Ilunga: a person who is ready to forgive any abuse for the first time, to tolerate it a second time, but never a third time.

A/N: It looks like I can update one more chapter (though I gotta admit that my hands are itching because I really can't wait to write this chapter). I'll also edit all the chapters I've published so there won't be errors anymore. Thanks for your patience, guys!

.

Chapter 11: Ilunga

Sakura, Neji, dan Shikamaru berdiri di hadapan sebuah pohon besar yang berumur ratusan—bahkan ribuan tahun. Di pohon tersebut terdapat pahatan simbol empat hewan penjaga—shishin—di masing-masing sisi pohon. Sesuai dengan perjanjian (yang sebenarnya hanya satu pihak) Sakura menemui Neji dan Shikamaru dua hari setelah ia meminta (dengan jurus mata berbinarnya) mereka agar mau untuk membuat kontrak dengan shishin.

Sakura berdiri di antara Neji dan Shikamaru. Di pelukannya terdapat sebuah gulungan lapuk yang warnanya menunjukkan bahwa gulungan tersebut sudah sangat tua. Mata Sakura berbinar menatap pohon megah di hadapannya. Ia tahu bahwa pohon tersebut merupakan pohon terbesar di Konoha, namun yang tidak ia tahu adalah kenyataan bahwa pohon tersebut merupakan simbol empat hewan penjaga.

"Jadi," mulai Neji memecahkan Sakura dari lamunannya tentang keempat hewan—yang menurutnya—gagah. "Kita membuat kontrak layaknya dengan hewan pemanggil lain?"

"Ah, tidak juga. Ada satu hal yang membedakan," jawab Sakura sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian tahu bahwa ketika ingin membuat kontrak dengan hewan pemangil, kalian harus mengorbankan darah kalian?"

Shikamaru dan Neji hanya mengangguk sebagai jawaban. Sakura berdeham.

"Dalam kasus shishin ini, kita harus menempelkan darah kita di setiap simbolnya," ujar Sakura yang mendapat gerutuan dari Shikamaru. Sakura hanya melemparinya pelototan mautnya. "Prosedur selanjutnya, ah, sama seperti yang lainnya."

Sakura tidak mendapatakan tanggapan yang berarti dari kedua pemuda di masing-masing sisinya. Hanya gumaman 'merepotkan' dari Shikamaru dan anggukkan kecil dari Neji. Ia membentangkan gulungan di tanah, kemudian menggigit ibu jarinya hingga darah keluar dari sana, dua pemuda di sisinya mengikuti dirinya.

Menempelkan ibu jari mereka di setiap pahatan simbol sebelum mereka membanting ibu jari ke atas gulungan yang berada di tanah. Seketika muncul simbol keempat hewan buas tersebut yang terbentuk dari darah mereka.

Bunyi 'puff' besar terdengar di telinga mereka. Ketika mereka mengangkat kepala, bukan lah empat hewan yang mereka lihat namun empat sosok pria dengan rambut berbeda warna tengah menatap ketiga ninja tersebut.

Keempat pria tersebut mengenakan kimono elegan dengan warna sesuai dengan rambut mereka. Sakura berasumsi bahwa masing-masing rambut mereka menandakan jati diri mereka.

Pria dengan rambut azure—biru kehijauan—pendek dan mata sebiru laut tengah mengintrospeksi ketiga shinobi di hadapannya. Sakura asumsikan bahwa ia adalah Seiryuu. Di sebelah kanannya pria berambut merah—Suzaku—berantakan dengan manik onyx melakukan hal yang sama. Suzaku memberikan senyum kecil ketika matanya menangkap tatapan Sakura padanya.

Byakko (Sakura menahan napasnya karena menurutnya Byakko sangat tampan), dengan rambut perak yang menjuntai panjang hingga punggungnya yang sedikit dikuncir di ujungnya dan poni yang sedikit menutup matanya, berada di sisi kiri Seiryuu. Mata biru keperakannya memandang Sakura dengan tajam, sebelum akhirnya membuang wajahnya ketika matanya bertemu dengan mata Sakura.

Genbu berdiri di samping Byakko. Rambut hitamnya mengingatkan Sakura dengan bentuk rambut Naruto. Matanya hitam legam, sekelam malam. Ia memberikan senyuman lebar tatkala melihat ketiga shinobi yang tengah menatap mereka berempat. Selain bentuk rambutnya, aura cerah Genbu juga mengingatkannya akan Naruto. Walau pun atribut yang dikenakan oleh Genbu terlihat sedikit—err, menyedihkan, pikir Sakura.

Genbu lah yang pertamakali bersuara, "Kapan terakhir seseorang membuat kontrak dengan kita, eh, Byakko?" tanyanya menyikut Byakko yang hanya dibalas dengan gerutuan oleh pria—bagi Sakura—paling tampan dan menawan disbanding ketiga pria lainnya.

Suzaku menyahuti kemudian, "Tidak benar-benar ingat. Aku hanya mengingat Hagoromō-sama saja, Genbu. Selain itu para shinobi yang membuat kontrak tidak meninggalkan kesan menarik bagiku."

Seiryuu melirik Suzaku dan Genbu sebelum membuka suaranya, "Jarang ada yang membuat kontrak kelompok dengan kami." Ia kembali menatap Sakura, Neji, dan Shikamaru satu persatu. "Perkenalkan diri kalian, shinobi…dan kunoichi."

