Banzai, banzai! Update kilat! Chap terpanjang! XD

Siapkan tisu disamping kalian, girls!

Bersiaplah untuk menangis dan berteriak di chap ini *evilsmirk*

Kazuhiko ebina : Risa belum ada rencana nih sampai berapa, mengalir begitu aja ngetiknya :D

Hikaru sora14 : Iya, ga sadar udah dipelototin bos, eh ujung2nya kena marah *tendangbos* Suigetsu ga macam2 kok, cuman…. Hihihi

Aki yuki haru : Aaa jangan malas dong, siapa tau review km bisa kasih Risa inspirasi loh… review ya? Please? *maksa* Risa udah usahain update kilat loh :D

Kirara miru : Saku ga dicabuli kok, tenang aja. Dia cuman di…. Krik.

Lily flower : Waaa thanks udah review :D Risa buat fic gay ga akan kelewatan kok, masih ada batasnya. Ntar malah jadi yaoi lagi bukannya straight. Ditunggu juga reviewnya lagi yah

Qren : Setujuu!

defenderNHL : Saku uda tau kok, hanya Saso yang dia gatau tuh. Thankss supportnya! Review lagi okeh?

Marukocan : Iya nih nyambi kerja demi masa depan *halah* Thanksss, review lagi yaa

Legolas : Kemana ajaaa? Review lagi dong di chap ini *Plak!* aaa jangan dong, emang ga penasaran ama akhir kisah mereka? haha

Uchiha yuki cherry : Jawabannya ada di chap ini semua tuh :D pasangan Saso… kita liat di chap ini juga yah. yeyyy ada yang anggap fic kesayangan *amin*

Chibigami : wow,hampir mendekati nama asli Risa tuh :D

Zuka : Hwaa ngancamnya… jangan dong, kasian saya *lho?*

Arufi rizuki yosida : Waow, curcol nih *Plak!* siapin tisu loh buat chap ini, Risa bener2 habis2an disini hahaha btw Sui ga akan apa2kan Saku kok, cuman…. Krik.

Hanahimechan : Ow, ow, jangan dong. Nanti Saku jadi apa?

Fafa haruno : Saku ga diapa-apain kok, cuman di… krik. Waaaa ada yang ngebela! Padahal pas dimarahin ama pak bos, kawan kerja langsung mingkem semua ga ada yang belain *terharu*

Nyakoi-chan : Hahahaha maunya gitu sih, tapi ga tega juga ama Saku dan Sasu. Saso udah cukup jantan belum ya di chap ini? Saso ga loyo kok, cuman kalem aja :D Siap bos! *hormat*

Hatake ridafi kun : Yep, multichap karena ceritanya cukup panjang kalo dibuat jadi oneshot. Ama Saku ga yaaa? *Plak!*

Aiko asari : Disini juga tambah tegang lohh haha Risa selalu usahain update kilat kok, tenang aja. Apa yang km tunggu ada kok disini, berikan pendapatmu lewat review lagi yak! Soal Gone, Risa emang udah hapus dan berencana buat cerita lain dgn judul sama.

Nhanjung : Saya ngambek. Beri saya lolipop *loh?* review lagi nyokkk

Uchiha Ratih : Benci? Kita lihat disini… taraaahhh

Akasuna sakurai : Risa yang buat juga takut nih, sebenarnya.

Mysaki : Thankss udah ngikutin :D pelan2 ya Sasu jadi normalnya, kita buat dia lemonan ama Saku! *evillaugh*

Uchiwa : Ah, perasaan km aja kalo chap 11 pendek *ngeles* Saku diapain yaa…

Maya clark 3914 : Dan jawabannya adalah… terererereeet…

oO rambu no baka : Sui ga cinta kok, Cuman terobsesi saja diaa

haruchan : Ngebut bangettt *tos* Setujuuu! Thanks supportnya haha see u next review haruchan!

Eysha cherryblossom : Dengan cara yang sebenarnya *Plak!* Risa selalu usahain update kilat lohh haha

Rachel-chan uchiharuno hime : Tenang, kita percayakan pada SasuSaso oke? Oh, siapkan tisu buat chap ini loh… ada sedikit kejutan disana

Simeji runacular kushii : Iyaa sama2! Thanks udah sempetin review juga yaa

Raga : Diem lo, ah! Btw, thanks ya udah ngebelain, ga nyangka banget hahaha

Yassir2374 : Kejadiannya sih… sedikiiiit udah terjadi.

