Sesuai janji, saya mengupdate cerita ini tepat tanggal 5 Januari! YAY! (sekolah mulai lagi... Hixxx... T-T)
Ehm, sebelum mulai, saya cuma mau ngasih pengumuman tentang cerita yang ntar mau saya publish berjudul 'The Fragile Glass-Box', sodara-sodara. Dengan sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-... menyesal, saya harus bilang bahwa sepertinya cerita itu belum bisa saya publish dalam waktu dekat. Tahu kenapa, sodara-sodara? Karena di sekolah saya yang sinting, gila, nan edan itu mulai diadakan Try Out tiap hari buat menghadapi UNAS. DAN KALO SAYA BILANG TIAP HARI, SAYA 100% JUJUR, SODARA-SODARA. NGGAK BOHONG! SWEAR! Mulai dari hari ini sampe sehari sebelum UNAS, bakal diadakan Try Out terus di sekolah saya. (Ohhh... please jangan bunuh saya... T-T) Dan sampe sekarang saya belum mulai satu chapter pun kecuali sneak-peak yang sudah sodara-sodara baca di FB.
Tapi, untuk cerita yang satu ini agak beda, sodara-sodara. Saya tetap bisa update rutin tiap minggu karena sebenarnya semua (dan saya bilang SEMUA, sodara) chapter dalam trilogy yang pertama ini sudah selesai, tinggal nge-postnya aja (Sekali lagi jangan bunuh saya, sodara-sodara). Ini bukan saya rencanakan buat bikin sodara-sodara mati penasaran dan ngamuk nunggu cerita ini diupdate, tapi ini untuk mempersiapkan supaya meskipun saya ada UNAS dan Try Out, saya masih bisa ngepublish cerita ini... Jadi tolong dimengerti, sodara-sodara...
Oh, dan tentang itu juga, SELAMAT! Anda masih mengikuti cerita ini sampe lebih dari seperlima! Terima kasih atas dukungannya selama ini via review ato FB!
Selamat membaca!
Baik Lu Yi maupun Yangmei sekarang sudah cukup umur untuk mengetahui urusan kerajaan, terutama perang yang sedang terjdadi di China. Setahun lagi Lu Yi berumur dua belas tahun dan harus memulai pembelajarannya di bawah bimbingan Zhou Yu, penasihat sekaligus ahli strategi kepercayaan Sun Ce. Lu Yi tidak begitu berbakat dengan pedangnya, dan karena itulah diputuskan sebaiknya Lu Yi lebih berkonsentrasi pada pelajaran tentang strategi saja. Hal ini benar-benar membuat Yangmei khawatir. Bagaimana bisa ia terpisah dari Lu Yi setelah empat tahun melewati masa kecil bersama? Lu Yi pernah berkata dalam empat tahun ini pastilah Yangmei akan bosan dengan sendirinya bermain bersama. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Bukannya bosan, Yangmei malah semakin ingin dekat dengan Lu Yi.
Tetapi, bukan hal itu yang dikhawatirkannya sekarang.
Ia masih punya waktu setahun lagi bersama Lu Yi. Sekarang hal yang benar-benar mengacaukan pikirannya adalah kepergian kedua orangtuanya beserta beberapa orang jendral dan tentara, sepertinya mereka akan pergi berperang. Karena sudah dianggap dewasa, Sun Ce memberitahukan kemana mereka akan pergi dan musuh apa yang akan mereka hadapi pada Lu Yi. Siapa sangka ternyata Yangmei saat itu menguping, dan akhirnya ia jadi tahu tentang perang yang sebentar lagi akan dihadapi oleh angkatan perang Wu. Perang kali ini begitu penting, sehingga harus kaisar Wu sendiri yang memimpin angkatan perangnya. Papa, mama, Paman Zhou, Bibi Xiao, Bibi Shang Xiang, Ling Tong, Lü Meng, dan yang lain-lain akan segera berangkat untuk pergi berperang. Para wanita di istana memang tidak hanya pintar berdandan dan bertingkah sopan saja seperti wanita di istana pada umumnya, tetapi mereka juga hebat di medan perang. Itulah sebabnya mereka pun ikut dalam perang, hingga akhirnya Yangmei ditinggal sendirian dengan Lu Yi.
Pada hari kepergian angkatan perang, Yangmei hanya bisa menangis sambil merengek-rengek agar ia diperbolehkan ikut, atau kedua orangtuanya tidak perlu ikut pergi berperang saja. Kepergian pasukan besar itu bukan diantar di gerbang istana Wu, melainkan di pintu gerbang kotaraja Jian Ye.
"Tidak bisa begitu, Meimei." Hibur Sun Ce dengan sabar. "Perang kali akan sangat mempengaruhi nama besar kerajaan kita. Karena itu papa dan mama harus pergi. Kamu tenang saja di rumah, ya?"
"Sebenarnya apa yang kamu takutkan, Meimei?" Paman Zhou ikut menambahkan. "Kami pasti akan pulang membawa kemenangan. Justru kamu harus bangga dengan hal ini."
Yangmei tetap saja tidak mau berhenti menangis. Semua orang sudah naik di atas punggung kuda masing-masing, kecuali untuk pasukan berjalan. Saat ia melihat Ling Tong yang sedang berusaha untuk membetulkan posisi duduknya di atas kuda dengan dibantu oleh ayahnya, Yangmei jadi semakin kaget. "Ling Tong! Kamu kan masih anak-anak? Kenapa ikut perang?"
Ling Tong jadi kesal. "Siapa bilang aku anak-anak? Aku kan sudah lima belas tahun? Boleh saja kan aku ikut perang?" Balasnya. "Kamu jangan meremehkan begitu! Begini-begini aku masih lebih hebat dibanding 'putri dari Lu Jiang' itu." Katanya sambil menyengir, membuat Yangmei sedikit terhibur. Tentu saja yang dimaksud 'putri dari Lu Jiang' adalah Lu Yi. Meski sekarang ia sudah berusia sebelas tahun, tetap saja Ling Tong memanggilnya 'putri dari Lu Jiang'. Lu Yi yang mendengarnya hanya bisa mendengus kesal.
Da Qiao ikut menambahkan. "Meimei, kami pasti kembali secepatnya, kok. Di sini kan ada Lu Yi? Kalau kamu kesepian atau takut, Lu Yi yang akan menjagamu." Katanya menghibur putri tunggalnya itu. Kemudian ia berpaling menatap Lu Yi. "Lu Yi, tolong jaga Yangmei baik-baik, ya?"
Lu Yi mengangguk mantap. "Baik, Permaisuri!"
Sesudah itu pasukan itu mulai meninggalkan kota, Yangmei segera berlari mengejar, tetapi Lu Yi sudah menarik tangannya kuat-kuat. "Kamu jangan ikut pergi! Kita tunggu di istana saja, ya? Lalu kita berdoa pada Tian supaya semuanya bisa pulang dengan selamat." Katanya dengan lembut. Sebuah senyuman yang terulas di wajahnya dapat menenangkan Yangmei hingga akhirnya gadis itu mengangguk setuju.
Saat pasukan besar itu sudah hilang dari pandangan, keduanya dengan diiringi beberapa dayang dan pasukan yang memang disisakan untuk melindungi kotaraja kembali ke istana. Mereka lebih memilih berjalan kaki daripada naik tandu atau kereta kuda sementara yang lain susah payah berjalan. Dalam perjalanan mereka kembali ke istana, Yangmei mulai perlahan menghentikan tangisnya.