Sakura sedikit tersentak sebelum akhirnya ia memperkenalkan dirinya. Yang dilanjutkan oleh kedua pemuda di sisinya. Ketika Shikamaru selesai memperkenalkan dirinya, Genbu bersiul.

"Nara, eh?" tanya Genbu dengan nada tertarik. Ia melirik Seiryuu. "Ingatkan aku kapan terakhir kali seorang Nara membuat kontrak, hmm?"

Seiryuu tidak menghiraukan pertanyaan Genbu. Ia menatap Shikamaru tajam. "Apa kau tahu Nara Shiroya, pemuda?"

Shikamaru mengerutkan keningnya karena sedikit kesal bahwa Seiryuu memanggilnya 'pemuda' bukan dengan namanya. Juga karena tengah berpikir—mengingat-ingat siapa itu Nara Shiroya. Tak lama kemudian Shikamaru menganggukkan kepalanya. "Aa. Nara pertama yang ada di dunia ini. Kalian yang memberikan gulungan itu—" mengedikkan dagunya ke gulungan yang masih terbentang di atas tanah "—kepadanya dan mempercayakan gulungan tersebut padanya. Sayang sekali, setelah ia wafat seseorang dari Ame mencuri gulungan tersebut. Yah, setidaknya itu yang kutahu sebelum nona muda di sebelahku ini menemukannya tersimpan di perpustakaan Konoha."

Ujung bibir Seiryuu sedikit naik sebelum akhirnya ia mengangguk. "Jadi Hyuuga dan…Haruno? Kami tidak pernah mendengar tentang klan Haruno."

"Kami bukan klan. Hanya warga sipil yang menjadi ninja," jawab Sakura sekenanya.

"Ah," Byakko bersuara membuat seluruh perhatian padanya. Ia menatap Sakura sembari memberinya tatapan dingin. "Pantas saja cakramu sangat kecil."

Sakura meringis mendengar pernyataan Byakko. Topik tentang cakranya yang kecil adalah topik yang sensitif bagi Sakura. Dan mendengar Byakko memberitahu hal yang sudah sangat Sakura tahu membuatnya sedikit kesal. Tangannya telah mengepal, ia kemudian menjawab Byakko dengan senyuman yang tidak kalah dinginnya, "Kau disimbolkan sebagai musim gugur, tapi sifatmu lebih dingan dari Genbu-san. Kalian yakin kalua kalian tidak tertukar?"

Genbu tertawa mendengarnya. Ia mendekati Sakura kemudian menepuk-nepuk rambut gulalinya. Ia menatap ketiga pria lainnya kemudian berkata sambil tertawa, "aku suka gadis ini. Jarang sekali ada yang berani mengejek Byakko."

"Itu fakta, bukan ejekan," jawab Sakura ringan.

Neji yang sejak tadi diam saja, hanya menontoni mereka berbicara kemudian membuka mulutnya. Ia berdeham sebentar. "Aku tidak pernah tahu kalua shishin mempunyai wujud manusia."

Suzaku tersenyum mendengar pernyataan Neji. "Kami lebih memilih menggunakan wujud manusia ketika seseorang—atau dalam kasus kalian sekelompok shinobi membuat kontrak dengan kami."

Neji hanya mengangguk. Ia kemudian kembali berkata, "Berdasarkan gulungan ini—" ia menunjuk gulungan di tanah "—kalian hanya akan muncul di saat pembuatan kontrak dan di saat genting, seperti perang besar. Jadi kuasumsikan—setelah membaca beberapa referensi tentang kalian dan menemukan tentang tujuh rasi bintang yang mengelilingi kalian—bahwa ketika kami atau setidaknya salah satu dari kami memanggil kalian, salah satu dari tujuh rasi bintang tersebut yang akan muncul. Apakah itu benar?"

Memang benar ketika Neji menelusuri lebih dalam tentang shishin, terdapat tujuh rasi bintang yang mengelilingi masing-masing dari mereka.

Tujuh rasi bintang yang mengelilingi mereka berbeda-beda. Yang mengelilingi Seiryuu adalah Su Boshi, Ami Boshi, Tomo Boshi, Soi Boshi, Nakago Boshi, Ashitare Boshi, dan Mi Boshi; sementara yang mengeliling Suzaku adalah Chichiri Boshi, Tamahome Boshi, Nuriko Boshi, Hotohori Boshi, Chiriko Boshi, Tasuki Boshi, dan Mitsutake Boshi; yang mengelilingi Byakko: Tokaki Boshi, Tatara Boshi, Ekie Boshi, Subaru Boshi, Amefuri Boshi, Toroki Boshi, dan Kagasuki Boshi; dan yang mengeliling Genbu adalah Hikistu Boshi, Inami Boshi, Uruki Boshi, Tomite Boshi, Umiyame Boshi, Hatsui Boshi, dan Namame Boshi.

Ada beberapa nama lain mereka dalam beberapa Bahasa, namun nama-nama tersebut adalah yang paling sering dipakai.

Dari buku yang ia baca, belum ada penjelasan mendalam tentang mereka. Selain bahwa mereka adalah bintang dan berwujud layaknya naga, burung, macan, dan kura-kura normal. Seperti keempat pria yang berada di hadapan mereka. Namun Neji tidak tahu pasti apakah mereka memiliki wujud manusia atau tidak.

