A/N: RE-UPDATE PERIHAL YANG KEMARIN ITU SALAH POST DOKUMEN, MAAF!^^
CHAPTER 12
.
Kyungsoo membiarkan bulir bening dari matanya terus melesak keluar. Baekhyun terisak berusaha menenangkan dirinya sesaat setelah Baekhyun mulai bisa mengendalikan dirinya, ia merasa ia ingin mengatakan sesuatu pada Kyungsoo yang seharusnya ditujukan pada Chanyeol. Ia merasa ia harus mengklarifikasi sesuatu yang membuat keadaan menjadi salah paham.
"Kyung," panggil Baekhyun membuat Kyungsoo buru-buru menghapus air matanya.
"Ceritakan saja jika kau memang butuh. Aku bersedia mendengarkan," kata Kyungsoo dengan suara sedikit serak dan agak tersenyum tipis.
Baekhyun menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya lewat mulut. "Begini," Ia berhenti sejenak. "Saat itu aku benar-benar kacau. Aku membutuhkan Chanyeol, tapi ketika kau datang waktu itu aku merasa waktunya sangat tidak tepat. Semua semakin membuatku merasa rumit saat Chanyeol disana,"
"Apa Chanyeol mengganggumu dengan Yifan?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak, Kyungsoo. Hanya saja aku merasa bersalah," Banyak asumsi-asumsi aneh hinggap di benak Baekhyun. Ia sama sekali tidak menyalahkan keberadaan Chanyeol, namun apakah Baekhyun harus menatapnya dengan nafas tercekat karena ada Yifan disana. Chanyeol dan Yifan. Dan semua itu akhirnya membuat Chanyeol pergi. Baekhyun sebenarnya melihat sosok itu, tetapi ia tidak menggubrisnya. Dan Baekhyun punya alasan yang sulit diungkapkan.
"Ketika kalian –kau dan Kai– pulang, aku berfikir apa aku harus menyerah dengan perasaanku. Aku merasa –hampa. Aku tahu tak seharusnya aku berfikir begitu, tapi perasaanku tak bisa dibohongi, Kyung. Perasaanku pada Chanyeol mungkin sudah memudar," Baekhyun mengatakan itu sekarang dengan tidak yakin, ia benar-benar tidak tahu apa yang dimaksudkannya dengan memudar. Kyungsoo berpikir sejenak. "Jadi… apa aku harus menghilangkan Chanyeol atau –,"
"Aku minta maaf jika keegoisanku membuat novelmu terganggu. Keputusan ada di tanganmu, Kyung,"
Oh, God.
Demi apapun Kyungsoo bingung sekarang. Ia tak tahu apakah Chanyeol harus kembali masuk ke dalam kehidupan Baekhyun atau tidak lagi sama sekali. Kalau saja Baekhyun mengatakan ia masih mencintai Chanyeol, hal itu jelas akan lebih mudah bagi Kyungsoo. Pria dengan mata bulat itu menghela nafasnya dan memeluk Baekhyun.
"Apakah kau masih mencintainya, hyung?"
"Aku tidak tahu, Kyung," Baekhyun menggeleng sambil nyaris terisak lagi. Kyungsoo berpikir ia harus menemui Kai besok. Barangkali pria tan itu memiliki ide karena Kyungsoo benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Apakah kau ingin bertemu Chanyeol dan mengatakan segala hal yang belum kau katakan padanya?"
Baekhyun terdiam sebentar sebelum menjawab ragu, "Ya, mungkin memang harusnya begitu,"
Satu bulir air matanya jatuh dan Baekhyun membiarkannya mengalir, berharap Chanyeol dapat melihatnya.
Sabtu, 5:15PM
Kyungsoo tidak tahu lagi harus melakukan apa setelah tadi ia menelepon Jongdae dengan video call di ponselnya dan ia dapat melihat eyeliner tipis dari mata pria di sebelah sahabatnya yang tampak cantik dan nyaris sempurna. Wajah ramah familiar itu menyapanya ketika Kyungsoo mengundang mereka untuk sekedar makan siang sekaligus membantunya membersihkan ruang tamu. Dan mereka tidak keberatan. Dan sekarang, Kyungsoo harus mempersiapkan dirinya untuk kembali ke sekolah lusa besok karena masa cutinya sudah berakhir. Kyungsoo akan melanjutkan aktivitasnya sekaligus perjanjiannya dengan Kai selesai.
Berbicara mengenai perjanjiannya, Kyungsoo belum bertemu dengan bayangan tan itu. Satu-satunya figur yang terbesit di benaknya beberapa mili-detik yang lalu. Kyungsoo sedang berbaring tengkurap di ranjangnya putihnya yang nyaman dan menarikan jarinya diatas mobile PC nya tampak menimbang bumbu apalagi yang harus ditambahkan kedalam ceritanya.
Deg.
