A/N: 65% ZoSan + Fanservis. General AceLu after that~
Saya sering mendengar respon kalau fic ini mengingatkan beberapa reader dengan fic YuGiOh! saya yang judulnya My Housemate is like a Hell. Haha, respon itu gak salah kok. Saya emang pengen jadiin nih fic sebagai reinkarnasi dari fic My Housemate. Konsep dan plot beda. Tapi apartemen dengan kos-kosan adalah sebuah tempat hunian umum yang sama 'kan? Kufufuufu...
Tenang, nih fic elit(?) kok. Gak bakalan jadi crack lebay kayak My Housemate is like a Hell. Style writing jaman saya yang masih ber-penname Messiah dengan saya yang Viero ini juga udah beda. XD (mungkin?)
Oke, enjoy it~
One Piece © Eiichiro Oda
Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse
Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)
Genre: Romance/Humor/Drama
Rated: T
Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)
Don't like? Don't read!
-Chapter 11-
New Ordeal
.
Jika kau merasa bijak, tentu kau akan hadapi cobaan baru yang diberikan Tuhan dengan lapang dada, bukan?
.
Sengoku adalah seorang pria yang berdedikasi tinggi. Setidaknya itulah asumsi yang sering dikemukakan oleh orang-orang terdekatnya.
.
.
Setelah melewati ganasnya sengatan panas matahari di siang hari, kini Sengoku dapat bernapas lega. Genangan waktu telah membuat langit berpendar dalam dimensi sore. Dan dahaga tubuh yang memuncak seakan terbasuh dengan lembutnya tatkala angin sejuk mulai berhembus pasrah di sekeliling ruangan posnya.
Ruangan pos?
Ya, benar. Sebuah ruangan pos berukuran 2x2 meter yang berdiri tegap di dalam areal Universitas Mugiwara. Ruangan pos itu adalah sebuah markas bagi Sengoku untuk menjalankan profesinya. Sebuah profesi dalam menjadi seorang... satpam.
Ah, satpam?
Benar. Pria itu adalah seorang satpam yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun di Universitas paling elit se-East Blue itu. Meski hanya sekedar satpam, profesinya tak dapat dianggap remeh. Tanpa eksistensinya, Universitas Mugiwara tidak mungkin menjadi seaman sekarang.
Dan biasanya, hari-hari berjalan secara monoton bagi Sengoku. Duduk diam, memperhatikan lalu lalang orang-orang yang memasuki areal kampus. Pulang malam, merasakan lelah, tidur dan lalu berangkat pagi-pagi sekali untuk kembali bekerja dan seterusnya. Namun hari ini, di sore hari ini juga, ada sesuatu yang berbeda di dalam rutinitasnya itu.
Ada seseorang... yang menemaninya.
Mungkin kata 'menemani' tak perlu dipahami secara harfiah. Satpam Universitas Mugiwara itu selalu bekerja sendirian. Dan kini, perbedaan menghantam hanya karena kehadiran seorang pria berambut pirang yang sudah tampak terduduk di dekat ruangan posnya. Pria blonde itu menunggu seseorang.
Mencurigakan.
Kalimat itu mendengung hebat dalam nalar Sengoku. Pemuda yang terduduk di dekat bangku posnya itu tampak begitu mencurigakan. Gelagatnya aneh. Ia terlihat berusaha keras untuk mengendalikan kecemasannya. Sebuah bekal makanan yang dibungkus plastik putih bertuliskan 'Baratie' sudah tampak diletakkan di sampingnya. Ia juga membawa sebuah pedang kendo. Tiga buah puntung rokok sudah habis terbuang di atas tanah. Kini, sang blondie itu tampak menghisap stick kankernya yang keempat. Benar-benar aneh. Pemuda itu tak menguntai satupun kata. Ombak kurositas lekas menghantam rasio Sengoku dalam sekejap.
"Kau sedang menunggu siapa, anak muda? Sudah hampir satu jam aku melihatmu terduduk di bangku posku."
"Ah? Ma-Maaf," lamunan Sanji mendadak terpecah. Pemuda itu mulai menunduk sopan di hadapan Sengoku. "Aku sedang menunggu temanku, Satpam-san."
"Panggil saja aku Sengoku, anak muda. Memangnya siapa orang yang kau tunggu itu? Aku bekerja di tempat ini selama bertahun-tahun. Dan aku juga sudah hampir mengenali seluruh mahasiswa yang ada di kampus ini." Sengoku lantas terduduk di sebelah Sanji. Juru masak Baratie itu tertunduk untuk sesaat, ragu. Apa sebaiknya ia katakan saja siapa orang yang sedang ia tunggu itu?
"Aku sedang menunggu... Roronoa Zoro."
"Roronoa Zoro? Apa dia adalah pemuda berambut hijau yang merupakan mahasiswa jurusan ilmu kelautan semester dua?" pernyataan Sengoku begitu tegas dan sangat lengkap bagai sebuah data komputer hidup yang bisa bicara sendiri. Sanji terbelalak mendengar itu. Menganggukkan kepala. Itulah yang ia lakukan.
