BAEKHYUN SEMAKIN MENUNJUKKAN BELANGNYA. Ia tidak segan lagi menyiksa Jongin tanpa kamuflase. Terkadang Baekhyun membuat Jongin takut setelah memasukkan es batu ke dalam minyak goreng saat Jongin memasak. Untungnya Jongin cukup lihai melarikan diri agar tidak terpercik minyak panas. Jongin juga pernah jatuh dari tangga karena Baekhyun mendorongnya. Sejauh ini Jongin masih bisa bersabar. Ia hanya mengeluh seorang diri, bahkan tidak juga mengeluh kepada Sehun. Jongin fikir saatnya belum tiba. Tapi saat Baekhyun nyaris membunuhnya karena air dari pipa yang sering di gunakan untuk menyiram bunga berisi listrik menyengatnya, Jongin memutuskan untuk tidak membahayakan diri lagi dengan bertemu Baekhyun. Jongin mengurung diri di kamar merenungkan apa yang akan di lakukannya.
Apakah Baekhyun tidak takut Jongin mengadukan semua perbuatAnnyakepada Oh Soyeon? Sayangnya Jongin tidak melakukan itu. Sehun sangat menyayangi Oh Soyeon dan sangat takut bila sedikit saja sikap yang salah menyinggung Pria itu. Lagi pula Baekhyun pasti bisa berkelit, dia tidak akan melakukan hal itu jika tidak yakin bisa membela dirinya.
Jongin rasa dirinya tidak akan bisa menahan diri lebih lama untuk melawan Baekhyun. Ia bukan orang yang lemah, terlebih kepada seseorang yang sama sekali tidak pernah berbuat baik kepadanya. Jongin termenung sejenak, mungkin ia akan benar-benar pergi? Jongin membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaiannya.
Ia melipatnya perlahan dan sangat rapi, berharap Sehun segera pulang. Dan benar saja, Sehun segera pulang begitu mendapat telpon dari Chen tentang kejadian hari ini. Semua pelayan itu mungkin tidak akan pernah memberi tahukan apa yang terjadi kepada majikannya. Tapi mereka akan saling bergosip dan tidak canggung untuk mengajak Chen ikut serta. Dan hari ini Chen menelpon Sehun begitu mendapat informasi naas itu.
Sehun sangat khawatir, terlebih saat melihat Jongin mengemasi pakaiAnnya lagi. Ia segera duduk di sisi Jongin dan mengelurakan semua pakaian yang sudah Jongin masukkan ke dalam tas. Jongin tidak boleh pergi karena hal ini. Melihat kelakuan Sehun itu, Jongin menghela nafas lalu memandangnya.
"Sebaiknya aku pergi. Baekhyun bisa menjadi pembunuh. Setiap kali ia mengerjaiku dalam taraf bahaya yang bertambah."
"Lalu kau ingin pergi karena ini?"
"Kau tidak pernah ada di rumah Sehun. Aku takut lepas kendali dan itu akan menyakiti Oh Soyeon. Baekhyun adalah menantu dari anak satu-satunya dan Oh Soyeon sangat menyayangi Baekhyun."
"Kalau begitu aku berjanji akan melindungimu!"
"Sudahlah. Kau selalu mengatakan itu, tapi pada kenyatannynya aku sudah terjatuh dari tangga berkali-kali. Baekhyun juga sudah membuatku ketakutan memakan makanan apapun di rumah ini."
"Kau tidak pernah memberi tahu kepadaku. Harusnya kau melaporkan semua hal yang Baekhyun lakukan kepadamu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya? Kau tidak akan bisa melakukan apapun yang bisa menyakiti bibimu, kan?"
"Aku bisa mengancam Baekhyun agar tidak melukaimu lagi."
"Dia malah akan semakin brutal, Sehun!" Jongin kembali memasukkan pakaiannya kedalam tas lalu menguncinya rapt-rapat. "Aku akan mencari tempat tinggal di dekat sini. Dan jangan khawatir karena tagihan peginapan akan ku kirimkan kepadamu."
Sehun tersenyum. Fikiran keruhnya perlahan-lahan mulai jernih. Setidaknya Jongin tidak bermaksud pergi darinya. Jongin hanya menghindari Baekhyun dan keributan. Ia tidak akan mengurung Jongin di kamar mandi lagi. Sehun terlalu menyayangi Jongin bila harus membiarkAnnya terkurung, kedinginan dan kelaparan.
Apalagi, musim gugur sudah datang. Tapi Sehun juga tidak akan membiarkan Jongin pergi sendiri sampai ia yakin kalau Jongin memiliki tempat tinggal yang layak dan aman.
"Kemasi beberapa potong pakaianku juga."Sehun berujar. "Pakaian santai saja. Aku tidak akan masuk kerja selama kita berpergian!"
