BAEKHYUN

(ChanBaek Ver)

Chapter 12

Perjalanan panjang menuju Ottawa kali ini tidak sepraktis yang Baekhyun dan Kris lakukan kemarin. Mereka harus benar-benar menunggu angkutan umum yang memaksa mereka untuk berada di dalamnya selama berjam-jam. Selama di perjalanan, Chanyeol sangat khawatir karena Baekhyun tidak berhenti menangis. Chanyeol berusaha membujuknya untuk diam, tapi Chanyeol tau kalau Baekhyun memang sangat mudah bersedih. Ia hanya bisa memandangi dan memeluknya sampai akhirnya Baekhyun tertidur lelap karena lelah. Sesekali Chanyeol mengobrol bersama Kris untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan begitu sampai di sana. Chanyeol berencana untuk membuka usaha sendiri, mungkin dirinya akan mencari pinjaman dan membuka sebuah distro kecil-kecilan dengan rumah di Ottawa sebagai jaminannya. Tapi untuk itu, Chanyeol harus belajar lebih banyak.
Untuk beberapa waktu, Chanyeol akan bekerja sebagai karyawan dimana saja. Iya yakin tidak perlu menunjukkan ijazah untuk itu karena terlalu banyak orang yang mengetahui reputasinya. Tapi ingatan untuk meninggalkan ke-Park -annya membuat ego Chanyeol timbul. Dia tidak ingin diterima karena Park. Chanyeol ingin diterima sebagai Chanyeol saja.
"Bagaimana dengan Jongdae?"
" Jongdae?" Kris bertanya heran. " Jongdae yang mana?"
" Jongdae yang selalu mentraktir kita sewaktu sekolah!"
" Jongdae yang bertubuh gemuk itu?"
Chanyeol mengangguk. "Aku bertemu dengannya di perusahan Developer itu sewaktu akan membeli rumah. Kami sempat mengobrol lama dan dia memintaku untuk menghubunginya jika butuh bantuan lagi. Aku akan menemuinya begitu sampai di Ottawa."
Dan begitulah. Chanyeol optimis untuk menemui temannya. Ia semakin tidak sabar dan selalu menghitung waktu. Begitu sampai di Ottawa, Chanyeol membawa Baekhyun ke rumahnya tanpa membangunkan wanita itu sama sekali. Dia tidak ingin Baekhyun menangis lagi jika terbangun. Chanyeol menggendong Baekhyun yang semakin berat ke dalam kamar utama di rumah itu dan membaringkannya di atas ranjang. Membuka sepatu dan jaketnya dengan hati-hati lalu menyelimutinya. Setelah itu Chanyeol mengganti pakaiannya dan menemui Kris yang sudah menyalakan televisi dengan suara kecil.
"Kau boleh pilih kamar yang mana saja, Kris. Asalkan malam ini kau jangan coba-coba untuk menggantikanku di kamar istriku!" Chanyeol berusaha mencairkan perasaanya yang beku. Untungnya Kris tertawa dan sebagian beban di dadanya menghilang.
"Aku ingin memilih kamar di dekat dapur. Aku ingin mengenang Mrs. Huang dan masakannya!"
Chanyeol tertawa lagi. Kris memang cukup dekat dengan Mrs. Huang ketika meraka masih berada di Calgary. "Baiklah, aku akan menemui Jongdae dulu! Jaga Baekhyun baik-baik!"
"Tentu saja. Kau menyimpan kartu namanya?"
"Tentu saja. Aku sudah menelponnya dari kamar tadi, sekarang tinggal mencari uang untuk membayar tagihan telepon! Aku pergi dulu!"
"Semoga sukses, kawan!"
Chanyeol mengangguk sebagai ucapan terimakasih. Ia segera keluar dari rumah itu dan menghindari kendaraan umum untuk menghemat uang. Ia dan Jongdae berjanji bertemu di sebuah taman kota dan tempat itu memang agak jauh dari kompleks. Chanyeol harus berjalan kaki hampir setengah jam untuk sampai di sana. Semua bangku terisi, tapi hanya satu buah kursi yang menarik perhatian Chanyeol. Karena ada Jongdae di sana. Laki-laki itu melambaikan tangannya sehingga Chanyeol menyongsongnya sambil berlari. Chanyeol duduk di sebelah Jongdae dengan napas terengah-engah. Ia sangat lelah karena berjalan jauh dari rumahnya.
"Apa yang terjadi padamu? Aku terkejut saat kau menceritakan sinopsisnya di telepon!"
Chanyeol tertawa renyah saat mendengar kata sinopsis di dalam kalimat Jongdae barusan. "Aku sudah mengatakan kepadamu, aku dan istriku diusir dari rumah karena aku menikah dengan Bae Juhyun!"
"Wanita yang membawa Sehun ke Denmark?"
"Dibawa Sehun ke Denmark!" Chanyeol meralat ucapan Jongdae, "Sehun yang membawanya ke Denmark!"
"Bagaimana kalian bisa bertemu?"
"Sehun mewariskan semua hartanya kepada wanita itu!"