"Lu Yi?" Yangmei memanggilnya pelan. "Memang perang ini kenapa, sih? Kenapa sampai papa dan mama harus ikut pergi? Suruh saja Paman Zhou dan beberapa jendral yang pergi, pasti menang."
Lu Yi menatap putri kecil itu. Ia bisa mengerti kekhawatirannya itu, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Ia mengamit tangan Yangmei, kemudian menggandengnya. "Perang kali ini penting, sebab perang ini berhubungan dengan kakekmu, Meimei. Begitulah kata ayahmu."
"Ada apa dengan kakek?" Ia mulai penasaran.
"Aku dengar dari ayahmu, beberapa tahun lalu, saat Dinasti Han belum kacau seperti sekarang, terjadi penggulingan kekuasaan besar." Lu Yi menjelaskan sambil mengingat-ingat. "Kakekmu termasuk salah satu jendral besar yang ikut berpartisipasi dalam perang tersebut. Ketika perang sudah selesai, kakekmu kembali. Karena satu-dua alasan, kakekmu dicegat di tengah jalan oleh beberapa orang dari daerah provinsi Jing."
"Karena mereka tidak membiarkan kakekmu lewat, perang pun dimulai. Sayangnya kakekmu gugur di medan perang dan akhirnya ayahmulah yang mengambil alih pemerintahan. Untung sekali ayahmu bisa memimpin pasukan kembali ke tanah Wu, kemudian kembali mengumpulkan tentara dan wilayah, hingga sampai sekarang ini. Sekarang, mereka kembali ke provinsi Jing, tepatnya ke daerah Xia Kou, untuk balas dendam." Jelasnya panjang lebar.
Yangmei hanya mengangguk saja, tetapi tidak jelas apa ia mengerti atau tidak. Yang jelas, wajahnya hanya menatap ke jalan yang dilaluinya dengan tatapan kosong. Ia seperti orang linglung, sebentar jalannya miring ke kiri, sebentar ke kanan. Airmatanya memang sudah mengering, tetapi tetap saja mata peraknya tidak bercahaya. Sampai di istana, Yangmei sudah sangat kelelahan sampai tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya berkunang-kunang dan ia terjatuh. Untung Lu Yi segera menopangnya.
"Meimei, kamu kenapa?" Wajah Lu Yi begitu khawatir, terutama setelah melihat wajah Yangmei yang pucat seperti tembok. Beberapa dayang segera mengitari kedua anak itu.
Yangmei menggeleng lemah. "Aku... tidak apa-apa, kok." Setelah berkata begitu, Yangmei kebali mencoba berdiri. Ia berhasil, tetapi Lu Yi harus tetap memegangi tangannya. Mereka melewati taman bunga, kemudian sampai di istana tengah, dan akhirnya di kamar Yangmei. Lu Yi meminta tolong beberapa dayang untuk menuntun Yangmei masuk ke kamarnya, karena tidak sopan baginya untuk masuk ke kamar seorang putri.
"Kelihatannya Putri sedang tidak enak badan." Kata Lu Yi pada dayang-dayang itu. "Masuk ke kamar Putri adalah sebuah pelanggaran berat bagi laki-laki yang bukan keluarganya. Aku tidak bisa menjaganya. Jadi, mungkin untuk hari ini biar dia istirahat dulu saja, tidak perlu bertemu denganku." Pesannya pada dayang-dayang itu. "Karena itu, tolong kalian jaga dia baik-baik, ya?"
"Baik, Tuan muda!" Dayang-dayang itu menggangguk mengerti.
Setelah itu, Lu Yi kembali ke kamarnya sendiri. Ia mengambil sebuah buku dari rak bukunya, sebuah buku strategi, kemudian duduk di kursi dan mulai membacanya.
--
Dua hari sudah berlalu sejak hari itu. Yangmei masih saja belum keluar dari kamarnya, dan itulah yang membuat Lu Yi mulai merasa kesepian. Biasanya ada Yangmei yang tingkah konyolnya selalu mencerahkan harinya. Tetapi kali ini putri cilik itu masih enggan keluar, begitulah kata para dayang-dayang itu setiap kali ditanyai. Lu Yi sebenarnya tidak percaya. Yangmei adalah gadis kecil yang sangat bersemangat, dan biasanya selalu senang bermain-main dengannya. Mana mungkin sekarang ia memilih untuk tidur saja di kamarnya? Pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Meskipun penasaran, Lu Yi memutuskan untuk percaya saja. Mungkin memang Yangmei butuh istirahat, apalagi setelah kepergian orangtuanya.
Hari ini Lu Yi kembali ke area berlatih para jendral di lapisan terluar dari istana. Di dalam ruangan terbuka yang bertanahkan pasir itu biasanya ia berlatih dengan Jendral Lü Meng, Ling Tong, atau jendral-jendral yang lain. Tetapi, berhubung kali ini mereka semua pergi, hanya tinggal ia seorang diri yang tinggal. Ia mengambil sebuah pedang yang selalu dipakainya saat berlatih. Karena hari ini ia tidak punya lawan, maka ia hanya melatih kecepatan bertarungnya saja. Dengan sebuah boneka kayu ia berlatih.
Sepanjang siang itu ia berlatih terus. Meskipun ia cerdas, kemampuan bertarungnya masih buruk dibandingkan jendral-jendral senior yang lain, dan karena itulah ia tidak pernah malas berlatih. Hari itu begitu terik, tetapi Lu Yi tidak peduli lagi. Hampir menjelang sore, bajunya sudah basah karena keringat. Ia menyeka wajahnya, kemudian mengembalikan pedang itu pada tempatnya dan kembali menuju ke kamarnya. Hanya untuk ke kamarnya saja ia harus berjalan jauh melewati taman bunga istana Jian Ye yang begitu luas.
Di tengah perjalanannya, seorang dayang berlari-lari menghampirinya. Dengan nafas terengah-engah ia berusaha berbicara dengan jelas pada Lu Yi. "Tuan muda! Putri Yangmei... Putri..." Kata-katanya berhenti di tengah-tengah.
"Tenanglah. Bicara pelan-pelan." Kata Lu Yi. "Ada apa?"
"Tuan muda harus cepat menemui putri!" Kata dayang itu akhirnya. "Keadaan putri sangat gawat! Sekarang ia tidak sadar, dan selalu memanggil-manggil anda, Tuan muda! Cepat temui dia sebelum ada apa-apa!" Dayang itu begitu cemas dan tergesa-gesa.
Saat mendengarnya, Lu Yi seperti kehilangan setengah kesadarannya. Yangmei adalah orang yang begitu disayanginya, dan ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Gadis itu memang kuat, tetapi ada saatnya ia sampai sakit seperti ini. Tanpa menunggu dayang itu, Lu Yi segera berlari ke kamar Yangmei secepat kakinya bisa berlari sambil dalam hati terus-menerus mencaci-maki dirinya sendiri.
Pintu kamar Yangmei hampir saja dibukanya secara langsung. Tetapi dengan nafas tidak teratur dan pikiran yang kacau, terjadilah pergumulan dalam batinnya. Ia tahu ia tidak boleh masuk, begitulah aturan kesopanan. Tetapi ia begitu menyayangi Yangmei, dan kekhawatirannya tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya, pintu itu ia buka dan segera masuk ke dalam kamar si putri kecil.
