Such a Liar
.
.
Belum sempat Hoseok memegang gagang pintu, Yoongi sudah muncul di hadapannya, memegang kepala bagian belakang dengan kedua tangan yang terangkat tinggi-tinggi.
"Aku menyerahkan diri, harap catat baik-baik, agar aku bisa memakainya di pegadilan nanti,"ujar Yoongi datar.
"Apa yang-"
Suara keras decit ban mobil yang direm paksa mengalihkan ketiganya. Perhatian mereka tertuju pada jalan. Sebuah mobil baru saja berhenti dari melaju dengan kecepatan tinggi tepat di depan pagar rumah keluarga Min.
Muncul Jungkook dari dalam. Derap langkahnya diburu. Menghambur begitu saja, menepis asal tubuh Hoseok, Joshua serta Yoongi untuk secepatnya masuk ke dalam menemui Jimin.
"Jimin!"panggil Jungkook, "Jimin..."ulangnya lebih kecil mendapati Jimin terduduk lemas di atas karpet.
"Jimin, kau baik-baik saja?"Jungkook berlutut, memegang kedua bahu Jimin. Rautnya semakin khawatir memperhatikan kerah baju melonggar, rambut kusut dan mata bengkak yang memerah milik Jimin, "apa Min Yoongi melakukan sesuatu? Apa kau terluka?"
Bola mata Jimin bergerak-gerak memperhatikan Jungkook. Entah kenapa ia masih belum bisa menjawabnya namun ia tahu pasti Jungkook sedang mencemaskannya sekarang. Sesaat kemudian pandangannya mengabur, tenaganya sudah terkuras habis, kepalanya terasa berat.
"Jiminie? Kau baik-baik saja?"Jungkook semakin khawatir dibuatnya.
Tangan Jimin lunglai, matanya tertutup, keseimbangan hilang, tubuhnya tertarik kebelakang.
"Jimin!"
Jimin pingsan.
Jungkook merengkuh tubuh Jimin. Mengangkatnya hati-hati. Menggendongnya dan mulai berjalan keluar rumah.
"JIminie!"teriak Hoseok. Ia berjalan mendekati Jungkook yang sudah membuka pintu mobil.
"Dia baik-baik saja, Hyung,"jawab Jungkook tenang, "dia hanya letih. Aku ingin Min Yoongi dibawa dengan mobilku."
"Hha?"Hoseok melihat ke arah mobilnya, di dalamnya sudah duduk Joshua sebagai pengemudi dan Yoongi yang duduk dibelakangnya, "kau mau ap- ya! Jeon Jungkook!"
Belum disetujui Hoseok, tapi Jungkook sudah membuka pintu mobil. Kepalanya dilongokkan, "kau pergi bersamaku,"ujar Jungkook singkat. Ia langsung berbalik, diikuti Yoongi yang keluar dari mobil.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil Jungkook.
.
.
"Apa yang kau lakukan pada Jimin?"tanya Jungkook pada Yoongi yang baru saja mendaratkan pantatnya dibangku belakang Jungkook.
"Aku meneriakinya, menarik kerah bajunya, menyeretnya, membuatnya menangis. Itu yang ingin kau dengar?"Yoongi melihat mata Jungkook dari kaca spion depan, "atau kau lebih tertarik kepada bagaimana ia bersikeras ingin menenangkanku."
Yoongi bernada datar, namun ada rasa bersalah dari matanya. Jimin yang sedang tak sadarkan diri dibangku depan, ia pandangi sejenak kemudian kembali menatap kaca spion.
Junkook menjalankan mobil. Dengan kecepatan tinggi.
"Kau hanya bisa mengamuk seperti anak kecil saat gilamu kambuh, ya,"ejek Jungkook.
"Well, aku memang gila. Gila memang seperti itu. Setidaknya aku yang seperti itu jauh lebih ia perhatikan daripada polisi muda yang kocar kacir untuk menangkapku. Jika Taehyung tak pernah muncul, kita tak akan bertemu untuk ketiga kalinya, Jeon Jungkooksshi. Sepertinya santa mengabulkan permintaanmu, beruntung sekali."
"Keberuntungan masih termasuk kelebihan seseorang. Kau tetap dihitung kalah."
"Dari awal aku memang tak ingin memenangkan apapun."
"Brarti kau tak berniat untuk memenangkan Jimin juga, kan."
