Naruto : Masashi Kishimoto-san

SHARINGAN : Namikaze Asyifa

Pairing : SasufemNaru

Rating : T

Genre : Supranatural (maybe) and Hurt/Comfort

Warning : berupa cerita gaje, alur super cepat, typo(s), sedikit OOC, fem!Naru, OC, etc…

Summary :

Naru pergi, akibat ulahnya yang bodoh. Dan Sasu tidak tahu bahwa wanitanya telah melahirkan anaknya. Disaat ia telah bertemu dengan wanitanya, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya kembali. Ia juga harus menyingkirkan teman Naruto yang menaruh hati pada wanitanya. Tapi tenang, si kembar akan menjaga kaasannya sampai kembali ke pelukkan tousannya. Lalu bagaimana dengan nasib Itachi?

A/N :

Uchiha Sasuke : 25 tahun

Uzumaki Naruto : 24 tahun

Uzumaki Izuna, Uzumaki Yuki : 6 tahun

Sabaku no Gaara : 25 tahun

.

.

/DON'T LIKE, DON'T READ\\

.

.

.

Satu minggu sejak peristiwa pertemuan antara Kyuubi dengan Itachi sudah berlalu. Tidak ada perubahan yang terlalu mencolok dengan sikap Kyuubi. Ia masih saja garang dan blak-blakan. Hubungan antara Sasuke dengan Naruto juga semakin manis–jika dilihat dari sudut pandang orang lain, memang terlihat manis… tapi ketika Naruto mengangkat topic tentang kehamilannya, maka bisa dipastikan bungsu Uchha itu akan merana. Pasalnya Sasuke tidak tahu sikap Naruto ketika mengandung Izuna dan Yuki. Tapi ketika mengandung untuk kedua kalinya… mood swing Naruto benar-benar mengerikan. Perempuan dengan dua orang anak itu pasti akan menyalahkan Sasuke tentang kehamilan keduanya. Dan berakhir dengan Sasuke yang menerima beribu-ribu mega death glare dari Iruka serta Kyuubi.

Sedangkan Itachi? Beberapa jam setelah informasi yang diberikan oleh Fugaku tentang putranya, Itachi langsung terbang menuju Kanada. Ia sangat bersyukur memiliki ayah seperti Fugaku yang selalu siap membantu putra-putranya. Karena andai saja Fugaku tidak membantu Itachi mengepak seluruh barang yang akan dibawanya dan langsung mengirimkannya ke bandara, Itachi pasti hanya akan mengenakan pakaian yang ia pakai semalam.

Kyuubi sendiri, tadinya berniat menghilangkan tanda Uchiha di tubuhnya. Namun ia mengurungkan niatnya ketika mendengar bahwa si sulung Uchiha a.k.a Uchiha Itachi pergi karena urusan bisnis dari Fugaku. Dan pada akhirnya… ia menunggu, menunggu sampai Itachi kembali untuk menghilangkan tanda Uchiha. Keputusannya sudah bulat untuk menghilangkan tanda yang Itachi buat. Meskipun ada dari bagian hatinya yang menentang keras perbuatannya. Tapi Kyuubi adalah manusia keras kepala. Karena menurutnya ini adalah jalan yang terbaik bagi Kyuubi sendiri dan juga Itachi.

Uchiha senior juga sudah kembali ke Tokyo. Mereka sudah cukup lama berlibur di Konoha. Sebelum mereka berdua berangkat, Naruto mengeluh karena Sasuke tidak turut serta ikut pulang ke Tokyo dengan kedua orang tuanya. Al hasil ketika Naruto meradang, maka Sasuke tertawa setan.

.

..

Izuna, putra Naruto itu kini terlihat tengah bersantai di atap sekolah. Dengan dua kotak bento yang belum tersentuh di sampingnya. Iris onyx warisan sang ayah memandang langit dengan tatapan datar khas Uchiha. Kedua tangannya menyangga kepalanya–sebagai pengganti bantal.

Bocah dengan rambut raven tersebut kini tengah menunggu saudara kembarnya. Mereka berencana untuk menghabiskan bento di atap sekolah. Tapi ketika di tengah jalan, tiba-tiba saja Yuki ingin ke kamar mandi. Dan akhirnya, disinilah Izuna berada.

Tap

Tap

Tap

CKLEK!

Seseorang membuka pintu menuju atap sekolah. Namun tanpa menoleh, Izuna tahu kalau Yuki lah yang datang. Karena tempat ini memang tidak pernah ada yang mengunjunginya kecuali untuk kedua saudara tersebut.

"Nisan…" panggil Yuki. Gadis cilik itu mendekati kakaknya yang nampaknya cuek-cuek saja dengan kedatangannya.

"Nisan…" panggil Yuki untuk yang kedua kalinya.

"…"

"…"

"Hn?" gumam Izuna pada akhirnya.

Yuki memutar matanya dengan bosan. "Yuki lapar dan Yuki ingin makan. Kalau nisan masih terus ingin menatap langit silahkan."

