon seakan lupa dengan kejahilan Wonwoo saat di pekarangan rumah tadi, karena tepat setelah mereka masuk ke kamar Wonwoo yang luas, ia langsung bertanya.

Wonwoo sedang melepaskan kausnya hingga bra merahrenda yang dikenakannya terlihat. Wonwoo lempar kaus yang basah karena keringat itu ke pojok ruangan tempat bak pakaian kotornya berada. Gadis cantik puteri tunggal keluarga Jeon itu lalu menoleh ke arah Jihoon.

"Dia teman kakakku. Namanya Kwon Soonyoung."

Jihoon mengangguk-anggukan kepalanya sembari menggumamkan nama Kwon Soonyoung beberapa kali, seperti sedang mengingat nama lelaki yang menurutnya tampan itu.

Wonwoo berjalan menuju lemarinya dan mengambil handuk bersih. "Kau mau mandi juga?" Tawarnya dan dijawab nanti saja oleh Jihoon.

Gadis mungil itu sepertinya masih penasaran dengan Kwon Soonyoung.

"Kau tadi kenapa?" Tanya Wonwoo.

"Kami tidak sengaja bertabrakan tadi." Jihoon mengangkat bahunya "Lebih tepatnya aku yang menabraknya."

"Eiyyy.. seperti di drama saja kalian itu!" Ledek Wonwoo sembari memainkan handuknya. Jihoon yang tak terima diledek lantas melepar Wonwoo dengan bantal kecil bentuk kepala beruang di dekatnya ke arah Wonwoo.

Bukannya marah, Wonwoo justru tertawa dan semakin meledeknya Jihoon.

"Hidungku sakit tahu! Dadanya keras sekali seperti batu!" Keluh Jihoon pura-pura kesal agar Wonwoo berhenti meledeknya.

"Wah! Tentu saja! Ia kan seorang koreografer!" Wonwoo membulatkan matanya lucu. "Dadanya pasti berotot karena terlalu sering menari! Boom Boom Boom Boom Boom Boom!"

Wonwoo selalu saja antusias saat sedang menceritakan sesuatu pada Jihoon. Ia bahkan ikut menirukan dance dari boygroup idolanya saat bercerita tentang Soonyoung yang seorang koreografer.

Ingat, jika Wonwoo sudah melepas kausnya dan hanya mengenakan bra merah dan celana jeans saja karena ia sedang bersiap mau mandi. Untung saja badannya bagus, Jihoon jadinya tak protes. Ia justru refleks ikut membulatkan matanya mendengar cerita Wonwoo.

Profesi sebagai koregrafer tentu sangatlah keren bagi anak sekolah menengah atas seperti mereka.

"Benarkah?"

"Heol! Ia bahkan pernah ditawari bekerja di Starlight Entertaiment!"

"Apa?!" Jika saja mata manusia dapat menggelinding keluar karena terkejut, mata Jihoon pasti sudah menggelinding sekarang saking terkejutnya.

Wonwoo jadi semakin yakin jika sahabatnya itu pastilah terpesona pada Soonyoung, sama seperti ketika ia pertama kali melihat lelaki Kwon itu tiba di rumahnya.

"Namun sayang sekali Soonyoung Oppa menolak tawaran itu."

Bagaikan baru saja diterbangkan ke langit lalu jatuh secara tiba-tiba, Jihoon entah kenapa merasa sakit sekali. "Kenapa?" Tanyanya mendadak lesu.

Wonwoo lantas menghentikan gerakan-gerakan konyolnya dan balas menatap Jihoon tak kalah lesu.

"Ayahku menawarkan jabatan yang cukup bagus untuk Soonyoung Oppa di kantor, dan sebagai bentuk pengabdiannya pada keluargaku, ia menerima tawaran ayahku."

Tanpa sadar membuat Jihoon melengkungkan bibirnya ke bawah.

"Jadi ia menolak tawaran dari Starlight Entertaiment karena memilih bekerja di kantor ayahmu?"

"Begitulah, mulai minggu depan ia akan bekerja di sana bersama dengan Seungcheol Oppa."

Entah kenapa Jihoon merasa jika Soonyoung seperti mengabaikan passion-nya. Menari pasti sangatlah berarti untuknya, pikir Jihoon. Soonyoung bahkan sampai ditawari bekerja di agensi ternama di negara ini namun ia menolaknya, dan entah pantas atau tidak Jihoon menyayangkan pilihan Soonyoung.

"Mengapa banyak sekali orang yang mengabdi pada keluargamu?" Tanya Jihoon penasaran.

Ia tak lagi berpikir bahwa Wonwoo akan tersinggung dengan pertanyaan sarkasnya, karena ia tahu Wonwoo bukanlah orang yang mudah tersinggung.

"Aku juga tidak tahu." Gadis cantik bermarga Jeon itu pun mengangkat bahunya. "Mungkin untuk yang satu ini karena semua biaya pendidikan Soonyoung Oppa ditanggung oleh ayahku, termasuk pendidikan S2-nya di Jepang."

Jihoon mengangguk-anggukan kepalanya paham. Balas budi, Jihoon sudah dapat jawabannya sekarang.

"Tapi Jihoon-ah."

"Hm?"

Jihoon menatap ke arah Wonwoo yang sedang melepas celana jeansnya, memperlihatkan celana dalam merah yang senada dengan branya. Gadis itu punya kebiasaan sebelum mandi selalu melepas seluruh pakaiannya di luar kamar mandi, bukannya di dalam. Jihoon sudah sangat terbiasa melihat kebiasaan aneh sahabatnya itu.

Wonwoo balas menatap Jihoon setelah kembali berhasil melempar celana jeansnya ke bak pakaian kotor.

"Kau kan salah satu trainee di Starlight Entertaiment. Jika saja Soonyoung Oppa menerima tawaran menjadi koreografer di sana, kau pasti sudah jadi anak muridnya!" Wonwoo berkata sambil menaik-turunkan alisnya.

"Ia pasti akan mengajarimu menari seperti ini! AJU NICE!" Kembali Wonwoo menirukan gaya menari idol group favoritnya, SEVENTEEN, dengan tubuh kakunya itu.

"Saat nanti kau melakukan kesalahan, ia akan mengajarimu sambil berkata 'Seperti ini gerakannya Jihoonnie'"

Rona merah perlahan menjalar di pipi Jihoon, bahkan sampai ke telinganya. Bukan karena Wonwoo yang menari-nari bodoh hanya dengan bra dan celana dalam. Tapi karena khayalan liarnya tentang Kwon Soonyoung.

"Kau nanti akan memanggilnya Pelatih Kwon~"

BUGH!

"Sudah mandi sana!"

Jihoon kembali melempari Wonwoo dengan beberapa bantal boneka berkali-kali, sampai Wonwoo masuk ke kamar mandi kamarnya dengan perut yang sakit karena terlalu banyak tertawa.


0000000000000000000


Hari-hari berlalu, bulan bertemu bulan, dan tahun telah berganti, tak terasa sudah dua tahun lamanya Jihoon menjalani kehidupannya sebagai seorang trainee di Starlight Entertaiment. Jihoon adalah satu dari sekian banyak remaja beruntung yang berkesempatan menjadi bagian dari agensi ternama yang telah melahirkan banyak bintang di dunia hiburan Korea Selatan itu.

Suaranya yang bagus dan kemampuannya dalam bermusik membuat Jihoon bertahan di tengah kerasnya kehidupan seorang trainee. Demi mengejar cita-cita sebagai idol, Jihoon bahkan rela meninggalkan kampung halamannya dan tinggal di Seoul seorang diri.

Ia juga kehilangan banyak waktunya untuk bersenang-senang selayaknya remaja seusianya. Pagi hingga menjelang sore hari, Jihoon pergi ke sekolah seperti biasa. Lalu sore hingga larut malam ia akan berlatih, entah itu latihan vokal, dance, bahkan akting.

