A/N: Yahoo! Ketemu lagi dengan Luna-chi dan Naruto di cerita ini! Jadi—meski agak telat, kita mulai saja apdet cerita ini, yah! Let see…sebelumnya makasih banyak buat review-review yang SUPER dari para pembaca! Luna seneng banget ngebacanya! Nggak bisa dibales semua sih…dan sorry banget soal mistipo yang luar biasa banyak itu T_T Padahal luna yakin udah ngecek. Apa karena ngantuk jadi kelewatan ya…? Anyway, Luna nggak mau basa-basi kelamaan deh! Langsung ajah! Chapter 11…ENJOY!
Disclaimer: Naruto dan karakternya punya Kishimoto-sensei, ide tentang pencuri misterius dan detektif datang dari DNAngel-nya Yukiru Sugisaki dan Conan-nya Aoyama Gosho
Warning: bahasa kasar, oOC-ness, shounen ai (SasuNaru—main, yang lain cuma tambahan ajah…)
The Legend of Nine Tails Phantom Thief
Chapter 11: Kyuubi's Past and Present
"Jasad Ookami…menghilang katamu?" tanya Naruto sangat kaget. "Apa maksudmu ada yang mengambilnya?" lanjut si bocah pirang itu dengan tatapan nggak ngerti.
Sasori terdiam sesaat, berpikir, mempertimbangkan apa baik kalau dia mengungkap hal itu. Namun, beberapa detik kemudian Sasori memutuskan untuk membuka mulutnya. "Seperti kataku tadi, ini hanya kemungkinan. Mungkin dia masih hidup atau ada yang mengambil jasadnya."
"Makanya…apa maksud kemungkinan kedua itu?" tanya Naruto lagi, masih sangat penasaran.
"Bagaimana ya…, aku nggak ada bukti konkret sih, tapi ada rumor kalau Ookami bekerja di bawah suatu organisasi," kata Sasori serius, tapi kurang yakin.
"Organisasi?" Naruto menaikan alis matanya dengan heran.
"Dan organisasi ini bukan organisasi sembarangan…. Organisasi ini cukup besar untuk mempengaruhi pemerintahan sebuah negara…dan banyak terlibat dalam pemerintahan negara lain. Kalau memang dugaanku benar, kalau memang organisasi itu yang ada di belakang Ookami…, bisa jadi kita akan melawan dunia, Naruto. Dan aku betul-betul berharap kalau dugaan ini sangat salah," lanjut Sasori seraya menggigit bibir dengan khawatir.
Naruto menelan ludah. "Segitu berbahayanya organisasi itu?" tanya Naruto tegang. Sasori mengangguk, serius sampai rasanya mematikan. Naruto menutup matanya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskanya dan membuka matanya dengan yakin lagi. "Apa Kau bisa memberitahu nama organisasi itu?" tanya Naruto.
Sasori menggeleng kepalanya dengan khawatir. "Kurasa itu bukan ide yang bagus. Aku belum punya bukti," tanggapnya ragu.
"Tapi bisa jadi petunjuk," bantah Naruto. "Kalau dia memang masih hidup, bukanya Ookami harus diburu dan ditangkap? Dia penjahat yang sadis. Dunia nggak akan tenang kalau dia masih berkeliaran. Bagaimana kalau dia berulah lagi?" Naruto beralasan.
Sasori menggeleng lagi. "Naruto, kalau dia memang di bawah perintah organisasi ini, jangankan ditangkap, kita nggak akan bisa melacaknya," lanjut Sasori. "Kalau dia masih hidup dan melapor ke organisasi, bisa jadi kita yang akan diburu oleh mereka," kata Sasori. "Untuk sementara, sebaiknya Kau sembunyi dulu setahun atau dua tahun, sampai kita yakin nggak ada yang mengincarmu, baru Kau beraksi lagi," saran Sasori.
"Jangan ngaco! Kau pikir berapa orang yang bakal kesulitan kalau aku absen selama itu!? Menolong itu nggak bisa menunggu tau!" protes Naruto.
"Tapi Naruto, organisasi ini berbahaya! Kau bisa mati kalau terlibat dengan mereka!" bantah Sasori mulai emosi.
"Tapi Kau juga nggak punya bukti kalau Ookami masih hidup dan melapor ke mereka, kan!?"
"Kau ini keras kepala sekali! Kalau terjadi sesuatu padamu juga, gimana aku bisa bertanggung jawab pada Kushina-san!?"
"Juga?" tanya Naruto sesaat setelah mendengar teriakan Sasori barusan. Sasori tersadar dan kontan menutup mulutnya dengan tampang kaget. "Apa maksud 'juga' barusan, Sasori?" Naruto menatap Sasori, meminta penjelasan.
Sasori nggak bisa menghindar dari tatapan tajam Naruto dan menghela nafas, menggeleng kepalanya lagi. "Seharusnya aku nggak ngomong apa-apa…."
"Sasori—!" Naruto menyipitkan matanya dengan tatapan serius yang mengancam.
"Baiklah, oke, aku bakal ngomong," tanggap Sasori sambil menggaruk pipinya dengan frustrasi. "Nggak ibu nggak anak, sama saja…," lanjutnya sembari menghela nafas panjang. "Ini soal ibumu, Naruto," kata Sasori memulai. Naruto kontan menegakan badanya, mendengarkan Sasori baik-baik. "Sebelum dia meninggal, kebetulan dia tengah berurusan dengan organisasi ini," kata Sasori, "-dan kebetulan juga dia berurusan dengan Ookami di saat yang sama. Kau paham maksudku?" Sasori melihat Naruto dengan tampang cemas.