Yoongi melihat ke arah Jimin lagi. Bangku depan yang Jungkook setel sedikit miring membuatnya melihat jelas wajah seseorang yang- terlepas mirip dengan adik kesayangannya- tak ia pungkiri hanya dalam beberapa menit berhasil mengaduk emosinya, "sepertinya aku akan membutuhkan seseorang untuk berada di sampingku."
"Kau tak mungkin menyukai adikmu sendiri kan."
"Hei, aku sudah cukup waras untuk tidak menganggapnya sebagai adik lagi. Bahkan aku cukup yakin cinta sepihakmu itu tak akan membuahkan hasil jika aku sendiri yang tidak mundur."
"Aku akan sangat menghargai jika kau memutuskan agar Jimin tak perlu untuk menunggumu."
Yoongi tak melihat Jungkook, pandangannya tertuju untuk Jimin, bahasa mata yang sulit diartikan, "well, kita lihat saja bagaimana nanti."
.
.
"Minumlah,"Jungkook duduk di samping Jimin, menyodorkan segelas teh hangat untuk pemuda yang sudah setengah jam tidak sadarkan diri dan setengah jam menunggunya.
Jimin menurut. Menenggak dua kali lalu mendesah cukup panjang.
"Apa kau tak ingin istirahat dulu?"tanya Jungkook, "aku yang akan mengantarmu pulang."
Jimin menggeleng pelan, "aku masih ingin di sini, Jungkooksshi,"jawabnya halus menatap nanar cairan coklat bening dalam papercup yang dipangkunya.
The Last Part.
"Setelah Kim Taehyung, Min Yoongi yang akan di introgasi,"Jungkook buka suara setelah dia dan Jimin sempat terdiam cukup lama, "lalu mereka akan ditahan sebagai tersangka. Kami akan mengadakan rapat, setelah itu baru Min Yoongi dan Kim Taehyung akan diadi-"
"Dalam waktu dekat ini,"potong Jimin, "apa aku boleh bertemu dengan Min Yoongi, Jungkooksshi?"
Jungkook berpaling dari Jimin, "apa kau yakin kau ingin bertemu dengannya?"
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu secepatnya."
Dada Jungkook berdesir. Tahu betul apa maksud dari perkataan Jimin. Ia mendengus, menarik sebelah senyumnya, "kau tahu, Jimin. Aku yakin Min Yoongi akan baik-baik saja."
Jimin menunduk lagi, kembali memiliki ekspresi seperti tadi.
"Sebaiknya kau istirahat dulu dalam beberapa hari ini,"Jungkook berdiri, kemudian menjongkok tepat di depan Jimin, dua tangannya masing-masing memegang lutut Jimin pelan, Jungkook menengadah, berusaha menarik Jimin untuk menatap lekat kedua matanya, "aku merasa tak enak padamu, tapi tugasmu sudah selesai, brarti mulai sekarang semuanya sudah urusan polisi. Kalau kau ingin tahu apa yang terjadi, begitu ini selesai aku akan menceritakannya padamu, akan aku jelaskan semuanya, tak akan ada yang aku tutup-tutupi. Aku berjanji, setelah itu kau sudah bisa menemui Min Yoongi kembali."
Jungkook berhenti sebentar. Ia menghela napas, karna Jimin belum mau memandang wajahnya, "hei, Jimin..."tangan Jungkook terulur, ia menjentil- sangat pelan, bahkan lebih tepat seperti sentuhan saja- kening Jimin.
Jimin tak berkedip, tapi bola matanya mulai mengarah untuk Jungkook.
"Hanya beberapa hari saja,"lanjut Jungkook, "lagipula tidak hanya aku, Hoseok-hyung juga inginnya begitu. Sekarang kita pulang, ya?"
Jimin mengangguk lesu, "ne, Jungkooksshi."
.
.
.
.
.
"Hop,"Jimin menaiki kopernya. Ia paksakan agar kopernya itu bisa tertutup. Padahal sebenarnya ia tak begitu banyak membawa barang ke Seoul, tapi Hoseok dan Jungkook terlalu sering membelikannya sesuatu, makanya sekarang ia cukup kesusahan dalam mempacking barang.
"Hufth,"lega Jimin. Kini ia beralih ke tas ranselnya, satu persatu barang ia masukkan secara rapi.
Tuk Tuk
Pintu kamar diketok. Jimin langsung menoleh.
Ada Jungkook di ambang pintu, "belum selesai, ya?"tanyanya menyandar di garis pintu.