Kyungsoo meneruskan rangkaian kata dan kalimat yang masih mengalir di pikirannya, menuangkan segalanya dalam bentuk tulisan walaupun perasaan itu kembali menghinggapinya dan Kyungsoo berusaha mengabaikannya. Seperti ia sudah terbiasa namun tetap saja rasa itu membuat hatinya bersorak setengah mati. Perlahan Kyungsoo memejamkan matanya merasakan hal aneh yang menggelitik. Perutnya kembali dihinggapi kupu-kupu ketika ia merasa baju yang menempel di punggungnya terbuka dan terpaan udara hangat membuat bulu kuduknya merinding.
Punggungnya basah dan seperti dilumat oleh seseorang membuat Kyungsoo meloloskan lenguhan lembutnya.
"K-kai..ah–,"
Kyungsoo tidak tahan dengan sentuhan Kai yang terus menjalar ke setiap inci tubuhnya. Mencium lembut punggungnya dan suara kecupan menggema di telinga Kyungsoo, suara kecupan yang Kai ciptakan ketika menyesap kulit Kyungsoo nyaris membuat pria berkulit pucat itu kehilangan kesadarannya.
"Kau merindukanku, hm?"
Kyungsoo nyaris tidak bisa mengeluarkan suara–atau mungkin hanya desahan– karena tidak fokus.
Dan ia berusaha keras untuk terus menulis karena takut terbuai oleh pria yang lebih mirip hewan kelaparan yang siap menerkam Kyungsoo kapan saja.
"Y-ya..,"
"Jangan seperti itu Kai–,"sambung Kyungsoo.
Kyungsoo mencoba untuk benar-benar sadar ketika pria tan itu terus saja menjamah punggung mulusnya. Kai tersenyum dalam kegiatannya menggoda Kyungsoo. Ia berharap Kyungsoo menyukainya karena pria bermata bulat itu sesekali mendesah tertahan sambil menggigit bibirnya.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu," kata Kai disela ciumannya sebelum ia menenggelamkan wajahnya diatas punggung mulus Kyungsoo. Menghirup aroma lembut seperti bayi yang polos namun sangat menggoda birahi pria tan itu.
Kai menempelkan pipi kirinya pada punggung bawah Kyungsoo, mendentumkan jarinya disana dan membiarkan nafasnya menerpa kulit putih pucat itu. Ia tampak berpikir sementara Kyungsoo terus saja menulis. Tangan Kai menjelajahi pinggang Kyungsoo hingga ia memeluk pinggang kecil itu dan berakhir di perut Kyungsoo dan tangannya mengusap bagian itu. Kenyamanan tubuh Kyungsoo membuatnya tertidur disana. Atau sekadar memejamkan matanya menikmati tubuh Kyungsoo secara tidak langsung.
"Kai?"
Tidak dijawab.
Kyungsoo tersenyum, ia merasa ia ingin mengucapkan sesuatu sambil menulis. Suara keyboard ponsel sebagai musik latar ketika suara Kyungsoo menggema diruangan ini. Dan Kai mendengarkannya dengan hati-hati.
"Aku merindukanmu Kai. Kau tahu, demamku sudah sembuh dan pilek juga bersin beberapa hari yang lalu benar-benar sudah pergi. Kurasa aku menyadari satu hal," Kyungsoo terdiam sejenak menggantungkan kalimatnya diujung tenggorokannya, "Kau penyebab aku sembuh," katanya sambil tersenyum simpul.
Kata-kata yang berhasil Kyungsoo katakan dari mulutnya terdengar polos dan memang tidak sebaik yang Kai ucapkan. Kyungsoo tidak sepandai pria yang sedang tertidur itu dalam hal berbicara. Terkadang Kyungsoo berbicara terlalu jujur dan polos hingga ditertawakan oleh Kai. Namun itu satu-satunya hal yang sangat dicintai Kai, tidak ada kebohongan dalam diri Kyungsoo. Ia hanya mengatakan apa yang terjadi dengan semburat merah di kedua permukaan pipi yang membuat Kai ingin menghantam pipi itu dengan bibirnya.
"Aku tahu mungkin terdengar buruk karena aku memang tidak bisa berbicara sebaik dirimu," Kyungsoo terkekeh sendiri ketika menyadari dirinya sendiri mengatakan hal itu, "Tapi aku merasakan begitu. Thanks,"
Tidak ada lagi suara setelah senyum Kyungsoo membuat Kai berasumsi bahwa pria itu sudah selesai bicara. Tangan Kyungsoo terjulur kebelakang untuk meraih surai rambut Kai dan mengelusnya dengan lembut, merasakan salah satu bagian yang disukai Kyungsoo, rambut hitam berantakannya yang membuat Kyungsoo mengusahakan dirinya untuk tidak tergoda dan nafasnya selalu nyaris terhenti. Alih-alih neuron pria yang tidak sepenuhnya tertidur itu mengartikan signal lain, ia menyukai jemari Kyungsoo bermain di surai rambut hitam pekatnya, memainkannya dan mengusapnya. Atau meremas kecil untuk menggodanya.