Naruto mencoba meletakan kedua fakta itu dalam satu pikiran. "Maksudmu…itu bukan kebetulan?" tanya Naruto paham.
"Itulah, aku hanya menebak. Soalnya keduanya terlalu kebetulan," kata Sasori. "Aku sudah mencoba menarik simpul yang menghubungkan dia dan organisasi itu, tapi nggak pernah ada bukti nyata. Ini hanya bukti situasi, tapi apa nggak aneh dengan rekor kejahatan seperti itu, Ookami bisa membersihkan jejaknya dengan terlalu sempurna? Kalau nggak ada bantuan dari sesuatu yang BESAR di belakangnya…nggak mungkin dia bisa menghilang dengan sempurna begitu!" kata Sasori kesal. "Sudah begitu…semua polisi yang mengejar Ookami mengalami kematian yang tragis," Sasori mulai berjalan bolak-balik dengan wajah kesal dan cemas ambil menggigit ibu jarinya. "Sudah nggak terhitung jumlah polisi yang jadi korban…oya…aku lupa memberi tahu kalau salah satu polisi yang jadi korban Ookami adalah salah seorang Uchiha," Kata Sasori sangat kesal.
Naruto membelalakan matanya karena itu. "Apa…?!" tanyanya dengan sangat kaget.
"Kalau nggak salah namanya…Uchiha Fugaku, dan dia adalah teman baik Kushina-san," lanjut Sasori lagi. Entah kenapa hal itu membuatnya sangat marah. "Kalau diingat-ingat lagi…gara-gara itu juga Kushina-san jadi naik darah dan dia jadi kurang hati-hati—! Karena tengah dikuasai amarah, Kushina-san memperlihatkan celah. Ookami melihat hal itu dan nggak menyia-nyiakanya—! Makanya dia berhasil mendorong Kushina-san dari tebing itu—!!"
Naruto nggak tahu mesti ngomong apa saat ia mendengar hal itu. Ookami membunuh ibunya. Ya, itu sudah jelas, tapi Uchiha…? Lebih lagi…Uchiha Fugaku? Bukankah itu…nama ayah Sasuke?
Jadi…saat Sasuke bilang ayahnya meninggal dalam tugas itu…adalah saat dia mengejar Ookami? Jadi…orang membunuh ibu dan yang membunuh ayah Sasuke…adalah si bangsat itu—!?
Naruto menggertakan giginya dengan sangat emosi. Ia mencengkeram selimut di tanganya erat-erat sampai terasa sakit. "Sialan—!!" Naruto benar-benar marah sekarang. Emosinya membuncah bagai magma yang siap meledak dari mulut volcano dan dia nggak ngerti mesti dikemanakan amarahnya itu. "SIALAAAAAN!!" teriaknya sangat emosi.
Sasori sangat kaget mendengar teriakan penuh amarah dari bocah yang biasanya ceria itu. Air mata sekali lagi berkumpul di kelopak mata Naruto, Sasori bisa melihatnya, tapi mungkin air mata itu bukan rasa sedih atau lega. Air mata itu adalah lambang kemurkaan Naruto pada orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya…dan mungkin atas kematian Fugaku juga.
Sasori melihat Naruto yang begitu marah itu dengan wajah sedih. Mungkin seharusnya dia nggak menceritakan hal ini, tapi Naruto berhak mengetahuinya. Kushina-san adalah ibunya dan dia sangat sayang pada wanita itu. Wajar kalau Naruto semarah ini.
"Apa Kau ingin aku melanjutkan cerita ini, Naruto?" tanya Sasori hari-hati.
Naruto menutup wajahnya dan terdiam beberapa saat dengan nafas tersengal-sengal. Seteleh mencoba menenangkan diri beberapa saat, ia menurunkan tanganya lagi dan berkata dengan suara gemetar, "Tolong lanjutkan…." Amarahnya belum sepenuhnya reda.
Sasori menunggu waktu beberapa saat sebelum ia mulai bercerita lagi. Nggak ada artinya kalau dia bercerita tapi batin Naruto masih berkecamuk dengan amarahnya, jadi dia memberi Naruto sedikit waktu untuk menghadapinya. "Baiklah, aku akan mulai lagi," katanya pelan. Naruto mengangguk dan sekarang melihat ke arah Sasori dengan tatapan serius. Sasori mengangguk juga. Yakin kalau Naruto sudah ada di sana dan siap mendengarkanya algi.
"Ibumu mulai berurusan dengan Ookami dan organisasi ini saat mulai beredar isu bahwa RAINBOW atau permata tujuh rupa sudah dilepas oleh pemilik terakhirnya, keturunan terkahir Raja Solomon, dan menjadi ajang perebutan di negara-negara di dunia ini," kata Sasori.
"Permata…tujuh rupa…!?" Naruto membelalakan mata saat mendengarnya. "EEEEEEEEEEEEEEEEEH!? Permata itu maksudnya…RAINBOW yang desas-desusnya merupakan permata legendaris peninggalan daratan mistik ATLANTIS!?" Naruto benar-benar shok mendengarnya. Bulu kuduknya sampai berdiri semua.