Kesal karena kakanya yang tidak merespon, akhirnya Yuki memakan bentonya dan dua menit kemudian Izuna menyusul memakan bento buatan ibunya. Yah… walaupun Izuna tidak terlalu lapar, tapi ia ingin mencari aman. Ia tidak ingin mendengar segala ceramah yang akan Naruto lontarkan begitu melihat Izuna tidak memakan habis bentonya. Apalagi sekarang kandungan ibunya sudah mencapai umur satu bulan. Ia tidak ingin melihat tangisan ibunya akibat dari mood swing yang tak menentu.

Selesai dengan bentonya, Izuna dan Yuki kini justru berbaring dengan langit sebagai objek tatapan mereka. Sedikit bersantai karena jam istirahat masih sepuluh menit lagi selesai. Izuna berbaring dengan tangan kanannya yang digunakan sebagi bantal dan tangan kirinya yang digunakan oleh Yuki sebagai bantal. Tadinya Yuki menolak usul kakaknya yang menyuruh Yuki untuk berbaring dengan lengan kirinya sebagi bantal, namun begitu melihat tatapan tajam Izuna, pada akhirnya… Yuki menyerah dan memilih menuruti sang nisan.

"Nisan…"

"Hn?"

"Apa nanti tousan akan menikahi kaasan?" tanya Yuki polos sambil menatap wajah Izuna dari samping.

Izuna tidak langsung menjawab. Ia justru balik menatap mata biru adiknya. Bocah tersebut tersenyum tipis begitu melihat pancaran penuh harapan dari iris adikya. "Tentu… nisan jamin kalau tousan akan segera menikahi kaasan," jawabnya pasti.

"Bagaimana dengan nasib Itachi-jisan?"

"Itachi jisan akan tinggal bersama dengan Kyuubi-basan dan anak-anak mereka."

"Bukankah mereka bermusuhan?" tanya Yuki kembali dengan polos. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya tahu kalau wanita yang kini juga tinggal bersama mereka bermusuhan dengan Itachi, kakak ayahnya.

Izuna kembali tersenyum. Ia sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Yuki, tangan kanannya mengusap surai pirang adiknya. "Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, nisan akan selalu melindungi Yuki sampai masa itu datang."

Yuki membalas senyuman Izuna. "Yuki sayang nisan dan kaasan."

Izuna memeluk adiknya protective. Apapun ia akan lakukan demi membuat adiknya dan ibunya bahagia.

Dan detik berikutnya, suara bel masuk berbunyi.

.

..

Meskipun Naruto kembali mengandung, hal tersebut tidak membuatnya malas bekerja. Ia tetap bekerja di café milik Obito, bahkan setiap hari Sasuke selalu siap untuk mengantarnya bekerja. Ia juga selalu siap menjemput Naruto. Padahal Naruto selalu menolak dengan halus maupun dengan kasar. Namun usahanya tersebut sia-sia, karena yang ia tolak adalah Uchiha Sasuke, seorang Uchiha yang tidak menerima penolakan.

"Naruto… tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 11," ujar Shion sambil menyerahkan nampan yang ia pegang ke Naruto.

"Baiklah…" segera saja Naruto menerima nampan tersebut dan mengantarkan pesanan itu kepada pelanggan yang menduduki meja nomor 11.

"Tuan, ini pesanan Anda," ujar Naruto tanpa melihta siapa yang memesan makanan.

"Terima- Naruto!"

Naruto menghentikkan gerakannya yang siap menyajikan pesanan sang pelanggan ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh, dan melihat siapa yang memanggilnya.

"Gaara…"

"Duduklah…"

Naruto duduk di hadapan Gaara dengan nampan yang berada dalam pangkuannya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto.

"Aku hanya mampir," jawabnya dengan senyuman manis. "Aku hampir lupa," Gaara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang dibawanya. "Kebetulan karena kau di sini. Tadinya aku akan ke rumahmu, tapi sepertinya itu tidak perlu lagi."

"Ada apa?" tanya Naruto penasaran.

"Ini," Gaara menyerahkan sebuah kertas dengan beberapa motif sebagai tampilannya. "Undangan pernikahan Temari-nee dan Shikamaru,"

Naruto merobek plastic yang membungkus undangan itu, membuka undangan tersebut dan membaca sekilas. Pernikahan tersebut akan dilaksanakan satu minggu lagi. Itu berarti ada waktu mempersiapkan kado untuk pasangan ShikaTema itu.

"Apa aku boleh mengajak keluargaku?" tanya Naruto.

"Tentu. Kau boleh mengajak siapapun yang kau mau," jawab Gaara sambil menyesap kopi pesanannya.

Naruto kembali membaca surat undangan tersebut.

"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Gaara sambil beranjak dari kursinya.

"Ahh… hati-hati."

Gaara mengangguk singkat dan melemparkan senyum manisnya pada Naruto.

.

..

Hari semakin sore… dan seperti biasa Sasuke sudah stand by di depan café milik sepupunya, menunggu pekerjaan Naruto selesai. Sebenarnya ia bisa saja menunggu Naruto di ruangan sepupunya. Tapi belajar dari pengalaman, Sasuke lebiih memilih menunggu Naruto di depan café Obito. Waktu itu, Obito meminta Sasuke untuk menunggu Naruto di ruangannya saja dan Sasuke menerimanya. Tapi setelah sampai di ruangan itu, Sasuke justru di hadapkan dengan tumpukan dokumen milik sepupunya.