"Dan kau merasa tidak adil, lalu mencari wanita itu untuk membunuhnya atau memastikan dia mati agar suatu saat dia tidak datang tiba-tiba dan menuntut harta itu?"
"Aku hanya memintanya menyerahkan harta warisan itu secara baik-baik. Jika dia tidak bersedia baru aku akan melakukannya!"
Kali ini Jongdae yang tertawa. "Lalu apa yang dilakukannya hingga kalian berakhir di pernikahan?"
"Haruskah ku ceritakan?"
"Aku harus tau semuanya, barulah aku akan memberimu pekerjaan!"
"Aku tertarik padanya, pada pandangan pertama. Tapi kau tau bagaimana aku, saat itu dia terlihat sangat jalang, tidak ada bedanya dengan perempuan murahan manapun di dunia ini. Dan aku hanya ingin menikmati keindahannya sampai aku bosan, aku hanya berpikir untuk bermain-main. Sungguh! Tapi ternyata pertahanannya cukup besar. Kau tau kenapa?"
"Karena dia mengetahui hubunganmu dengan Sehun?"
"Ya, karena dia tidak ingin berhubungan dengan Park manapun di muka bumi ini!" Chanyeol menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku semakin tergila-gila kepadanya karena ciuman kami yang pertama. Dia sangat berpengalaman dan liar, astaga. Aku bahkan tidak bisa melupakannya."
"Kau sepertinya mendapatkan perempuan yang cocok denganmu!"
Chanyeol mengangguk setuju. Ya, Baekhyun sangat cocok dengannya. Chanyeol sangat menggebu-gebu dan Baekhyun tampak liar dan mampu bertahan atas segala perlakuan Chanyeol kepadanya. Chanyeol tidak pernah kecewa kepada Baekhyun sama sekali dalam semua aktivitas seks mereka, bahkan untuk sekedar berciuman. "Dia meminta izin untuk melahirkan anakku!"
"Maksudmu?"
"Aku belum menikahinya saat itu. Siang itu seks pertama kami dan sangat hebat. Aku bersumpah, aku bahkan melupakan segalanya termasuk kontrasepsi, karena yang ada dalam pikiranku saat itu hanya memeluknya. Waktu itu aku mengatakan hal yang sama dengan apa yang ku katakan kepada perempuan-perempuan sebelumnya. Aku akan mencarikan dokter terbaik untuk menggugurkan kandungannya bila ia sampai hamil karena itu. Dan respon yang ku dapat berbeda. Dia memintaku untuk mengizinkannya memiliki anakku. Dia berjanji akan membawanya pergi jauh, dia juga berjanji tidak akan menggangguku lagi seumur hidupnya. Dan..."
"Dan kau tergugah?"
"Kau selalu bisa membaca pikiranku, Jongdae!"
"Wanita yang baik. Wanita yang berpikir untuk memiliki anak dan menjadi ibu pastilah wanita yang baik. Aku percaya itu. Kau memilih wanita terbaik untuk menemani hidupmu, kawan!"
"Sayangnya aku tidak berpikir begitu pada awalnya, aku masih meragukan kalau aku bisa setia kepadanya. Aku hanya mencintainya lebih lama dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah ku cintai selama ini. Sekarang dia sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa membuatnya terlantar dan kelaparan meskipun aku tau kalau dia tidak akan protes dengan itu. Hidupnya sebelum ini bahkan lebih buruk dibandingkan dengan kelaparan dan bersamaku!"
"Lalu apa rencanamu?"
"Aku akan mengumpulkan uang, mungkin suatu saat nanti aku akan membuka usaha sendiri. Apa saja asalkan bisa menghidupi istri dan anakku!"
"Sayangnya kami tidak bisa menerimamu sebagai karyawan di perusahan kami, Chanyeol!" Jongdae berujar dengan suara penuh kekecewaan.
Chanyeol benar-benar kecewa, bahkan Jongdae pun tidak bisa membantunya. Tapi Chanyeol harus berpikir positif bahawa itu semua bukan keinginan Jongdae. Jongdae tidak mungkin menolaknya. Chanyeol menepuk-nepuk bahu Jongdae beberapa kali. "Tidak masalah,Jongdae! Aku tau kau akan membantuku jika kau bisa melakukannya. Mungkin kesempatan untuk membantuku belum ada untukmu!"
"Tapi aku akan meminta bantuanmu!" Jongdae memandang Chanyeol dengan senyum. "Kau bersedia, kan? Membantuku untuk menangani perusahaanku bersama-sama? Aku akan memberikan uang yang pantas untuk orang yang kompeten sepertimu!"
Chanyeol sempat bingung, tapi kemudian ia tertawa. Jongdae mempermainkannya dengan kata-kata. Ia hampir saja memukul Jongdae karena senang. Sudah lama Chanyeol tidak tertawa bersama teman-temannya, bahkan bersama Kris. Hari ini, Chanyeol mendapatkan satu temannya kembali. Jongdae mengajaknya untuk makan-makan. Tapi Chanyeol menolak, ia harus pulang dan memberitahu kabar gembira itu pada istrinya. Jongdae menawarkan diri untuk mengantar, tentu saja Chanyeol setuju. Ia sudah terlalu lelah karena berjalan kaki tadi. Di sepanjang jalan, Jongdae menceritakan tentang rencana kerja dimana Chanyeol akan dipekerjakan sebagai Marketting Officer. Setiap kali Chanyeol berhasil menangani satu penjualan rumah, maka Chanyeol akan mendapat lima belas persen dari harga rumah yang ditawarkan. Selain itu Chanyeol akan mendapat gaji bulanan yang menurut Jongdae tidak terlalu besar. Tapi Chanyeol bersyukur karena setidaknya akan ada pemasukan untuknya dan istrinya.
