TIME

.

Arlian Lee

.

Jung Taekwoon / Lee Jaehwan

..and many more...

.

Disclaimer: Chara's are not mine, this is pure fanfiction, Alternative universe, Out Of Character

.

Genre's: Angst, romance, hurt, drama

.

Pair : LeKen slight! Others.

.

Please don't! Blame, Bash, Plagiarize and other bad things

.

.

.

Chapter 11

.

"Jae-Jaehwan?"

Seseorang memanggil nama Jaehwan namun Jaehwan tak merespon.

"K-Kau, Kau benar Lee Jaehwan kan?"

Merasa ada yang menyentuh pundaknya, Jaehwan menoleh. Kening Jaehwan mengerut menatap sosok lain yang saat ini tampak berlinang air mata ketika melihatnya. Ia merasa aneh, siapa orang ini? Kenapa tiba-tiba bersikap demikian padanya.

Sosok itu tersentak tak percaya mengetahui bahwa orang yang ia yakini sebagai Jaehwan sama sekali tak bereaksi ketika melihatnya. Lantas ia memeluk Jaehwan dengan erat.

"Kau Lee Jaehwan, kan? Kau Lee Jaehwan?" Serunya tak percaya setelah melepas pelukannya. Ia beralih memegang pipi Jaehwan dan merabanya.

Jaehwan jelas merasa bingung. Sungguh, ia tak tahu menahu tentang apapun disini. Ingatannya sama sekali tak bisa memberikan petunjuk tentang siapa sosok ini. Lalu Hongbin yang mengerti dengan situasi ini lantas menjauhkan sosok itu dari Jaehwan. Hongbin mencoba memberikan pengertian dari tatapan matanya.

"Tu-tunggu!" Hongbin mengarahkan Jaehwan untuk berada di belakangnya. "Apa anda mengenal dia?"

Sosok itu mengangguk. "Ya, ya.. Aku mengenal dia. Apa kau tidak ingat aku? Aku Kim Sungkyu! Aku kakak angkatmu!" Sahutnya dengan nada menjerit tak percaya. Sosok yang tak lain adalah Sungkyu itu menangis. Lelaki itu tak kuasa menahan rasa pilunya. Dadanya sesak, ia memang tak begitu paham apa yang terjadi. Namun ia bisa meraba dan menduga.

Apa Jaehwan hilang ingatan?

"Maaf kalau memang seperti itu." Hongbin mengulas sebuah senyum untuk mencairkan suasanya yang terasa begitu menyesakkan. "Ken, ah maksudku adik angkat anda ini mengalami gegar otak. Banyak ingatan yang hilang sementara waktu. Kalau anda tidak keberatan, saya akan menceritakan detailnya."

Sungkyu pun menurut. Rasa penasaran dan penuh tanda tanya yang terus menggelayutinya butuh jawaban dengan segera. Rasa kerinduan yang membuncah tinggi pun butuh pelampiasan. Lalu rasa tak percaya yang sempat menghampirinya pun juga butuh kepastian. Ia menurut saat Hongbin membawanya ke apartemennya.

Sementara Jaehwan bagaimana? Lelaki itu hanya terdiam tak merespon apapun. Ia masih memaksa sang otak untuk mengingat siapakah sosok ini. Apakah ia benar-benar keluarganya? Atau orang yang mengaku-ngaku? Namun jika dipikir secara logikapun tak ada untungnya seseorang mengaku mengenalnya. Apa mungkin memang sosok bernama Sungkyu itu adalah kakak angkatnya?

.

Setibanya di apartemen Hongbin, Sungkyu memperhatikan ruangan itu. Ia bersyukur, sepertinya Jaehwan tinggal di sebuah tempat yang layak. Lantas ia duduk di salah satu sofa setelah mendapatkan ijin dari sang pemilik. Ingin sekali rasanya Sungkyu memeluk Jaehwan saat itu namun tampaknya Jaehwan masih belum begitu terbuka dengan kehadirannya. Padahal rasa rindu telah meluap dari dalam dirinya. Mau tak mau Sungkyu menahan demi kebaikan dan kesehatan Jaehwan juga.

