Author's Note:
...telat sehari dari yang Megu katakan. Gomen... m(__,__)m


Disclaimer:
I do not own Naruto.


"Jadi… bagaimana pekerjaanmu?"

"Masih baik-baik saja sampai seminggu yang lalu."

"Oh. Lalu berapa umurmu sekarang?"

"Delapan belas."

"Bagaimana kabar orang-orang di sana? Asuma, Kurenai? Apa mereka baik-baik saja?"

"…entahlah."

"…kau masih memimpin Kyuubi?"

Tak ada jawaban. Mata berwarna cokelat kemerahan wanita ini hanya mendapati si pemilik mata biru bertemu pandang dengan sang pemilik rumah… tapi tetap diam.

"Lalu… bagaimana dengan Rasengan?"

Lagi-lagi tak ada jawaban. Dengan kedua matanya, ia mendapati cucunya mengambil cangkir teh dengan sikap yang amat tenang dan meminum teh dengan perlahan.

"…dimana Kakashi? Kenapa dia tak ada di sini?"

Cangkir teh diletakkan, meski kedua tangan berkulit kecokelatan itu masih menggenggam erat benda berwarna hijau tua itu. Bibir pemuda ini masih terus terkatup. Ia memandang kosong ke atas meja. Nampaknya pertanyaan inipun tidak akan dijawabnya.

"Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"

Masih sunyi. Dua orang lain di ruangan tamu sang Uchiha nampaknya tidak berani, atau mungkin malah tidak tertarik untuk mencampuri pembicaraan yang hampir satu arah ini. Pemuda itu sendiri hanya mengangkat wajah, balas menatap ke arah mata neneknya yang beriris kecokelatan, tapi masih belum membuka mulutnya sama sekali.

"Dan… kenapa kau bisa bersamanya?" wanita ini memberi kode dengan melirik ke arah pemuda lain, pemuda berambut hitam yang sedang duduk di meja yang sama dengan mereka.

Balasan dari pertanyaan ini hanyalah cangkir teh yang kembali terangkat menuju bibir pemuda itu.

"Uugh, kenapa kau jadi pendiam begini anak bandel?!"


Welcome to The Real World

Chapter 12
"Way"



Tsunade yang sudah cukup muak bertanya akhirnya memutuskan untuk diam dan ikut meminum tehnya. Tanpa mempedulikan kesunyian yang tercipta karena ketiadaan pertanyaan-pertanyaanya, kedua mata wanita ini terus mengarah kepada Naruto dengan pandangan kesal dan dahi berkerut. Tak pernah disangkanya ia akan bertemu dengan pemuda ini lagi setelah bertahun-tahun. Tapi yang lebih tak disangkanya lagi… adalah sikap yang Naruto tunjukan saat ini. Tsunade tidak pernah berpikir Naruto akan tumbuh menjadi pemuda seperti ini. Dari saat-saat yang ia habiskan bersama Naruto sebelum ia meninggalkan kediaman Namikaze, ia yakin Naruto nantinya menjadi pemuda ceria yang penuh semangat. Bukan, bukan menjadi pemuda yang bahkan enggan berbicara dengan orang lain seperti ini…

Wanita berambut pirang inipun meletakkan cangkir tehnya sambil membuang napas panjang. Rasanya sia-sia sekali dia sudah sempat berharap bisa melihat senyuman riang dari cucu satu-satunya itu lagi setelah sekian lama. Dunia hitam sudah membuatnya berubah. Ia bukan lagi anak bandel cerewet yang Jiraiya juluki anak rubah itu.

Keempat orang di ruangan ini terdiam cukup lama. Sang Kitsune maupun sang nenek sepertinya tidak lagi berniat untuk membuka mulutnya. Pada akhirnya kesunyian di ruangan ini dipecahkan oleh orang yang tak disangka-sangka…

"Kapan terakhir anda bertemu Naruto?" tanya Sasuke datar sambil menatap Tsunade dengan wajah yang datar pula, namun tidak sedikitpun nada tak ramah terselip di suaranya, "Bagaimana bisa ia sampai tidak mengingat anda?"

Tsunade tak langsung menjawab, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Namun akhirnya ia berucap sambil balas menatap lurus ke arah Sasuke, "Aku meninggalkan rumah itu saat dia berumur empat tahun. Wajar saja jika ia lupa padaku…" Sedikit nada sesal berbaur dalam suaranya.

"…hn," gumam Sasuke pendek sebagai balasannya.

Mata onyx pemuda ini lalu beralih ke arah Naruto yang duduk berhadapan dengan Tsunade, di sisi kiri mejanya. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Cukup dengan itu, Sasuke tahu persis apa yang sedang terjadi di balik kedua mata biru Naruto. Di luar, ketenangan pemuda berambut pirang itu sudah sangat menggelisahkan Tsunade. Tapi sang Uchiha tentu bisa membaca bagaimana keadaan Naruto yang sebenarnya sekarang…

Ia lalu memandang ke meja lagi.