Jongdae membekali Chanyeol dengan Pizza sebagai hadiah kerjasama mereka sebelum akhirnya mereka berpisah. Chanyeol pulang dengan bangga, memasuki rumahnya dan melihat Kris masih menonton televisi. Saat Chanyeol memamerkan Pizza di hadapan wajahnya, Kris bersorak kegirangan karena ia sudah sangat lapar.
"Baekhyun sudah bangun?"
Kris mengangguk. "Iya, dia bertanya tentangmu lalu kembali masuk ke kamar."
Chanyeol menoleh memandangi pintu kamar sejenak. Ia membongkar kotak pizza dan mengambilnya beberapa potong lalu membawanya masuk ke kamar. Baekhyun duduk termenung di atas ranjang. Begitu mendengar Chanyeol menutup pintu, Baekhyun langsung bangkit dan memeluk Chanyeol erat-erat. Chanyeol membelai punggungnya lalu mengajaknya untuk duduk kembali sambil menyodorkan beberapa potong pizza yang dibawanya.
"Kau lapar, kan? Makanlah!"
Baekhyun menggeleng. "Aku tidak berselera!"
Chanyeol menyentuh perut Baekhyun yang semakin membesar lalu membelainya secara perlahan. "Kalau kau, lapar tidak? Ibumu sedang tidak berselera. Bagaimana ini? Kau keluar saja dan makan bersama ayah!"
Baekhyun tergelak pelan. "Ya, baiklah. Aku akan makan!" beberapa potong pizza dilahap Baekhyun dengan cepat. Ia meninggalkan setengahnya untuk Chanyeol. "Kau makan juga!"
"Aku akan makan sisanya!"
"Ini kedua kalinya kau makan makanan sisa!"
Chanyeol tersenyum dan merasa sangat lega karena Baekhyun tidak menangis lagi. Setelah memastikan Baekhyun tidak ingin makan lagi, Chanyeol memakan potongan pizza yang tersisa di tangannya dan dengan cepat rasa laparnya berkurang. Setelah santapannya habis, Chanyeol kembali berbicara kepada Baekhyun.
"Aku dapat pekerjaan hari ini. Besok, aku akan meminjam uang Kris untuk belanja bahan makanan, begitu mendapatkan gaji aku akan mengembalikan uangnya. Aku yakin Kris tidak akan menolak!"
"Kau seharusnya tidak melakukan ini, Chanyeol! Kau dan aku hanya sementara, kan? Sampai anak kita lahir. Aku bisa tinggal sendirian, atau kau bisa meminta Kris menjagaku jika kau khawatir Luhan akan menggangguku. Kau tidak perlu keluar dari rumahmu!"
"Itu bukan rumahku!" Chanyeol merengkuh Baekhyun, menggenggam lehernya dengan kedua tangan lalu menciumnya. Ia sangat merindukan Baekhyun. Segala kekalahan yang dialaminya membuatnya merindukan istrinya dengan sangat. "Jangan pernah mengatakan kalau kita hanya sementara." Chanyeol menyentuh perut Baekhyun lagi. "Mulai sekarang, aku ingin bersama kalian selama yang aku bisa, seumur hidupku. Bagaimana?"
Baekhyun menatap Chanyeol berharap kalau semua yang didengarnya bukan hanya mimpi belaka. Chanyeol mengatakan ingin bersama dengannya selamanya dan Baekhyun sangat bahagia. Tiba-tiba ingatan Mrs. Park muncul, kebahagiaannya segera terlupakan. "Tapi aku merasa tidak enak kepadaMrs. Park . Aku sudah merampas Sehun dan sekarang membuat satu-satunya putra yang tersisa keluar dari rumahnya. Aku sungguh tidak nyaman!"
Chanyeol mengulum bibir Baekhyun sekali lagi, lebih lama lalu melepasnya dengan tidak rela. "Kalau ini, bagaimana? Sudah bisa membuatmu merasa nyaman?" lalu berpindah ke telinga sehingga Baekhyun bergidik karena geli. "Kalau yang itu? Atau perlu kita bercinta malam ini juga?"
"Hentikan! Aku tidak bisa melakukan itu tanpa suara. Bagaimana dengan Kris?!"
"Dia akan maklum! Atau aku harus memberikannya Headphone agar Kris tutup telinga!"
Baekhyun tertawa lagi. "Kapan kau akan mulai bekerja?"
"Besok!"
"Kalau begitu istirahatlah. Kita bisa melakukannya lain kali, tapi kau harus memastikan Kris pergi keluar rumah selama kita melakukannya!"

