CHAPTER TEN: HONESTY.
Sehun dan Kai duduk bersebrangan di konter dapur mereka. Sehun hanya menunduk takut sedangkan Kai tak berhenti memandangnya dengan tajam. Tak ada yang bicara sama sekali, tidak Kai dan tentu saja Sehun tak berani memulai. Kai benar-benar menakutkan sekarang, lebih menakutkan daripada ketika ia memarahinya karena mabuk bersama Luhan.
"Kenapa kau menangis?" tanya Kai memecah keheningan di antara mereka. "Dia yang membuatmu menangis?" tanyanya lagi mengucapkan kata 'dia' dengan kejijikan dan kebencian.
Sehun sedikit berjengkit mendengar nada Kai yang jelas masih terdengar marah itu. Ia bingung harus menjawab apa tanpa memperumit keadaan mereka dan ia jelas tak bisa berbohong pada Kai apalagi dalam situasi seperti ini.
"Jawab Sehun, sebelum aku kehilangan kendali diriku dan mengejarnya lalu menghajarnya. Percayalah, aku sangat ingin melakukan itu dan kesabaranku semakin menipis," kata Kai disela kertakan giginya, jelas tampak menahan amarahnya agar tak meledak.
"A-aku tak ingin se-semakin mempersulit keadaan Kai, ma-masalahnya sudah selesai," kata Sehun menatap Kai memelas, tak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
Kai bangkit berdiri dan bersiap pergi, jelas untuk menghajar kakak kembarnya itu. Sehun langsung sigap menyusul Kai, memeluk lengannya untuk menahan sahabatnya itu pergi. Pria manis itu kembali menyeret sahabatnya untuk duduk di tempatnya tadi dan ia sendiri duduk disamping Kai. Siap-siap jika Kai ingin pergi menghajar Jongin lagi.
"Baik! Baik! Aku katakan!" kata Sehun panik melihat Kai tampak sudah diambang batasnya. "Ka-kami berdebat. Ten-tentang kau. Jongin tak melakukan apa-apa Kai, ia hanya— marah dan bersikap dingin padaku. Lalu aku menangis karena memang aku cengeng, tapi Jongin langsung minta maaf. Ini bukan salah Jongin, Kai," kata Sehun menjelaskan, tak menyebutkan beberapa detil lainnya.
"Berdebat tentangku?"
"I-itu bukan hal yang penting. Semuanya sudah beres. Aku dan Jongin baik-baik saja," kata Sehun mengibaskan tangannya, tanda itu bukan hal besar.
Tangan Kai menangkap tangan kiri Sehun yang bergerak itu, membuat Sehun menegang. Matanya membulat horor ketika menyadari tatapan tajam Kai tertuju pada cincin yang melingkari jari manisnya.
"K-Kai—"
"Jongin melamarmu?" tanya Kai rendah disela giginya yang terkatup rapat karena begitu marah.
Sehun tak berani menjawab, hanya menatap ngeri Kai yang tampak begitu marah itu. Mungkin marah pada Jongin, juga pada Sehun, tapi Sehun juga bisa melihat bahwa Kai tampak marah pada dirinya sendiri. Kenapa Kai begitu marah? Sehun tahu Kai ingin Sehun mendapatkan pria yang terbaik untuknya, tapi Jongin bisa menjadi pria terbaik untuk Sehun.
"Kau menerimanya," kata Kai masih tampak marah, tak melepaskan pandangannya dari cincin di jari manis Sehun itu.
Ketika Kai mengangkat pandangannya dan menatap mata Sehun dengan mata gelapnya yang penuh berbagai macam emosi itu, Sehun menemukan dirinya sulit untuk bernafas. Kai benar-benar tampak marah, kecewa, sedih— sakit hati? Sehun meragukan yang terakhir itu. Kai tak pernah seperti ini sebelumnya, tidak pernah sama sekali membuat Sehun bingung apa yang harus ia lakukan. Karena ia tak ingin Kai marah, ia tak ingin Kai kecewa, ia tak ingin Kai bersedih.
"Kenapa kau menerimanya, Sehun? Aku sudah memperingatimu," tanya Kai kecewa, menatap ke dalam mata cokelat Sehun.
"Ma-maafkan aku, Kai," bisik Sehun menyesal. Sial, mataku terasa panas. Kenapa aku begitu cengeng? "Ha-hanya saja— a-aku yakin Jongin bisa menjadi suami yang baik untukku, Kai. Jongin mampu. Ia memperlakukan dengan baik, ia bahkan melamarku secara pribadi," kata Sehun menjelaskan dengan cepat terdengar seperti ocehan panik.
