Ha..ha...ha...hahahahaha...setelah vakum selama 4 bulan akhirnya saya kembali...sebenernya sih sudah mempertimbangkan untuk membuat cerita DEDS ini hiatus alias ga diterusin lagi, tapi karena Chi sama Aki minta terus, ya saya terusin...=_=
Tanpa banyak omong lagi, ini chapter selanjutnya haha...silahkan dinikmati maap pendek dan membosankan hoho~ Ini adalah awal misi para OC kita, lumayan seru sih sebenernya soalnya di chapter berikutnya bakal ada ibu hamil *spoiler*
Link draft .?fbid=1630193548886&set=a.1207426419972.32476.1058021830
281010
"Lantas kenapa hanya pesan satu kamar?" Desis Fia kesal, jelas-jelas tidak senang dengan situasi yang harus dihadapinya baru saja. Mukanya masih menandakan tanda-tanda merona dan lirikan matanya masih tertuju ke lantai untuk menghindari lingkup pandangan matanya menangkap sosok Gunter.
Gunter menghela nafas sebelum membuka mulutnya, "Hmm? Aku hanya berpikir untuk menghemat. Walaupun satu atau dua kamar tidak ada bedanya untuk kita yang adalah anggota Black Order tapi tidakkah kau kasihan pada pemilik penginapan bila kita sampai menyita dua kamarnya tanpa membayar?" Jawabnya enteng, seraya menegak habis sisa kopi hitam yang sudah dibiarkan mendingin sedari tadi. "Lagipula kan ada dua ranjang, kalian bisa tidur berdua bukan? Aku tak melihat masalah apa pun."
"Masalahnya banyak tahu?" Luna yang sedari tadi bungkam tiba-tiba meledak marah. Oh, yang ia inginkan hanyalah sebuah istirahat tenang di atas kasur yang empuk. Apakah itu permintaan yang terlalu muluk? "Bagaimana mungkin aku bisa tidur di dalam kamar yang sama denganmu, Gunter? Kau adalah laki-laki dewasa! Uuuuurgh! Pikirkanlah sedikit hal ini dari sisi wanita!" Luna mengepalkan tangannya yang bergetar karena kesal dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan ekspresi kesal dan terhina, menyebabkan Gunter menghela nafas berat sambil melempar handuknya ke ranjangnya sebelum menghempaskan dirinya sendiri ke ranjang tersebut dan duduk bersila di sana a la indian, punggungnya disenderkan ke dinding di belakagnya.
"Yaah…bagaimanapun juga aku tidak melihat masalah. Aku hanya merasa kasihan pada August muda. Adiknya baru saja meninggal dan jujur, kita di sini hanya menghabiskan uang mereka. Aku tak tega melakukan itu pada orang yang sedang berduka." Gunter berdecak pelan dan memalingkan pandangannya ke arah Fia yang sedari tadi dilupakannya. Gadis remaja itu terlihat terhenyak dengan perkataannya tadi, seakan ia tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Kepalanya dengan segera tertunduk lagi dalam malu, rambut merahnya berjatuhan menutupi mukanya dari Luna dan Gunter.
"Nah, inilah hal yang ini kubicarakan. Adik August, Giselle, meninggal tanpa menyisakan apa pun. Badannya tidak ditemukan. Tidakkah kau heran? Dan tepat sebelum dia menghilang, aku dengar tunangannya baru saja meninggal tertembak peluru nyasar dalam sebuah aksi unjuk rasa dalam protes kepada pemerintah setempat. Cerita yang familiar bukan? Bukankah bila kita semua tinggal bersama akan lebih leluasa dan aman untuk mendiskusikan hal-hal seperti ini?" Sebuah ekspresi serius terlukis di wajah Gunter, bibirnya yang tipis terkatup rapat dalam sedikit simpati. Luna menghela nafas panjang dan bersandar ke dinding kamar tersebut dan menutup kedua matanya, menyembunyikan kedua kristal marunnya dari kedua partnernya dalam misi tersebut, menunjukkan kepasrahannya akan ide berbagi kamar Gunter sebelum matanya memicing dan bibirnya mencibir.