Jimin menggeleng, "ani, sudah selesai kok. Nah,"Jimin menyandang ransel hitamnya dan berdiri tegak, memperlihatkan pada Jungkook bahwa dia sudah siap.
"Well, mari kita berangkat,"ujar Jungkook mengambil alih pegangan koper dari tangan Jimin.
"Jungkooksshi, kapan anda berhenti memperlakukanku seperti ini?"Jimin hendak merebut kopernya kembali, namun berhasil ditahan oleh Jungkook, "hanya sebuah koper, Jungkooksshi, aku tidak selemah itu."
"Kau membiarkan Hoseok-hyung membawakannya,"kilah Jungkook.
"Dia Hyung-ku, lagi pula aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu."
Bibir Jungkook tertarik ke bawah, ia dekatkan wajahnya pada Jimin, "kapan anda bisa terbiasa dengan sikapku juga, Jiminsshi?"tanyanya berlagak sok sopan dengan bibir yang sedikit dimajukan.
Jimin mendengus kecil, memukul pelan kepala Jungkook, "hei, berhenti mempermainkanku, sudah berapa kali aku katakan, aku ini lebih tua darimu, kan. Lagipula-"
Ada jeda dari Jimin, ia menjinjit, memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa centi saja dari Jungkook.
Jungkook termangu. Tentu saja jantungnya berdetak kencang. Mulut Jimin yang mulai terbuka sangat pelan, membuat pupilnya membesar dan perhatiannya hanya terpusat pada itu.
"Dapat!"teriak Jimin.
"Eh? Aaah."
Jimin terkekeh dan langsung bergegas keluar pintu, "haha! Wajahmu lucu sekali, Jungkooksshi!"
Jungkook mendesah kasar, menggaruk tengkuknya dan tertawa kecil menyusul Jimin. Barusan Jimin hanya ingin menjebaknya agar dapat membawa kopernya sendiri sampai mobil, tapi tetap saja Jungkook menikmatinya. Sudah lama ia tidak melihat Jimin tertawa semanis itu.
.
.
Jimin memberi tatapan heran begitu Jungkook mengarahkan mobil tidak menuju apartemen Hoseok-hyung.
"Kau ingin bertemu Min Yoongi, kan,"ujar Jungkook mengerti akan pandangan Jimin kepadanya.
Jimin terdiam. Menunduk dalam, meremas kuat seltbetnya.
"Kenapa? Bukannya senang?"
"Ntahlah, aku jadi tiba-tiba gugup."
"Kau sudah benar-benar mengerti dengan penjelasanku tadi malam, kan?"
"Ne..."
"Well, kau pasti merasa canggung, kan,"Jungkook melirik sekilas ke arah Jimin, "meski baru beberapa hari, tapi kali ini kau akan menemuinya sebagai Park Jimin."
"Ne..."
"Kuencana."
"Eh?"
"Kau sudah tak perlu berbohong lagi di depan Min Yoongi, kan. Harusnya kau lebih lega. Tapi, kalau kau gugup, ya sudah perlihatkan saja kalau kau itu gugup. Ungkapkan semua yang kau rasakan, semua yang kau pikirkan. Jangan menahannya dan bersikap kuat di depan Min Yoongi."
Jimin langsung tersenyum mendengar Jungkook, "ne, Jungkooksshi."
.
.
"Annyeong haseo..."Jimin membungkuk sopan begitu ia masuk ke dalam ruangan. Ia melangkah gugup dan duduk dengan canggung.
"Wajah kalian memang mirip, tapi sifat kalian berbeda sekali ya,"ujar Yoongi santai.
Mata Jimin yang sedari tadi tidak fokus, akhirnya tertuju pada Yoongi yang duduk di seberangnya.
Jantung Jimin berdebar, Yoongi tersenyum sedikit padanya.
"Jimin? Namamu Park Jimin, kan?"
Jimin membasahi bibirnya, "ne, salam kenal namaku Park Jimin, 19 tahun."
"Hmph,"Yoongi menahan tawa, merasa lucu dengan pengenalan Jimin. Karena dipikir-pikir, sebenarnya mereka sudah bersama selama hampir dua bulan, kan.
"Salam kenal,"senyum Yoongi, "namaku Min Yoongi, 21 tahun,"balasnya, entah serius atau tidak.