"Bagaimana kalau kukatakan ia melakukan itu untuk mendapatkan Huntak Grup? Ia bahkan tak mencintaimu, Sehun!" kata Kai marah, tapi bukan pada Sehun dan Sehun tahu itu.
"Jo-Jongin tak seperti itu," bisik Sehun lirih, air matanya terjatuh perlahan. Jantungnya terasa teremas kencang begitu menyakitkan mendengar itu, memikirkan apa yang Kai katakan adalah benar.
Padahal aku juga tak mencintai Jongin, tapi kenapa terasa begitu menyakitkan mendengarnya?
Kai menangkup wajah Sehun dan menyatukan kening mereka. Pria tan itu menutup matanya dan mengambil nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Jarak mereka begitu dekat dan mereka seakan berbagi nafas, Sehun bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Kai di wajahnya membuat jantungnya berdetak semakin kencang dan perutnya bergejolak. Ia tak berani menutup mata, ia hanya menatap wajah tampan Kai dengan mata membulat sempurna.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Hun," bisik Kai serak dan lirih, mengusap air mata Sehun namun masih tak membuka matanya. "Aku hanya ingin terbaik untukmu agar kehidupanmu bahagia, karena kau pantas mendapatkannya, Hun. Kau tak pantas menderita."
"Jongin bisa membahagiakanku, Kai. Aku mempercayainya," kata Sehun pelan.
Kai membuka matanya dan mundur sedikit hingga kening mereka tak lagi bersentuhan. Matanya mencari-cari keraguan di dalam mata indah Sehun sebelum pria tan itu menghela nafas panjang, jelas tak menemukan sedikitpun keraguan yang ia cari.
"Kau benar-benar yakin, huh?"
Sehun hanya mengangguk pelan.
Kai menatap wajah Sehun sejenak lalu mengusap sisa-sisa air mata Sehun dengan lembut. "Izinkan aku melakukan satu hal ini, izinkan aku untuk menghajarnya jika ia berani-beraninya meniduri orang lain selain dirimu atau ketika ia membuatmu menangis. Aku akan menekan kebencianku padanya hanya demi kebahagiaanmu, Hun. Aku akan merestuimu dengan orang itu asal kau izinkan apa yang kuminta," kata Kai menatap serius langsung ke mata Sehun.
Sehun tak bisa menahan senyum leganya mendengar itu. Ia mengangguk dan air matanya kembali mengalir kali ini bukan karena kesedihan, tapi kelegaan dan kebahagaiaan.
Kebahagiaan. Kai selalu memikirkan kebahagiaanku dibanding apapun. Ia selalu memikirkan apa yang terbaik untukku. Apakah kau akan tetap seperti ini setelah kau menikah dengan Krystal dan aku menikah dengan Jongin, Kai? Akankah kau benar-benar menepati janjimu untuk menghajar siapapun yang menyakiti hatiku?
"Aku telah memiliki izinmu, aku takkan segan-segan menghajarnya jika membuatmu menangis," kata Kai mengecup kening Sehun penuh sayang.
Lengan kurus Sehun memeluk erat leher Kai dan menenggelamkan wajahnya di dada sahabatnya itu, terasa begitu nyaman, begitu aman. Kai selalu membuatnya merasa aman, merasa terlindungi, begitu dijaga bak sesuatu yang sangat berharga.
"Jangan disalahgunakan," gumam Sehun yang teredam oleh kaos yang Kai kenakan.
"Akan kucoba sebisaku," balas Kai menyeringai sambil mengusap lembut rambut halus Sehun itu.
Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Kai tajam. "Awas kalau berani asal memukul Jongin!" kata Sehun galak menusuk-nusuk dada bidang Kai dengan keras, memperingati sahabatnya itu.
Kai mengangkat satu alisnya sambil mencoba menahan tawanya itu, tanda intimidasi Sehun sama sekali tak sukses untuknya. "Berhenti mencoba galak seperti itu, kau malah terlihat seperti anak kucing yang marah," kata Kai tertawa dan menusuk pipi Sehun.
Sehun cemberut sambil memukul tangan Kai yang menusuk-nusuk pipinya itu.
Untuk sejenak suasana begitu hening namun tak canggung. Kai hanya mengamati wajah Sehun, memperhatikan, membuat Sehun bingung ada apa dengan Kai sebenarnya? Ada apa di wajahku? Rasanya tidak ada apa-apa.
"Hun, aku sudah mendengar dari Kris dan Chanyeol. Tentang insiden di samping perpus itu," kata Kai memulai dengan pelan.
