Cerita berlanjut,..

Akan banyak typo, AU, lumayan OOC, minim deskripsi, deskripsi amburadul, deskripsi belum mewakili imajinasi author, pemilihan kata yang kurang bervariasi, penempatan tanda baca yang masih kurang sesuai dan kekurangan yang lainnya...

Disclaimer: sepenuhnya milik sunrise

Apabila terjadi kesamaan cerita, alur, dan tema mungkin saya terinspirasi dari cerita atau film yang pernah author baca atau tonton. Mohon maaf apabila ada yang merasa ceritanya saya jiplak. Mungkin cerita ini gampang tertebak atau malah sudah tahu?

Selamat membaca

CHAPTER 12

Athrun masih duduk masih di kursi panjang yang berada di depan ruang khusus para pejabat administrasi rumah sakit. Sedari tadi ia hanya duduk dan bermain dengan ponsel pintarnya, mulai dengan game online sampai dengan situs resmi perusahaannya.

"Gomen ne," ucap Cagalli yang baru saja keluar dari ruang yang daun pintunya bertulisakan 'Ruang Tata Usaha'.

Cagalli tampak lesu dengan bawaan yang ia bawa, "Arigatou sudah mau menunggu," ucapnya riang mengiringi perjalanan pulang mereka dari rumah sakit.

Athrun yang sibuk menyetir hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Sampai di depan lobby, Athrun segera turun dan memanggil beberapa penjaga dan menyuruh mereka membantu Cagalli membawa barang-barang ke apartemennya.

Baru saja mereka keluar dari lift, di depan pintu apartemen sudah terlihat dua orang berjas lengkap membawa tas jinjing berwarna hitam.

"Syukurlah kau segera datang, pria manis disebelahku sudah seperti cacing panggang," ucap pria berkulit tan dengan rambut pirangnya memandang pria yang lainnya dengan rambut perak.

Athrun berjalan lebih cepat dan segera membuka pintu apartemen, sementara Cagalli mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk terlebih dahulu. Ia dan petugas keamanan yang membantu mengangkut barang-barang juga ikut masuk ke dalam apartemen, setelah tugasnya selesai Athrun memberikan beberapa uang sebagai tip.

"Maaf membuat kalian menunggu terlalu lama," ucap Athrun mempersilahkan kedua tamunya duduk.

Athrun melepaskan kacing yang terletak di potongan pergelangan tangannya agar ia bebas melipat bagian lengan. Mereka terlihat serius sesaat setelah pria berambut perak mengeluarkan beberapa map.

Cagalli segera membereskan kembali segala barang yang telah ia gunakan kedalam lemari penyimpanan. Dengan ragu, Cagalli berjalan mendekati Athrun, "Apa kalian tidak ingin makan malam?" Tanya Cagalli.

Mereka bertiga langsung menghentikan pekerjaan mereka dan menatap Cagalli, "Kau bisa memasakkan sesuatu untuk kita dan mungkin beberapa minuman untuk melepas lelah,"

Pria berambut pirang berdiri dan mengulurkan tangannya, "Aku Dearka, sahabat Athrun sejak masih bayi,"

Cagalli menerima uluran tangan Dearka, "Aku Cagalli,"

"Dan pria manis ini adalah Yzak, dia pemarah jadi kau tidak perlu dekat dengannya," ucap Dearka tetap menjabat tangan Cagalli.

Athrun melirik perbuatan Dearka, "Siro, kau bisa melepas tanganmu sekarang!" ucap Athrun menatap Dearka sengit.

Dearka melapaskan tanganya dan memberi kedipan pada Cagalli, melihat hal yang mengganggu, Athrun langsung menyeret Cagalli masuk kekamar Cagalli yang terletak disamping dapur dilantai satu.

Athrun menghempaskan tubuh Cagalli sehingga Cagalli terduduk dipinggir tempat tidur, "Jangan tebar pesona!" ucap Athrun sedikit menaikkan nada bicaranya.

Cagalli memandangnya binggung, "Aku tidak tebar pesona, aku hanya menawari kalian makan malam."

