MEANT TO BE

baekaeriachu presents

Starring :

-Byun Baekhyun

-Park Chanyeol

-Other

SUMMARY :

Baekhyun percaya kalau dia adalah seorang Alpha, bahkan ia tidak peduli perkataan orang tua beserta teman-temannya kalau dia sebenarnya seorang Omega. Tetapi kepercayaan itu lenyap setelah bertemu Park Chanyeol.


Chapter 11; Kesabaran Chanyeol


"PARK!CHAN!YEOL! SIALAN!"

Chanyeol sangat kenal dengan teriakan tersebut. Ia menoleh dan mendapati calon tunangannya berdiri didepan pintu restoran bersama wajah berapi-api, layaknya ingin membunuh seseorang. Dan seseorang itu bisa dipastikan Chanyeol, ataupun perempuan di depannya.

Minhee merapikan duduknya, melupakan sendok yang ia jatuhkan. Dia menatap anak atasan Ayahnya bingung, tiba-tiba saja ada orang aneh meneriakki Chanyeol. Ia jadi penasaran siapa gerangan laki-laki itu.

Karena Baekhyun masih berdiri didepan restoran, Chanyeol pun berinisiatif untuk menghampiri laki-laki berstatus Omega itu.

Pasti ia melihat kejadian tadi, tebaknya dalam hati sembari berjalan menuju tempat Baekhyun berdiri.

"Hei, mengapa didepan sini? Ayo ikut aku ke meja makan, kau lapar bukan?" Chanyeol melingkarkan tangan kanannya dibahu sempit Baekhyun. Tetapi, bukannya menurut, Baekhyun malah menempis tangan Chanyeol.

"Jangan. Sentuh. Aku!" Desis Baekhyun.

Chanyeol mengangkat kedua tangannya mengalah, "oke-oke, jadi apa maumu sayang, hm?" Ia bertanya halus.

Seketika wajah Baekhyun yang tadinya marah berubah sedih. Bibir mungil itu melengkung kebawah dan kedua mata sipitnya mengeluarkan air mata.

"Ka-kau asyik ma-makan siang disi-sini dan ta-tak perdulikan a-aku yang menyiapkan makanan-hiks" Isakan Baekhyun semakin menjadi. Chanyeol baru tersadar kalau Baekhyun membawa tiga kotak makan yang ditumpuk rapi. Ia menjadi tak enak hati.

"Astaga, maafkan aku Baek. Aku belum memakan pesananku, bagaimana kalau kita memakan bekal buatanmu diruanganku? Hm?" Laki-laki berstatus Alpha itu mencoba membujuk sang calon tunangannya.

Wajah Baekhyun berangsur membaik, aliran air mata tak terlihat lagi. "Baiklah, ayo kita ke runganmu" Laki-laki yang lebih pendek berbalik dan berjalan keluar dari restoran menuju lobi perusahaan.

Chanyeol terdiam ditempatnya, ia melirik sebentar ke arah meja makan yang dimana masih ada Minhee disana. Ia kembali dari meja makan untuk meminta izin Minhee.

"Minhee-ssi, maafkan aku. Tapi... Suamiku membutuhkanku sekarang, mungkin lain kali saja kita makan siang." Wajah menyesal Chanyeol nampak dimata Minhee.

Minhee mengangguk paham, "tak apa Chanyeol-ssi, aku akan menghabiskan makananku terlebih dahulu. Kau bisa pergi"

"Terima kasih atas pengertiannya, aku pergi dulu" Chanyeol membungkuk sebagai tanda hormat, lalu berjalan pergi menjauh dari meja makan yang Minhee tempati.

Raut wajah Minhee berubah mendung. Semua bayangan yang terkumpul saat makan siang bersama seorang Parj Chanyeol sudah pudar, setelah mengetahui laki-laki bermarga Park sudah memiliki tambatan hati. Jika hanya pacaran mungkin Minhee bisa menikung, tetapi mereka sudah berstatus menikah. Tak ada celah baginya lagi.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal hati Minhee akan hubungan Chanyeol dan si suami.

Kenapa Ayahnya tak memberitahu kalau Chanyeol sudah menikah? Kenapa Ayahnya masih bersikeras untuk mendekatkan dirinya dengan Chanyeol?

Itu pertanyaan yang tersangkut dalam pikirannya.

"Aku harus bertanya kepada Ayah saja" Minhee berucap sendiri sebelum kembali menghabiskan makanannya.

