A Little Secret

Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst

.

.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

.

Naruto berdiri di depan Sasuke yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Karena gagal mengejar Sasuke kemarin, pagi ini Naruto menyempatkan diri datang ke apartemennya sendiri untuk menemui pemuda itu. Dan disinilah mereka sekarang, di ruang tidur apartemen sang Uzumaki.

"Kau membuatku bingung, Teme. Apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Naruto dengan tatapan yang terus mengarah pada Sasuke yang masih saja menghindarinya.

"Aku juga bertanya-tanya apa yang terjadi padaku," ucap Sasuke disertai helaan napas.

Naruto menaikkan sebelah alis. Sasuke yang baru saja berbicara sama sekali tidak terdengar seperti 'Sasuke'.

Sudah lewat lima hari sejak mereka memutuskan untuk menjalankan rutinitas mereka masing-masing, dan sampai detik ini belum juga ada kepastian kapan mereka akan kembali ke tubuh mereka sendiri. Kecurigaan orang-orang sekitar keduanya juga sudah mulai terlihat. Ya, walaupun Sasuke dan Naruto berusaha untuk menjadi 'diri mereka' masing-masing, mereka tetap tidak bisa mengelabui orang-orang terdekat keduanya.

"Apa bisa kita tidak bertemu dulu selama beberapa hari ke depan, Dobe?"

Naruto mengerjap. "Apa?"

"Aku tidak ingin bertemu denganmu selama beberapa hari ke depan," ulang Sasuke.

"Kalau kita tidak bertemu, lalu bagaimana nasibku? Menjadi seorang 'Uchiha Sasuke' tidak semudah itu, Teme!"

"Tidak perlu kau katakan. Apa kau lupa kalau aku sudah menjadi 'Uchiha Sasuke' seumur hidupku?"

Menjadi seorang 'Uchiha Sasuke' memang tidak semudah dan seenak kelihatannya. Memang Sasuke memiliki banyak hal yang tidak dimiliki Naruto—keluarga, sahabat dekat, manager yang baik, kekayaan, dan tentunya 'nama'. Tapi ternyata nama yang besar memiliki tanggung jawab yang tak kalah besar.

Menjadi seorang Uchiha menuntut Naruto untuk selalu menjaga sikap dan ucapannya, dan menjadi cucu dari pendiri Rookie Nine membuatnya harus membangun kewibawaan sebaik mungkin.

Bekerja dengan jabatan tertinggi membuat Naruto harus berpikir lebih jauh dari orang-orang di sekitarnya, terlebih dari tangan kanannya sendiri, Orochimaru. Sejak Naruto bertemu lelaki kurus itu, ia langsung tahu alasan kenapa Sasuke selalu memperingatkannya untuk menjaga jarak dengan bawahannya tadi.

Tidak sekali Orochimaru berusaha untuk 'menjerumuskan' Naruto dengan ide-ide 'brilian'nya. Well, sebenarnya ide yang dicetuskan lelaki itu memang bagus, hanya saja seringkali tidak memiliki prospek kelanjutan yang jelas, dan Naruto tidak mau mempertaruhkan jabatan Sasuke untuk hal semacam itu.

"Karena itu, kau harus membantuku, Sasuke," Naruto menurunkan nada bicaranya yang sempat meninggi. Sasuke menarik napas dalam-dalam.

"Aku saja tidak bisa membantu diriku sendiri, lalu bagaimana mungkin aku bisa membantumu? Aku benar-benar bisa gila."

"Apa yang kau bicarakan? Kau tidak mengalami kesulitan dengan hidupku 'kan?"

'Tidak mengalami kesulitan?' Sasuke mendengus mendengar pertanyaan pemuda di hadapannya. Walaupun hidup Naruto tidak serumit hidupnya, tetap saja Sasuke menghadapi beberapa kesulitan, contohnya; persahabatan.