Kevinlegnard : Iya, Risa usahain terus lanjut kok. Saku ga pasrah, cuman rada shock ajah

Dimas priyad524 : Sui ga akan ngelakuin pelecehan kok ama Saku. Tenang, tenang, tarik nafas… buang *apaansih?* :D

Narnialow2003 : Saku ga akan diapa-apain ama Sui kok. dia cuman di…. Krik. Thanksss supportnya! Ditunggu lagi reviewnya yah :D

Alifa cherry blossom : Iya ga apa, yang penting ada meninggalkan jejak kok hehe Itachi memang harus penuh kasih sayang dong, di manga apalagi haha ditunggu juga reviewnya lagi yaahhh

Rechi : Saku baik2 aja kok, yang ga baik itu di…. Krik. Waaai udah baca! Thankss yaa

Haruno lin : Sama-sama :D review lagi, beri Risa ide lagiii, on the way to the end nih *akhirnyaa*

Disclaimer : Naruto character belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC, TYPO, YAOI, GAJE, ALUR KECEPATAN, DLL….

# # # # #

Entah sudah berapa kali Sasuke melihat jam tangannya. Semakin sering ia melihat, semakin rasa kecemasannya akan Sakura bertambah. Sudah hampir satu jam dan tidak ada tanda-tanda Neji kembali ke ruangan untuk mengatakan bahwa orang-orang suruhannya menemukan Sakura atau setidaknya tahu gadis itu kemana.

Sasuke mendesah. Ia merasa ini adalah kesalahannya telah membiarkan Sakura begitu saja setelah mengetahui kemarin mereka bertemu dengan Suigetsu. Mungkin setelah ia bertemu dengan Sakura, ia akan mengatakan pada gadis itu untuk menjauhi dirinya.

Masa lalu yang Sasuke bawa membuat Sakura ikut terseret hingga mengakibatkan hal seperti ini terjadi. Ia sadari itu, tetapi ia juga membutuhkan Sakura. Ia belum terlalu mengenal baik gadis itu, tetapi semua itu sudah cukup membuatnya tertarik pada Sakura. Pada wanita.

Dan Sasuke tidak ingin melepaskannya.

"Teme, minumlah sesuatu. Setidaknya ini bisa mengurangi rasa tegangmu."

"Tidak, aku sudah berhenti minum."

"APA?!"

Naruto membulatkan bola mata biru lautnya terkejut akan kalimat Sasuke. Ia mendekatkan telinganya pada Sasuke seakan berusaha untuk mengetes pendengarannya.

"Kau bilang apa tadi?"

"Aku tidak minum lagi, dobe."

BUG!

Naruto meninju Sasuke tiba-tiba yang membuatnya tidak sempat untuk menghindar ataupun bereaksi akan serangan mendadak yang dikeluarkan oleh pria itu.

"Kau depresi, Teme?! Aku tidak pernah tahu jika sahabatku akan menghilangkan kebiasaan minum-minumnya hanya karena seorang bajingan yang menculik wanita!"

"Naruto, kau membangunkan singa tertidur disini," gumam Shikamaru

Sasuke mengusap darah yang sedikit keluar dari sudut bibirnya dan menatap Naruto dengan kesal. Ia berdiri dan tanpa basa-basi melayangkan kakinya tepat menuju perut Naruto.

DUAG!

"Aaarggh!"

"Sialan kau, dobe. Aku tidak depresi, aku hanya menghilangkan kebiasaan minum-minumku demi Sakura!"

Ruangan tersebut mendadak sunyi mendengar Sasuke yang baru saja entah pria itu sadari atau tidak, ia bermaksud berubah untuk Sakura. Untuk wanita, dan setahu Naruto maupun Shikamaru, ini adalah pertama kalinya ia melakukan itu.

"Kau… serius kan, Teme?"

"Tentu saja aku serius, bodoh!"

Shikamaru yang sedari tadi hanya diam saja, tiba-tiba tertawa mendengarnya membuat Sasuke dan Naruto melirik pria yang sedang duduk itu.

"Apa yang lucu, Shika?" tanya Naruto

"Tidak ada. Aku hanya menunggu kabar bagus yang akan Sasuke berikan nanti."

"Aaaargh, dasar jenius pemalas menyebalkan!"

Sasuke menghela nafas dan kembali duduk. berkat tinju Naruto, entah kenapa ia merasa sedikit rileks meskipun kecemasannya tidak berkurang sedikitpun. Sedikit rasa terima kasih muncul dalam pemikiran Sasuke meskipun ia terlalu malu untuk mengakuinya. Ie kemudian kembali melirik jam tangannya untuk kesekian kalinya.

