Boyfriend Tsun!
Monsta X's fanfic
Wonho (Shin Hoseok) x I.M (Im Changkyun)
Semalam Wonho benar-benar ditinggal tidur sendirian.
Dan dia bersungguh-sungguh saat mengatakan tidak bisa tidur jika tidak ada yang menemaninya.
Jadi tak mengherankan jika pukul 3 dini hari, tubuhnya tergerak untuk membuat minuman hangat –semoga bukan susu– demi membuat pikirannya mengantuk.
Iya, pikiran. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk mengubah posisi tidur tetapi otaknya tidak berhenti untuk merenungi apa saja yan terjadi satu hari ini bersama Changkyun.
Biasanya Wonho tidak penuh pikiran seperti ini sih. Memikiran ujian yang sebentar lagi di depan mata saja tidak apalagi pasal cinta.
Masalahnya, dia itu dewanya urusan percintaan saking seringnya berpacaran dan seringnya putus jadi berpegangan tangan, berciuman, atau tindakkan manis lainnya sudah seperti rutinitas dan cukup membosankan untuk melakukannya berulang-ulang meski dengan orang berbeda.
Hyungwon yang notabene pacar lelaki pertamanya tidak terlalu banyak berekspresi, dia menerima seluruh perhatian darinya tapi tidak memberikan respon seperti 'ah terimakasih' atau ekspresi memerah yang menggemaskan dan tidak juga memberikan perhatian layaknya seorang kekasih pada Wonho, padahal pemuda Shin ini cukup serius padanya –bukti hubungan mereka yang menginjak hampir 2 tahun ini.
Intinya, Hyungwon cuek dan Wonho jatuhnya terlalu berkoban sendirian untuk hubungan ini.
Changkyun memang bukan pacar resminya tetapi melihat responnya setelah diperlakukan manis itu...
"Changkyun?"
Yang dipanggil langsung menoleh dengan sepasang mata kecilnya yang membulat dan gelas plastik berwarna biru pastel tengah digigitnya.
"H-hyung?"
...Manis...
Wonho enggan untuk berpikir lebih lanjut. Langsung saja ditariknya bangku di sebelah Changkyun yang segera ia duduki sampai membuat 'pacar'nya itu sedikit bergeser.
"Kenapa kau disini, hm?"
Changkyun masih menolehkan kepalanya ke arah Wonho yang tengah memperhatikkannya buru-buru mengubah posisi kepalanya ke posisi semula.
"...tidak bisa tidur."
Wonho tertawa renyah.
"Aku juga."
"Kau tidak bisa tidur karena aku terus mengubah posisi kan?"
Changkyun menggeleng sebelum menundukkan sedikit kepalanya untuk melepaskan gigitannya pada mulut gelas dan meletakkannya dengan layak di atas meja.
...terlalu manis...
Wonho jadi gemas sendiri.
Tidak bisakah dia bertindak seberani di supermarket tadi? Jujur saja, Wonho tidak menyesal melakukannya, dia hanya tidak enak hati pada Changkyun. Pemuda Im itu nampak sakit hati saat diperlakukan seperti itu meskipun pekerjaannya adalah boyfriend experience dan dia sendiri bilang pernah diperlakukan lebih dari itu.
Oh.
Apa jangan-jangan Changkyun mempunyai alasan tersendiri menjadi kekasih bayaran tersebut? Karena dia patah hati? Atau karena sudah pernah ada yang memperko-
Astaga. Shin Hoseok. Sadarlah. Tidak semua boyfriend experience itu sama murahannya dengan orang-orang di club, contohnya ya Changkyun dan Jooheon yang sering membantumu.
Changkyun terlalu polos untuk ukuran pekerjaan seperti itu (atau dia terlihat polos karena posisinya selalu 'pasrah'? Yah maksudnya tidak agresif seperti image remaja sekolah, bukankah banyak wanita kesepian atau ahjumma-ahjumma yang menyukai image seperti i-astaga Shin Hoseok bahasamu).
Responnya saat diperlakukan manis oleh Wonho juga seperti sudah terbiasa tetapi rona di pipinya itu...
"Aku hanya...tidak tidur karena diriku sendiri."