Tidak seperti Sasuke yang hanya memiliki seorang sahabat yakni Hyuuga Neji, Naruto memiliki cukup banyak sahabat. Atau mungkin, kalau Sasuke mau meluruskan, hampir semua mahasiswa di kelas pemuda pirang itu adalah sahabatnya. Dengan banyaknya orang yang mengelilinginya, tentu Sasuke bingung harus bersikap seperti apa—walalupun pada akhirnya ia tetap pada sikap 'Uchiha'nya.

Contoh lain; keluarga.

Sasuke baru menyadari bahwa duduk berhadapan dengan Itachi dalam diam terasa lebih baik daripada duduk sendirian di ruang makan. Diam-diam Sasuke bersyukur karena ia masih memiliki apa yang tidak dimiliki Naruto ini.

Selain dua contoh tadi, masalah pekerjaan juga sungguh sangat membuat Sasuke merasa kesulitan. Ia, yang sangat jarang turun ke lapangan, kini malah harus berhadapan langsung dengan para pelanggan di kedua tempat kerja'nya'.

Sasuke tidak begitu merasa kesulitan bekerja di restoran makanan cepat saji karena ia hanya bekerja sebagai waiter, tapi di pub? Hampir tiap hari Sasuke harus menahan diri untuk tidak terlalu sering mengeluarkan death glare karena beberapa pelanggan wanita yang terus menggodanya. Dan bukannya berhenti, pelanggan-pelanggan 'beruntung' yang mendapatkan death glare-nya malah makin nekat.

Hidup sebagai 'Uzumaki Naruto' ternyata sama beratnya seperti hidup sebagai 'Uchiha Sasuke'. Yang jelas hidup Naruto 'lebih berat' dari yang orang-orang kira.

"Melihat bayanganku di cermin saja sudah membuatku kesulitan, Dobe."

Dan yang satu ini adalah kesulitan paling berat yang harus dihadapi Sasuke setiap hari.

Walau sudah hampir seminggu ia berada di dalam tubuh Naruto, nyataya setiap pagi ia tetap tersentak kaget saat mendapati bayangannya di cermin.

Setelah merasa terus diikuti siluet si pemuda pirang, kini Sasuke malah mendapati dirinya 'bertransformasi' menjadi siluet itu sendiri. Benar-benar mengerikan.

"Sepertinya aku mulai gila," Sasuke mendesah. "Aku benar-benar mulai gila."

"Hei, kau baik-baik saja 'kan?" Naruto mulai tampak khawatir.

"Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Naruto," Sasuke memijit pelipisnya. "Aku tidak ingin."

Naruto menghentikan gerakan tangannya yang hendak menepuk bahu sosok di depannya. Tidak ingin bertemu lagi dengannya? Sasuke tidak ingin lagi bertemu dengannya?

Naruto berani bersumpah kalau paru-parunya kesulitan menerima pasokan oksigen saat kalimat itu keluar dari mulut senpai-nya satu ini.

"Aku ingin kembali ke tubuhku dan menjauh darimu, selamanya. Aku harus menjauhimu sebelum kesalahan yang kubuat semakin besar... dan fatal," tutur Sasuke tanpa memandang lawan bicaranya.

Sasuke menarik napas panjang dan bangun perlahan, kemudian melangkah menuju pintu apartemen yang ditempatinya selama beberapa hari terakhir. Ia membuka pintu itu dan menatap Naruto.

"Sebaiknya kau pergi sekarang. Aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu," tuturnya datar.

.

-0-

.

"Mana Blonde?"

Pertanyaan itu langsung membuat Naruto menghela napas.

"Kau tidak datang bersamanya?"

"Kau bisa lihat sendiri 'kan, Shikamaru-san?"

Naruto meneguk kaleng coke-nya. Suasana pub yang ramai sama sekali tidak berhasil mengalihkan pikirannya dari ucapan Sasuke sore tadi.

Naruto kembali menghela napas.

"Tidak biasanya kau seperti ini," cetus Shikamaru yang entah sejak kapan sudah duduk bersebelahan dengan 'Sasuke'.

"Apa yang bisa kau harapkan dari seseorang yang sedang bad mood?" tanya Naruto datar.

