Naruto 100% belong to Masashi Kishimoto.

I just own the story.

Please enjoy. ^_^

.

.

.

.

.

.

Summary: "Na.. Naruto."/ "Tidak penting bagaimana caranya bicara. Aku tidak ingin melihatmu. Apa itu tidak cukup?"/ "Tou-chan dan Kaa-chan sedang melakukan apa? Kenapa Tou-chan berteriak pada Kaa-chan?"/ "Benarkah? Apa itu artinya Tou-chan tidak marah dengan Kaa-chan? Tou-chan tidak akan membawa Kaa-chan pergi dari Hikari kan?"/ "Mengharukan. Kau ingin membuat drama?"/ "Kenapa setiap tindakan yang kau lakukan selalu tidak sejalan dengan ekspresi yang kau tampakkan sih?"/ "Bodoh."/ "Bukan. Aku seorang Uchiha. Aku tidak boleh mengingkari janji."/ "Jangan mempermainkanku Sakura."/ "Kau cemburu?"/ "Sepertinya memang ada yang salah. Aku curiga ada beberapa orang memang menjadi dalang jatuhnya saham perusahaan kita secara tiba-tiba..."/ "Apa laki-laki itu bisa dipercaya, Orochimaru-san?"/ "Bukan hanya tentang itu. Aku menemukan fakta lainnya."/ "Terima kasih sudah terlahir dan menjadi pendampingku, Sakura."/ "Sasuke?"/ "Kali ini kau yang pilih tempatnya."/ "Kalau begitu aku ingin makanan yang mahal!"/ "Tidak. Kali ini harus yang mahal. Aku melihatmu tersenyum. Itu hal paling langka yang pernah terjadi padaku. Bukankah sesuatu yang seperti itu wajib dirayakan?"/

.

.

.

.

.

12. Count On Me

.

Tsunade duduk tenang sembari menunggu opsir menuntun seorang pria berambut keperakan yang masih terlihat segar sekalipun usianya sudah memasuki setengah abad. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangan kepada wanita pirang itu.

"Kau datang lagi, ne?"

"Aku hanya ingin menjengukmu, Baka. Apakah kau masih hidup atau tidak."

"Benarkah?" Jiraiya terkekeh dan senang mendapati wajah wanita yang tidak lagi muda itu memerah. Seperti masih remaja saja. Dasar.

"Kau tidak bersama Konohamaru hari ini?"

"Dia sedang ujian. Aku tidak ingin mengganggunya dengan memintanya mengantarku kemari."

"Konohamaru dan juga Sakura tumbuh tanpaku. Aku benar-benar Ayah yang gagal."bisik Jiraiya sedih.

"Kau tidak boleh mengatakan sesuatu yang bodoh seperti itu. Kau Ayah yang cukup baik. Mereka tidak pernah..."

"Sudahlah, Tsunade. Aku tidak ingin mengungkit apapun yang membawaku ke tempat ini."

Wanita bermata hazlenut itu bungkam. Tidak ingin mengorek luka lama sahabat masa kecilnya itu. Sudah bertahun-tahun semua itu berlalu. Seharusnya dia...

"Kau tidak perlu merasa bersalah, Tsunade. Kita bahas yang lain saja, hm?"

"Baiklah." Tsunade tersenyum. Wanita itu menyerah untuk mendebat apapun yang keluar dari bibir Jiraiya.

"Bagaimana kabar Sakura? Apa putriku itu bahagia dengan pernikahannya?"

"Dia bahagia. Setahuku dia tidak pernah mengeluh. Dia tidak pernah mengatakan dia mendapat perlakuan buruk dari keluarga suaminya. Sesekali dia mengunjungiku kalau dia sedang libur bekerja. Dia juga membawa putranya."

"Ah... Aku nyaris saja lupa. Putra dari suaminya, bukan begitu?"

Tsunade mengangguk. Senyum mengembang dari bibirnya yang terpoles sempurna. "Namanya Hikari. Kau akan senang ketika melihatnya."

"Sakura tidak pernah membawanya kemari. Dia selalu mengunjungiku sendirian. Itupun dengan membawa makanan dan mengomeliku untuk menjaga diri sampai aku kembali."