Tubuh Sehun menegang mendengar kejadian mengerikan itu. Mimpi buruknya yang tak terlupakan. Kemarin malam ia terlalu senang karena hubungannya dengan Jongin dan Kai sudah kembali baik, ia juga memakan obat tidur agar ia bisa tidur dengan nyenyak sehingga tak bermimpi buruk. Malam sebelumnya lagi ia terlalu mabuk untuk bisa bermimpi buruk, jadi terakhir ia bermimpi buruk adalah 3 malam yang lalu.
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku, Hun?"
"A-aku lupa. Terlalu banyak yang kita perlu bicarakan dua hari ini, Kai. Aku sempat melupakannya," kata Sehun dengan nada yang sedikit bergetar.
"Aku sudah membereskan mereka, mereka takkan berani mengganggumu lagi. Seseorang membayar mereka untuk melakukan itu padamu, Hun. Apa kau tahu itu?" tanya Kai.
Sehun jelas terkejut mendengar itu. Seseorang membayar kedua seniornya untuk memperkosanya? Sehun kembali ingat kejadian buruk itu, ia ingat ia sempat mendengar soal bayaran. Tapi siapa? Siapa yang begitu membenci Sehun hingga melakukan hal sejauh ini? Apa salah Sehun pada orang itu sampai orang itu tak ragu membayar orang untuk memperkosa Sehun?
Pelukan hangat Kai membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sakit kepala itu. Sehun —lagi-lagi— baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya bergetar hebat dan nafasnya putus-putus. Ia selalu seperti ini jika terlalu tertekan, terlalu stress. Dan Kai selalu sigap untuk menanganinya. Anxiety Attack, itulah kondisi yang Sehun alami sejak Jongin meninggalkannya tiba-tiba. Kondisinya tidak terlalu parah karena Kai selalu bersama dengan Sehun dan tahu cara menenangkan Sehun.
"Shh, Sehun, tenang, Hun. Aku bersamamu, tenanglah. Kau aman," bisik Kai menggoyangkan tubuh kurus Sehun dalam pelukannya ke kiri dan ke kanan, tangannya mengusap-usap lembut punggung Sehun.
Aman. Hangat. Terlindungi. Ketiga hal itu yang Sehun rasakan dari pelukan Kai, hal yang selalu sukses membuatnya kembali tenang dan bisa bernafas normal. Tubuhnya perlahan berhenti bergetar dan nafanya tak lagi putus-putus.
Merasakan Sehun sudah kembali normal, Kai melepaskan pelukannya dan menatap Sehun memastikan pria manis itu sudah kembali baik dengan kedua tangannya masih memegang lengan kurus Sehun. "Aku, Kris, dan Chanyeol akan mencari siapapun orang brengsek yang menjadi dalang dibalik insiden itu, Hun. Jangan takut, mulai sekarang aku akan selalu bersamamu ketika kau harus ke kampus. Aku takkan membiarkanmu sendirian di kampus. Kau mengerti?"
Sehun hanya bisa mengangguk. Ia juga takkan berani membantah, ia membutuhkan Kai untuk menjaganya. Ia tak pernah mengakui, tapi ia takut kembali ke kampus setelah insiden mengerikan itu. Untung saja ia tak perlu ke kampus setiap hari, hanya untuk bimbingan saja.
Kai ikut mengangguk, puas dengan respon Sehun itu. "Apa ada hal lain? Efeknya padamu setelah insiden itu?" tanya Kai lagi.
"Hanya mimpi buruk, kadang sulit untukku tertidur karena mimpi buruk itu datang," aku Sehun dengan suara kecil.
Sehun bisa melihat kemarahan di mata Kai, lagi itu bukan untuk Sehun, Kai marah pada dirinya sendiri dan pada dua senior Sehun itu. Sehun jelas bisa membaca Kai menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Sehun itu.
Pria manis itu menepuk kening Kai keras, seperti tadi pagi, membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya itu. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Sudah kubilang lupakan masalah itu," kata Sehun cemberut.
Kai menghela nafas mendengar itu dan Sehun tahu omongannya tak semudah itu Kai lakukan. Meskipun Kai terlihat urakan, playboy, dan brengsek, ia merupakan orang yang bertanggungjawab. Ia berani menanggung resiko akan kesalahan yang ia buat. Ia tak mudah melupakan kesalahan yang ia buat apalagi jika berdampak buruk pada Sehun. Sehun sangat tahu itu.
"Apa kau ingin pergi terapi? Aku akan menemanimu," kata Kai menawarkan.