Jimin terpaku. Ada kelegaan luar biasa yang mengalir dalam dirinya. Ia takjub, melihat kondisi Yoongi yang baik-baik saja. Bahkan senyuman Yoongi terlihat tulus dan ringan. Aura Yoongi juga jauh lebih baik. Seperti tak ada yang membebaninya. Jimin sangat senang.
"Bagaimana kabar anda, Yoongisshi?"Jimin bertanya dengan nyaman.
Yoongi tak menjawab, ia menatap lamat pada Jimin.
"Yoongisshi?"
"Heol. Selama ini kau pasti malu sekali."
"Eh?"
"Kau ramah, baik dan sangat sopan. 'Yoonggisshi'?, kau bisa memanggilku dengan Yoongi saja. Bisa-bisanya kau bersikap seperti Tae Hee selama ini, kau pasti malu sekali."
"Jeo, jeosonghamnida."
"Kenapa kau malah minta maaf?"
"Aku sudah berbohong selama ini."
"Well, aku juganya yang bodoh. Bisa tertipu karena seorang laki-laki. Aku tak menyangka aku bisa segila itu."
Jimin mengulum bibir, teringat akan beberapa kejadian antara dirinya dan Yoongi.
"Sampai detik ini apa yang kau pikirkan tentang diriku, Jimin?"
"Eh? Ee,"Jimin meremas jari-jarinya, "anda sangat menyayangi Tae Hee."
"Kure. Lalu?"
"Ee. Anda baik. Anda pekerja keras. Orang-orang yang belum mengenal anda pasti berpikir anda itu sangat dingin dan tidak suka didekati, tapi sebenarnya penyayang. Anda perhatian, peduli pada-"
"Aku memang dingin dan tidak suka didekati, Jimin."
"Eh?"
"Kau hanya melihat sisi terbaikku untuk Tae Hee. Aku tidak akan seperti itu kepada orang lain."
Hening.
Jimin kembali gugup karena Yoongi memandanginya serius.
"Apa kau menyukaiku?"
Jimin menunduk, pipinya memanas. Kedua telinganya langsung memerah.
"Kure, kau menyukaiku, ya,"Yoongi menjawab sendiri pertanyaannya, "berarti kau menangis pada malam itu karena berusaha menahan perasaanmu ya."
"Apa aku tidak boleh menyukai anda, Yoongisshi?"tanya Jimin gugup tetap menunduk.
"Kau pasti tahu bagaimana sifat asliku kepada semua orang selain Tae Hee, kan."
"Ne..."
"Brarti kau senang saat aku memperlakukanmu sebagai adik."
"Ani,"Jimin menjawab cepat, "bukan sebagai adik, tapi sebagai seseorang yang sangat anda sayangi. Lagi pula aku menyukai semua hal mengenai anda, aku bahkan menyukai cara anda berjalan, Yoongisshi."
"Bagaimana dengan sisiku sebagai seorang pembunuh?"Yoongi bertanya santai, namun ditelinga Jimin terdengar begitu dingin dan menusuk.
Jimin mendongak, menatap lekat kedua mata Yoongi, "aku tetap menyukai anda,"ujarnya gemetar. Hatinya ngilu melihat sosok Yoongi di hadapannya. Rasanya ia ingin menangis.
Tentu saja, karena ia menyukai Yoongi, dan masih tetap menyukai Yoongi meski ia telah tahu bahwa Yoongi seorang pembunuh. Dan meskipun batin Jimin merasa tak kuat menahan semua itu. Dia tetap ingin berada di sisi Yoongi. Jika Yoongi terpuruk tentu ia jauh lebih terpuruk lagi, jika Yoongi dalam kesedihan tentu ia merasa jauh lebih sedih lagi. Apapun yang telah terjadi. Apapun yang akan terjadi, Jimin ingin menjadi seseorang yang sangat berarti bagi Yoongi.
Mata Jimin membulat, padahal ia benar-benar akan menangis namun Yoongi malah mengacak-acak rambutnya sampai berantakan, "aku tak menyangka kau adalah orang yang sangat berterus terang, Jimin,"senyumnya.
Tekanan Jimin langsung menghilang. Emosi yang ia rasakan seketika berubah. Kalau tadi ia merasa bahwa pembicaraan mereka serius dan menyangkut suatu hal yang tidak main-main kini ia malah berdebar-debar seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta. Jantung Jimin tak melambat sediktpun, bahkan semakin cepat.