Ia biasanya diberi waktu libur seminggu sekali untuk pulang ke rumah atau bermain ke luar. Berhubung Jihoon berasal dari kampung, waktu liburnya biasa ia gunakan untuk bermain di rumah Wonwoo yang besarnya menyerupai kastil.

Namun untuk kali ini Jihoon memilih untuk tidak menikmati waktu liburnya. Ada project besar yang harus ia lalui bulan ini sebagai bentuk dari evaluasi para trainee, jadi ia harus berlatih lebih keras dari sudah dua tahun, Jihoon tetap harus mengikuti evaluasi, bahkan seniornya yang sudah tujuh tahun menjadi trainee pun tetap menjalaninya.

"Waktunya istirahat."

Jihoon menghela napas lega, waktu istirahat siang telah tiba. Ia biasanya diberi waktu satu setengah jam untuk istirahat sebelum melanjutkan ke sesi latihan berikutnya.

Gadis mungil itu biasa beristirahat dengan beberapa orang temannya, namun berhubung ini hari libur, tak banyak temannya yang datang latihan. Jadilah Jihoon menikmati makan siangnya sendiri hari ini.

Ia berjalan menuju kafetaria. Jihoon tak ahli dalam menari, ia tidak terlalu pandai dalam urusan mengingat gerakan, jadi selagi berjalan ia gerak-gerakan tangannya mengingat koreografi lagu yang sedang ia pelajari, sampai..

BRUK!

Jihoon menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. Seakan takdir selalu membawanya untuk bertabrakan dengan orang yang sama, Jihoon terkejut setengah mati.

"S-Soonyoung Oppa.."

Setelah sekian lama sejak terakhir kali Jihoon melihatnya di kediaman keluarga Jeon, mereka kembali bertemu. Soonyoung tersenyum ke arahnya. Lebar sekali sampai matanya serasa menghilang.

"Halo Jihoonnie." Sapanya hangat dan ramah.

Beruntung Jihoon masih ingat caranya bernapas dengan benar, setidaknya sampai Soonyoung melepaskan tangannya dari lengan Jihoon agar ia tak terjatuh.

Ketampanan Kwon Soonyoung benar-benar tidak masuk akal.

Pada pertemuan pertama mereka, Soonyoung terlihat dewasa dengan setelan celana bahan dan kemeja tangan panjang bergarisnya yang formal. Sementara kali ini, Soonyoung terlihat mengenakan kaos putih bertuliskan Highlight! yang dipadukan dengan jaket denim, ripped jeans, dan sneakers putihyang lebih casual dan trendy.

Same face but in the different vibe. Jihoon sampai terkesima melihatnya.

"Apa yang kau sedang lakukan di sini?" Tanya Soonyoung setelah sekian lama terdiam. Jihoon mengerjapkan matanya berulang kali, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Soonyoung lirih. "Aku trainee di sini."

Soonyoung sempat membulatkan matanya terkejut. "Benarkah?"

Jihoon mengangguk malu. Selama ini hampir tak ada orang yang seantusias ini mendengar jawaban itu, karena kedua orang tuanya sendiri sempat menentang keinginan Jihoon untuk menjadi trainee.

Sejauh ini hanya Wonwoo dan ditambah dengan Soonyoung yang sumringah mendengar jawabannya.

"Oppa sendiri?" Tanya Jihoon balik. Sekedar basa-basi untuk menetralkan jantungnya yang berdetak kencang, hingga tanpa sadar ia melirik ke arah map yang Soonyoung bawa di tangan kanannya.

Senyum lebar langsung terbit di wajah Jihoon, ia sampai berani menatap wajah sumringah Soonyoung saat menemukan ada logo resmi agensinya di map yang Soonyoung bawa.

"Oppa." Jihoon sangat berharap jika dugaannya benar.

"Aku akan bekerja di sini sebagai koreografer mulai minggu depan."

Jihoon tak mampu menutupi rasa senangnya sekarang. Soonyoung sampai terkekeh melihat reaksi gadis mungil dihadapannya ini. Jihoon sangatlah lucu dan menggemaskan di matanya, sama seperti Wonwoo.

"Kau sedang istirahat?"

"I-iya."

"Bagaimana jika kita makan siang bersama di kafetaria?"

Jihoon rasa ini adalah hari paling beruntung dalam hidupnya.


0000000000000000000


"Wonwoo cerita padaku, ia bilang Oppa bekerja di perusahaan Paman Jeon." Jihoon membuka pembicaraannya setelah Soonyoung meletakan sumpitnya di atas meja.

Lelaki tampan bermarga Kwon itu terkekeh pelan mendengar pertanyaan pembuka Jihoon. Sedari tadi mereka diam, keduanya baik Soonyoung maupun Jihoon sama-sama menghormati kemungkinan salah satu di antara mereka tak ingin bicara saat makan.

Padahal untuk Soonyoung sendiri ia tak masalah jika ingin berbincang selagi makan, namun ia khawatir jika Jihoon tidak menyukainya. Jadi ia memutuskan untuk tetap menunggu gadis mungil itu berbicara lebih dulu.

"Wonwoo banyak bercerita tentangku padamu?"

"Uhuk!"

Jihoon tiba-tiba saja tersedak sesuatu, padahal ia sudah menyelesaikan makannya lebih dulu dari Soonyoung. Entah kenapa dengan gadis itu, Soonyoung refleks menyodorkan gelas jus jeruk milik Jihoon ke arahnya.

"Kau baik-baik saja?"

Jihoon menganggukan kepalanya cepat setelah berhasil mengontrol dirinya. Setampan itukah Kwon Soonyoung sampai Jihoon tersedak ludahnya sendiri? Atau mungkin karena pertanyaan mendadak lelaki itu?

Jihoon menundukan kepalanya malu. Takut Soonyoung berpikir bahwa ia mengorek-ngorek informasi dari Wonwoo. Seharusnya Jihoon memulai percakapan mereka dengan pertanyaan umum saja, bukan pertanyaan spesifik seperti itu. Jihoon mengutuk dirinya keras.

"Jadi?"

"Ya?" Jihoon melongo dengan mata yang membulat dan mulut yang terbuka.

Soonyoung pikir, seorang trainee haruslah supel dan cerewet seperti beberapa orang yang dikenalnya. Namun sepertinya Jihoon berbeda, ia terlihat pemalu. Rasanya di usianya yang ke-27 tahun ini, baru ia temui remaja sepolos Jihoon yang canggung, kikuk, dan mudah merona pipinya.

"Jadi, apa Wonwoo bercerita banyak tentangku padamu?"

Jihoon menelan ludahnya kasar. Tamat sudah, Soonyoung pasti sudah bisa membaca gelagatnya yang aneh. Soonyoung pasti berpikir bahwa Jihoon adalah stalker yang memanfaatkan Wonwoo sebagai sumber informasi.

"Tidak juga.."

"Benarkah?"

"Wonwoo hanya bercerita tentang Oppa yang mendapat penawaran dari Paman Jeon. Kebetulan Wonwoo tahu bahwa aku trainee di sini, jadi ia bercerita juga soal Oppa yang mendapat penawaran bekerja di Starlight." Jelas Jihoon berusaha senatural mungkin.

Soonyoung tersenyum mendengarnya. "Kau nampak senang aku menerima bekerja di sini?"

Sesulit apapun ia harus tetap terlihat tenang, agar tidak semakin terlihat mencurigakan. Jihoon sempat menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

"Iya, karena aku kurang suka dengan guru koreografi kami. Dia terlalu galak."

Soonyoung tergelak. Jihoon sengaja memelankan suaranya, seakan takut perkataannya di dengar oleh orang lain di kafetaria. Tak salah Soonyoung menilai Jihoon lucu.

Sementara Jihoon menghela napas lega. Ia berhasil membuat alasan yang bagus dan meyakinkan. Tidak lucu bukan jika ia berkata jujur bahwa alasan ia senang karena bisa bertemu dengan Soonyoung lagi setelah pertemuan mereka di kediaman Jeon.