"Kami semua menunggumu kembali, Jiraiya."

"Aku pun begitu. Oh ya, siapa nama suami Sakura?"

"Are? Apa dia tidak menceritakan padamu?"

"Dia pernah menyebutkan nama suaminya. Tapi aku tidak terlalu ingat."

"Namanya Naruto."

Jiraiya mengerutkan alisnya. Dia amat yakin dia tidak tau apapun tentang siapa yang dinikahi putrinya. Tapi kenapa nama itu terkesan tidak asing?

"Apa dia pria yang baik?"

"Mungkin. Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali. Dia pria yang sibuk. Tapi melihat senyum yang ditampakkan putrimu, sepertinya pria itu membuatnya lebih dari bahagia."

Jiraiya mengangguk lega. Setidaknya saat ini putrinya bahagia. Sudah cukup sering putri kecilnya itu menderita. Bertahan sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarga di usia yang muda tidaklah menyenangkan. Gadis itu nyaris saja kehilangan kebahagiaan di masa muda.

"Aku akan segera keluar dari sini, apa aku sudah mengatakannya padamu, Tsunade?"

.

000

.

Itachi membantu Sasuke membereskan tumpukan kardus yang berisikan barang-barang pribadi adiknya. Matanya masih awas menatap adik semata wayangnya itu dengan tatapan tidak habis pikir. Keputusan pindah mendadak yang dilakukan pria itu nyaris membuat Mikoto jatuh sakit. Untung saja Fugaku mampu membuat istrinya tenang 1 jam setelah pengumuman kepindahan Sasuke keluar.

"Kau tetap jadi pria kekanak-kanakan yang menyebalkan, ne?"gumam Itachi.

"Aku punya alasan untuk di sini, Nii-chan. Lagipula kau punya keluarga. Bukankah Yugao-nee sedang mengandung lagi? Kalian akan butuh ruangan lebih."balas Sasuke. Itachi hanya bisa menghembuskan nafasnya. Alasan adiknya memang masuk akal.

"Tapi kau baru saja kembali dari luar negeri. Apa kau pikir keluargamu tidak merindukanmu?"

Sasuke menghela nafas panjang. "Aku merindukan kalian juga. Aku melakukan semua ini dengan banyak perhitungan. Dan jangan khawatir. Nii-chan tau kan aku sangat menyayangi keluarga kita? Aku akan mengunjungi kalian sesering mungkin."

"Pastikan itu. Aku akan menuntutmu kalau kau sampai lupa. Mengerti?"

"Baiklah."

Itachi hanya memutar bola mata. Menyerah untuk meyakinkan adik bungsunya. Dia hanya bisa maklum karena sifat keras kepala yang dimiliki oleh ayahnya menurun secara sempurna pada Sasuke.

.

.

Sudah satu minggu ini Hinata dibuat terkejut dengan tingkah laku Sasuke. Pria dingin yang irit bicara itu tidak pernah menjelaskan apa-apa. Hinata sangat yakin jika dia menceritakan semua ini pada Konan, wanita ungu itu hanya akan tertawa dan mengatakan kalau Sasuke sudah jatuh hati padanya. Yang benar saja! Berkali-kali Hinata masih memergoki Sasuke melamun menatap setiap benda yang berwarna merah muda. Dia juga melihat adanya reaksi aneh pria itu ketika seseorang membahas tentang musim semi, hanami, dan juga bunga sakura. Bahkan hanya dengan melihat sesuatu yang berwarna sehijau mata kakak iparnya itu, Sasuke sudah mematung. Pria itu tidak mungkin memiliki perasaan padanya. Titik.

"Aku sudah pindah ke apartemen."

Hening. Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Tidak nyaman dengan respon Hinata atas pengumuman kepindahannya. Wanita itu seolah menghilang dalam pemikiran yang hanya Kami-sama saja yang tahu.

"Hinata?"

"Oh! Maaf. Kau bilang apa tadi?"

"Aku pindah."

"Apa?"

"Apartemen baru. 100 m dari sini. Kalau berjalan sekitar 10 menit saja."

"Tapi... kenapa?"