"Yang Anda katakan itu benar."
Hening.
Sanji kembali membisu. Ia sudah berada di kampus rivalnya itu. Menunggu. Ia nekat ke tempat itu hanya bermodalkan bekal makanan dan juga sebuah pedang kendo. Persediaan rokoknya juga hampir habis. Menit demi menit berlalu dan badai keraguan pun semakin menebal di benaknya.
Apa yang ia lakukan ini sudah benar?
Tindakan Sanji saat ini adalah bentuk implikasi dari kejadian pagi tadi. Degup jantung juru masak itu berpacu dengan cepatnya tatkala para personil dapur Baratie dengan sengaja telah sedikit menggodanya. Saat ia menjalani rutinitas seperti biasa; memasak seluruh daftar makanan di menu utama, para pegawainya itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Sanji-sama, tadi kami tak sengaja mendengar kata 'marimo' dari mulutmu saat kau melamun. Apa marimo yang Anda maksud itu adalah pria yang sudah menerjang Anda di jendela waktu itu? Jika benar demikian, sepertinya Anda benar-benar berjodoh dengan beliau."
BWOOOOOOOOSSSHHH!
"GYAAAAAA! A-APINYA MEMBESAAAAR!"
"AAAAARRRGGGHHH!"
Dan jangan salahkan Sanji jika api di kompornya mendadak membesar, melahap habis wajan penggorengannya. Juru masak yang satu itu tak sengaja memutar tombol kompornya akibat efek syok. Segenap personil dapur mulai membantu memadamkan apinya. Bahkan salah seorang personil dapur juga tampak membawa extinguisher untuk berjaga-jaga.
"Ayo, kecilkan apinya! Kecilkaaan! Wajannya sudah hampir hangus! Sanji-sama sudah menekan tombol untuk api biru super panas!"
"Hei! A-Aku menekan tombolnya juga secara tak sengaja! Kenapa kalian mengatakan hal yang membuatku syok seperti itu, hah!"
"Kami hanya bercanda, Sanji-sama! Anda yang menanggapinya secara serius! Apa jangan-jangan yang kami katakan itu benar ya? Sanji-sama menyukai..."
"Na-Nani?" Sanji mulai gelagapan. Serpihan rona merah menjalar di parasnya. Sejelas itukah tingkah anehnya akhir-akhir ini? Sampai seluruh pegawainya bisa menyadari perubahan Sanji?
"Ada ribut-ribut apa ini, hah? Kau kenapa lagi, Sanji?" Zeff kini sudah tampak melangkahkan kaki memasuki dapur. Rautnya serius. Kedua tangannya dilipat di dada. Sebulir keringat mengalir di samping kening Sanji.
"Uhh... Ayah, aku... uhh..."
"Ini gara-gara pemuda marimo yang waktu itu, Zeff-sama! Sanji-sama sudah jatuh cinta pada pemuda itu! Ia salah tingkah sampai-sampai salah menekan tombol api biru super panas di kompor!"
"A-Apa?" Zeff tampak kaget. Serpihan rona merah semakin pekat menjalar di paras Sanji. Ia pun menghadiahkan tatapan pembunuh pada salah seorang personil dapur yang sudah menebarkan opini sembarangan itu.
"Tutup mulutmu-"
"Apa itu benar, Sanji? Kau... sungguh-sungguh menyukai pemuda yang waktu itu?" pertanyaan Zeff sukses membuat Sanji terdesak. Segenap personil di dalam dapur kini juga mengarahkan pandangan mereka pada juru masak utama Baratie itu. Sanji tak dapat berkilah. Diam berarti... iya.
"Kalian semua! Cepat buatkan bekal makanan yang super spesial. Bungkus dengan rapi!"
"Ba-Baik, Zeff-sama!"
"Be-Bekal makanan? Untuk siapa, Yah?" Sanji menautkan alisnya. Bingung dengan apa yang sudah dilakukan ayahnya. Zeff hanya tersenyum pada sang putra. Ditepuknya pelan bahu putranya itu.
"Bekal itu untuk calon jodohmu nanti. Berikan bekal itu pada Roronoa Zoro di kampusnya. Kau harus melakukan pendekatan dengan pemuda itu, Sanji."
"APUAAAAAAAAAA!"
Jedaaaaar!
Semua orang menganga, berekspresi aneh seakan-akan mereka telah melihat sebuah gelombang tsunami raksasa di Baratie. Tampang WTF juga sudah tergambar jelas di paras Sanji. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayahnya merestui hubungannya dengan Zoro?
Ayahnya merestui jika calon pendampingnya adalah seorang pria?
What the hell!
"Aku sangat yakin, Sanji. Bahwa semenjak pemuda itu menerjangmu di jendela, ia akan menjadi jodohmu kelak. Aku tak peduli entah pendampingmu nanti pria atau wanita. Yang terpenting bagi ayah adalah... kau bahagia."
"A-Ayah..." Sanji kehabisan kata. Zeff pun mengulum senyum dan lekas berbalik membelakangi putranya.