Athrun mencekram dagu Cagalli sehingga mata Cagalli menatap mata Athrun, "Kau bisa mengatakan terlebih dahulu kepadaku. Tidak perlu langsung menawari makanan di depan mereka!"

Tangan kiri Cagalli memegang tangan kanan Athrun yang digunakan untuk mencekram dagu Cagalli. "Maaf, kalau itu membuatmu terganggu. Aku akan belajar memahamimu, mohon bersabar," ucap Cagalli diakhiri dengan senyuman manis sebagai penutup.

Athrun melepaskan tangan kanannya, beralih mengusap pelan pipi tembem Cagalli. Ia berjongkok didepan Cagalli, agar Cagalli mengetahui sinar mata Athrun, Cagalli menundukkan kepalanya memfokuskan matanya membentuk bayangan Athrun. "Mungkin kau sudah berhasil membuatku cemburu padamu," lirih Athrun membalas tatapan Cagalli.

Cagalli tersenyum mendengar pengakuan Athrun yang tanpa malu ia utarakan secepat ini, "Kapan aku mempunyai pilihan saat berhadapan denganmu?"

Athrun menarik tengkuk Cagalli dan ia meninggihkan badannya sehingga bibir mereka dapat bertemu, Athrun terkesan memaksakan dan mencari kebenaran atas perasaannya. Ciuman yang didominasi oleh bibir Athrun yang berkuasa diatas bibir tipis Cagalli.

Dan sekarang bukan hanya bibir Athrun yang berada di atas bibir Cagalli, tapi juga badan Athrun yang berhasil menindih tubuh Cagalli diatas ranjang sebagai saksi bisu berkuasanya Athrun atas Cagalli.

Cagalli mendorong pelan dada Athrun sehingga ciuman mereka terputus, "Sepertinya mereka sudah menunggu terlalu lama," ucap Cagalli mengelus pelan pipi Athrun.

Athrun berguling kesamping, "Jangan ulangi lagi atau kau akan mendapatkan hukuman yang lebih dari ini!" Athrun bangkit, membantu Cagalli bangun dan menggenggam tangan Cagalli mengajaknya bangkit, "Bicara padaku! Jangan pernah menawari sesuatu tanpa melalui aku!" perintah Athrun memaksa.

Cagalli mengangguk patuh, "Aku juga sudah dapat menghubungi Rey." Ucap Athrun menjauh dari Cagalli.

Cagalli melebarkan kedua matanya, ia sadar sekarang. Air matanya keluar berbaur dengan udara yang hangat di petang hari. Athrun membuka kembali pintu kamar yang sempat tertutup, "Jangan menangisi pria lain selain aku!" ucapnya meninggalkan Cagalli yang tetap menggalirkan air matanya tanpa suara.

Cagalli menghapus air matanya, ia berjalan ke cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Menyisir sambut pirang dan keluar kamar untuk segera memasak makanan untuk Athrun dan kawan-kawannya. Menghilangkan tangisnya kedalam jurang hati.

Ia berdiri didepan kompor, memasak spaghetti. Ia mulai menumis bumbu, harum dari tumisan bumbu ini mengundang Athrun untuk menghampiri Cagalli-yang berperan sebagai wanita milik Athrun. Cagalli mematikan api kompornya, ia beralih mengambil panci, menumis bawang bombai sampai harum menambahkan buah tomat yang telah berubah menjadi jus tomat. Menambahkan daging sapi cincang, menambahkan garam, dan gula.

Athrun bersandar di kusen, memandang Cagalli. "Kau mau mencobanya?" tawar Cagalli pada Athrun.

Cagalli mengambilkan piring, sedikit spaghetti dan saos tomat yang baru saja matang. Ia mengambilkan garpu dan menyerahkan kepada Athrun. Athrun mulai menguyah makanannya dan meneliti rasa lewat lidahnya.

Athrun mengangguk menandakan penilaiannya, Cagalli tersenyum, ia mulai mengambil piring saji mengisi dengan spaghetti dan saos, kemudian menambahkan keju dan memanaskan dengan microwave. Selesai dengan hidangannya, Cagalli menata piring-piring yang telah berisi spaghetti lengkap dengan saos dan keju leleh. "Minumnya?" Tanya Cagalli menatap Athrun.