"Sial, Dimana Neji!" gerutu Sasuke

Pikirannya semakin kalut saat ada sebuah panggilan dari Sasori masuk ke ponselnya. Sejenak ia ragu untuk mengangkatnya mengingat Sakura diculik adalah kesalahannya. Tetapi mengingat bagaimana khawatirnya Sasori sebagai kakak, Sasuke bermaksud untuk mengatakan dugaannya.

"Y-,"

"Kau sudah menemukan Sakura?" potong Sasori

Sasori bahkan tidak mau repot-repot berbasa basi. Pria itu benar-benar mengkhawatirkan Sakura.

"Belum. Aku hanya punya dugaan."

"Apa?"

"Kemungkinan... Sakura diculik oleh Suigetsu."

Tidak terdengar tanggapan dari Sasori. Mungkin pria itu shock. Sasuke tidak berani memikirkan jika pria itu mengamuk dimanapun ia berada. Tetapi demi apapun itu, ia mendengar umpatan disana meskipun terdengar samar.

"Sasori?"

"Dimana alamat pria itu?"

Suara Sasori terdengar lebih berat daripada biasanya, menandakan pria itu benar-benar merasa tertekan dan marah.

"Aku tidak tahu. aku belum pernah ke rumahnya. Neji sedang mencari-,"

"Dimana kau?" potong Sasori

"Bar Neji."

"Tunggu aku disana."

Dan Sasori mematikan hubungan tersebut secara sepihak. Sasuke mempersiapkan mentalnya seakan ia bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan dilakukan oleh Sasori kepadanya. Termasuk jika menjauhkan Sakura dari sisinya.

Greek

Pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan sosok Neji yang sudah berganti baju dan membawa ponsel miliknya di genggaman pria itu. wajahnya terlihat cukup tenang.

"Aku sudah menemukan Sakura."

Sasuke dengan cepat berdiri dan menghampiri Neji.

"Dimana?!"

"Tenang, Barusan Sasori menghubungimu, bukan? Sebaiknya kau menunggu si manis itu tiba disini. dia adalah kakak Sakura, berhak untuk tahu juga."

"Dari mana kau tahu?"

Neji tersenyum dan mengangkat bahu,"Kau tidak tahu jika ruangan ini memiliki kamera pengawas?"

Sasuke memutar matanya,"Stalker."

"Apa?! Selama ini ruangan kami memiliki kamera pengawas? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada kami? aku kira ruangan ini aman darimu!" keluh Naruto

"Heh, sudah kuduga," gumam Shikamaru

"Terlalu beresiko jika aku tidak memasangnya. Setidaknya aku akan langsung mendatangi siapapun itu yang berani memakai obat atau melakukan tindakan ilegal di bar milikku."

"Ugh, No shit, man."

Neji tersenyum,"Aku akan selalu mengawasimu, Naruto. Ingat dengan adik siapa yang kau menjalin hubungan."

Naruto membuang muka. Ia tahu resiko menjalin hubungan dengan Hinata dan ia demi dengan wanita impiannya, ia tidak akan mempermasalahkan hal itu.

Beberapa menit berlalu, Sasori sampai ke ruangan tempat dimana Sasuke menunggu diantar oleh salah satu pekerja Neji. Sasori tampak kehilangan ketenangannya, wajahnya terlihat sangat cemas. sepertinya ia sudah mencari Sakura di beberapa toko yang ia ingat saat mengantar gadis itu.

"Dimana Sakura?"

"Tenanglah, kita akan berangkat bersama-sama dan menendang bokongnya," ucap Neji

"Sakura Dimana?" ulang Sasori

Sasuke menghela nafas,"Salah satu orang Neji melihat Sakura dibawa Suigetsu ke rumahnya."

Sasori menoleh pada Neji,"Kau tahu dimana rumahnya?"

Neji tersenyum,"Tentu saja. Kau meremehkan aku, manis?"

Sasori yang mengabaikan Neji langsung beranjak untuk segera keluar dari ruangan diikuti oleh yang lainnya. Yang mereka inginkan adalah menemukan Sakura, setelah itu jika mereka melihat Suigetsu melakukan sesuatu pada Sakura, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi.

.

Sakura pov

Sasori-nii berpakaian wanita dan berjalan bersama Sasuke, apakah mereka memiliki suatu hubungan? Karena itukah Sasuke mendekatiku dengan mengajakku berkencan?

Dan Sasuke pulang bersama dengan Itachi! Otakku penuh dengan semua permasalahan gay ini. apa aku harus bertanya pada Suigetsu? Tunggu, bukankah tadi aku bertemu dengan pria itu?

Oh Tuhan! Apa yang terjadi?!

Apa yang harus kulakukan?