"Aku mencintaimu, Kai,"
Dan seketika saja ranjang Kyungsoo bergerak, Kai bangun dan mensejajarkan tubuhnya dengan Kyungsoo hingga kepala mereka berhadapan. Kyungsoo terkejut menatap Kai dengan mata itu lagi, mata bulat yang–
"Ngh–,"
Kai mendaratkan ciuman itu di bibir Kyungsoo dan melumat nya dengan hati-hati. Ia berusaha menyampaikan pada Kyungsoo betapa ia menginginkan dirinya. Lewat sebuah ciuman yang lembut tapi kuat, nyaman tapi cepat, tulus tapi bernafsu. Kai menyesap bibir bawah Kyungsoo membuat pria polos itu mati-matian mendesah untuk mencegah air liurnya mengalir dari celah mulutnya karena ciuman ini semakin memanas.
"K-kai–,"
"Hm–,"
Kyungsoo berusaha mengambil nafas ketika Kai berhenti beberapa detik yang ternyata malah memasukkan lidahnya kedalam mulut Kyungsoo. Menghabiskan waktu bersama dengan ciuman penuh arti yang hanya mereka yang mengerti. Kai membawa Kyungsoo terbang sejauh mungkin dan tidak membiarkan pria itu turun, setidaknya untuk sekarang karena ia sangat merindukan sosok Kyungsoo. Kai ingin terus saling bertukar udara dan saliva di tengah detik waktu yang terus berdenting bersama, menghabiskan petang yang kembali menjelang bersama Kyungsoo hingga malam tiba.
Kai mengubah ciumannya menjadi lebih lembut, karena ia tidak menginginkan penolakan dari Kyungsoo di awal sehingga ia memburu ciumannya agar tidak ada penghindaran dari pria itu, seolah menjelaskan pada Kyungsoo betapa ia membuat pria tan itu frustasi karena dirinya. Namun nyatanya, Kyungsoo membalas ciuman itu tidak kalah panas walaupun ia masih berusaha menyesuaikan tempo ciumannya, karena sejujurnya, pria itu juga menginginkan ini semua. Menginginkan Kai yang terus saja menyentuhnya, menggerayangi tubuhnya dengan perlahan, serta ciuman yang sangat dirindukan olehnya. Lumatan pelan yang didapat bibir Kyungsoo di bibir atasnya bergantian dengan bibir bawahnya.
Kyungsoo menggantungkan bibirnya di ujung bibir Kai, membuat pria itu kembali frustasi sambil memejamkan matanya. Kai ingin saja terus melahap bibir manis Kyungsoo namun ia menahan itu semua, setidaknya ia membiarkan Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, "Waktu kita masih panjang, tidak perlu terburu-buru,"
Kai tersenyum diantara tautan bibir mereka yang menggantung dan langsung kembali melumat bibir Kyungsoo dengan lembut. "Aku tahu," katanya membuat Kyungsoo ikut tersenyum diantara ciuman mereka.
"Hey, Kyung!" Sebuah suara memekik.
Seseorang berusaha mensejajarkan tubuhnya disamping Kyungsoo dan memulai pembicaraan yang sebenarnya tidak diharapkan Kyungsoo di pagi buta seperti ini.
"Beberapa minggu lagi, kau tahu kan, ujian akhir. Kau sudah mempersiapkannya?"
Kyungsoo membulatkan matanya sebelum menghela nafas berat, "Ya, aku tahu,"
Benaknya berputar memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak relevan dengan ujian akhirnya. Senyum miris menghiasi wajah putihnya dan ia berusaha untuk mengabaikan perasaan aneh yang muncul. Editornya semalam menelepon, dan ia bersikeras –atau memang nadanya terdengar begitu– untuk bertemu Kyungsoo. Pria itu sama sekali tidak mempunyai ide mengapa Lu-ge seperti mengejar deadline novelnya, bahkan jauh dari tanggal perjanjiannya. Bagaimana pun Kyungsoo merasa ia tidak mempunyai hak untuk membantah, sehingga apa yang ia katakan semalam hanyalah persetujuan.
Dan persiapan untuk beberapa minggu. Ujian akhir dan ia tidak yakin ia bisa melanjutkan novelnya atau tidak.
Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang yang lain dan menyuruhnya untuk pergi ke perpustakaan. Seseorang ingin menemuinya, katanya.
Aroma pengap buku langsung menyambut Kyungsoo ketika ia masuk ke ruangan yang cukup besar berisi ilmu itu. Ia tak tahu siapa yang ingin menemuinya dan dengan polosnya si pria bermata bulat itu menurut untuk pergi kesini. Seseorang dengan rambut pirang dan menunggunya di salah satu meja dan diyakini Kyungsoo itu adalah salah satu guru native yang cukup peduli dengan nilainya.
"Do Kyungsoo, have you got well?"
"Yes, Sir. I've completely recovered,"
"Glad to hear that. I just remind you that you have postponed your class for a week and as you know, a few next week there will be final exams. I hope you can prepare yourself well."
"Sure. I'll start to review some lessons I've missed and some more that will be tested for the exam,"
Pria paruh baya itu mengangguk mendengar dialek bicara Kyungsoo yang tidak begitu buruk untuk levelnya dan kemudian beranjak pergi setelah meninggalkan senyum pada Kyungsoo yang menghela napas pelan dan ikut beranjak untuk kembali meminjam buku perpustakaan yang bahkan di apartemennya saja belum ia kembalikan.
