Disclaimer: Kuroko no Basuke is belong to Tadatoshi Fujimaki, of course

Main Cast: Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuro, Kise Ryouta, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou

Warning: Au, ooc, konsep yang (mungkin) sudah umum

Akira Scarlet present: How to Survive

Chapter 12: Reunion

Setelah keenam lelaki itu sampai, Tatsuya dan Kagami segera mengajak mereka ke rumah Tatsuya. Disana, Tatsuya memberikan sebuah file.

"Setelah semua anggota Seirin kabur, tampaknya mereka akan berencana untuk mengamankan potongan batu berlian tersebut. Bisa juga mereka menyusun rencana yang lain," Kata Tatsuya.

"Jadi?" tanya Akashi.

"Menurut file yang ada di tangan Kuroko, seharusnya potongan berlian itu berada di suatu tempat di Amerika," Jawab Kagami.

"Atas dasar apa kalian mengatakan begitu?" tanya Midorima.

"Dikatakan kalau Seirin selama ini rutin pergi ke Amerika setiap beberapa minggu sekali. Bisa dibilang mereka punya sesuatu disana. Bisa jadi mereka punya teman disana."

"Memangnya tidak ada kemungkinan di tempat lain? Bukannya Seirin itu beroperasi di Eropa?"

"Kemungkinan lain? Bisa jadi. Tapi kemarin ini ditemukan bukti lain."

"Bukti?"

"Pesan dari communicator ketua Seirin, Hyuga Junpei."

"Apa pesannya?"

"Pesan kepada salah satu anggotanya. Kiyoshi, kau sudah sampai di Amerika? Kalau sudah cepat kau cek keberadaan 'itu'. Jangan lupa kunjungi seseorang. Kau tahulah siapa."

"Ya ampun, kenapa kita selalu mendapat petunjuk dengan mudah?" Gumam Kuroko.

"Oke. Kalau begitu sudah jelas, kita harus ke Amerika," Ujar Aomine.

"Tidak semudah itu. Amerika itu luas, kota mana yang ia datangi?" tanya Akashi.

Murasakibara mengangkat tangannya, "New York, mungkin?"

"Eh? Kok bisa?" Kise menatap Murasakibara. Jarang sekali temannya yang satu ini ikut berpikir.

"Yah, New York itu kota pertama yang diserang Niger kan? Kemungkinan besar markas mereka bertempat disana," Jelas Murasakibara.

"Hmm..Bisa jadi. Tapi aku jadi penasaran, kenapa harus New York?" Ujar Akashi.

"Karena New York adalah kota besar. Itu artinya jika mereka menyerang New York, seluruh dunia akan melihatnya. Tidak akan ada bedanya kalau mereka menyerang desa pedalaman," Jelas Midorima, "Mungkin," Tambahnya lagi.

"Kalau begitu kita hanya harus pergi ke New York kan?"

"Tidak semudah itu Aomine-kun. Jika kita sudah sampai di New York, apa yang akan kita lakukan?" tanya Kuroko.

"Yah..Mencari keberadaan Seirin?"

"Caranya?"

Aomine terdiam.

"Nah, saatnya menghubungi Takao. Bukan begitu Tatsuya?" tanya Kagami.

"Ya. Ia mungkin punya informasi menarik."

"Informasi? Kau menyuruh ia melakukan apa?" tanya Midorima.

"Apa aku pernah bilang kalau koneksiku tidak hanya di daerah Eropa?"

"Seingatku tidak."

"Aku punya koneksi di Amerika. Dan informan terpercayaku, Takao Kazunari sedang menyelidiki hubungan Amerika dengan Seirin."

"Kapan kau akan menghubunginya?" tanya Akashi.

"Secepatnya, tentu saja."

Keesokan harinya, Takao datang dengan bersemangat.

"Ada apa Takao?" tanya Kagami.

"Kalian akan senang mendengarnya. Aku punya informasi menarik," jawab Takao. Senyum terlihat di wajahnya.

"Cepat katakan."

"Aku menemukan siapa orang yang dimaksud ketua Seirin tersebut. Ia berada di New York saat ini."

"Berarti Murasakibara-kun benar," Ujar Kuroko. "Tempatnya memang di New York."