Mrs. Park benar-benar tidak mau keluar kamar sekalipun semenjak kepergian Chanyeol, ia juga tidak memiliki selera makan yang baik. Mrs. Huang selalu mendapati sisa makanan yang sangat banyak dari piring-piring yang diantarkan ke kamarnya. Terkadang, Mrs. Huang juga harus kecewa karena Mrs. Park bahkan tidak menyentuh makanannya.
Dalam waktu singkat, bobot tubuhnya berkurang dratis. Untungnya Mrs. Park cukup kuat untuk tidak jatuh sakit seperti kebanyakan orang seusianya saat mengalami stress berat. Ia hanya seringkali terdengar menangis, sesekali Mrs. Park meminta Mrs. Huang memanggilkan Luhan untuknya. Tapi Luhan sama sekali tidak bisa menghibur. Luhan malah semakin memperburuk suasana dengan penuh mengeluarkan kata-kata penuh hasutannya hingga pada akhirnya Mrs. Park tidak ingin ditemui Luhan lagi.
Mrs. Park tidak bisa memungkiri kalau dirinya merindukan Chanyeol, juga istrinya. Kasih sayang Mrs. Park kepada Baekhyun sudah dirasakannya sejak awal, karena menurut perasaannya Baekhyun adalah sosok yang sangat istimewa. Terlebih saat wanita itu mengguncang seisi rumah dengan kehamilannya. Bukan hanya mereka, bahkan seisi rumahpun ikut bahagia karena kebahagian mereka menular dengan cepat.
Mrs. Park menatapi pemandangan yang sudah ribuan kali dilihatnya melalui jendela kamarnya. Ia terkenang tentang segalanya, tentang bagaimana Mrs. Park membawa Chanyeol pulang dari rumah sakit saat diketahui bahwa ibu kandungnya meninggal. Saat itu Mrs. Park juga baru saja melahirkan anak berusia enam bulan, Sehun. Ia membawa Chanyeol pulang karena kebutuhan Chanyeol akan asi harus tetap terpenuhi meskipun anak itu tidak memiliki ibu lagi dan Mrs. Park merasa bisa menggantikan mendiang adiknya untuk itu. Sayangnya, Mrs. Park sudah terlanjur tidak bisa berpisah dan malah memisahkan Chanyeol dari ayah kandungnya. Pada awalnya Chanyeol masih sering pulang ke rumah ayahnya sewaktu libur sekolah, Mrs. Park kadang-kadang juga merasa kehilangan saat sekolah menelpon bahwa kedua anaknya tidak masuk sekolah dan pada sore harinya kedua anak itu ditemukan di danau Louise sedang bermain-main.
Marah yang dirasakannya selalu sama dengan marah kepada anak kandungnya sendiri, sayangnya juga. Mrs. Park tidak pernah merasa membeda-bedakan satupun diantara mereka. Tapi ternyata Chanyeol menganggap semua itu adalah beban? Perempuan itu bukan hanya merampas Sehun dari hidupnya, tapi juga Chanyeol. Dosa apa yang sudah diperbuatnya hingga segala kehidupannya menjadi seperti ini?
'Apa lagi yang tidak ku lakukan untuk keluarga ini? Aku menganggapmu sebagai ibuku sendiri. Aku juga sedih karena kehilangan Sehun. Aku selalu berusaha dengan baik menggantikan Sehun mengurusi segala kewajiban-kewajiban yang dilalaikannya, termasuk kewajiban terhadap Luhan meskipun aku sangat tertekan karena itu.'
Kata-kata Chanyeol begitu terngiang-ngiang. Benarkah kalau selama ini Mrs. Park membuat Chanyeol tertekan dengan segala kasih sayang yang diberikannya?
"Nyonya, kau tidak makan lagi?" Mrs. Huang menegurnya.
Mrs. Park menoleh, ia seringkali tidak sadar saat wanita itu mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya. "Aku sedang tidak berselera, Huang!"
"Kalau begitu paksakanlah, bagaimana kalau anda sakit?"
"Aku tidak sakit. Aku rasa tidak akan sakit meskipun aku sangat menginginkannya!"
Mrs. Huang terdiam mendengar keluhan itu. Dia tidak berani terlalu banyak bicara jika tidak diajak bicara. Mrs. Huang berusaha keras untuk membawa kembali semua makanan yang tidak disentuh sama sekali ke dapur dengan tanpa suara. Tapi bunyi dari dentingan halus dari piring-piring yang dibawanya membuat langkahnya harus terhenti karena Mrs. Park memanggilnya lagi.
"Huang!"
Mrs. Huang membalikkan tubuhnya dan mendapati Mrs. Park sudah memandangnya. "Ya?"
"Tinggallah sebentar. Aku ingin bertanya mengenai sesuatu hal kepadamu!"
Mrs. Huang meletakkan kembali piring-piringnya di tempat semula dan berdiri dengan kokoh. "Apa yang harus saya jawab, nyonya?"
"Selama ini kau membantuku merawat Sehun dan Chanyeol, benarkah aku membeda-bedakan mereka? Chanyeol berkata seolah-olah berada di rumah ini adalah beban untuknya. Karena aku membeda-bedakan mereka?"