Entah bagaimana caranya saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku sudah berada di sebuah ruangan asing. Lebih bodohnya lagi, kenapa aku bisa semudah itu mau dibawa oleh pria berambut putih sialan itu?

ini sama saja membuat Sasori-nii dan Sasuke terseret dalam kebodohanku!

Kenapa aku harus merasa shock hanya karena Sasori-nii berpakaian bagai wanita dan bergandengan tangan dengan Sasuke? Sasori-nii bukan gay! aku tidak perduli jika Sasuke menyukai Sasori-nii karena aku sudah menerima bagaimana Sasuke.

Tetapi kenapa Sasori-nii tidak pernah mengatakan apapun padaku?

Ugh, airmata ini hampir keluar lagi.

"Bumi memanggil Sakura."

Aku menoleh pada seorang pria berambut putih di depanku yang tersenyum licik menampilkan gigi-gigi runcingnya. Aku menatapnya dengan benci. Benar-benar benci.

"Tidak perlu menatapku seperti itu," ucapnya santai

"Dimana ini?!"

"Rumahku."

"Kenapa kau membawaku kemari? Apa yang ingin kau lakukan padaku?!"

Dia masih tersenyum dengan cara yang menyebalkan. Aku benar-benar benci pria seperti dirinya, mengingatkanku pada pria-pria di luar sana yang berusaha mendekatiku meskipun sudah kutolak beberapa kali.

"Berhenti tersenyum seperti orang bodoh! Apa maumu membawaku kemari?!"

"Bernegoisasi denganmu."

Aku menaikkan alis,"Negoisasi?"

"Aku beri kau pilihan. Menghilang dari kehidupan Sasuke atau kau akan menyesal."

Apanya yang bernegoisasi? Pria ini benar-benar suka mengancam dengan pilihan. Menjijikan.

"Jangan bercanda! Siapa kau hingga mengancamku seperti itu?!"

"Aku?" tanyanya kemudian tertawa keras

"Kenapa kau tertawa?!"

"Oh, maafkan aku. Aku adalah orang yang tahu Sasuke, luar dan dalam."

Aku bergidik mendengarnya. Aku sangat amat mengerti apa maksudnya barusan dan itu benar-benar membuatku merasa semakin jijik padanya.

"Aku menolak. Kau dengar? Aku menolaknya! Apa yang akan kau lakukan padaku sekarang?!" tantangku padanya

Suigetsu terlihat cukup tenang. Ia berbalik menuju dapur terbuka yang dapat kulihat dari sini dan mengambil sesuatu dari sana kemudian berjalan kembali ke arahku dengan sebelah tangannya berada di belakang punggungnya.

"Kau mengujiku, huh?"

Aku menatap jengkel pada dirinya, bersiap dengan apapun itu yang bersembunyi di balik punggungnya. Tetapi, tiba-tiba saja kurasakan tubuhku tersentak ke belakang oleh tangan Suigetsu dan dengan cepat ia mengunci kedua tanganku di atas kepala dan mengeluarkan satu tangannya yang sedari tadi di punggungnya.

Mata hijauku membesar melihat benda tajam yang ia pegang diarahkan ke wajahku. Suigetsu tersenyum puas dengan keterkejutanku.

"Kau lihat? Aku akan menyayat wajah cantikmu dan kau akan menyesal seumur hidup."

Jadi ini maksudnya untuk menyesal seumur hidup? Dengan menyayat wajahku?!

"Kita lihat, apakah Sasuke masih akan tertarik padamu setelah kurusak wajah cantikmu," ucapnya semakin mendekatkan pisau tersebut ke wajahku

Tidak mungkin kubiarkan pyscho ini berbuat seenaknya!

Dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk meronta. Kutendang-tendangkan kakiku ke segala arah meskipun tahu Suigetsu akan menghindarinya. Tetapi, tiba-tiba kurasakan rasa perih mengenai lengan atasku membuatku berteriak.

"Aaaarggh!"

Pisau itu mengiris lengaku!

"Diam!"

Rasanya sakit sekali. Aku melihat darah segar keluar dari lenganku dalam jumlah yang cukup banyak. Oh Tuhan, apa yang akan terjadi padaku? Apakah aku akan benar-benar mati di tangan pyscho ini?

"Heh, akhirnya kau diam hah?"

Aku tidak mampu untuk bersuara, seakan seluruh tenagaku ikut keluar seiring darahku yang mengalir di lantai.

"Sekarang, kita urus wajahmu."

Tidak, tidak, tidak!

Pisau itu bergerak perlahan menuju wajahku! Kali ini dia benar-benar akan merusak wajahku!

BRRAKKKK!

"SAKURA!"

Kudengar suara yang kukenali memanggilku. Kukumpulkan segala tekad yang kupunya serta tenaga yang tersisa.