"Oh ya, Sanji. Sampaikan salam ayah padanya. Karena bagaimanapun juga... ayah ini adalah calon mertuanya. Huohohoho!"
Ctaaaarrr!
Dan sekujur tubuh Sanji seakan tersengat dengan ganasnya aliran listrik. Itulah serangkaian hal yang membuatnya datang ke Universitas Mugiwara untuk menemui Zoro.
"Hei, anak muda? Kenapa wajahmu merona merah begitu? Apa kau sakit, hah?"
"Hah? Me-Merah? Uhukk! Uhukk!" pernyataan Sengoku membuyarkan lamunan Sanji. Juru masak Baratie itu terbatuk dengan asap rokoknya sendiri. Sang satpam lantas ber-sweatdropped. Gelagat Sanji benar-benar seperti seorang wanita yang terserang penyakit cinta.
Dan bel tanda materi telah usai telah menggema dari seluruh penjuru intercom Universitas Mugiwara.
"Ah, sepertinya orang yang kau cari akan segera keluar dari kampus ini, anak muda. Bersiap-siaplah!"
DEG!
Debaran jantung Sanji semakin berpacu dengan cepatnya. Beberapa mahasiswa terlihat menapakkan kaki mereka untuk keluar dari areal kampus. Detik demi detik, ketegangan semakin menusuk. Sanji dan Sengoku terlihat fokus memperhatikan lalu lalang orang-orang di sekitar mereka.
Sampai pada akhirnya...
"Sanji-kun? Sedang apa kau di sini?"
"Na-Nami-chan?" sang gadis mantan cinta sejati Sanji kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Nami menautkan alisnya dengan pemandangan tak biasa itu. Sanji menunggu di pos satpam dengan membawa bekal makanan dan juga pedang kendo?
Jangan-jangan...
"Apa yang kau lakukan di sini, Sanji? Kau tidak merencanakan hal yang aneh-aneh lagi 'kan?" kini giliran Usopp yang balik bertanya. Pemuda berhidung panjang itu sudah terlihat berdiri di samping Nami. Dua kawannya itu telah menikam Sanji dengan pandangan skeptis. Sudah tak ada pilihan lagi selain hanya berkata... jujur.
"Aku kemari... ingin menemui... marimo."
"WHOOT?"
Blataar!
Usopp lekas bereaksi dengan lebay-nya. Mahasiswa jurusan ilmu kelautan itu melotot horor. Nami juga menganga dengan lebarnya. WTF? Sanji benar-benar ingin menemui Zoro? Setelah insiden Baratie yang menggratiskan seluruh tagihan Zoro?
Hening.
Sanji mulai merasa tak enak dengan pandangan Nami dan Usopp padanya. Dua kawannya itu sudah menatap layaknya hantu. Seakan-akan juru masak Baratie itu telah menumbuhkan dua kepala. Sebulir keringat mengalir di samping pelipis sang blondie. Ini berlebihan. Ini benar-benar sangat berlebihan.
"Ada perlu apa kau denganku, Sanji?" suara itu pada akhirnya mengagetkan semuanya. Dan Sanji sedikit pucat saat menatap sosok figur yang ia cari. Figur itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Zo-Zoro?"
"Kau bilang bahwa kau kemari untuk menemuiku. Memangnya ada perlu apa?" pernyataan Zoro membuat Sanji membeku untuk sesaat. Pemuda marimo itu juga turut melayangkan pandangan skeptis padanya. Gelagat Sanji semakin aneh. Dan kecurigaan Zoro semakin menjadi-jadi.
Ada sesuatu yang terjadi dengan rivalnya.
"Bisa kita bicara berdua saja, Zoro?"
"Apa? Berdua? KALIAN INGIN BICARA BERDUAA?" Usopp menjerit histeris. Dan semua sweatdropped melihat itu.
"Iya. Aku ingin bicara berdua saja dengan Zoro. Bisakah?" Sanji tampak sedikit gentar. Keheningan yang terkandung telah terpecah. Zoro pun mengangguk tanda sepakat.
"Baiklah. Aku mau."
"Uhh... Kalau begitu, kita bicara di taman saja, Zoro. Ikuti aku." Dan kedua pemuda itupun pergi. Meninggalkan Usopp dan Nami yang masih berparas horor dengan rasa tak percaya yang begitu tinggi. Usopp menggelengkan kepalanya.
"Ini tak bisa dibiarkan lagi. Nami."
"Usopp? Apa maksudmu?" Nami mengerutkan dahinya. Dan Usopp pun mengepalkan tangan dengan raut determinasi.
"Kita harus segera mengadakan acara pertobatan massal! Dunia benar-benar akan segera kiamat!" Sengoku dan Nami kembali sweatdropped mendengar itu.
"Ah, Usopp... sepertinya persepsimu terlalu... berlebihan."
~ZxS~
Taman central East Blue.
Diam.
Dan Hening.
Itulah situasi yang tergambar saat ini. Sanji benar-benar terlihat canggung. Ia dan rivalnya itu sudah terduduk di sebuah kursi taman. Diam. Mereka terdiam satu sama lain. Rasa gugup mulai terlahir dalam diri pemuda berambut emas itu.