"Ya, bayangkan saja. Tujuh permata itu semuanya dilepas begitu saja. Di dunia seniman, nggak…bukan hanya di dunia seniman sebetulnya, di dunia ini Kau tahu betapa berharganya tujuh permata itu? Mendapatkan satu saja dari mereka akan membuat orang kaya seumur hidup, tapi bukan hanya itu yang menakutkan dari legenda permata itu. Permata itu adalah milik Kerajaan Atlantis, yang terkenal dengan elixir-nya yang bisa membuat orang yang meminumnya imortal, hidup abadi selamanya. Kabarnya, permata itu adalah kunci untuk membuka rahasia elixir kerajaan Atlantis. Kau mengerti kan? Keributan macam apa yang terjadi di luar sana saat itu terjadi?" Sasori menjelaskan.
Naruto menelan ludah lagi dengan susah payah. Shoknya masih terlalu kental."Aku pernah dengar…meski belum pernah melihat aslinya, keindahan permata itu nggak tertandingi, lebih indah dari Snow Diamond, dan lebih berkharisma dari Pink Puma. Permata tingkat S yang nggak ada bandinganya." Naruto mengangguk.
"Benar…ditambah legendanya, siapa yang nggak mau mengincarnya? Karena keributan yang hampir memecah perang dunia itulah, Kyuubi merasa terpanggil untuk ambil bagian. Dia mencari informasi tentang permata-permata itu sampai bisa memperoleh tiga di antara tujuh," kata Sasori.
"Ibu berhasil mendapatkanya!?" Naruto sangat kaget dengan itu.
"Ya…Water Diamond (Aquamarine), Fire Diamond (Rubby), Wood Diamond (Emerald). Tiga permata itu yang berhasil diamankan oleh ibumu. Lalu sisanya…Earth Diamond, dan tiga permata Sky Diamond: Thunder, Sun, dan Cloud belum berhasil ditemukan atau…sudah didapatkan oleh organisasi dan Ookami." Lanjut Sasori serius.
Naruto memandang sasori dengan wajah pucat. "Lalu…apa yang terjadi?" tanya Naruto.
"Organisasi mengetahui kalau Kyuubi mengincar permata itu juga dan mereka memburunya dengan mengirim Ookami untuk mengambil permata-permata itu darinya," kata Sasori sambil menggertakan giginya. "Tapi…ini hanya tebakanku saja dari percakapan terakhir Kushina-san dan Ookami yang berhasil kutangkap," lanjutnya.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Naruto.
Sasori mengerutkan dahinya. "Lebih baik Kau nggak mendengarnya, Naruto," kata Sasori sambil mengalihkan wajah. "Yang jelas percakapan itu bukan untuk anak di bawah umur. Aku saja masih muak kalau mengingatnya," kata Sasori memasang tampang jijik.
"Dia melecehkan ibuku ya?" tanya Naruto dengan tampang siap menghajar sesuatu. Sasori menghela nafas kesal. "Dasar pencuri mesum kurang ajar!" kata Naruto emosi lagi.
"Intinya—," sela Sasori lagi, "Ookami diperintahkan untuk menyingkirkan Kyuubi. Garis bawahi kata 'diperintahkan.' Makanya aku berasumsi ada organisasi di belakang Ookami dan satu-satunya organisasi yang bisa memerintah pencuri arogan seperti Ookami hanya ada satu," Sasori menelan ludah, mempersiapkan diri membuka rahasi terbesar abad ini.
"Apa?" tanya Naruto nggak sabar.
"Nama organisasi kriminal ini adalah…AKATSUKI."
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sepulang sekolah, Shikamaru, Shino, dan Kiba menjalankan rencana mereka pagi itu. Mereka betul-betul ke rumah Sasori, atau lebih tepatnya mengunjungi hotel tempat Sasori tinggal. Kiba kelihatan bersemangat dan penasaran. Shino…nggak kelihatan gimana-gimana. Sedangkan Shikamaru…dia berniat membongkar apa pun itu yang disembunyikan Sasori.
Jujur…Shikamaru masih nggak terima perlakukan Sasori Minggu lalu. Yah, bukan berarti dia ingat karena dia ketiduran, tapi samar-samar dia tahu kalau Sasori melakukan sesuatu di belakangnya selagi dia nggak sadarkan diri, dan rasa ingin tahunya mengganggunya, sangat mengganggunya.
Ketiga bocah itu berjalan bersama dengan Kiba yang mengoceh soal berita-berita terbarunya sola Kyuubi, Shino yang diam saja entah mendengarkan atau nggak dan Shikamaru yang merencanakan sesuatu di kepalanya.
"Jadi sampai akhir kasus terakhir Kyuubi ini masih jadi misteri…meski Uchiha Itachi sudah mengkonfirmasi kalau musuh terakhir mereka sebetulnya bukan Kyuubi tapi penjahat sadis bernama Ookami. Nasib Kyuubi setelah ledakan itu masih belum diketahui, sih, katanya. Semoga dia baik-baik saja, ya…." Lanjut Kiba dengan wajah sedikit cemas.
Shno menaikan alis matanya saat mendengar nada cemas Kiba. "Kau ada hati sama pencuri itu." Kata Shino pelan, dan itu bukan pertanyaan.