Dikarenakan waktu yang Sakura berikan hanya dua hari sebelum mereka melakukan kontrak, hanya itulah yang Neji dapatkan dari hasil penelusuran. Maka itu ia bertanya kepada sumbernya langsung.

Byakko, yang sejak tadi hanya menatap mereka dengan wajah datar, sedikit menyunggingkan senyum. Ia terlihat puas dengan deduksi dari Neji. Kemudian pria berambut perak tersebut menjawab dengan nada dingin, "Itu benar. Dan tujuh rasi bintang tersebut hanya berkaitan dengan mereka." Neji menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan penjelasan Byakko, namun kelanjutan tersebut tak kunjung datang.

Genbu mendesah keras. Sambil menggelengkan kepalanya, ia yang melanjutkan penjelasan tersebut. "Mereka sama seperti kami, namun tidak memiliki wujud manusia. Masing-masih dari mereka mewakili bagian tubuh kami."

Sakura sedikit tertarik mendengar informasi baru tersebut. Ia baru akan membuka mulutnya untuk bertanya, ketika Genbu menyelanya dengan mengangkat sebelah tangannya. Menyuruhnya untuk berhenti. "Kau bisa mempelajarinya nanti, Sakura-chan, ketika bertemu dengan mereka langsung."

Sakura sedikit mengernyit mendengar panggilan akrab dari Genbu, namun ia tak menggubrisnya dan hanya mengangguk sebagai jawaban.

Seiryuu kemudian mengambil satu langkah ke depan, menatap mereka dengan tajam. "Kurasa itu cukup, kecuali kalian masih memiliki pertanyaan?"

Neji bersuara kembali, menanyakan pertanyaan yang tidak terlintas di benak Sakura sama sekali. "Kami sudah menandatangani kontrak, apakah bisa jika bertambah satu orang?"

Seiryuu hanya mengangguk sebagai jawaban. "Selama itu hanya satu orang, maka ya, kalian bisa menambahkan satu orang lagi untuk membuat kontrak dengan kami."

Setelah itu mereka berempat menghilang dengan asap yang mengelilingi tempat mereka berdiri tadi. Sakura menatap Neji dengan penuh tanya, sementara Shikamaru terlihat seakan dirinya tahu maksud pertanyaan Neji tadi.

Neji yang merasakan tatapan Sakura kemudian meliriknya. Sedikit mendengus ketika pertanyaan Sakura terpampang dengan jelas di wajahnya. "Di dalam tim ANBU ada empat orang anggota, Sakura. Dan seingatku, aku dan Shikamaru belum benar-benar masuk dalam tim resmi dalam ANBU. Jadi, kuasumsikan kau ingin kami menjadi bagian dari tim milikmu nanti." Neji sedikit menyeringai tatkala melihat ekspresi syok Sakura setelah mendengar asumsinya yang tepat sasaran, kemudian ia melanjutkan, "Kalau kita berada dalam satu tim, maka aka nada satu orang lagi. Aku ingin agar ia juga ikut membuat kontrak."

Sakura mengangguk mendengar jawaban Neji. Dan Shikamaru hanya bergumam 'kuharap bukan seseorang yang merepotkan'. Ketiganya kemudian berpisah setelah urusan mereka selesai. Shikamaru diwajibkan menuju Kantor Hokage untuk mengantar tamunya. Sakura sedikit melotot ketika mendengar hal tersebut dan menegurnya karena seharusnya ia istirahat.

"Perintah Hokage. Lagipula kalau aku harus istirahat, tidak seharusnya aku ada di sini," jawabnya dengan menunjukkan seringainya yang membuat Sakura memutar matanya.

Setelah berpisah dengan Shikamaru dan Neji (Shikamaru dan Neji, sebagai perwakilan klan mereka, mengantar rombongan Kazekage dan Mizukage ke Menara Hokage), Sakura kembali ke apartemennya hanya untuk mengambil bokken dan shinai yang diberikan Tenten padanya beberapa ari yang lalu. Setelahnya ia melesat keluar, menuju took senjata milik Tenten.

Sakura tahu kalau hari itu ia tidak memiliki jadwal latihan, tapi tubuhnya memberontak ingin berlatih. Lucu memang, di saat orang-orang dengan senang hati menerima waktu istirahat untuk merilekskan otot-otot mereka, tubuh Sakura menginginkan rasa sakit tersebut. Hanya untuk melupakan pikirannya dari seorang pria dengan mata obsidiannya sejenak.

Ketika ia sampai di took milik Tenten, Sakura dapat melihat gadis bercepol dua tersebut tengah melamun di konter. Sakura tersenyum kecil, setidaknya Tenten sedang tidak sibuk yang berarti ia bisa meluangkan sedikit waktunya untuk melatih Sakura. Meski pun jadwal latihan mereka eharusnya dimulai empat hari lagi.

Lonceng kecil di atas pintu berbunyi ketika Sakura masuk. Tenten mengangkat kepalanya, melihat siapa pelanggan yang datang. Ketika melihat kunoichi merah muda yang tengah berdiri di depan pintu masuk, Tenten tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Apalagi ia melihat bokken dan shinai yang berada di kedua tangan Sakura.