"Apa ini?" tanya Sasuke kebingunan begitu Obito meletakkan setumpuk dokumen di hadapannya.

"Tolong bantu aku mengecek dokumen-dokumen itu," ujar Obito dengan raut wajah memelas, yang membuat Sasuke ragu-ragu dengan marga Obito.

Sasuke berdecak kesal. "Kau kerjakan sendiri," tolak Sasuke.

"Ayolah kumohon~ apa kau tidak kasihan padaku?"

"Hentikan itu Obito. Hanya menangani café ini saja kau mengeluh," ejek Sasuke. "Bagaimana kalau menangani perusahaan besar seperti yang kupegang?"

Akhirnya dengan raut wajah yang kesal, Obito akhirnya menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Sejujurnya ia ingin sekali menyumpal mulut tajam Sasuke. Tapi… apalah daya jika itu hanya keinginan yang tidak bisa diwujudkan. Karena mungkin sebelum ia berhasil menyumpal mulut Sasuke, nyawanya mungkin saja sudah melayang-layang dan gentayangan.

Kembali ke waktu dimana Sasuke kini tengah bersandar di mobil pribadinya sambil menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang berada di saku celananya. Membuatnya tampak seperti manusia paling tampan–menurut semua gadis yang melihatnya.

Samar-samar, Sasuke mendengar gelak tawa Naruto dan teman pirangnya, Shion. Mereka terlihat tengah bercanda dan kelihatannya Naruto belum menyadari keberadaan Sasuke.

Diam-diam Sasuke berdecih lirih. Sebenarnya ia kesal. Mengapa Naruto bisa terlihat bahagia dengan orang lain tetapi ketika dengannya, wanita yang tak lama lagi akan menyandang marga Uchiha itu akan selalu mengeluarkan aura permusuhan ketika berada di dekat Sasuke?

Naruto dan Shion, akhirnya sudah keluar dari café itu. Mereka berbincang-bincang sedikit sebelum akhirnya berpisah karena arah rumah mereka yang berlawanan. Dan kalian harus tahu kalau Shion maupun Gaara tidak tahu kalau Naruto kini tengah mengandung.

"Jaa ne~" ucap Naruto sambil melambai-lambaikan tangannya pada Shion yang juga melakukan hal yang sama.

Setelah tidak melihat punggung Shion, Naruto menghembuskan nafasnya. Entahlah… ia merasa sangat lelah hari ini. Ia kemudian berbalik, berniat meninggalkan tempat itu. Namun sayangnya, belum satu langkah ia berjalan, ia telah menabrak sesuatu yang terasa bidang.

"Sudah selesai?"

Naruto mengernyit begitu mendengar seseorang berkata. Ia sedikit mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah Sasuke yang begitu dekat dengan wajahnya. Karena merasa terlalu dekat, Naruto mengambil inisiatif memberi jarak dengan mengambil satu langkah ke belakang–menjauhi Sasuke.

"Apanya?" tanya Naruto bingung.

Tanpa menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto dengan lembut. Ia memasukkan wanita yang lahir di bulan ke sepuluh itu ke dalam mobilnya. Dan tanpa banyak bicara lagi, Sasuke segera menjalankan mobilnya menuju kediaman Iruka.

Mobil mewah Sasuke berjalan dengan perlahan. Karena pemiliknya berniat menghabiskan waktu sore lebih banyak dengan 'calon' istrinya. Tidak peduli jika ia mendengar gerutuan Naruto.

Keheningan pun tercipta. Naruto memilih mengabaikan Sasuke dan mengamati pemandangan lewat kaca mobil. Sedangkan Sasuke terlarut dalam kosentrasinya.

Naruto yang memang dasarnya manusia cerewet, akhirnya risih juga dengan keheningan yang tercipta. Hingga akhirnya ia memilih mencari topic pembicaraan dengan Sasuke.

"Aku bertemu dengan Gaara," celetuk Naruto.

Sekilas Sasuke memandang Naruto. Namun kemudian, tatapannya kembali terpaku pada jalanan.

Mengerti kalau Sasuke tidak akan menyahut, akhirnya Naruto kembali bercerita. "Tadi Gaara mengunjungi café. Ia juga memberikanku undangan pernikahan kakak perempuannya. Aku berniat mengajak semua orang di rumahku. Apa kau mau ikut?" tawar Naruto.

"Hn," dan Naruto menganggap itu sebagai jawaban 'iya'.

Sejujurnya, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba mulutnya mengatakan hal itu. Awalnya ia tidak ingin mengajak sang pemuda emo. Kenapa? Karena pastinya bungsu Uchiha itu akan bertindak protective plus posessive yang secara otomatis, pergerakannya di sana pasti akan diawasi. Menyebalkan.

"Kapan?" tanya Sasuke.

"Minggu depan."