Pertanyaan Hinata menggantung begitu saja. Pria raven itu hanya melemparkan kunci ke arah Hinata dan tidak memedulikan reaksi wanita indigo itu.

"Apa ini, Sasuke?"

"Kunci apartemenku."

"NANI?!"

Hinata memekik sekeras yang ia bisa. Tangannya gemetar memandang benda logam mungil itu. "Ku...kunci?"

"Dekat. Aman. Mudah untuk mengawasimu."

Penjelasan singkat itu tidak membantu rasa panik yang menyerang Hinata. Pria di hadapannya ini memang sudah gila. Bahkan saat ini pria raven itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan Hinata dalam kehisterisan tak berujung.

.

000

.

"Temari-san, ohayou."

Wanita berambut pirang dan berkuncir 4 itu menoleh. Melihat ke arah Ino yang tersenyum sembari melambaikan tangan. Gadis Yamanaka itu terlihat cukup ceria.

"Ino-san."

"Akhir-akhir ini aku jarang bertemu denganmu sejak kau pindah di departemen bedah."

Temari hanya mengangguk kaku dan tersenyum. Mencoba menampakkan kalau dirinya baik-baik saja. Sebenarnya bukan karena kepindahannya ke departemen bedah yang membuatnya jarang bertemu dengan Ino. Semua itu dilakukannya dengan sadar karena menghindari gadis Yamanaka di hadapannya ini.

Sejujurnya, sejak kejadian 'bertemu' lagi dengan Shikamaru dan ada Ino di dalamnya, Temari ingin mencari tahu apa hubungan gadis Yamanaka itu dengan mantan kekasihnya. Shikamaru terlihat begitu protektif dan..

"Temari-san?"

Wanita itu tersentak dari lamunannya. Matanya yang berwarna biru bening menatap Ino. "Ah, maafkan aku. Apa tadi kau berbicara sesuatu padaku?"

"Ah, aku ingin menanyakan kepadamu soal Shikamaru. Kau sepertinya mengenal dia lama sekali, Temari-san."

"A... Aku..."

"Apa ada sesuatu yang harus kutahu, Temari?" Ino melihat reaksi resah yang ditampakkan wanita pirang di hadapannya. "Maafkan aku. Aku tidak ingin memaksa. Hanya saja..."

"Tidak apa-apa, Ino-san."

Ino menunduk. Tidak berani menatap Temari. Dia sudah membuka luka lama gadis itu.

"Aku tidak bisa menceritakan terlalu banyak hal. Aku hanya bisa menegaskan satu hal padamu. Aku pernah meremukkan hati dan harga dirinya. Dan aku berharap Ino-san tidak melakukan hal yang dulu pernah kulakukan padanya. Dia laki-laki yang baik, Ino-san. Kau mungkin akan mendapat penyesalan seumur hidup sepertiku jika kau melakukan kesalahan yang sama."

Hening. Ino hanya bisa menatap wanita berparas cantik yang tengah tersenyum itu. "Apa kau masih mencintai Shikamaru, Temari?"

"Aku tidak lagi pantas memendam perasaan istimewa seperti itu, Ino."

"Kenapa begitu?"

"Aku mengutuk diriku sendiri setiap harinya. Aku mengutuk semua hari yang kuhabiskan untuk menyakiti orang baik sepertinya. Dan karena dia melarangku untuk bertemu dirimu, Ino-san... Lebih baik kau menjauhiku."

Temari yang hendak berlari ditahan oleh Ino. Tangannya menarik tangan wanita yang seumuran dengannya itu. "Apa kau tidak ingin mencoba berbicara secara baik-baik dengan Shikamaru, Temari?"

.

000

.

Sakura meletakkan stetoskop dan bersiap untuk pulang. Jam operan sudah tiba dan sudah ada dokter yang menggantikannya bertugas setelah ini.

"Sudah akan pulang, Namikaze-sensei?"sapa Kakashi.

"Ne. Anakku sudah menunggu di rumah."

"Sayang sekali. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu."

"Lain kali saja kalau begitu, Hatake-sensei."ujar Sakura sembari tersenyum. Tangannya sudah menggenggam tas jinjing merah mudanya dan bersiap keluar dari UGD.

