A Namjin's Fanfiction

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin

.

#RMusic.

Pernah berpikir tentang alasan dibalik lagu-lagu rekomendasi dari Rap Monster di Twitter?

.

.

.

.

.


Come here I'm 'bout to take u higher

We about to set this love on fire

I've never felt this feeling, even my mom couldn't stop me

I told you my truth and I won finally

Baby u should know u change all my negatives to positives

I know you got the thorns but I can see your rose (What Am I to You by BTS)

.

.

Jika kesempurnaan itu memang ada, Namjoon akan memilih Seokjin sebagai wujud nyatanya.

Sejak awal Namjoon memang pemuda yang beruntung. Dipertemukan dua tahun lalu dengan aktor setenar Kim Seokjin dalam sebuah acara reuni sekolah menengah atas. Sekolahnya Hoseok, lebih tepatnya, Namjoon diminta menemani tanpa alasan yang jelas. Curiga jika Hoseok semasa sekolah adalah korban bullying nomor satu. Tapi Namjoon merasa dirinya yang di bully Hoseok malam itu, saat ia di tinggalkan seorang diri sementara Hoseok asik berkeliling menyapa dan bercengkrama dengan teman lamanya. Sialan. Rencananya saat itu adalah menginjak kaki sang sahabat sepulang dari acara. Yang sayangnya tak pernah terealisasikan.

Keberuntungannya di mulai ketika keberanian mengalahkan keraguannya. Melihat Seokjin yang wajahnya terlalu sering muncul di tv akhir-akhir ini, tengah duduk menyendiri di salah satu bangku taman tempat pesta di laksanakan. Namjoon tidak tahu apa sang aktor menyadari tatapan orang-orang disana yang selalu tertuju padanya. Tapi sungguh, siapa bisa menolak pemandangan Kim Seokjin yang mengenakan setelan semi formalnya, duduk manis dengan mata yang sesekali terpejam juga seyum kecilnya yang muncul saat beberapa teman memberanikan diri menyapanya.

Namjoon selalu berpikir bahwa love at the first sight is a biggest bullshit. Dan malam itu Namjoon dipaksa menelan kembali ucapannya.

"Minum?" Segelas cocktail ia jadikan alat mendekat. Seokjin mendongakkan kepalanya untuk mendapati sosok tinggi yang mengenakan kemeja biru gelap berada tepat di hadapannya, dengan senyum dan dimple yang sungguh menarik perhatian siapapun.

"Tentu, thanks."

Seokjin menerima gelasnya, yang diartikan Namjoon juga sebagai tanda bahwa Seokjin mengizinkannya duduk di satu sisi bangku yang kosong.

"Kenapa sendirian di tengah pesta reuni seperti ini? Kau jadi terlihat seperti korban bully mereka saat masih sekolah dulu."

"Yeah, memang." Cocktail yang di tenggak jadi terasa lebih pahit.

"Maaf?"

"Aku selalu di bully satu sekolah karena penampilanku dulu yang.. Yah kau tahu, tipikal anak culun dengan kacamata anehnya."

Oh. Terkutuklah Namjoon dan mulut besarnya. Ia sama sekali tak menyangka celetukannya tadi benar-benar terjadi padi Seokjin.

"Ah aku benar-benar minta maaf, Seokjin-ssi."

Tapi Namjoon tak melihat tanda-tanda kemarahan atau perasaan sedih lainnya dari Seokjin, justru ia dihadiahi senyuman manis yang membuat jantungnya semakin berisik. "Tidak, tidak, bukan masalah. Lagipula itu hanya masa lalu. Kita tidak lagi tinggal disana."

Ya, Seokjin yang sekarang bahkan di puja seluruh negeri karena bakat akting yang dimiliki serta jangan lupakan wajah tampannya yang menjurus manis adalah anugrah sendiri bagi setiap orang yang melihatnya.

"Kau hebat. Aku tiba-tiba terpikirkan untuk menulis lagu tentangmu."

"Kau penyanyi?" Bahkan caranya menatap Namjoon tampak menggemaskan.

Yang ditatap berdehem sekali sebelum menjawab. "Hanya rapper underground biasa."

"Keren. Kau kenal Hoseok? Setahuku dia juga seorang rapper."

Takdir apa lagi yang bermain pada Namjoon malam itu? Semua tampak saling tersambung satu sama lain.