"NII-CHAANNN!"

"Sial!" maki Suigetsu

Suigetsu membuang pisaunya. Kedua tangannya kini berada di satu titik tubuhku dan berusaha untuk meremukkan leherku dengan tangan besarnya! Aku akan mati tercekik!

"Aargh…. Errrghh… "

"SAKURA!"

Mata hijauku melirik ke arah dimana suara itu berasal. Kulihat Sasori-nii dan Sasuke melihatku dengan wajah menakutkan. Disamping mereka ada seorang pria yang tidak kukenali.

"SUIGETSU! LEPASKAN DIA!" teriak Sasuke

Sasuke dan Sasori-nii hendak berlari ke arahku, tetapi Suigetsu tiba-tiba saja semakin mencekikku dengan tenaganya hingga kurasakan sesak.

"Aargh!"

"Jangan mendekat, Sasuke. Atau kau lebih memilih wanita ini mati tercekik?"

Sasuke dan Sasori-nii mematung. Mereka tidak berani mendekati kami dan hanya memasang ekspresi mengerikan pada Suigetsu.

Kedua tangan Suigetsu lepas dari leherku membuatku terbatuk karena cekikannya tadi. Ia kemudian menarik rambutku dengan kasar dan membuatku berdiri menghadap Sasuke dan Sasori-nii.

Kulihat pandangan Sasori yang terlihat terkejut dengan lenganku yang mengeluarkan darah banyak. Ia menggeram dan mengepalkan kedua tangannya membuatku merasa semakin bersalah padanya. aku benar-benar adik yang menyusahkan.

"Lihat, betapa mereka mengkhawatirkan dirimu, Sakura. Apa kau tidak penasaran apa hubungan mereka? apa yang terjadi di foto yang kutunjukkan padamu?"

Sasuke menggeram,"FOTO APA BRENGSEK!?"

"Sakura, lihat kedua orang di depanmu itu," ucapnya mengabaikan Sasuke,"Mereka adalah gay."

Aku membulatkan mata hijauku. Mereka? Sasuke adalah gay, aku tahu itu. tapi… tidak mungkin Sasori-nii bukan? Apakah pria di sebelahnya?

"Sasuke dan kakakmu adalah gay. dan mereka… berkencan," ucapnya berbisik di telingaku

"TIDAK!" teriak Sasori-nii cepat

Sasori-nii tidak pernah meninggikan suaranya. Ia selalu tenang dan kalem. Tapi kini ia terlihat panik karena ucapan Suigetsu. Dan foto itu… apakah benar? Sasori-nii adalah gay?

"Suigetsu, kau salah!"

"Oh? Apa yang salah Sasuke? Kau sendiri yang mengatakan bahwa kalian berkencan, saat Sasori memakai pakaian wanita dan bernama 'Sakura'."

Sasori-nii mengepalkan tangannya. Ia segera melangkahkan kakinya untuk menerjang Suigetsu seandainya Sasuke tidak menahan Sasori-nii dengan tangannya.

"Apa yang kau lakukan, Sasuke?! Lepaskan aku! Akan kubunuh dia!"

"Tenang Sasori. Sebab masalah ini adalah aku, dan akan kuurus sendiri," ucap Sasuke kemudian menoleh pada pria disampingnya,"Neji, tolong tahan Sasori."

Pria yang dipanggil Neji itu mengangguk dan menepuk bahu Sasori-nii,"Tenanglah, manis. Adikmu akan diselamatkan oleh Sasuke."

Sasuke menatapku. Kedua bola mata hitamnya tertuju padaku seolah menghisapku ke dalamnya. Ia memasang wajah seriusnya meskipun kutemui sedikit ekspresi ingin menghajar Suigetsu.

"Ada apa? Kalian takut mengakui bahwa kalian gay? di depan wanita yang kalian sayangi ini?!"

"Sakura, dengar." Ucap Sasuke mengabaikan Suigetsu,"Memang benar aku adalah gay. tentang Sasori, kau bisa menanyakan hal itu padanya sendiri, aku tidak berhak. Dan kami… kami tidak berkencan. Percayalah padaku."

Aku mengangguk,"Sasuke… aku percaya padamu. Aku… sejujurnya, aku sudah tahu jika kau adalah gay."

Airmataku kembali menyeruak keluar. Disamping rasa sakit pada lenganku, aku merasa sangat bersalah menyebabkan semua yang Sasuke ingin sembunyikan harus terkuak disini. dengan cara seperti ini. aku menundukkan kepalaku tidak berani untuk memandangnya.

Onyx Sasuke membulat mendengarnya,"Apa?"

"Sasuke… aku tahu tentangmu. Aku… aku mencintaimu."

Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Sasuke karena aku menunduk. Aku tidak ingin melihat ekspresi jijik Sasuke padaku. Aku tidak ingin ia membenciku karena mencintainya. Karena seorang wanita jatuh cinta padanya!

Kudengar suara gelak tawa dari Suigetsu. Ia memaksaku untuk menatap Sasuke dengan menarik rambutku dengan kasar membuatku meringis.

"Lihat Sasuke? Wanita ini jatuh cinta padamu!"

Aku menyembunyikan mataku dengan menutupnya. aku benar-benar tidak mau melihat ekspresi Sasuke sekarang. Ia pasti merasa kecewa padaku.

"Kau salah Suigetsu."

Apa katanya?

Sebelum kubuka mataku, kurasakan bibirku disentuh oleh sesuatu yang lembut dan menarikku ke dalam pelukan hangatnya bersamaan dengan teriakan Suigetsu dan tubuhnya yang terdorong menjauh dariku.

Saat bibirku kehilangan rasa lembut tadi, aku membuka mataku dan yang pertama kali kulihat adalah Sasuke yang berkeringat dan menatapku dengan sebuah kelegaan di kedua mata onyxnya. Ia kemudian memelukku dengan erat.

"Sakura, Sakura. Maafkan aku…. "

Kurasakan tubuhnya bergetar saat memelukku. Kaos yang ia pakai cukup basah oleh keringat, apakah ia mencariku hingga seperti ini? pelukan hangatnya membuatku membalas pelukannya yang kemudian kurasakan perih pada lengaku.

"Aw!"

Sasuke melepaskan pelukannya dan melihat darah yang masih mengalir di lenganku. Wajahnya memucat dan kemudian menoleh pada Suigetsu yang sudah bangkit dengan pisau di tangannya. Mata pria itu benar-benar menakutkan saat memandang kami.

"Kubunuh kau! Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, lebih baik kau menghilang!" teriaknya bersamaan dengan ayunan pisaunya

Sasuke menghindarinya dan mendorongku pada Sasori-nii yang terlihat sangat cemas padaku. Ia bahkan langsung memberikanku saputangannya untuk dililitkan ke lenganku.

"Sakit!" keluhku

"Sasori! Neji! Bawa Sakura ke rumah sakit, aku akan menyusul nanti!" teriak Sasuke

Aku melirik Sasuke yang sedang dalam keadaan terjepit. Ia tersudut ke dinding di belakangnya dan pisau Suigetsu yang ia tahan dengan kedua tangannya.

"Cepat!" teriaknya lagi

"Kau yakin tidak butuh bantuanku?" tanya pria bernama Neji

"Tidak! Cepatlah, brengsek! Aku tidak akan bisa melawannya jika harus khawatir dengan Sakura!" ucap Sasuke

Sasori-nii mengangguk,"Ayo Sakura. Kita rawat lukamu."

Aku berusaha berdiri untuk meninggalkan ruangan, tetapi sebelumnya aku menoleh pada Sasuke, mengumpulkan seluruh tekadku untuknya.

"Aku menunggumu, Sasuke."

.

Sasuke pov

"Aku menunggumu, Sasuke."

Entah kenapa, kalimat terakhir Sakura membuatku semakin merasakan panas. Aku melihat Suigetsu yang berusaha untuk menusukku dengan pisaunya. Untung saja dapat kutahan dengan kedua tanganku.

Kugunakkan kakiku untuk menendang perutnya sekeras mungkin yang membuatnya kembali terjatuh ke belakang dan kurebut pisaunya sebelum ia kembali mengayunkan benda berbahaya ini padaku.

"Cih, sialan kau. Untuk apa kau membunuhku, bi?!"

Suigetsu bangkit dan menatapku dengan ganjil,"Ini salahmu! Harusnya kau patah hati setelah bertemu Itachi. Seharusnya kau putus asa setelah tahu Itachi menikahi wanita!"

Ah, ternyata itu masalahnya.

"Aku memang patah hati dan putus asa."

"Kau beralih pada wanita! Itu yang kau sebut dengan patah hati dan putus asa?! Kau mengikuti jejak Itachi sialan itu!"

BUG!

Kulayangkan tinjuku padanya, tidak perduli jika ia sudah cukup tidak berdaya untuk kembali bangkit dan melawanku.

Aku menggeram,"Jaga mulutmu, brengsek!"

Suigetsu kembali tertawa dan menyentuhku dengan jarinya,"Aku menginginkanmu, Sasuke. Aku menginginkanmu… untuk diriku. Untuk kepuasanku."

Pria ini benar-benar menjadi gila karenaku?