"Kau tahu berapa lama aku dihukum kan? Apa kau masih bi-"
"Aku akan menunggumu,"sergah Jimin, "aku akan menunggumu, Yoongisshi,"ujarnya halus, menatap lembut kepada Yoongi.
Ada keheningan lagi di antara mereka. Dua pasang mata itu beradu tanpa berkedip sekalipun. Tampak Jimin mengharapkan sesuatu dan Yoongi yang berpikir dengan raut tenang.
Beberapa lama, akhirnya Yoongi berinisiatif duluan, ia tersenyum lebar, tangannya bergerak menggenggam jemari Jimin, "well, kalau begitu. Apa kau ingin mengabulkan permintaanku, Jimin?"
.
.
-Penjelasan Kasus Min Yoongi-
Tanggal 25 Oktober 2015 :
Min Yonhwa (40 Tahun) yang sedang mabuk, baru kalah judi, yang sama sekali tidak peduli dengan peringatan kematian istrinya, bertengkar hebat dengan anak sulungnya Min Yoongi (21 tahun). Saat Min Yoongi didorong keras hingga tersungkur ke lantai, Min Yonhwa beralih menyakiti anak perempuannya sendiri, Min Tae Hee (16 tahun).
Min Tae Hee sempat memberontak, Min Yonhwa kemudian memukul keras kepala Min Tae Hee dengan botol minumannya. Min Yonhwa melakukannya tiga kali, sampai Min Tae Hee benar-benar tak bergerak lagi. Min Yoongi langsung memeriksa tubuh adiknya, tepat ketika mengetahui adiknya sudah tak bernyawa, Min Yoongi langsung bergerak ke dapur. Mengambil pisau kemudian menusuk punggung Min Yonhwa yang dari tadi hanya tertawa tak jelas setelah membunuh putrinya.
Min Yoongi menusuk punggung Min Yonhwa dua kali. Min Yonhwa kehilangan keseimbangan namun masih berusaha melawan Min Yoongi. Min Yoongi meraih vas bunga di dekatnya dan memukul kepala Min Yonhwa dengan itu sampai vas bunga pecah. Min Yonhwa tak sadarkan diri. Min Yoongi menyeret Min Yonhwa ke kamar mandi. Karena kalut dan dipenuhi amarah, Min Yoongi menusuk tubuh Min Yonhwa berkali-kali. Setelah merasa puas Min Yoongi langsung tersadar akan tindakannya sendiri. Ia langsung menghubungi Kim Taehyung.
Kim Taehyung (20 tahun) kenalan Min Yoongi saat mengikuti sebuah seminar. Mereka tidak berteman. Namun Min Yoongi mengetahui bahwa Kim Taehyung pernah memalsukan identitas mayat pada Rumah Sakit Universitas S, guna diawetkan di kamar mayat dan dijual di pasar gelap dengan harga tinggi. Dan malam itu Min Yoongi meminta Kim Taehyung untuk melakukannya lagi.
Catatan telpon Min Yoongi dengan Kim Taehyung dan kontak Kim Taehyung langsung Min Yoongi hapus. Setelah membersihkan mayat Min Yonhwa dan Min Tae Hee, Kim Taehyung langsung membawanya ke Rumah Sakit Universitas S. Min Yoongi langsung membersihkan rumahnya. Menghapus semua jejak-jejak pembunuhan dari rumahnya. Kim Taehyung membantunya dengan membawa zat penghilang jejak darah. Malam itu rumah Min Yoongi benar-benar sudah bersih, seperti tak terjadi apa-apa. Setelah Min Yoongi membersihkan dirinya, ia lalu tidur. Tidur dengan perasaan kacau, emosi yang tak stabil, psikis yang menolak kebenaran bahwa ayah dan adiknya sudah meninggal.
Min Yoongi terbangun dipagi hari seperti biasa, melupakan apa yang telah terjadi tadi malam. Jiwanya mulai terganggu dengan meanggap Min Yonhwa dan Min Tae Hee masih hidup dan menjalani kehidupan dengan rutinitas biasa.
Kim Taehyung tidak pernah menghubungi dan menemuinya lagi. Karena dari awal mereka hanyalah kenalan biasa. Tak akan pernah berhubungan jika tidak memiliki keperluan yang sangat penting.