"Si brengsek itu yang mengajakku kesini, lalu sekarang menghilang begitu saja. Aku bahkan tak mengenal siapapun disini."

"Kau bukan siswa Seungri?" Lagi, ekspresi terkejutnya yang masih menggemaskan.

"Bukan, aku sekolah di Ilsan bukan Seoul."

Terdengar 'ah' panjang yang semakin mengecil di akhir. Namjoon benar-benar berpikir bahwa Seokjin itu teramat manis jika dilihat sedekat ini.

Lalu sunyi menguasai keadaan, keduanya tampak menikmati hal itu. Sampai isi gelas Seokjin habis, barulah sang aktor sadar satu hal penting malam itu.

"Oh ya, namamu! Manager-ku pasti akan marah sekali jika aku mengobrol dengan orang asing seperti ini."

Namjoon tersenyum lagi, "Namjoon. Kim Namjoon."

"Oke, Namjoon. Aku Kim Seokjin, senang berkenalan denganmu."

Saat itu, saking nyamannya mengobrol. Seokjin sampai lupa fakta dimana ia adalah seorang public figure, yang cerita masa lalunya tadi akan jadi konsumsi lezat netizen. Seokjin hanya punya kepercayaan aneh yang mengatakan bahwa Namjoon adalah orang baik.

Namjoon sendiri, mensyukuri keputusannya meng'iya'kan ajakan Hoseok malam itu. Melupakan keinginannya menginjak kaki sang sahabat.

.

I'll be recognized unlike other fellas

I'll be different I'll be missin I'll be kissin ya all the time

.

.

"Aku pulang saja!"

Suara Hoseok yang terdengar kesal berhasil mengembalikan Namjoon dari dunia lamunan. Hanya menatap diam Hoseok yang mulai membereskan barang-barangnya di studio, merealisasikan kalimatnya tadi. Bahwa ia pilih pulang daripada terus-terusan bicara sendiri karena Namjoon terlalu sibuk dengan lamunannya.

"Yak! Ini bahkan belum selesai."

Tujuan mereka berada di studio adalah untuk menyelesaikan track yang dipersiapkan untuk rap battle akhir minggu nanti di club biasa. Tapi Hoseok yang sabar saja sampai di buat jengkel dengan tingkah Namjoon seharian ini.

"Track ini tidak akan pernah bisa selesai sebelum kau menyelesaikan urusanmu, Namjoon. Hubungi Seokjin hyung sana!"

Dengan begitu Hoseok meninggalkan ruangan di sertai bantingan pintu. Namjoon membuang nafasnya dengan berat, kenapa juga Hoseok harus memperjelas keadaan? Karena Namjoon memang butuh Seokjin untuk melancarkan sisa harinya. Tapi yang jadi masalah adalah Seokjin itu sendiri.

.

.

Why am I looking for some excuses to call you?

Even worse than before we met each other, is "boyfriend" not enough for you?

.

.

Setelah beberapa kali berpikir ulang, pada akhirnya Namjoon tetap mengambil ponsel untuk mengetik digit nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Beberapa detik masih tak ada jawaban, Namjoon sudah nyaris menyesali keputusannya tadi.

Hingga sebuah suara lembut menyapa pendengarannya dari seberang sana.

"Namjoon?"

"Hyung!" Namanya juga cinta, mendengar suara sang kekasih seperti itu saja membuat Namjoon menemukan kembali semangatnya.

"Ada apa?"

"Aku merindukanmu, hyung."

"Jangan kekanakkan, Namjoon. Aku sedang di lokasi shooting. Bukankah aku pernah bilang untuk tak menghubungiku dulu? Aku sungguh tak punya waktu untuk ini!"

Ya, yang menjadi alasan keraguan Namjoon tadi adalah larangan itu. Seokjin itu cinta pertamanya, kekasih pertamanya, jadi Namjoon tidak tahu apa wajar jika pasanganmu melarang untuk menghubunginya.

Namjoon kembali meragukan semua hal. Tentang Seokjin, tentang perasaannya, tentang hubungan mereka.

"Aku mengerti. Selamat malam."

PIP

Ponsel ia lemparkan asal, berharap benda itu hancur saja sekalian, jadi ia benar-benar punya alasan untuk tidak menghubungi Seokjin dalam waktu dekat ini.

.

.

I didn't wanna win you but I didn't wanna lose everyday like this as well

.

.