Terapi untuk menghilangkan mimpi buruk dan traumaku? Kurasa bukan ide yang buruk, pikir Sehun. "Kurasa itu akan berguna," jawab Sehun pelan.
Kai mengangguk mengerti dan bangkit berdiri, ia menarik tangan Sehun untuk ikut bersamanya. Sehun tampak bingung apa maksud Kai, ia lebih bingung lagi ketika Kai mengajaknya masuk ke kamar Sehun.
"Mulai sekarang aku akan menemanimu tidur. Kau pergilah cuci muka dan ganti piyamamu," kata Kai melepas kaos hitam tipisnya hingga hanya mengenakan celana pendek dan naik ke tempat tidur Sehun.
Wajah Sehun merona melihat tubuh Kai yang berotot itu, mengenal Kai selama 16 tahun jelas membuat Sehun tahu pria itu terbiasa tidur tanpa atasan, selalu seperti itu. Sehun berusaha mengabaikan rona diwajahnya dan berhenti menatap tubuh sahabatnya itu, ia segera berbalik menuju kamar mandi ketika Kai berbaring di tempat tidurnya itu.
Kendalikan dirimu, Oh Sehun! Ia sahabatmu! Kau sudah berjanji untuk berhenti mencintainya!
Aku tak yakin ini hari keberuntunganku atau hari sialku.
Sehun mencuci mukanya dan mengganti piyamanya. Posisinya membelakangi Kai yang berbaring di tempat tidur, tapi Sehun bisa merasakan tatapan intens Kai ketika ia membuka seluruh pakaiannya itu sebelum menutupi tubuhnya dengan piyama.
Itu hanya pikiranmu, Sehun. Tak mungkin Kai mau menatap tubuhmu, dia pria normal!
•JongHun—KaiHun•
Sehun terbangun di dalam dekapan hangat Kai, lengan berotot Kai melingkar di pinggangnya dan Kai masih terlelap. Wajah Sehun merona karena posisi mereka itu, Sehun bisa merasakan hembusan nafas Kai yang teratur menerpa wajahnya, ia bisa merasakan dada Kai yang naik-turun dengan teratur karena dadanya menempel dengan dada Kai.
Aku hanya berharap Kai tak bisa merasakan detakan jantungku. Aish, kenapa kau berdetak begitu cepat?! Pelankan sedikit! Batin Sehun memarahi jantungnya sendiri.
Meski begitu, Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah terlelap Kai. Terlihat begitu tampan dan begitu tenang. Tanpa ada seringai seksi yang menggoda ataupun tatapan tajam nan intens. Hanya wajah Kim Kai yang sedang terlelap. Hanya Kai.
16 tahun mengenal Kai, Sehun tahu Kai banyak memakai topeng pada orang lain. Ia selalu terlihat seperti pria brengsek tapi sebenarnya ia sangat perhatian, sangat baik, dan tidak egois. Ya, tidak egois, Sehun berpikir Kai terlalu mementingkan egonya hingga tak mau minta maaf pada Sehun, nyatanya Sehun yang bodoh karena lupa untuk membuka blokiran nomor Kai.
Kai tak pernah egois pada Sehun. Jika ia melakukan kesalahan, ia pasti minta maaf pada Sehun. Ia akan sabar hingga Sehun bisa memaafkannya seperti kejadian ketika mereka baru lulus SMA dan seorang wanita datang mengatakan ia hamil anak Kai. Ia tak memaksa Sehun untuk memaafkannya, ia menunggu hingga Sehun sendiri yang mau bicara dengannya.
Pikiran Sehun kembali mengingat 16 tahun yang ia jalani dengan Kai. Ia mengingat Kai berhenti merokok karena Sehun memintanya. Ia mengingat Kai menerimanya meski Sehun gay sedangkan Kai sendiri homophobic.
Dan bahkan sekarang mau menerima Jongin demi kebahagiaanku, pikir Sehun mengingat pembicaraan mereka semalam. Sehun jelas tahu sulit bagi Kai untuk menerima Jongin, keduanya tak pernah akur dan cenderung saling membenci sejak kecil. Menerima Jongin sebagai suami Sehun termasuk pengorbanan yang begitu besar bagi Kai.
Terlalu banyak yang telah ia lalui bersama Kai selama 16 tahun. Terlalu banyak yang telah Kai lakukan untuk Sehun selama 16 tahun ini. Terlalu banyak yang Kai lakukan sementara Jongin meninggalkannya tanpa kejelasan. Terlalu banyak.