"Kau akan ikut?"
"Tentu saja. Bibiku tidak akan senang kalau kau hanya pergi sendirian. Dia akan membunuhku kalau aku membiarkanmu pergi seorang diri."
Jongin mengangguk. Ia kelihatan lebih bersemangat saat Sehun mengatakan akan pergi bersamanya. Astaga, pernikahan ini fiktif! Jika tidak, Jongin yakin kalau dirinya akan menjadi Pria yang paling bahagia di seluruh dunia. Sayangnya semua yang Sehun tawarkan hanya mimpi dan mungkin Jongin tidak akan memaksakan diri untuk tidak menikmatinya. Setidaknya, meskipun sementara ia tau bagaimana rasanya memiliki seorang suami, memiliki mertua seperti Oh Soyeon, dan menyiapkan pakaian suaminya saat akan bepergian.
Jongin menyiapkan semuanya dengan cepat. Ia juga menyiapkan pakaian yang akan Sehun kenakan saat bepergian bersamanya. Sebuah Jeans sudah membuat penampilan Sehun tampak
lebih santai dan Sehun benar-benar tampak gagah. Jongin juga mengenakan pakaian terbaiknya. Kali ini bukan celana pendek dan T-shirt lagi. Ia hanya mengenakan Jeans Skinny yang panjangnya hanya beberapa senti di bawah lututnya di padu dengan kemeja berwarna merah hati. Jongin benar-benar tidak ingin terlihat jalang saat bersama dengan Sehun meskipun ia tau kalau Sehun akan tetap menggodanya dengan pakaian sopan seperti itu.
Sehun hanya memperbolehkan Jongin membawa sedikit pakaian. Jongin dan dirinya hanya berlibur. Sehun menekankan kalau ia tidak pernah mengizinkan Jongin untuk pindah. Liburan ini juga Sehun sebut sebagai liburan yang mungkin tidak akan terlupakan dan penuh kenangan di antara mereka mengingat keberadanny Jongin di rumah itu sudah hampir mencapai batas waktu. Tiga bulan kedepan, Jongin akan pergi dan pemikiran itu membuat keduanya sedih.
"Kenapa tiba-tiba?"Oh Soyeon melengking saat Sehun menyatakan kehendaknya untuk berlibur bersama Jongin. "Aku fikir rumahku membuatmu tidak nyaman, Jongin!"
"Tidak." Jongin mendesak. "Tentu saja ini adalah tempat ternyaman yang pernah aku datangi. Aku hanya merasa bosan."
"Iya, dia merasa bosan karena tidak pernah mengerjakan apa-apa disini. Itu katanya!"Sehun ikut campur.
"Omong kosong. Istrimu mengerjakan semua pekerjanny rumah meskipun aku melarangnya. Kau tidak pergi karena merasa di manfaatkan, Kan? Aku bersumpah sudah jatuh hati padamu dan aku tidak ingin kau pergi."
"Bibi, Aku dan istriku hanya berlibur untuk beberapa hari. Kami akan kembali. Jadi simpan kesedihanmu itu. Semua pekerjanny ku serahkan kepada Chen dan kalian bisa menelponku kapan saja jika terjadi sesuatu disini. Aku akan segera datang."
"Lalu kemana kalian akan pergi?"
"Jongin mengatakan dia akan mengikutiku kemana saja, tapi aku ingin melihatnya mengenakan bikini. Mungkin ke British Columbia!"Sehun kemudian tersenyum setelah mengutarakan kenakalAnnya. Oh Soyeon kelihatan lebih lega mendengarnya. "Anggap saja kami sedang bulan madu kedua…"
"Ya, tentu saja. Aku berdoa agar kalian segera mendapatkan anak. Aku ingin rumah ini ramai dengan keberadanny anak-anak."
Kali ini Sehun tidak begitu merespon. Mereka tidak mungkin memiliki anak. Pernikahan mereka hanya sebuah pernikahan fiktif. Sejenak kemudian Sehunberbicara samar. "Kalau begitu kami pergi dulu."
Oh Soyeon memberi anggukan bijaksana. Ia tersenyum saat melihat Sehunmenggapai tangan Jongin dan menggenggamnya erat. Mereka meninggalkan rumah itu dan Sehun sama sekali tidak menggunakan fasilitas apa-apa. Ia meninggalkan semuanya dan pergi bersama Jongin dengan angkutan umum. Kali ini mereka akan benar-benar liburan, bulan madu, atau sejenisnya. Hal itu membuat Jongin tertawa di dalam bus yang mereka tumpangi. Sehun memandangnya heran.
"Kau menertawakan apa?"
"Aku menertawakan ucapanmu. Bulan madu apa? Kita belum menikah!"
"Lalu apa lagi yang bisa jadi alasan kita untuk pergi berdua?"