Pagi harinya Hoseok menemukan Namjoon tertidur di dalam studio dan hal seperti ini tidak sulit untuk di prediksi karena sudah terjadi untuk yang kesekian kali. Namjoon memang akan selalu menenggelamkan diri dalam studio miliknya jika beberapa masalah terlalu sulit ia tangani sampai tertidur di apartement-nya sendiri saja ia tidak bisa.

Dan Hoseok tahu masalah Namjoon kali ini benar-benar serius dan sudah berlangsung cukup lama. Hoseok juga tahu bahwa Kim Seokjin lah di balik semuanya.

"Ya! Kau bisa merusak kertas berisi lirik yang kita kerjakan semalam." Karena Namjoon tertidur di meja dengan kertas-kertas itu sebagai alasnya.

Yang lebih muda tanpa diduga bangun dengan mudah, hanya sedikit bentakan dari Hoseok tadi. Padahal Kim Namjoon yang biasanya akan bangun jika cipratan air sudah mengenai wajahnya. Hoseok yang paling berpengalaman mengenai hal itu.

"Aku sudah menyelesaikan liriknya dan merekamnya sekaligus. Dengarkan saja, aku ingin melanjutkan tidur di rumah. Terserah jika kau ingin merubah apapun, aku tidak peduli. Bye."

Yah, setidaknya ada yang Namjoon hasilkan selama menginap semalaman di studio. Hoseok mendekat untuk melihat kertas-kertas berisi coretan tangan Namjoon disana-sini, berantakan seperi biasa. Sementara Namjoon mulai mengenakan jaket kulitnya dan merapikan beberapa barang untuk ia masukkan ransel dan pulang.

"Kutebak semalam Seokjin hyung berhasil merubah mood jelekmu? Kau bisa menyelesaikan satu lagu seperti ini."

"Dengarkan saja, kau akan tahu apa yang terjadi pada kami semalam. Aku pergi."

Suara pintu studio yang ditutup cukup keras mengakhiri percakapan mereka. Hoseok yang penasaran segera memasang headphone dan memutar lagu ciptaan Namjoon semalam.

Hoseok tentu saja langsung bisa merasakan bahwa semalam adalah pertengkaran terburuk Namjoon dan Seokjin. Ditambah ia melihat ponsel Namjoon tertinggal di sudut meja sana.

Karena Kim Namjoon yang berpisah dengan ponselnya benar-benar hal buruk.

.

.

What am I to you?

I do love you crazy, uh do you?

.

.

Terkadang Seokjin tak habis pikir kenapa sebuah iklan yang durasinya kurang dari satu menit membutuhkan waktu seharian untuk pengambilan gambarnya? Tapi Seokjin sudah dilatih untuk menangani hal menyebalkan seperti ini secara profesional.

Ia baru saja duduk si sofa ruang tunggu saat ponselnya di meja rias sana berbunyi nyaring. Hal ini mengingatkannya akan kejadian yang sama semalam, saat Namjoon menghubunginya hanya untuk mengatakan bahwa ia merindukan Seokjin. Sekarang sang aktor baru sadar betapa jahatnya jawaban yang ia berikan semalam. Ia rela memohon maaf pada Namjoon saat ini.

"Hallo?"

"Seokjin hyung."

Seokjin mengernyit sembari menjauhkan ponsel dari telinganya, memastikan lagi bahwa nama penelepon disana memang benar 'Namjoonie'. Tapi justru suara Hoseok yang terdengar.

"Hoseok? Mana Namjoon?"

"Hyung.."

Mengenal Jung Hoseok sejak sekolah menengah atas sebagai seorang junior, membuat Seokjin tahu dengan pasti ada yang salah dengan nada suara seseorang yang biasanya selalu kelewat bersemangat. Seokjin tidak mau mengakui detak jantungnya yang mulai diatas normal.

"Ada apa? Namjoon dimana?!"

Sebuah helaan nafas yang terdengar berat dari seberang sana, memperbanyak tetesan keringat yang Seokjin biarkan mengalir di pelipisnya.

"Namjoon kecelakaan, hyung."

.

.

Please hold my hand this is like a tug-of-war without a rival

Baby don't you play

I'll walk up even though you are a flame

.

.