"Aku akan menjemput kalian. Dan satu lagi… malam ini aku akan makan di rumahmu. Ada hal penting yang harus kubicarakan dengan Izuna dan juga Kyuubi."

Sedikit yang Naruto ketahui, bahwa kakak Sasuke, yaitu Uchiha Itachi pasti pernah mengenal Kyuubi. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan keduanya, karena memang ia tidak diberi tahu oleh Kyuubi. Bahkan Iruka sendiri juga tidak tahu. Tadinya ia akan bertanya pada senior Uchiha atau Itachi, tapi Naruto tidak pernah berani bertanya kepada mereka. Al hasil, Naruto hanya bisa memendam rasa penasarannya di lubuk hati.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Sasuke sampai di pekarangan rumah Iruka. Baru saja mereka menutup pintu mobil, kaki Naruto sudah terasa berat karena Yuki yang memeluknya. Sedangkan Izuna… lupakan, putranya itu benar-benar membuat Naruto frustasi.

Izuna masih kecil, terlalu kecil malah, tapi tindak tanduknya seperti orang dewasa. Tak jarang pula putra sulungnya itu justru menasihati ibunya sendiri. Dan yang paling membuat Naruto kesal adalah tampang datarnya. Pernah dalam hati Naruto mengutuk Uchiha karena ke–miniman–ekspresi–yang–mereka–punya yang diturunkan pada Izuna.

'Semoga saja anakku nanti tidak memiliki tampang datar seperti itu. Cukup Izuna saja yang memilikinya,' batin Naruto merana sambil mengelus lembut perutnya yang masih terlihat datar, tapi sedikit buncit jika kau pegang.

"Kaasan…" seru Yuki yang masih memeluk kaki Naruto dengan manja.

Abaikan Sasuke dan Izuna yang hanya saling tatap tidak jelas. Serius… tidak ada satu pun kata yang keluar dari keduanya. Hebat… mereka memang hebat. Berstatus ayah anak rupanya tidak juga melunturkan tampang datar mereka.

"Apa yang tousan lakukan di sini?" tanya Izuna akhirnya setelah saling tatap dengan Sasuke.

"Tousan ada perlu denganmu."

"Hn,"

Dan sekejap mata, Sasuke sudah menghilang dari pandangan Naruto dan Yuki. Disusul oleh Izuna yang juga sama–menghilang secara tiba-tiba. Beruntung baik Naruto maupun Yuki sudah terlalu sering melihat hal tersebut. Jadi dengan rasa tidak peduli, acuh tak acuh, kedua manusia berstatus ibu dan anak itu memasuki rumahnya. Dan menyiapkan makan malam untuk mereka semua.

Sekitar satu setengah jam kemudian, masakan yang dibuat oleh Naruto dan Kyuubi serta di bantu oleh Yuki akhirnya selesai. Bertepatan dengan kedatangan Sasuke dan Izuna yang berkeringat. Hm… sepertinya Sasuke dan si sulung menghabiskan waktu dengan berlatih.

Masakan sudah siap.

Sudah mandi.

Sudah wangi.

Tinggal menunggu kedatangan Iruka yang belum pulang. Mungkin tidak lama lagi.

"Tadaima…"

"Okaeri…"

.

..

Makan malam berakhir setengah jam yang lalu. Dan sekarang adalah pembicaraan serius antara Sasuke dengan Kyuubi. Wanita merah blak-blakan itu bahkan sudah menebak jika mereka akan membicarakan makhluk muda berkeriput yang sudah menghancurkannya, Uchiha Itachi.

Mereka berdua kini berada di atap rumah Iruka. Tempat dimana Naruto dan kedua anaknya menghabiskan malam dengan bercerita.

"Jadi…. apa yang akan kau bicarakan?" tanya Kyuubi.

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia justru menengadahkan kepalanya, memangdang langit malam dengan taburan bintang yang indah.

"Cepat jawab Uchiha," seru Kyuubi yang mulai jengkel dengan keterdiaman Sasuke.

"Tidak seharusnya kau meminta Aniki menghilangkan tanda Uchiha di tubuhmu," ucap Sasuke dingin.

"Apa urusanmu?" tanya Kyuubi dengan nada acuh.

"Memang bukan urusanku. Tapi itu menjadi urusanku, urusan kami, para Uchiha."

"Hal sekecil itu tidak mungkin menjadi masalah besar," cela Kyuubi.

Sasuke berdecih. Inilah resikonya jika berbicara dengan Kyuubi. "Jika masalah itu kau anggap kecil… tapi bagi kami itu masalah yang besar."

Kyuubi memandang Sasuke dengan ekspresi penuh tanya. Bukankah itu memang masalah kecil? Uchiha bisa dengan mudah menandai seseorang, berarti dengan mudah pula menghilangkan tanda itu. Benarkan?

"Uchiha menciptakan tanda itu… karena suatu alasan. Para Uchiha akan mati jika tidak segera menandai seseorang yang dipilih untuk menjadi mate mereka," sambung Sasuke.

"Jika demikian, kenapa Itachi tidak memberitahuku terlebih dahulu?" sungut Kyuubi.