Sekarang Chanyeol dan Baekhyun berada didalam ruangan Chanyeol. Mereka duduk saling berhadapan. Baekhyun sibuk menata makanannya sementara Chanyeol menatap Baekhyun yang sibuk. Laki-laki berstatus Alpha itu berniat membantu menyusun namun tangannya ditempis sang calon suami, ia bilang 'sudah kewajiban seorang Omega untuk mengurus Alphanya.'

Tak menunggu lama, semua makanan sudah tersusun rapi dan siap disantap. Makanan yang Baekhyun bawa terlihat mewah bagi Chanyeol, ada belut bakar, telur dadar kimchi, nasi merah, dan sup ikan. Semua itu adalah makanan favorit Chanyeol.

"Banyak sekali, aku akan makan dengan lahap." Chanyeol berkata senang, kedua matanya terlihat berbinar. Dan Baekhyun senang akan itu.

Baekhyun meletakkan mangkuk berisi nasi merah didepan Chanyeol, "makanlah yang banyak untuk bayi diperutku"

Chanyeol tersenyum, "selamat makan!" Ia pun mengambil satu suap nasi merah dan telur dadar. Mengecap rasa gurih yang pas dilidahnya.

Baekhyun menatap Chanyeol tersenyum sembari memasukkan belut bakar ke mulutnya. Perjuangannya memasak kali ini tidak sia-sia. Mungkin sekarang ia harus banyak belajar memasak bersama sang Ibu, atau mengikuti les memasak.

Dua-puluh menit kemudian semua tempat makan sudah bersih, Chanyeol mengusap perutnya yang sedikit kembung. "Ah~aku kenyang sekali, perutku sedikit kembung"

Baekhyun menyenderkan punggungnya dikepala kursi, "aku juga"

Chanyeol mendelik ke arah sang Omega, "perutmu kembung karena ada makhluk mungil dan juga lemak"

"Ck, asal makhluk mungil ini sehat sampai waktunya tiba keluar aku tak masalah." Jawab Baekhyun santai, ia mengelus perutnya.

Suara dering telepon mengganggu mereka berdua untuk bersantai setelah makan siang, Chanyeol mengangkat telepon tersebut.

"Halo?"

"Segera ke ruanganku. Sekarang." Belum sempat Chanyeol membalas, panggilan sudah diputuskan satu pihak.

Chanyeol berdiri dari kursinya, membersihkan jasnya. "Baek, aku harus ke ruangan ayahku. Tunggulah disini"

Baekhyun memberi tanda hormat kepada sang calon suami, menandakan kalau ia tak apa ditinggal.

"Tunggu disini, aku hanya sebentar." Baekhyun pun kembali mengangguk, pandangannya mengikuti langkah Chanyeol yang berjalan menjauhi tempat Baekhyun kemudian badan laki-laki jangkung itu menghilang dibalik pintu.

"Aku yakin mereka akan lama, baiklah. Baby, coba kita lihat apa yang bisa kita lakukan diruangan membosankan ini." Baekhyun berdiri mengitari kantor Chanyeol sambil mengusap perut datarnya.

"Ada apa kau memanggilku kesini, Yah?" Chanyeol berdiri didepan meja sang Ayah.

Ayah Park meletakkan berkas yang dibaca, mengalihkan pandangannya ke arah Park yang lebih muda.

"Bagaimana makan siangmu dengan Minhee?" Wajah Chanyeol berubah drastis menjadi datar, "aku harus meninggalkannya karena Baekhyun datang dan kami makan diruanganku" Jelas Chanyeol.

Ayah Park mengangguk paham, "ada Baekhyun ternyata, Tuan Lee baru saja menelpon dan melapor kepadaku kalau kau meninggalkan putrinya sendiri direstoran"

Chanyeol kaget, "eh?! Aku sudah meminta izin kepada Minhee dan perempuan itu bilang tak apa, lagipula tuan lee menyuruhku menemani anaknya makan tanpa kukenal lebih dahulu" ia merutuki si tua Lee yang membuatnya seperti laki-laki tak bertanggung jawab.

"Ayah tahu, tidak mungkin kau melakukan sesuatu yang tidak gentleman seperti itu. Sebenarnya, Ayah hanya ingin menanyakan hal itu saja"

"Terima kasih Yah" Chanyeol membungkuk hormat.

"Oh ya, bulan depan Minhee akan magang disini."

Chanyeol mengangguk, "ya aku tahu, tuan lee juga menberitahuku"

"Ia akan menjadi sekretarismu bulan depan, jadi Mirae tidak akan kerepotan."

Setelah mendengar ucapan Ayahnya, Chanyeol hanya bilang dalam hati.

Mampuslah dia.