Athrun mendekati Cagalli, "Mereka bisa munum soda yang ada di lemari es. Sekarang kau kembali ke kamar dan istirahat," ucap Athrun mendorong tubuh Cagalli untuk kembali ke kamar.

Athrun mendorong sampai Cagalli terduduk di atas ranjangnya. "Segera tidur dan jangan keluar kamar sampai aku ke kamarmu!"

Cagalli memandang Athrun bingung, "Aku tidak perlu membagimu dengan mereka." Perintah Athrun-lagi-dan berlalu meninggalkan Cagalli.

Cagalli membaringkan tubuhnya, nanti pukul sepuluh ia harus berangkat ke rumah sakit. Cagalli bangun dari tidurnya dan langsung menyiapkan dokumen yang belum ia periksa dan komputer jinjing. Cagalli mengenakan blazer jingganya dan membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci oleh Athrun.

Cagalli melihatnya, wanita bernama Meer duduk diantara Athrun dan Dearka. 'Jadi kerena ini aku tidak boleh keluar? alasan yang menyenangkan sekali,' pikir Cagalli.

"Aku berangkat terlebih dahulu," ucap Cagalli berpamitan, ia melihat Meer tersenyum kemenangan sedangkan Athrun terlihat salah tingkah-mungkinkah?

Cagalli berlalu dari apartemen mewah itu, Cagalli jelas merasa ada seorang yang juga ikut keluar dan dengan sengaja Cagalli mempercepat langkahnya. "Cagalli!" teriak orang itu yang berhasil menarik lengan Cagalli menghalau wanita itu menjauh darinya.

"Apa? Aku hampir terlambat!" Bentak Cagalli tanpa sadar, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya kaget atas apa yang telah ia lakukan.

Athrun tersenyum mengejek, "Kau marah?" Tanya Athrun.

Cagalli menggeleng, "Aku berangkat dulu," ucapnya tidak menjawab pertanyaan Athrun.

Athrun menyeret Cagalli mengkuti langkahnya menjahu dari apartemen dan itu membuat Cagalli kesal, "AKU TERLAMBAT!" teriak Cagalli menghentikan langkah kaki Athrun.

Athrun berbalik dan memandang Cagalli, "Katakan kalau kau cemburu!" perintah Athrun.

Cagalli memandang Athrun bingung, "Apa? Cemburu? Kepada siapa? Kau dan Meer?" Tanya Cagalli menantang Athrun.

Athrun melihat ini akan menjadi sesuatu yang menarik, ia memasukkan tubuh Cagalli kedalam kotak besi berjalan bersama dirinya yang selalu memautkan jari tangan besarnya dengan jari Cagalli. Sekarang, Cagalli memandang aneh kearah Athrun, "Untuk apa di tempat parkir?" Tanya Cagalli takut.

Athrun tersenyum, "Kita butuh tempat yang lebih privasi untuk membicarakan masalah kau yang cemburu, sayang!" ucap Athrun dengan kemenangan yang jelas di depan matanya.

Cagalli memukul lengan Athrun, "Aku tidak cemburu!"

"Kau cemburu!" balas cepat Athrun yang mendapatkan plototan dari hazel Cagalli.

Cagalli menunduk, membiarkan Athrun dengan pikiriannya agar ia membiarkan Cagalli berangkat ke rumah sakit.

Cagalli merutuki dirinya yang dengan mudah mengangguk mengakui yang sebenarnya. "Jangan melamun!" teriak salah satu rekan jaganya malam ini dengan usilnya.

Cagalli menggeleng cepat, "Aku tidak melamun!" sangkal Cagalli.

"Lalu?"

Cagalli menghela napas lelah, "Aku akan mengerjakan laporan dulu. Jadi jangan berisik atau aku yang tidur dulu," saran Cagalli sedikit ketus.

"Baiklah, aku akan tidur dulu. Kalau ada hantu nenek makan biskuit jangan pernah membangunkanku!" pamit teman Cagalli yang langsung meninggalkan Cagalli sendirian.