Melihat pintu dibanting begitu keras, seluruh dayang itu menoleh ke arah Lu Yi yang sedang berlari tergesa-gera menghampiri Yangmei. Tanpa mempedulikan dayang-dayang itu lagi, Lu Yi berlutut di sisi ranjang Yangmei, kemudian ia meletakkan tangannya di atas kening Yangmei yang sedang tak sadarkan diri. Keningnya begitu panas, begitu juga sekujur tubuhnya. Sangking khawatirnya Lu Yi, dia malah memarahi dayang-dayang itu.
"Kalian ini bagaimana, sih?!" Ia memutar tubuhnya untuk melihat dayang-dayang itu. "Putri sampai sakit begini, apa kalian sudah tuli? Aku kan bilang kalau ada apa-apa dengan Putri, segera beri tahu aku! Bagaimana sakitnya bisa sampai parah begini?" Baru kali ini para dayang itu melihat Lu Yi begitu marah. Segawat apapun keadaan yang dihadapi, Lu Yi tidak pernah panik, apalagi sampai marah-marah. Mata emasnya begitu tajam memandang mereka, seperti hendak membakar mereka hanya dengan kilatan cahaya di matanya itu.
Salah satu dayang maju ke depan, kemudian membungkuk dalam-dalam sebelum menjawab. "Tuan muda, kami memang pantas mati!" Katanya dengan suara tergetar. "Beberapa hari yang lalu, Putri memang sudah sakit. Tetapi saat kami akan memberi tahu Tuan muda, Putri selalu melarang kami. Katanya ia tidak ingin mengkhawatirkan Tuan muda. Karena itulah kami selalu bilang Putri baik-baik saja." Saat melihat tatapan Lu Yi melembut, barulah dayang itu berani mengangkat wajahnya. "Siapa sangka ternyata Putri memang tidak bisa sembuh kalau bukan Tuan muda yang menjaganya. Semakin hari keadaannya semakin parah saja."
Mendengar jawaban itu, Lu Yi menjadi kesal bukan main pada dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bodoh sampai tak menyadarinya? Karena tahu ia sendiri yang bersalah, Lu Yi hanya bisa diam, kemudian kembali ke sisi ranjang Yangmei. Ia mengambil kain yang sudah dicelupkan ke baskom penuh berisi air, kemudian memerasnya dan meletakkannya pelan-pelan ke kening Yangmei. Satu tangannya terus-menerus menggengam tangan Yangmei. Keadaan yang seperti itu memaksa para dayang itu untuk undur diri dengan sendirinya, hingga hanya tinggal Lu Yi dan Yangmei yang masih berada di kamar itu.
Lu Yi hanya bisa diam membisu menyaksikan Yangmei yang menarik nafas dengan susah payah, membuangnya, lalu menarik nafas lagi. Dalam hati ia terus menyumpahi dirinya sendiri, sementara kepalanya menjadi begitu berat. "Meimei... kamu ini..." Ia bergumam pelan. "Sebenarnya aku suka sekali jika kamu membuatku selalu sibuk dengan permainanmu, atau dengan tingkahmu yang aneh-aneh itu. Tapi kalau caramu membuatku sibuk seperti ini, aku tidak suka. Rasanya kepalaku mau pecah sangking cemasnya aku. Kamu mengerti, kan?"
Ia tidak mendapat jawaban apa-apa. Tentu saja.
Lututnya mulai lelah karena terus berlutut di sisi pembaringan itu. Sekarang wajahnya begitu dekat dengan wajah Yangmei yang sedang tertidur. Wajah Yangmei memang selalu polos dan bersih, namun dalam tidurnya ia terlihat begitu tak berdaya, benar-benar seperti seorang anak kecil. Diam-diam Lu Yi semakin menyayanginya. Tangannya dengan lembut meraih sebuah sehelai rambut perak yang menutupi wajah Yangmei, kemudian perlahan mengibaskannya.
Wajah yang begitu manis makin membuat Lu Yi tidak tahan. Perlahan-lahan wajahnya semakin mendekat pada Yangmei, sampai ia bisa merasakan hembusan nafas yang panas Yangmei yang menyentuh kulitnya. Sampai jarak itu menjadi sangat rapat, barulah Lu Yi segera menarik dirinya. "Apa-apaan aku ini?!" Ia mulai menampar dirinya sendiri sebagai hukuman atas kekurangajarannya itu. "Bagaimana aku bisa berpikir begitu kotor?! Meimei itu putri! Aku tidak boleh berpikir aneh-aneh!"
Untuk mengalihkan perhatiannya, Lu Yi mulai menyibukkan diri dengan mengambil air, kemudian mengompres Yangmei. Kadang ia mengambil sehelai kain yang masih kering untuk mengelap wajah, leher,dan tangan Yangmei yang basah. Kalau sudah selesai ia mengambil bukunya, kemudian menjaga Yangmei sambil membaca buku, atau apapun yang dapat membuatnya terjaga tetapi tidak perlu menatap putri yang sangat disayanginya itu. Sayangnya, karena begitu khawatir, Lu Yi terus-terusan memandang Yangmei dan tidak bisa berkonsentrasi pada buku yang sedang dibacanya.
Sampai beberapa waktu lamanya, Lu Yi tiba-tiba mendengar rintihan Yangmei yang pelan, tetapi begitu jelas terdengar. "Lu Yi... Lu Yi..." Barulah Lu Yi tahu bahwa Yangmei sebenarnya sedang memanggil-manggilnya. Segera buku itu ia jatuhkan begitu saja, kemudian tangannya meraih tangan Yangmei yang sepertinya berusaha menggapai-gapai ke atas.
"Meimei!" Ia gengam tangan Yangmei kuat-kuat, wajahnya semakin diliputi kecemasan dan ketakutan. "Meimei, aku di sini! Aku di sini!" Tangannya mulai gemetaran, sementara tanpa disadarinya matanya sudah mulai berair.
"Lu...Yi...?" Yangmei seperti bisa mendengar suaranya. Ia memutar tubuhnya untuk melihat Lu Yi, kemudian perlahan-lahan membuka kedua matanya. Dilihatnya wajah Lu Yi yang begitu kelelahan, tetapi juga sangat lega. Yangmei hanya bisa tersenyum lemah, meskipun ia sangat senang melihat Lu Yi sendiri yang menjaganya. "Oh... Lu Yi di sini, ya?"
Perasaan yang begitu melegakan membuat kedua kaki Lu Yi jadi tidak bisa menopang tubuhnya. Ia terjatuh berlutut di sebelah ranjang Yangmei dengan kepala tertunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Lao Tian! Untung Meimei baik-baik saja." Ia terus-menerus bergumam seperti itu.
Yangmei tertawa kecil. "Lu Yi, kamu ini memang berlebihan. Aku kan cuma sakit begini saja, kamu sampai memanggil-manggil Tian segala. Ini kan bukan masalah besar."
"Bukan masalah besar?!" Lu Yi menjadi gusar sekali. Ia merasa cemas sekali, sampai ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sekarang Yangmei malah berkata ini bukan masalah besar. "Kamu ini hampir membuat aku gila! Kalau ada apa-apa denganmu, memangnya kamu pikir aku bisa tenang-tenang saja? Sampai kapan sih kamu mau berhenti membuat aku cemas begini?!"