"Kau belum mengembalikan buku 9 Summers 10 Autumns, kan?" Katanya ceria melihat murid langganan yang meminjam buku padanya.
Kyungsoo membalasnya dengan senyuman, "Iya, akan kukembalikan besok,"
Kemudian ia pergi setelah melambaikan tangan pada wanita penjaga perpustakaan yang ramah itu.
"Hey, D.O-nim,"
Siapa lagi itu kalau bukan si mulut bocor Jongdae yang membuat Kyungsoo buru-buru menutup mulutnya dan mendaratkan pukulan kecil pada lengannya.
"Maaf, maaf," Kata Jongdae setelah melihat ekspresi Kyungsoo yang berubah kelabu.
"Chen, kau bisa menemaniku nanti?"
"Kemana?"
"Kantor Lu-ge. Ia ingin bertemu denganku hari ini dan sejujurnya aku tidak berniat demikian," Jawab Kyungsoo seadanya.
"Kalau begitu tidak perlu pergi," Kata Jongdae ringan dan sumringah membuat Kyungsoo lagi-lagi mendaratkan pukulan padanya.
"Jangan bilang kau memang tidak bisa menemaniku,"
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebentar ketika menebak Jongdae akan kembali menghabiskan waktunya dengan Minseok. Well, Jongdae juga berpikir begitu tadinya.
"Tidak juga," Jawab Jongdae sambil mengusap tengkuknya asal sambil menyeringai mengelak.
"Lalu? Ayolah, okay?"
Jongdae berpikir sejenak sebelum menyetujuinya, hitung-hitung sebagai balasan terima kasihnya saat itu, ketika Kyungsoo membantu dirinya menyusun skenario ketika akan bertemu Minseok tempo lalu dan sejujurnya Jongdae masih berhutang cupcakes padanya.
Jongdae mengangguk dan menaikkan bibirnya membentuk sebuah senyum.
"Oh ya, cupcakes?"
Kyungsoo menghentikan langkahnya ketika menuju kelas dan menatap Jongdae dengan mata bulat jernihnya. "Kau ingat?"
Pria dihadapan Kyungsoo memutar bola matanya malas, ia gagal. Kyungsoo mengangguk.
"Ya baiklah, nanti kita kesana, puas?"
Kyungsoo menaikkan kedua alisnya dan tersenyum senang. Jongdae memang harus mentraktirnya, bahkan seharusnya lebih dari itu.
"Sepertinya aku menyukai Minseok,"
Jongdae mengedarkan pandangannya lurus tanpa beralih pada Kyungsoo disampingnya ketika kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, kemudian tenggelam kedalam pikirannya yang mulai dipenuhi oleh pria pipi chubby yang akhir-akhir ini mengganggu benaknya.
Kyungsoo menyikut perut Chen dari arah samping sambil tersenyum ketika sahabatnya juga tersenyum karena membayangkan wajah manis Minseok, "Memang begitu kan. Baru menyadarinya? Dasar payah," Hardik Kyungsoo.
"S-Sehunnie–ah"
"Hmm?"
Suara lembut Luhan meracau hingga memenuhi seluruh sudut ruangan. Seperti melodi indah, suara itu menggema diseluruh ruangan ini ketika Sehun melumat sekaligus menggigit bibir bawahnya membuat pria dengan garis rahang tegasnya memunculkan senyum miring disela ciumannya yang semakin panas. Sesekali Luhan meremas rambut tebal Sehun ketika pria albino itu membuatnya sulit bernafas dan menahan salivanya sendiri karena Sehun terus saja menyesap bibir plump Luhan yang manis. Luhan bahkan memohon untuk menghentikan ini lewat penolakan kecil yang ia berikan namun sayangnya pukulan-pukulan itu tak lain hanya belaian lembut bagi Sehun.
"S..Sehun, please..sh–"
"Jangan pernah memanggilku anak kecil lagi, hyung.." Sehun terdengar frustasi ketika ia berhenti namun jarak ini masih jauh dari kata satu inci. Kata-kata itu keluar tepat didepan bibir Luhan yang terlihat lebih berwarna merah kontras daripada warna peach seperti biasanya.
Manik mata Sehun menatap Luhan yang memejamkan matanya dan berusaha mengatur gerak dada yang liar berusaha memompa oksigen ke seluruh tubuhnya. Semakin Sehun melihatnya semakin pria itu ingin menerkam Luhan sekarang juga. Menyentuh kulit seputih susu dan mengecup hingga Luhan menyerah karenanya dan meloloskan erangan pasrah. Namun sayangnya, bagi Luhan yang Sehun lakukan kali ini tidaklah lucu sama sekali. Luhan benar-benar kehabisan nafas dalam gendongan Sehun dan pria itu sama sekali tidak memberikannya jeda untuk berbicara.
"Turunkan aku, Sehun,"
"Tidak, hyung,"
Sehun menolak, menatap Luhan yang masih sibuk mengatur nafasnya yang terengah. Ia malah mengeratkan gendongannya agar Luhan tidak jatuh. Luhan memberikannya tatapan tajam ketika Sehun melakukan itu, bersikeras agar Sehun mau melepaskannya.