"Kau kan salah satu trainee di Starlight Entertaiment. Jika saja Soonyoung Oppa menerima tawaran menjadi koreografer di sana, kau pasti sudah jadi anak muridnya!"

Perkataan Wonwoo, dan candaan sahabat karibnya yang bodoh itu tiba tiba saja melintas di kepala Jihoon. Alhasil rona merah di pipinya kini semakin melebar menuju telinganya.

"Bukankah pelatih yang galak itu bagus?" Tanya Soonyoung setelah berhasil menghentikan tawanya.

Jihoon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak juga.."

Soonyoung tebak, Jihoon pasti tipikal trainee yang justru down setelah dimarahi oleh pelatihnya. Padahal menurut Soonyoung itu bagus, agar kedepannya Jihoon tidak melakukan kesalahan lagi dan lebih semangat berlatih.

"Maaf mengecewakanmu, tapi aku bekerja di sini bukan untuk menggantikan Pelatih Bae Yoon Jung."

Jihoon mengerjapkan matanya beberapa kali. Sepertinya Soonyoung benar-benar mempercayai alasannya. Betapa hebatnya ia bisa berbohong pada Soonyoung. Pelatih Bae memang galak, namun baru saja kemarin ia memuji progress Jihoon dalam menari.

Jihoon sebenarnya tidak ada masalah dengan pelatihnya itu, ia hanya beralasan saja. Jihoon tanpa sadar tersenyum. Ternyata bukan hanya kemampuan menarinya yang meningkat sedikit demi sedikit, tapi kemampuan aktingnya juga.

"Aku hanya akan bekerja di hari libur, karena aku masih harus bekerja di perusahaan ayah Wonwoo bersama Seungcheol." Jelas Soonyoung. "Aku juga akan lebih fokus pada trainee laki-laki daripada perempuan. Seperti itu kontraknya."

Soonyoung terkekeh pelan. Ia seperti memiliki kewajiban untuk memberikan penjelasan pada Jihoon, entah untuk alasan apa pastinya, ia hanya ingin saja.

Jihoon lalu mengangguk-anggukan kepalanya.

"Tapi jika aku punya waktu luang, kita bisa berlatih bersama agar kemampuanmu semakin meningkat. Kau mau?"

Jihoon sebenarnya tidak berharap akan bisa berlatih bersama atau dengan kata lain 'diajari' oleh Soonyoung. Jihoon sudah cukup senang dengan keputusan Soonyoung bekerja di Starlight. Dengan demikian lelaki itu tetap bisa menyalurkan passion-nya dalam menari, namun tetap bisa mengabdi pada keluarga Jeon –meskipun Jihoon sendiri tak mengerti pengabdian apa yang dimaksud sebenarnya-.

Namun saat mendengar penawaran itu, tentu Jihoon tak akan menolak. Kedepannya mungkin mereka bisa berhubungan dengan baik.

"Tentu saja, jika kau tidak keberatan Soonyoung Oppa."

Soonyoung tersenyum, lagi-lagi saking lebarnya ia tersenyum, matanya sampai tak terlihat. Jihoon mulai menyukai senyum itu dan berniat untuk terus melihatnya mulai sekarang.


0000000000000000000


Tanggung jawabnya di kantor yang cukup besar ditambah dengan kewajibannya untuk melatih para trainee yang siap debut, membuat Soonyoung benar-benar sibuk sekarang.

Namun ia berusaha menikmati waktunya dengan sebaik mungkin. Soonyoung sangat mensyukuri apa yang ia lalui sekarang, karena di satu sisi ia bisa terus bekerja untuk membalas budi baik ayah Wonwoo namun di sisi lainnya ia tetap bisa menyalurkan passion-nya dalam menari. Sehingga, meskipun lelah, lelaki tampan itu tetap bisa tersenyum tanpa pernah mengeluh sedikitpun.

Soonyoung benar-benar seorang pekerja keras. Salah satu hal yang membuat Jihoon semakin kagum dengannya.

Terhitung sudah hampir setengah tahun Soonyoung bergabung bersama Starlight Entertaiment, dan mereka semakin dekat. Soonyoung memang berkata bahwa ia hanya akan datang di hari libur, tapi kenyataannya, lelaki itu seringkali datang di hari-hari biasa.

Jika tidak lembur di kantor, ia akan datang ke agensi di malam hari untuk menyapa para trainee dan memperhatikan progress latihan mereka.

Selain itu tentu saja untuk menemui Jihoon. Entah itu untuk latihan bersama seperti yang ia janjikan pada Jihoon sebelumnya, atau sekedar makan malam bersama dan mengantar Jihoon pulang ke dorm.

Jihoon akan selalu merona tiap kali mengingat keakrabannya dengan sang pelatih.

Jennie, salah satu teman trainee-nya bahkan pernah berkata "Kau itu berniat untuk membuat skandal masa lalu saat kau debut nanti ya?"

Jihoon hampir saja melempar gadis cantik itu dengan sandal, sementara Jennie hanya tertawa keras. Memang tidak ada larangan dari agensinya untuk menjalin hubungan dengan siapapun termasuk selama masa trainee. Namun setelah memutuskan untuk menjadi trainee –yang nantinya akan debut- Jihoon berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun.

Jihoon tak ingin jika nantinya hubungan asmaranya dengan siapapun itu menjadi penghalang untuk karir yang susah payah ia rintis sejak dua tahun lalu. Oleh sebab itu ia menghindari hubungan yang di masa depan nanti bisa saja menjadi skandal.

Namun soal kedekatannya dengan Soonyoung Jihoon pikir adalah sebuah pengecualian. Lagipula mereka tidak sedekat itu, meskipun banyak orang di sekitar mereka mulai merasa bahwa perhatian Soonyoung dan antusiasme Jihoon membuat mereka terlihat seperti orang yang tengah kasmaran.

Jennie bahkan sampai menyatakan pendapatnya soal Soonyoung yang secara terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Jihoon.

Jihoon hanya sedang berusaha menyangkalnya. Lagipula belum tentu juga Soonyoung menyukainya. Mungkin pria itu memang pada dasarnya perhatian. Jihoon hanya tidak ingin berharap terlalu banyak, atau merasa terlalu percaya diri.

Namun tak bisa ia pungkiri juga jika semua tingkah Soonyoung menambah pikirannya. Ia jadi lebih sering merenung, seperti halnya saat ini. Setelah selesai berlatih, ia tidak langsung pulang. Ia duduk di ruang latihan sendirian sembari memandangi ponselnya.

Soonyoung baru saja mengirim pesan bahwa ia tak datang hari ini dan meminta maaf.

Jihoon menghela napas panjang. Tak ada kewajiban sebenarnya bagi lelaki itu untuk memberi kabar. Namun ia tetap melakukannya. Perasaan Jihoon sampai jungkir balik karenanya, dan semakin tak karuan saat pintu ruang latihan tiba-tiba saja terbuka.

Jihoon hampir saja menjatuhkan ponselnya saat melihat Soonyoung berdiri di sana dengan dua kaleng cola dan sekotak pizza ukuran sedang.

"Kejutan untukmu." Senyumnya yang khas pun terlihat dan untuk kesekian kalinya Jihoon terpesona dengan lelaki berstatus pelatihnya itu.

Nampaknya sekeras apapun Jihoon menyangkal, tetap saja pada akhirnya Jihoon semakin yakin bahwa Soonyoung memang memiliki perasaan yang sama dengannya.


0000000000000000000


"Wonwoo bertanya padaku kemarin."

Jihoon mengalihkan pandangannya pada Soonyoung. Jihoon berhenti mengunyah saat Soonyoung memulai percakapan mereka.

"Kenapa kau sekarang sangat jarang main ke rumahnya meskipun di hari libur." Soonyoung membuka kaleng cola miliknya sembari tersenyum membayangkan wajah cemberut Wonwoo. "Ia bertanya, apa kau sesibuk itu sekarang?"

Jihoon meringis. Tidak mungkin kan jika ia mengatakan bahwa alasan ia menjadi sok sibuk sekalipun di hari libur seperti ini lantaran ingin bertemu Soonyoung?