Yangmei yang tadi bisa tersenyum sekarang langsung menangis, entah karena dimarahi atau karena merasa bersalah. Airmata mulai membanjiri wajahnya yang memang sudah basah. "Justru aku tidak mau membuat Lu Yi khawatir, makanya aku pikir lebih baik Lu Yi tidak perlu tahu." Ia bicara sesenggukan. "Ternyata memang aku tidak bisa terpisah dari Lu Yi walau cuma sehari saja. Akhirnya, penyakitku malah tambah parah. Maaf, ya?"
Lu Yi menghela nafas panjang. Ia tidak ingin membuat gadis kecil ini menangis, tetapi sepertinya apa saja yang dilakukannya selalu membuatnya begitu. Ia menghapus airmata Yangmei. "Sudahlah, aku juga salah karena begitu bodoh sampai tidak tahu kalau kamu sedang sakit." Ia menenangkan Yangmei. "Kamu jangan menangis begitu, ya?"
Yangmei mengagguk pelan. "Aku senang sekali Lu Yi bisa ada di sampingku, bahkan kalau Lu Yi ingin memarahiku pun, aku tidak keberatan. Selama ini aku kan selalu membuat Lu Yi kesal, tapi Lu Yi tidak pernah marah padaku." Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. "Aku tadi bermimpi, Lu Yi ada di atas sekali, sementara aku tertinggal di bawah. Aku pikir Lu Yi marah padaku, makanya Lu Yi akhirnya terbang meninggalkanku." Katanya dengan suara pelan.
"Bodoh." Lu Yi membelai lembut rambut Yangmei, membuat putri itu semakin merasa aman di sampingnya. "Mana mungkin aku bisa terbang meninggalkanmu? Aku kan tidak punya sayap? Kalaupun aku punya, pasti aku akan mengajak Meimei ikut juga, atau aku yang akan turun. Yang pasti, aku tidak mungkin meninggalkan Meimei sendirian." Kata-katanya penuh arti. "Jadi, Meimei jangan percaya pada mimpi itu, ya? Buktinya, aku kan masih disini?" Ia memberi Yangmei sebuah senyuman untuk meyakinkannya.
"Benar juga, ya? Aku memang bodoh." Yangmei tersenyum malu. "Mana mungkin Lu Yi meninggalkanku? Lu Yi kan tidak mungkin pergi." Katanya polos. Ia membalas senyuman Lu Yi. Untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya berpandang-pandangan saja seperti orang bodoh.
Tiba-tiba Lu Yi sadar kalau ia sudah seperti orang mabuk kepayang saja. Segeralah ia berlari ke arah meja, kemudian mengambil mangkuk yang terletak di atasnya. "Cepat minum obat! Nanti sakitmu tambah parah!" Saat kembali ke samping meja, Lu Yi melihat wajah Yangmei yang begitu jijik melihat obat itu.
"Lebih baik aku mati saja daripada minum obat itu!" Serunya sambil menutup hidung karena bau obat yang tidak menyenangkan itu. "Justru karena minum obat itu terus sambil menangis, aku jadi tambah sakit! Kalau aku tidak minum apa-apa dan sama-sama Lu Yi, mungkin aku bisa lebih cepat sembuh. Aku tidak perlu minum obat, ya?" Katanya memohon.
"Yang benar saja!" Lu Yi terang-terangan menolak. "Kalau sakit, harus minum obat! Ayo sini!" Dengan sebuah sendok, Lu Yi mendulangi Yangmei, tetapi tetap saja ia enggan membuka mulutnya.
"Obat itu rasanya pahit sekali!" Sahut Yangmei. "Kalau aku minum, nanti aku bisa menangis lagi. Lu Yi tidak mau kan melihat aku menangis?" Tanyanya dengan wajah memelas. "Begini saja. Dulu kan Lu Yi bisa menyembuhkanku dengan ciuman. Sekarang Lu Yi cium aku saja daripada memaksaku minum obat itu!"
"Mana bisa begitu?!" Balasnya. "Sakitmu kali ini bukan main-main! Harus minum obat supaya sembuh!" Suaranya akhirnya melembut melihat Yangmei yang wajahnya semakin memelas. "Memang tidak ada obat yang rasanya manis. Semua obat rasanya pahit tapi bisa menyembuhkan. Aku memang tidak suka melihatmu menangis, tapi lebih tidak suka lagi kalau aku melihatmu sakit terus. Minum, ya? Sekali saja." Ganti Lu Yi yang memelas.
Yangmei memasang wajah cemberut. "Lu Yi kan tidak tahu pahitnya obat itu! Makanya bisa menyuruhku minum dengan begitu mudah! Coba kalau Lu Yi tahu." Ia duduk di ranjangnya, bersandar pada dinding. "Lu Yi tidak tahu sih betapa susahnya menelan obat itu!"
Lu Yi terdiam beberapa saat.
Tiba-tiba ia berdiri dan meletakkan mangkuk itu di atas kursinya. "Kalau begitu, tunggu aku sebenatar, Meimei." Dengan langkah cepat ia keluar dari ruangan itu. Yangmei jadi semakin bingung menyaksikannya.
Beberapa saat kemudian Lu Yi kembali dengan mangkuk yang lain berisi obat yang sama.
"Aku juga minta agar dibuatkan obat yang sama. Jadi, aku pun bisa merasakan rasa pahit yang sama denganmu." Kata Lu Yi sambil berjalan mendekati Yangmei. "Kalau aku minum, kamu juga janji akan minum, ya?" Tanpa menunggu jawaban Yangmei, Lu Yi segera mendekatkan mangkuk itu ke bibirnya. Ia sampai harus mati-matian menahan nafas agar tidak mencium bau obat yang luar biasa tidak enak itu. Secepat mungkin Lu Yi menegak semua obat sampai tak bersisa. Setelah itu mangkuk yang kosong itu ia letakkan di atas meja, sambil masih terbatuk-batuk.
Yangmei sangat terkejut melihat Lu Yi melakukannya. Padahal, ia tidak bermaksud menyuruh Lu Yi minum obat yang sama dengannya. "Kamu ini sudah gila, ya?! Obat itu kan tidak enak!" Yangmei memarahinya. "Tadi kan aku tidak menyuruhmu minum, aku hanya bilang kamu tidak mengerti seberapa tidak enaknya obat itu!"
"Justru karena itu aku minum!" Jawab Lu Yi. "Kamu bilang obat itu rasanya benar-benar membuatmu ingin menangis. Daripada membiarkanmu menangis seorang diri, sebaiknya aku pun ikut menangis bersamamu!" Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja dari mulut Lu Yi. Saat Yangmei sudah mendengarnya, barulah Lu Yi tahu betapa terus terangnya perkataan itu. Segeralah ia menyangkalnya. "M-maksudku, mungkin aku tertular, jadi sebaiknya aku minum obat itu juga..." Katanya gugup.
Yangmei mau tidak mau jadi khawatir juga. "Lu Yi tertular penyakitku?" Tanyanya. "Kalau Lu Yi juga sakit, jangan minum obat itu. Aku kan bisa menyembuhkan Lu Yi dengan kekuatannya Huang. Kalau dengan kekuatan Huang, tidak perlu minum obat itu lagi." Katanya.