"Bad mood?" Satu kata itu sukses membuat Shikamaru mengerutkan dahi. Ia baru tahu kalau ternyata seorang Uchiha Sasuke bisa bad mood. Dan seingatnya yang selalu minum coke saat bad mood adalah Naruto.

'Mungkin karena mereka sering bersama, jadi kebiasaan si pirang itu menular padanya,' pikir Shikamaru.

Naruto memutar kursi yang didudukinya dan melemparkan pandangan ke lantai dansa yang ramai seperti biasa. Sejak Neji berhasil menjadikan Gaara sebagai rekan duetnya, kedua orang itu tidak pernah terlihat lagi di pub ini. Wajar saja, jadwal mereka memang padat, dan Naruto tahu itu.

"Kalau sosok seseorang selalu muncul di kepalamu, apa itu artinya kau tertarik pada orang itu, Shikamaru-san?" tanya Naruto tiba-tiba.

Shikamaru menaikkan sebelah alis. Selain bad mood, ia juga baru tahu kalau ternyata 'Sasuke' bisa memulai pembicaraan. Benar-benar mengejutkan.

"Mungkin, tapi tidak selalu demikian," jawab Shikamaru sekenanya. Naruto menarik napas tenang.

"Bagaimana kalau sosok orang tadi selalu jadi hal pertama yang ada di pikiranmu tiap kali kau membuka mata di pagi hari? Apa itu artinya kau tertarik orang itu?"

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Sasuke-san?" Shikamaru tampaknya tidak bisa lagi menahan rasa herannya.

"Entahlah. Hanya saja, sepertinya aku tertarik pada—" Naruto menghentikan ucapannya ketika hendak menyebutkan nama yang salah. "Sepertinya aku tertarik pada 'Naruto'," lanjutnya hati-hati.

"Kau apa?" Dan kini Shikamaru tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada meninggi.

"Aku tertarik pada bartendermu, Shikamaru-san," Naruto menghela napas.

"Sasuke-san, apa kau—"

"Tunggu, jangan berpikiran terlalu jauh, oke? Aku tahu perkataanku tadi terdengar tidak wajar, tapi aku sendiri tidak bisa mendefinisikan apa yang aku rasakan terhadap pemuda itu selain dengan kalimat 'aku tertarik padanya'," potong Naruto cepat. "Astaga, aku benar-benar gila," Naruto mengusap sisi wajahnya frustasi.

Shikamaru sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari sosok disebelahnya. 'Sasuke' tertarik kepada 'Naruto'?

Rupanya pertemuan lelaki bermarga Nara dan 'Sasuke' malam ini menghasilkan banyak kejutan yang sukses membuat Shikamaru merasa tidak nyaman.

Naruto bangkit dari duduknya dan menarik napas panjang. Ia menghabiskan coke-nya dan menaruh kaleng kosong tadi di atas counter bar.

"Aku harus segera pergi sebelum aku kehilangan kendali dan memesan minuman," gumamnya. Uzumaki muda itu menepuk bahu Shikamaru sekali.

Dan dengan itu Naruto meninggalkan sosok Shikamaru yang masih mematung.

Naruto memutuskan untuk melangkah ke halte dan menunggu bus malam. Ia tidak ingin langsung pulang. Ia tidak bisa bertemu dengan Mikoto dengan keadaannya yang kacau seperti ini, dan ia sedang tidak ingin dihujani pertanyaan oleh Itachi. Sejak ia pulang ke 'rumah', 'kakaknya' itu memang selalu bertanya tentang sosok bernama 'Uzumaki Naruto'.

Ya, sekembalinya kedua Uchiha senior itu ke Jepang, Naruto dipaksa untuk tinggal di kediaman keluarga Uchiha. Beberapa kali ia sudah berusaha keluar dari tempat itu, tapi Mikoto selalu berhasil menggagalkan niatannya.