"Ya, baiklah. Tapi jangan harap kau bisa menyentuhku!"
"Kita lihat saja nanti."
"Juga melihatku mengenakan bikini."
"Aku tidak akan membawamu ke British Columbia sayang! Aku ingin mengajakmu melihat makam ibuku di Jeonju."
Jongin diam tak bersuara untuk sejenak lalu bergumam. "Aku sangat tersanjung mendapat kehormatan itu!"
"INI RUMAHKU. Aku selalu pulang ke sini setiap libur sekolah saat ayahku masih hidup!"Sehun bercerita saat mereka sarapan pagi di sebuah rumah tua di Jeonju.
Bukan sebuah rumah yang besar, tapi terasa sangat sejuk dalam suasana pedesaanyang asri. Disana sini terdapat banyak foto kenangan yang mungkin tidak akan pernah rela untuk di singkirkan. Tidak ada satupun foto Sehun, seharusnya bisa di mengerti karena sang ibu meninggal saat melahirkan Sehun dan bocah malang yang berada di hadapan Jongin sekarang di besarkan bersama Chanyeol di rumah besar itu, di Seoul.
"Apa yang membuatmu ingin melihat makan ibumu?"
""Sebenarnya hari ini aku memang ingin pergi kemari sendirian, tapi karena kau juga mengatakan ingin pergi, maka aku mengajakmu untuk ikut denganku saja. Besok adalah hari ulang tahunku dan aku selalu merayakAnnya seorang diri disana semenjak aku dan Chanyeol berpisah karena dia pergi bersamamu ke Jepang."
"Itu artinya sudah delapan kali kau merayakAnnya seorang diri?"
"Ini, baru yang kedelapan, sayang!"
"Ya, baiklah. Berarti besok kau ulang tahun?"
"Kau tidak memberiku selamat?"
"Untuk apa? Kau juga tidak pernah memberikan selamat untuk ulang
tahunku!" Jongin tersenyum lalu berkata lembut. "Selamat ulang tahun, nak! Ibumu
pasti mengatakan itu."
"Lalu, kau mengatakAnnya dengan apa?"
"Entahlah, aku tidak suka ada kebahagianny, setelah ini pasti ada kesedihan."
"Kau terlalu pesimis. Selama ini kau selalu mengalami penderitanny karena takut untuk menghadapi kesedihan yang muncul setelah kebahagianny begitu? Jadi tidak ingin bahagia?"
"Jika yang di hadapi hanya kesedihan, maka harapan untuk mendapat kebahagianny besar sebagai ganti itu semua bisa menguatkanku. Aku tidak pernah benar-benar bahagia, saat bersama siapapun yang ku punya hanya harapan untuk mendapat kebahagianny. Sayangnya sebelum harapan itu terwujud kebahagianny itu sudah pupus."
"Dan kau masih bisa bertahan hidup karena itu. Kau sangat hebat!"
"Ya, aku terlalu hebat. Karena itu penderitannyku sangat besar."
"Kau terlalu sempurna, karena itu Tuhan ingin bersikap adil pada makhluknya yang lain dengan memberikan sedikit penderitanny padamu."
Jongin menyambut ucapan Sehun dengan senyum. "Terimakasih, Oh!"
"Sehun!" laki-laki itu meralat lagi. "Sudah lama kau tidak memanggilku dengan sebutan Oh. Aku tidak menyukai nama Oh. Sungguh!"
Kali ini Jongin tertawa. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan pernah memanggilmu Oh lagi."
"Ya, tentu saja! Jangan lakukan itu. Jika ada orang yang bertanya siapa nama
suamimu, cukup katakan Sehun saja!"
"Kau bukan suamiku!"
"Tapi semua orang tau kalau kita sudah menikah. Tidak ada seorangpun yang tau kalau kau dan aku hanya berpura-pura."
"Ah, Ya! Ada satu hal yang membuatku penasaran. Mengapa kau berbohong kepada bibimu? Kau bilang kita akan ke British Columbia. Apakah dia tidak suka kalau kau datang kemari?"
"Bibiku tidak pernah tau kalau aku datang kemari. Aku juga tidak pernah bermaksud membohonginya. Kita hanya menghindari Baekhyun karena Pria itu pasti akan menysul ke British Columbia untuk memata-matai kita. Sayangnya saat dia tiba disana, tidak ada satupun dari kita yang bisa di temuinya."
"Licik!"
Sehun terkekeh. "Aku tidak suka di ganggu olehnya."
"Dia sangat tergila-gila padamu!" Jongin mengambil piring makan Sehun yang sudah kosong lalu menumpuknya menjadi satu. Ia akan mencucinya, untuk sebuah rumah yang di tinggalkan rumah ini terlalu bersih dan sempurna. Sehun mengutus orang untuk merawatnya dan ia rela membayar mahal untuk menjaga keaslian rumah itu sewaktu-waktu. Fikiran Jongin kembali kepada Baekhyun.