"Itu bukan pilihannya," jawab Sasuke cepat. "Aniki melakukan itu karena ia tidak bisa memberitahukan jati dirinya yang sebenarnya padamu," Sasuke menghela nafas panjang.

"Apa yang akan kau lakukan jika sahabat yang paling kau percayai tiba-tiba mendatangimu dengan mata yang berwarna merah menyala dan mengatakan bahwa matenya adalah dirimu?"

"A–aku…."

"Bagaimana reaksimu jika sahabatmu itu tiba-tiba memintamu untuk melakukan hubungan intim tepat di hari ulang tahunnya?"

"A–aku…."

"Bagaimana reaksimu jik-"

"Aku akan menerimanya," potong Kyuubi cepat, membungkam Sasuke yang kini menatap iris rubynya. "Aku menerimanya…. Aku menerimanya…"

Sasuke kembali menatap langit yang kini ditutupi awan mendung. "Sayang sekali… Aniki berfikir sebaliknya. Mengingat kau yang kurang peka terhadap semua sinyal yang Aniki berikan sekaligus tsundere."

Keduanya terdiam. Terlarut dalam pikiran masing-masing. Kyuubi tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia sempat berfikir bahwa ini salahnya karena kurang peka, namun egonya kembali menguasainya. Yang salah adalah Itachi. Itachi salah karena tidak membicarakan hal sepenting itu pada Kyuubi.

"Apa jadinya jika Itachi menghilangkan tanda ini?" tanya Kyuubi penasaran. Penasaran dengan semua ke-misterius-san keluarga Uchiha.

"Aniki akan mengamuk. Sisi iblisnya akan menguasai tubuh Aniki dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Uchiha yang seperti itu bahkan bisa menghancurkan satu kota dalam satu malam," jelas Sasuke.

"Bukankah Itachi bisa pergi ke tempat dimana tidak ada orang di dalamnya?"

"Memang… tapi setelah fase mengamuk, sisi iblis Uchiha akan menyerang pemiliknya sendiri sampai-" Sasuke menatap Kyuubi tajam. "-pemiliknya mati."

DEG!

"Sebenarnya Aniki bisa menambahkan segela kutukan pada segel yang ada di tubuhmu. Sama seperti milik Naruto. Karena dengan begitu tidak ada yang bisa menyentuh matenya. Namun sayangnya… Itachi terlalu lembut untuk ukuran seorang Uchiha," Sasuke kembali menghela nafas.

Ia yang tidak banyak bicara harus menjelaskan semua ini pada Kyuubi. Cih… kalau bukan untuk kakaknya, Sasuke tidak akan melakkukan hal semerepotkan ini. Dan Itachi harus membayar mahal untuk ini.

"Segel kutukan?"

"Hn. Segel itu bisa membunus setiap orang yang menyentuh mate Uchiha dengan niat buruk. Mereka yang menyentuh property Uchiha akan mati di bakar api hitam abadi keluarga Uchiha, amaterasu."

Kyuubi sedikit berdecih. "Uchiha memang mengerikan," ujarnya.

"Uchiha tidak akan mengerikan jika propertynya tidak diusik."

Keheningan kembali tercipta. Dilihat dari raut wajah Kyuubi… sepertinya wanita itu mulai ragu-ragu dengan keputusannya untuk menghilang tanda Uchiha di tubuhnya.

"Sepertinya aku harus pergi," tanpa perlu menunggu Kyuubi menimpali ucapannya, Sasuke langsung meninggalkan Kyuubi di atap.

Sasuke berniat memberikan waktu bagi Kyuubi untuk memikirkan semua keputusannya. Siapa tahu keputusan Kyuubi berubah. Sehingga Itachi tidak perlu mengorbankan dirinya sendiri unutk menghilang tanda itu. Dan satu lagi… Sasuke kini tengah menebak jika ayahnya mulai turun tangan untuk menangani masalah antara Itachi dan Kyuubi.

Ck… dulu ketika masalahnya dengan Naruto saja, Fugaku tidak peduli. Tapi ketika berurusan dengan Itachi ia baru turun tangan. Dasar Pak Tua pilih kasih.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kyuubi pada angin yang membelai wajahnya. Berharap sang angin bisa menyampaikan pertanyaannya pada seseorang yang berada di belahan bumi lain.

.

..

Di belahan bumi lain…

Tepatnya di Kanada…

"Tousan datang…." ujar Itachi tipis.

Iris onyxny memandang ke segala arah. Mengamati orang-orang yang berlalu lalang di bandara. Dengan langkah tegas, Itachi melangkahkan kakinya perlahan. Harapan yang tadinya hancur karena penolakan Kyuubi kini mulai kembali tersusun. Ia harus bida membuat Kyuubi menerimanya. Dan langkah pertama yang harus ia lakukan adalah meyakinkan putranya dan mendapatkan kepercayaannya.

"Kita akan menjadi keluarga yang bahagia."

.

..

Beralih ke mansion Uchiha yang berada di Tokyo. Sepasang suami istri kini tengah saling berpelukan dalam tepat tidur mereka.

"Apa ini bisa membuat Itachi bahagia?" tanya Mikoto lembut.