"Tidak. Saya tau betul nyonya tidak begitu. Kasih sayang yang nyonya tunjukan sama besarnya. Keduanya selalu diperlakukan sama!"
"Lalu mengapa Chanyeol berkata seperti itu? Di bagian mana dari hidupnya aku pernah menyakitinya, Huang? Aku merasa sudah mencurahkan kasih sayangku sepenuhnya kepada Chanyeol. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri dan terus berkembang semenjak kepergian Sehun. Bagiku saat ini, Chanyeol-lah putraku satu-satunya!"
"Maafkan saya, nyonya. Jika saja boleh jujur saya ingin mengatakan ini sejak lama. Tapi kami diminta untuk selalu tidak terlihat dan tidak bersuara. Pelayan di sini hanya boleh menyaksikan apapun yang terjadi di rumah ini, jadi saya sama sekali tidak kuasa mengatakan apa-apa tanpa diminta!"
Pandangan Mrs. Park kepada Mrs. Huang semakin serius. "Sekarang katakanlah apapun yang ingin kau katakan. Aku tidak ingin ada satu halpun yang terlewat dari hidupku."
"Nyonya, kekesalan Chanyeol memang terpupuk baru-baru ini -jika saja delapan tahun masih bisa dibilang baru."
"Maksudmu?"
"Sebelum pergi, Sehun mengatakan kalau Chanyeol selalu bisa menggantikan posisinya dengan baik dan Sehun menginginkan Chanyeol untuk terus melakukan itu seumur hidupnya. Mungkin selama ini, Chanyeol tidak merasakan adanya beban di sana. Tapi, seperti umumnya anak-anak, mereka selalu merasa ada yang lebih disayangi diantara mereka, dan Chanyeol merasa kalau nyonya jelas lebih menyayangi putra nyonya sendiri, Sehun. Saat itu Chanyeol sama sekali tidak protes, dia cukup bersyukur dan berterima kasih. Saya mendengar percakapan mereka di suatu hari. Sehun mengatakan kalau dia akan menjadikan Chanyeol satu-satunya anak dirumah ini karena Sehun akan menghilang. Chanyeol tentu saja merasa senang meskipun ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya juga karena merasa sedih karena akan kehilangan Sehun, tapi dia yakin kalau Sehun akan bahagia dengan keputusan yang diambilnya karena Sehun bukanlah orang bodoh yang akan menyebabkan dirinya sendiri menderita."
"Jadi Chanyeol tau kalau Sehun akan pergi?"
Mrs. Huang mengangguk. "Chanyeol juga ingin merasakan kesempatan menjadi anak satu-satunya. Tapi begitu Sehun pergi, anda menjadikan Chanyeol sebagai Sehun tapi terus menangisi kepergian Sehun yang sebenarnya. Dari sana sakit hatinya timbul, hanya ada Sehun dan tidak ada Chanyeol. Sejujurnya saya juga merasakan hal itu. Nyonya selalu menyebut-nyebut nama Sehun, memanggil Chanyeol juga dengan nama Sehun. Menyerahkan tanggung jawab Sehun kepada Chanyeol, juga memaksa Chanyeol untuk membawa Sehun pulang karena saat itu nyonya selalu mengatakan ingin mati bila harus kehilangan Sehun. Aku rasa pada akhirnya Chanyeol terpaksa mencari Sehun dan membawanya pulang dengan paksa!"
"Ya. Aku sangat senang saat Sehun berada di rumah. Tapi Sehun sama sekali tidak betah, dia malah melarikan diri dua hari setelahnya dan mengalami kecelakan itu!"
"Saat itu Chanyeol menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Sehun. Dia selalu mengeluh, seandainya Chanyeol melarang Sehun pergi untuk pertama kali, mungkin hal seperti itu tidak akan terjadi. Dia kehilangan saudaranya. Meskipun Sehun hidup, dia tidak ada bedanya dengan orang mati. Setelah Sehun pulangpun anda sama sekali tidak berubah. Anda menciptakan dua Sehun dan menyingkirkan Chnayeol jauh-jauh. Jadi anda pada akhirnya memiliki Sehun yang sehat dan bisa memeluk anda kapanpun anda ingini, dan Sehun yang sakit yang selalu anda manjakan. Chanyeol semakin terluka menyadari itu. Tapi saya rasa dia terus menjalaninya karena Chanyeol menyayangi anda. Dia menjalankan segala aktivitasnya sebagai Sehun meskipun terus mengeluh. Dan..." Mrs. Huang berdiam diri sejenak. "Dan, maafkan saya, nyonya. Seharusnya saya tidak mengatakan hal ini, tapi..."
"Katakan saja Huang. Aku sudah mengatakan padamu untuk mengatakan apapun yang kau simpan. Hari ini juga!"
"Nyonya, Chanyeol bahkan menggantikan kewajiban Sehun kepada Luhan di atas tempat tidur!"
"Astaga, Huang. Kau sadar dengan apa yang kau katakan?"