'Sial! Biasanya saat aku mendekati wanita, aku tak pernah segugup ini. Sekarang? Kenapa aku mendadak bingung tak jelas begini saat di dekat Zoro?' benak juru masak Baratie itu sedikit kacau. Ia bingung harus memulai darimana. Zoro tampak menatapnya dalam ribuan persepsi. Mereka terdiam sebelum pada akhirnya...
"Sanji?"
"Ah, Zoro... aku-" diam lagi. Keduanya kembali membisu. Mereka berbicara secara bersamaan dan lalu terdiam kembali secara bersama-sama. Aura canggung itu seakan mencekik Sanji. Dengan cepatnya, ia menyodorkan bekal makanan yang ia bawa itu pada Zoro.
"Ini untukmu, Marimo! Makanlah!"
"Eh?" Zoro semakin menautkan alisnya. Bekal dengan bungkus plastik Baratie itu sudah terlihat di depan matanya. Jemarinya meraba itu. Perlahan-lahan menerima pemberian Sanji. "Ah, terima kasih."
"Sama-sama."
Hening lagi.
Zoro tampak membuka bekal itu dan memakannya. Tak biasanya sang rival memberikan bekal makanan gratis seperti ini. Gelagat Sanji benar-benar seperti seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Apakah mungkin...
Apakah mungkin Sanji jatuh cinta padanya?
Sanji tampak menggaruk belakang kepalanya. Ia bingung harus berkata apa. Ia bahkan bingung harus mendekati Zoro seperti apa. Sungguh tidak mungkin ia menghujam Zoro dengan rayuan gombal. Bisa-bisa, mahasiswa pecinta kendo itu akan menganggapnya gila.
'Ini pria yang sedang kudekati sekarang. Bukan lagi seorang wanita. Apa aku berterus terang saja langsung pada Zoro? Tapi bagaimana kalau ternyata ia tak memendam perasaan yang sama denganku?' sungguh tak pernah benak Sanji se-dilema ini. Hal yang terkesan mudah mendadak bertransisi dengan begitu kompleksnya. Sungguh tak mudah mengakui cinta dibalik perangai persaingan mereka selama ini. Semua ini benar-benar terasa... aneh.
"Kau bilang bahwa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku? Soal apa?" secara tak terduga ternyata Zorolah yang menjadi starter dalam konversasi verbal mereka. Sanji mulai merasa tak enak. Zoro sepertinya mengerti dengan kecanggungan Sanji dan itulah sebabnya kenapa ia tak membahas tentang bekal gratis yang diberikan juru masak itu padanya.
Sejenak jeda keheningan.
Sanji pun pada akhirnya berani menatap Zoro lurus-lurus. "Ini tentang ayahku. Ia... ingin agar aku... mendekatimu."
Begitu jujur. Zoro terbelalak mendengar itu. Ia tak menyangka bahwa Sanji akan blak-blakkan mengatakan hal ini. Apa Sanji secara tak langsung menyatakan bahwa ayahnya akan menyetujui jika ada hubungan yang 'lebih' di antara mereka?
Jika begitu...
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Eh?"
"Bagaimana denganmu, Sanji? Apa kau mau melakukan perintah ayahmu dengan... senang hati?" Sanji terdesak. Pertanyaan itu terkesan begitu menohok. Zoro sepertinya tahu, subtansi apa yang pas untuk ditekankan pada rivalnya itu. Serpihan rona merah menjalar di paras Sanji.
Apa Zoro ingin mengetahui tentang isi perasaannya selama ini?
"Aku..." ragu. Nada Sanji teriringi dengan keraguan. Ia ragu untuk mengakuinya. Bahwa memang ternyata...
Ia ingin melakukan perintah ayahnya dengan senang hati.
Zoro bisa mengerti dengan dilema Sanji. Sangat tak mudah bagi rivalnya untuk mengakui hal ini. Ia pun lekas memejamkan mata dan tersenyum tipis.
Jika memang rivalnya tak mau memulai duluan, maka...
Sebaiknya dialah... yang memberikan tanda.
"Err... Zoro, aku-mmmhh!" Terpotong. Sanji terbelalak. Syok dengan apa yang terjadi. Secara tak terduga, Zoro telah menikamkan mulut tepat di hamparan bibirnya. Sang juru masak utama Baratie seakan mati kutu. Parasnya memerah dan kinerja nalarnya sungguh tak tahu harus menginterpretasikan hal ini sebagai apa.
Zoro... menciumnya?
Jantung Sanji seakan meledak. Rivalnya itu masih menikamkan mulut mereka dengan lekatnya. Ia bahkan menatap Sanji dengan tajamnya. Sekujur tubuh Sanji seakan lemas implikasi dari kontak itu. Dan belum sempat ia bereaksi lebih lanjut, Zoro telah menjauhkan diri dari tubuhnya. Meninggalkannya dalam keadaan beku karena hujaman syok. Ia tak dapat menguntai kata untuk sesaat.