Barulah Lu Yi sadar juga. "Benar juga. Kamu kan bisa menyembuhkanku. Apa kamu tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri?" Tanyanya penasaran.
"Tidak bisa." Jawab Yangmei lesu.
"Kenapa tidak bisa?"
Yangmei jadi semakin kesal saja. "Mana aku tahu? Tanya saja pada Huang!" Dia mendengus. "Huang memang aneh! Jangan-jangan dia sendiri pun tidak bisa menyembuhkan diri sendiri seperti aku sekarang ini. Memang kalau Lu Yi sakit, tidak perlu minum obat karena aku bisa menyembuhkan Lu Yi, tapi kalau aku yang sakit, mau tidak mau aku harus minum!" Ia mengomel.
"Ya sudahlah..." Lu Yi mengangkat mangkuk yang masih berisi obat itu. "Aku kan juga sudah minum. Sekarang Meimei minum, ya? Obat itu memang pahit, tapi kalau aku bisa menghabiskan satu mangkuk, apa Meimei tidak bisa?" Tanyanya.
Mendengar pertanyaan Lu Yi, Yangmei malah merasa tertantang. Sebelum Lu Yi mendulangi Yangmei, putri kecil itu sudah terlebih dahulu mengambilnya, kemudian meneguk semuanya sampai habis, tetapi dengan sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak memuntahkan obat itu. Lu Yi yang melihatnya sampai bengong sendiri, tetapi juga kasihan melihat Yangmei yang airmatanya tidak berhenti selagi ia minum obat itu. Saat sudah selesai, Yangmei memberikan mangkuk itu pada Lu Yi.
"Kamu memang hebat, Meimei!" Lu Yi memuji. "Obat sepahit itu cepat sekali kamu habiskan!" Katanya sambil meletakkan mangkuk itu di atas meja.
"Yang hebat itu kamu, Lu Yi." Balas Yangmei dengan suara yang diselingi batuk-batuk. "Lu Yi tidak sakit, tapi mau menemaniku minum obat itu supaya akhirnya aku pun mau minum." Ia memandang Lu Yi dengan tatapan kagum, senyum lebar tersungging di bibirnya. "Makasih, Lu Yi! Kalau bukan karena Lu Yi, pasti aku tidak mau minum."
Lu Yi memberikan senyum yang sama, kemudian ia menarik selimut tebal itu menutupi tubuh Yangmei sampai ke lehernya. "Sekarang Meimei tidur, ya? Istirahat supaya cepat sembuh." Katanya lembut.
"Hah? Tidur lagi?" Yangmei menggeleng. "Aku baru saja tidur lama sekali. Kenapa sekarang harus tidur lagi? Nanti bagaimana kalau aku mimpi buruk seperti tadi?" Yangmei menggengam tangan Lu Yi. "Apalagi kalau aku tidur, nanti Lu Yi pasti pergi. Kalau Lu Yi pergi, nanti aku pasti sakit lagi. Aku tidak mau tidur!" Ia merengek-rengek.
"Terus kamu mau bagaimana? Aku pasti menunggumu di sini, kok." Katanya.
"Kita ngomong-ngomong saja." Usul Yangmei. "Kan sudah dua hari kita tidak sama-sama. Apa Lu Yi tidak kangen? Kalau aku, sih, kangen sekali sama Lu Yi." Ia kemudian berkata memohon. "Kalau hanya ngomong-ngomong, tidak mungkin bisa tambah sakit, kan?"
Melihat wajah Yangmei yang begitu memelas, juga suara memohonnya itu membuat Lu Yi jadi tidak tega menjawab 'tidak'. Akhirnya, ia mengangguk saja. Yangmei menjadi sangat senang. Saat Lu Yi kembali ke tempat duduknya, mereka mulai berbincang-bincang.
Semakin lama hari semakin malam. Lagi-lagi Lu Yi harus memaksa Yangmei untuk minum obat itu lagi, kemudian ia menyuapi Yangmei makan malamnya. Yangmei akhirnya menguap karena mulai mengantuk, tetapi tetap saja ia menolak disuruh tidur.
Tiba-tiba pintu diketuk. Beberapa orang dayang masuk ke kamar Yangmei. "Tuan muda," Salah satu maju memanggil Lu Yi. "Hari sudah malam. Sebaiknya Tuan muda kembali dan beristirahat saja. Putri Yangmei biar kami yang urus. Kalau Tuan muda terlalu memaksakan diri dan tidak istirahat, bisa-bisa Tuan muda yang sakit." Kata dayang itu.
Sebelum Lu Yi menjawab, Yangmei telah terlebih dulu mengamit tangan Lu Yi. Ia melihat ke arah para dayang itu dengan tatapan kesal. "Tidak bisa! Lu Yi harus disini! Kalaupun dia sakit, aku kan bisa menyembuhkannya?" Katanya. "Pokoknya malam ini Lu Yi harus menemaniku tidur sampai pagi!"
Saat mendengar kata 'menemaniku tidur sampai pagi', para dayang itu sangat terkejut sekali. Tentu saja maksud Yangmei bukan seperti itu, tetapi karena ia masih belum mengerti apa-apa, ia hanya bisa bingung saja sementara dayang-dayang itu berbisik-bisik sendiri, kemudian segera meninggalkan ruangan itu tanpa disuruh. Lu Yi hanya bisa membuang nafas panjang sambil mengeluh.
"Kalau Kaisar dan Permaisuri kembali, aku pasti akan dihukum mati."
Yangmei semakin bingung saja mendengarnya. Maksud perkataannya sebenarnya adalah Lu Yi yang akan menjaganya malam itu, jadi para dayang itu tidak perlu menungguinya lagi seperti malam sebelumnya. Ia belum merasa ada yang salah dengan itu. "Kenapa Lu Yi harus dihukum mati?" Tanyanya bingung, kemudian ia tertawa. "Lu Yi memang suka bercanda, sih. Mana mungkin menemaniku tidur bisa dihukum mati? Dayang-dayang itu juga menemaniku kemarin dan dua hari yang lalu, tapi mereka tidak pernah bilang apa-apa tentang dihukum mati."
Lu Yi menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Meimei."
"Kalau begitu bagimana?" Tanyanya penasaran.
Semakin ditanya lebih jauh, Lu Yi makin bingung harus menjawab apa. Mukanya mulai memerah karena bingung harus menjelaskan bagaimana. "Seorang perempuan tidur dengan laki-laki yang bukan keluarga atau suaminya berarti membuat pelanggaran besar." Lu Yi menjelaskan. "Sebenarnya kalau yang bukan apa-apa sepertiku ketahuan masuk ke kamarmu, aku bisa dihukum mati, apalagi kalau masuk saat kamu tidur." Katanya dengan suara yang semakin pelan.
"Begitu, ya?" Yangmei mengangguk. "Kalau begitu, kenapa pertama kali kita bertemu kamu tidak dihukum mati? Waktu itu aku kan juga menemanimu tidur?" Tanyanya lagi, masih dengan wajah polos.
"Karena waktu itu kita cuma tidur." Jawabnya pendek, dengan harapan supaya Yangmei tidak banyak bertanya lagi.