"Kau benar-benar tidak sabar, ya, Sakura," ucap Tenten diselingi tawa kecil. Sakura hanya menyeringai ke arah Tenten sebelum ia mendekati gadis yang lebih tua satu tahun darinya tersebut.

Tenten memutari konter dan berjalan menuju pintu belakang. Sakura menunggunya sampai akhirnya Tenten muncul kembali dengan sebuah tongkat kayu panjang yang tingginya melebihi Tenten, mengundang tanya pada Sakura. Ninja medis tersebut menaikkan sebelah alis merah mudanya kepada Tenten.

Tenten menyeringai padanya, kemudian menjawab, "Ini senjataku, Sakura."

Sakura mengernyit bingung. Bukankah untuk berlatih mereka harus menggunakan bokken dan shinai? Pertanyaan tersebut terpampang di wajah Sakura membuat Tenten tertawa kecil, gadis bercepol dua itu berkata, "Kita tidak harus berlatih menggunakan bokken atau shinai. Sebaiknya cari senjata yang nyaman bagimu, api kalau kau masih pemula, lebih baik menggunakan bokken dan shinai untuk membiasakan diri."

Sakura mengangguk. Tenten kemudian memberikan gestur 'ikuti aku' yang dituruti olehnya. Sakura tidak tahu ke mana Tenten akan membawanya, yang ia tahu mereka akan berlatih. Tapi ia tidak tahu di mana. Seingatnya semua training ground tengah digunakan oleh genin.

Sakura sedikit bingung ketika jalan yang mereka tapaki merupakan jalan menuju gerbang Konoha. Dan semakin bingung lagi saat Tenten dengan semangat menarik dirinya menuju tempat di mana Kotetsu dan Izumo tengah terlihat dalam obrolan santai.

"Kotetsu-san! Izumo -san !" panggil Tenten setengah berlari dengan Sakura di belakangnya yang ia tarik.

Kotetsu lah yang pertamakali mendengar panggilan Tenten. Ketika pria berambut biru jabrik dengan balutan perban di hidungnya tersebut menoleh ke arah datangnya mereka, ia memberikan senyumnya pada Tenten. Sebelum melambai padanya, memanggil mereka ke sana.

Sakura baru menyadari bahwa Genma juga berada di sana, berdiri di samping Kotetsu. Pria dengan senbon di sela-sela bibirnya tersebut tersenyum ketika ia melihat Sakura.

Sakura sendiri tidak bisa menutup kegembiraannya ketika ia melihat Genma. "Genma!" panggil Sakura antusias.

Genma hanya menyeringai sebelum membalas panggilan Sakura. "Sakura," panggilnya. Matanya tertuju kepada bokken dan shinai yang berada di tangannya. "Berlatih?"

Sakura mengangguk. "Yah, sebenarnya dimulai empat hari lagi tapi—"

"Tapi Sakura sudah tidak sabar!" sela Tenten. Ia menaik turunkan alisnya ke arah Sakura membuat gadis itu mendecih.

"Tapi Shikamaru dan Neji tengah ditugaskan untuk menemani Kazekage dan Mizukage. Karena aku sedang tidak ada jadwal di rumah sakit aku menghampiri Tenten," selesainya, melanjutkan perkataannya yang terpotong tadi.

Izumo yang mendengar nama Kazekage dan Mizukage disebut oleh Sakura kemudian menengok, seperti mengingat sesuatu ia membuka mulutnya, "Kudengar pertemuan Lima Kage untuk membicarakan—"

"Izumo," panggil Genma dengan nada mengancam. Sang tokujo menggeleng tidak setuju pada Izumo.

Izumo langsung menutup mulutnya. Wajahnya terlihat bersalah sebelum meminta maaf. Sakura sedikit mengernyit melihat sikap Genma. Tapi ia membiarkannya karena menurutnya Genma bersikap seperti itu karena tujuan pertemuan tersebut adalah rahasia.

"Apa kalian mau berlatih bersama kami?" tanya Tenten, mengalihkan topik karena ia telah merasakan atmosfir di antara mereka yang mulai canggung. "Nona Sakura di sini memintaku untuk mengajarinya bokujutsu."

Kotetsu dan Izumo saling memandang. Keduanya kemudian tersenyum. "Mengingat sudah lama kami tidak berlatih," mulai Izumo.

"Kedengarannya menarik," lanjut Kotetsu.

Genma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedikit tersenyum melihat Kotetsu dan Izumo yang terlihat antusias setelah mendengar ajakan Tenten. Sakura menatap Genma yang dibalas oleh Genma dengan menaikkan sebelah alis cokelatnya.

"Kau tidak ingin ikut kami berlatih?" tanya Sakura pada akhirnya.

"Ah, aku spesialis senbon, ingat?" Genma menunjuk senbon di mulutnya. "Kukira kau ingin belajar menggunakan senjata besar."

Sakura mengedikkan bahunya, kemudian menjawab, "Aku tidak melihat adanya rugi untuk belajar menggunakan senbon layaknya seorang spesialis. Apalagi kalau senbon tersebut dapat menghentikan kunai."

Genma memberikan cengirannya mendegar kalimat terakhir Sakura. Ia mendekati gadis tersebut kemudian mengacak-acak rambutnya yang disambut oleh protesan dari Sakura. "Kau manipulator yang handal," ucapnya.