"Bu-," wajah Kiba langsung merah padam. "Bukan gitu! Kau tahu nggak sudah berulang kali Kyuubi mencuri, tapi dia nggak pernah melukai orang lain! Dia itu pencuri yang patut dihormati, lho! Tanya saja Hinata-chan! Dia bilang Kyuubi sangat baik hati dan penyayang! Dia orang baik!" protes Kiba panik dengan wajah masih panas.
"Orang baik yang mencuri untuk hidup," Shino memutar bola matanya di balik kaca mata hitamnya.
Kiba langsung kesal dengan itu. "Hei!" dia menunjuk Shino dengan pandangan menuduh. "Dia mencuri untuk orang lain! Jangan mengejeknya dan menyamakanya dengan pencuri biasa!" terik Kiba nggak terima.
"Fakta dia mencuri dari orang lain tetap nggak berubah, kan?" lanjut shino dengan nada keras kepala. Kiba langsung perotes balik dengan berisik yang membuat Shikamaru menyesal membawa bocah tukang ribut itu serta.
Entah kenapa Shino jadi akif bicara dan komentar kalau ada Kiba di sebelahnya…. Hebat juga Kiba bisa berergumen dengan Shino begitu. Mungkin dia benar-benar cocok jadi wartawan kelak. Dia pandai memancing emosi orang sependiam apa pun, sih…. Hinata saja bersedia dia wawancarai secara eksklusif setelah insiden Kyuubi di kediaman Hyuuga….—pikir Shikamaru seraya menghela nafas.
Beberapa saat kemudian, ketiga sahabat itu sampai di depan sebuah hotel bintang tiga yang cukup bagus. Papan nama hotel menggantung di tiang dekat jalan masuknya, dan tulisan merah bata di papan itu menyebutkan nama : Hotel Shandia.
Shikamaru melihat ke arah bangunan orange bertingkat enam itu seraya memicingkan matanya. Shino dan Kiba turut melihatnya.
"Di sini, ya?" tanya Kiba kembali ke mode penasaranya.
"Iya," jawab Shikamaru singkat sebelum melangkah mendekati bangunan itu. Shino dan Kiba mengikuti di belakangnya tanpa biacara. Tiba-tiba saja suasanan menegang.
Mereka masuk ke hotel dan bicara pada penjaga lobi yang menyapa mereka dengan ramah. Shikamaru juga bretemu penjaga lobi itu dan menceritakan maksud kedatangan mereka.
"Baiklah. Kamar nomor 027, silakan," kata wanita berseragam itu dengan senyum seraya menunjuk lorong sebelah kiri.
Shikamaru dan kawan-kawan mengangguk. Lalu mereka pergi ke arah itu. Setelah mereka menghilang dari pandangan, si penjaga lobi kem bali ke mejanya dan mengambil telpon. Ia menekan nomor di tuts telepon dan nadanya tersambung ke ponsel Sasori.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Akat…suki?
Suara dering ponsel mengejutkan kedua bocah yang tengah seru berbincang itu. "Ah..sori," kata Sasori agak terperanjat merasakan getaran di kantung jins nya. Ia membalikan badan, merogoh kantongnya, dan mengangkat HP-nya. "Halo," katanya.
"Sasori-sama, ada pengunjung untuk Anda," kata wanita di lobi.
Sasori langsung merubah rona wajahnya jadi serius. "Siapa?" tanyanya tegang.
"Teman-teman Anda dari SMA Konoha, katanya," lanjut wanita itu hati-hati.
Sasori menghela nafas. "Apa sih…cuma mereka , ya. Oke, aku akan menerimanya. Thanks sudah memberi tahu." Sasori tersenyum.
"Sama-sama," kata wanita itu balik dari telpon, lalu nadanya terputus.
"Ada masalah?" tanya Naruto pelan dan waspada.
"Nggak…, cuma teman-teman yang khawatir karena aku absen seminggu," kata Sasori sambil meringis senang. "Aku akan menemani mereka dulu. Kau istirahat saja di sini. Aku akan panggil Iruka supaya Kau bisa ngobrol denganya," kata Sasori sambil berjalan ke pintu. "Soal Akatsuki…aku akan coba cari info lebih jauh. Kau tenang saja, ya." Sasori tersenyum sebelum dia menutup pintu kamar perawatan Naruto.
Naruto menghela nafas panjang dan memutuskan untuk berbaring lagi pelan-pelan. Ia pejamkan matanya dan berpikir sejenak. Aku masih kaget…. Ternyata…ibu punya cerita petualangan seperti itu…. Ah, aku ingin sekali mendengar lebih banyak tentang ibu! Coba aku ikut ibu ke luar negeri dan ikut berpetualang—, mungkin aku bisa menjadi bagian dalam cerita itu—!
Naruto membuka mata dan menatap langit-langit dalam diam. Ia menghela nafas, mencoba mengingat-ingat wajah ibunya yang tengah tersenyum bahagia. Aku ingin melihat wajah ibu yang gembira lagi….—bisik batinya seraya memejamkan mata lagi.