Tanpa sadar Sasuke menghela napas. Ia tidak ingin Naruto terus kebingungan menghadapi anggota keluarganya sendiri. Tapi bagaimana caranya untuk bisa mencairkan suasana dan membuat Tsunade paham keadaan mereka saat ini? Apa ia akan menunggu hingga Naruto membuka mulutnya duluan? …tidak. Naruto tidak mungkin memberitahukan apapun pada Tsunade, terlebih tanpa persetujuan Sasuke sendiri.

Pemuda inipun mengangkat wajahnya, menatap kembali pada wanita yang mengaku sebagai mantan istri Namikaze Jiraiya itu.

"Tsunade-san," panggil Sasuke, menarik perhatian Tsunade yang sepertinya sempat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pemuda ini menatap lurus ke mata berwarna cokelat kemerahan milik wanita itu dan berkata, "Kami akan menceritakan sesuatu kepada anda."


"Kerja?" pemuda bermata onyx ini mengulangi kata yang baru didengarnya. Tangannya yang masih memegang alat-alat makan mereka sempat terhenti sejenak. Meski tubuhnya masih menghadap wastafel, ia menolehkan kepalanya ke arah Naruto yang masih duduk bersandar di kursi meja makan. Sebelum masuk ke dalam ruangan ini dan makan bersamanya, pemuda berambut pirang itu baru saja diajak ke Konoha oleh sang nenek. Setelah semua kisah tentang Uchiha dan Kitsune, termasuk juga kedatangan mereka ke tempat ini—minus hubungan mereka berdua—sang nenek akhirnya menawarkan bantuan sebisanya. Termasuk usaha menyembunyikan keberadaan mereka di desa ini. Tetapi kata yang baru saja dikeluarkan Naruto itu sama sekali tak disangkanya.

…kerja?

"…ya," balas Naruto. Ia lalu menghembuskan napas panjang dan menyisiri rambutnya dengan jari jemarinya. Mata biru Naruto melirik sejenak ke arah Sasuke sebelum menjawab, "Kata nenek untuk kamuflase untuk kita… atau semacamnya."

Setelah saling berpandangan sejenak dalam hening, Sasuke kembali meneruskan pekerjaannya—mencuci piring-piring bekas makan malam mereka. Ia lalu membalas datar, "Kenapa kau bersikap seperti keberatan begitu? Memang apa pekerjaannya?"

Selama beberapa detik pemuda pirang itu tak menjawab. Namun akhirnya ia kembali menggerakkan bibirnya, "Tadi aku sudah datang ke tempat yang dikatakan oleh Tsunade-baa-chan. Pekerjaannya mudah, shift-nya juga tidak lama. Aku bisa pulang ke sini sebelum sore. Orang-orangnya juga ramah. Hanya saja…" Naruto menghentikan penjelasannya, lagi-lagi membuat pemuda yang satu menoleh sejenak kepadanya meski tak mengatakan apa-apa.

Pemuda berkulit kecokelatan ini hanya meliriknya lagi sebelum kembali membuang muka dari Sasuke. "…mereka menyuruhku tersenyum," lanjutnya, "nenek mencarikanku pekerjaan di Ichiraku Ramen. Dan kata Ichiraku-san, itulah syarat utama bagiku untuk bisa benar-benar bekerja di sana."

"…apa sesulit itu?" tanya Sasuke lagi, tanpa memandang kepada Naruto. Mata onyxnya terus terfokus pada kegiatan yang sedang ia lakukan saat ini.

Sang Namikaze menutup kedua kelopak matanya. Ia lalu menjawab, masih dengan mata yang tertutup, "…tidak sulit, hanya…" Naruto berhenti lagi, agaknya kesulitan menjawab dengan jujur di hadapan pemuda ini… tapi apa gunanya lagi bersikap begini? Kenyataannya, setelah ketiadaan Kakashi, Sasuke adalah satu-satunya orang yang bisa memahaminya saat ini. Sejak malam itu ia telah memutuskan, tak akan ada lagi satupun hal yang perlu ia sembunyikan dari Sasuke. Sekalipun itu hal remeh yang tengah mengganggu pikirannya. Lagipula, kadang tanpa dikatakanpun—

"…tidak terbiasa?" Sasuke menyambung, sekaligus pula menghentikan pikiran Naruto tadi.

Pemuda pirang itu membisu lagi selama beberapa detik. Ia lalu membuka matanya dan memandangi punggung Sasuke tanpa kata. Akhirnya ia membalas, "…ya."


"Apa kalian tidak bisa sedikit saja mencari celah bagi kita untuk bisa mendapatkan mereka?" ucap seorang pria muda berambut hitam panjang di ponselnya. Tangannya terus memegang setir mobilnya, matanya juga terus menatap ke jalanan dihadapannya. Tetapi tidak pikiran maupun telinganya.

Orang yang berada di line itu, anak buahnya, hanya bisa membalas beberapa kata sebelum akhirnya ia kembali memotong, "Iya, kita memang tahu Namikaze Naruto tidak datang ke kantornya selama beberapa hari. Tapi kita juga harus punya bukti kalau ia memang benar-benar menghilang. Begitu juga dengan Kitsune. Kyuubi pasti mencari pemimpin mereka. Kalau ada bukti bahwa anggota Kyuubi sedang mencari Namikaze Naruto—" pria muda berpupil pucat ini berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "—saat itu juga kita punya bukti kuat untuk mencari dan menangkapnya."