Lalu Hongbin datang dengan segelas teh hangat, disusul oleh Jaehwan di belakangnya.

"Jadi apakah kau benar-benar lupa ingatan?" Sungkyu memastikan kembali kenyataan yang ia dengar sebelumnya.

Jaehwan mengangguk pelan dengan tatapan meyakinkan menghujam mata sipit milik Sungkyu.

Sungkyu menghembuskan nafasnya pelan dan melemahkan sorot matanya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" Gumamnya bingung dengan kenyataan yang ada.

"Kami, aku dan kekasihku menemukan Ken di pinggir sungai. Kami rasa dia terhanyut dari suatu tempat. Kami menemukannya di daerah Gwangju, kami baru membawanya ke Seoul kemarin hari." Jelas Hongbin.

Sungkyu terkesiap. Keterkejutan menghampirinya saat itu juga. Apa yang baru saja ia dengar? Terhanyut? Daerah Gwangju? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Jaehwan sampai di tempat itu? Bukankah tempat tinggal Jaehwan berada di daerah Haenam? Kenapa bisa di Gwangju? Lantas Sungkyu mendekat pada Jaehwan dan memeluknya erat. Jaehwan bisa merasakan air di pundaknya. Lalu hatinya ikut menghangat. Seiring dengan air hangat yang terasa di pundaknya memberikan efek tersendiri dalam diri. Apakah memang mereka memiliki hubungan?

"Terima kasih Tuhan.. Terima kasih.." Pungkas Sungkyu di dalam pelukannya. "Terima kasih telah mengijinkanku untuk kembali bertemu dengan Jaehwan. Terima kasih!" Ia pun melepas pelukannya dan menatap satu persatu Hongbin juga Jaehwan. "Namamu siapa?"

"Lee Hongbin."

"Terima kasih, Hongbin-sshi! Terima kasih telah menolong, Jaehwan." Sungkyu benar-benar berterima kasih kepada Hongbin yang telah menemukan Jaehwan. Jika Hongbin meminta apapun sebagai imbalan, Sungkyu akan memberikannya.

Seulas senyum tampak manis bertengger di wajah Hongbin. Lelaki itu paling bisa menebarkan senyuman manis yang ia miliki. "Dengan senang hati. Saya senang bisa bertemu dengan Ken, ah, maksudku Jaehwan." Sahutnya.

Jaehwan pun yang masih butuh proses untuk tahu masa lalunya pun hanya diam mendengarkan penuturan Sungkyu. Saat ini Sungkyu tengah memaparkan bagaimana Jaehwan. Semua informasi diberikan Sungkyu. Ada fakta yang membuat Jaehwan terkejut. Kenyataan jika dirinya memang sudah menikah, ia memiliki suami yang saat ini tinggal di Seoul, ia sempat tinggal di Haenam dan ia dikabarkan menghilang oleh suaminya. Jaehwan masih mencerna informasi-informasi yang tertelan oleh otaknya.

Sementara Hongbin pun menyadari sesuatu. Ia tak tahu jika Jaehwan rupanya lebih tua dibandingkan dirinya. Selama ini ia telah memanggil dengan panggilan kurang sopan tanpa embel-embel hyung.

"Ah, jadi kau lebih tua dariku." Ucapnya penuh sesal. Ia merasa bersalah telah bersikap layaknya seorang teman kepada seseorang yang lebih tua.

Alih-alih emosi, Jaehwan malah mengumbar senyum manis. Bukan tipikal Jaehwan untuk marah.

"Tidak apa-apa, Hongbin-ah!"

"Mulai sekarang aku akan memanggilmu hyung!" Pekiknya senang. "Ah, lalu bagaimana? Apa Sungkyu hyung akan membawa Ken- ah, maksudku Jaehwan hyung?" Dari cara Hongbin bertanya, sepertinya ada rasa tidak senang dengan keputusan itu. Jujur, Hongbin ingin sekali Jaehwan berada di tempatnya. Memberikan warna di dalam apartemennya walaupun sebentar, menemaninya ketika ia harus sendiri ditinggal Sanghyuk.