"Orang tersebut bernama Hitomi Kano. Ia merupakan pekerja kantoran, namun sebenarnya ia juga berprofesi sebagai pedagang gelap. Beberapa tahun lalu, ia mulai bekerja sama dengan Seirin. Ia menjadi salah satu orang kepercayaan Seirin di Amerika," Jelas Takao.

"Hebat seperti biasa," Puji Tatsuya. "Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"

"Kalau menurut pendapatku, kita pergi untuk mengunjungi Hitomi tersebut. Kita korek informasi darinya, entah dengan cara kasar atau baik," Usul Takao.

"Ide yang tak pernah terpikirkan olehku," Ujar Kagami. "Bagaimana?"

"Cara kasar atau cara baik. Menurutku lebih baik cara yang kasar," Kata Kuroko.

"Karena kemungkinan besar Seirin sudah memberitahunya mengenai kita sehingga jika kita berpura-pura baik mungkin malah kita yang masuk jebakan mereka. Bukan begitu ssu?"

"Tepat seperti katamu, Kise-kun," Balas Kuroko.

"Cara kasar. Serang, culik, interogasi. Bagaimana?" tanya Aomine.

"Tidak semudah itu Aomine. Memangnya ia tidak bisa melawan? Bagaimana kalau ia malah lebih hebat dari kita semua? Bagaimana ka-"

"Cukup Taiga," Potong Akashi. Ia menatap Aomine, "Intinya Daiki, kita tidak bisa menyerangnya begitu saja tanpa persiapan."

Aomine terdiam. Perasaannya saja atau memang semua yang ia ucapkan selalu salah?

"Menurutku lebih baik kita masukkan semacam obat bius kedalam minuman atau makanannya," Usul Murasakibara. Lelaki yang satu ini memang selalu mengatakan hal yang berhubungan dengan makanan.

"Ide bagus. Mengapa tidak kita serang saat ia sedang lengah? Di rumahnya saat pagi buta atau saat ia kelelahan bekerja?" tanya Kagami.

"Apa-apaan ide itu Taiga. Aku tidak setuju denganmu," Bantah Tatsuya.

"Aku juga tidak setuju Kagami-kun. Itu terlalu jahat," Ujar Kuroko.

"Jahat apanya. Itu kan memanfaatkan keadaan," Gumam Kagami.

"Apa ada ide lain?" tanya Akashi. "Jika tidak, kita akan menggunakan cara Atsushi."

"Baiklah. Cara Murasakibara saja," Ujar Midorima setuju.

"Kalau begitu kita hanya harus berangkat ke New York bukan?" tanya Tatsuya.

"Jangan bilang kau akan mengeluarkan salah satu koleksi pesawat pribadimu lagi," ujar Kagami.

Tatsuya tersenyum, "Memang itu mauku."

.

.

"Hei Hyuga..Memangnya musuh kita kali ini berbahaya ya?"

"Bukan hanya berbahaya. Mereka juga pintar," jawab Hyuga. "Kau harus hati-hati Hitomi. Bisa-bisa kau jadi target mereka."

"Coba saja kalau mereka berani," ujar Hitomi.

"Tapi lebih baik kau jangan sampai lengah. Besok kita akan melakukan sesuatu dan kau jangan sampai lengah."

"Ngomong-ngomong untuk apa kau datang kesini dengan semua anggota intimu? Malam-malam pula."

"Untuk memeriksa keadaan 'itu'. Aku khawatir mereka berusaha mengambilnya."

"Tidak akan. Aku yakin mereka tidak akan bisa menemukannya," jawab Hitomi. "Lagipula potongan berlian itu tidak akan bisa dihancurkan dengan pedang Gris."

"Kalau itu kau benar," Hyuga mengangguk. "Masalahnya sampai sekarang kita masih belum bisa menemukan senjata itu. Terus terang aku agak khawatir."

"Panah Rouge, ya. Oh ya Hyuga, apa yang mau kalian lakukan sekarang? Setelah memeriksa keadaan berlian itu tentunya."

"Mengawasi pergerakan mereka. Sekaligus mencari keberadaan panah tersebut."