BRAAKKKK

"TEMEEE!"

Aku segera menoleh dan kulihat Naruto bersama Shikamaru membawa beberapa pria berseragam polisi. Mereka terkejut dengan darah yang bertebaran di lantai dan kekacauan yang ada di ruangan ini.

"Game over, Suigetsu. Kau kalah."

"Sepertinya begitu," gumamnya

Para polisi segera bergerak untuk menangkap Suigetsu dan seorang pria berambut jabrik dengan masker menutupi sebagian wajahnya mendekati kami.

"Suigetsu Hozuki, ditangkap dengan tuduhan penculikan dan membahayakan orang lain," ucapnya menunjukkan sebuah kertas

Naruto dan Shikamaru berjalan mendekatiku.

"Teme! Kau tidak apa? Maaf kami terlambat, para polisi ini benar-benar membuat kami harus mengikuti tetek bengek prosedur yang sangat panjang!"

"Merepotkan, kami harus mondar mandir karenanya," keluh Shikamaru

Aku tersenyum dan memeluk mereka,"Thanks, guys."

"Erm… teme, aku tidak keberatan jika kita berpelukan sebagai sahabat. Tapi mengingat dirimu adalah gay, aku merasa harus menyudahi acara pelukan kita ini."

Aku melepaskan pelukan dan mengadu kepalaku dengan kepala Naruto.

DUG!

"OWW!"

Kurasakan pusing di kepalaku yang membuat darah mengalir dengan cepat kesana. Naruto berguling-guling di lantai dengan mengusap dahinya yang mulai membengkak.

"Balasan," gumamku

Shikamaru menghela nafas,"Jadi, Sakura terluka?"

"Ya. Suigetsu melukai lengannya sebelum kami datang."

Aku melirikkan mata onyxku pada Suigetsu yang sudah diborgol dan meronta dengan sejumlah polisi untuk menenangkannya. Ia dibawa dengan paksa melewatiku yang membuatku mendapatkan kesempatan untuk membisikkan kalimat yang sedari tadi kutahan di mulutku.

"Kau tahu, Suigetsu? Aku juga mencintai wanita," bisikku padanya

Bola mata violet Suigetsu membesar mendengarnya membuatku tersenyum puas dan ia pergi begitu saja dengan para polisi mengawal melewati pintu.

Masalah Suigetsu beres. Tinggal satu masalah lagi.

Masalah hati.

Sasuke pov end

# # # # #

Sakura terdiam di mobil Sasori yang dikendarai oleh Neji menuju rumah sakit. tidak ada yang mengeluarkan suara selain radio mobil. Sasori bersikap protektif pada Sakura sejak keluar dari rumah Suigetsu dengan memeluk bahu Sakura.

Neji yang mengetahui keadaan semakin canggung di dalam mobil membuatnya menekan gas lagi dan lagi untuk semakin cepat menuju rumah sakit untuk merawat luka Sakura yang masih mengeluarkan darah meskipun sudah dihentikan.

Beberapa menit setelah perjalanan yang cukup canggung, Sakura langsung dibawa ke ruangan khusus untuk penanganan cepat mengingat waktu sudah hampir larut. Sasori hanya bisa melihat dan menunggu Sakura dengan khawatir.

"Aku sudah mengurus administrasi. Kau tidak perlu khawatir lagi," ucap Neji

"Terima kasih."

Neji duduk di sebelah Sasori,"Setelah Sakura tahu tentangmu, apa kau akan mengatakan hal yang sebenarnya?"

Sasori menoleh pada Neji. Mata hazelnya menatap kosong pria itu membuat Neji sedikit terkejut karenanya.

"Aku tidak tahu."

Neji tersenyum dan menyandarkan tubuhnya,"Menurutku kau harus jujur. Dia adikmu, bukan? Dia pasti akan menerimamu apa adanya."

"Bagaimana jika tidak?"

"Kau lihat reaksinya akan Sasuke? Sakura menerima Sasuke apa adanya karena ia mencintainya, manis. Dan kau sebagai kakaknya lebih tahu hal itu, bukan?"

Sasori membuang muka dan melihat ke ruangan dimana Sakura diperiksa. Ia masih menatap kosong pintu yang tertutup itu hingga seorang perawat keluar dari sana.

"Haruno Sakura sudah selesai di periksa. Lukanya sudah dijahit, tetapi ia masih shock dan disarankan untuk menginap," ucap perawat tersebut

"Ba-,"

"Baiklah, tolong biarkan adik kami menginap hingga kondisinya membaik," potong Neji

Perawat tersebut mengangguk dan segera pergi. Sasori menole pada Neji dengan pandangan penuh tanda tanya yang disadari oleh Neji.