Rasa ketidakrelaan Hongbin merembes masuk melalui telinga Sungkyu. Lelaki yang lebih tua itu paham hanya mendengar kalimat pelan yang diucapkan Hongbin. Hongbin pasti merasa sedikit berat harus berpisah dengan Jaehwan.

"Ya, aku akan membawa Jaehwan. Tapi kau bisa bermain ke rumah jika ingin bertemu dengannya."

Hongbin mengangguk paham. Segera ia memeluk Jaehwan. Pelukan Hongbin dirasakan Jaehwan seolah lelaki itu tak ingin berpisah darinya. Jaehwan pun maklum. Kebersamaan yang dijalin selama lebih dari seminggu itu telah terbalut erat. Jika ia boleh memilih pun ia ingin tinggal bersama Hongbin lebih lama lagi. Namun sepertinya keluarga yang selama ini mencarinya telah menunggu dalam kesedihan.

Setelah berbincang-bincang sejenak, Sungkyu memutuskan untuk membawa Jaehwan pulang. Jaehwan pun berpamitan dengan Hongbin. Ia berpesan kepada Hongbin jika nanti Sanghyuk pulang agar diajak datang ke rumahnya. Hongbin pun setuju, ia juga ingin menjenguk dan bermain di rumah Sungkyu nanti.

Dan Jaehwan tak sabar ingin bertemu dengan anggota keluarga yang lainnya.

.

.

.

"Lee Jaehwaaann!"

Jaehwan membola, melihat ada sosok lain yang begitu antusias menyambutnya memberikan semangat lain. Masih, Jaehwan masih belum bisa mengenali satu persatu dari mereka namun ia bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang yang diberikan oleh mereka.

Karena cinta tak pernah bisa berdusta.

Lantas bibir Jaehwan mengukir sebuah senyum. Air mata pun turut mengintip dari tipisnya kelopak mata Jaehwan. Pesona bahagia yang tergambar jelas di wajah-wajah itu menarik diri Jaehwan. Lantas mereka saling berpelukan.

"Kalian-"

Sungkyu tersenyum. "Ini adalah appa, kau biasa memanggilnya ajusshi. Lalu yang masih muda itu, suamiku. Kau biasa memanggilnya Woohyun hyung." Terang Sungkyu seraya menunjuk pada masing-masing anggota keluarga itu. Baik Tuan Kim maupun Woohyun sama-sama tersenyum.

"Benarkah Jaehwan lupa ingatan?" Tanya Tuan Kim yang senang sekaligus sedih. Ia senang dan bahagia masih bisa melihat Jaehwan. Namun sedih harus mengetahui kenyataan dimana Jaehwan lupa ingatan.

"Ya, hanya sementara."

"Baiklah! Kita akan membantunya untuk ingat kembali." Sekali lagi Tuan Kim memeluk Jaehwan.

Masih dengan ingatan yang hilang, Jaehwan berusaha untuk beradaptasi dengan keluarga ini. Ia tak merasa ragu. Oh, sama seperti saat ia bersama dengan Hongbin dan Sanghyuk. Kehangatan jelas terasa disana. Namun Jaehwan merasa ini jauh lebih hangat. Karena Jaehwan yakin mereka memang keluarga yang menyayanginya.

Tuan Kim melepas pelukan Jaehwan. "Bagaimana dengan keluarga Jung? Apa kau sudah memberi tahu mereka?" Tanyanya pada Sungkyu. Jaehwan yang tak tahu siapa keluarga Jung hanya mengerutkan kening.

"Ah, benar! Aku lupa memberi tahu Jung Taekwoon." Sungkyu bergegas mengambil ponselnya. "Aku akan menelponnya."

.

.

.

Hari-hari yang ia lalui, tak pernah lepas dari namanya masalah. Masalah itu datang silih berganti. Sudah pernah Taekwoon menyatakan dirinya bebas dari masalah, sesuatu datang dan memporak porandakan yang ada. Baru saja ia terbebas dari kewajibannya mencari Jaehwan, seseorang mengusik ketenangannya dengan mengungkit hubungannya bersama Hakyeon. Ditambah dengan rasa sakit yang tiba-tiba muncul ketika ia menghadiri acara pesta Kim Junmyun.