"Akhir-ahir ini sepertinya kau memang sudah jarang pergi ke rumah Wonwoo. Seungcheol juga menanyakanmu."

Soonyoung langsung teringat curhatan Seungcheol soal adiknya yang uring-uringan karena teman bermainnya sibuk. Wonwoo pasti lucu sekali saat sedang seperti itu.

Lagi-lagi Soonyoung tersenyum membayangkannya, berbanding terbalik dengan Jihoon yang tengah mengerutkan keningnya, sibuk memutar otaknya keras mencari alasan.

"Aku ingin cepat debut seperti Jennie."

Alasan yang cukup bagus sekalipun Jihoon tak sepenuhnya berbohong. Ia memang ingin cepat debut seperti halnya Jennie, temannya. Namun itu hanyalah alasan kesekian saja. Bertemu Soonyoung dan menghabiskan waktu bersamanya di tengah kesibukan lelaki itu adalah alasan yang utama –karena belum tentu Jihoon bisa bertemu dengan Soonyoung jika ia pergi main ke rumah Wonwoo.

"Oleh sebab itu aku memutuskan untuk berlatih lebih keras." Lanjut Jihoon.

Soonyoung terdiam. Jihoon balas menatapnya serius. Ada ambisi yang cukup besar di mata gadis mungil itu, Soonyoung dapat melihatnya.

"Berlatihlah lebih keras. Tetap semangat dan aku akan selalu mendukungmu." Soonyoung tersenyum, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Jihoon lembut.

Jihoon bahkan tak protes saat Soonyoung melakukannya dengan tangan yang kotor bekas pizza, pipinya justru merona.

"Terima kasih, Oppa.."

"Tapi kau juga tetap harus ingat dengan kesehatanmu. Jangan lupa istirahat."

Lelaki itu selalu saja mengingatkannya untuk berlatih keras dan menjaga kesehatan. Dua hal yang tidak pernah Jihoon bosan mendengarnya.

"Kau juga harus jaga kesehatanmu, Oppa."

Jihoon agak menyesal sebenarnya karena baru sekarang ia berani menunjukan kekhawatirannya pada Soonyoung. Padahal sudah lama sekali ia takut Soonyoung kelelahan karena pekerjaan di kantor dan agensi.

"Sesibuk apapun, kau harus tetap menjaga kesehatanmu. Makanlah yang teratur, dan jangan lupa istirahat."

Soonyoung cukup tersentuh dengan perhatian Jihoon. Hatinya terasa hangat.

Jihoon menundukan kepalanya cepat. Lewat matanya, Soonyoung seperti tengah mengirimkan sinyal-sinyal aneh yang membuatnya salah tingkah. Soonyoung pun terkekeh pelan melihat Jihoon yang tersipu. Tak salah memang jika sejak awal ia menilai sahabat Wonwoo ini sebagai gadis yang menggemaskan.

"Sepertinya kita punya masalah yang sama. Terlalu sibuk." Soonyoung tergelak. Ia minum cola-nya sampai habis separuh.

"Minggu ini aku libur, kita bisa pergi bersama ke rumah Wonwoo. Kau bisa bermain bersamanya dan aku bisa menemui Seungcheol. Bagaimana menurutmu?"

Jihoon ingat jika minggu ini adalah masa tenang dari boygroup asuhan Soonyoung. Mereka akan debut dua minggu lagi dan agensi sengaja memberi masa tenang pada boygroup tersebutbeserta seluruh pelatih yang bertanggung jawab; termasuk Soonyoung.

Lalu menghabiskan waktu libur mereka di rumah Wonwoo bukanlah hal yang buruk. Bagi Jihoon, rumah konglomerat itu bahkan lebih menyenangkan dibandingkan dengan taman bermain, meskipun tak sampai ada roller coaster di dalamnya.

Jihoon pun menganggukan kepalanya setuju.

"Bagus! Wonwoo pasti senang kau datang!" Seru Soonyoung.

Jihoon menyadari betul perhatian Soonyoung pada Wonwoo. Gadis cantik itu mendapat perhatian dari banyak orang, terutama Seungcheol dan Soonyoung. Keluhannya soal hari-harinya yang membosankan karena kesibukan Jihoon, pasti membuat dua lelaki ini kalang kabut.

Jihoon tersenyum. Ia jadi teringat pada cerita Wonwoo soal Soonyoung.

"Oppa…"

"Ya?"

"Wonwoo pernah bercerita padaku soal pengabdianmu pada keluarga Jeon. Bolehkah aku mengetahui soal itu?"

Soonyoung terdiam sejenak. Ia tatap Jihoon yang nampak penasaran, namun tetap menjaga nada bicaranya agar tidak terkesan seperti terlalu ingin tahu urusan orang.

Soonyoung menganggukan kepalanya. "Tentu saja, Jihoonnie." Ucapnya tidak keberatan.

"Kau tahu Hyunwoo?" Tanya Soonyoung seakan bersiap memulai ceritanya.

Jihoon berusaha mencari nama yang Soonyoung sebutkan itu dalam ingatannya. Namun tidak ada. Jihoon tidak mengingatnya, sampai Soonyoung menyebutkan kata kuncinya.

"Ia adalah kakak kandung Wonwoo."

Jihoon menepuk tangannya cepat, akhirnya ia ingat.

Wonwoo pernah bercerita jika seharusnya ia memiliki seorang kakak laki-laki selain Seungcheol. Namun pada saat Jihoon bertanya di mana kakak laki-lakinya itu sekarang berada, Wonwoo menjawab jika kakaknya itu ada di surga.

Namanya Jeon Hyunwoo.

"Sebuah kecelakaan mobil membuat ibu Wonwoo keguguran." Cerita Soonyoung. "Ayah dan ibu Wonwoo sangat terpukul dan merasa bersalah dengan kejadian itu. Lalu untuk menebus rasa bersalah mereka atas kematian Hyunwoo, mereka memutuskan membuka yayasan sosial untuk membiayai pendidikan banyak anak laki-laki dari keluarga tidak mampu di banyak kota."

"Aku adalah salah satunya. Seluruh pendidikanku ditanggung oleh mereka. Dari mulai pendidikan dasar sampai aku memperoleh gelar Master di Jepang."

Jihoon mengabaikan pizza-nya dan mendengarkan cerita Soonyoung dengan seksama.

"Mereka sangat dermawan. Mereka bantu anak-anak tidak mampu sepertiku untuk meraih mimpi. Aku bisa merasakan pendidikan dan hidup yang layak berkat mereka, bahkan sampai merasakan bagaimana sekolah di luar negeri yang semula kupikir itu mustahil."

Mata Soonyoung nampak menerawang jauh, membayangkan setiap anugerah yang Tuhan berikan lewat pasangan suami istri itu pada hidupnya yang dahulu melarat.

"Mereka juga tahu bahwa menari adalah bakat alamiahku. Mereka tidak menghalangiku untuk menyalurkan bakatku itu dan mereka juga sangat senang saat mengetahui bahwa aku ditawari pekerjaan di agensi ini tanpa perlu aku melamarnya."

Soonyoung menelan pizza terakhirnya terlebih dahulu sebelumnya melanjutkan ceritanya.

"Namun aku sadari bahwa bekerja sekeras apapun di agensi ini tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan mereka. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan hanyalah dengan memanfaatkan pendidikan yang kudapatkan untuk mengabdi di perusahaan mereka." Jelas Soonyoung.

"Aku merasa bahwa memajukan perusahaan milik keluarga Jeon adalah tujuan hidupku. Termasuk mempertahankan kesuksesannya setelah ayah Wonwoo tidak ada nanti."

"Sekalipun mereka sendiri tidak pernah memintaku untuk membalas budi baik mereka. Tuan dan Nyonya Jeon adalah orang paling tulus yang pernah kukenal, Jihoonnie.." Soonyoung tersenyum.