Naruto menghentikan langkah dan menajamkan pendengaran. Sejak tadi ia sudah merasa kalau ada beberapa suara langkah di belakangnya, dan setelah sedikit menolehkan kepala, Naruto menghela napas panjang.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya si pemuda beriris biru kepada tiga orang lelaki yang berdiri di belakangnya.

"Kau pikir apa yang kami inginkan?" tanya salah satu orang itu.

Naruto kembali menghela napas dan melangkah pergi. Ia sedang tidak ingin diganggu siapapun dalam kondisi seperti ini. Demi Tuhan, saat ini mood-nya jauh dari kata 'baik-baik saja'.

"Kau mau kemana, eh, bocah?"

Seorang lelaki berdiri di depan Naruto dan menghalangi langkah pemuda Uzumaki itu. Naruto menatap tajam lelaki di depannya.

"Minggir," ucapnya dengan nada rendah.

"Minggir? Berani sekali kau memerintahku," dengus lelaki itu.

"Sudahlah, lebih baik kita berhenti bermain-main dan segera membawa bocah ini," ucap lelaki lain yang kini melangkah mendekati Naruto.

''Membawa bocah ini'? Apa mereka mau menculikku?'

Naruto segera mengunci sebuah lengan yang menarik bahunya dari belakang. Dan dengan perlawanan itu, perkelahian pun terjadi.

Naruto berusaha untuk tidak panik dan melawan lelaki-lelaki di depannya dengan hati-hati. Pemuda ini juga terus berusaha menghindar dari sapu tangan yang digenggam salah seorang lelaki yang tengah ia lawan. Naruto yakin kalau sapu tangan itu sampai menutup alat pernapasannya, ia tidak akan selamat.

"Apa yang kalian lakukan!"

Satu seruan tadi berhasil menghentikan perkelahian. Naruto menolehkan kepala ke arah sumber suara dan melihat Shikamaru berlari mendekatinya bersama dua orang lelaki.

"Kau baik-baik saja?" tanya Shikamaru yang hanya dibalas Naruto dengan anggukkan. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan dengan napas terengah seperti sekarang.

Sementara Shikamaru memperhatikan 'Sasuke' yang kini terduduk di tanah, dua orang yang tadi bersamanya ternyata berhasil menangkap seorang dari tiga orang lelaki yang menyerang 'Sasuke'.

"Maaf, tuan, sebaiknya Anda ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan," ucap salah seorang lelaki yang dikenal Naruto sebagai security pub.

"Baiklah," Naruto bangkit perlahan dan menepuk bahu Shikamaru sekilas sebagai pengganti ucapan terimakasih.

.

-0-

.

"Kau pikir apa yang sudah kau lakukan?"

Kakashi hanya bisa berdiri di samping tuan mudanya dan memperhatikan beberapa bagian wajah yang lebam karena perkelahian dua jam yang lalu.

Di lain pihak, Sasuke menatap pemuda yang tengah duduk dengan pandangan kesal bukan main. Sepuluh menit yang lalu Naruto menghubunginya dan memintanya datang ke kantor polisi.

"Seorang Uchiha Sasuke berada di kantor polisi di tengah malam. Benar-benar mengejutkan," tutur Sasuke tajam.

"Aku minta maaf," Naruto menghela napas.

Kakashi mengerutkan dahi. Sejak tadi sebenarnya ia bertanya-tanya, kenapa tuan mudanya memilih untuk menghubungi 'Naruto' ketimbang Itachi atau Mikoto? Dan sekarang, kenapa tuan mudanya meminta maaf pada pemuda pirang yang sedang berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan dada itu?

Sasuke mengalihkan pandangnnya dari Naruto ke arah Kakashi yang masih menatap sosok tuan mudanya.

"Kenapa kau membiarkannya berkeliaran sendiri? Kemana perginya bodyguard dan pengawal-pengawal itu?"

"Maafkan saya, tuan. Ini semua kesalahan saya," Kakashi membungkukkan tubuh. Kakashi memang bertanggung jawab menjaga tuan mudanya, dan kejadian malam ini membuktikan kalau ia tidak melakukan tugasnya dengan baik.

"Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah jauhkan bodyguard dan pengawal! Apapun yang terjadi, mereka harus tetap ada di sekeliling Uchiha Sasuke. Apa kau ingin melihat tuan mudamu mati, huh?" Sasuke tampaknya tidak bisa menahan kekesalannya lagi.

Naruto bangun dari duduknya, meraih sebelah tangan Sasuke dan menariknya keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah yakin kalau koridor tempat mereka berdiri sekarang adalah tempat yang aman, Naruto melepaskan genggamannya.

"Tidak seharusnya kau bicara seperti itu pada Kakashi, Teme."

"Lalu apa yang harus kukatakan padanya? Apa aku harus memujinya karena sudah membiarkan wajahku babak belur?" Sasuke menatap Naruto tajam.

Naruto menghela napas. Selama ia mengenal Sasuke, baru kali ini ia melihat Uchiha bungsu itu marah sampai seperti ini.

"Semua yang terjadi adalah salahku, oke? Kalau kau mau menyalahkan seseorang, maka salahkan aku."

"Aku memang menyalahkanmu," ucap Sasuke dingin. "Sejak kapan kau pergi tanpa pengawalan seperti tadi? Kau sudah membahayakan nyawamu, kau tahu?"

Sasuke menarik napas dan menutup matanya beberapa saat, mencoba menghilangkan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Sebelah tangan pemuda itu kini tampak meremas rambut blonde-'nya' pelan.

"Aku lelah, kau tahu? Kenapa kau tidak pernah sekalipun memikirkan keadaanku?"

.

-0-

.

"Kemana Sasuke?" tanya Sakura yang baru kembali setelah ke toilet beberapa saat yang lalu.

Sejak sore tadi Sakura memang sedang ada di rumah keluarga Uchiha karena Mikoto mengundangnya makan malam. Tapi acara makan malam sukses terganggu dengan kedatangan seorang pelayan yang memberitahu kalau 'Sasuke' kembali dengan wajah lebam.

Tanpa berpikir dua kali, Mikoto langsung bergegas ke kamar sang anak dengan ditemani Sakura. Ia juga langsung meminta penjelasan Kakashi, tapi ia tidak bisa menyalahkan sang butler karena ternyata kejadian ini terjadi karena ulah anaknya sendiri.

"Aku baru tahu kalau Sasuke senang pergi ke pub," ucap Mikoto yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan calon menantunya.

"Aku juga baru mengetahui hal itu beberapa waktu yang lalu," balas Sakura yang berdiri di samping calon mertuanya.

Kedua wanita itu kembali terdiam. Sakura menatap tempat tidur Sasuke beberapa saat. Akhir-akhir ini, entah kenapa, Sasuke melunakkan sikap padanya. Pemuda itu tidak lagi melepas rangkulannya ataupun menolak genggaman tangannya. Bahkan kadang Sasuke yang lebih dulu memulai interaksi itu.

Sakura bukannya tidak senang dengan perubahan tadi, tapi tidak bisa dipungkiri kalau ia malah khawatir kalau-kalau Sasuke mulai menyukainya. Well, Sasuke memang calon tunangannya, tapi sampai detik ini sejujurnya Sakura belum bisa mencintai pemuda penyuka warna biru gelap itu.

"Karena kau adalah calon tunangan Sasuke, kurasa kau harus mengetahui ini," akhirnya Mikoto memecah keheningan.

Sakura mengerutkan dahi. 'Mengetahui ini'? Mengetahui apa?

"Saat Sasuke berusia sepuluh tahun, dia pernah diculik."

Sakura membulatkan matanya terkejut. Uchiha bungsu itu pernah diculik?

"Saat itu penculiknya meminta tebusan sepuluh juta yen, tapi Fugaku menolak dan meminta beberapa detektif dan polisi untuk menyelamatkan Sasuke."