"Ah? Wae?" Wonho cukup kaget mendengar jawabannya di tengah keheningan sekitar dua menit lalu.
Dirinya sendiri? Apa Changkyun sakit? Sakit karena hujan? Atau karena tindakkan tak senonohnya? Ah, mungkin saja...
"Besok ternyata aku dapat kelas."
...Tepat saat itu, Wonho baru menemukan keberadaan ponsel Changkyun yang terus diputarnya dengan bimbang. LCDnya menyala seperti baru saja dibuka dan terdapat pesan disana.
Pft.
Wonho menahan diri untuk tidak tertawa.
Hanya karena ada kelas setelah hari sebelumnya yang seharusnya adalah hari libur kita dipaksa masuk untuk mengikuti kelas pengganti padahal adanya kelas pengganti itu karena kesalahan dosen matkulnya, Changkyun sampai galau seperti ini?
Hah.
Ha.
Kalau Wonho di posisinya sih, tinggal bolos saja.
Susah sih ya, anak Teknik Kimia.
Hmmmmm.
Hmmm
Hm.
H.
Ha.
Hah.
HAHAHAHAHAHA.
Oke cukup, Shin Hoseok kecuali kau mau tak sengaja benar-benar tertawa dan mendapatkan hadiah manis dari Changkyun.
"Lalu?" Wonho berusaha menahan bibirnya untuk tidak membentuk senyuman. Changkyun melirik ke arahnya sebelum merengut; menekan bibir tipisnya pada mulut gelas lalu menutup keras ponselnya.
Bibir tipisnya.
Garis bawahi itu.
Aduh.
Wonho menjepit hidungnya sekaligus menekan dadanya.
Takut-takut ada insiden.
"Aku kan tidak mau pergi hari ini-"
"Yasudah, tinggal bolos sa-"
"Kan aku sudah berjanji untuk tidak pergi agar hyung tidak pergi ke club!"
Astaga.
Changkyun menutup mulutnya.
Astaga.
Wonho menahan diri untuk tidak terbelak.
ASTAGA!
"Ugh."
"Lupakan, aku hanya mabuk."
Changkyun mendorong bangkunya ke belakang.
"Aku tidur di sofa saja daripada mengganggumu. Selamat ma-"
"Tunggu dulu."
Changkyun tidak menoleh saat pergelangan tangannya ditahan.
Wonho mengulas senyum lebar.
"Kau bisa masuk ke kelas kalau tidak mau membolos dan aku akan mengantar-jemputmu. Jam berapa kelasmu nanti? Pagi? Siang? Sore?"
"Sore," Suaranya terdengar sangat datar tetapi justru itu membuat senyumnya semakin melebar.
Alasan sederhana; Changkyun hanya terlalu manis saja.
"Ah terserah mau pagi buta atau nyaris tengah malam, waktuku fleksibel selama setelah kuliah, aku bisa bersamamu," Pemuda Shin ini mengedipkan sebelah matanya meski targetnya tidak akan melihatnya. "Lagipula orang bodoh mana yang ke club jam-"
"Sekarang zaman modern, tidak perlu menunggu sampai malam untuk ke club dan tidak perlu pergi ke club untuk mabuk atau prostitusi. Aku bisa saja mencegahmu membeli alkohol tapi tidak ada yang ta-"
"Hey hey," Wonho memotong tak terima. "Untuk apa aku mabuk alkohol kalau melihatmu saja sudah membuatku mabuk juga? Untuk apa mencari pekerja seks, kalau aku mempunya-"
Changkyun akhirnya memutar kepalanya dan melotot ke arahnya.
"Wah, akhirnya aku diperhatikan juga ya saat berbicara?"
"Diam. Aku masih 18 tahun."
"Aku belum pernah menemukan seorang pemuda yang nampak hidupnya sangat lurus dan teladan sudah menjadi boyfriend experience jauh sebelum usianya 18 tahun tuh."
"Dan kau sudah tau masalah apa ini apa itu. Memangnya kau tau aku mau bicara apa? Tau artinya? Tidak mungkin ada remaja berusia 18 tahun yang ta-"
"Aku mengetahuinya untuk melindungi diri karena aku terlalu polos. Jadi kalau ada yang membahasnya; aku bisa jaga jarak aman darinya dan kalau ada yang membujukku membawa kata-kata itu, aku bisa menolak."