"Aku bukan manipulator. Lagipula aku sedang tidak memanipulasimu, aku sedang meyakinkanmu. Kau bisa bilang aku pembujuk yang handal, tapi aku bukan manipulator," jawab Sakura sambil membenahi rambutnya kembali ke seperti semula. "Jadi, kau ikut berlatih atau tidak?"

Genma tidak menjawabnya namun ia berjalan mengikuti Tenten, Izumo, dan Kotetsu. Sakura tak bisa menahan senyumnya. Ia kemudian berlari hingga ia jalan sejajar dengan Genma.

.

.

.

Mereka berlatih cukup lama: empat jam. Karena peraturannya latihan akan selesai setelah Sakura berhasil mengenaii mereka berempat: Tenten, Kotetsu, Izumo, dan Genma. Yang awalnya Sakura pikir akan gampang, namun pada kenyataannya sangat sulit.

Benar kalau kecepatan Sakura telah meningkat setelah ia berlatih tanpa henti dengan Neji, Shikamaru, Genma, dan Lee. Tapi Kotetsu, Tenten, dan Izumo tidak kalah cepat. Apalagi senjata adalah spesialisasi mereka. Dan Genma, Sakura mendesah keras dalam hati, ia sangat cepat. Apalagi lemparan senbonnya dapat menghentikan bokken dan shinai Sakura.

Sakura tahu kalau Genma sangat ahli dalam senbon. Ia juga tahu kalau lemparan senbon Genma sangat kuat dan dapat menghentikan kunai dan senjata lainnya. Tapi melihatnya di depan mata tetap membuatnya terkagum-kagum dengan keahlian Genma. Juga membuatnya frustasi, karena ia tak kunjung dapat menyentuh Genma.

Selama dua jam awal, Sakura harus melawan mereka semua dan harus mengenaik keempatnya. Dengan syarat jika salah satu dari mereka terkena senjata Sakura, maka ia harus keluar sehingga musuh Sakura berkurang. Namun untuk menyentuh mereka saja sangat sulit sekali. Apalagi pegangan Sakura pada senjatanya masih sangat buruk, terkadang Tenten mengomelinya dan mengingatkannya untuk membetulkan cara ia memegang senjata.

Setelah dua jam terlewati dan Sakura semakin frustasi, peraturan akhirnya diganti. Ia harus mengenai salah satu dari mereka. Ia sedikit lega setidaknya kalau hanya satu orang ia masih mampu, namun pada kenyataannya untuk mengenai salah satu dari mereka saja membutuhkan waktu dua jam.

Gelang-gelang besi di kaki dan tangan Sakura tidak membantu. Sakura sendiri tahu, Tenten juga mengenakan gelang-geleng besi tersebut bahkan bobotnya lebih berat disbanding miliknya. Tapi hal tersebut tidak menjadi halangan bagi Tenten.

Pada akhirnya Sakura menggunakan sedikit taijutsu yang diajarkan Lee padanya, membuat Kotetsu sedikit terkejut dan memberi Sakura kesempatan untuk menyerangnya selama beberapa detik. Namun beberapa detik tersebut tak disia-siakan oleh Sakura, ia langsung mendekati Kotetsu dengan kecepatan tinggi. Mengangkat bokken miliknya, berpura-pura akan menyerang pria tersebut, Kotetsu menghentikannya dan Sakura memberikan dirinya seringaian melihat reaksi yang dia inginkan. Kotetsu hanya dapat mengumpat sebelum shinai Sakura mengenai pinggang pria tersebut.

Setelah mereka menghentikan latihan, Tenten memberikannya sedikit masukan dan juga mengingatkannya untuk membetulkan caranya memegang senjata dan membiasakan diri menggunakan senjata. Kotetsu dan Izumo juga sedikit memberikannya masukan, kemudian mereka berkata padanya jika Tenten sedang tidak ada desa mereka dengan senang hati akan melatihnya yang dibalas dengan anggukan antusias dari Sakura. Mereka juga memuji Sakura karena dapat menyerang Kotetsu.

"Ah, kalau aku tidak menggunakan taijutsu, mungkin latihan ini akan terus berlanjut sampai besok," jawab Sakura.

"Kau mengejutkanku, kau tahu?" jawab Kotetsu kemudian diselingi tawa oleh Izumo.

Tenten kemudian mengingatkannya juga untuk tidak menggunakan taijutsu dulu, karena ia perlu membuat Sakura terbiasa melakukan gerakan-gerakan saat menggunakan senjata.

Setelah Tenten, Izumo, dan Kotetsu selesai memberikannya masukan dan sedikit banyak menggoda gerakannya yang masih kaku, di mana hal tersebut membuat wajahnya merah karena malu. Ia mendekati Genma yang kini tengah berbicara dengan seorang ANBU yang tidak Sakura kenali.

Ketika Sakura mendekat ANBU tersebut menoleh padanya sebelum mengatakan sesuatu pada Genma kemudian menghilang dari sana dengan bunyi 'puff' besar. Meninggalkan asap yang kemudian menghilang dalam sekejap.

"Ada apa?" tanya Sakura.

Genma hanya memberikannya senyum lelah. "Panggilan dari Hokage."