"Kau tak perlu ragu, Sanji. Hatiku selalu terbuka... untukmu."
"Huh? Na-Nani?" Sanji terkejut mendengar itu. Parasnya kembali memerah saat ia menyadari maksud pernyataan Zoro. "Aku..."
"Terima kasih untuk bekalnya. Rasanya sangat enak. Resep masakan di restoranmu memang tak tertandingi. Aku tak keberatan jika nantinya aku memiliki suami yang pandai memasak seperti ini."
"EEEH?"
Gubraaks!
Sanji seakan terkena serangan stroke. Ia tak menyangka bahwa Zoro akan bisa mengatakan hal seperti itu. Menganga dan melotot. Serpihan rona merah semakin pekat saja di parasnya. Mulutnya mengatup-ngatup dengan cepat layaknya ikan yang menggelepar di daratan. Pemuda marimo itu hanya bisa tertawa menatap gelagat Sanji. Ternyata penggombal nomor satu se-East Blue bisa terlihat setakluk ini di hadapan Zoro.
"Baiklah. Jika pembicaraan kita telah selesai, sebaiknya aku pulang sekarang." Zoro beranjak dari kursinya. Sanji gelagapan. Belum. Ini belum selesai. Ada satu hal yang ingin ia sampaikan.
"Tu-Tunggu, Marimo! Aku belum menyerahkan ini!"
"Huh?" sebuah pendang kendo. Pedang kendo yang di bawa Sanji telah tersodor di hamparan indra penglihatannya. Dahi Zoro berkerut penuh tanya. Sanji lagi-lagi menggaruk belakang kepalanya. Mencoba mengendalikan tabiat.
"Aku memberikan pedang ini padamu sebagai ganti atas pedang kendo lamamu yang sempat hangus waktu itu. Aku tahu bahwa kau sangat terobsesi dengan bela diri yang satu ini. Aku hanya ingin, kau menjalankan hobimu ini dengan sarana yang mendukung. Itu saja."
Lagi-lagi masih canggung.
Simpulan senyum tipis kembali terpapar di raut dingin Zoro. "Kau tahu 'kan jika pedang kendo itu hangus adalah bukan karena kesalahanmu? Semua itu karena anjing liar yang menerjangku di jalan."
"Tapi meskipun begitu, aku hanya ingin mengganti pedangmu dengan yang baru, Marimo. La-Lagipula, jika anjing itu tidak menerkam pedangmu. Mungkin... kau tak akan pernah menerjangku lewat jendela." Sebuah pengakuan lagi. Sanji lekas memalingkan pandangannya ke samping. Menatap apapun selain Zoro yang ada di hadapannya. Ia tak bermaksud untuk terdengar sedikit 'desperate'. Tapi jujur saja, perkataan itu meluncur keluar. Sungguh murni berasal dari dalam labirin intuisinya.
Dan Zoro terdiam. Baginya, kejujuran yang meluncur keluar dari mulut rivalnya sungguh merupakan hal yang cukup 'manis'.
Jemarinya lantas mengambil pedang kendo itu. Mengenggamnya erat. Ketulusan Sanji terpatri dalam nalar Zoro. Ditatapnya calon tambatan hati dengan pandangan balas budi tinggi. "Terima kasih. Aku akan selalu menggunakan pedang ini untuk berlatih kendo. Aku tak akan pernah menggantinya."
Dan Sanji tersenyum mendengar itu.
Keduanya lekas berjalan meninggalkan taman. Jemari mereka bertaut satu sama lain. Tak mempedulikan segenap orang-orang yang melihat panorama itu. Biarlah. Biarlah mereka menjadi saksi atas bersatunya dua pemuda itu dalam ikatan rasa. Sang juru masak utama Baratie kembali menatap sosok orang yang menggandeng tangannya. Hatinya tentram. Rivalnya sudah merubahnya menjadi sesosok pria yang lebih baik dari sebelumnya. Ia sungguh berterima kasih pada Zoro.
Dan sekarang...
Sudah tak ada keraguan di hati Sanji lagi. Taruhan mengenai jodoh itu akan ia terima dengan lapang dada. Jika memang jodohnya adalah Zoro maka ia akan mengucap syukur. Karena ia yakin, Zorolah orang yang tepat itu. Karena bagaimanapun juga...
'Aku sungguh mencintai kepala marimo ini...'
~AxL~
"Jadi pengelolahan sumber daya laut ini akan lebih maksimal jika diarahkan ke aspek mana, Ace?"
"Zzzzz..."
"Zzzz? A-Aspek macam apa itu?"
"ZZZZZZZZZZZ..."
"ACEEEEEEEE! KENAPA KAU MALAH TIDUR, HEEEEEH?"
Luffy menjerit frustasi. Di saat ia membutuhkan bantuan untuk meruntuhkan sebuah benteng yang bernamakan tugas kuliah, ternyata sang savior telah lebih dulu takluk dalam rasa kantuk. Ace tampak tertidur di hamparan kursi sofa. Narkolepsinya mendadak kambuh tanpa sepengetahuan Luffy.