"Karena itu saya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi itu kebenarannya! Saya bisa memanggil beberapa pelayan untuk bersaksi. Saat itu Luhan mengeluh karena Sehun sakit terlalu lama. Dia meminta Chanyeol melakukan itu, dan pada awalnya Chanyeol menolak. Tapi Luhan tidak menyerah sampai Chanyeol jatuh ke pelukannya beberapa lama. Seorang pelayan muda mengatakan kalau Luhan mengancam Chanyeol dengan bermacam-macam ancaman sehingga Chanyeol tidak bisa melepaskan diri. Dia bahkan mengatakan akan menghabisi nyawa Sehun dan akan menjadikan Chanyeol pemilik harta Park jika Chanyeol menjadi kekasihnya dan membuang Chanyeol jika Chanyeol terus menolaknya. Beberapa kali Luhan benar-benar menyakiti Sehun secara sengaja di hadapan Chanyeol untuk menegaskan ancamannya. Chanyeol sangat ingin berontak, tapi anda sangat menyayangi Luhan sehingga dia tidak ingin menambah pikiran anda. Sampai di suatu hari, Chanyeol terpaksa bercerai dengan istrinya karena Luhan. Luhan mengatakan kalau dia sedang mengandung dan akan melahirkan anak Chanyeol! Saat itu mereka bertengkar hebat di halaman belakang karena istri Chanyeol bertekad mengadukan semuanya kepada anda. Chanyeo berusaha agar semua itu tidak sampai ke telinga anda dan memberikan wanita itu uang yang sangat banyak asalkan dia mau tutup mulut, wanita itu memilih untuk bercerai!"
"Luhan mengandung?"
"Tidak, ku rasa! Dia berbohong saat itu. Luhan tidak pernah menunjukan perubahan pada tubuhnya. Dia juga tidak pernah mengungkit hal itu lagi. Tapi dia mengancam akan membeberkan kepada anda tentang kehamilan palsunya."
"Seharusnya Chanyeol mengatakan itu padaku!"
"Anda tidak akan mempercayai Chanyeol, nyonya. Bagi anda, Luhan adalah menantu terbaik yang selalu menemani Sehun selama delapan tahun. Anda selalu menganggap Luhan sebagi wanita yang sangat mulia. Jika saja saat itu Luhan mengatakan kalau Chanyeol memperkosanya, lalu dia hamil. Atau Chanyeol berusaha untuk membuat Luhan jatuh ke pelukannya karena Chanyeol tau kalau Luhan adalah orang yang paling berhak terhadap harta Sehun jika Sehun mati, anda akan membuang Chanyeol dalam arti yang sebenarnya! Chanyeol selalu mengeluh di samping tubuh kaku Sehun, hingga akhirnya Sehun terbangun. Hari itu, Sehun bertanya kepada Luhan tentang hubungannya dengan Chanyeol, dan Luhan melancarkan fitnahan-fitnahan terhadap Chanyeol. Tentu saja Sehun tidak percaya, nyonya! Sehun bertanya langsung kepada Chanyeol, meminta saya dan Kris untuk ikut bercerita tentang kelicikan Luhan."
"Jadi itu penyebab Sehun mewariskan segala wasiat hartanya kepada Bae Juhyun? Tapi mengapa wanita itu?"
"Sehun meminta Chanyeol mencari siapapun nama yang tercantum di dalam wasiat itu. Melimpahkan segala harta kepada Bae Juhyun akan membuat wanita itu tinggal di rumah Park dan mendampingi anda. Sehun mengatakan kalau wanita itu lebih pantas mendampingi anda dibandingkan dengan Luhan."
"Kau juga tau sejak awal kalau wanita itu adalah Bae Juhyun?"
Mrs. Huang menggeleng. "Saat Kris membawa masuk seorang wanita yang tidak sadarkan diri ke kamar tamu, aku sudah menduga seperti itu. Tapi kecurigaanku sirna saat melihat Chanyeol terus menggodanya. Aku memutuskan kalau gadis itu adalah kekasih Chanyeol. Chanyeol tidak mungkin menggoda wanita yang dicintai Sehun. Saat Chanyeol mengaku kalau wanita itu adalah istrinya, hatiku membenarkan. Wanita itu memang istrinya karena hatiku mengatakan seperti itu. Tapi Luhan tidak bisa menerimanya, nyonya. Luhan terus menyakiti istri Chanyeol dengan berbagi macam cara, sampai di suatu saat aku mendengar Chanyeol bertengkar dengan Bae Juhyun karena wanita itu ingin pergi dari rumah ini. Pertengkaran itu tidak begitu jelas, tapi yang pasti aku melihat Chanyeol keluar dari kamar dan menguncinya rapat-rapat, ia menghalangi istrinya untuk pergi dengan mengurungnya seharian di kamar. Setelah itu Chanyeol melarang Kris untuk datang ke kantor agar Kris punya waktu penuh untuk menjaga istrinya. Aku baru mengetahui kalau istri Chanyeol adalah Bae Juhyun setelah pertengkaran mereka dengan anda hari itu!"
"Seharusnya kau mengatakannya sejak awal, Huang. Seharusnya aku tau kalau yang jahat pada saat itu siapa? Aku harus menyelidikinya. Aku bahkan menjadi curiga kalau kecelakan Sehun saat itu direkayasa."