"Bagaimana jika Baekhyun mengetahui kalau aku adalah Kim Kaidan dia pasti akan memberi
tahu bibimu. Saat itu terjadi, tamatlah riwayatku!"
"Bagi Korea, Kim Kaisudah mati. Kau keluar dari sini sebagai Jongin, kembali kemari juga sebagai Jongin. Kau dan Chanyeol berpisah selama delapan tahun dan yah, setahu orang-orang, Kim Kaiberusia tiga puluh atau tiga puluh satu tahun. Jika bukan karena ucapan Chanyeol aku tidak akan mencarimu. Aku tau kalau Baekhyun sedang menyelidiki tentang Kim Kaidan ia tidak akan menemukAnnya dalam waktu dekat, Sayang! Jadi kau bisa bersantai sampai waktunya tiba."Sehun meraih tangan Jongin kembali.
"Tinggalkan saja itu. Akan ada yang membersihkAnnya nanti. Ibuku sudah menunggu!"
Tidak ada pilihan lain. Jongin tidak bisa menolak sama sekali tentang permintaan Sehun untuk bertemu dengan ibunya. Atau lebih tepanya berkunjung ke makam ibunya. Bunga-bunga kecil di semak-semak sepanjang jalan menuju pemakaman itu menyemarakkan suasana. Jongin tau Korea adalah kota yang indah, tapi dia tidak pernah melihat makam seindah yang di lihatnya di Jeonju.
Begitu sampai di makam orang tua Sehun, Jongin di paksa untuk melihat makam- makam lain yang sama indahnya. Ada sebuah pohon besar yang melindungi makam sehingga suasana pemakaman menjadi sangat teduh. Bunyi kicau burung membuat makam terasa lebih menenangkan di bandingkan tempat wisata manapun.
Sehun duduk disana, diantara makam kedua orang tuanya yang berdampingan. Tangan-ngAnnya membersihkan rumput-rumput liar yang menyembul di sekitar makam. Jongin mendekat dan membantunya. Tidak sepatah katapun yang bisa di dengarnya dari mulut Sehun. Sehun benar-benar diam dan membisu.
"Kau tidak berbicara apa-apa? Seharusnya kau menceritakan sesuatu!"
"Menceritakan apa?"
Sehun angkat bahu. Sepertinya ia memang tidak pernah mengatakan apa-apa saat berada di makam kedua orang tuanya.
"Katakan apa saja!"
"Tentangmu?"
"Kau boleh mengatakan apapun tentangku!"
"Umm, baiklah…" Sea berdehem, ia sedang menyiapkan kata-katanya. Tapi kemudian ucapan Sehun tidak muncul, ia mungkin tidak tau harus mengatakan apa. Selang beberapa saat, sepatah kata muncul mengawali semuanya.
"Ayah, ibu, Priaseksi yang bersamaku ini adalah istriku. Yah, aku memang tidak pernah mengatakan kalau aku pernah menikah kepada kalian. Tapi percayalah aku sudah beberapa kali menikah sebelum dengAnnya. Ah, tidak. Aku dan dia tidak menikah. Kami hanya berpura-pura."
Jongin sangat ingin tertawa mendengar ucapan Sehun kepada kedua orang tuanya. Semula Jongin fikir, Sehun juga akan membohongi kedua orang tuanya yang sudah berada di alam lain. Tapi sepertinya, Sehun tidak akan menciptakan kebohongan apa-apa. Ia hanya tidak tau harus memulai dari mana.
"Kami datang kemari dengan alasan ingin bulan madu kedua kepada bibi. Tapi bibi malah mendoakan agar kami bisa segera memiliki anak setelah pulang. Jongin tertawa sepanjang jalan kalau mengingatnya. Ah, aku hampir lupa. Nama pria ini Jongin…ku rasa hanya Jongin. Aku menambahkan nama Kimuntuk menipu Bibi."Sehun menoleh kepada Jongin sesaat. Pria itu menyembunyikan tawanya.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak, teruslah bicara!"
Sehun berdesis. "Baiklah, aku akan menceritakan siapa Pria ini sebenarnya.
Dia Kim Kai. Dia Pria yang pergi dengan Chanyeol ke Jepang.
Harusnya aku berterimakasih padanya karena membawa Chanyeol pergi, jika tidak, aku tidak akan pernah merasa sendiri dan datang kesini untuk melarung rindu
kepada kalian."Sehun diam sejenak lalu menatap Jongin lekat-lekat. "Ibu, Pria ini membuatku ketergantungan kepadanya. Apa yang harus ku lakukan?"
TBC