Udara masih saja dingin. Jelas, ini baru beberapa jam melewati tengah malam. Di tengah jalanan panjang yang sepi dan kosong, dua kendaraan terus melaju cepat. Jenis kendaraannya berbeda, namun kecepatan mereka hampir serupa. Sebuah motor sport modifikasi yang berwarna merah terus beradu kecepatan dengan mobil Ford berwarna hitam. Ini jelas bukan pertandingan resmi, tetapi juga bukan pertandingan jalanan yang direncanakan.

Sang pengendara motor kembali menambah kecepatannya untuk bisa terus menyaingi, atau lebih baik lagi, melewati mobil yang terus berada di sisi kirinya itu. Ia tidak tahu bagaimana pertandingan ini dimulai. Yang pemuda ini tahu, mobil itu tiba-tiba saja datang ke sisi motornya dan tidak juga mempercepat laju mereka untuk melewati dia. Bahkan tanpa kaca jendela yang terbuka, mobil itu bergerak seakan-akan tengah menantangnya untuk bertanding menyusuri jalanan tanpa tanda finish ini. Benar saja. Saat ia menambah kecepatan, mobil itu melakukan hal yang sama. Dan akhirnya beginilah kedua kendaraan ini. Melaju membelah angin malam dengan kecepatan tinggi masing-masing.

Jalanan yang licin karena hujan sama sekali bukan halangan bagi sang pengendara motor. Ia sudah terbiasa dengan berbagai arena pertarungan balap. Tidak terhitung lagi jumlah adu kecepatan legal maupun illegal yang ia ikuti bersama kelompoknya. Pertandingan-pertandingan itu bukan hanya diikuti, tapi juga mereka menangkan.

Meski ini memang keahliannya, nampaknya sang pemuda harus mengaku kalah saat mendapati mobil itu tiba-tiba saja telah berada beberapa meter di depannya. Setelah hampir setengah jam lamanya mereka beradu kecepatan, nampaknya sang pengendara mobil benar-benar serius untuk unjuk kemampuan kendaraan mereka. Tetapi yang tak ia sangka adalah apa yang terjadi berikutnya.

Ford hitam itu tidak meninggalkannya sambil membuang asap untuk mengejek sang pembalap yang kalah—hal biasa di balapan liar, tapi bukan sesuatu yang sering didapatkannya. Mobil itu malah tiba-tiba berbelok dan melintangi jalan, membuat sang pemuda terpaksa mengerem mendadak dan menghentikan motornya sama sekali.

Andai ia tidak punya kemampuan yang baik dalam hal ini, dapat dipastikan tubrukan antar kedua kendaraan tak bisa lagi dihindarkan. Entah kegilaan apa yang sedang terjadi di dalam benak si pengemudi mobil. Mungkin mereka tak peduli jika harus kehilangan mobil mewahnya, mungkin juga ia tak peduli jika sang pengendara motor kehilangan nyawanya, atau mungkin… mereka akan melakukan apa saja untuk menghentikan pemuda bermotor ini.

Sang pemuda mematikan dan menyandarkan motornya. Ia lalu membuka helm merah tuanya, tidak serupa dengan baju kulit berwarna hitam yang sedang menempel di tubuh, namun setidaknya serasi dengan motornya ini. Hanya beberapa detik setelah angin malam yang kencang dan dingin kembali bebas menerpa rambut merah bata miliknya, pemuda ini mendapati orang-orang yang berpacu kecepatan dengannya tadi telah keluar dari mobil mereka.

Ditatapnya orang-orang itu dengan tatapan tanpa ekspresi dari mata hijau emeraldnya.

Iapun berkata tanpa nada, "Apa yang kalian inginkan?"

Mereka tak mungkin rela berbalapan dengannya lalu tiba-tiba berhenti seperti ini tanpa alasan. Ia belum tahu apa sebenarnya alasan mereka, tetapi mau tidak mau remaja berambut merah ini mulai merasa tidak nyaman saat melihat seringai dari orang-orang di hadapannya.

Orang-orang itu mulai melangkah mendekati motornya. Suara ketukan yang dihasilkan oleh pantovel mereka di atas aspal terdengar jelas karena suasana sunyi yang melingkupi jalan ini.

"Kami hanya punya satu urusan," ucap salah satu dari mereka, seorang pemuda yang memiliki rambut pirang panjang, sambil tersenyum sinis ke arahnya. Pemuda itu lalu mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan dua handgun mini dengan moncong yang langsung terarah kepada sang pengendara. Pemuda pirang itupun meneruskan, "dan urusan itu…"—sebuah seringai terukir di wajahnya—"…menangkapmu."

Dengan itu, dua buah suara tembakan terdengar memecah keheningan malam.

-
To Be Continued…
-


.

.

.

Miss Editor! GOMENNASAII!! Megu gak mampu selesaikan deadlinenya... dan ini unbeta... huhuhu... *pundung setengah mati*

Speechless dah. T-T

Review, if you don't mind...