Sungguh, Taekwoon tak menampik rasa sakit yang dibagikan oleh acara itu. Semenjak Taekwoon pulang dari acara itu, bait kata yang terucap dari bibir tipis Junmyun terus mengaung di benaknya. Tak lupa wajah pesakitan Kyungsoo. Hal itu jelas menimbulkan sosok Jaehwan yang tak pernah lelah menghantuinya. Taekwoon merasakan hidupnya jauh dari kata tenang. Sedetikpun ia tak pernah luput dari perasaan beragam.

Rasa sesal, kecewa, marah dan sakit bercampur menjadi satu. Taekwoon tahu tubuhnya perlahan namun pasti mulai melemah atas ini semua. Sosok Jaehwan begitu kuat menyerang otak dan kesadarannya.

Demi menghilangkan rasa yang semakin lama semakin menggerogotinya, Taekwoon memilih berjalan-jalan dengan Hakyeon. Mungkin menghabiskan waktu lebih lama bersama sang kekasih bisa mengikis keraguan yang ada. Kebetulan Hakyeon memiliki dua tiket pameran lukisan yang didapat dari Minhyuk.

Hingga pada akhirnya mereka ada disini. Di sebuah pameran lukisan karya-karya pelukis terkenal yang sedang digelar di Kota Seoul.

Ini lumayan mampu sedikit menyingkirkan beban yang menyangkut dalam tubuh Taekwoon. Berbagai macam lukisan yang digelar sungguh memberikan kepuasan tersendiri.

"Waahh, ini sangat indah!" Hakyeon memuji salah satu lukisan yang ada. "Emosi yang disampaikan benar-benar muncul."

Taekwoon pun setuju, dalam gumamannya ia memperhatikan sebuah lukisan karya salah satu pelukis terkenal Jepang. Dalam lukisan itu tampak dua orang yang saling mengasihi. Taekwoon menajamkan pandangannya dan menelisik lebih dalam. Entah mengapa tiba-tiba getar aneh menggeliat di dalam tubuhnya. Dadanya ikut menyesak dan ia memilih untuk memalingkan pandangan.

"Hay, Jung Taekwoon-sshi!"

Merasa ada yang memanggil namanya, Taekwoon pun menoleh. Ia berjengit kecil begitu melihat siapa yang telah memanggilnya.

"Waahh, sudah lama tidak bertemu. Apa kabar? Ah, kau datang kemari dengan kekasihmu? Hay, apa kabar?"

Belum sempat Taekwoon membalas sapaannya, lelaki itu memberondong banyak tanya padanya. Bahkan lelaki itu sempat mengerlingkan mata kepada Hakyeon. Tindakan itu memancing emosi dari dalam diri Taekwoon. Siapa lelaki itu berani sekali bersikap demikian?

"Siapa dia Taekwoon-ah?" Alih-alih Taekwoon yang menyahut, rupanya tanda tanya muncul dari kalimat Hakyeon. Kekasih Taekwoon itu tak tahu siapa lelaki yang saat ini berhadapan dengannya.

Mendengar tanya itu menimbulkan tawa darinya. Suara berat nan seksi khas miliknya terdengar menggema. Lalu ia menyorongkan tangannya guna bersalaman dengan Hakyeon.

"Kenalkan, saya Kim Wonshik. Teman dari kekasih anda, Jung Taekwoon."

Hakyeon terbelalak. Beruntung ia bisa berpikir dua kali lebih cepat. Telinganya sama sekali tak tuli dan ia ingat betul siapa Kim Wonshik. Sebelum ia menyambut tangan Wonshik, lebih dulu Hakyeon melirik Taekwoon. Tak mendapatkan tanggapan dari sang kekasih, Hakyeon memilih membalas salam Wonshik.

"Salam kenal, Wonshik-sshi. Saya Cha Hakyeon." Balasnya disertai senyum yang dipaksa mengembang.