"Mereka jadikan aku lelaki yang kuat dan percaya diri. Sekarang, aku bisa menghidupi diriku sendiri, ibuku, dan kelak keluargaku nanti berkat modal besar yang mereka berikan padaku sejak kecil."

Jihoon terharu mendengarnya.

Ia juga merasakan bagaimana baiknya perlakuan ayah dan ibu Wonwoo terhadapnya. Selama tinggal sendirian di Seoul, mereka lah sosok orang tua terdekat yang memperhatikan Jihoon.

Mereka juga mau jauh-jauh berkunjung ke rumah sederhana Jihoon di kampung dengan membawa banyak hadiah dan makanan sebagai bentuk salam perkenalan pada orang tua Jihoon

Ayah Wonwoo, konglomerat itu tanpa ragu pergi bersama ayah Jihoon, ikut berkeringat memanen buah dan sayur di ladang. Sementara Ibu Wonwoo menyambut sukacita kiriman balasan dari ibu Jihoon meskipun itu hanya paket berisi kue tradisional yang tak seberapa jumlah dan harganya.

Status sebagai orang kaya tidak lantas membuat mereka merasa berada di atas langit. Mereka membumi. Tidak pernah sekalipun Jihoon rasakan mereka meremehkan orang lain berdasarkan statusnya sebagaimana gambaran orang kaya di drama-drama televisi.

Sedikit banyak Jihoon merasa bersalah karena sempat menganggap ayah Wonwoo menghalangi karir Soonyoung. Jika Jihoon berada di posisi Soonyoung pun, ia tak akan ragu untuk mengabaikan karir bermusiknya untuk membalas kebaikan ayah dan ibu Wonwoo.

Mereka orang yang sangat baik.

Jihoon tersenyum. "Lalu pekerjaanku di agensi ini kau buat hanya sebagai sampingan saja?" Canda Jihoon. Soonyoung lantas tertawa mendengarnya.

Jihoon usahakan akan perbincangannya dengan Soonyoung tidak terlalu kaku dan serius. Soonyoung menganggukan kepalanya. "Anggaplah begitu, Jihoonnie.."

Bonusnya aku bisa lebih akrab denganmu –lanjut Soonyoung dalam hati.

"Tapi Oppa.."

"Hm?"

"Apa itu berarti posisimu sama seperti Seungcheol Oppa?" Tanya Jihoon masih penasaran.

Soonyoung menggelengkan kepalanya cepat. "Tentu tidak, Seungcheol jauh lebih spesial dariku dan kami berbeda."

Jihoon mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tahu bahwa Seungcheol bukanlah kakak kandung Wonwoo, sebab itu Seungcheol tidak menggunakan marga Jeon pada namanya. Ia seorang Choi.

Wonwoo sendiri adalah puteri tunggal keluarga Jeon. Anak satu-satunya yang menjadi pewaris di keluarga kaya raya itu. Namun yang Jihoon tahu dari Wonwoo, Seungcheol telah diangkat menjadi anak oleh orang tuanya, bahkan sebelum Wonwoo lahir.

Lalu setelah mendengar cerita Soonyoung, ia jadi berpikir mungkin alasan orang tua Wonwoo mengangkat Seungcheol sebagai anak karena mereka ingin memiliki anak laki-laki pengganti Hyunwoo, putera mereka yang meninggal dalam kandungan.

Jihoon juga sempat berfikir soal kemungkinan Soonyoung adalah kakak angkat Wonwoo. Sama seperti Seungcheol. Ternyata tidak.

"Seungcheol sendiri adalah anak dari orang kepercayaan ayah Wonwoo."

Jihoon tahu soal ini, Wonwoo pernah bercerita soal orang tua asli dari Seungcheol, kakaknya. Namun tidak menjabarkannya lebih rinci karena gadis itu jauh lebih antusias saat menceritakan tentang Kim Mingyu –siswa populer paling tampan di sekolah mereka yang jadi idola Wonwoo juga- dibandingkan bercerita tentang kakak angkatnya sendiri.

"Lebih tepatnya, ayah Seungcheol adalah salah satu ajudan keluarga Jeon yang tewas dalam kecelakaan yang juga membuat ibu Wonwoo keguguran." Soonyoung menghela napas berat. "Pada saat yang sama pula, istri dari ajudan tersebut sedang mengandung."

Jihoon cukup tersentak. Tak menyangka jika ada hubungan antara Hyunwoo dan Seungcheol.

"Ayah Seungcheol mengambil peran besar dalam melindungi ayah dan ibu Wonwoo, setidaknya mereka selamat meskipun ibu Wonwoo keguguran."

"Lalu sebagai bentuk balas jasa atas kematian ayah Seungcheol. Mereka menjamin penuh kehidupan Seungcheol beserta ibunya."

Soonyoung ingat betul saat Seungcheol mengatakan bahwa yayasan sosial milik keluarga Jeon itu dibentuk tidak hanya karena rasa bersalah mereka atas kematian Hyunwoo, melainkan juga karena keprihatinan mereka atas hidup Seungcheol yang lahir tanpa peran ayah.

"Seungcheol memang lahir tanpa figur sang ayah, namun ia tumbuh menjadi anak yang sopan, supel, dan pintar."

Jihoon menyetujui cerita Soonyoung. Walaupun Jihoon sendiri tidak mengenal sosok Seungcheol dari kecil tapi ia sadar bahwa Seungcheol memang sempurna untuk seorang laki-laki.

"Seakan Seungcheol adalah bayangan dari Hyunwoo, putera mereka yang tak sempat lahir ke dunia, ayah dan ibu Wonwoo akhirnya mengangkat Seungcheol sebagai putera mereka."

"Lalu Wonwoo lahir, sekiranya sepuluh tahun setelahnya. Keduanya tidak menyangka akan mendapatkan Wonwoo karena pada dasarnya kondisi ibu Wonwoo yang sejak awal sulit memiliki anak ditambah dengan riwayat kegugurannya."

Soonyoung yang sebaya dengan Seungcheol itu teringat bagaimana hebohnya keluarga Jeon saat Wonwoo lahir. Soonyoung datang ke yayasan bertepatan dengan kedatangan ayah dan ibu Wonwoo yang tengah memamerkan puteri cantik mereka.

Soonyoung kecil ikut bahagia melihat senyum lebar dari orang-orang paling berjasa dalam hidupnya itu. Anugerah terindah untuk keluarga Jeon yang kemudian diberi nama Jeon Wonwoo telah hadir di tengah-tengah mereka.

"Wonwoo lahir premature. Tubuhnya yang mungil, kulitnya yang memerah, rambutnya yang halus, serta matanya yang kecil. Aku benar-benar mengingatnya sampai sekarang."

Soonyoung tersenyum dan tertawa dalam ceritanya.

"Ia adalah bayi paling cantik dan lucu yang pernah kulihat."

Soonyoung menatap Jihoon lekat, seakan sedang meminta Jihoon untuk setuju degan pendapatnya. Sementara Jihoon sendiri dapat merasakan bagaimana hangatnya perasaan Soonyoung sekarang.

Lalu Soonyoung bercerita tentang kasih sayang berlimpah yang Wonwoo dapatkan dari kedua orang tuanya. Seakan tak ada habisnya cerita tentang Wonwoo, Soonyoung menjabarkannya dengan antusias.

Semakin lama semakin menghantarkan perasaan tak nyaman dalam diri Jihoon.

Jika boleh jujur, Jihoon iri pada Wonwoo.

Gadis itu seakan memiliki segalanya. perhatian, kasih sayang, dan materi yang berlimpah. Entah itu dari orang tuanya, dari Seungcheol kakak angkatnya, dan kini Jihoon ketahui bahwa Soonyoung sangat menyayangi Wonwoo.

"Tak hanya untuk perusahaan, tujuan hidupku yang paling utama adalah melindungi Wonwoo.."

Jihoon menundukan kepalanya. Ia berusaha menganggap kesungguhan Soonyoung sebagai sebuah kewajaran; sampai tiba-tiba saja lelaki tampan bermarga Kwon itu meraih tanggan Jihoon lalu menggenggamnya.