"Kalau begitu anda akan membawa mereka berdua kembali ke rumah ini, nyonya? Chanyeol sangat bahagia saat bersama wanita itu. Aku tau karena Chanyeol sudah berubah semenjak dia membawa istrinya datang ke rumah ini."
Mrs. Park menggeleng. Ia belum bisa menerima Bae Juhyun sepenuhnya. Tapi sedikit kebenciannya berkurang, setidaknya Mrs. Park harus menerima kalau putranya yang tersisa sangat mencintai wanita itu dengan sepenuh hatinya. Kelihatannya ia akan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk memikirkannya. Yang pasti, saat ini ia harus menangani Luhan secepatnya!

Keindahan itu mungkin di bangun dengan kesedihan. Tapi rasanya Baekhyun akan menghadapi segala kemalangan di dalam hidupnya dengan senang hati seandainya dia tau kalau akhir hidupnya tetap akan indah seperti ini. Akhirnya Baekhyun memiliki keluarga yang sebenarnya, memiliki seorang suami yang mengatakan ingin bersama dengannya seumur hidup. Juga memilki anak yang terus bertumbuh kembang di dalam kandungannya. Kebahagian yang mungkin tidak akan pernah berakhir seumur hidupnya.
Seperti halnya hari-hari sebelumnya, Baekhyun terbangun dan menemukan Chanyeol berada di sebelahnya. Chanyeol selalu bangun lebih dulu menanti Baekhyun untuk bangun sesegera mungkin. Setelah itu mereka akan menjalani hari-hari paling luar biasa. Chanyeol memandangi wajah Baekhyun seolah-olah Baekhyun adalah perhiasan terindah dalam hidupnya. Baekhyun beruntung karena mendapatkan pandangan seperti itu setiap kali dia terbangun dari tidurnya.
"Seharusnya kau membangunkanku!" Baekhyun menggerutu.
"Aku tidak bisa mengganggu tidurmu."
"Benarkah? Kau tidak pernah bersikap seperti itu kalau gairahmu muncul. Kau akan membangunkanku di tengah malam sekalipun!"
Chanyeol tertawa renyah. "Kalau untuk yang itu, pengecualian!"
Baekhyun mendekat dan berusaha memeluknya tapi sesuatu mengganjalnya untuk berada lebih dekat dengan Chanyeol. Baekhyun mengeluh karena perutnya yang semakin membesar dan Chanyeol mengejeknya dengan mengatakan kata-kata "Hati-hati dengan perutmu," sambil tertawa.
"Aku tidak bisa berdekatan denganmu lagi seperti dulu!"
"Kau selalu ingin berdekatan denganku?"
"Ya, tentu saja! Aku tidak ingin berpisah denganmu!"
"Lalu, aku akan mengabulkan permintaanmu seperti biasa!" Chanyeol bangkit dari tempat tidurnya dan berpindah ke sisi lain tubuh Baekhyun, ia memeluk Baekhyun dari belakang dengan sangat rapat. "Sekarang kita tetap bisa berdekatan, kan?"
Baekhyun mengangguk senang. "Kau mengabulkan banyak impianku, Chan! Dimulai dari anak ini, lalu keluarga dan cinta..."
"Aku akan memberikan apapun untukmu. Kau juga sudah mengabulkan impianku untuk menjadi Chanyeol. Kau mencintaiku karena aku Chanyeol dan aku sangat menghargai itu!" Chanyeol berbisik dengan lebih mesra, telapak tangannya membelai perut Baekhyun dengan lembut. "Kau semakin gendut!"
"Memangnya kenapa? Kau tidak menyukai aku yang gendut?"
"Aku menyukainya, karena di sana ada anakku. Tapi berjanjilah setelah anakku lahir kau harus tetap cantik. Aku tidak ingin berpaling sedikitpun hanya kerena kau lalai menjaga dirimu!"
"Ah, seharusnya kau mengatakan 'aku menyukai apa adanya dirimu', itu lebih romantis. Kau terlalu jujur."
"Pernikahan harus dilandasi dengan kejujuran, sayang! Jadi hargailah kejujuranku untuk melihatmu tetap cantik dan tidak gendut!"
Tawa Baekhyun terdengar sangat halus. Ia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh kepala Chanyeol yang bersandar di bahunya. "Itu hal mudah selagi kau terus mengkritik jika aku memiliki kekurangan yang tidak kau sukai. Aku akan tetap berusaha untuk tetap cantik seumur hidupku. Tapi aku butuh biaya yang banyak untuk menghindari kerutan disuatu saat nanti!"
Sekarang Chanyeol yang tertawa. Walau bagaimanapun kecantikan tidak akan bertahan selamanya, ia hanya bercanda saat mengatakan hal itu. Sesungguhnya Chanyeol mencintai Baekhyun yang meminta izin untuk mengandung anaknya. Chanyeol mencintai Baekhyun yang apa adanya dan itu sungguh-sungguh merasukinya belakangan ini.