Wonshik tersenyum manis sekali. Senyum khas yang selalu muncul dari wajah tampannya. "Kau manis sekali. Oh Taekwoon-sshi, apa kau sedang tidak sibuk? Mau bergabung denganku makan malam? Oh ya, disini juga banyak para petinggi loh, kau bisa menambah koneksi untuk bisnismu?" Tawar Wonshik dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Sebenarnya Taekwoon curiga dengan sikap Wonshik. Ia tahu gelagat dari lelaki ini. Pasti ada sesuatu yang telah direncanakan oleh Wonshik. Bagaimana bisa ia bertemu dengannya disini juga? Lalu apa tadi? Banyak petinggi? Taekwoon memejam sejenak. Jika ada yang tahu dirinya disini bersama dengan Hakyeon dan telah banyak yang mengetahui kabar menghilangnya sang istri bakal jadi apa dirinya? Taekwoon tak bisa berpikir jernih. Ingin sekali ia mengumpat pada Wonshik namun bibirnya seolah terkunci saat mata musangnya menangkap pancaran berbeda dari Wonshik.

Ada apa dengan lelaki ini? Kenapa tiba-tiba muncul dalam hidupnya?

"Bagaimana?"

Hakyeon lantas menyenggol Taekwoon. Lelaki yang lebih pendek itu menatap aneh sosok di sebelahnya. Kenapa tiba-tiba terdiam?

"Ah, maaf! Kita tidak bisa." Tolak Taekwoon setekah ia sadar dengan sikapnya.

Wonshik tersenyum maklum. Mungkin lelaki itu paham dengan keadaan Taekwoon. "Baiklah kalau begitu." Wonshik membalikkan tubuhnya sekitar lima detik sebelum kembali pada posisi semula. "Ah, iya! Apa kau tidak mendengar kabar dari keluargamu? Aku mendengar kalau Lee Jaehwan sudah ditemukan. Apa kau tidak tahu? Ah, pasti kau tidak tahu! Kau lebih memilih bersama dengan kekasihmu daripada istrimu bukan?"

"Maksudmu?" Sahut Taekwoon yang terkejut dengan pernyataan Wonshik. Apa maksud dari kata-kata Wonshik?

Dan Wonshik sama sekali tak menjawab tanya dari Taekwoon. Lelaki itu memilih untuk pergi ketimbang menyuapi rasa penasaran Taekwoon.

Taekwoon membeku. Tatapan kosong menghujam lantai di bawah. Untaian kata yang terlontar dari bibir tipis Wonshik mengaung berulang dalam otaknya. Apa maksud dari semua ini? Apa? Kenapa Wonshik mengatakan bahwa Jaehwan masih hidup dan kembali? Apa? Sebenarnya siapa Wonshik itu?

Sementara Hakyeon yang hanya setengah saja paham dengan keadaan ini menyenggol lengan Taekwoon. Lelaki itu berusaha untuk membuat kekasihnya kembali sadar.

"Sayang! Maksud Wonshik apa? Apa mak-"

Dering ponsel Taekwoon memotong ucapan Hakyeon. Lantas Taekwoon mengambil ponselnya. Mata sipitnya membesar manakala melihat siapa yang menelpon.

"Sepertinya ucapan Wonshik ada benarnya."

Lalu Taekwoon mengangkat telepon itu dan sedikit menjauh dari Hakyeon.

.

.

.

Siapa yang saat ini ada di hadapannya? Siapa? Benarkah ini Lee Jaehwan? Benarkah..

Tapi...

Kenapa Taekwoon tak mendapati sosok Jaehwan yang mungkin akan membunuhnya? Memukulnya? Membencinya? Kenapa Taekwoon malah mendapati sosok Jaehwan yang tampak lemah menatap padanya? Kedua mata bening yang pernah memohon padanya berpendar teduh dengan harapan terbuai dari sana. Mata musang Taekwoon jelas terpaku pada sepasang kristal itu. Sepasang kristal yang tak pernah bisa berbohong. Bahwasanya saat ini sosok Jaehwan memang..

Tak mengenali dirinya.

Taekwoon meneguk ludahnya, satu langkah coba ia ukir. Namun sosok di seberang tak menunjukkan perlawanan. Kembali satu jengkal kaki tercipta, Jaehwan masih pada posisi yang sama. Hingga tubuhnya berlari dan memeluk tubuh ringkih Jaehwan.