Tanggal 27 Desember 2015 :
Secara kebetulan Kim Taehyung meghubungi Min Yoongi. Min Yoongi tahu dia sedang diawasi polisi namun dia tak sadar bahwa dirinya tidak tahu akan kematian ayah dan adiknya. Karena itu dia sama sekali tak menghindari pembicaraan telpon dengan Kim Taehyung, bahkan berani untuk menemui Kim Taehyung di luar. Dan Kim Taehyung tidak sedikitpun mengira bahwa polisi menyelidiki hilangnya Min Yonhwa dan Min Tae Hee dengan dugaan kematian. Di sini Polisi langsung memanfaatkan celah Min Yoongi. Polisi langsung menyelidiki perihal kamar mayat Rumah Sakit Universitas S dan yang tertanggung jawab atas ruangan itu.
Nama Kim Taehyung masuk dalam daftar catatan polisi. Hari itu juga dikerahkan beberapa orang untuk menangkap Kim Taehyung. Kim Taehyung didakwa atas pemalsuan identitas mayat, perdagangan gelap dan membantu tindakan pembunuhan yang dilakukan Min Yoongi. Dia tertangkap sepuluh menit sebelum berangkat menuju Busan menggunakan KTX. Beberapa hari kemudian dia resmi dihukum penjara selama 7 tahun.
Di saat yang sama Min Yoongi, menyerahkan diri, mengakui semua perbuatannya dan resmi dihukum penjara selama 5 tahun.
.
.
.
.
GAMSAHAMNIDAAAAA! TERIMA KASIH BANYAK TERUTAMA BUAT YANG NYEMPETIN BACA DAN TERKHUSUS BUAT YANG NGASIH REVIEW! NOMU NOMU GOMAWO!
Akhirnya Such a Liar ini tamat. Maaf kalo selama ini bahasanya ga bagus, sulit dimengerti, gaje n sering typo. Eh! tunggu! tunggu! jangan diclose, kalo ga terlalu niat baca pesan2 dari saya ini, skip aja ke bawah, ada epilog nya kok hehe.
Saya seneng bgt kalo selama ini ada yang masih bertanya2 sebenernya endingnya ini, Yoonmin apa Kookmin ya ... hehe, soalnya saya emang pengennya gitu, biar penasaran finalnya itu siapa yang dapetin Si Manis Enchim super imut itu (skrg udah cantik ya haha)
Karena saya ga suka persepsi orang yang umumnya mikir gini : Yoongi - Jimin - Jungkook
Makanya saya balik : Jungkook - Jimin - Yoongi (saya bikin si Jungkook itu perhatian bgt ama si enchim hoho)
Saya juga seneng banget ada yang muji analisis Jungkook ^^ disini saya bikin Yoongi emang lebih cerdas, tapi Jungkook ga kalah juga kok. Saya lumayan berpikir tiap bikin analisis Jungkook ini, soalnya kalo saya kan udah tahu detail kasusnya tu, tp gmn cara ngebuat seolah-olah Jungkook itu tahu dari sudut pandang orang yang belum tahu sama sekali apa sebenernya yang terjadi dalam kasus ini. Well, sejauh pemikiran saya begitulah jadinya analisis Jungkook. Mian, kalo masih byk kurang sana sini.
Ide Such a Liar murni dari saya sendiri, tapi pas nulis chapter dua, baru nyadar, terlintas satu momen dalam kepala saya, saya pernah liat ntah dr komik ntah dr novel ntah dr film ntah dr drama, momennya itu gini Si A pura2 ga kenal Si B yg udah ngebunuh Si C, intinya Si A ini ngaku ke Si B dia ga kenal Si C, padahal Si A n Si C ini saling mencintai, nah masalahnya disini, ternyata Si B itu rada ga waras dia ga inget pernah ngebunuh Si C, jadi Si A ngedeketin Si B semata-mata cuman buat Si B itu inget apa yang udah dilakuinnya. Gitoh, ada yang tau? Saya sendiri jg penasaran bgt! Soalnya ingetnya itu doang haha
Nah, masalah dikepolisian, saya sengaja ga detail bahas kinerja mereka karena pengetahuan saya belum nyampe ke sana (Mian!) di endingpun cuman dibahas gitu doang (Mian!)