"Turunkan aku, Sehun. Sekarang," Luhan mengulang bicaranya dengan nada yang sedikit keras.
"Dengan syarat kau tidak boleh memanggilku atau menganggapku anak kecil yang tidak bisa apapun," Jawab Sehun tak kalah keras kepala. Luhan menghela napasnya dan menatap Sehun dengan tatapan tajam, sambil berusaha untuk bergerak agar bisa terlepas dari Sehun.
"Hyung," Sehun memeluk Luhan dalam gendongannya lebih kuat, berbisik sehalus mungkin hingga Luhan merinding dan berusaha untuk tidak terbuai.
Tiba-tiba Sehun menurunkannya.
"Kau boleh keluar dari sini, Sehun,"
Sehun masih bergeming menatapnya ketika ia malah memalingkan wajahnya tidak berniat menatap pria yang dihadapannya.
"Hyung, maaf. Aku hanya–" Sehun mendekat dan ia berusaha memeluk Luhan sebagai permintaan maafnya. Sayangnya Luhan melangkah mundur dan wajahnya masih tidak ingin bertemu Sehun.
"Terserah,"
Belum sempat Sehun kembali menjawabnya, suara derap langkah terdengar semakin mendekati arah pintu. Sehun sadar mungkin itu salah satu staff yang ingin bertemu dengan Luhan sehingga ia cukup tahu diri untuk keluar dari ruangan canggung ini. Meninggalkan Luhan sendiri dengan beberapa tanda kemerahan di leher putih Luhan.
"S..Sehun?" Kyungsoo tergagap, terlalu terkejut ketika mendapati Sehun diambang pintu ruangan editor yang dikenalnya dengan wajah yang hampir jauh dari kata baik.
"Lu-ge?"
"Hm?"
"Kau baik-baik saja? Apakah aku mengganggumu dengan–"
"Tidak, Kyung. Masuklah," Luhan masih berusaha memperbaiki penampilannya untuk menghindari asumsi negatif dari Kyungsoo dan Chen.
Selama beberapa menit belum ada yang memulai pembicaraan. Kyungsoo dan Jongdae masih berusaha menerka apa yang terjadi dengan kedua orang itu sementara Luhan masih tidak bisa mengaktifkan sel saraf otaknya, atau Sehun terlalu membawanya terlalu tinggi bersama emosi yang membuatnya menghela napas berat untuk menepis dan membuang Sehun dari benaknya.
"Jadi bagaimana dengan tulisanmu? Kau sudah lebih baik, right?"
Kyungsoo mengangguk, "Ya, lebih baik."
"Kuharap kau bisa menyelesaikannya segera, kau tahu aku menunggu tulisan itu beredar dipasaran dan banyak orang yang akan membacanya,"
Kyungsoo sedikit bingung ketika Luhan menceritakan kesannya pada cerita yang dibuat Kyungsoo seberlebihan ini. Well, ia sendiri belum pernah melihat Luhan yang biasa ceria ini menjadi sedikit mendung.
Lagi-lagi Kyungsoo hanya menjawabnya dengan mengangguk mengerti sementara Jongdae melihat ada yang aneh dengan pria itu.
"Beberapa minggu lagi akan ada ujian akhir, tapi mungkin akan ku-usahakan, ge,"
"Kutunggu, lebih cepat lebih baik,"
Apa yang ingin dibicarakan Luhan agaknya tidak lagi berarti disini, ia tidak tahu lagi apa yang harus disampaikan pada client-nya. Untung saja Kyungsoo mengerti dan segera mengakhiri pertemuan yang tidak begitu menyenangkan ini dan meninggalkan Luhan sendirian.
"Kau merasa ada yang aneh dengan kedua orang itu? Apakah mereka sedang mengalami masalah yang serius?"
Kyungsoo mendengus mendengar pertanyaan bodoh dari Jongdae walau ada benarnya. Kyungsoo mengangkat bahunya, "Entahlah,"
"Apa mungkin.. Sehun menciumnya?"
Setidaknya pemikiran Jongdae sama dengan Kyungsoo. Beberapa kali Luhan membenarkan kerah bajunya untuk menutup hickeys samar yang diciptakan Sehun di lehernya dan bibir merah kontras yang terlihat sedikit bengkak. Luhan terlalu sensitif untuk itu.
"Sudahlah, aku tidak tahu, Chen. Lebih baik kau menepati janjimu tadi. Aku ingin cupcakes Zhang,"
Kyungsoo berusaha mengganti topik pembicaraan yang masih membuat Jongdae bingung, setidaknya ia ingin mengerti mengenai apa yang terjadi. Namun sahabatnya kali ini sepertinya tidak tertarik dengan bahan pembicaraan itu.