Sayangnya, Yangmei memang benar-benar tidak peka. "Lho? Sekarang kan juga cuma tidur? Apa bedanya tidur di tengah hutan waktu itu dan tidur di kamar sekarang?" Semakin dipikirkan, Yangmei semakin bingung sendiri. "Memangnya tidur bersama itu salah, ya? Kenapa bisa salah? Padahal papa dan mama selalu bilang tidur itu baik untuk kesehatan. Kalau perempuan dan laki-laki tidur bersama, apa salahnya? Bukannya semakin bagus?" Ia menghujani Lu Yi dengan pertanyaan.
"Begini, Meimei..." Lu Yi menjelaskan dengan wajah yang benar-benar merah. Jantungnya semakin berdengup kencang karena tidak tahu harus bicara apa. "Kalau seorang perempuan dan laki-laki tidur bersama, mereka bisa melakukan... sesuatu." Lu Yi menutupi mukanya dengan tangannya, kemudian berbisik pelan. "Kamu tahu maksudku, kan?" Tanyanya ragu.
Yang ditakutkan Lu Yi akhirnya tiba juga. Yangmei menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Memangnya mereka akan melakukan apa selain mendengkur, tutup mata, dan bernafas?"
Lu Yi memukul kepalanya sendiri. "B-begini..." Ia mulai menggagap. "Kalau seorang perempuan dan laki-laki tidur bersama, mereka bisa melakukan hubungan suami-istri..."
"Bagus itu!" Yangmei tiba-tiba menyahut, tetapi sahutannya itu hanya membuat Lu Yi semakin bingung. "Lu Yi kan calon suamiku. Tinggal menunggu pernikahan saja. Kalau melakukan hubungan suami istri, pasti bisa lebih cepat jadi suami istri." Saat melihat wajah Lu Yi yang memucat, Yangmei bertanya lagi. "Kelihatannya Lu Yi takut sekali, ya? Memangnya hubungan suami istri itu seperti apa, sih? Ciuman? Pelukan?" Tanyanya.
"Hubungan suami istri itu..." Lu Yi menahan nafasnya. "Hubungan suami istri itu hanya boleh dilakukan kalau sudah menikah saja."
Yangmei mengerutkan dahi. "Memangnya hubungan suami istri itu susah seperti minum obat pahit itu, ya? Kok harus menunggu sampai kita sudah dewasa? Memangnya seperti apa? Lu Yi juga belum jawab."
"Aduh..." Lu Yi mengeluh. Ia mengambil nafas yang pajang kemudian mulai menjelaskan dengan kecepatan berbicara yang luar biasa, sehingga Yangmei tidak sempat mencerna kata-katanya. "Hubungan suami istri itu beda dengan ciuman dan pelukan. Kalau kita ciuman atau pelukan, bisa dilakukan pada orang lain, tapi kalau hubungan suami istri hanya bisa pada suami dan istri sendiri, dan juga harus menunggu saat hari pernikahan tiba. Kalau tidak, nanti bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hubungan suami istri itu tidak susah, tetapi tetap hanya orang dewasa yang boleh melakukannya. Caranya seperti apa, itu aku juga belum begitu mengerti, tapi katanya sesudah malam pesta pernikahan, kedua mempelai masuk ke kamar untuk melewati malam pertama. Dimulai dari yang laki-laki membuka baju yang perempuan, kemudian mereka tiduran dan si laki-laki mulai memasukkan sebagian tubuhnya ke tubuh si perempuan, lalu menanam suatu benih di tubuh perempuan. Itu namanya hubungan suami istri." Semua kata-kata itu diucapkan Lu Yi hanya dengan satu nafas saja sangking tegangnya. Wajahnya sampai membiru dan kepalanya jadi pusing karena kurang udara. Cepat-cepat ia menarik nafas dalam-dalam.
Benar saja, Yangmei sama sekali tidak menangkap maksud Lu Yi. "Kamu berbicara cepat sekali, Lu Yi!" Protesnya. "Lagipula, kalau si laki-laki memasukkan sebagian tubuhnya di tubuh si perempuan, bukankah itu berarti si perempuan memakan si laki-laki?" Ia semakin bingung saja menafsirkan penjelasan Lu Yi yang benar-benar implisit itu. "Lalu benih itu benih apa? Benih buah yangmei yang pernah kita tanam, ya? Kalau begitu, sebenarnya dari dulu pun kita sudah melakukan hubungan suami istri, kan?"
"I-itu..." Lu Yi akhirnya kehabisan kata-kata. Ia menyerah. "Sudahlah. Jangan bicarakan tentang itu lagi. Nanti kalau sudah waktunya, pasti kamu akan tahu sendiri." Lu Yi pura-pura saja tidak mendengarkan desakan Yangmei untuk menjelaskan ulang. "Sekarang kamu tidur. Aku akan menjagamu." Jawabnya sambil berusaha menenangkan diri sendiri.
Meskipun kecewa, akhirnya Yangmei menurut saja, karena takut Lu Yi akan memarahinya. Ia menarik selimutnya sampai menutupi sebagian wajahnya, kemudian menutup mata dan mulai tidur. Hebatnya, sesaat setelah kepala Yangmei menyentuh bantal, ia langsung tertidur pulas. Ketika itu, Lu Yi masih memikirkan tentang penjelasannya pada Yangmei. Apa ia salah untuk menjelaskannya? Umurnya sekarang sudah sebelas tahun, cukup dewasa untuk mengerti. Tetapi Yangmei masih kecil. Mana boleh dia belajar tentang hal-hal dewasa seperti itu? Dalam hati Lu Yi mulai menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin sebenarnya bagi gadis kecil seumuran Yangmei, jatuh cinta pada seorang lelaki benar-benar terlalu dini. Lagi-lagi Lu Yi menambah satu perasaan bersalah lagi dalam dirinya.
Waktu berjalan cepat. Tanpa disadari, ternyata waktu itu sudah tengah malam. Yangmei benar-benar sudah jatuh dalam dunia mimpinya, sementara Lu Yi yang sedari tadi berusaha untuk tetap terjaga akhirnya merasa ngantuk juga. Akhirnya, ia berdiri dari kursinya tanpa menimbulkan suara sedikitpun, kemudian beranjak dan meninggalkan kamar itu. Ketika tangannya memegang ganggang pintu, ia tiba-tiba mendengar Yangmei memanggilnya dalam tidurnya. Sepertinya gadis itu sedang mengigau karena lagi-lagi mendapat mimpi buruk.
"Lu Yi...! Lu Yi...! Jangan pergi!" Ia memanggil-manggil. Akhirnya Lu Yi segera berlari menghampirinya. "Aku takut... tolong...!" Tangannya menggapai ke atas, seperti sebelumnya.
"Iya, Meimei. Aku disini..." Saat Lu Yi memegang tangannya, tiba-tiba Yangmei menariknya begitu kuat, hingga ia pun jatuh ke atas ranjang Yangmei, tepat di sebelahnya. Sebelum ia sempat berdiri lagi, kedua tangan Yangmei sudah memeluknya erat-erat, sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Kalau bergerak, pasti akan membangunkan Yangmei, tapi kalau tetap seperti itu...
Detak jantung Lu Yi semakin tak karuan saja saat merasakan rambut depan Yangmei yang menyapu matanya. Ia begitu dekat dengan si putri kecil sekarang, bahkan jarak sedikitpun tidak ada. Kaki Yangmei melingkari kedua kaki Lu Yi, sepertinya gadis itu begitu ketakutan hingga tak ingin membiarkan Lu Yi pergi. Tubuhnya gemetaran.