"Darimana kau tahu semua hal ini?" Tanyanya skeptik. Yang ditanya hanya tersenyum ringan dan tak berdosa.
"Aku kenal beberapa orang di sini. Tak suit bagiku untuk mendapatkan informasi dalam." Fia hanya mendengus kesal mendengar kesombongan Gunter sambil menyelipkan rambutnya di belakang kupingnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dagunya yang lancip dijorokkan keluar, memperlihatkan sedikit sifat keras kepalanya. Di lain pihak, mata Luna yang sedikit membesar dan mulutnya yang terbuka tak dapat membohongi rasa ketertarikanya pada apa pun yang dapat ditawarkan oleh kawan Jermannya tersebut. Gunter membiarkan seulas senyum licik terukir di wajahnya sebelum melanjutkan pembicaraan sepihaknya.
"Seperti yang bisa kalian simpulkan dari penjelasanku tadi, Adik August meninggal, nein, menghilang tanpa jejak. Beberapa penduduk setempat melihatnya berjalan ke pinggir kota beberapa hari setelah tunangannya tewas dan Ia tak pernah terlihat lagi. Langsung saja mereka mengasumsikan bahwa gadis kecil itu telah menyusul kepergian tunangannya." Gunter menyelesaikan pemberitahuannya dan terdiam untuk melirik ke arah kedua gadis tersebut dan melihat senyum yang sama tertera di muka mereka seperti halnya dirinya. "Tapi kita tahu bukan itu perkaranya bukan?" Dengan ucapan terakhir Gunter, ketiga senyum kecil itu kini melebar, memperlihatkan keantusiasan mereka untuk menyelesaikan misi yang telah diberikan kepada mereka ketika tiba-tiba terdengar suara bising dari luar kamar mereka. Fia yang tak senang kebahagiaan sesaatnya itu terganggu berdecak kesal dan menjentikkan jarinya dalam perintah diam untuk Gunter mengecek keadaan. Alis matanya yang tipis terjahit dalam ekspresi gelisah.
"Akumakah? Secepat ini?"
Gunter dengan tenang mengintip ke luar jendela dan membiarkan sebuah senyum misterius merayap masuk ke wajahnya, sementara mata birunya menyipit seakan sedang menangkap lebih dalam pemandangan yang dilihatnya, melahap semua detil yang diberikan padanya dengan cuma-cuma tersebut. Tangannya, dihiasi segaris bekas luka tipis yang membentang miring dari pergelangan tangannya hingga perhubungan antar jari manis dan jari tengahnya, naik untuk membuka kunci jendela kamar yang sedikit kusam tersebut, membiarkan aluran-aluran suara teriakan histeris memenuhi kamar kecil tersebut.
"Pietro!" Panggil seorang ibu tua seraya berlari ke tengah kerumunan massa tersebut di mana seorang lelaki dengan rambut hitam legam terpantri pada sebuah salib yang dipantek terbalik. Darah mengucur dari mulutnya yang terbuka dan dari kedua matanya, membuatnya terlihat bagaikan sedang menangis. Seonggok bunga berwarna ungu kebiruan didesakan masuk ke dalam mulutnya, membuat warna bunga itu terhapuskan oleh merah darahya sementara beberapa jumput lainnya tergolek lemas, tersebar di sekitar palang salib tersebut bersamaan dengan sejenis tanaman lainnya, angin sepoi musim gugur menerbangkannya pergi.
Gunter menghisap nafas tajam ketika melihat pemandangan tersebut. Sebuah lukisan yang begitu indah dalam ketragisannya tersendiri. Begitu memikat namun mengerikan. Sebuah pemandangan menawan yang menjerat hati dalam cara yang sinting. Ia merasakan punggungnya merinding, bukan oleh ketakutan namun oleh rangsangan adrenalin yang dirasakanya.