"Tunggu dulu."

Langkah wanita merah muda itu terhenti. Kepalanya menoleh kembali ke arah dokter yang senantiasa memakai masker itu.

"Kau itu... benar-benar bukan keturunan Haruno biasa ya?"

"Maksud sensei?"

Kakashi mendekat. Kepalanya menggeleng lambat. Setelah jaraknya dan Sakura hanya terpaut setengah meter, pria jangkung itu merunduk hingga dapat berbisik di telinga wanita bermata jade itu. "Kau adalah putri dari Haruno Jiraiya. Bukan begitu?"

Sontak mata Sakura melebar. Kalimat yang dilontarkan oleh seniornya benar-benar membuatnya terkejut. Dahi lebarnya berkerut. Berusaha menelaah perasaan yang membalutnya saat ini. jika dulu ada yang menyinggung soal keluarganya, Sakura akan ketakutan. Tapi tidak dengan kali ini.

"Benar. Dari sanalah aku tau banyak soal jantung. Itu sangat menjawab pertanyaan Hatake-sensei kemarin kan?"

Alis Kakashi terangkat. Tidak menyangka dengan keberanian tiba-tiba yang muncul dari wanita mungil di hadapannya. Ini menarik. Banyak hal yang tidak terduga yang dilakukan oleh wanita merah jambu tersebut.

"Aku sangat menghargai Jiraiya-sensei. Sampai kapanpun, dia tetaplah dokter bedah jantung terbaik di Jepang. Dan aku sangat tidak menyangka kalau kau adalah putrinya."

"Ne, banyak yang bilang seperti itu."

Kakashi menghela nafas panjang dan mendekatkan wajahnya pada wanita merah jambu tersebut. Laki-laki itu berbisik di telinga Sakura. "Aku tidak berniat membahayakanmu. Aku hanya ingin memastikan apa yang harus kulakukan setelah ini."

Pria yang senantiasa memakai masker itu meninggalkannya dalam kebingungan. Apa maksudnya dengan tidak membahayakannya?

.

000

.

Hinata mematut dirinya di depan cermin. Sempurna. Dengan dress berwarna royal purple berbahan sutra kualitas terbaik. Rambutnya disanggul longgar dengan jepit berornamen lavender. Riasan tipis di sudut-sudut wajahnya membuat dia terlihat luar biasa mengangumkan.

"Sempurna."gumamnya pelan sebelum meletakkan lipstick berwarna pink rose. Wanita indigo itu berbalik dan berjalan menghampiri Naruto serta Sakura.

"Cantik sekali, Hinata."gumam Sakura sembari memeluk adik iparnya tersebut.

"Ya. Dia mirip sekali dengan Ibu." Naruto menyetujui dan menggandeng kedua wanita cantik di samping kanan kirinya.

"Aku suka kalau aku bisa tampil sempurna di acara kali ini."

"Wanita akan selalu terlihat cantik ketika dia jatuh cinta, Hinata."ujar Sakura dengan tersenyum penuh arti.

Hinata hanya menunduk. Dia tidak tau apa yang dimaknakan kakak iparnya. Namun Hinata tau ada yang telah berubah dari dirinya. Dan semua itu karena sikap menyebalkan tapi manis milik Uchiha Sasuke.

.

.

Sasuke tersenyum kaku ketika untuk kesekian kalinya harus melihat tangan Sakura melingkar pada Naruto. Rasanya masih cukup nyeri sekalipun tidak serasa akan membunuhnya. Dan dia juga bukan pria melankolis yang akan terus mempermasalahkan hal-hal tidak penting seperti itu. Cinta bukan lagi prioritas jika ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan olehnya. Misalnya seperti menyelamatkan Nona Kecil yang menjadi 'Bos' nya itu.

"Ah, kalian sudah datang."sapa Sasuke dengan nada kaku. Dia belum terbiasa bersikap ramah pada Naruto sekalipun mereka sering bertemu beberapa minggu terakhir.

"Ya. Kuharap sejauh ini baik-baik saja."

"Semuanya baik-baik saja. Ada Orochimaru di sebelah sana."