Jika tak ada hukum yang mengatur tentang pembunuhan, Seokjin sungguh akan membunuh Jung Hoseok dengan pisau dapur kesayangannya dan akan ia biarkan Jjanggu memakan mayatnya. Tapi hukum itu ada, jadi yang bisa Seokjin lakukan sekarang adalah menangis keras bersama rasa kesal yang ia telan paksa.

Kim Namjoon duduk berhadapan dengannya di sofa. Tertawa tanpa henti seperti ia orang paling bahagia di alam semesta.

"Hyung, aku tidak percaya aktor terkenal sepertimu bisa-bisanya tertipu dengan akting murahan Hoseok."

Tak ada jawaban, tentu saja. Seokjin masih sesenggukan sambil sesekali mengumpati Hoseok dengan kata-kata kotor yang kebanyakan ia dengar dari lagu-lagu rap Namjoon.

Jadi setelah mendapat telepon dari Hoseok sore tadi, Seokjin langsung mencari manager-nya untuk meminjam mobil. Ia bahkan berlari menuju parkiran tanpa alas kaki dan menorobos lampu merah satu kali karena terlalu panik dan merasa bersalah. Bodohnya, ia percaya saja saat Hoseok mengatakan Namjoon ada di apartement, bersikeras tidak mau ke rumah sakit. Selanjutnya ia kembali berlari memasuki gedung, untung ia hanya seorang diri di lift tadi. Saat itu Seokjin sama sekali tidak memikirkan image-nya sebagai seorang selebriti. Hanya Kim Namjoon yang menjadi fokus utama pikirannya.

"Aku benci Hoseok. Aku juga membencimu, Namjoon!"

Sekarang tubuh besar Namjoon menenggelamkan tubuh Seokjin yang masih gemetar dalam sebuah pelukan hangat. Lama-lama tidak tega juga membiarkan makhluk semanis Seokjin menangis sedemikian rupa.

"Jangan membenciku. Aku masih belum tahu caranya hidup tanpamu."

Tangan-tangan Seokjin bergerak natural melingkari pinggang Namjoon, menggenggan erat bagian belakang kaos putih yang Namjoon kenakan. Lagi-lagi kelebatan abstrak muncul tentang bagaimana akhir-akhir ini ia memperlakukan Namjoon. Tidak menjawab telepon, mengabaikan pesan-pesannya, membentaknya, mengeluarkan semua rasa kesal karena pekerjaan pada Namjoon. Seokjin pikir bahwa tidak apa-apa seperti itu, ia tahu Namjoon terlalu mencintainya jadi tidak mungkin Namjoon akan meninggalkannya karena sikap Seokjin yang egois.

"Aku minta maaf, Namjoonie. Maaf. Maafkan aku."

Diam-diam Namjoon tersenyum bersamaan dengan pelukannya yang semakin erat. Sudah seperti ini Namjoon bisa apa? Sekalipun Seokjin tidak meminta maaf, ia akan tetap memberikannya dengan cuma-cuma.

"Bisa kita mulai seperti awal pertemuan kita dulu? Saat kau memuji profesiku dan aku yang langsung jatuh cinta dengan senyummu."

Seokjin mengangguk, masih kesulitan bicara di tengah tangisnya. Ia melepaskan sedikit pelukan mereka hanya untuk mengambil kecupan dari bibir yang lebih muda.

Meski sedikit terlambat dan butuh waktu nyaris dua tahun, Seokjin akhirnya menyadari bahwa ia memiliki kegilaan yang sama dengan Namjoon dalam hal mencintai.

"Hyung, sabtu ini ada waktu untuk menonton perform-ku di club biasa?"

"Hoseok ikut?"

"Ya, tentu saja. Kau tahu dia partner-ku."

"Aku akan datang, asal kau janji tak akan menghalangiku menghajar wajah Hoseok."

"Well, aku bersedia membantumu jika kau butuhkan."

-END-

.

.

.

.

We're not a storybook couple

Fold each other's arms like others and care for each other with sincerity and consolation

I understand you are dull

Because I will always stand under you

.

.

.

.

.


Ketauan ya aku lagi cinta banget sama hobi hobi~

Think I can't handle this BTS' feel alone, especially when they are preparing comeback.. And Big Hit basically ship our namjin so much just LOOK AT THAT PHOTO CONCEPT! THEY WERE LAY ON EACH OTHER'S SHOULDER T.T i can't T.T

I had open a twitter acc just for them RMJin_ let's get closer in there if you all want it.

Gimme your review ^^