"Gaaahhh! Ace bakaaa! Aku harus bagaimana sekarang? Aku tak mengerti sama sekali dengan tugas ini! Aku butuh pendapat orang lain, neee!" Lekaslah pemuda bermata obsidian itu mengacak-acak rambutnya. Bersamaan dengan itu, suara dengkuran Ace semakin memasuki oktaf tertinggi. Luffy menghela napas pasrah. Kembali diliriknya sang roommate yang sudah singgah selama lima hari di kamarnya itu.
'Selama ini, Ace selalu tidur di sofa. Meski ia hanya sebentar saja di sini, tak ada salahnya 'kan jika ia tidur di satu ranjang denganku, ne?'
...
Entah, ada angin logika apa yang menembus dinding rasionya, Luffy bisa menemukan sebuah pemecahan mengejutkan seperti itu. Jemarinya lantas meraba helai rambut raven Ace secara perlahan-lahan. Jantungnya berdegup kencang tiap kali ia melakukan kontak fisik dengan musisi Black Spade itu.
'Entah mengapa... aku merasa begitu senang jika merasakan cepatnya debaran jantung ini. Aku... aku senang jika memiliki perasaan seperti ini terhadap Ace. Apalagi jika aku berada sedekat ini dengannya. Aku merasa semakin dan semakin senang, ne...'
Simpulan senyum terlukis di paras Luffy. Baru kali ini sensasi yang merasuk ke dalam dirinya semakin memuncak. Sebuah sensasi yang tidak ia pahami maksudnya. Sebuah sensasi... yang bernamakan...
Berbunga-bunga?
Ah, mungkin itulah istilah umum yang berlaku secara lazim dalam hidup ini. Orang yang jatuh cinta sudah pasti akan merasakan sensasi berbunga-bunga. Dan Luffy tengah merasakan itu saat ini. Untuk yang pertama kalinya. Ini merupakan pertama kali baginya untuk merasakan berbunga-bunga. Dan ia suka dengan sensasi langka itu.
'Aku harus dekat dengan Ace. Dekat dan semakin dekat lagi dengannya. Dekat, dekat, dekat dan lebih... dekat lagi.' sebuah konklusi yang terlahir dari kuatnya determinasi. Luffy seakan memiliki sebuah misi baru. Sebuah misi untuk mewujudkan harapan terbesarnya.
Ia harus memiliki Ace.
"Mungkin sebaiknya aku menunggu Ace bangun, ne. Dan selagi menunggu... aku akan berusaha mengerjakan tugas ini." Dengan raut malas, Luffy kembali memaksakan kedua obsidiannya untuk menatap kumpulan teks di bukunya. Sungguh, ingin sekali Luffy mengutuk Smoker. Karena dosennya yang satu itu dengan 'kerennya' telah memberikan tugas baru setelah tugas sebelumnya ia rampungkan dengan susah payah. Bahkan, jatah liburan pun dibatalkan dengan mudahnya.
Sungguh nasib...
[Durudum... oh yeah! come on! ah! yeah! oh, baby! oh yeah! oh yeah!]
"Huh? A-Apa ini?"
Dahi Luffy berkerut serius. Sebuah alunan musik RnB semi Rapp, telah menggema di seluruh penjuru ruang apartemen. Alunannya semakin lama semakin terdengar begitu keras. Cukup keras hingga sukses membuat telinga mahasiswa Mugiwara itu sakit mendengarnya.
[You gotta love dances! oh baby! oh yes! oh yes! oh yeah! ooh~ yeaah~]
"Gaaahh! Be-Berisik!" Luffy membungkam telinga. Mencoba berkonsentrasi dengan tugasnya. Namun, percuma...
Semakin dinafikkan...
Semakin keras pula... musiknya.
[JUST DANCE! OH YEAH! JUST DANCE! YOU MUST! JUST DANCE, BABY! YOU KNOW THAT I'M COOL~]
"AAARRRGGHHH! MUSIK BAKAAAA! AKU TAK BISA MENGERJAKAN TUGAS JIKA BEGINI CARANYAAAAA!"
"KYAAAAAAA! KE-KEREEEEEN!"
"LAGI! LAGIIIIIIEEEEE!"
"WE WANT MORE! MOREEEEE!"
"SEKSEEEEHHH!"
"TERLALU HOOOTTT! AAAAHHHH!"
Jeritan puluhan wanita yang didominasi oleh para ibu dan juga janda kini sudah terdengar ricuh, menggema dengan kerasnya di penjuru lorong apartemen Beauty Dadan lantai sepuluh. Kumpulan penghuni apartemen tampak berkerumun. Menjadi saksi unjuk gigi yang dilakukan oleh seorang insan pria. Alunan musik terus digemakan oleh satu set sound system miliknya. Dan ia pun mensinkron musiknya dengan berbagai gerakan break dances. Segenap kaum hawa semakin terpanah. Beberapa kaum adam tampak terpukau dan juga merasakan iri hati karena tak bisa melakukan gerakan sehebat itu. Sang Breakdancer seakan berada di puncak kejayaan. Budak fans-nya telah menggemakan namanya bak raja penguasa dunia.