"Misi?"

"Aa." Genma menepuk-nepuk pucuk kepala Sakura sebelum berjalan pergi. "Aku duluan, sampai jumpa, Sakura!" Tangan kirinya di dalam saku celana dan kanannya melambai pada Sakura tanpa menoleh ke belakang.

Sakura sedikit memicingkan matanya karena Genma seperti menghindarinya setelah ANBU tadi mengatakan sesuatu padanya. "Genma," panggil Sakura. Genma menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada Sakura.

"Ya?"

Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. Ia berjalan mendekati Genma, saat ia berada di depan pria tersebut Sakura langsung mengeluarkan isi pikirannya. "Kau menghindari setelah ANBU tadi mengatakan sesuatu," ujar Sakura dengan nada menuduh.

"Aku tidak," jawab Genma. Ia menghindari tatapan Sakura, semakin membuat gadis itu yakin bahwa pria itu sedang menghindarinya.

"Iya, kau bahkan menghindar menatap mataku." Sakura memberinya tatapan curiga. Ia menghela napas, kemudian berkata, "Katakan padauk."

Genma mendesah kalah, ia mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak bisa, Sakura. Perintah, Hokage. Ini rahasia."

"Genma, aku tahu…aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan…dengan…dia, kan?" cicit Sakura, enggan menyebut namanya. Ia menatap Genma dengan pandangan memohon.

Genma hanya mengangguk sebelum berkata, "Tapi aku tidak bisa memberitahumu."

Sakura akhirnya menyerah. Mengingatkan dirinya untuk tidak bersikap layaknya anak kecil. Ia tidak bisa memaksa Genma untuk mengatakan padanya, apalagi Tsunade telah mengatakan padanya bahwa misi tersebut rahasia. Yang berarti Sakura wajib mematuhinya, suka atau pun tidak Tsunade tetap lah Hokage dan Sakura harus tunduk padanya.

Genma mengelus kepalanya, memberikan Sakura senyuman meyakinkan. "Hokage-sama pasti memiliki alasan untuk merahasiakannya, Sakura. Mungkin jika kau bertanya padanya, Tsunade-sama akan memberitahumu?"

Sakura—yang kini sedang menunduk—hanya menggeleng. "Iie. Maaf sudah memaksa, Genma." Ia mengangkat kepalanya dan memberikan senyum lebar pada Genma (yang Genma tahu adalah senyum palsu). "Apapun misimu, semoga berhasil. Dan berhati-hati lah…"

"Pasti," jawab Genma.

.

.

.

Ketika Genma masuk ke ruangan Dewan Konoha, di sana sudah ada seorang gadis dengan rambut pirang yang dikuncir kuda—Genma mengenalnya sebagai sahabat Sakura, kalau ia tidak salah namanya Yamanaka Ino—dan seorang pemuda dengan kulit putih pucatnya, Sai, juga dua orang jounin yang Genma kenali sebagai Raiku dan Oda. Genma memberikan hormat kepada Hokage dan keempat Kage lainnya, serta Tetua Konoha, yang duduk di sofa.

"Genma," panggil Tsunade dengan nada yang menunjukan bahwa ia yang memiliki wewenang di sana.

"Hai, Tsunade-sama?" Genma tanpa sadar menegakkan badannya.

"Kami telah memutuskan untuk menangkap Uchiha Sasuke dan mengeksekusinya," ujar Tsunade. Genma mengangguk pertanda bahwa ia sudah tahu akan hal itu. "Keempat jounin ini akan menjadi tanggungjawabmu." Tsunade menunjuk ke arah di mana Ino, Sai, Raiku, dan Oda berada. "Aku tahu kalian pasti bertanya kenapa kalian yang kami kirim dan bukan ANBU atau jounin lain yang lebih berpengalam—jangan tersinggung, Genma. Tapi perlu kalian ingat, saat ini Konoha sedang kekurangan shinobi dikarenakan mayoritas jounin dan beberapa ANBU sedang berada dalam misi. Kami tidak bisa menunggu sampai mereka kembali ke desa. Selain itu karena jounin yang sedang berada di desa sedikit, aku memutuskan agar ANBU ditugaskan untuk menjaga di desa."

"Jangan khawatir, Shiranui-san, akan ada tiga jounin dan dua ANBU dari masing-masing empat desa lain yang akan bergabung dengan kalian," lanjut Gaara.

"Kuharap kalian tidak mengecewakan kami, Shiranui," ucap Tsunade dengan nada final yang hanya dijawab dengan 'hai' oleh Genma. "Ah, satu hal lagi. Rahasiakan hal ini dari Sakura." Rahang Genma sedikit mengeras, ia juga mengepalkan tangannya mendengar perintah pemimpin desanya tersebut. "Itu saja yang perlu kalian ketahui, sisanya ada di dalam gulungan. Ada pertanyaan?"

"Hai," jawab Genma, membuat kelima Kage di hadapannya menaikkan alis mereka. "Ini bukan pertanyan…tapi…Tsunade-sama, dengan segala hormat, kuharap Anda mengizinkanku untuk memberitahu Sakura."

Rahang Tsunade mengeras ketika mendengar permintaan Genma. Ia memejamkan matanya, kemudian memijat pelipisnya. Setelah ia membuka matanya, ia memandang Genma dengan tajam. Genma balik memandang pemimpin desanya tersebut dengan tatapan meyakinkan.