Chanyeol kembali keruangannya setelah hampir dua-puluh menit berdebat dengan Sang Ayah agar Minhee tidak menjadi sekretarisnya. Tetapi hasilnya, Chanyeol kalah. Ia membuka pintu kayu bercorak, matanya menangkap seseorang yang terlelap disofa. Kedua tangan lentik dijadikannya bantal. Ia pun sontak mendatangi laki-laki mungilnya disofa.

"Kau lelah hm? Maafkan aku karena membuatmu menunggu" Chanyeol mengelus pelan surai Baekhyun. Bibir mungil Baekhyun bergerak-gerak layaknya bayi baru lahir, tak ada suara dikeluarkan disana.

"Aku harus mengantarmu pulang sebelum lehermu menjadi kram" Chanyeol melepas jas lalu menggulung lengan kemeja maroonnya. Ia perlahan menyelundupkan kedua tangannya dileher dan bawah lutut Baekhyun, kemudian ia angkat perlahan seperti gaya bridal.

Dengan bersusah payah Chanyeol menggotong badan berisi Baekhyun didepan lobby perusahaan, untung saja Chanyeol sudah memberitahu sekuriti untuk membawakan mobilnya didepan lobbu. Kalau tidak, Chanyeol harus datang ke spa lagi untuk dipijat.

"Terima kasih Pak Jang, semoga harimu menyenangkan" Ucapan Chanyeol ditujukan untuk sekuriti yang membantunya memasukkan Baekhyun ke tengah mobil. Si sekuriti membungkuk dan tersenyum menerima ucapan terima kasih dari anak pemilik perusahaan tempatnya mencari nafkah.

Sepuluh menit Chanyeol habiskan untuk berkendara menuju apartemennya, memberikan si mungil tempat untuk terlelap yang lebih nyaman.

Menggendong Baekhyun menuju lift, ia bersusah payah memencet tombol lantai dimana apartemennya berada sementara ia harus menyeimbangkan badan Baekhyun agar tak terjatuh. Sesampainya dilantai tempat apartemennya berada, ia keluar dari lift dan menuju apartemen bernomor 614, mengetik passwordnya kemudian masuk ke dalam.

Chanyeol melihat ada sepasang sepatu perempuan dirak sepatunya. Seseorang diam-diam telah kesini. Ia berjalan pelan sembari menggendong Baekhyun, matanya mulai waspada ketika mendengar suara desisan dari dapur.

Punggung wanita didepan kompor, sibuk mengaduk masakannya. Chanyeol mengenali punggung tersebut.

"Ibu?!" Panggilnya, wanita itu berbalik dan menatap Chanyeol tersenyum.

"Kejutaan! Oh? Kau membawa siapa?" Ibu Park mematikan kompornya dan berjalan mendekati sang anak, melihat siapa yang digendong oleh Chanyeol.

"Baekhyun? Oh kasihannya, cepat tidurkan dia dikamarmu. Membawa bayi itu adalah hal yang tidak mudah" Ibu Park mendorong pelan Chanyeol agar segera meletakkan Baekhyun dikasur empuknya. Tak lama kemudian, Chanyeol keluar dari kamarnya, memijat kedua tangannya yang pegal-pegal.

"Duduklah disini" Chanyeol duduk dimeja makan menghadap Ibunya.

"Kau sudah makan?" Chanyeol mengangguk, menjawab pertanyaan dari Ibunya.

"Bersama Baekhyun bukan?"

"Ya, aku bersamanya."

Tiba-tiba Chanyeol memijat kepalanya. "Apa mengurus perusahaan sebegitu memusingkannya?" Tanya Ibu Park kembali.

"Ya, aku rasa tidak sanggup meneruskannya." Chanyeol berkomentar.

Ibu Park terkekeh kecil, "kau sama seperti Ayahnya ketika baru saja merintis perusahaan, Ibu selalu berada dibelakangnya untuk mendukung segala sesuatu yang dia buat. Perjuangan Ayahmu pun berbuah hasil, dan kau harus melanjutkan perjuangannya sekarang."

"Ya, aku akan terus berusaha, Bu." Janji Chanyeol, ia tak bisa menolak permintaan sang Ibu karena ia adalah tipikal anak Ibu.

Wanita bermarga Park itu menyeruput teh hangatnya, "pernikahanmu dan Baekhyun..." Chanyeol menatap Ibunya, menunggu ucapan selanjutnya. "Akan sedikit susah untuk diterima dikeluarga Ayahmu"

Dahi Chanyeol mengernyit, tak paham akan maksud sang Ibu. "Kenapa?"

"Keluarga Ayahmu hanya menginginkan perempuan Omega untuk menjadi pasangan Alpha laki-laki, mereka tidak menginginkan laki-laki Omega." Jelas Ibu Park.