Entahlah, hanya perasaannya saja atau memang ia yang akhir-akhir ini terlalu sensitif. Menganggap kalimat sederhana bisa menyinggung kepada hal-hal yang sama sekali tidak ingin dipikirkannya. Kyungsoo ingin segera pulang dan kembali bertemu seseorang. Baru satu hari dan ia ingin kembali bertemu dengannya lagi. Setidaknya membuat perasaannya lebih baik sejak ia menyadari bahwa Kai adalah sumber kebahagiaannya. Satu-satunya pereda rasa khawatir dan rasa rindu yang kian membesar hingga ia sama sekali tidak fokus pada ucapan Chen.
"Kyung, kau tidak apa-apa, kan?"
"Hm, tidak," Jawabnya sambil mengambil sekantung paper bag yang disodorkan oleh sahabatnya.
"Hutangku sudah lunas, bukan?"
Kyungsoo terkekeh sebelum mengangguk mengiyakannya. Jongdae sebenarnya curiga dengan perubahan sikap Kyungsoo setelah cutinya. Ia semakin terlihat serius atau cenderung murung. Entah apa yang dilakukannya selama ia tidak ada –coret– sibuk berkencan dengan Minseok. Ia tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau aneh seperti misalnya keluar bersantai atau yang lainnya. Walaupun sebenarnya tidak ada perbedaan yang begitu signifikan. Tapi bagi Jongdae, sahabatnya berubah.
"Kyung, kau harus bercerita apapun yang mengganggu pikiranmu,"
Ucapan Jongdae membuat Kyungsoo mengusap lengan agak berototnya, meyakinkan sahabatnya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Mungkin aku memang tidak bisa melakukan hal banyak mengingat beginilah diriku, tapi setidaknya aku dapat mendengarkanmu. Atau kau butuh aku untuk menginap dirumahmu hari ini?"
Jongdae berhenti ketika di ambang pintu masuk tempat tinggal Kyungsoo dan seketika saja pria mulut bocor itu bersikap diluar dari kata biasanya dan itu membuat Kyungsoo tidak tahan untuk menahan tawa nya.
"Tenanglah, aku baik-baik saja," Kyungsoo berbohong. Seseorang sedang terbesit di benaknya dan betapa Kyungsoo ingin menyandarkan kepalanya di tubuh itu detik ini juga.
"Aku yakin Minseok menunggu panggilan teleponmu, kau harus menghubunginya,"
Jongdae mengernyitkan keningnya tidak yakin, "Ya, aku tahu. Dan kapanpun kau membutuhkanku, kau harus menghubungiku juga, oke?"
Jongdae terdengar memaksa kali ini, karena ia memang khawatir dengan sahabatnya yang tampak mencurigakan atau tidak begitu baik. "Jangan lupa untuk tidur," Jongdae mengingatkannya sebelum Kyungsoo masuk dan menghilang di balik pintu setelah memberikannya lambaian tangan sederhana.
Deg.
"Baru pulang?"
Kyungsoo sedikit terkejut hingga lupa untuk menjawab pertanyaan yang diucapkan pria itu ketika melihat Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membasuh dirinya dengan air hangat milik Kyungsoo. Dengan surai rambut yang tidak teratur serta handuk yang melilit asal di sekitar pinggangnya membuat Kyungsoo harus membulatkan bola matanya.
"Kau sudah makan? Aku akan membuatkanmu sesuatu,"
Pria itu beralih menuju dapur dan berusaha memasak apapun yang ia bisa walaupun Kyungsoo tahu itu tidak mungkin.
"Kau akan menghancurkan dapurku, Kai," Kata Kyungsoo sambil meraih pisau yang tergeletak asal di sekitar nakas dan mengembalikan makanan di pantry kecil sederhana miliknya.
"Tapi–"
Kyungsoo menciumnya kilat membuat pria tan itu tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
"Lebih baik kau memakai bajumu dulu,"
Perlahan Kyungsoo menggerakkan jemarinya di atas dada bidang Kai dan membentuk pola asal disana sambil menatap polos berusaha memberitahu Kai bahwa dengan tubuh setengah naked itu bukan ide yang bagus malam ini. Ia harus menyembunyikan rona merah di pipinya dengan melihat Kai seperti ini. Namun pria itu malah memeluk Kyungsoo sekarang dan mengusap pipi Kyungsoo yang sedikit chubby.
"Aku ingin menonton sesuatu bersamamu,"
Kyungsoo berpikir sejenak, menimbang apakah ia harus menghilangkan jadwal membaca bukunya malam ini atau menemani kekasihnya yang terlihat memohon. Pria yang lebih rendah dari Kai belum menjawab alih-alih membuat Kai langsung bersuara.
"Kau ada tugas?"
"Hm, sepertinya begitu. Beberapa minggu lagi akan ujian akhir,"
"Baiklah, kau belajar saja aku akan menonton sendiri," Usul Kai dengan senyum menenangkan, walaupun Kyungsoo tahu kekasihnya sedikit kecewa.