"Jihoonnie.." Panggil Soonyoung pelan, nyaris seperti bisikan.

Jihoon bahkan tak memiliki keberanian untuk menatap Soonyoung.

"Aku tahu ini sangatlah tidak masuk akal." Soonyoung sempat menarik napasnya dalam. Ia tatap Jihoon lekat. "Tidak seharusnya aku merasakan hal ini, tapi aku benar-benar harus mengakuinya padamu.."

Jihoon terdiam. Mata mereka bertemu. Momentumnya terasa tidak tepat bagi Jihoon saat Soonyoung meremas kedua tangannya lembut.

Mata Soonyoung sarat akan keinginannya untuk mengungkapkan perasaannya yang tulus. Jihoon menelan ludahnya pahit.

"Aku yang tidak tahu diri ini, sangat mencintai Jeon Wonwoo.." Ucap Soonyoung dengan begitu lancarnya tanpa sendatan sedikitpun. Matanya kini berbinar membayangkan wajah cantik Wonwoo.

"Sebagai sahabatnya, maukah kau membantuku untuk mendapatkan hatinya?"

Layaknya gelas yang terhempas di lantai, hati Jihoon hancur berkeping-keping.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

With this thing and that thing that keep the world busy

Where even breathing is hard, what if I said they were why you and I become distant?

Seventeen Vocal Team - Pinwheel

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jihoon menatap pantulan wajah cantik Wonwoo di cermin. Hari paling bersejarah bagi sahabatnya itu akhirnya datang juga. Wonwoo akan menikah.

Di hari bahagianya itu, Wonwoo tetaplah sahabat Jihoon yang cerewet, karena ia masih sempat menceritakan bagaimana enaknya makanan hotel yang ia santap sendirian di kamarnya tadi malam.

Wonwoo juga tetaplah sahabat Jihoon yang perfeksionis, karena ia masih sempat berbicara ketus pada dua orang penata rambutnya yang melakukan kesalahan kecil.

Terakhir, Wonwoo tetaplah sahabat Jihoon yang cuek, karena seakan pernikahannya ini adalah bentuk kewajaran, Jihoon sama sekali tidak menemukan keraguan pada wajah Wonwoo.

Sekalipun yang menikahinya adalah Choi Seungcheol, kakak angkatnya sendiri.

Jihoon masih ingat saat Wonwoo mengatakan bahwa ia sangat membenci Seungcheol. Ia sebut lelaki itu cerewet dan menyebalkan karena kerap kali melarangnya melakukan ini dan itu. Namun Jihoon juga masih ingat saat Wonwoo mengatakan bahwa ia menyayangi Seungcheol. Kakak yang selalu melindungi dan mengutamakannya.

Lalu kini mereka akan menikah. Sesuatu yang tak bisa diterima oleh akal sehat Jihoon.

"Bagaimana menurutmu?"

Wonwoo menggerakan rok gaunnya yang lebar itu perlahan. Wonwoo sangat cantik. Ia luar biasa. Jihoon bisa saja menghujaninya dengan banyak pujian, namun Jihoon memilih hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

Jihoon berteriak dalam hati sembari menahan sesak di dadanya.

Batalkan saja. Aku tahu kau tidak menginginkannya… –ucapnya dalam hati.

Penolakan Jihoon atas pernikahan ini tertahan di ujung lidahnya. Seiring langkah mantap Wonwoo menjemput masa depannya, Jihoon tak bisa berbuat apa-apa untuk sang anugerah terindah milik keluarga Jeon itu.

"Semoga kau bahagia."

Jihoon berjalan keluar mendahului Wonwoo dengan senyum tipis terpatri di bibirnya yang terkatup rapat. Ia lewati barisan tamu yang menunggu. Lalu berdiri di barisan paling depan, berdampingan dengan Soonyoung.

Sebuah ironi

Pada pernikahan Wonwoo dan Seungcheol, Jihoon dan Soonyoung tampil sebagai bridesmaid dan groomsman. Rangkaian bunga mawar yang Jihoon genggam, bersamaan dengan bunga korsase yang tersemat di dada Soonyoung seakan menertawakan keduanya.

Jihoon menatap nanar Wonwoo yang berjalan anggun menuju altar dengan senyum lebar terhias di wajah cantiknya. Ia diantar oleh sang ayah untuk kemudian menemui Seungcheol yang juga ikut tersenyum lebar.

Wonwoo nampak menjadi wanita paling bahagia sementara Seungcheol menjadi pria yang paling beruntung hari ini.

Senyum khas milik Soonyoung terlihat, diiringi dengan helaan napas panjangnya saat Seungcheol dan Wonwoo selesai mengucapkan janji suci mereka.

Namun Jihoon tahu jauh di balik senyum itu, Soonyoung hancur.

Bagaimana lelaki itu berdiri membantu lelaki lain untuk mendapatkan hati perempuan yang sosoknya bahkan telah ia kagumi sejak lahir, dan ia cintainya sampai saat ini.

Soonyoung dampingi sahabatnya itu untuk menikahi adiknya sendiri.

Jihoon juga tak kalah hancurnya saat melihat Soonyoung. Lelaki tampan itu menoleh, menatap Jihoon dan kembali tersenyum. Jihoon lantas meraih tangannya, mengenggamnya erat dan balas tersenyum.

Keduanya seakan berusaha untuk menguatkan satu sama lain setelah gagal dalam urusan cinta.

Tuhan yang maha membolak-balikan hati manusia. Jihoon percaya itu, namun Jihoon lebih percaya lagi soal manusia yang mempermainkan perasaan sesamanya.

Entah siapa yang memulai permainan ini, antara dirinya, Soonyoung, Wonwoo dan juga Seungcheol. Jihoon sulit untuk mengerti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

End of Prosaic Special Chapter 3 : Lee Jihoon

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Pesan moral dari Dara : Ga ada yang tiba-tiba gaess, kalau kalian di php atau digantung sama orang, coba intropeksi diri, mungkin kalian juga php-in atau gantung orang juga, macam bapak Kwon ini *Dara Teguh, wrong ways wkwkwk

Wajar lu di php Wonu, orang lu juga php sama Jihoon *didamprat Soonyoung wkwwkk

Aku sempet munculin Jihoon di Special Chapter 2, sebagai teman sebangku Wonwoo, dan di Chapter 8 waktu Soonyoung bertemu Jihoon di gedung agensi. Setelah Special Chapter 3, semoga terjawab semua penasaran readers sekalian soal Jihoon yaa, soal Soonyoung, Seungcheol juga *smirk wkwkwkk

Nahhh kalo di Special Chapter 2 kemarin aku ga jawabin review readers, khusus untuk Special Chapter 3 ini aku mau jawabin review wkwkwkk

Aku yakin jawaban review ini bakal panjang banget jadi aku saranin untuk yang gamau baca bisa langsung SKIP aja mulai dari sini yaaa, terus review wkwkwkk

Seperti biasa aku tulisin review readers sekalian sebelumnya disini dan aku buat dialognyaaa

MULAAAAAAAI


Jeonnram : GILAAAAA MAMII WONWOOO KEREN BANGETTTT ㅠㅠㅠㅠ sumpaahh puas bangett baca chapter iniii huhu

Dara : Seneng banget rasanya kamu puas huhuhu ga sia-sia aku nulis ini mikir keras di sela-sela kerjaan kantor numpuk *terharu berat* Ini kedua kalinya aku balas review dari Jeonnram-nim, terakhir pas di Special Chapter 1 dan Jeonnram-nim masih setia baca Prosaic, pokoknya terima kasiiih banyak atas dukungannyaa

Semoga kedepannya Prosaic bisa terus menghibur dan memuaskan hati kamu ya Jeonnram-nim~ semoga harimu juga menyenangkan dan jangan lupa komen lagi loh wkwkwkwk *lempar cintaaa