Oh! Satu yang lupa, ada momen Yoonmin yg saya skip, Yoongi yg ketakutan dr rumah sakit buru-buru nyampe rumah trus langsung ke kamar Taehee, ia nangis selama di perjalanan, pas udah di kamar, ngeliat dgn matanya sendiri si jimin tertidur pulas gitu, Yoongi langsung senyum (Aduh! saya ngebayanginnya ugh! bgt! soalnya dari dia nangis ketakutan trus senyum, kebayang ga tuh Yoongi menderita bgt) nah, dia langsung duduk di lantai disamping ranjang, mandangin jimin, ngelus kepala jimin, nyium kening jimin, trus ketiduran. Abis itu dateng si Taehyung. Taehyung mapah Yoongi tuk tidur di sofa, disni Taehyung berencana bakal ngomong berdua aja ama jimin begitu jimin bangun.
Nah, masalah genre, saya emang bikin romance dan level romance saya emang seperti ini,,,,, miaannnn,,,,, bahkan saya cuman bikin adegan pelukan,,,, saya belum bisa bikin sampai ke kissing atau sejenisnya,,,,, lgpula hubungan mereka btiga masih belum jelas kan ya. Well, saya penganut paham 'ga bakal ngapa2in kalo emang hubungannya belum jelas' begitu. Jadi, kalo emang udah jelas pacaran, akan saya usahakan hehe.
.
.
Well, once again Gamsahamnida! Saya seneng bgt kalo ada yang ngasih review. Ada yang masih ngeganjel, ada yang protes atau dll sejenisnya, sooooh di review, sebelumnya saya emang ga pernah balas review, karna rata2 saya jawab melalui isi cerita ini. Nah, karena udah tamat, kalo ada yg ngasih review, saya bakal bikin chapter tambahan, saya bakal jawab semuanya di sana ^^
Annyeong! Semoga kita bisa ketemu lagi! ^^
.
.
.
.
Epilog
Jimin tahu ia datang terlalu cepat dari waktu yang telah dijanjikan. Karena itu meski sudah menunggu hampir sejam Jimin masih bisa tersenyum sambil memandangi dinding kaca kafe tempat ia akan bertemu dengan seseorang setelah sekian lama.
Lalu lalang dibalik kaca bening Jimin pandangi baik-baik. Banyak yang menarik perhatiannya, padahal itu hanyalah gambaran rutinitas sehari-hari.
"Kenapa kau datang terlalu cepat?"
"Eh?"
Seseorang sudah duduk di seberang Jimin, "kau sudah minum lima gelas air putih hm."
Jimin tersenyum canggung, namun sedetik kemudian senyumannya berubah lebih lebar dan sangat manis, "bagaimana kabar anda Yoongisshi?"
"Well, cukup baik,"jawab Yoongi datar, "aku bahkan sudah mendapatkan pekerjaan yang, yaah, lumayanlah untuk yang hidup sendiri."
"Benarkah? Bagus sekali, Yoongisshi."
"Kau sendiri?"
"Hm, aku bekerja di toko bunga."
"Florist hm. Sangat cocok dengan imej-mu."
"Ne..."
"Kita pesan makanan dulu."
"Ne."
.
.
"Jadi, apa yang ingin kau berikan padaku?"
Jimin menaruh sendoknya, mengambil sesuatu dari dalam ranselnya, "ini... kudengar anda sudah menjual rumah anda dan seluruh isinya. Anda juga menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah pengurusan barang-barang Tae Hee di asrama. Seminggu yang lalu aku tidak sengaja berpapasan dengan Hyorin,"Jimin menyodorkan sebuah buku bersampul hitam dengan tempelan stiker warna-warni pada Yoongi, "Hyorin sudah menyimpannya baik-baik. Ia ingin memberikannya padamu, tapi tidak tahu bagaimana menghubungimu. Hyorin memutuskan menitipkannya padaku."
Yoongi mengambil buku itu, ia pandangi lama-lama. Perlahan seulas senyuman lembut menghiasi wajah Yoongi "gomawo,"ujarnya santai.
"Ne,"angguk Jimin ikut tersenyum.
Keduanya lalu mengobrol ringan mengenai bermacam hal. Kemudian memutuskan pulang setelah Yoongi mengatakan ada keperluan yang perlu ia urus.
"Well, aku duluan, Jimin,"pamit Yoongi.
"Ne. Hati-hati di jalan, Yoongisshi,"balas Jimin.
Yoongi terdiam sebentar, kemudian ia tersenyum mengacak-acak rambut Jimin, "kali ini sepertinya memang benar-benar 'selamat tinggal' ya."
"Ne,"Jimin tersenyum lembut.