"Hn. Bahkan Sasuke segera meraih kebahagiaannya," ucap Fugaku sambil menbelai surai raven Mikoto.

"Kenapa kau tidak turun langsung menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Sasuke?"

Fugaku tidak langsung menjawab. Ia memandang iris istrinya yang berwarna sama dengan iris miliknya. "Karena aku yakin Sasuke bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."

"Kita tahu kalau Sasuke memiliki ego yang sangat tinggi, keras kepala, dan penuh ambisi. Sisi iblisnya bahkan tidak pernah mengganggu pemiliknya karena jalan yang Sasuke pilih hampir selalu sama dengan jalan yang diinginkan oleh sisi iblisnya. Berbeda dengan Itachi yang lebih mengedepankan perasaan. Itulah mengapa aku membantu Itachi ketimbang Sasuke," jelas Fugaku.

"Yeah… terkadang aku lupa bagaimana tingginya ego seorang Uchiha Sasuke," ucap Mikoto menyetujuinya.

.

..

Satu minggu kemudian…

Naruto kini tengah mematut penampilannya pada cermin yang berada di kamarnya. Setelah yakin dengan penampilannya, ia segera beranjak dari kamarnya. Menemui putra putrinya yang masih sibuk mematut diri mereka.

Yeah… mereka bersiap-siap untuk menuju ke kediaman Nara, tempat dimana pernikahan antara Shikamaru udan Temari akan berlangsung.

Beberapa hari yang lalu, Naruto menceritakan tentang undangan pernikahan itu. Ia juga meminta seluruh anggota keluarganya termasuk Sasuke untuk datang ke pesta itu. Meskipun pada awal-awalnya Izuna menolak. Ingat… Izuna benci tempat ramai dan pesta merupakan salah satu tempat ramai.

Sama halnya dengan Izuna, Sasuke pun tak jauh berbeda. Ia yang notabene benci tempat ramai harus mendatangi tempat seperti itu. Jika bukan karena Naruto ia pasti ogah.

"Apa kalian sudah siap?" tanya Naruto penuh semangat.

"Hn/Hn/Hm," jawab Sasuke, Izuna, dan Kyuubi bebarengan.

"Sudah," berbeda halnya dengan Yuki dan Iruka yang tampaknya sangat bersemangat.

Keenam makhluk social tersebut akhirnya pergi menuju ke kediaman Nara menggunakan mobil pribadi Sasuke. Beruntung semua makhluk itu bisa memenuhi mobil yang berwarna dongker. Dengan Sasuke yang mengemudi, Naruto disampingnya. Iruka ddan Kyuubi duduk di kursi penumpang bagian tengah, sedangkan Izuna dan Yuki duduk di kursi penumpang paling belakang.

Keempat manusia dewasa tersebut mengobrol ringan. Apalagi, Sasuke kembali melamar Naruto di mobil itu, tapi sayangnya hanya dianggap angin lalu oleh Naruto. Bahkan Kyuubi tertawa bodoh, menertawakan kegagalan Sasuke untuk yang kesekian kalinya. Dan dihadiahi dengan death glare mematikan sang Uchiha.

Dalam hati Sasuke, ia bingung… mengapa Naruto selalu menolaknya? Apa wanita pirang yang kini tengah hamil itu masih membencinya? Kurasa tidak mungkin mengingat ia kembali berhasil membuat NAruto hamil lagi. Pasti bukan itu alasannya, pasti ada alasan lain. Tapi… apa?

Diam-diam Sasuke menyeringai. Ia memiliki kejutan basar nantinya. Dan itu pasti bisa membuat Naruto menerimanya. 'Tunggu saja dobe…'

Perjalanan mereka memakan waktu lima belas menit hingga akhirnya sampai di kediaman Nara yang sudah mulai terlihat ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang sudah berjajar rapi di parkiran. Puluhan banner ucapan selamat menghiasi bagian depan kediaman Nara.

Memang kediaman Nara tidak lebih besar dari mansion Uchiha, tapi yang paling besar di Konoha.

Sasuke dan yang lainnya memasuki tempat pestanya. Yuki sendiri sudah berteriak heboh melihat semua hal yang menarik perhatiannya. Selalu memberondongi pertanyaan untuk kakaknya yang nampak malas.

Kue bertingkat yang sangat tigggi, puluhan kado yang tertata sangat rapi. Hah~ Yuki sangat menginginkan itu semua.

"Yuki… berhentilah berteriak," ujar Izuna sambil menarik tangan Yuki, menjauh dari kue bertingkat tinggi yang menjadi perhatian penuh si bungsu Uzumaki.

"Yah…. Yuki kan hanya ingin melihat kue itu. Siapa tahu Yuki tidak bisa melihatnya lagi," Yuki mendesah kecewa. Tangannya sudah tergerak menggapai-gapai kue yang terlihat enak itu.

"Kau bisa minta pad tousan. Pasti tousan akan membuatkanmu kue yang setinggi itu," ucap Izuna sambil terus menyeret Yuki.

"Benarkah?" tanya Yuki yang kini mulai menyamakan langkahnya dengan Izuna.