Naintin2 : WOW WOW WOW WOWWWWWWWWWWWWWWWW aku bayangin jadi wonu yg badass gitu uwoooooowwwww. ini pertama kalinya ada fanfic wonu yg gak lemah. karena biasanya dia pasrah disakiti bla bla bla tapi ini hell yeaaaahhhh aku ngefans bgt sama yg bikin fanficnya kkkkkk

semangat terus dardara-nim...ffn sekarang emang sepi bgt. dari ratusan fanfic di favoritku aja cuma ini yg terupdate. pada pindah lapak sih. aku sampek bela2in ga ngehapus aplikasi ffn karena masih nungguin prosaic ini.

tetep semangat nulisnya yaaa, aku tunggu next chapter hihihi

Dara : Mau nangis rasanya *seka ingus plus air mata *iyuh lu dar wkwkwk

Aku sebenernya galau pengen pindah lapak apa begimana, udh pindah lapak juga aku kurang nyaman sama format penulisan lapak lain, terus juga yang baca malah ga ada wkwkwk jadi aku mau tetep di FFN ajaa dan makaaaasiiiiih banget Naintin2-nim mau tetep dukung aku dan setia baca FF Prosaic *makin seneng plus terharu

Aku bakalan semangat nerusin ff ini, dukung aku teruss yaaaa, jangan lupa review lagi wkwkwk

Salam buat naintin2-nim dari Wonu badass anti lemah lemah kleb wkwkwkwk


PGKIM : harus lanjut dong kak... hhhuuuaaaaa... pokoknya meanie harus nikah, aku buka ffn hanya untuk ff ini... huuuaaaa... ditunggu kelanjutannya, pingin banget moment bahagianya meanie sama mingyu hansol. ...

Dara : Siaaaaaaap ini udah dilanjut khusus untuk PGKIM pembaca setia ff Prosaic, sampe aku hapal penname-nya wkwkwk dukung aku terus yaa~ jangan lupa baca lagi dan komen lagi yaa PGKIM-nim, terima kasih banyak dan semoga hari kamu menyenangkaaan *kirim peluk cium dari Kwannie wkwkwk


Xiaobee97 : Beuh aku suka nih karakter wonu disini.. Cara berantemnya wonu tuh elegan banget.. Suka pokoknya, gak sabar nungu seungcheol nya kalah telak

Dara : Seungcheol be like "tidak semudah itu mengalahkanku Sergio" wkwkwkwk Makasih dukungannya ya Xiaobee97-nim untuk ff Prosaic, stay terus sampai akhir yaaa, semoga harimu menyenangkan dan ditunggu review-nya lagii~


Daebaektaeluv : JEON WONWOO KOK DILAWAN?udah kalah telak itu mah,tapi jalannya itu emang agak sakit2 dahulu hmm... ditunggu nextnyaaa~

Dara : Sumpah aku ngakak, pas baca review ini langsung keinget iklan yang "BELIIN ANAK KOK SEMBARANGAN?" nadanya sama wkwkwkwkk *receh lu dar ah wkwkwk

Udah aku lanjut nih yaa Daebaektaeluv-nim *pembaca setia ff aku *hiks terharu* semoga Special Chapter ini memuaskan yaaa dan jangan lupa review lagiii, terima kasih banyak, have a nice day *love love love


Avs1105 : Baru baca marathon lagi hehehe.

WOW, Wonwoo bahaya banget. Anyway, kalo emang Wonwoo dinikahin duluan kenapa Jeonghan yg bertingkah?

Di sini dibilang Wonwoo yg punya perusahaan, tapi semua karyawannya seakan tunduk sama Jeonghan. Di chapter-chapter sebelumnya, ditulisnya Jeonghan yg megang saham terbesar di perusahaan. Terus, sebelumnya penggambaran Wonwoo seakan-akan dia wanita biasa-biasa aja menjurus matre karena minta ini-itu dari Seungcheol, makanya aku kira "oh dia gak bisa cerai karena Wonwoo butuh dukungan finansial dari suaminya"

Yaudah lah, Wonwoo sama Seungcheol cerai aja. Toh nggak guna juga Seungcheol di hidupnya dia.

Dara : Tuh Cheol, dengerin kata Avs1105-nim, lu ga guna di kehidupan Wonu tau gak *tendang Seungcheol terus ditendang balik wkwkwkwk

Aku selalu suka sama review yang kritis kaya gini hiks tandanya kamu nyimak banget ff aku, terima kasiiiiiih banyak *kirim hansol kwannie buat peluk

Sebenernya di chapter 5 ga ditulis Jeonghan pemegang saham terbesar, cuma salah satu pemegang saham aja, dan semoga dichapter ini terjawab yaa semua pertanyaannya, walaupun ga semua sih wkwkwk karena masih banyak yang aku simpen untuk chapter-chapter selanjutnyaa biar jadi penasaran *lagak lu dar wkwkk

Tetep dukung aku ya Avs1105-nim, jangan lupa review lagii~ have a nice day~


Nadhefuji : Bentar2 sebelum mulai komen aku mau tepuk tangan dulu ma mbak wonu plok plok

Sangar nda, wonu lebih sangar daripada pak cheol ini mah kkkkk~
Bingung mo komen apaan padahal tadi banyak yg mau dikatakan. Oh iya aku sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di WP dan terbiasa komen tiap paragraf ahay - -' jd ini lupa tadi mo bilang apa padahal tadi udah reflek mo komen tiap baca... Pokoknya wonu baddas pisan oi

Btw tiap baca nama kwan kok ngukuk y : 'v si julit

Dara : Pembaca setia FF Prosaic di FFN atau di wattpad hiks terharu…. Terima kasih banyak dukungannya, review lagiii dong untuk Special Chapter ini wkwkwk semoga memuaskan yaaa

*kirim si julit Kwannie + si badass Wonu buat peluk Nadhefuji-nim wkwkwkk. Have a nice day~


IrisPark : Superrbbbb... Wonu nya femme fatale bingitt. Berkuasaaaa. Udah khawatir aja kalo minghao bakalan jahatin plus ngancem2, gak taunya si nyonyah jauh lebih pinter. You rock girl.

Dara : Berarti karakter kuatnya Wonu dapet banget kan ya?

Aku emang sengaja mau nunjukin walaupun harga dirinya diinjek-injek sama Seungcheol, Wonu tetep seterooong gituu, dan seneng banget pas IrisPark-nim ngerasain hal yang sama *ga sia-sia gitu bikin part gulat hao wonu, sampe revisi berkali-kali macem skripsi wkwkwkk

Terima kasih atas dukungan dan review-nya yaaa Iris Park-nim, semoga Special Chapter ini memuaskan dan jangan lupa review lagiii~ have a nice day *salam kangen dari Mingyu~


Fbsls : baru liatttttttttttttt ka Daraaaaaa *nangis dipojokan*
seneng bgt sama karakter wonu disini, gimana yaaa, gak menye menye gitu.
Semoga cepet pisah sama seungcheol, trus lanjut terus sama mingyu.
semoga cepet selesai semua masalah, gak banyak yang tersakiti lagi fisik dan hatinya, dan bahagia sama masing masing pilihannya.

ini aku kasih comment apa pidato sih,haha.
pokonya suka selaluuuu~~

Dara : FBSLS-NIM *tubruk peluk cium* wkwwkwkk pembaca setia ff aku huweeee kamu review terus dan kasih dukungan terus aku sampe gakuku ganana *lebay kumat wkwkwkk

Wonu anti menye-menye kleb wkwkk kamu tetep setia baca Prosaic sampai ending nanti yaa, terima kasih banyak, have a nice day~


Dazzpicable : AKHIRNYA UPDATE T-T
WONWOO HARUS KALO SEKUAT INI KENAPA GA CERAI AJA DAN BIKIN SEUNGCHEOL MENDERIT SI?! PECAT AJA TU BUAYA DARAT

Dara : Pertanyaan yang bagus, Sergio… *dara kena timpuk wkwkwk Tunggu jawabannya di chapter-chapter selanjutnyaa yaa, kenapa Wonu ga milih cerai padahal Seungcheol udah klimaks bangshad-nya wkwkwk Terima kasih atas review-nya ya Dazzpicable-nim~ review lagi loh heheheh

Have a nice day~


Chocolust : Ya tuhan, akhirnya, malam mingguku yang failed g jadi failed,
Menurutku utk gulat wonu vs eisa, rada ga masuk akal kak, sekuat itupun wanita biasa ga sampe bikin semenderita eisa, kecuali dia udah berpengalaman (menurutku loh ya)
Tapi tapi, INI TERLALU APIK UNTUK DICACATIN, YA AWOH, KUSUNGGUH CINTAH INI FF,
MBAK BENERAN MAKASIH UDAH PUNYA IDE YANG SANGAT GEMILANG SEPERTI INI, KUCINTA KAU!