"Ngomong-ngomong…teman-teman yang dimaksud Sasori tadi siapa ya?" tanya Naruto rada penasaran.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sasori keluar dari ruangan bawah tanah dan langsung ke lift barang yang terhubung langsung ke dapur karyawan, tepat di samping kamarnya. Badanya yang kecil dan ringan itu bukan masalah untuk diangkat oleh lift barang yang terbatas untuk berat 60 kg. Ia sampai di dapur sebelum Shikamaru dan kawan-kawan sampai ke kamarnya. Buru-buru ia masuk ke kamarnya sendiri dan sedikit membuatnya berantakan.
Ia gantu baju dengan piama dan dengan sedikit bahan kimia, dia bisa membuat dirinya tampak sedang sakit. Ia naik ke tempat tidur dan menarik selimut sampai ke dagunya. Lalu…dia menunggu hingga ada bunyi bel di kamarnya dengan santai.
Beberapa menit kemudian, bel pun berbunyi. Sasori pura-pura batuk dan membuat nafasnya terengah sedikit. Ia turun dari tempat tindur dengan tampang kusut dan badan lemah, kaki diseret sedikit ke pintu. "Uhuk-uhuk, siapa?" tanyanya dengan suara serak (entah gimana dia bisa membuat suaranya seperti orang yang sedang kena flu).
Shikamaru, Kiba, dan Shino menaikan alis mata mereka bersamaan mendengar suara serak dari kamar. "Akasuna, ini aku, Shikamaru," jawab Shikamaru agak keras. Sasori membuka lubang intip dan mengecek. Wajahnya kelihatan capek dan matanya sembab. "Kau baik-baik saja?" tanya Shikamaru agak cemas melihat wajah temanya itu.
"Ah…aku sedang flu. Lebih baik kalian nggak terlalu dekat, nanti tertular," lanjutnya sambil terbatuk-batuk lagi dan matanya umuai berair karena hidungnya gatal.
"Jangan begitu. Kau sudah sakit seminggu, kan? Sudah ke dokter?" tanya Kiba menimpali dari belakang Shikamaru.
"Suara itu…ah, Kiba, ya? Kau datang juga menjenguku? Wah, senangnya," kata Sasori agak tersenyum. Wajah Kiba agak memerah mendengarnya.
"Ki-kita kan teman, wajar dong kalau kami rada cemas," kata Kiba sedikit terbata-bata.
"Thanks, teman…tapi aku nggak papa. Lebih baik kalian pulang supaya nggak tertular. Flu yang ini menular banget nih," kata Sasori membujuk.
"Biar cuma flu, bahaya lho kalau nggak diobati," kata Shino dari belakang Kiba.
Sasori terdiam sesaat sebelum dia berkata, "Barusan…Aburame?" tanyanya nggak percaya.
Kenapa yang datang orang-orang yang pintar cari info semua ya? Jangan-jangan mereka tahu aku sedang menyembunyikan Naruto…. Apa mereka sudah nyadar identitas Kyuubi?—pikir Sasori heran.
Si bocah berambut merah terbatuk-batuk lagi. "Aburame…nggak sangka Kau bakal datang juga," kata Sasori pelan.
"Mulai was-was, ya, Sasori?" tanya Shino pelan dan sumpah, Sasori melihat sunggingan senyum aneh di wajah Shino barusan.
Mungkin Nara curiga karena minggu kemarin dia ketiduran di kamarku…jadi dia cerita ke Shino dan mereka mencurigai sesuatu. Yah, waktu itu aku nggak ada pilihan kecuali menidurkan Nara. Aku mesti siap-siap untuk mem-back up Kyuubi sih….—pikir Sasori sambil menghela nafas panjang. Mungkin sebaiknya aku membiarkan mereka masuk dan memeriksa sepuas mereka sampai kecurigaan mereka hilang.
"Ya iyalah, aku mesti was-was…nanti kalian tertular betul lho," kata Sasori pelan dan lemah. "Tapi kalau kalian nggak takut flu, aku bisa apa?" katanya lagi seraya tertawa ringan, lalu dia menutup lubang pengintip dan membuka kunci pintunya. "Silakan masuk," katany sambl tersenyum.
Sasori mundur dan membiarkan teman-temanya masuk ke kamarnya yang rada berantakan karena nggak dibereskan selama dia sakit dengan kalimat 'maaf menggangu'. Sasori kembali ke tempat tidurnya dan duduk di kasur. "Kalian ingin minum sesuatu?" tawar Sasori.
"Biar aku yang bikin," Shikamari menawarkan balik. "Kau ingin apa, Akasuna?" tanyanya.
"Eh, kenapa jadi repot-repot, sih? Kan aku yang tuan rumah," kata Sasori rada nggak enak.
"Kau lagi sakit. Istirahat saja," jawab Shikamaru pelan sambil berjalan ke lemari suplai Sasori. "Aku pinjam cangkirnya," katanya sambil membuka lemari bagian bawah.
Sasori mendesah pelan. Nggak segan-segan, ya…? Lalu dia menoleh ke arah Shino yang sejak tadi diam saja menatapnya dengan pandangan tajam di balik kaca mata hitamnya. Sedangkan Kiba sudah mulai berceloteh sambil menjelajah kamar Sasori.
"Thanks sudah menjenguk, Aburame," kata Sasori pelan sambil tersenyum. Dia nggak terlalu senang dengan bocah serius berambut hitam itu sebetulnya. Penciumanya tajam banget sih. Dia orang nomor satu selain Nara yang ingin dia hindari. Nara, biarpun rada pemalas, dia itu jenius. Pikiranya juga tajam dan ahli strategi pula. Mungkin mereka tengah merencanakan sesuatu buat membuka kedoknya.