"You don't want me to suffer, and so do I,"
Kyungsoo berjinjit berusaha meraih bibir yang ada dihadapannya. Tetapi kali ini sepertinya ia sedikit kesulitan. Kai berinisiatif untuk mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya itu agar Kyungsoo bisa menciumnya lagi. Perlahan Kyungsoo menyesap bibir bawah Kai yang lebih dulu melumat bibirnya secara dalam. Kai memeluk pinggang kecil itu dan Kyungsoo mengalungkan lengannya di leher Kai sambil sesekali mengusap tengkuknya. Atau mengusap pipi dan menyentuh garis rahang pria tan itu dengan jari-jarinya dengan lembut. Ciuman itu tulus, tidak ada nafsu disana. Yang ada hanya kehangatan dan keharmonisan perasaan yang mengalir diantara kedua orang itu. Seberapa sering pun mereka melakukannya sekarang, itu tidak akan pernah cukup karena bentuk penyampaian ini tidak akan selesai menyampaikan betapa Kyungsoo tidak ingin kehilangan kekasihnya itu dan melihatnya kecewa karena dirinya tidak bisa menemani si bayangan. Setiap detik bersamanya adalah saat paling bahagia untuk Kyungsoo beberapa bulan belakangan ini.
"Tapi kau harus mandi dulu, Kyung,"
Kyungsoo mengangguk dan berhamburan menuju kamar mandi sementara Kai memposisikan dirinya untuk duduk manis di sofa setelah mengenakan celananya.
Kyungsoo keluar bersama dengan selimut yang dipegangnya, juga sebuah buku untuk berjaga-jaga kalau Kai ketiduran dan ia tidak bisa tertidur. Takut Kai-nya akan menghilang.
"Kau tidak memakai bajumu?" Kyungsoo bertanya dengan mata bulatnya.
Kai hanya menjawab dengan mengangkat bahunya dan seringaian singkat, "Tidak ingin,"
Kyungsoo mematikan beberapa lampu kecuali yang berada tepat diatas televisi. Ia ingin menciptakan suasana seperti bioskop dimana pasangan-pasangan yang keluar untuk menonton saling merangkul, memeluk, bahkan berciuman dan mengabaikan film yang sedang diputar. Walaupun Kyungsoo tahu itu tidak akan pernah terjadi kepadanya, namun baginya selama ia bisa bersama dengan si tan, itu bukanlah masalah.
Kyungsoo memposisikan dirinya duduk disamping Kai tapi pria itu malah menatapnya aneh.
"Kenapa?" Tanya Kyungsoo bingung.
"Kau bersedia memelukku?"
Kyungsoo tampak bingung dengan melontarkan pertanyaan, "Bagaimana caranya?" mengingat bahwa Kai bertubuh lebih besar darinya.
Kai menepuk kedua pahanya mengisyaratkan Kyungsoo untuk duduk disana. Belum sempat Kyungsoo bertanya, ia sudah ditarik oleh Kai dan memposisikannya seperti yang dikatakannya.
"Kai–"
"Duduklah dengan manis dan menemaniku untuk menonton malam ini,"
Kyungsoo mengerutkan keningnya ketika film yang diputar Kai sama sekali tidak sesuai dengan seleranya. Untuk masalah ini, Kyungsoo dan Kai memang berbeda. Kai menyukai hal-hal yang berbau thriller, pertarungan atau segala macam kekerasan yang tidak dimengerti Kyungsoo mengapa harus ada kekerasan selama bisa diadakan perdamaian. Sementara bagi Kyungsoo, hal paling menarik adalah filosofis, fiksi, science dan segala hal yang menurut pria yang sedang terperangah karena film itu adalah sebuah kebosanan. Ia bahkan tidak tahan melihat Kyungsoo terus saja membaca buku aneh yang tidak logis. Begitu juga Kyungsoo sekarang.
Kai meraih selimut yang tadi dibawa Kyungsoo untuk menutup kedua tubuh mereka yang duduk diatas sofa nyaman itu. "Kau benar-benar menghangatkan, Kyung," Katanya sambil menarik kain itu untuk menutup kedua tubuh mereka secara sempurna.
"Selimutnya yang menghangatkan, bukan aku," Kyungsoo membalas dengan senyuman ketika dirinya bersandar pada dada bidang Kai sambil menoleh dengan mata bulatnya untuk beberapa detik, menikmati pemandangan bibir merah Kai dihadapannya. Sementara pria itu memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagunya manja diatas bahu Kyungsoo setelah Kyungsoo menyudahi menatap Kai dan fokus pada film sambil mengatur debar jantungnya. Keduanya saling memeluk dan menghangatkan tubuh masing-masing. Kai merasa nyaman dengan panas yang di berikan Kyungsoo pada dirinya. Karena dengan memeluk pria itu, Kai merasa dirinya pria paling beruntung di dunia ini. Bahkan ia tidak peduli dengan kata berlebihan karena memang itu yang dirasakannya. Sesekali Kai mengecup puncak kepala Kyungsoo, menghirup aroma wangi dari rambut tebalnya.
Kyungsoo bisa merasakan tubuhnya rileks bersandar di dada bidang di belakangnya. Bagaimanapun ia merasa aman dengan posisinya. Seperti tidak akan ada yang meninggalkan salah satu dari mereka. Tidak akan pernah.
Pandangan Kai fokus mengikuti alur cerita ketika Kyungsoo mulai merasa bosan ditandai dengan tubuhnya yang mulai bergerak asal. Walaupun ia memutuskan untuk membaca bukunya. Pada beberapa menit pertama, Kai membiarkannya. Namun tidak lagi untuk beberapa menit selanjutnya.