"Kenapa Sasuke bisa diculik?" Sakura tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

"Persaingan di dunia bisnis membuat orang tega melakukan apapun, Sakura, termasuk menyakiti dan melenyapkan saingan bisnis mereka. Dan saat itu mereka menculik Sasuke karena Fugaku memenangkan sebuah tender besar."

Sakura mengangguk paham. Mikoto menatap foto keluarga yang dibingkai dan diletakkan di meja lampu tidur.

"Karena penculikan itu, sesuatu terjadi pada Sasuke dan membuatnya berubah. Tsunade berkata kalau Sasuke mengalami trauma, dan karenanya dia tidak bisa mengingat kejadian penculikan itu."

Sakura ikut menatap foto keluarga Uchiha. Trauma? Separah itukah dampak dari penculikan Sasuke kecil?

"Selama ini kami selalu meminta bodyguard dan pengawal mengikuti Sasuke untuk mencegah hal itu kembali terulang."

"Dan Sasuke tidak mengetahui itu?" tanya Sakura. Mikoto menggelengkan kepala.

"Sasuke tidak pernah ingat kalau dia pernah diculik. Sampai detik ini dia tidak pernah mengingat masa lalunya itu. Dan kami... Kami tidak mau dia mengingat masa lalunya tadi."

Suara pintu yang terbuka membuat kedua wanita anggun itu menolehkan kepala.

"Kau sudah siap? Aku akan mengantarmu pulang sekarang," ucap Naruto tenang.

"Kau sudah ingin pulang, Sakura?" tanya Mikoto sembari bangun dari duduknya.

"Iya, kaasan, ini sudah terlalu malam. Kuharap kita bisa menghabiskan waktu bersama lain kali," ucap Sakura sembari membungkukkan tubuh dan pamit.

Wanita berambut merah muda itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bahu tegap pemuda yang berjalan beberapa langkah di depannya. Lagi-lagi ia merasa aneh dengan melunaknya sikap 'Sasuke'.

"Eh?" Sakura kini menatap 'Sasuke' dengan mata membulat terkejut.

"Kenapa? Kau keberatan kuantar dengan motor?" tanya Naruto. Sebenarnya ia ingin mengantar Sakura dengan salah satu mobil mewah milik Sasuke, tapi masalahnya, ia tidak bisa mengendarai mobil dengan baik—dan aman.

"Tidak. Kurasa ini akan menyenangkan," ungkap Sakura sembari tersenyum. Ia meraih helm yang disodorkan 'Sasuke'.

Naruto menaikkan sebelah alis melihat Sakura yang memakai atasan semi-gaun dipadu dengan celana jeans. Ia menggelengkan kepala pelan dan melepas jaket yang digunakannya.

"Pakai ini. Aku tidak mungkin membiarkanmu sakit," Naruto menyodorkan mantelnya.

Sakura menatap sosok di depannya dan mantel hitam yang terulur padanya secara bergantian. Setelah bersedia mengantarnya pulang, sekarang Sasuke memperhatikannya? Benar-benar mengejutkan.

Sakura meraih dan memakai mantel milik Sasuke sebelum akhirnya naik ke motor sport milik sang Uchiha.

"Berpegangan," ucap Naruto sedikit tidak jelas karena ia sudah memakai helm.

"Apa?"

"Berpegangan," ulangnya.

Tapi karena wanita yang duduk di belakangnya sama sekali tidak merespon, Naruto sedikit membalikkan tubuh dan meraih sebelah tangan Sakura untuk dilingkarkan di pinggangnya. Sakura bisa merasakan wajahnya memanas karena tindakan sederhana 'Sasuke' tadi.

Naruto terus berusaha memfokuskan diri pada jalan, walalupun kenyataannya sulit. Konsentrasinya selalu beralih tiba-tiba ke pembicaraan kaasan-'nya' dan Sakura yang tidak sengaja didengarnya tadi.

"Mau mampir?" tanya Sakura sembari melepas helm dan memberikannya pada 'Sasuke'. Perjalanan dari kediaman Uchiha ke apartemen yang ditempati Sakura memang tidak memakan banyak waktu.