Hening yang sedikit dingin. Hinata menghela nafas panjang dan menggamit lengan Sasuke. Dia sudah tidak peduli dengan reaksi pria itu atas sikap spontannya. Dia perlu bicara.

"Kurasa aku ingin menyapa beberapa orang dari perusahaan. Sakura-nee dan dan Naruto-nii, selamat menikmati pestanya."pamit Hinata sebelum menarik Sasuke menjauh.

"Aku jadi tidak mengerti tentang dia semenjak dia berurusan dengan Teme."keluh Naruto.

"Sasuke orang yang baik. Dia tidak akan menyelakai Hinata."

"Oh, aku lupa dia mantan pacarmu."gumam Naruto seolah tengah merajuk. Istrinya itu hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya. Sakura berjinjit sedikit sehingga bibirnya mencapai ketinggian yang sama dengan telinga Naruto.

"Kau mengucapkan satu hal seperti itu lagi, aku akan membuatmu malu dengan melakukan flirting terbuka di sini dan disaksikan orang banyak."

Pria pirang itu terkekeh. Sikap Sakura yang agresif dan tidak terduga selalu membuatnya merasa tenang ketika kecemasan melandanya. Baik kecemasan yang disebabkan oleh cemburu, atau kecemasan lain yang ditimbulkan oleh masalah perusahaan.

"Kau harus mengendalikan dirimu sendiri, Nyonya Namikaze. Aku lebih suka privasi ketika aku memilikimu."bisik Naruto dengan suara yang parau. Hasratnya sempat naik namun berusaha dikendalikannya mengingat ini merupakan acara yang penting.

"Baiklah. Aku rasa kita harus mencari tempat duduk kita. Bagaimana?"

"Your command is my wish."

.

.

"Kau bersikap terlalu kaku, Sasuke. Demi Tuhan! Apa kau masih menyukai Sakura-nee?"tanya Hinata disela-sela mengambil makanan untuk dirinya dan juga Sasuke.

"Singkirkan udang itu. Aku alergi."

"Oh baiklah." Hinata menurut dan memindahkan udang di piring Sasuke ke dalam piringnya. Namun beberapa detik kemudian, gadis bermata lavender itu merasa Sasuke sudah mengalihkan pebicaraannya dengan membahas udang. "Hei, kau bahkan belum menjawab pertanyaanku."

"Untuk apa? Bukan hal yang penting untuk dibahas."

"Penting karena entah berapa lama lagi kau akan menjadi suamiku, Uchiha."

Sasuke manaikkan sebelah alisnya dan mengambil alih piringnya dari Hinata. "Kau benar. Aku masih sedikit menyukainya."

"Dan kau membuatku terluka dengan mengatakan kau menyukainya. Aku jadi merasa bodoh harus menikah dengan orang yang tidak terlalu menyukaiku."

Tubuh Sasuke mendadak kaku. Diletakkannya piring miliknya dan Hinata di meja. Tanpa memedulikan antrian yang mengitari meja prasmanan, pria itu membalik tubuh Hinata hingga menghadap ke arahnya secara penuh.

"Aku masih menyukainya. Bukan berarti aku tidak bisa membuka hati untuk orang lain."

"E...Etto...itu... Kita... ano..."

"Aku hanya akan membuka hati untuk istriku."

Blush!

Hinata tidak bisa menghentikan rasa panas yang menyerangnya akibat sikap ajaib Sasuke. Dengan gugup, Hinata menatap sekitarnya dan mendapati mata-mata penasaran yang mulai mengepung mereka.

"Se... Sepertinya kita perlu duduk. Ne?"

Hinata mendorong dada Sasuke. Menyerahkan piring pria itu dan menyeretnya menjauh dari meja prasmanan. Oh, jangan lupakan wajahnya yang memerah itu. Semua ini karena Sasuke. Salahkan saja pria itu!

.

.