Mereka selalu berbicara tentang cinta setiap pagi, semoga hal itu akan terus bertahan selamanya. Chanyeol akan selalu memeluk istrinya setiap pagi sebelum ia memutuskan untuk berangkat kerja seperti halnya saat ini. Hari ini Chanyeol berangkat lebih pagi karena ada janji dengan salah seorang pembeli. Setelah Baekhyun mengantarkan Chanyeol pergi kerja sampai di depan rumah, Baekhyun kembali ke dapur dan mulai membersihkan rumah dari bagian itu. Ia sedang duduk di ruang tengah dan beristirahat ketika Kris datang membawa seorang gadis kecil ke dalam rumah. Anak yang cantik itu memiliki rambut berwarna hitam dan kulit yang kemerah-merahan. Sangat manis dengan gaun merah jambu yang dikenakannya.
"Kau tidak sedang beralih profesi sebagai penculik, kan?"
"Aku? Astaga, kau berpikir aku bisa melakukan itu? Tidak. Tentu saja tidak!"
"Lalu darimana kau mendapatkan anak ini?" Baekhyun mengulurkan tangannya untuk membelai kepala gadis kecil itu, rambutnya sangat halus. "Siapa namamu, sayang?"
"Gaby!" gadis itu berujar halus.
"Gabrielle!" Kris melanjutkan ucapannya. "Hari ini Chanyeol memintaku datang untuk membantu tetangga sebelah pindah rumah. Suaminya sedang bersama Chanyeol di kantor dan dia tidak mungkin mengangkat perabotan rumah yang berat sendiri. Aku mendapatkan uang, lumayanlah!"
"Seharusnya kau bekerja yang baik, Kris. Kau memiliki pendidikan yang bagus! Aku sudah aman. Selama ini aku baik-baik saja, kan?"
"Ah, ya baiklah. Aku memang berniat mencari kerja dan pindah dari rumah ini. Aku pikir aku ingin menikah secepat mungkin, aku bersumpah merasa sangat iri melihat kalian berdua yang selalu kelihatan mesra!"
Senyum Baekhyun merekah. Ternyata kisah cintanya bukan hanya menjadi cemoohan belaka. Tapi Kris memang harus merasa iri karena Baekhyun dan Chanyeol tidak ingin Kris terus mengorbankan dirinya di rumah ini untuk menjaga Baekhyun. Seharusnya Kris menyongsong hidupnya dengan senyum cerah, bukan malah ikut-ikutan di rong-rong ketakutan seperti seperti yang selalu Baekhyun lakukan.
"Lalu, sudah ada seorang gadis yang membuatmu tertarik?"
Chanyeol mengangguk lalu mendekatkan tubuhnya agar bisa berbisik. "Di ujung gang sana. Hari ini aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik. Dia lebih cantik darimu dan aku akan mulai mengejarnya!"
Baekhyun tertawa jenaka. "Ya, tapi kau harus segera mendapatkan kerja, tuan muda! Kau tidak mungkin mendekati perempuan manapun jika tidak memiliki uang!"
"Aku rasa begitu. Makanya hari ini aku meminta izin pada Chanyeol untuk mulai mencari kerja besok. Chanyeol menyambutnya dengan baik, tapi ku harap kau baik-baik saja di rumah selagi aku pergi!"
"Gaby, kau di dalam?" sebuah suara teriakan terdengar agak samar dari dalam rumah.
"Itu pasti ibunya Gaby!"
Baekhyun memandang Kris serius. "Kau membawa anaknya tanpa izin?"
"Aku sudah minta izin. Hanya saja sebentar lagi sudah waktunya makan siang." Kris mengangkat Gabrielle dan menyerahkan ke dalam gendongan Baekhyun. Bocah itu terlihat patuh. " Baekhyun kau serahkan dia kepada ibunya, ya? Aku mau ke kamar mandi dulu. Perutku sakit!"
Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdecak saat melihat Kris melarikan diri ke kamar mandi. Ia memandangi Gaby sejenak lalu bergumam, "Ayo sayang, kita temui ibumu" sebelum beranjak menuju pintu. Sebuah bayangan yang sedang mengintip di jendela dapat Baekhyun lihat, ibu Gaby sudah menanti anaknya di sana. Baekhyun berusaha membuka pintu yang ternyata terkunci, Kris memang selalu membuka pintu demi keamanan. Itu yang selalu dia katakan. Beberapa saat kemudian, Baekhyun sudah berada di ambang pintu yang terbuka dan menatap seorang wanita dengan perasaan terkejut yang mencabik-cabik. Do Kyungsoo berada di sana dan sama terperangahnya dengan Baekhyun.

TBC…

Wah gimana dengan Chapter ini, masih adakah yang ingat siapa itu Do Kyungsoo ?

Tetap tunggu kelanjutannya ya..

Dan juga jangan lupa di review dulu oke..

Terimakasih atas reviewnya chapter kemaren : Selene3112, Furashi, Guest, aeri park, tarry24792, Chiisai, Oh Grace, Real ParkHana, vinashiners, Byun FAI, nnsoynnlooin, dnlaxx, Izmajukir, firechanlightbaek, , Nayeolpcy27, bellasung21, istiqomahpark01, septhaca, dobisogogilove , candelyrufela28, neli amelia, baekchu, hyunsi, pcy ,rly