"Akhirnya mereka memperlihatkan taring mereka juga." Suara Luna yang kecil menarik Gunter dari pikirannya, dan Ia menoleh untuk melihat ke arah sang pemilik suara. Kedua ujung bibirnya tertarik membentuk sesuatu seperti sebuah gelak manis namun sedikit terlalu canggung untuk disebut sebagai satu. "Apakah ini berarti misi kita dimulai?" Gadis Rusia tersebut mengusap kedua tangannya dalam antisipasi menghadapi misi pertamanya. Jantungnya berdegup begitu kencang, Ia merasa bahwa dalam hitungan detik saja organ vital itu akan melompat keluar dari tubuhnya, mengoyak selapu daing dan otot yang melinduginya dan menghancurkan tulang tempatnya berlindung. Tubuh kecilnya bergetar dalam kegugupan namun suaranya yang tenang dan menantang menyangkal semua kegelisahan yang dirasakannya.
"Akumakah?"
"Aku rasa bukan." Suara Fia yang jauh lebih cuek memotong suara kecil Luna. Gadis itu tengah menggigiti bibirnya hingga kedua daging merah tersebut memutih. "Bukankah agak aneh? Akuma tak biasanya membunuh orang secara frontal seperti ini dan meninggalkan bukti, apalagi memajangnya bagai etalase di balai kota seperti ini! Ini sinting!" Lanjutnya, agaknya sedikit terkejut akan kesalahan perhitungannya. Sinar mata Gunter menajam, Ia tak menyangka Fia akan menyadari hal tersebut. Ia hampir ingin memberi komplemen pada gadis berambut merah tersebut namun mengingat sifatnya, Ia pasti hanya akan menanggapinya sebagai salah satu dari olokan sarkastiknya dan merasa sedang dipermainkan. Namun, bukankah memang itu tujuan Gunter? Maka dengan sebuah senyuman angkuh Ia berkata, "Gadis pintar…" Dua kata yang sederhana namun wajah Fia yang memerah dan tangannya yang mengepal membuatnya yakin bahwa misi pribadinya telah sukses dilaksanakan.
Ia pun mendorong tubuhnya dari ranjang empuk tersebut dan mengulurkan tangannya kepada kedua gadis tersebut. "Mari kita mulai investigasinya." Ajaknya dengan senyum penuh enigma.
xXx
Tiga buah figure memasuki lokasi pembunuhan tersebut, berbalut seragam hitam dan merah dan mengemban salib perak dengan desain rumit dan setiap orang terhenti dari aktivitasnya untuk menatap penuh curiga ke arah mereka. Sebagian yang mengenali salib tersebut mebelalakan matanya dan menyingkir, membukakan jalan bagi mereka sementara sebagian besar yang tidak tahu-menahu hanya memandangi dengan heran dan meragukan sebelum ditarik mundur. Fia berjalan dengan santai, lega untuk mendapatkan dirinya lagi setelah kejadian memalukan di kamar hotel tadi, kakinya menendang sebagian besar bunga-bunga yang berserakan di lantai batu bata balai kota terseut, mengirimnya ke berbagai arah, mencipratkan darah dalam lajunya. Sementara itu, Gunter membungkuk untuk mengambil sebuah kelopak bunga berwarna ungu dan mengusapnya bersih dari darah yang mengotorinya sebelum mengamati kelopak tunggal tersebut, alisnya berkerut dalam konsentrasi, seakan berusaha mengingat sesuatu. "Monkshood." Bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri disbanding orang lain, sebelum memasukkan kelopak itu dengan hati-hati ke saku jaket berkancing duanya dan berjalan mendekati ibu tua yang didapatinya meneriakkan nama sang korban tadi untuk mencari informasi mengenai korban insiden tragis tersebut.
Melihat almarhum Pietro dalam kondisi mengerikan itu, Luna mengernyit seram, matanya menunjukkan perasaan menyesal selagi tangannya disilangkan membentuk salib dalam doa cepat untuk mengantar kepergian pemuda tersebut dan berjalan untuk bergabung dengan Fia yang tengah menginspeksi mayat tersebut.
"Lihat Luna." Panggil Fia pelan sambil menunjuk ke badan mayat yang bersimbah darah. Sebelah tangannya lagi ditaruh di sampingnya untuk menghindari menyentuh tubuh mayat tersebut. "Perhatikan baik-baik. Apakah kau menemukan sesuatu yang aneh mengenai tubuh almarhum Pietro ini?" Nada suara Fia terdengar bersemangat kendatipun suasana mengharuskanya untuk menyembunyikan perasaan gembira tersebut.