"Nggak, aku cuma tertarik karena cerita Shikamaru soal dia nggak ingat apa-apa setelah keiduran di sini," jawab Shini ringan.
Sudah kuduga…. Lagian, kok jujur banget sih, orang ini?—pikir Sasori rada terancam.
"Oya? Mungkin dia kecapean. Kadang-kadang otak manusia tiba-tiba masuk ke mode istirahat di saat yang nggak terduga setelah begadang kan?" kata Sasori sambil tersenyum.
"Mungkin juga," kata Shino sambil melihat sekelilingnya. Di rak-rak buku Sasori terpajang buku-buku tebal bersampul gelap dan berbahasa Inggris yang kelihatan berat dan sulit. "Kau suka buku-buku yang berat ya?" tanya Shino.
"Hobi," kata Sasori.
"Oh…hobi. Ok. Psikologi Kejahatan?" tanya Shino lagi.
O-orang yang nyusahin!—pikir Sasori sebal.
"Yah…sebetulnya aku lompat kelas di luar negeri," kata Sasori malu-malu, nggak pengen bohong soal dirinya lebih jauh.
"Oh?" Kiba juga mendengar yang barusan. "Bagus! Wawancara eksklusif tentang Sasori! Idola cewek-cewek SMA Konoha yang baru! Ceritakan lebih banyak tentangmu, Sasori!" kata bocah berambut hitam itu dengan ceria seraya mendekat ke arah Sasori sambil mengangkat buku infonya dan bolpen dengan semangat.
Sasori tertawa salah tingkah. "Kiba menarik, ya?" katanya memuji, Kiba kontan memerah mendengarnya.
"Kenapa memanggil Kiba dengan nama kecil dan kami dengan nama keluarga?" tanya Shikamaru yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka lagi dengan empat cangkir kopi di tatakan.
"Eh, habis…Kiba memanggilku dengan nama kecil juga, dan kalian dengan nama keluarga, jadi aku hanya mengikuti. Bukanya ada kebiasaan di Jepang baru boleh memanggil dengan nama kecil kalau sudah diizinkan?" tanya Sasori kurang yakin.
"Yah, nggak sepenuhnya salah sih," komentar Shino pelan.
"Bukan begitu, Sasori. Nama panggilan menunjukan keakraban. Kalau baru saja kenal memang pakai nama keluarga, tapi biar cepat akrab, kita langsung pakai nama kecil," kata Kiba menjelaskan.
"Oh…baiklah. Kalau begitu aku panggil Nara dengan Shikamaru dan Aburame dengan Shino, ya, biar cepat akrab," kata si rambut merah dengan senyum senang. Shino dan Shikamru balas tersenyum. Entah kenapa mereka jadi sedikit merasa bersalah sudah mencurigainya.
Kaya'nya tatktik muka tanpa rasa bersalah dan senyum manis berhasil ya? Harus berterimakasih sama Kushina-san yang ngajarin, nih….—pikir Sasori, dengan satu bulir keringat mengalir ke pipi.
"Kau tahu, Sasori. Semnggu ini di kelas kita banyak yang absen lho," celoteh Kiba tiba-tiba.
"Sasori mengangkat alisnya, pura-pura kaget. "Oya? Ada apa?" tanyanya.
"Sasuke, Sasori, Naruto, dan Ino. Empat orang sekaligus," lanjut Kiba. "Rada aneh, nih. Soalnya semuanya nggak masuk bersamaan setelah kasus peledakan oleh Kyuubi palsu."
"Ah, aku tahu. Beritanya ada di televisi, kan? Kalau nggak salah banyak korban luka…. Apa mungkin Sasuke dan yang lainya terlibat, ya?" tanya Sasori sembari pura-pura berpikir.
"Kau juga mikir begitu?" tanya Shikamaru heran. "Tadinya kami pikir Kau terlibat juga," lanjutnya. Jantung Sasori nyaris melompat saat mendengarnya.
"Eh-eeh, aku sakit di saat yang nggak tepat ya…?" tanya Sasori rada cemas. Kiba tertawa melihatnya.
"Jujur, Kami berpikir kalau Minngu lalu Kau ada di tempat kejadian perkara," kata Shino. "Soalnya Shikamaru ketiduran di rumahmu, sih," lanjutnya.
"Be-begitu ya…?" kata Sasori makin cemas.
"Dan Kau nggak ada di rumah waktu aku bangun, jadi aku langsung pulang setelah mengecek apa Kau membuatku tidur dengan obat atau semacamnya," lanjut Shikamaru jujur.
"Eeh!?" Sasori tampak kaget. "Aku nggaka akan melakukan hal kaya' gitu sama temanku!" protes Sasori pura-pura marah. Padahal sebetulnya dia tengah panik.
Untung obatnya bukan kucampurkan di makanan atau minuman—!—pikir Sasori sambil nangis dalam hati karena lega. Sebetulnya Sasori memang menggunakan obat tidur, tapi obat ini khusus yang berekasi beberapa jam setelah masuk ke sistem organ manusia. Obat tidurnya ada di dalam obat nyamuk yang ia semprotkan sesaat setelah Shikamaru datang, dan penawarnya ada di kue yang hanya dimakan Sasori, jadi yang kena efeknya hanya Shikamaru saja.