Sepeninggalan rekannya, Cagalli pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia merasa ada yang salah dengan hati dan pikirannya. Cagalli mulai meneliti anggaran yang dialokasikan dan anggaran yang digunakan serta pemasukkan masing-masing poli.

Tidak terjadi defisit dari poli rehabilitasi tempatnya bernaung, semua wajar dan memberikan keuntungan bagi rumah sakit. Matanya sedikit berkunang ketika melihat deretan angka yang tercetak dikertas putih. Ia menutup laporan keuangan bermap merah tersebut dan mematikan laptopnya. Merenggangkan badannya yang kaku dan berbaring di sofa jaga.

Cagalli belanja sayuran dan buah dalam jumlah yang cukup untuk tiga sampai empat hari sebelum kembali ke apartemen Athrun. Cagalli kaget ketika melihat ruang tamu apartemen penuh dengan botol bir, kertas berceceran, ada jas, dasi dan kemeja yang juga berserakan di atas sofa. Dua orang dengan rambut perak dan pirang tidur diatas kasur lipat yang diletakkan dibawah sofa. Mereka tertidur dengan wajah yang masih terlihat lelah.

Cagalli menghela napas berat, sebenarnya ia berencana untuk langsung istirahat setelah jaga malam. Tapi, melihat kandang sapi dihadapannya, ia segera meletakkan belanjaannya diatas meja counter. Melipat lengan atasnya dan mulai merapikan bagian dapur yang penuh dengan kaleng-kaleng bekas minuman yang tidak dibuang ditempatnya.

Cagalli memasukkan jas, kemeja, dasi dan kaos kaki yang berserakan di lantai kedalam mesin cuci. Merapikan kertas-kertas yang penuh dengan berbagai jenis chart yang tidak diketahui apa maksudnya. Membuka jendela dan menyemprot pengharum ruangan. Puas dengan hasil kerjanya, Cagalli menyiapkan sayuran yang baru saja ia beli sebagai bahan membuat sup.

Cagalli merasa aneh, ia tidak melihat Athrun. Pemilik apartmen ini. Cagalli mengabaikan rasa penasarannya dengan tetap melanjutkan memasaknya. Ia menyiapkan nasi dan mangkuk di meja. "Kau melihat kemejaku?" Tanya pria berambut perak dengan memegang tengkuk lehernya yang tidak gatal.

Cagalli mengangguk, "Kau Yzak? Kemejamu masih aku keringkan. Sebaiknya kau cuci muka lalu sarapan. Sekarang sudah jam sepuluh," saran Cagalli tanpa ragu.

Pria bernama Yzak tersebut mengangguk paham, ia berjalan kembali ke ruang tamu dan membangunkan teman prianya yang diketahui bernama Dearka.

Cagalli menyiapkan teh beraroma melati yang menenangkan pikiran. Ia menata meja makan sampai dua orang tamunya berdiri ragu didepan meja makan melihat Cagalli menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

"Silahkan," ucap Cagalli menawarkan tempat duduk untuk dua pria asing dihadapannya.

Mereka berdua mengambil kursi dan mulai mengangkat sumpit makan dengan hening. "Setelah ini kalian bisa mandi, aku akan menyetrika pakaian kalian. Apakah kalian mau mengenakan kemeja kemarin atau beli yang baru?" Tanya Cagalli menawarkan.

Pria berambut pirang menelan makanannya dengan tergesa, "Lebih baik mengenakan kemaja kemarin daripada hanya menggunakan kaos oblong ini. Tapi Athrun akan membunuhku apabila ia tahu aku melakukan ini," ucapnya meminta saran.

Cagalli tersenyum, "Aku bahkan tidak tahu dimana ia," balas Cagalli dibalik ruang yang diketahui sebagai tempat untuk menyetrika baju. "Ia ada diatas, menghabiskan waktu bersama Meer. Mungkin Athrun merindukan wanita seksi itu," ucap Dearka tanpa beban yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yzak.

"Maaf, maksudku mungkin saja mereka hanya tidur bersama tanpa seks?" ucap Dearka cepat bermaksud meralat ucap sebelumnya yang bernada lirih dibagian belakang karena gagal mencari kosa kata yang lebih baik dari kata seks.