Mereka berdua berjalan menuju ruang bawah tanah, yang merupakan ruang kerja Hitomi. Anggota Seirin saat ini memang sedang berada di rumah Hitomi. Rumah Hitomi tidak terlalu luas, namun memiliki banyak ruangan rahasia.

"Hitomi, kau merasa ada yang mengikuti kita?" tanya Hyuga.

"Eh? Tidak. Mungkin hanya perasaanmu saja."

"Mungkin. Tapi sedari tadi aku merasa ada yang mengikuti," ujar Hyuga sambil menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa disana. Hyuga kembali menoleh ke depan.

"Sepertinya memang tidak ada siapapun," kata Hyuga.

"Sudah kubilang kan," balas Hitomi.

Yang tidak mereka ketahui adalah dibalik pintu, Kasuga Ryuhei sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.

"Panah Rouge ya," Ujarnya pelan lalu melangkah pergi.

.

.

"Jadi, karena sekarang sudah malam kalian harus tidur. Kamarnya sesuka kalian," ujar Tatsuya. Yang lain mengangguk.

Sesampainya di New York, hari sudah larut malam. Karena itu mereka semua bergegas tidur. Ada banyak hal menanti mereka esok hari.

Kise sedang bersiap untuk tidur ketika melihat communicatornya menyala. Ia segera mengambilnya.

"Malam-malam seperti ini. Orang tidak dikenal pula ssu," gerutu Kise.

"Halo."

"Lama tidak berbicara denganmu, Kise."

"Eh?" Sejenak Kise terdiam, memastikan dirinya tidak salah dengar. Suara itu..terasa sangat familier. "Kasuga-nii?"

"Yah, kau pasti kaget aku menghubungimu malam-malam seperti ini ya."

"Apa yang Kasuga-nii lakukan? Lagipula darimana kau bisa mengetahui communicatorku?"

"Aku sendiri juga tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Tapi setelah dua tahun tinggal di penjara, aku merenungkan semua perbuatanku. Dan aku merasa kalau semua yang kulakukan selama ini salah. Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian berdua saat itu. Tidak seharusnya juga aku bergabung dengan Seirin."

"Kasuga-nii. Jadi sekarang kau membantu kita?"

"Bisa dibilang iya. Dan menjawab pertanyaanmu, kau ingat penculikan Akashi menggunakan communicator Kuroko? Aku juga mengambil kode communicatormu. Lalu aku akan tetap berada di Seirin. Begitu ada informasi, akan aku beritahukan padamu. Namun jangan beritahu kalau kau mendapat informasi ini dariku. Masih belum waktunya."

"I-iya. Bagaimana dengan Akashicchi?"

"Jika ia tidak bertanya maka jangan beritahu. Mengerti?"

"Iya."

"Ne, Kise. Maaf ya untuk selama ini. Aku telah menjadi kakak yang buruk bagimu."

"Tidak apa-apa. Kasuga-nii tidak perlu minta maaf."

"Kise, kau menangis? Sifat cengengmu belum berubah juga ya."

"Ha-habis aku senang ssu. Sudah berapa tahun aku tidak pernah bertemu dengan Kasuga-nii. Terakhir kali kita bertemu kau berada di pihak lawan. Lalu kau mengalah padaku."

"Haha iya juga ya. Aku jadi ingat."

"Benar kan."

"Oh ya Kise. Kalian belum mempunyai rencana apa-apa bukan?"

"Eng itu," Sejenak Kise ragu apa ia harus memberitahukan pada kakaknya. Lagipula belum tentu kakaknya benar-benar berpihak padanya bukan? Meskipun tadi ia sempat merasa kakaknya benar-benar telah berubah.

"Belum ada."

"Baguslah kalau begitu. Besok malam bisakah kau keluar sebentar?"

"Untuk apa Kasuga-nii?"

"Ada informasi menarik yang ingin kuberikan. Akan lebih baik jika kuberikan secara langsung. Jadi tunggu aku besok malam pukul 10 di Central Park. Kau mengerti?"

"Ne, Kasuga-nii."

"Apa?"

"Kau tidak sedang berbohong kan?"

Kasuga tertawa, "Tentu saja tidak."


Hitomi Kano adalah karakter OC. Lalu panah Rouge berasal dari bahasa Perancis yang berarti merah.

Thank you..