"Tidak ada tanda pentagon!" Luna mengirup nafas tajam dalam kekagetannya, tangannya tertarik ke atas untuk menutupi mulutnya seperti yang biasa dilakukan saat terkejut.
"Benissimo!" Fia berdecak kesal dan meneriakkan nama partnernya yang satu lagi sebelum menggestur dengan tangannya agar Gunter mendekat dan berbisik di telinga pemuda Jerman tersebut. "Nampaknya ini hanya kasus pembunuhan biasa. Lihat, tubuhnya nampak normal dan tak ada tanda-tanda pembusukkan prematur seperti yang biasa terjadi pada tubuh korban serangan akuma. Kita serahkan saja pada polisi setempat, tak ada gunanya kita membuang waktu untuk pemuda ini."
Gunter Nampak memikirkan sugesti Fia untuk beberapa saat sebelum menyetujuinya. "Baik, kita titipkan mayatnya dulu untuk sementara kepada mereka. Aku kenal kepala polisinya, biar aku bicara dulu dengannya sebentar." Katanya sambil melaju pergi dari gadis remaja tersebut.
"Hmm…biar kutebak, ini bukan misi kita ya?" Tanya Luna mencibir, sedikit kecewa akan akhir dari investigasi kecil mereka ini. Fia hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.
"Puo darsi...Tadi kau yang bilang sendiri kan, 'Oh! Tak ada tanda pentagon!'" Seru Fia menirukan ekspresi Luna tadi dengan berlebihan, membuat gadis satunya cemberut sebal. "Sudahlah, Gunter sedang mengurusnya dengan polisi lokal, kita kembali saja, toh sudah tak ada lagi yang bisa kita lakukan." Fia menepuk kepala Fia pelan dan berjalan kembali menuju hotel mereka.
"Aah…bukankah kita masih harus mencari Mademoiselle Giselle?" Suara Luna bergetar, menandakan keraguannya akan pertanyaannya sendiri namun erangan tak senang yang didapat dari gadis di depannya mengkonfirmasi kebenaran dan ketepatan pertanyaannya, sekaligus menjad jawaban yang dicarinya.
xXx
Sebuah sosok bersandar malas di balik kegelapan, tangannya menggenggam sebuah telepon yang tertempel di dinding tua yang terbuat dari bata kapur berwarna abu-abu.
"Ya..Bisa kau carikan informasi mengenainya? Ya, aku yakin." Sosok itu bicara, suaranya rendah dan degap namun terdengan enteng seakan hal dibicarakan tak penting sama sekali, namun di lain pihak juga terdengar hati-hati laksana tak ingin orang lein mencuri dengar percakapannya.
"Datang?" Kini nadanya terdengar terkejut namun dilapisi oleh selimut olokan yang sinis dan tipis. " Datang saja kalau kau mau. Akan kutunggu. Bantuanmu akan sangat meringankan bebanku. Heh…" Lanjutnya lagi debelum mengakhiri pembicaraan teleponnya dan menyenderkan tubuhnya lebih dalam ke dinding kuno tersebut tanpa memperdulikan debu-debu yang kini menempel pada pakaiannya dan terkekeh pelan sebelum berajak pergi tanpa menyadari sepasang mata dingin bagaikan es yang sedari tadi mengamatinya dari ujung jalan kecil tersebut. Mulut lebarnya menyeringai dalam kepuasan tersendiri.
"Semua berjalan sesuai rencana." Suara melengking yang membelah telinga tersebut terkikik dan menepuk-nepukkan tangannya senang.
"Hihihi~ Sempurna~"
Benissimo: (itu) Betul.
Puo darsi:Mungkin.
Yeeee~ itulah akhir chapter Fleur de Saison ini~ Kenapa sih dinamain Fleur de Saison? Seperti bisa dilihat di atas, misi kali ini bakal melibatkan banyak bunga, makanya untuk awalnya memu namain Felur de Saison yang artinya musim bunga *kasarnya* hehe~
Siapa sosok di balik kegelapan itu? Siapa yang diteleponnya? Siapa anak kampung yang tepuk2 tangan itu? Tunggu di chapter berikutnya~
Kritik dan saran akan sangat ditunggu^^