"Sepertinya akan ada pembunuhan sadis setelah ini," ucap Yzak dingin.

Mereka menyelesaikan makannya tanpa tahu bahwa Cagalli harus berulang kali menghela napas panjang. "Kemeja kalian sudah siap,"

Dearka menghampiri Cagalli yang masih menggantung dasi, "Ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya dengan senyum yang terlihat ketakutan.

Cagalli membalasnya dengan senyuman, "Mungkin kalian bisa mencuci mangkuk nasi kalian dan menata kembali mejanya. Aku akan istirahat, aku harap kalian tidak membuat kegaduhan. Maaf, aku permisi dulu," pamit Cagalli meninggalkan kedua tamunya yang saling bertatapan lalu memandang punggung Cagalli yang telah mengilang dibalik pintu.

Cagalli merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di tempat tidurnya, "Kami-sama," keluhnya lirih menenangkan hatinya yang terasa sesak.

Cagalli mencoba memejamkan kedua matanya, menutup sampai kesadarnya berpindah kedunia yang lebih indah dari dunia fana ini.

Athrun terbangun dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak, walaupun ada selimut super yang menemani tidurnya. Athrun melepaskan rengkuhan selimut supernya-tangan Meer-untuk pergi ke kamar mandi, samar ia mencium bau masakan. Mungkin efek dari minuman masih ada dalam kepalanya sampai ia berhalusinasi mencium bau masakan Cagalli.

Berbicara tentang wanitanya, ia ingat ciuman panas yang ia berikan kepada Cagalli ketika wanita itu mengakui bahwa dirinya cemburu kepadanya dan Meer. Senyuman kemenangan tercetak diwajah tampan Athrun, ia tidak sabar melihat wanita singanya. Setelah ini ia akan menelpon Cagalli dan menjemputnya di rumah sakit.

Athrun turun lengkap dengan kemeja dan jas yang ia sampirkan di lengan kirinya. "Kalian sudah siap?" Tanya Athrun melihat kedua temannya sudah rapi dengan kemeja kemarin yang tidak terlihat lusuh-mencurigakan.

Dearka mengangguk, sedang Yzak hanya menatap Athrun dengan angkuh. "Kalian sudah pesan makanan?" Tanya Athrun ketika ia melihat panci sup jamur yang ada dimeja makannya.

"Cagalli memasakannya untuk kami," ucap Dearka tanpa sadar.

Athurn memandang Dearka tajam, "Siapa?"

Yzak mencium sesuatu yang buruk, teman hitamnya ini memang tidak tahu diri. "Cagalli memasaknya untuk kami. Athrun, kami berangkat dulu." Pamit Yzak menarik Dearka keluar dari apartemen yang mungkin akan terjadi perang ke delapan.

Mendengar penuturan dari kedua temannya, Athrun segera membuka pintu kamar Cagalli. Dan benar, ia melihat wanitanya telah terlelap dengan selimut sampai dipertengahan wajahnya. Athrun mendekati Cagalli, ia menyibak selimut Cagalli sampai di perutnya. Athrun mencium kening Cagalli. Lama. Cagalli membuka matanya, merasa terganggu.

Cagalli membuka matanya, membentuk bayangan pria berambut navy blue dengan mata zambrudnya. "Aku masih mau tidur. Tolong jangan ganggu aku," pinta Cagalli kembali menarik selimutnya menutupi kepalanya. Athrun yang merasa diabaikan menarik selimut Cagalli dan membuang ke sembarang tempat, Cagalli membuka matanya malas, ia mengambil guling dan menutup kepalanya dengan guling tersebut. Mengabaikan Athrun atau memang benar-benar mengantuk?

Athrun memandang jengkel, "Bicara denganku atau aku akan mengurungmu di rumah seharian sampai aku pulang kantor?" tawar Athrun dengan nada yang lebih keras dari biasanya yang sebenarnya ia gunakan untuk memaksa Cagalli agar bicara dengannya.

Cagalli memandang Athrun, menunjukan bukti bahwa dirinya benar-benar lelah dan butuh istirahat dengan memperlihatkan mata yang sembab bahkan terlihat tertutupi oleh kantung mata yang membengkak karena terlalu lelah. "Baiklah," Athrun berucap pasrah.