Ini kenapa? Ada apa?

Sesuatu mengusik relung hatinya. Salah satu bilik hatinya menangis. Merasakan perih dan sesak secara bersamaan. Terutama setelah kontak tubuh dengan Jaehwan. Tubuh ini begitu lemah, ringkih namun Taekwoon tak mengelak bahwa ada kehangatan yang seolah mencairkan rasa dingin yang ada.

Kenapa ia seperti itu?

Awalnya Taekwoon bertindak demikian agar tak dicurigai oleh keluarga Jaehwan. Namun lama kelamaan ia tahu bahwa ini bukan kepura-puraan belaka. Taekwoon benar-benar merasakan dirinya dengan sangat jelas. Memeluk tubuh Jaehwan menimbulkan reaksi yang beragam dari batinnya. Sebelah batinnya merasa lega dari haus rindu yang selama ini menyerang. Taekwoon pun tak tahu sejak kapan ia menggali sebuah kerinduan yang semakin lama semakin dalam. Sebuah kerinduan yang tiba-tiba mencuat selepas merekam sosok Jaehwan dari lensa dan memprosesnya dalam otak. Sebuah kerinduan yang tak Taekwoon yakini ada dalam dirinya sejak lama.

Dan sebilah hatinya berkata lain. Ada banyak suara yang memperingatkan Taekwoon untuk tak larut dalam semua ini. Ada banyak suara yang mengingatkan Taekwoon untuk sadar siapa Jaehwan sebenarnya. Namun Taekwoon mengabaikan suara-suara itu demi menyaksikan wajah Jaehwan yang akhir-akhir ini terus merusak kerja sistem otak kirinya.

"Ka-kau Taekwoon hyung?" Taekwoon berjengit kecil. Suara itu jelas milik Jaehwan. Tapi kenapa? Kenapa ia tak mengenali dirinya?

Taekwoon mengangguk. "Y-ya, ya ini aku Jung Taekwoon. Kau-"

"Dia hilang ingatan Taekwoon." Sungkyu memotong ucapan Taekwoon. Bisa ia lihat dari raut wajah Taekwoon yang tampak kaget dan bingung secara bersamaan. "Dia terhanyut di sungai, seseorang menemukannya di daerah Gwangju."

Duar~

Sebuah bom atom jatuh tepat pada ulu hatinya. Dadanya menyesak dan bibirnya keluh seketika. Tenggorokannya tercekat. Susunan kata yang sempat ia rangkai dalam otak terhenti dan tak bisa dikelurkan. Pantas Jaehwan masih hidup, seseorang menemukannya. Tapi apa? Hilang ingatan? Bagaimana bisa. Oh, sesuatu tertawa di dalam benak Taekwoon. Haruskah ia senang atau sedih? Bukankah ia yang menyebabkan Jaehwan seperti ini? Bukankah seharusnya ia senang?

Namun wajah penuh luka Jaehwan menusuk penglihatannya. Begitu cepat menyambar sifat jahat yang pernah bersemayam dalam tubuhnya. Kali ini sosok kejam Taekwoon kalah. Tak tahu mengapa semakin lama ia menatap wajah Jaehwan semakin lemah dirinya.

Lalu Taekwoon kembali memeluk tubuh Jaehwan. Aroma tubuh Jaehwan jauh berbeda dibandingkan dulu sebelum Taekwoon menyiksa tubuh ringkih ini.

"Aku merindukanmu." Tanpa disadari, Taekwoon mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang tak tahu sejak kapan Taekwoon menyusunnya.

Sementara bagaimana dengan Jaehwan?

Jaehwan hanya diam bergeming. Bibirnya bergerak gelisah dan tubuhnya menegang saat menerima pelukan dari Taekwoon. Sama sekali ia tak bisa memfigurkan sosok Taekwoon dalam bayang-bayang ingatannya. Sosok Taekwoon tak muncul barang sedetik pun dalam ingatannya. Jaehwan hanya mencoba untuk merasakan getaran yang dihantarkan melalui pelukan itu. Jaehwan merasakan bahwa memang sosok ini dulu pernah dekat dengannya.