"Terima kasih kau sudah menyempatkan diri untuk memberikan ini,"Yoongi mengangkat diary adiknya, "sampaikan pada Hyorin, aku sangat berterima kasih."
"Ne."
"Well, selamat tinggal, Jimin."
"Annyeonghi gyeseyo, Yoongisshi."
Yoongi berlalu pergi, jika Jimin masih merasakan hal yang sama seperti lima tahun yang lalu pasti ia mematung cukup lama memperhatikan punggung Yoongi hingga tak terlihat lagi. Namun Jimin langsung berbalik, mengambil hapenya, berjalan ke arah tempat di mana ia akan dijemput oleh kekasihnya.
-Lima tahun lalu-
"Kau tahu berapa lama aku dihukum kan? Apa kau masih bi-"
"Aku akan menunggumu,"sergah Jimin, "aku akan menunggumu, Yoongisshi,"ujarnya halus, menatap lembut kepada Yoongi.
Ada keheningan lagi di antara mereka. Dua pasang mata itu beradu tanpa berkedip sekalipun. Tampak Jimin mengharapkan sesuatu dan Yoongi yang berpikir dengan raut tenang.
Beberapa lama, akhirnya Yoongi berinisiatif duluan, ia tersenyum lebar, tangannya bergerak menggenggam jemari Jimin, "well, kalau begitu. Apa kau ingin mengabulkan permintaanku, Jimin?"
"Eh?"
"Kau bersedia menungguku. Kau benar-benar menyukaiku. Berarti kau mau mengabulkan permintaanku, kan?"
"Ne."
Yoongi masih tersenyum lebar, "lupakan aku."
Mata Jimin membulat. Bibirnya mengulum kuat. Dadanya sakit.
"Kau tidak bisa menyukaiku. Dan aku tidak bisa menyukaimu. Kenapa? Aku bisa menjelaskannya seharian. Tapi, aku yakin kau akan mengerti."
"Hiks..hiks.."isak Jimin.
"Terima kasih. Selama ini kau sudah menjadi Tae Hee. Terima kasih. Selama ini kehadiranmu cukup menguatkanku. Terima kasih. Kau sudah mau menyukai pembunuh sepertiku. Tapi aku ingin kau melupakanku. Jangan pernah menungguku."
"Hiks...hiks..."
"Selamat tinggal, Jimin."
.
.
.
.
"Jungkook!"Jimin segera menutup panggilannya dan melambai-lambai ke arah Jungkook.
Jungkookpun begitu lalu berlari kecil menuju tempat Jimin berdiri. Ia menghambur memeluk Jimin dan mengecup sekilas bibir Jimin.
"Hei!"protes Jimin memukul pelan dada Jungkook.
Jungkook hanya tersenyum nakal, "kenapa? Kau masih malu? Kita sudah setahun tinggal bersama, kan."
"Jangan di tempat umum,"kesal Jimin.
"Mian. Semakin hari kau semakin manis sih."
"Dasar,"keluh Jimin berjalan duluan menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu.
Cepat Jungkook menyusul, meraih tangan Jimin dan bersama tangannya dimasukkan ke saku jaket.
"Jungkook-a..."rajuk Jimin, merasa takut jika orang-orang mulai memandang aneh ke arah mereka.
"Mau ke mana dulu?"acuh Jungkook.
Jimin hanya mendengus sambil tersenyum, Jungkook sering seperti ini, tidak peduli, yang penting ia senang bersama Jimin. Lagipula sepertinya semakin lama orang-orang semakin sibuk dengan urusan masing-masing, mereka tidak akan terlalu peduli dengan yang terjadi di sekitarnya.
"Hmmm."
"O, ya. Bagaimana keadaan Yoongi?"
"Dia terlihat jauh lebih baik."
"Kalian membicarakan apa?"
"Banyak hal, terutama mengenai Tae Hee."
"Ooo."
"Jadi sekarang kita akan ke mana dulu?"
"Apa langsung pulang saja?"
"Kau tak ingin refreshing dulu? Kasusmu yang terakhir cukup berat kan. Lagipula sekarang masih jam lima."
"Sungai Han?"
"Akan lebih bagus disaat malam."
"Hmm, kencan di Namsan Tower mau?"
"Bagus juga..."
"Setelah itu kita ke Love Hotel."
"YA! Dasar!"
"Hahaha."
"Haha."
.
.
Such a Liar
-END-