"Meimei... " Lu Yi hanya bisa diam seperti patung saja. Tubuhnya mulai menegang dan jantungnya berdetak tak karuan ketika putri kecil itu merapat padanya, hampir saja tak ada tempat baginya untuk bernafas. Pada akhirnya, ia hanya bisa mempertahankan posisi itu tanpa bergerak sedikitpun, sementara Yangmei sudah mulai tenang dalam tidurnya. Dengan angin malam yang berhembus dari jendela kecil, dan mendengar dengkur halus putri itu, Lu Yi yang awalnya terjaga penuh mulai mengantuk. Tak lama kemudian, ia pun membiarkan dirinya tertidur sambil memeluk putri kecil itu.
--
Yangmei membuka matanya perlahan.
Tirai jendela kamarnya melambai-lambai saat angin sepoi-sepoi bertiup. Matahari memancar menyilaukan matanya yang masih mengantuk. Hari ini ia merasa jauh lebih baik dari kemarin. Tubuhnya pulih total dari sakit yang tiga hari ini dideritanya. Saat kembali menutup matanya, ia mengingat kejadian kemarin, dan barulah ia tahu ia harus berterima kasih pada Lu Yi yang telah menjagainya seharian kemarin.
Jadi, pertama yang harus kulakukan adalah mencari Lu Yi... pikirnya dalam hati.
Tetapi sepertinya hal itu tidak lagi diperlukan. Sebelum matanya terbuka, ia merasakan detak jantung seseorang yang berbaring begitu dekat dengannya. Sebuah lengan melingkari tubuhnya, seolah ingin melindunginya kalau-kalau bahaya datang. Saat ia mengangkat wajahnya, ia melihat wajah Lu Yi yang sedang tertidur tepat di sebelahnya, begitu dekat dengannya!
"Lu Yi...!" Ia memekik pelan, tetapi saat menyadari Lu Yi sedang tertidur nyenyak, ia mulai bimbang. Lu Yi sudah menemaninya semalaman, pastilah ia kelelahan. Sekarang, masa ia tidak diperbolehkan beristirahat dengan tenang? Yangmei pun memutuskan untuk diam saja. Tangannya menarik selimut yang menutupi tubuhnya, untuk kini menyelimuti tubuh Lu Yi juga dengan selimut itu.
Satu gerakan yang ceroboh akhirnya membuat Lu Yi terjaga. Tatapan mata mereka bertemu saat itu juga. Keduanya seperti lumpuh beberapa saat lamanya. Lu Yi masih berusaha mengingat-ingat semua kejadian yang telah dialaminya, dan bahkan dengan siapa ia telah tidur bersama sekarang, sementara Yangmei hanya terpaku tidak tahu harus berkata apa.
Seperti telah disambar petir, Lu Yi melonjak kaget, nyaris mendorong Yangmei hingga jatuh ke lantai. Segera sesudah shock itu mulai berkurang, Lu Yi meloncat turun dari pembaringan, kemudian membanting pintu dan berlari secepat-cepatnya menjauhi kamar itu. Yangmei hanya bisa menatap keheranan melihat reaksi Lu Yi yang menurutnya berlebihan itu. Ia melempar selimut itu, kemudian dengan masih memakai baju tidur dan tanpa alas kaki, ia berlari mengejar Lu Yi. Segera ia berlari ke tempat dimana ia tahu Lu Yi berada. Di dekat kolam angsa tempat pohon-pohon yangmei tumbuh.
Lu Yi berdiri menghadap sebuah pohon yangmei yang besar. Matanya tajam menatap lurus ke depan, lalu tiba-tiba tangannya mengepal, memukul pohon yang ada di depannya. "Kenapa bisa begini?" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah berpikir untuk melakukan itu? Aku memang sudah gila!" Ia memaki dirinya sendiri, sambil membentur-benturkan kepalanya ke pohon itu.
Tiba-tiba saja Yangmei berlari menghampirinya, kemudian menarik baju Lu Yi. "Lu Yi! Kamu ini kenapa sih?" Barulah Lu Yi berhenti. "Kenapa kamu malah membenturkan kepalamu sendiri? Apa tidak sakit?" Tanynya polos.
"Tentu saja sakit." Lu Yi sambil memegang kepalanya sambil merintih kesakitan.
Yangmei berusaha meletakkan tangannya di atas kepala Lu Yi, kemudian dengan kekuatan yang ia miliki, ia menghilangkan rasa sakit di kepalanya. "Kalau sakit, kenapa malah melakukan itu? Apa Lu Yi suka menyiksa diri sendiri?"
"Ini bukan menyiksa diri. Ini..." Lu Yi terdiam sejenak. "Menghukum diri sendiri."
"Kenapa begitu?" Gadis kecil itu memegang kedua tangannya. "Lu Yi kan tidak salah apa-apa? Apa karena tadi malam Lu Yi tidur sama-sama aku?" Ia tertunduk. "Lu Yi bilang seorang laki-laki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh tidur sama-sama, tetapi kok Lu Yi malah tidur di atas ranjangku? Sebenarnya sih aku tidak marah, karena waktu tidur Lu Yi tidak menjahatiku, kan?" Tanyanya dengan suara pelan. Kelihatannya ia sangat takut saat menanyainya.
"Tentu saja tidak!" Lu Yi menggeleng kuat-kuat. "Aku bersumpah demi Langit dan Bumi aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Lagipula kemarin itu aku tidak bermaksud tidur sama-sama kamu. Hanya saja..." Ia jadi ragu-ragu untuk melanjutkan.
Yangmei menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. "Jangan-jangan karena aku?"
"Bukan begitu, hanya..." Lu Yi menatap rumput yang ia injak supaya pandangan matanya tidak bertemu pandangan mata Yangmei. "Mungkin kemarin malam kamu bermimpi buruk. Jadi, pada saat aku memegang tanganmu, tiba-tiba kamu menarik aku. Jadinya aku jatuh ke ranjangmu, dan karena takut nanti kamu bangun, aku tidak berani berdiri lagi." Ia mengakui dengan suara pelan. Suaranya terdengar penuh penyesalan.
Tiba-tiba saja Yangmei memeluknya, untunglah meskipun Lu Yi kaget, ia tidak menarik dirinya. "Kalau begitu itu bukan salah Lu Yi! Itu salahku! Salahku! Harusnya yang membenturkan kepala itu aku, bukan Lu Yi, ya kan?" Dengan gerakan yang cepat, ia melepaskan pelukannya, kemudian berlari ke pohon yangmei terdekat dan membentur-benturkan kepalanya seperti yang telah Lu Yi lakukan. "Hei, pohon! Yang kemarin itu salahku! Jadi kalau mau menghukum, hukum aku saja, jangan Lu Yi! aku yang menariknya supaya tidur di ranjangku!" Serunya berulang-ulang.
Lu Yi terkejut bukan main. Cepat-cepat ia berdiri di antara Yangmei dan pohon itu, sehingga saat akan membenturkan kepalanya lagi, Yangmei malah jatuh ke dalam pelukan Lu Yi. "Sudahlah. Kamu juga tidak salah apa-apa, kok. Kemarin itu kan cuma mimpi, jadi pasti kamu tidak sengaja." Ia berusaha menenangkan Yangmei. Yangmei dengan cepat membalas pelukannya, kemudian membenamkan wajahnya di dada Lu Yi. Barulah saat itu Lu Yi tahu bahwa Yangmei sedang menangis. Bajunya langsung menjadi basah.