Naruto menerima helm-nya dan menatap bangunan apartemen di belakang Sakura. Bisa dipastikan kalau keluarga Haruno berada di kelas sosial yang sama seperti keluarga Uchiha. Naruto tersenyum tipis. Ia harus mengakui kalau wanita di depannya ini benar-benar calon yang baik untuk seniornya.

"Tidak, ini sudah malam," tolak Naruto sembari menatap sepasang mata beriris emerald milik sang Haruno.

Sakura tersenyum dan mengangguk sekilas mendengar ucapan pemuda yang tengah duduk di atas motor yang berjarak kurang dari setengah meter darinya.

Naruto mengangkat sebelah tangannya dan membelai puncak kepala Sakura dua kali sebelum kembali menyalakan mesin motornya.

"Masuklah. Selamat malam."

Dan kejadian singkat tadi sukses membuat Sakura terpaku di tempat sembari memandang motor sport berwarna merah yang makin menjauh.

.

..

-0-0-0-

..

.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Naruto menggeliatkan tubuh dan bangun dari posisi tidurnya dengan malas. Kalau saja Kakashi tidak memberitahu bahwa ada rapat yang harus ia hadiri hari ini, tentunya Naruto lebih memilih untuk tetap bergelung di balik selimut. Ia merasa sedikit pusing akibat kehujanan ketika pulang dari apartemen Sakura semalam.

Naruto memaksa nyawanya terkumpul sebelum ia bergeser ke tepi tempat tidur dan berdiri perlahan. Pagi ini ia berencana untuk pergi meminta maaf kepada Sasuke atas kejadian kemarin malam.

"Ouch!"

Suara erangan tadi ditambah suara 'bruk' satu detik setelahnya membuat kantuk Naruto menghilang seketika. Ia membuka matanya lebar dan bersiap mengutuk benda yang menghalangi langkahnya.

"What the—" Naruto tidak bisa melanjutkan umpatannya ketika melihat lemarinya berdiri di dalam ruangan. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari kalau kini ia ada di apartemennya sendiri.

Dengan semangat dan jantung yang berdegub cepat, Naruto melangkah ke kamar mandi dan berdiri di depan cermin. Beberapa saat setelah itu suara lengkingan terdengar dari dalam ruangan mungil tadi.

.

-0-

.

Sasuke berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan seorang pemuda yang tengah memeluk seorang lelaki dengan tato segitiga terbalik di kedua pipinya. Ia menghela napas sejenak sebelum memutuskan untuk memasuki ruang kelas di depannya.

"Apa kau tidak diajarkan sopan santun, Dobe? Kau tidak boleh memeluk seorang gadis seenaknya," ucap Sasuke ketika Naruto sudah beralih memeluk Ino.

Naruto yang mendengar pertanyaan itu segera melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke yang berdiri tak jauh darinya. Ia memperhatikan sosok berkulit putih itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia lalu tersenyum lebar dan mendekati Sasuke yang tidak beranjak dari posisinya.

"Akhirnya kita kembali, Teme!"

"Ya, kita kembali, Dobe. Dan ini berarti semuanya sudah selesai."

Keduanya terdiam selama beberapa saat dengan posisi saling berhadapan, sama sekali tidak terganggu dengan pandangan seisi kelas yang tertuju pada mereka.

Kiba dan Ino hanya saling melemparkan pandangan bingung. Bagaimana tidak bingung, pagi ini, ketika keduanya menginjakkan kaki di dalam kelas, si pemuda pirang langsung berkata kalau dia sangat merindukan keduanya, padahal Kiba dan Ino yakin kemarin mereka masih bertemu dan bahkan makan siang bersama di kantin seusai perkuliahan.

Dua mahasiswa itu makin heran ketika Naruto berbisik kepada Kiba saat dosen tengah menerangkan, padahal beberapa hari belakangan 'Naruto' selalu melemparkan death glare kalau ada yang mengajaknya mengobrol di saat perkuliahan tengah berlangsung.