Tsunade menghela napasnya. Ia tahu pasti setidaknya salah satu dari Genma, Shikamaru, atau Neji akan meminta izin padanya untuk memberitahu muridnya yang satu itu, pun ia telah memberikan mereka perintah yang jelas. Jujur saja Tsunade merasa seperti guru yang brengsek karena tidak memberitahu Sakura. Padahal Ino, Sai, dan lainnya mengetahui hal ini. Tapi Tsunade takut emosi Sakura membuatnya bertindak gegabah.

"Kau tahu emosi Sakura tidak stabil…"

Rahang Genma mengeras mendengar ucapan Tsunade. Ingin rasanya ia memotong ucapan Sang Hokage, tapi ia menunggu hingga Tsunade menyelesaikan ucapannya.

"Aku tidak ingin Sakura mengacaukan misi ini—"

Cukup sudah. Genma bahkan tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar keluar dari mulut Sang Hokage. "Tsunade-sama, kuharap Anda menyadari perubahan Sakura selama tiga bulan terakhir ini," potong Genma.

Ia dapat mendengar Ino menahan napasnya karena sikapnya yang kurangajar terhadap Sang Hokage. Tapi Genma tak peduli, consequences be damned. Ia tidak percaya bahwa Tsunade berpikir Sakura akan bertindak yang tidak-tidak dan mengacaukan misi ini. Genma tahu betul Sakura tidak akan bertindak gegabah, apalagi selama tiga bulan ia tinggal bersamanya, Sakura tidak sekali pun menggunakan emosinya untuk mengambil keputusan. Bahkan saat Genma akan datang ke sini, Sakura menyadari kesalahannya karena terbawa emosi.

"Saya rasa Sakura akan lebih bertindak gegabah jika Anda menyembunyikan hal ini dari Sakura. Kuharap Anda memikirkannya kembali, Godaime-sama." Genma mengucapkan 'Godaime-sama' seperti racun. Membuat Tsunade menggeram. Mizukage, Tsuchikage, dan Raikage hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat Genma dengan berani mempertanyakan keputusan Sang Hokage.

Sang Kazekage, Gaara, tanpa diduga-duga membuka suara. "Kurasa tidak apa memberitahukan hal ini pada Haruno-san, Hokage-san." Tsunade mengalihkan pandangannya pada Kazekage muda bersurai merah tua tersebut, ia melipat kedua tangannya di depan dada besarnya. Menunggu Gaara melanjutkan ucapannya. "Jika memang benar apa yang dikatakan Shiranui-san tadi, kurasa ia tidak akan keberatan bertanggungjawab atas ucapannya tadi."

Gaara menatap Genma dengan tatapan datarnya. Tapi Genma tahu bahwa Sang Kazekage tengah menantangnya. Ia menerima tantangan tersebut dengan menjawab, "Hai, saya akan bertanggungjawab atas ucapan saya. Jika Sakura bertindak gegabah dan mengacaukan misi ini, Anda bisa menghukum saya, Tsunade-sama."

Tsunade kembali memijat pelipisnya. Terkadang ia bingung, bagaimana bisa seorang gadis bersurai merah muda, yang dulu ketakutan meminta dirinya untuk menjadikannya murid salah satu dari ketiga sannin, dapat menjadi penyebab sakit kepalanya. Wanita berkepala lima yang masih telihat sangat muda itu kemudian menghela napas. Ia baru akan membuka mulutnya ketika Sang Tsuchikage memotong omongannya.

"Aku yakin Haruno-san yang sedang kalian bicarakan ini sudah dewasa, benar?" sang Tsuchikage menunggu jawaban dari Genma dan Tsunade yang hanya dibalas dengan sebuah anggukan untuk mengkonfirmasi asumsinya. Ia kemudian melanjutkan, "Maka kurasa tidak apa memberitahukannya. Pun aku tidak mengerti alasan kalian menyembunyikan hal ini darinya. Tapi aku yakin dia tahu apa yang benar dan salah. Apa pun yang dia lakukan, itu adalah konsekuensi dan tanggungjawabnya." Pria paruh baya itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Genma. "Maka itu, Genma-san, kau tidak perlu bertanggungjawab atas apa yang akan terjadi setelah Haruno-san membuat keputusan."

Genma menahan pandangannya pada Sang Tsuchikage selama beberapa detik sebelum menatap Tsunade dengan ekspektasi tinggi.

Di belakang Genma, Ino membulatkan matanya. Ia memandang pria yang tengah berdiri di depannya dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Ino tersenyum dalam hati. 'Sakura, kau pasti tidak menyadari betapa orang-orang sangat menyayangimu,' ucapnya dalam hati.

Ino tidak tahu apa yang terjadi selama ia pergi bersama Tim Tujuh, tapi setelah ia kembali ke desa, ada satu hal yang ia sadari. Beberapa perubahan yang terjadi di diri Sakura. Ino sedikit banyak kecewa dengan dirinya sendiri karena ia adalah salah satu penyebab dari perubahan Sakura tersebut. Ino juga menyadari kedekatan Sakura dengan sahabat nanasnya, Shikamaru, dan si Hyuuga prodigy, Neji.