"Aku memang bodoh!" Umpat Yangmei pada dirinya sendiri. "Sampai sekarang aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak boleh tidur sama-sama Lu Yi, tapi Lu Yi selalu bilang itu tidak baik. Akhirnya aku menurut saja. Siapa sangka ternyata aku akhirnya malah membuat Lu Yi melakukannya? Aku memang putri yang bodoh!"
"Meimei..." Suara Lu Yi semakin lama semakin melembut, begitu juga dengan belaian tangannya di kepala Yangmei. "Begini saja. Kita anggap kejadian kemarin itu tidak pernah terjadi, ya?"
Yangmei mengangguk pelan sambil membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. "Iya."
Dengan hati-hati Lu Yi melepaskan tangan Yangmei dari wajahnya yang berair. "Kenapa kamu menangis? Sudah, jangan menangis lagi." Ia menyentuh lembut pipi Yangmei yang basah, kemudian tangannya mulai naik hingga menggapai matanya yang memerah. Selama sentuhan itu diberikan, Yangmei hanya bisa kaku melihat wajah Lu Yi yang penuh kekhawatiran, tetapi ada seulas senyum tipis yang menghias wajahnya. Bagi Yangmei, melihat wajah Lu Yi memang selalu membuatnya senang, tetapi kali ini lain. Ia mulai merasakan sesuatu yang jauh lebih aneh dari itu. Wajahnya mulai memerah dan menghangat, terutama di bagian dimana Lu Yi menyentuhnya. Perasaan aneh itu membuatnya sangat tersiksa, sampai-sampai ia tidak tahu harus berbuat atau bicara apa, tetapi ia begitu menyukainya.
"Wajahmu masih panas." Kata Lu Yi dengan khawatir. Tangannya pun kembali ke posisi semula, dan Yangmei hanya bisa kecewa saat sentuhan lembut itu akhirnya berhenti. "Meimei, apa kamu masih sakit? Kita kembali saja, yuk?"
"Aku sudah tidak sakit lagi!" Jawab Yangmei. Jawabannya itu sebenarnya wajr-wajar saja. Yang tidak wajar adalah volume suaranya yang tidak terkontrol. Lu Yi menatapnya heran. "Mukaku hangat karena... karena..." Lanjut Yangmei dengan suara yang tergagap-gagap, membuat Lu Yi semakin bingung.
"Karena apa?" Tanyanya penasaran.
Seperti biasa, jawaban Yangmei memang selalu blak-blakan tanpa mempedulikan perasaan apa yang akan orang lain rasakan. Karena tidak bisa berbohong, akhirnya ia membiarkan saja kata-kata itu meluncur melewati mulutnya. "Karena aku tegang sekali!" Ia menjawab malu-malu, tapi suaranya lantang. "Lu Yi begitu tampan, begitu lembut, begitu baik hati sampai-sampai aku takut, jangan-jangan aku bukan berhadapan dengan manusia tapi dengan malaikat!" Jawaban itu akhirnya keluar juga. Yangmei menjadi sangat lega, tetapi sekaligus sangat malu. Pasti sekarang Lu Yi menganggapnya sebagai gadis yang aneh.
Ternyata reaksi Lu Yi tidak begitu. Meskipun mula-mula ia hanya bisa membisu sangking kagetnya, akhirnya ia hanya tersenyum sambil tertawa kecil. "Meimei, kamu itu jujur sekali, ya?" Kata-kata itu dimaksudkannya untuk memuji. "Tapi aku ini cuma manusia biasa, kok." Kemudian tangannya diulurkan untuk menggandeng tangan Yangmei.
Yangmei segera menerima uluran tangan itu, kemudian keduanya berjalan menjauhi pepohonan itu, kembali ke istana kaisar. Selama berjalan, Yangmei menggandeng tangan Lu Yi kuat-kuat. Ia berbisik pelan "Ah... jangan-jangan Lu Yi memang betulan malaikat..."
Yak! Sekian chapter 11, sodara-sodara!
Mulai sekarang saya bakal mengupdate cerita ini seminggi sekali setiap hari Selasa, wokey? Ini berlaku sampe bulan Maret! Sesudah bulan Maret selesai (yang berarti UNAS sudah berlalu), saya akan lebih cepat mengupdate karena kalau sudah liburan, saya bisa nulis sepuas-puasnya sampe mati! Wkwkwkwkwk... Jadi, doakan supaya saya lulus UNAS, ya? ^^
Terakhir, the LAST and the LEAST, saya mau minta tolong, sodara-sodara... Pliz... pliz... pliz.. pliiiiiizzzzz.... banget... *sembah-sujud sampe berkowtow 1000 kali (halah, emang orang China?)* saya mau minta tolong sesuatu sama sodara-sodara. Pliz help me, ya...?
Begini, ini cuma minta pendapat sodara-sodara doank, kok... Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini:
1. Apa menurut sodara-sodara Yangmei terkesan seperti Mary Sue? (Mary Sue itu, kalo belum tahu, adalah OC yang dibuat rada lebay baiknya, ato cantiknya, ato pinternya, dsb... sampe bikin pembaca jadi nggak suka dengan OC itu, ato intinya bisa kita simpulkan bahwa Mary Sue adalah OC cewek yang nggak disukai pembaca gara-gara terkesan terlalu perfect sebagai manusia biasa)
2. Sampe sejauh ini, apa menurut sodara-sodara gaya bahasa saya terkesan sangat kaku?
3. Apakah menurut sodara-sodara Lu Xun AKA Lu Yi disini terkesan sangat OOC (Out of Character)? (Kalo mau tahu, OOC alias Out of Character adalah character bukan OC alias asli ada tapi dibuat sifatnya nggak sesuai sama yang asli). Ato seandainya kalo bukan Lu Xun doank, apa ada character disini yang sodara rasa adalah OOC?
4. Apakah sodara merasa cerita saya ini sampe sekarang nggak ada intinya?
5. Apa menurut sodara-sodara update satu chapter per minggu itu kelamaan? (Kalo menurut sodara kelamaan, akan saya usahakan lebih cepat. Mau diupdate paling lama berapa hari, juga tolong kasih tahu, ya...)
6.(Ini pertanyaan paling terakhir dan paling gampang dijawab, apalagi bagi penggemar Cao Pi dan/atau Zhao Yun) Apa sodara-sodara pengen cepet-cepet ngelihat Zhao Yun n Cao Pi dan bakal memutilasi saya kalo dalam waktu dekat ini nggak melihat mereka XD? (Lebay... *dihajar orang sekampung sampe mati*)
Yah... maaf kalo saya terlalu banyak tanya n minta tolong... masalahnya ini kan namanya juga masterpiece... dan lagi ceritanya panjang. Saya pengen banget cerita ini jadi sebagus-bagusnya. Jadi kalo sodara-sodara ngerasa bosan dengan cerita ini, saya akan usahakan supaya nggak bosan... m(_ _)m
Thnx for reading! Review, plizzzz... ^^ (sekaligus jangan lupa jawab pertanyaannya, ya?)