"TRAFALGAR LAAAAAAAAW!"
"KYAAAAAAAAAAAA!"
Ya. Itulah nama yang ia emban. Trafalgar Law. Pria tampan berpenampilan macho dengan tambahan janggut tipis di dagunya itu dikenal sebagai seorang Breakdancer top di Amerika. Segenap teknik breakdance yang ia miliki cukup mampu untuk membius siapa saja orang yang menatapnya. The Death Breakdancer. Itulah nickname-nya saat berada di jagad panggung hiburan dance. Meski tidak sejaya Black Spade, namun para penggemarnya tak bisa dihitung sedikit.
[Yeah, come on! Look at me! I know you love my dance! I know you want me! More! Just more! Come on! I'll give you more! Yeah! Ahaa~]
"Kyaaaaaa~" Law hanya dapat tersenyum sinis di saat para penggemar wanitanya tampak terpanah. Ia pun lekas melakukan gerakan yang terbilang cukup 'seksi' di mata mereka. Dan gerakannya kembali sukses membuat jeritan fangirl semakin memasuki oktaf tertinggi. Semua berjalan dengan baik.
Sampai pada akhirnya...
[Oh yeah, just say my name! I'll give you mo-mo-mo-mo-mo-mo-m-mo-krsstttt! Bzzzgghh! Ziiiiinggg! Bresseegghh! Ngiiiiing!]
...
Hening.
"BRENGSEK! KENAPA MUSIKNYA NGADAT LAGI, HAH! SOUND SYSTEM SIALAN!"
DUAAAAKKK!
"Wew..." dan hancurlah sosok 'cool' dari seorang Trafalgar Law di saat breakdancer itu mendadak emosi dan menendang sound system miliknya. Musik yang teralun dari sound system-nya semakin ngadat dan semakin mengeluarkan suara-suara aneh.
Sungguh memalukan.
Segenap fans dan penonton mulai sweatdropped. Lipatan sewot lekas terbentuk di samping kening Law dan ia pun mulai marah. "Apalagi yang ingin kalian tonton? Pertunjukan telah selesai! Cepat bubar! BUBAAAAR!"
"Woooo... tidak keren!" Dan para penonton mulai kecewa dan lekas bubar. Namun, masih saja ada beberapa wanita yang tergila-gila dengan Law dan menjeritkan nama sang breakdancer itu. Law hanya bisa beraut kecut. Sudah susah payah ia unjuk gigi, Kenapa ending-nya bisa menjadi memalukan seperti ini?
"Sial. Sebaiknya aku membeli sound system yang baru lagi." Law mencoba usaha terakhir. Ditekannya tombol resume berulang kali. Dan hasilnya, alunan musiknya semakin terdengar aneh.
[Mo... M-M-MO-Mo... Mo... Mooooooooo... Oorsst... orrghhh! Uoorrgghh!]
...
Sweatdrop.
"Musik anehmu itu membuat telingaku sakit, ne!"
"Huh?"
Sebuah sumber suara cempreng sungguh sukses mengagetkan Law. Ia arahkan pandangannya itu pada sesosok pemuda yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bersila di dada. Monkey D. Luffy menebaskan pedang konfrontasi dengan sang breakdancer. Trafalgar Law tampak terperangah untuk sesaat.
Siapa gerangan anak ini?
Dan dengan penuh keberanian, Luffy melakukan tindakan.
Mahasiswa Mugiwara itu... mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Jika kau ingin mengamen, jangan lakukan di tempat ini!"
WTF?
TBC
A/N: Nyahahaha! Sumpah ya, hawanya housemate banget. Ngerjain nih fic bener-bener berasa nostalgia buat saya~ xD Dan lagu RnBnya Law itu bukan lagu beneran. Itu liriknya saya asli ngarang sendiri.
Sabo: Saatnya balasan review! :D
Marco: Aku datang lagi~ :l
Sabo: Yang pertama dari Sanjiro Key! Wahahahah! Baru nyadar klo Author nih fic adalah Messiah dari YGO? Dia udah minggat tuh dari YGO! Jadi gak tahu gimana kelanjutan fic2 dia yang di YGO... =="
Author: #Nyengir Watados #DiBakar
Marco: Thanks ya reviewnya! ZoSannya udah ada kok di chapter ini.
Sabo: Berikutnya dari BlackLadY ZoSannya juga udah tahu kebenaran kok~ Thanks ya reviewnya! :D
Marco: Berikutnya dari maniak mute sejati muthiamomogi Semoga puas dengan ZoSannya. Dan Boa Hancock adalah wanita berambut hitam panjang, cantik yang suka ama Luffy di animenya.
Sabo: Lalu ada Erochimaru! Sumpah, pertama kali ngelirik penname Anda, saya mengira bahwa Anda adalah Orochimaru O_o" #Buagh!
Marco: ZoSannya udah diberi kiss scene tuh.