Ketika kelima Kage telah menyuruh mereka pergi, Genma berbalik badan dan matanya dan mata Ino bertemu sebentar. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya sebelum ikut keluar dari ruang Dewan Konoha.

.

.

.

Setelah pagi tadi Neji dan Shikamaru berpisah dengan Sakura, mereka mengantar Kazekage dan Mizukage ke Menara Hokage. Bersama beberapa pengawal pemimpin desa tersembunyi tersebut. Sebelum mereka undur diri, Sang Hokage menahan mereka sebentar dan mengatakan bahwa tujuan pertemuan ini harus disembunyikan dari Sakura.

Setelah mereka meninggalkan Menara Hokage, keduanya pergi mencari Genma untuk mengabari pria tersebut, karena selain Neji dan Shikamaru, Genma juga merasa bertanggungjawab atas Sakura (dan Lee juga). Apalagi mereka pernah tinggal satu atap selama beberapa bulan, membuat mereka semakin dekat dan membuat ketiga shinobi tersebut menjadi protektif terhadap Haruno Sakura.

Neji dapat melihat bahwa Genma terlihat tidak senang setelah mendengar kabar itu. Ia sendiri juga tak habis pikir mengapa Sang Hokage tidak ingin Sakura tahu. Pun ia sebenarnya sedikit banyak bisa menebak alasan di balik perintah Godaime Hokage tersebut.

Jadi setengah jam yang lalu, ketika Genma tiba-tiba muncul di rumah Shikamaru (di mana saat itu ia dan keturunan Nara itu sedang bermain shogi) sedikit membuat pemuda beriris lavender itu terkejut. Dan semakin terkejut lagi mendengar misi baru Genma, walau pun ia tidak benar-benar menunjukan wajah terkejutnya. Pria yang sedikit lagi berkepala empat itu mengatakan bahwa ia akan mencoba meminta Sang Hokage untuk membiarkan mereka memberitahu Sakura.

Maka di sinilah ia dan Shikamaru. Di ujung lorong menuju ruang Dewan Konoha, menunggu Genma keluar dari sana dan memberitahu hasilnya. Neji dapat mendengar helaan napas bosan dari Shikamaru sebelum ia mengatakan kata kesukaannya, "Merepotkan."

Jelas saja Shikamaru bosan, sudah setengah jam mereka berdiri di sana dan Genma tak kunjung keluar.

Baru saja Neji akan membuka mulutnya untuk menyuruh Shikamaru agar bersabar sedikit, tepat saat itu pula ia melihat pintu ruangan Dewan Konoha terbuka. Dan memperlihatkan Raiku dan Oda—yang seingat Neji adalah jounin (tapi Neji tidak terlalu mengenal mereka). Disusul oleh Genma, Sai, dan terakhir Yamanaka Ino yang kemudian menutup pintu ruangan.

Genma menyadari kehadiran mereka. Ia menatap mereka sebentar di tempatnya sebelum berjalan mendekati keduanya. Ketika ia sudah berdiri di hadapan kedua pemuda tersebut, Neji menatapnya dengan pandangan 'bagaimana?' dan seperti mengerti maksud tatapan Neji, Genma mengangguk kepada keduanya.

Sebelum mereka dapat mengatakan apa pun, Genma telah memegang bahu Neji dan Shikamaru. Ia mencengkeram bahu mereka dengan sedikit tekanan sembari menghela napas. "Aku titip Sakura pada kalian," ujarnya. Ia menatap keduanya, menunggu jawaban atau sekadar anggukkan. Setelah mendapatkan jawaban ia melanjutkan, "Kita memang hanya menghabiskan waktu sebentar, tapi dalam kurun waktu tersebut aku telah mengangap Sakura sebagai adikku. Kalian berdua dan Lee juga. Jadi jaga adikku, oke?"

"Aa, kami tahu," jawab Neji mewakilkan keduanya.

Genma mengangguk. Ia melepaskan cengkeramannya dari bahu mereka. Ia bersuara kembali, "Biar aku yang memberitahu Sakura."

Ia tidak menunggu jawaban lagi, karena setelah mengatakan hal tersebut Genma telah berjalan pergi. Neji menatap bahu Genma hingga hilang di belokan.

.

.

.

Note: Oh hell yes, the drama has begun! And phew, I gotta admit this is the hardest chapter I've written so far. There are a lot of changes, I reconsider everything and this is the best I could've pulled off in this chapter. Although I must say I'm not satisfied with this one. I hope the next chapter will satisfy me much better than this one and I'm already working on the next one. I also have found the perfect mask for Sakura which fit with her character and personality (I must say I was surprised when I found out). I did a lot of research you see to decide Sakura's ANBU mask. And I'll put the reason why I chose it, but since all my research results are all in English, I'll explain it in English. But I'll reveal it next chapter or maybe the next two chapters? Who knows, I'm currently thinking about Sakura's reconciliation with Ino and Sai. Along with the rest of Team Seven, except Sasuke (for reasons, of course). I also have decided how this story is going to end, though I'm sure most of you wouldn't like the ending. But Sakura will grow even stronger throughout the story and I really think it's the perfect ending for my story. Well, but it's still in mind anyway. I might change my mind in the future, who knows? Anyway, thank you for leaving reviews, marking this as your favorite, or putting it on alert. I appreciate it a lot.