Dan sekarang, Kiba dan Ino makin terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang Uzumaki. 'Kita kembali'? Apa maksudnya itu? Apa Naruto dan Sasuke baru saja tiba setelah pergi? Tapi, kemana mereka pergi? Naruto tidak pernah absen sekali pun akhir-akhir ini, lalu bagaimana mereka bisa pergi?

Sementara kedua sahabat Naruto tenggelam di kebingungan, Sasuke maju satu langkah dan memeluk sosok berkulit tan di hadapannya, membuat seisi kelas menahan napas karena terkejut. Ino bahkan sampai meremas lengan Kiba erat.

"Karena semuanya sudah selesai, aku anggap ini adalah pertemuan kita yang terakhir," bisik Sasuke pelan sebelum melepaskan pelukannya.

Pemuda bermarga Uchiha itu memang sudah membulatkan tekad untuk memutus semua kontak dengan Naruto. Ya, memutus semua kontak.

Tanpa terkecuali.

Sasuke berniat mengasingkan diri selama beberapa waktu untuk menyelesaikan skripsi yang tengah disusunnya. Ia bertekad untuk memasukkan namanya di daftar wisudawan tahun ini.

"Tuan muda, pesawat Anda akan take-off satu jam lagi. Anda harus segera ke bandara." Ucapan Kakashi sukses memecah kesunyian.

Sasuke mengurungkan niat untuk segera berlalu dari hadapan kouhai-nya ketika merasakan genggaman erat Naruto di ujung kemeja yang ia kenakan. Naruto sendiri tidak tahu kenapa ia menahan Sasuke, tapi yang jelas ia tidak menyukai ucapan 'selamat tinggal' senpai-nya dan berita keberangkatan pesawat yang diucapkan Kakashi.

Sasuke mengacak rambut pirang kouhai-nya sekilas, kemudian menggenggam tangan Naruto untuk melepaskan cengkramannya. Pemuda berambut raven itu lalu meninggalkan ruang kelas sekaligus meninggalkan Naruto yang membatu.

"Apa kau baik-baik saja, Naru?" tanya Ino setelah pulih dari keterkejutannya.

"Ada apa dengannya? Tiba-tiba memelukmu seperti itu," tanya Kiba sembari menepuk bahu sahabatnya yang masih shock.

Ucapan selamat pagi dari dosen yang baru saja memasuki ruang kelas membuat Ino dan Kiba langsung menyeret Naruto agar duduk di kursinya.

Naruto masih bisa mendengar bisik-bisik tentangnya dan Sasuke dari para penghuni kelas, tapi ia tidak peduli. Yang dipedulikannya saat ini adalah kalimat terakhir yang tadi dibisikkan Sasuke padanya.

.

.

TBC

.

.

Author Notes: Yaah, too much drama! Hmm… Akhirnya mereka kembali ke alamnya masing-masing *kicked* Lagi-lagi saya tidak bisa memasukkan part NejiGaa di sini, huff~ Ah, maaf karena saya terlalu lama meng-update *bow* Sebenarnya saya ingin meng-update di minggu tenang, tapi ternyata tidak sempat *sigh*

.

.

Review Reply:

.

.

Lovely orohime: UAS saya sudah selesai, tapi masih ada ujian skill, ugh. Sengaja kok. Sayas bosan kalau harus membuat mereka bersama terus :p Sudah saya update~ *hug back*

Meg chan: Whuah, maaf~~ Chapter ini malah—rasa-rasanya—lebih sedih daripada yang kemarin . Sudah saya update~

Kirara: Kapan-kapan~ Kita bersama lagi~ #abaikan. Saya juga senang bisa kembali meng-update ^^

Minako H. Tsukino: Gyaa, sudah berpikiran sampai mertua segala XD Sudah saya lanjutkan, terima kasih sudah menunggu~ ^^

SasuNaru4ever: Hai~ Salam kenal juga, Lista ^^ Penasaran? Saya juga penasaran, hehehe. Sudah saya update, terima kasih sudah menunggu~