Dara : Hallo~ Chocolust-nim *lambai tangan bareng Hansol

Daebaaak, Prosaic bisa menyelamtkan malam minggu-mu wkwkwk semoga sekarang juga bisa menyelamatkan malam senin-nya Chocolust-nim ya wkwkk

Hmmm… rada ga masuk akal, mungkin karena Chocolust-nim belum baca chapter-chapter selanjutnya *yaiyalah belom juga lu upload dar wkwkwkk tenang kok Chocolust-nim, di chapter selanjutnya nanti masalah Hao Wonu belom hilang sepenuhnya, jadi masih banyak jawaban-jawaban yg bisa kamu cari dan mudah-mudahan jadi lebih masuk akal yaa, stay terus di Prosaic~

Terima kasih review dan dukungannya~ have a nice day~


Zyelkim : aku baru baca...
baru kali ini baca ff yg karakter wonwoonya kuat banget euyy

Dara : Huwaaa biar jadi pengalaman baru yaa baca ff Prosaic dengan karakter Wonwoo yang berbeda~ terima kasih atas review-nyaaa have a nice day~ Review lagi ditunggu~


Harimingyu : yang ditunggu".. huhuhu berapa bulan ini nunggu prosaic mulu, buka email cuman buat nyari updatean prosaic, giliran gak dibukain si kakdar update.. kan jadi kelewat..
btw wonwoo ganas banget dah.. belajar dari mana neng? jangan galak" ah nanti mingyu syukak.. uda macem john cenna aja nih si eneng, seneng banget gulat elah.. sibapak sudah, ce minghao juga syudah tinggal nunggu adegan gulat sama mingyu nih yang belum.. ditunggu bgt ya kakdar updateannya.. ku readers setyamuuhhh

Dara : Emang kalo nungguin si dara update tuh sama kaya nungguin angkot, giliran ga ditungguin lewat-lewat mulu, tapi giliran ditungguin malah ga ada itu angkot wkwkk

Maafin ya Harimingyu-nim membuatmu menunggu~ tapi sampai ditungguin loh ff aku *nangis dipojokan, terharu* terima kasih telah menjadi readers setyakuuhhh~~

Neng Wonu emang gitu, hari-harinya aja nonton one pride MMA, terus latihannya kalo di rumah juga Brazilian Jujitsu, jadi ganas fisik dan otaknya, John Cena mah lewat *lewat doang sambil bilang you can't see me *digaplok Wonu wkwkk

Hansol juga kalo ga dibolehin dititip di apartemen Seungkwan juga, ce Jisoo langsung kena tampol wkwkwk tapi update sekarang ini ga ada gulatnya, semoga tetep seru dan memuaskan yaaa

Review lagii loh Harimingyu-nim~ have a nice day~


Ddeungie : YAALLLAH AQ MO NANGES WONWOOOOOO BADASS BITCHYY ABISSSS HUHUHU

SUMPAAAH INI KENAPA MAKIN SERU SIHHH LANJUT DONGGG KAAAK

Dara : Huweeee sampe review dua kali hiks makasiiih banyak ddeungie-nim~

Pake capslock semua loh, kan dara ceritanya jadi kaget wkwkwk tapi makin seru kan ya? Fufufufufu kedepannya pasti lebih seru wwkwk *pede banget lu dar

Stay terus di Prosaic ya Ddeungie-nim~ review lagi loh buat Special Chapter ini~ ditunggu review capslocknya wkwk

Have a nice day~


Mingyuwaifeu : ahh akhirnya update! wkwkkwkwkw gila tadinya mau ngumpat ke minghao trus jadinya pingin ngumpat ke wonu. terima kasi telah meliak liukkan hatiku dengan plot mu ini wkwkwkwkk. duh aku ga kebayang sih. kirain jeonghan yg puna perusahaannya. ternyata wonu. gila gila . aku sedih pas mingyu sedih waktu nyadar wonu agak beda. nyes aja gitu hatiku. wonu bakal nerima lamaran mingyu ga ya... aku kasian ih habis wonu kazar ih dia bilang mingyu tunduk ke dia. wwkwkwkkwwkk kurang sunyong nih yg dibilang jadi anjing setia. ditunggu lanjutannya sayang. aku menanti pertikaiian lainnya

Dara : Ga bener emang si dara bikin orang mengumpat berkali-kali jadinya wkwkwk

Sama-sama Mingyuwaifeu-nim, aku juga pas nulisnya meliak-liuk hati ini, antara mau tampol hao sama tampol wonu jadi galau sendiri soalnya wkwkwk

Di Special Chapter ini semoga kebayang yaa soal maksud Wonu perusahaan punya dia, punya bapake Wonu sebenernya wkwkwk naaaah di chapter ini kira-kira kamu kasian sama siapa?

Kasian sama Sunyong dong *tolong kasihani Sunyong wkwk apa setelah baca ini malah pengen nampol Sunyong wkwkwk

Terima kasih review-nya yaaa Mingyuwaifeu-nim, terima kasih udah setia baca ff aku hiks makasih dukungannya, semoga harimu menyenangkan~ ditunggu review-nya lagi untuk Special Chapter ketiga iniiiii


Luna : MANTAP! GAS TERUS WONU!
suka banget! akhirnya wonwoo bertindak! yah tapi untuk masalah wonwoo mingyu dan suaminya itu semoga bisa diselesaikan baik baik... semoga mingyu bisa mengerti uhuuu
jeonghan... sebenernya kasihan sama dia. seungcheol brengsek banget disini! ayo jeonghan sama wonu bersatu penjarakan cheol! Wkwk

Dara : Ini Luna-nim jadi pendukung Jeonghan Wonu untuk gerakan Mari Penjarakan Suami Kardus ya wkwkwkwkk terima kasih atas review-nya yaa Luna-nim, komentar lagi dong soal Special Chapternya gimana niiih, kira kira masih kesel ga sama Seungcheol? Wkwkk

Stay terus baca Prosaic yaaa, ditunggu nanti gerakan Wonu ngapain lagi wkwkwk have a nice day~


Jj : Lanjut thorrr

Dara : Haloo Jj-nim~ makasih ya reviewnyaa, ini udah dilanjut loh, ditunggu review-nya lagi, have a nice day~~


SELESAAAAAAAIIII

Terima kasih atas segala dukungan, kritik dan saran dari readers-nim sekalian. Baik yang review atau pun tidaaak pokoknya terima kasiiih

Aku bersyukur sekali jumlah readers dan review di Chapter 9 kemarin meningkat! Artinya makin banyak yang menikmati FF Prosaic!

YEAY~~

Dukung terus Prosaic yaa, sudah memasuki puncak konflik nih, semoga kedepannya Prosaic semakin memuaskaaan ekspektasi readers sekaliaaan~

Sesuai rencana, aku buat special chapter per-karakter gitu, Special Chapter 1 kemarin Choi Hansol, Special Chapter 2 Kim Mingyu, dan Special Chapter 3 sekarang ini Lee Jihon~ jadi kira-kira nanti siapa lagi tunggu terus yaaaa

Tulis dong komentar readers setelah baca Special Chapter ini~ Have a nice day~

Salam

Dara