"Hn."

"Yeeaaahhh…. Kalau begitu, ulang tahunku yang ke tujuh besok, aku ingin kuenya setinggi itu," ujar Yuki penuh semangat.

"Ulang tahun kita," ucap Izuna membenarkan.

"Ahh… nisan benar. Ulang tahun kita."

.

..

Di pesta yang cukup dibilang mewah itu, terlihat sepasang suami istri yang baru saja menikah. Mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Nara Shikamaru dan Sabaku Temari yang kini berubah marga menjadi Nara Temari. Dua pasangan itu, berdiri di singgasana mereka. Mengucapkan berkali-kali rasa terima kasih untuk semua orang yang mengucapkan selamat pada mereka berdua.

Temari terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putihnya. Surai pirangnya yang sering dikuncir empat kini terurai sempurnya, sedikit bergelombang karena efek dari seringnya dikuncir. Tapi itu justru menambah nilai plus tersendiri bagi Shikamaru.

Begitupun dengan mempelai prianya. Shikamaru terlihat gagah dalam balutan tuxedo hitam. Rambutnya masih dalam model yang biasanya. Terkuncir ke atas seperti nanas. Mata obsidian yang selalu memancarkan kemalasan, kini terlihat lebih memukau. Meski kadang-kadang pemuda nanas itu masih mengucapkan trademarknya yang sudah sangat terkenal pada tamu undangan yang memberinya selamat.

Namun, lima belas menit yang lalu, Shikamaru menyingkir dari singgasananya. Meninggalkan perempuan yang resmi berstatus sebagai istrinya itu yang mulai jengkel di tinggal pergi.

"Selamat atas pernikahanmu neesan," Naruto mengucapkan selamatnya pada perempuan yang sudah ia anggap kakak itu.

"Terima kasih Naruto," Temari mengulurkan tangannya, membalas jabatan yang ditawarkan oleh Naruto dengan senyum yang mengembang dibibirnya. "Kau bersama siapa?"

"Iruka-jisan, kakakku, Izuna, Yuki, dan Sasuke," ucap Naruto menyebutkan semua orang yang hadir dalam pesta itu.

"Uchiha Sasuke?" Temari terpekik tidak percaya.

Naruto mengangguk, membenarkan pertanyaan Temari.

"Kau tahu… dia itu, rekan kerja Shikamaru di Tokyo," ujar Temari. "Aku tidak menyangka pemuda berparas dingin seperti dia justru memilihmu yang sudah memiliki anak."

'Tentu saja dia memilihku. Karena anak-anakku adalah anaknya,' gerutu Naruto di dalam hati.

Akhirnya kedua sahabat itu mengobrol ringan sewajarnya sepasang sahabat yang tidak pernah bertemu.

Mengapa Naruto sendirian? Itu karena anggotanya yang lain sepertinya sedang menyicipi hidangan yang ada. Sedangkan Sasuke menghilang entah kemana. Author harap bungsu Uchiha itu tidak hilang seperti di waktu mereka pergi ke taman bermain.

Selama tiga puluh menit semua hadirin menyicipi hidangan yang disediakan. Tiba-tiba mulai bermunculan kembang api yang membelah langit sore. Sebagian besar para hadirin bertepuk tangan dengan kemeriahan pesta itu. Berbeda dengan Temari, ia kelihatannya justru bingung karena dalam rancangan pernikahannya tidak ada kembang api. Tapi kenapa…..

Sama halnya dengan Naruto, ia juga mulai kesal karena Sasuke tidak kunjung datang. Entah kenapa, pria itu tiba-tiba menghilang bersamaan dengan menghilangnya Shikamaru. Tidak tahukah Sasuke, kalau anaknya yang masih dalam kandungan itu tidak suka kalau kedua orang tunya saling berjauhan. Karena biasanya, ketika Naruto tidur Sasuke akan menyelinap ke kamar sang mate dan memeluknya sampai pagi–tepatnya sampai Naruto belum bangun tidur.

"Cek… cek… cek…"

Perkataan atau seseorang yang kini tengah mengecek microphone yang ada di sebuah panggung kecil berhasil membuyarkan seluruh perhatian para hadirin yang masih terpaku pada kembang api. Dan pria ber-tuxedo hitam itu menjadi perhatian seluruh hadirin, termasuk Naruto dan kedua anaknya.

"Shikamaru?" lirih Temari.

"Maaf mengganggu acara kalian. Sahabat saya berniat menyampaikan sesuatu hal yang penting, oleh karena itu, saya mohon perhatiannya untuk seluruh hadirin," ujar pria tersebut yang ternyata adalah sang pemilik pesta pernikahan, Nara Shikamaru.

Berbagai pertanyaan bergelayut dengan manja di benak mereka semua. Temari saja bingung dengan kelakuan suaminya.

Dan tak lama kemudian, seseorang menaiki panggung itu dan menerima mic yang diberikan oleh Shikamaru.

"Maaf menggangggu sebentar. Perkenalkan saya Uhiha Sasuke," dengung-dengung pertanyaan mulai terdengar walau tidak jelas.