"Maaf, Sasori, soalnya jarang-jarang aku bisa ketiduran secara nggak nyadar gitu. Mungkin betul aku kecapekan," kata Shikamaru sambil senyum meminta maaf.
"Yah…," Sasori menghela nafas.
Untung saja aku pintar dan hati-hati…dan nggak meremehkan Shikamaru. Orang-orang ini diam-diam nakutin juga. Nggak baik buat jantung, nih. Gimana Naruto bisa nyembunyiin identitas dari mereka sih?—pikir Sasori heran.
"Jadi, kapan Kau bisa sekolah lagi, Sasori?" sela Kiba kemudian, mengganti topik.
"Ehtah…sampai aku sembuh. Mungkin satu atau dua hari setelah flunya membaik," jawab si rambut merah ragu.
"Tapi Kau sudah ke dokter, kan?" tanya Shikamaru lagi.
"Eh…aku nggak perlu dokter. Aku tahu keadaan tubuhku sendiri," kata Sasori lagi. "Lagian…aku ini dokter lho," lanjutnya.
Ada keheningan sesaat setelah hal itu, lalu, "EEEEEEEEEEEEEEEEEEEH!?" seru kaget Kiba yang paling keras, sedang Shikamaru dan Shino mengangkat alis mereka dengan kaget juga.
"Kan aku bilang aku lompat kelas di London," kata Sasori salah tingkah.
"Bukanya di bidang Psikologi Kejahatan?" tanya Shino heran.
"Kedokteran juga," jawab Sasori.
"Kau ini jenius, ya—?" mata Kiba langsung berkerlap-kerlip dengan takjub.
"Yah…aku belajar lebih cepat dari orang lain, sih…," kata Sasori malu-malu.
Shino dan Shikamaru saling pandang dengan tatapan serius. "Kecurigaan kepadamu naik jadi 3 persen nih," kata Sahikamaru mempertimbangkan.
"Bukanya 5 persen?" tawar Shino.
"Eh, eh, kecurigaan apa?" tanya Sasori cemas.
"Kalau kau terlibat dengan kasus Kyuubi plasu itu dan membuatku tidur dengan obat," lanjut Shikamaru.
"Eeh, kenapa!?" protes Sasori agak panik.
"Soalnya Kau jenius, jadi mungkin Kau punya cara lain membuatnya tidur," Shino menimpali.
"Kok begitu—?" Sasori masih protes.
"Kalian ini kok jahat banget, sih, sama orang yang lagi sakit…," kata Kiba dengan keringat dingin di wajah dan tampang aneh. "Pikir dong, dia nggak akan membeberkan kejeniusanya kalau nggak mau dicurigai," kata Kiba membela temanya yang malang dan menjadi tertuduh itu.
Nice follow, Kiba!—sorak Sasori dalam hati.
"Psikologi kejahatan, kan…? Dia ahli memutar balik rasio psikologi manusia, lho, Kiba," kata Shikamaru.
Sial—! Bocah ini pintar amat, sih!?—pikir Sasori menyesal sudah membeberkan soal titlenya barusan.
"Benar, ya?" tanya Kiba heran dan takjub.
Gawat…kalau begini terus bisa ketahuan, nih! Gimana caranya aku kabur dari tuduhan mereka—!?
Kali ini Sasori dalam masalah besar.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sasuke sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit, dan setelah sedikit memaksa kakaknya, akhirnya dia bisa pulang ke rumah sore ini. Entah kenapa dia sudah nggak sabar pengen pulang, lalu besok dia bakal masuk sekolah lagi. Mungkin teman-temanya bakal ribut kalau tahu dia terlibat kasus Kyuubi, tapi dia nggak peduli. Dia pengen ketemu Naruto.
Entah kenapa dia kangen bocah itu. Beberapa hari ini dia merasa tertekan gara-gara kasus itu. Dia butuh sesuatu yang menyenangkan, dan mungkin ketemu Naruto, bercanda lalu berkelahi denganya bakal bikin mood-nya membaik. Mungkin dia juga pengen cerita banyak padanya…sejak dulu dia bisa berkata semaunya pada sobat sejak kecilnya itu tanpa khawatir tentang anggapanya, sih. Soalnya dia tahu Naruto nggak akan mengubah pandangan tentang dirinya dengan segala kebaikan dan kekuranganya.
Emang dia suka ribut dan bukan pendengar yang baik karena suka menyela ini itu di tengah kata-katanya, tapi dia meladeni seluruh masalah Sasuke sampai tuntas. Bahkan kadang dia menonjok Sasuke supaya dia sadar kalau dia yang salah dan harus minta maaf duluan.
"Apa aku ke rumahnya saja, ya…?" kata Sasuk nggak sabar sambil mengangkat tasnya. Kakaknya sudah menunggu di luar rumah sakit dengan mobil patrolinya. "Kak," Sasuke masuke ke mobil dan menutup pintu. "Aku mau ke rumah Naruto dulu," katanya.
"Wah, kangen sama pacar nih?" canda Itachi.
Sasuke melihat kakaknya dengan wajah aneh. "Godaan itu sudah tua banget," katanya nggak terprovokasi.
"Lho…padahal dari kecil yang bilang mau memperistri Naruto kan kau sendiri," kata Iachi heran.