ZoSan: #Blush
Sabo: Lalu ada Kim D. Meiko! Yeiy! Selamat ya ujiannya udah selesai~ #Grins
Marco: Kenapa gua malah didoain untuk pulang dalam keadaan pake kolor beneran? =="
Zoro: Gue mendadak pinter dan keren di fic ini. Biasanya juga si author demen nistain seme =_="
Author: WOI!
Ace: #Grins~ Aku emang agresif~
Luffy: #Blush
Sabo: Kudukung! Ayo sebarkan D-cest! Arigato reviewnya! :D Lalu berikutnya dari Ika UzumakiTeukHyukkie ZoSannya udah ada tuh di chapter ini. Mau tinggal di apartemen Beauty Dadan juga?
Dadan: Oh, dipersilahkan~ Selama Anda bayar secara rutin, no problemo~
Marco: Lama tak jumpa untuk VhiELiks S.N Yup, gak masalah. Panggil aja author ini dengan Viero-san. Selama bukan Joko atau Ucup aja...
All: #Sweatdrop
Ace: Setujuu! Gue juga nungguin scene dimana gue bisa ngekiss Luffy pas di mulut!
Luffy: ACEEE!
ZoSan: Kami udah ada kok di chapter ini~ Kissu mulut duluan malah~
Sabo: Berikutnya dari via sasunaru!
Zoro: Tenang, gue sadar perasaan Sanji kok.
Sanji: #Blush
Marco: Untuk cinta segitiga? Ah~ nantikan terus fic ini~ Fuhuhuhuhu~
Sabo: Lalu ada Vii no Kitsune! Iya, tenang. Pasti ada kissu mulut kok! Super duper nge-rough malah! Bahkan mungkin lebih hot dari kissu MinaNaru di fic Bizzare Rumors!
AceLu : #BLUSH!
Marco: Tapi sabar ya~ Scene kissu mereka masih lama. Trafalgar Law itu yang punya janggut tipis di dagu. Dia tergabung dalam eleven supernovas di One Piece.
Sabo: Berikutnya ada Felix D. Bender!
Ivankov: WHOOOOT? LOE MAU PINDAH HATI KE HANCOCK? NO WAAYY! WAIT FOR ME, FELIX-BOY~ #Ngejar-Hingga-Keujung-Dunia!
Marco: Nih orang juga maniak mute beneran. Silahkan Anda berdemo dengan muthiamomogi pada Author fic ini =="
Author: #Kabur
Sabo: Lalu ada Uchiha 'Haruhi' Gaje!
Ace: Setujuuu! gue juga pengen lemonan! #MendadakHorni
Luffy: HIEEEEEE! #Kaboer!
Yami: uke mesum? maksudnya 'seme' mesum mungkin? ==" Gue ini seme tulen!
Pegasus: Tapi loe jadi uke jika dipasangin ama gue, Yami-boy!
Yami: Astajim! AIBOUUUU! #Kaboer
Marco: Lalu ada Demon D. Dino! Makasih buat pujiannya!
Law: Bisa ditebak? Gue muncul di fic ini tugasnya apa? #Grins
Sabo: Seperti biasa, ada lunaryu lagi! :D
Zoro: Jujur, gue berhutang budi ama Author di fic ini karena mendadak dijadiin jenius dan keren
All: =="
AceLu: #Blush. Kissu kami bikin nosebleed. Baru pipi. Gimana kalo udah mulut?
Author: #Nosebleed juga
AceLu: #sweatdrop
Law: Yup! Gue muncul ama Hancock. Tapi Hancock belum muncul di chapter ini~
Marco: Terima kasih banyak untuk reviewnya, lunaryu-san! Author juga berterima kasih dengan doa Anda! XD
Sabo: Berikutnya dari Arale L Ryuuzaki! ZoSannya udah ada tuh~
Marco: Dan untuk Yuna Claire Vessalius Kusanagi! Anda tertular D-cest! Horeeee! #LangsungTumpengan
ZoSan: Kami udah ada di chapter ini kok #Grins
Sabo :Thanks ya reviewnya! XD lalu ada Fi suki suki!
Zoro : #Horor Whot? ZORROR?
Ace: Gue gak baka tahu. Gue kan publik figur, jadinya gue musti mikir dampak dan resikonya juga =="
Luffy: #HugsAce
Marco: Thanks ya reviewnya! :) Terakhir dari Domi!
Sabo: Oh ya, author lupa, kemarin title chapternya diambil dari judul lagu. Judulnya emang Heart of The Matter. Tapi lupa siapa nama penyanyinya! Dx #DiBogem
Zoro: Yup. Berkat chapter kemarin, citra gue mendadak keren. =="
Ace: Yeee... gue 'kan minder, Dom. Jadinya ragu to the max jawab pertanyaannya Zoro ==" Doain ye! Biar gue bisa cepet2 tidur seranjang ama Luffy!
Luffy: HIIIEEEE! #NimpukBantal ke Ace
Marco: Thanks ya buat reviewnya!
Sabo: Wokeh, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Please REVIEW again if you don't mind~ #Grins