Abaikan Naruto yang mulai mengernyit tidak suka.

"Tolong perhatiannya," dan semua diam. "Naruto… will you merry me?"

Dan pernyataan Sasuke sukses membuat Naruto menganga, Kyuubi dan Iruka yang terbelalak, Izuna dan Yuki yang menyeringai penuh kemenangan, serta Gaara yang mendengus tidak suka.

"Terima…"

"Terima…"

"Terima…"

Hampir semua tamu meneriakkan kata itu. Hanya beberapa saja yang tidak melakukan hal bodoh itu.

"Kau tahu 'kan… aku tidak menerima penolakan," suara Sasuke kembali terdengar. "Kemarilah~"

Seakan terhipnotis dengan ucapan Sasuke, Naruto perlahan melangkahkan kakinya menuju panggung dimana Sasuke berdiri dengan kokoh. Mungkin memang sudah saatnya ia menerima Sasuke. Walau pun juga, Naruto tidak ingin anak keduanya atau ketiganya itu lahir tanpa seorang ayah, seperti Izuna dan Yuki. Ia ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.

Dan memilih Sasuke adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan keinginannya mengingat kedua buah hatinya sedikit tidak suka dengan orang asing, terkhusus Izuna.

Kini Naruto berdiri tepat di hadapan Sasuke, ia memandang onyx Sasuke yang juga kini tengah memandangnya. Kedua tangannya terulur, mengalungkannya pada leher Sasuke. Iris sapphirenya masih menatap lekat onyx di depannya. Sedikit ia melihat seringai Sasuke. Naruto menutup kelopak matanya ketika merasakan benda lembut yang menempel di bibirnya. Matanya terpejam, menikmati kelembutan cinta yang Sasuke berikan.

Namun sayangnya, semua orang ada, tidak melihat pancaran merah yang dikeluarkan dari segel kutukan Uchiha di tubuh Naruto.

.

Gaara memandang Naruto yang kini berciuman dengan Sasuke sendu. Tidak bisa dipungkiri kalau hatinya sakit melihat hal tersebut. Tapi… bukankah cinta itu tidak harus memiliki? Apakahh ia harus menyerah sekarang?

"Cinta itu memang rumit."

Gaara mengalihkan perhatiannya dari dua sejoli yang masih berciuman kepada seseorang yang berada di sampingnya. Seorang gadis dengan rambut yang berwarna pirang yang dikuncir tinggi ala ponytail. Perempuan itu juga tengah memperhatikan pasangan SasuNaru.

Dan Gaara tidak menyangka jika perempuan itu memiliki iris aquamarine yang indah yang kini juga tengah memandangnya dengan senyuman di bibirnya.

"Apa maksudmu?" tanya Gaara tanpa mengalihkan atensinya dari perempuan di depannya.

"Yah… kau mencintai gadis itu. Dan aku mencintai laki-laki itu," ujar sang gadis.

"Kenapa kau tidak merebutnya?"

"Dan kau akan datang kepada wanita itu dan menjadi superhero baginya?" perempuan itu tertawa pelan, namun Gaara masih bisa melihat setitik luka di iris indah itu.

"…"

"Jika kau berniat menghancurkan hubungan mereka, sebaiknya kau urungkan. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Uchiha bukanlah lawan yang pantas untukmu," perempuan itu kembali tersenyum. "Eh.. ngomong-ngomong aku Yamanaka Ino."

"Sabaku Gaara

.

Kyuubi memandang Naruto dengan perasaan bahagia. Meski hatinya sedikit mersakan iri. Karena ia yakin setelah ini kehidupan Naruto pasti sangat bahagia. Sedangkan dirinya? Siapa yang dengan senang hati mau menjadi pendampingnya? Melihat dirinya saja pasti sudah pada lari.

"Kapan aku bisa berbahagia?" lirih Kyuubi diantara suar riuh tepuk tangan.

.

..

.

..

.

..

.

..

END

Akhirnya….. selesai juga *lari-lari keliling lapangan* saya tidak menyangka akhirnya fic ini selesai juga.. meski endingnya sedikit #sangat dipaksakan tapi… ya sudahlah yang penting HAPPY ENDING..

Maaf ya kalau mengecewakan… plus up date lama..

Thanks untuk seluruh Fav, Follow, Review… dan Siders yang dengan senang hati meluangkan waktunya demi membaca fic ini Hikss saya sungguh terharu..

Dan selamat datang untuk semua reader baru,, selamat yaa.. kalian tidak perlu menunggu lebih lama lagi up datenya fic ini. Karena sudah selesai…

Saya berniat membuat EPILOG unutk fic ini.. tapi entahlah, saya harus pintar curi-curi waktu.. so, jangan ditunggu..

..

Akhir kata

TERIMA KASIH UNTUK SELURUH READER… BERKAT KALIAN FIC INI SELESAI… MESKIPUN MEMAKAN WAKTU SATU TAHUN LEBIH… SAYA TIDAK TAHU HARUS NGETIK APA LAGI.. HIKSS.. I LOVE YOU….

.

Sampai jumpa di fic saya yang lain… *ngelap ingus*