"Itu alasan yang kupakai saat ketahuan menonton bluefilm di tahun kedua SMA," balas Wonho ringan setelah melepaskan pergelangan tangan Changkyun karena dia sudah duduk kembali. "Tapi pada akhirnya, aku melakukannya bukannya diperlakukan seperti di bluefilm kan? Itu juga bisa terjadi padaku, wahai anak kecil kepo."
Changkyun menghela nafas keras.
"Kau membuatku gila."
Wonho menyeringai. "Gila karena memikirkanku?"
"Aku laki-laki kalau kau tidak lupa. Hal cheesy seperti itu tidak akan mem-"
Wonho berkedip berkali-kali. "Hyungwon juga laki-laki dan dia kekasihku."
"Mantan kekasih lebih tepatnya," sinis Changkyun yang agak memukul telak sampai Wonho memegangi dadanya dengan ekspresi kesakitan.
"Ouch, itu benar-benar menyakitkan tetapi ada benarnya juga. Sekarang kan aku sudah punya kekasih baru, Im Changkyun nama-"
"Ada baiknya aku pergi ke kampus saja dan tidak pernah kembali lagi."
Tanpa banyak basa-basi, Changkyun mengambil langkah lebar-lebar ke kamar lalu membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Wonho tertawa dibuatnya.
Oh astaga.
Setelah tidak tidur seranjang, sekarang aku diusir dari kamar?
Dari kamarku sendiri?
Aku tau itu akan menjadi kamar milik kita bersama tapi tidak seperti ini caranya!
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke club dan tak pernah kembali!"
"Kau benar-benar akan pergi ke club dan tak pernah kembali lagi?"
Wonho berdecak keras saat disodori pertanyaan setelah pintu kamar mandi baru saja ia tutup.
Mana wajahnya terlalu dekat.
Bibirnya itu loh.
"Lipbalm yang kubeli sudah kau pakai ya?"
Matanya membulat. Changkyun yang polos benar-benar mudah untuk diahlikan pembicaraannya, sama mudahnya membuat Wonho kehilangan fokusnya.
"Ne?"
"Igeo," Jari telunjuknya hanya ingin menunjuk tetapi justru tak sengaja menyentuh bibir tipis Changkyun.
Astaga.
"Ah ne," Changkyun melirik ke arah bibirnya lagi yang membuat Wonho ber-astaga untuk kesian kalinya.
"Ternyata cocok untukku. Aku tidak pernah memakai perawatan selama 18 tahun ini karena tidak punyai uang lebih, terimakasih sudah berbelanja untukku. Ah, apa kau mau memakainya?"
Tidak bisakah aku memakainya melalui bibrimu saja?
Oke, itu hanya kata hati Wonho saja.
Sekedar informasi saja, ia masih menjepit hidungnya.
"Ti-tidak usah, itu untukmu saja. Akan aneh kalau aku memakainya-"
-karena aku inginnya secara langsung bukannya merasakan bibrimu dari lipbalm.
Wonho benar-benar akan menjepit hidungnya seharian penuh.
"Tidak, lupakan saja."
"Aku tidak benar-benar tak kembali. Nanti kau jadi pemilik apartement ini dong."
Changkyun mengerjap pelan sebelum mengelus-elus dagunya.
"Benar juga ya."
"Kenapa aku tidak berpikiran sampai sejauh itu."
"Aaa...Aku mengerti, seharusnya aku membatalkan kontrak kita setelah aku mendapatkan apartem-"
"Kau sedang merencanaka kejahatan tetapi mengucapkannya keras-keras?" sinis Wonho tak bisa ditahan.
Changkyun mengerjap lagi.
"Ah tidak, hanya...wacana?"
Wonho mendengus keras.
"Sudah, kau masuk kelas saja. Anak baik-baik sepertimu tidak cocok untuk membolos. Aku tidak akan pergi kemana-mana."
Wonho mendorong punggung Changkyun sampai ke pintu keluar.
"Ah! Hyung!"