"Kau ingin mengatakannya, bukan?" tanya Neji

"Sejak kapan Sakura menjadi adikmu?"

Neji tertawa mendengarnya,"Hahahaha! Manis, dia akan segera menjadi adikku."

Sasori mengerti maksud Neji. Ia memandang Neji dari atas hingga ke bawah kemudian menatap ke dalam mata lavender pria itu.

"Kau gay?"

"Kenapa? kau penasaran?"

"Kau gay?" ulang Sasori

Neji menghela nafas,"Bi, jika kau tidak keberatan dengan itu."

Sasori membuang muka dan membuka pintu ruangan Sakura, tetapi berhenti sebelum ia benar-benar masuk ke dalamnya kemudian menoleh pada Neji.

"Kutunggu perjuanganmu," ucapnya pelan kemudian menutup pintu

Neji yang mendengarnya membesarkan mata lavendernya dan mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali seolah tidak yakin dengan yang barusan ia dengar. Ia kemudian tertawa kemudian duduk kembali dengan menutupi wajahnya yang memerah.

"Man, dia benar-benar manis."

.

Sasori mendekati Sakura yang duduk di hadapan seorang dokter wanita dengan dada besar dan rambut berwarna pirang. Wanita itu tampak menceramahi Sakura akan sesuatu hal kemudian berhenti setelah menyadari Sasori yang berada disana.

"Kau keluarganya?"

Sasori mengangguk.

"Duduk," perintah sang dokter

Sasori duduk di sebelah Sakura. Ia melirik lengan Sakura yang sudah dibalut oleh perban dimana terdapat jahitan karena luka iris yang diperbuat oleh Suigetsu tadi.

"Dia mendapat sepuluh jahitan untuk lukanya yang cukup lebar dan sepertinya tidak ada luka lainnya kecuali memar pada leher. Tetapi mengenai kondisi psikologisnya, kusarankan dia tinggal disini untuk sehari."

"Apakah lukanya akan berbekas?"

"Mungkin, mengingat itu adalah luka yang cukup lebar."

"A-,"

"Tidak apa, Sasori-nii," potong Sakura

Mata hijaunya menatap teduh Sasori membuatnya semakin merasa tidak tega pada sang adik.

"Luka ini… biarlah disini. aku akan mengingatnya sebagai kesalahan terbodohku."

"Kau yakin?"

Sakura mengangguk.

"Baiklah."

BRRAKK

"Nenek! Bagaimana keadaan Sakura-chan? Kudengar dari Neji dia ditangani olehmu?!"

Naruto yang tiba-tiba datang dan membuka pintu dengan kasar langsung di lempar buku oleh sang dokter. Di belakang Naruto ada Sasuke yang menghela nafas melihat tingkah sahabat bodohnya yang tiba-tiba menyerobot masuk begitu saja.

"Aw! Apa-apaan kau, nenek Tsunade?!"

Sasori menoleh,"Sasuke, bisakah kau mengeluarkan pria itu?"

"Apa kau bilang banci?!"

"Naruto, bisakah kau keluar sebentar?" pinta Sasuke

"Aku tidak percaya ini! kau bahkan membela si banci itu?!"

"Dobe, tidakkah kau bisa membaca situasi disini?"

Naruto berdecih kemudian keluar meninggalkan Sasuke yang menunduk meminta maaf. Mata onyxnya melihat Sakura dan lengan gadis itu yang dibalut oleh perban.

"Kau baik-baik saja?"

Sakura mengangguk, tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi.

"Dan… apa kau tidak keberatan jika kita bicara sebentar?"

Sakura menatap onyx Sasuke untuk beberapa saat kemudian mengangguk. Sakura menoleh pada Sasori yang tersenyum padanya kemudian mengangguk.

"Pergilah."

Sakura segera berdiri dan mengikuti Sasuke keluar dari ruangan dengan sejuta pertanyaan dan pernyataan yang ingin diajukan pada pria itu. berbeda dengan Sasuke yang ingin menyelesaikan masalah hati yang sedang ia alami terhadap gadis itu.

# # # # #

TBC

Oke, kita luruskan satu hal.

Risa menuliskan perihal gay atau semacamnya bukan karena pengalaman pribadi atau apapun itu. ini murni sekedar campuran antara pengamatan terhadap sesama manusia dan khayalan yang berakhir menjadi sebuah cerita. Jujur, ada salah satu GUEST yg entah kenapa mikirnya ke negatif dan Risa tidak bisa menerimanya. Bener kata raga, dunia dia terlalu sempit.

Btw, ada yang bingung dengan chap ini kah? Jangan ragu untuk bertanya dengan review :D