Ibu Park mendesah, "aku mendukung kalian berdua karena aku tahu kalian sudah ditakdirkan untuk bersama. Tapi, Ibu khawatir akan keluarga Ayahmu"

"Apakah...Ayah menyetujui kami?" Chanyeol bertanya.

"Tentu. Tentu saja. Ayahmu berbeda dari mereka, ia mendukung siapapun yang akan menjadi pasanganmu." Hati Chanyeol lega bukan main, setidaknya Ayah dan Ibunya menyetujui mereka untuk mengikat janji.

"Aku akan memikirkan cara agar mereka menerima Baekhyun, untuk saat ini. Aku akan memfokuskan diri ke perusahaan dan Baekhyun yang hamil"

"Ya kau benar, Baekhyun harus kau perhatikan karena membawa keturunan Park."

Ibunya telah pulang lima-belas menit yang lalu, sekarang. Chanyeol berada dikamarnya. Duduk disebelah Baekhyun yang masih setia memejamkan matanya. Pupil berwarna kecoklatan milik Chanyeol memandangan calon tunangannya. Sikap Baekhyun sekarang benar-benar jauh berbeda dari pertama kali mereka bertemu, lebih manja dan lengket kepadanya. Padahal, dulu Baekhyun bahkan tidak sudi berdekatan satu meter dengannya.

Chanyeol mengangkat tangan kanannya dan diletakkan disurai halus milik Baekhyun, mengusap pelan dan menyingkirkan anak rambut didahi si mungil.

"Apakah kau akan berubah ketika melahirkan nanti?" Tanyanya pakai suara kecil, tak mau membangunkan Baekhyun.

Chanyeol tersenyum, "kau sangatlah damai jika seperti ini, aku harap...ketika kita menikah nanti kau tidak membuat ulah seperti dulu" ucapannya itu seperti panjatan doa, berharap akan dikabulkan oleh si mungil yang terlelap.

"Kau harus berjuang bersamaku Baekhyun-ah, aku...menyayangimu" Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun.

CUP

Bibir tebal Chanyeol menempel sempurna didahi mulus si calon tunangannya, ia menutup mata dan meresapi tekstur wajah Baekhyun. Melepas ciumannya, ia kembali mengusap kepala Baekhyun.

"Pertemuan kita sangat lucu bukan? Dari menyelamatkanmu sampai kita sebentar lagi akan bertunangan, benar-benar tidak terduga" Chanyeol terkekeh, anggap saja ia gila sekarang karena berbicara dengan orang yang masih terlelap, tidak tahu apakah ucapannya didengar atau tidak.

Chanyeol baru menyadari kejadian-kejadian yang sudah ia lewati, bertemu Baekhyun. Pertamanya ia bahkan tidak ingin berdekatan dengan orang yang ia juluki Omega gila, bahkan bertemu sekilas saja rasanya enggan. Tetapi, Alpha didalam dirinya merubah semua. Berjauhan dengan Baekhyun, membuatnya setiap detik memikirkan apa yang sedang dilakukan calon tunangannya itu. Ia bertanya-tanya,

Apakah ia terkena efek dari kehamilan Baekhyun? Jika iya, berarti janin didalam perut sang Omega akan menjadi anak penurut padanya.

Chanyeol berbaring disamping Baekhyun, menutup matanya, ia berencana untuk istirahat sejenak. Sebelum tidur siang ia tak lupa untuk berdoa, berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan Baekhyun serta Janin didalam perut Omeganya.

TBC


Special thanks to,

Lhiae932, parkyui, khaleesi7kingdoms, Baekhill, ByunB04, Fatihah Kim, Kiyoshikey, nzzky, n3208007, Nurfadillah, Jeon Baekhee, park chan2, khakikira, Qeen'simprintee, ssuhoshnet, chillies, ChanBaek09, Narin.s, kahi19, timsehunnie, tyaku93, Kikipanzer, milkybaek, byunsuci25


A.N.

Maaf telat banget untuk chapter ini karena aku sibuk banget, tugas di organisasi dan tugas sekolah bener-bener otak aku mumet sampai ngeblank buat ngebuat kata-kata untuk cerita ini. Jadi aku minta maaf kalo untuk chapter ini ibaratkan sayur bening tanpa sayur :( , aku masih nyari-nyari inspirasi beside LIAI. Oiya, jadi aku ada sedikit masalah sama akun ffnku karena gak bisa ngupload di doc manager :( sampe berpikiran mau pindah wp aja biar enak, pada setuju gak?. Btw, jangan lupa untuk review yaaa karena obat vitamin yang aku pake buat cerita adalah review dari kalian! Hehehe, thank youuu~~~