Dering alarm menginterupsi pikiran Sehun dan itu membangunkan Kai dari tidurnya. Sehun bergerak untuk mematikan alarm sementara lengan Kai masih melingkar di pinggangnya. Ia kembali berbaring berhadapan dengan Kai yang memandangnya masih tampak mengantuk itu.
"Pagi," gumam Kai serak –dan seksi– jelas masih begitu mengantuk.
"Pagi," balas Sehun pelan, otomatis merapihkan rambut Kai agar tak menutupi mata sahabatnya itu. "Kau harus siap-siap ke kampus," katanya lagi melihat Kai kembali menutup matanya.
"Hmmm," gumam Kai namun tak membuka matanya, memeluk tubuh Sehun semakin erat agar menempel padanya.
Sehun merona malu dan hanya menatap wajah tampan Kai itu. Wajah Sehun semakin merona ketika Kai membuka satu matanya dan menangkap basah Sehun yang menatapinya.
"Kenapa kau menatapku begitu?" gumam Kai kembali menutup satu matanya itu.
"Tidak apa," gumam Sehun mengalihkan pandangannya ke dada bidang Kai. "Tiba-tiba saja aku teringat apa yang telah kita lalui bersama 16 tahun ini."
Kai membuka matanya dan menatap wajah sahabatnya itu. "Hmmm, lalu?"
"Aku hanya berpikir— apakah ini semua akan berubah ketika kita menikah nanti? Kau— kau punya Krystal yang harus kau jaga dan kau perhatikan, aku juga punya Jongin sebagai suamiku. Kita akan terpisah lalu— lalu—" Sehun tak tahu kenapa tiba-tiba mengatakan semua itu membuatnya sesak dan ia mulai terisak karena pikiran itu begitu membuatnya sedih. Kehilangan sahabat seperti Kai membuatnya sedih.
"Ssh," bisik Kai lembut memeluk tubuh Sehun erat dan mengelus punggungnya dengan lembut. "Sehunnie, bernafas pelan-pelan, Hun. Pelan-pelan," bisiknya lembut mengecupi rambut Sehun sementara Sehun menenggelamkan wajahnya di leher Kai.
Butuh waktu hingga Sehun mengendalikan isakannya dan Kai tetap bersabar memeluknya, mengelusi punggungnya, dan mengecupi rambutnya dengan penuh sayang. Sehun mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata dan Kai menyeka air matanya dengan lembut, saat itulah Sehun menyadari bahwa Kai terlihat begitu sedih ketika menatapnya.
"Kau tahu Jongin takkan menyukai kau dekat denganku," kata Kai bahkan sebelum Sehun membuka mulutnya untuk bertanya kenapa Kai terlihat begitu sedih. "Setelah kau menikah dengannya, mungkin kau takkan memiliki waktu lagi untukku, Hun. Kau benar, kita akan terpisah dan tak ada yang tahu apa kita masih bisa sedekat ini atau tidak," kata Kai lirih. "Tapi hingga hari itu tiba, hingga hari dimana aku menyerahkan tanganmu pada Jongin tiba, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebanyak yang kubisa. Aku hanya ingin menjalani hari-hariku yang terbatas denganmu tanpa mencemaskan masa depan."
Air mata Sehun kembali mengalir mendengar itu dan memeluk erat Kai sambil terisak. Hatinya terasa sesak dan sakit karena ia tahu ia akan kehilangan Kai suatu saat nanti, tapi kini Sehun tahu Kai juga merasakan hal yang sama. Kai juga tak ingin kehilangan Sehun.
Karena Kai membutuhkan Sehun sama seperti Sehun membutuhkannya.
•TBC•
TERIMA KASIH BANYAAAAAK REVIEWNYAAAA~~~
Tanpa kalian apalah arti cerita ini :'D
Abis Boyfriend!Jongin sekarang Daddy/Bestfriend!Kai's time xD Semoga feelsnya tetep dapet yaaa :D
Kalau ditanya: Kai itu maunya apa sih? Gitu banget. Jawabannya udah jelas, Kai cuman mau Sehun bahagia, udah itu aja. Bukan cuman detik ini tapi dimasa depan. Dan Kai gak yakin Jongin bisa bahagiain Sehun /benar tidak benar tidak yaaaa HEUHEUHEUHEU/
SPOILER NEXT CHAP: Mother's talk! Apa ini apa ini xD
Mohon reviewnyaaaaaa semuaaaaaaa :D
-willis.8894
P.S: ANDANTEwill be airing di kbsworld tonight!!! akhirnya bisa liat dek nini :'D