Cagalli tersenyum singkat dan kembali menutup kepalanya dengan guling. "Aku akan mengunci kamarmu sampai aku pulang dari kantor. Istirahatlah," ucap Athrun meninggalkan Cagalli.

Cagalli yang merasa diancam, bangkit dari tidurnya dan memandang Athrun. "Aku akan menelpon Kira dan memastikan ia akan menjemputku sekarang!" ancam Cagalli membalas ancaman dari Athrun.

Athrun kembali memandang Cagalli, sungguh dirinya sebenarnya tidak tega melihat mata panda tanda lelah itu. Tapi, hanya dengan cara ini Cagalli mau bicara dengannya.

Athurn memandang Cagalli, "Kau mengancamku?" Tanya Athrun memastikan pendengaranya tidak salah, karena setahunya Cagalli adalah gadis yang memilih jalan aman dalam setiap menyelesaikan masalah-tidak melibatkan keluarganya.

Cagalli menarik napas, "Aku lelah. Aku pulang dari rumah sakit dan harus melihat apartemen seperti kandang sapi. Lalu aku membersihkan dan membuat sarapan untuk kedua temanmu. Dan di rumah sakit aku menjaga pasien sambil mengerjakan tugas dari Kira, aku tidak tidur. Dan sekarang saat aku ingin tidur kau datang dan mengganguku. Setahuku, aku tidak menganggu tidur pagimu dengan kekasihmu," ujar Cagalli mengunggapkan kekesalannya.

Athrun berjalan menghampiri Cagalli dan duduk ditepi ranjang, "Kau marah?"

"Tentu!" balas Cagalli.

Athrun menggenggam kedua tangan Cagalli, meremasnya tapi tidak menyakiti. "Marah karena aku mengganggu tidurmu atau karena ada Meer disini?" Tanya Athrun dengan nada cepat.

"Semuanya!" balas Cagalli cepat. Dan langsung menutup mulutnya. Melepaskan genggaman tangan Athrun dan berbaring kembali memunggungi Athrun.

Athrun tersenyum melihat aksi merajuk Cagalli, "Kau merajuk?"

Cagalli hanya menggeleng, ia merasakannya. Tangan Athrun mengusap puncak kepalanya lembut. "Tidurlah dan mimpikan aku. Aku berangkat." Bisik Athrun tepat di telinga Cagalli mengirimkan singal buruk. Dan benar saja, bibir Athrun mencium tengkuk leher Cagalli membuat kiss mark berwarna merah.

Cagalli yang sadar segera mengambil tindakan yang terlebih dahulu diatasi oleh Athrun dengan mengikat kedua tangan Cagalli dengan menggenggamnya erat. "Lepaskan!" pinta Cagalli.

Athrun menjauhkan bibirnya, "Ini bukti kau sudah mempunyai seorang pria sepertiku," ucap Athrun mengambilkan selimut yang tadi ia buang dan memasangkannya di atas tubuh Cagalli. Meninggalkan Cagalli dan menutup pintu. Tanpa Athrun ketahui, bahwa Cagalli yang ia akui sebagai wanitanya telah menangis dalam tidurnya. "Gomen," ucapnya lirih secara berulang yang tertuju pada pria tampan dengan rambut pirang. "Gomen Rey," ulangnya sampai ia berpindah ke alam mimpi yang damai, berharap berjumpa dengan pria tersebut.

Cagalli bangun dari tidurnya, badannya masih lelah. Jam empat nanti ia harus kembali ke rumah sakit, berganti shift dengan teman seprofesinya. Cagalli segera mandi dan merapikan dirinya. Ia meninggalkan apartemen yang terlihat sudah sepi. Saat ia akan mengunci pintu, ia mendapatkan paket bunga yang tersusun atas mawar dan krisan putih yang mengelilingi mawar tersebut. Cagalli mengambil bunga tersebut dan membaca pesan yang ada terselip diantara bunga.