Wonho terkejut saat Changkyun tiba-tiba memutar tubuhnya yang sudah terkukung oleh kedua tangan Wonho ti bahunya, apalagi saat yang lebih mudah kembali menghadapnya dalam jarak dekat sembari melotot.
"Apalagi?!" Wonho tidak terlalu suka bersikap kasar tetapi rasanya lebih baik dia marah-marah daripada Changkyun berakhir di-
"Hyung harus berjanji lagi kalau tidak akan pergi ke club!"
Wonho melongo.
Changkyun cemberut dan mulai menarik ujung kerah kaos Wonho yang dijadikan baju tidur itu.
Kenapa kau menggemaskan sekali sih?
"Kenapa diam? Ayo hyung, berjanji lagi!"
"Iya iya, aku berjanji!" Wonho berseru keras sebelum memutar tubuh Changkyun agar tak menghadapnya lagi. "Apa perlu dilakukan pinky promise sekalian?"
"Pinky...promise?" tanya Changkyun terlihat kebingungan. "Nama member girlband?"
Wonho menatapnya horror. "Jangan bilang kau tidak tau."
"Aku kan tidak punya siapa-siapa untuk diajak melakukan hal dengan nama konyol itu."
"Pinky promise itu kalau kau mau melakukan janji dengan seseorang. Seperti ini," Wonho menarik tangan kiri Changkyun lalu menautkan kelingking keduanya.
"Seperti ini. Banyak orang yang masih melakukan-"
"Kekanak-kanakkan sekali sih."
Wonho melongo (lagi).
Bukan, bukan karena perkataan menusuk dari Changkyun.
Tapi saat tautan jari mereka semakin mengerat dan dia bisa merasakan betapa halusnya kulit Changkyun sekaligus melihat senyumnya mengembang saat memperhatikan jari kelingking keduanya.
"Tapi tidak buruk. Masa kecilku kan tidak bahagia jadi yah aku suka."
"H-hah?" Wonho tergagap sebentar. Semoga saja wajahnya tidak memanas atau apalah itu. "Kau bilang apa barusan? Su-suka...? Pada..."
"Ish, bukan itu," Changkyun buru-buru menarik kembali tangannya lalu merengut.
"Sudah ya, aku berangkat dulu. Hyung jangan pergi ke club ya?"
"Sebenarnya maksudmu itu memintaku untuk tidak pergi ke club karena alkohol dan wanita atau Jooheon sih?"
Bibir tipis Jooheon terbuka sedikit.
"Joo...heon?"
Wonho tersenyum. "Berarti aku bisa menemui Jooheon sebelum dia ke club? Atau mengajaknya kelu-"
"Aku berangkat dulu. Sampai jumpa."
"Aku tidak pernah meniduri orang sembarangan. Aku masih mau sehat tau!"
Changkyun mendengus keras setelah sepatunya sudah selesai ia pakai.
"Aku tidak peduli dan tidak menanyakannya ya."
BRAK!
Wonho terkekeh pelan.
Astaga,jadi sebenarnya Changkyun itu cemburu pada Jooheon dan wanita-wanita jalang itu yang selalu ketemui setiap hari Senin atau khawatir aku akan sakit karena alkohol aku jadi bingung.
Tapi tetap itu manis.
...udah gini aja?
Nggak lah
Muehehe
...
(next chap!)
"Hyung..."
"Ti-tidak terjadi apa-apa kok."
"Semuanya akan baik-baik saja."
"Neon...gwaechana?!"
"Bisakah kau memelukku lebih lama lagi?"
"Percayalah padaku."
"Jinjjayo? Dahaengida..."
"A-aku hanya takut. Ya, hanya takut. Takut yang tak berlandaskan apapun hehe."
"Ini...Hyungwon...ya?"
"Tidak akan ada yang pergi kemana-mana. Yakso."
"Kau?"
...
HAYOLOH
Siapa yang minta ada konfliknya?! Ayo ngaku!
G
Paan sih:")
Btw nax jakarta, ahok memimpin gengs.
Oh ya.
Jung teh gajago bikin konflik, pasti belibet jadi konflik pasaran ajalah ya:")
(ps hiatusku belum selesai huhu)