Meski ada sejumput rasa yang muncul dari batinnya. Rasa getir dan perih yang entah datang dari mana.

"Taekwoon-ah!" Sungkyu memaksa keduanya untuk melepaskan pelukannya. Lalu Taekwoon menoleh pada Sungkyu dengan tatapan penuh tanya.

Sungkyu tersenyum hangat. "Untuk sementara, biarkan Jaehwan tinggal dengan hyung dulu ya? Hyung sangat merindukannya." Pinta Sungkyu dengan penuh harap.

Taekwoon tersentak. Ah, ia nyaris lupa lakon apa yang sedang ia perankan disini. Benar, kenyataannya memang keluarga Kim masih menganggap dirinya sebagai suami dari Jaehwan. Taekwoon meringis dalam hati tiba-tiba.

"Ah, iya hyung! Kalian bisa membawa Jaehwan dulu." Taekwoon mengalihkan atensinya pada Jaehwan. "Walaupun aku juga sangat merindukannya."

"Bagaimana kalau kau tinggal disini? Tapi ijinkan aku tidur dengan Jaehwan." Tawar Sungkyu.

Taekwoon menggigit bibir bawahnya pelan. Rasa bersalah kembali membumbung tinggi. Lihatlah bagaimana baiknya keluarga Kim namun ia malah mematahkan kebaikan yang mereka berikan. Sesuatu menyentil hatinya. Bagaimana jika nanti Jaehwan kembali sadar dan mengingat semua? Bagaimana jika itu terjadi? Apa mungkin akan tetap seperti ini? Bagaimana reaksi dari keluarga ini?

Tiba—tiba ketakutan kembali merangkak naik. Apa yang harus Taekwoon lakukan untuk menutupi ini semua?

"Taekwoon hyung?" Suara Jaehwan menyentak pendengaran Taekwoon.

"Eh? Ah, tidak. Aku pulang saja, besok aku akan datang kemari. Aku akan memberikan waktu kepada kalian untuk bersama dengan Jaehwan lebih lama." Tutur Taekwoon pelan.

Taekwoon bisa melihat ada senyum yang mengembang di wajah Jaehwan. Hatinya sakit manakala menangkap senyum itu. Dan Taekwoon tak tahu sejak kapan Jaehwan sudah berada di depannya.

Jaehwan menyentuh pundak Taekwoon dengan senyum yang masih terpahat.

"Maafkan aku hyung."

Kenapa Jaehwan minta maaf?

Taekwoon tak tahu lagi apa yang terjadi. Dengan begitu cepat ia merasakan bibir Jaehwan mengecup lembut bibirnya. Kelembutan bibir itu berhasil mengikis kebohongan dalam diri Taekwoon. Tak tahu mengapa tubuhnya tak bisa dibohongi oleh ketulusan yang tersalur dari kecupan itu. Taekwoon memejam, ia meresapi sentuhan dari bibir Jaehwan.

"Maaf hyung, aku tidak menjalankan kewajibanku sebagai istrimu. Mulai besok aku akan kembali menjadi istrimu lagi." Dan senyum itu menohok ulu hati Taekwoon.

Pada akhirnya Taekwoon memilih untuk pamit pulang. Berada di rumah itu memberikan pesakitan secara perlahan untuk Taekwoon. Banyak sekali pikiran-pikiran yang melayang di dalam benaknya saat ini. Berbagai macam rasa pun turut mewarnai bagaimana keadaan Taekwoon yang sama sekali tak bisa dikatakan baik.

.

.

.

Taekwoon belum beranjak dari tempatnya. Ia berada di parkir apartemen dengan kepala bertumpu pada setir mobil. Sejak kedatangannya di tempat ini berbagai macam bayangan menyelimuti setiap perjalanannya. Ia sama sekali tak merasa tenang. Keresahan dan kegelisahan begitu kuat mencengkeramnya.