Sesekali pria dibelakang Kyungsoo mengusap lembut perut Kyungsoo yang di berada dalam pelukannya. Atau bibirnya mengecup puncak kepala Kyungsoo dan menghirup aroma wangi yang menyeruak dari rambut tebal Kyungsoo. Sementara pria yang masih dengan cermat membaca cover bukunya hanya diam dan menikmati bibir Kai yang berkali-kali mengecup kepalanya gemas.
"Kai,"
Kyungsoo memanggilnya selembut mungkin ketika pria top-less dibelakangnya itu mengecup pelipisnya dan Kyungsoo beberapa kali mengedipkan matanya sambil tertawa kecil.
Sambil membaca bukunya, Kyungsoo berusaha mengabaikan Kai yang malah dengan sengaja mengecup tengkuknya beberapa kali sambil dengan pandangan mata yang berpura-pura fokus pada televisi dihadapannya.
Kyungsoo hanya bergeming dan membalikkan selembar kertas di bukunya.
Kai mengecup mesra daun telinga Kyungsoo membuat Kyungsoo menoleh dan menatapnya dengan mata bulat ketika Kai dengan senyum penuh artinya berpura-pura fokus pada layar televisi.
"Kai," Panggil Kyungsoo dengan tatapan mengancam namun dihiraukan oleh pria yang dipanggilnya.
Kemudian Kyungsoo kembali dengan bukunya.
Selembar lagi kertas dibalik oleh Kyungsoo, Kai mengecup pangkal tengkuknya sambil sedikit menghisap bagian itu.
"Ngh.."
Kai menjepit daun telinga Kyungsoo dengan kedua bibirnya sambil bergumam 'hm?' membuat Kyungsoo tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Sesekali ia menggeser bibirnya asal untuk merasakan daun telinga Kyungsoo yang lembut dan lunak. Pria tan itu memang tidak pernah berhenti mengganggu Kyungsoo. Ketika Kyungsoo ingin kembali fokus pada bahan bacaannya, Kai malah mengeratkan pelukannya dan mengusap lebih kasar perut mulus Kyungsoo. Bahkan ia menghembuskan udara dari mulutnya ke telinga Kyungsoo membuat pria yang berada di pangkuannya berdelik geli dan mulai tidak berdaya.
"Kai-"
Kai mengunci bibir Kyungsoo dengan bibirnya ketika Kyungsoo menoleh kebelakang untuk menatap sepasang mata tajam. Sayangnya Kai lebih dulu meraup bibir Kyungsoo untuk kesekian kalinya. Kyungsoo sedikit terkejut sehingga bukunya terjatuh dan spontan tangannya meremas jemari-jemari Kai yang masih bertengger manis di perutnya. Kyungsoo membalas ciuman yang diberikan Kai. Menyelaraskan tempo ciuman mereka karena kali ini ia tidak ingin Kai mengambil alih.
"Kau bisa membaca bukumu ketika aku tidak ada,"
"Tapi aku ingin kau selalu disini,"
Kai tersenyum mendengar ucapan Kyungsoo sebelum kembali meraup bibir manis Kyungsoo. Ia tidak tahu Kyungsoo bisa berbicara seperti itu. Tangannya mengusap pipi Kyungsoo hingga ke kelopak matanya yang tertutup. Jari-jarinya bisa merasakan Kyungsoo sekarang, ia ingin memiliki Kyungsoo malam ini walau ia tahu Kyungsoo harus tidur.
Kai memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Kyungsoo terbuai. Ia menutup tubuhnya bersama dengan tubuh kecil Kyungsoo dengan selimut. Kembali saling menyampaikan sesuatu dibawah sana, dibawah selimut yang menutup apapun yang ingin mereka katakan bersama, bukan dengan kata-kata tetapi jauh lebih dalam dari itu.
Karena Kai tidak pernah peduli dengan apapun sebesar ia peduli dengan pria yang sangat dicintainya. Ia rela mengabaikan film kesukaannya, ia rela untuk menjadi sandaran bagi Kyungsoo. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang menutup malam Kyungsoo dengan sentuhan yang memberikan Kyungsoo memori lebih banyak tentang mereka. Karena ia tahu, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi suatu hari nanti. Walaupun ia akan tetap menjadi bayangan yang tidak bisa dilihat oleh kekasihnya sendiri.
"Aku mencintaimu, Kyung,"
"Aku tahu, kau sudah sering me– Shh.. K-Kai–"
.
.
to be continued
Author's chingchong:
MAAF INI BUKAN UPDATE ;;_;;)/
yang kemarin itu aku salah post dokumen.. dan yang bener harusnya yang ini hehehe..
oh iya, pen name aye uda berganti yeeee.. dari kimjongwinn jadi exoajalah dan akhirnya jadi exogonzaga (plis jangan tanya kenapa namanya gonzaga/?)
udah dulu deh ya,
maap kalo merasa ter-PHP-kan mwhahahaha
saya permisi dulu..
/bwoooshh/?