"Itu kan waktu masih kecil! Sekarang sudah nggak bisa dong. Aku tahu kalau dia cowok, sih," kata Sasuke salah tingkah.
Memang benar sih, dulu dia sering bilang mau menjadikan Naruto istrinya, soalnya bocah itu imut banget kaya cewek waktu kecil, dan si bodoh itu belum ngerti maksud suami-istri karena mengira itu cuma permainan, jadi saat dia melamarnya waktu umur enam tahun, si imut berambut pirang itu mengiyakan sambil tersenyum.
Kalau diingat-ingat, mungkin itu cinta pertama Sasuke, ya? Dia kecewa setengah mati waktu tahu Naruto ternyata cowok saat mereka mandi bareng seminggu setelahnya. Kepalanya sampai sakit berhari-hari setelah sadar dia nggak mungkin memperistri pujuaanya itu. Jadi dia mulai bertingkah kaya bocah (emang masih bocah…) dan mengajak Naruto bertengkar dan bersaing terus sampai akhirnya jadi musuh bebuyutan, tapi Naruto nggak menganggap begitu sih. Dia selalu ada di samping Sasuke saat dia butuh bantuan dan dia nggak segan-segan mengulurkan tangan padanya sambil tersenyum lalau berkata, "Kita kan teman."
Sasuke jadi merasa malu karena bertingkah seperti anak kecil. Sejak saat itu meski mereka masih sering saling mengejek, bertengkar, dan berkelahi, mereka menghormati pribadi masing-masing dan siap membantu saat saling memerlukan. Mereka jadi rival terbaik yang pernah ada.
Sasuke ersenyum selesai mengingat-ingat masa-masa kecilnya dengan Naruto. "Naruto sahabat yang betul-betul baik dan berharga buatku," kata Sasuke tiba-tiba.
"Sahabat, ya?" Itachi tertawa kecil dengan wajah menggoda.
"Betul, kok…," kata Sasuke lagi pelan. "Lagipula saat ini…mungkin aku sudah menyukai orang lain," bisiknya pelan sambil mengalihkan wajahnya ke jendela supaya Itachi nggak mendengarnya. Ia melihat ke langit biru berawan putih dan membayangkan Kyuubi yang tertawa lebar dengan topeng Rubahnya yang entah sejak kapan kelihatan seksi di mata Sasuke.
Itachi, biarpun harus menajamkan pendengaranya, mendengar bisikan pelan Sasuke itu. Ia bisa menebak siapa orang yang dimaksud Sasuke itu, tapi nggak mengatakan apa-apa. Meskipun dia yakin 100 persen kalau dia nggak bakal setuju, adalah fakta saat Kyuubi mempertaruhkan nyawanya melindungi Sasuke dari bebatuan dan Ookami (dari cerita Sasuke). Sepertinya adiknya cukup terpesona pada Kyuubi seperti ayahnya.
Itachi nggak pernah bilang pada adiknya, sih, tapi dia tahu alasan sebenarnya ayahnya masih menyimpan surat-surat pemberitahuan dari Kyuubi meski pencuri itu sudah pensiun dulu. Meskipun ayahnya juga nggak bilang apa-apa, Fugaku mencintai Kyuubi. Entah sejak kapan, dia juga nggak tahu kenapa. Namun, bukan berarti dia nggak mencintai Mikoto, ibu Itachi dan Sasuke. Keluarganya adalah segalanya bagi Fugaku dan Kyuubi seperti impian bagi Fugaku yang diwariskan ke Itachi dan Sasuke.
Itachi nggak mencintai Kyuubi seperti ayahnya, tapi bukan berarti dia nggak tertarik sama sekali. Mungkin perasaan Sasuke lebih mirip darinya, tapi dia mengerti kenapa hal itu terjadi. Kyuubi adalah sosok yang penuh misteri dan menggugah selera, rasa ingin tahu, dan roman para lelaki. Jelas saja mereka akan tertarik dalam berbagai macam hal.
Apalagi kalau wajah di balik topeng itu sangat cantik, siapa yang nggak tertarik…?—pikirnya paham perasaan adiknya. Namun, untuk sekarang, Itachi nggak akan mengusiknya. Mungkin butuh waktu, tapi Sasuke akan sadar kalau perasaanya pada Kyuubi juga berupa impian. Lalu suatu saat, dia akan menjadikanya mimpi masa lalu yang indah.
End of Chapter 11
Bersambung…
A/N: Heheh, selesai satu chapter lagi, teman. Maaf, progresnya jadi lambat ni. Luna belum bisa mikir Akatsuki organisasi apa sih. Tentu organisasi jahat…tapi buat covernya mereka organisasi apa yah? Ada yang mau kasih ide? 'winks' Jadi…rahasia kematian ibu Naruto dan Fugaku sudah dibuka! Ternyata musuh Kyuubi dan Uchiha itu sama! XD Senang deh…coba habis ini Luna bisa bikin Uchiha dan Kyuubi bahu membahu berjuang bersama membereskan Akatsuki, tapi masih ada beberapa musuh yang mesti dihajar dulu sebelum masuk ke episode Akatsuki's War. Jadi…review dunk! Beri luna banyak ide supaya bisa menulis dengan lebih cepat dan lancar, oke? Makasih udah baca dan ngereview. Jaa, sampai ketemu di chapter selanjutnya!
Dengan cinta,
Lunaryu~~~