Apalagi bayang-bayang Jaehwan mengambil alih isi otaknya. Taekwoon bisa mengingat jelas, bagaimana Jaehwan tersenyum saat pertama kali bertemu dengannya, bagaimana Jaehwan selalu menurut pada perkataannya, bagaimana sentuhan hangat yang Jaehwan berikan kepadanya. Dan terlebih yang sangat jelas bisa Taekwoon ingat adalah wajah terluka Jaehwan yang baru ia temui setelah beberapa hari ia anggap meninggal. Wajah terluka itu membuatnya sakit. Wajah terluka itu butuh sekali perlindungan dan wajah terluka itu mengemis sebuah harapan untuk bahagia. Lalu satu bagian penting yang tak bisa terlepas begitu saja. Kecupan itu. Kecupan hangat yang diberikan Jaehwan tadi benar-benar membekas dalam otaknya. Taekwoon tak bisa begitu saja menghapus dan menghilangkannya. Semakin kuat ia mencoba lepas, kehangatan dan ketulusan yang disalurkan kecupan itu melekat semakin erat.

Taekwoon mengeratkan pegangannya pada kemudi mobil. Lalu sebauh suara memukul pendengarannya. Oh, ini dari dalam dirinya. Suara itu muncul lagi.

'Kau harus membunuhnya lagi Taekwoon.' Ya, sebuah suara ketakutan dan peringatan dari dalam dirinya. Suara itu menarik Taekwoon untuk kembali pada realita. Taekwoon merasa gelisah saat ini. Bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Beruntung saat ini keadaan Jaehwan masih menguntungkan Taekwoon. Tapi Taekwoon sadar itu tak akan bertahan lama. Bagaimana nanti jika Jaehwan ingat? Ia akan berada dalam bahaya? Apa yang harus ia lakukan saat ini?

Tiba-tiba dering ponselnya menggungah Taekwoon.

"Eomma?"

Dari seberang Taekwoon bisa mendengar jerit frustasi dari sang ibu. "Yaaaa! Apa yang sebenarnya kau lakukan Taekwoon? Apa kau tidak membunuh Jaehwan? Bagaimana bisa dia masih hidup? Bagaimana bisa?!"

"Eomma! A-aku tidak tahu kalau dia-"

"Eomma tidak mau tahu! Yang jelas kau harus kembali membunuhnya, Jung Taekwoon! Dia akan menjadi boomerang bagimu Taekwoon kalau kau mendiaminya saja. Cepat bunuh dia, Jung Taekwoon!" Pekikan sang ibu membuat Taekwoon harus menjauhkan ponselnya.

Taekwoon menghembuskan nafasnya. "Ya, ya eomma. Aku tahu itu. Kita harus membicarakan ini lebih dulu. Aku akan berpikir bagaimana membunuhnya lagi. Aku tidak mau mereka tahu apa yang telah kita perbuat eomma."

"Bagus! Kau memang anak eomma yang bisa diandalkan. Tapi kali ini pastikan bahwa Jaehwan memang benar-benar mati."

"Pasti eomma."

Dan Taekwoon menatap nyalang ponselnya. Berjuta pikiran kembali menggelayuti otaknya. Kali ini rencana apa yang harus ia susun guna membunuh Jaehwan lagi? Ini akan semakin sulit. Taekwoon yakin bahwa keluarga Kim tak akan sepenuhnya bisa percaya padanya kembali meski mereka masih bersikap baik kepadanya.

Bagaimana?

Taekwoon hanya bisa menghela nafasnya pelan dan menjatuhkan kembali kepalanya di atas kemudi mobil.

.

.

.

TBC

.

Aiyooo yoo yooo

Dan bagaimana chapter ini?

Ini adalah chapter tersusah yang aku tulis sampai detik ini dibandingkan chapter2 sebelumnya. Gak tau kenapa jadinya seperti ini. Gagal lagi. -.- -.-

Semoga gak mengecewakan.

Maaf kalau misalnya feelnya hilang dan ngerasa aneh. Boleh kok dikritik, saya malah akan sangat senang sekali kalau ada yang mengkritik tulisan saya.

.

Jadi bagaimana?

.

Silahkan direview dan dikritik yaa, katakan bagian mana yang aneh.

.

Terima kasih.. ^^,

.

.

Salam hangat

.

.

~Arlian Lee~