'Maafkan aku karena tidak punya daya untuk menghubungimu dan menyelamatkan hubungan kita. Athrun punya kekuatan untuk menutup semua akses jalanku padamu. Bahkan aku tidak mampu menemuimu hanya sekedar menyampaikan rindu ini. Aku lelaki lemah, tidak kuat untuk bersanding denganmu. Maafkan aku, Cagalli. Sungguh aku tidak ingin melepasmu. Tapi Athrun dan kekuatannya mampu menarikmu ke sisinya, meninggalkanku sendiri entah dimana. Aku menyanyangimu lebih dari yang kau tahu. Bahagialah bersama Athrun.'

Cagalli memandang lagi bunga yang tersusun indah itu, lalu tersenyum kecut. Hati hancur. Air matanya mengalir, dengan kasar Cagalli mengapusnya menggunakan telapak tanganya. Ia membawa rangkaian bunga itu ke rumah sakit.

Ia melangkah pasti bahwa ia akan beralih jalur. Mencari jalur alternatif untuk sampai ke gedung impiannya. Sesampainya di rumah sakit, Cagalli memberikan rangkaian bunganya kepada nenek yang duduk di kursi roda menanti taksi untuk mengantyarnya kemali kerumah setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Sore ini, keadaan bangsal terlihat lenggang, mungkin karena akhir hari efektif, banyak keluarga pasien membawa pulang keluarganya untuk berlibur bersama. Cagalli mendesah lelah, ia mulai meneliti lagi tugas dari Kira. Keningnya mengerut bingung, dari hasil yang ia dapatkan menyatakan bahwa rumah sakit tidak kekurangan dana. Ia mengambil ponsel pintarnya dan menghubungi bagian keuangan rumah sakit, "Selamat malam, apa kita mengalami defisit keuntungan?" Tanya langsung Cagalli begitu sambunganya tersambung.

Cagalli mengangguk paham, ia telah ditipu oleh keluarganya. "Terima kasih, maaf mengganggu istirahatmu." Ucap Cagalli memutuskan panggilannya.

Cagalli kembali mendesah, ia mencari nomor ponsel orang lain lagi, "Malam, apakah rumah sakit kita akan melakukan pembangunan dan pengembangan?" Tanya Cagalli begitu sambungannya terjawab oleh pihak seberang.

Cagalli mendesah kecewa mendengar jawaban yang ia terima dari seberang, "Ok, terima kasih," ucap Cagalli meletakkan kembali ponselnya ke meja. Ia kembali melihat rincian anggaran yang tertera dilembaran-lembaran yang ada di hadapannya.

Cagalli melepas kaca mata bacanya, merapikan lembaran-lembaran kertas yang ada di meja dan mematikan computer jinjingnya. Ia tiduran di sofa menunggu jam kunjung.

Sedang Cagalli tiduran di sofa, Athrun seperti kebakaran ketika melihat apartemennya kosong melompong tanpa manusia. Ia membuka pintu kamar Cagalli, dan wajahnya berubah merah karena amarah mengetahui wanitanya menghilang tanpa kata.

Athrun mengambil ponselnya, "Sial!" ucapnya kesal ketika ia melakukan panggilan untuk ketiga kalinya tanpa ada jawaban. Ia melempar asal ponselnya dan mengambil kunci mobil dan keluar dari gedung apartemen.

Athrun melangkah menuju ruang kerja Cagalli, tanpa mengtuk pintu terlebih dahulu, Athrun mendapati Cagalli sedang makan nasi kotak dengan rekan kerjanya yang menatap Athrun penasaran.

"Athrun?" panggil Cagalli menghampiri Athrun yang sekarang terlihat seperti pegawai yang baru saja dipecat.

Athrun langsung membawa Cagalli keluar ruangan dan membawanya ke lorong sepi rumah sakit. "Ada apa?" Tanya ulang Cagalli.

Athrun menatap lekat Cagalli, "Siapa yang menyuruhmu pergi ke rumah sakit?" Tanya balik Athrun. Cagalli menatap Athrun bingung, "Hah?"

"Kita pulang!" perintah Athrun menyeret Cagalli kearah keluar dari gedung rumah sakit, "Aku belum waktunya pulang. Dan jangan seenaknya menyuruhku!" tolak Cagalli meluapkan kekesalannya.

Athrun memandang Cagalli geram, "Aku punya hak untuk itu! Keluargamu telah menyerahkanmu padaku. Jadi aku berhak melakukan apapun padamu!" tekan Athrun dengan mencekram lengan Cagalli.

Cagalli menghela napas panjang, "Akan ku pastikan keluargaku mengambilku kembali. Sekarang kau ingin apa?" ucap Cagalli memberi tahu keputusannya

Athrun menantang Cagalli, "Akan ku pastikan dirimu tidak akan pernah keluar dari apartemen!" tarik Athrun membawa pulang Cagalli. Memasukkan secara paksa tubuh Cagalli ke dalam mobil.

Cagalli membuang muka, merasa jengkel dengan sikap Athrun kali ini. Cagalli langsung masuk kamar, meninggalkan Athrun dibelakangnya. Athrun mengikuti Cagalli, "Ada apa denganmu?" Tanya Athrun menutup pintu kamar Cagalli.

Cagalli memandang Athrun awas, "Ada apa? Kau ingin kita berpisah kan?" ungkit Cagalli.

Athrun memandang bingung, "Aku yang akan mengurus itu semua. Aku harap kau tidak melakukan hal yang buruk!" ancam Athrun.

Cagalli duduk di tepi ranjang, "Semua akan baik-baik saja. Aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Cagalli meredakan suasana.

Athrun memandang Cagalli, "Apa?"

"Aku ingin mengunjungi jii-sama besok. Kau ingin ikut?" tawar Cagalli, terus menerus bertengkar dengan Athrun hanya akan membuat suasana menjadi buruk untuk rencananya.

Athrun mengangguk, "Aku mau dan sekarang aku lapar," rajuk Athrun berwajah melas di depan Cagalli.

Cagalli mendesah panjang, "Mau apa?" Tanya Cagalli. "Aku ingin stik!" jawab Athrun dengan antusias.

Cagalli meletakkan tasnya berjalan melewati Athrun, Athrun langsung menarik lengan Cagalli sehingga Cagalli menabrak dada bidang Athrun. Athrun memeluk Cagalli erat, menyalurkan perasaan yang tak menentu di hatinya.

"Aku ingin memelukmu dari tadi. Mulai pagi kita sudah bertengkar. Jangan marah atau balik mengancamku," rancu Athrun dalam pelukkannya.

Cagalli membalas memeluk Athrun, mereka terlihat selayaknya pasangan sesungguhnya. Walau ini hanya sebuah drama kehidupan yang Athrun ciptakan untuk kepentingan dirinya sendiri.

TBC

Lihat atas?

Berantakan! Gomen ne minna-san gagal memberikan yang terbaik…

Mohon doanya untuk saya yang akan sidang proposal KTI hari selasa…

Balas review :

Alyazala: #lirik tangga?# semoga gak telat bgt… Asucaga bahagia? Menikah? Mungkin masih lama … Meer balik lagi dan Rey menghilang… terima kasih doanya jangan lupa doa buat aku yang akan sidang ya…review lagi

Popcaga: lama tak bersua kakak… pengen dua-duanya mungkin….hahahh….tapi cinta kita ke Asucaga yang lama ya….makasih semangatnya..mohon doanya buat kelancaran sidangku ya…love you..review lagi kak..

Lenora Jime: itu kan pengennya Athrun…Cagalli mah cuman korban…sebenarnya dia gak mau tapi Athrun pemaksa gitu… Rey-nya mmenghilang kejar karir paling.. makasih buat semangatnya… sekarang minta doanya ya…reiew lagi ya..

Cagallli atha zala: kyaaaaa… akhirnya bisa muncul lagi..semoga gak mengcewakan karena saya membuatnya ditengah pembuatan proposal KTI…tapi sekarang Meernya muncul lagi…ihhhh kamu kepo deh….lihat ntar aja ya..ini sudah chapter akan akhir loh….2 chapter lagi mungkin…review lagi ya..

dinah: mungkin perasaan mereka cman sebatas kagum aja kali ya…kagum seperti yang Athrun rasakan saat pertama bertemu Cagalli… review lagi ya…

review lagi y minnaaaaaaaaaaa

love you….