Meja nomor 12. Tempat Sakura, Naruto, Hinata, dan juga Sasuke duduk. Mereka tidak duduk berempat saja. Ada 4 orang lain yang juga duduk di meja itu. 2 diantaranya adalah pria paruh baya. Pria bernama Murakame bertubuh gempal dan bulat. Lehernya menghilang di dalam lipatan lemak dagunya. Matanya yang sipit menatap tajam ke arah Hinata seolah tengah menggerayanginya. Sementara pria bernama Sato memiliki perawaan pendek dengan sinar mata yang licik. Seolah tengah menelisik kelemahan terbesar dalam keluarga Namikaze. 2 orang yang tersisa, adalah istri kedua pria menjijikkan itu (meminjam istilah favorit Hinata ketika melihat pria tak tau malu seperti 2 orang yang duduk di hadapannya sekarang).

"Perusahaan sedang kolaps seperti ini pasti akan membuatmu kebingungan, Namikaze? Kudengar kau sampai mengalami pailit."

Sakura mengerutkan dahinya dan menatap suaminya. Pria kuning itu hanya diam dan seolah tidak peduli dengan ucapan penuh hinaan yang dilayangkan pria bernama Sato itu.

"Kudengar bahkan kau tengah mencari pinjaman untuk menyelamatkan perusahaan yang sudah tidak memiliki harapan itu. Heh? Kau yang dulu sombong sekarang bisa menundukkan kepala membelas kasihan pada 'rekan' mu."

"Terima kasih atas perhatiannya."balas Naruto setenang mungkin. Dia tidak ingin memancing kekhawatiran Sakura karena selama ini dia tidak pernah menceritakan perihal kesulitannya itu pada istrinya. Lagipula, dia tidak ingin memancing keributan.

"Ya. Kalau melihat dari betapa hebatnya Ayahmu dulu memimpin perusahaan, aku jadi sedikit meragukan kemampuan generasi berikutnya. Belum tentu sebaik yang merintis, eh?"

"Kami pikir itu sudah memasuki ranah pribadi, Sato-san."sela Hinata tak sabar. Dia masih menekan emosinya. Tidak terima jika keluarganya dikonfrontasi seperti ini dengan orang yang tidak tau apa-apa seperti pria kotor ini.

"Aku tau. Percayalah. Kurasa aku akan mempertimbangkan untuk membantu kalau beberapa aset kalian berikan secara sukarela. Dan untuk menyelamatkan perusahaan yang sedang kolaps, aku rasa..."

"Klang!"

Sebuah pisau steak mendarat di lantai 1,5 meter dari tempat Sato duduk. Pria itu mengerjap terkejut ketika menatap Nyonya Namikaze berambut merah muda yang tengah menatap dingin ke arahnya. Sato merasa ada sedikit rambutnya yang terlepas berkat pisau yang nyaris melukai lehernya itu.

"Oh, maafkan aku. Tanganku tergelincir. Aku tidak terlalu hati-hati tadi. Aku harap pisau itu tidak melukaimu, Sato-san. Karena kudengar pisau yang dilemparkan dengan kecepatan seperti itu bisa membunuh orang dengan efisien."ujar Sakura dingin. Tangannya menggenggam tangan Naruto dan mengajak suaminya berdiri dari meja.

"Jika ada kerugian, tolong katakan. Anda tidak perlu sungkan karena kami bisa membiayai biaya perawatan anda jika itu diperlukan. Anda punya asuransi yang cukup kan?"tambah Sakura lagi sebelum beranjak menjauh.

Seluruh manusia yang duduk di ruangan hanya bisa mengerjapkan mata tidak percaya. Mereka bahkan tidak melihat Sakura melemparkan pisau itu sampai bunyi dentingan benda itu terdengar. Wanita itu menakutkan.

"E..Etto... Saya pergi saja kalau begitu."ujar Sato gugup sembari menarik tangan istrinya menjauh. Dia masih menyayangi tubuhnya dan menjaga supaya tidak ada pisau lagi yang menyerang kehadirannya. Nyonya Namikaze ini lebih mengerikan dari Nyonya Namikaze sebelumnya atau bahkan mendiang Nyonya Namikaze sebelum beliau wafat.

Nyonya Murakame yang berbadan lurus layaknya papan memainkan clutch yang dibawanya dengan gelisah. Dia baru benar-benar memahami betapa mengerikannya seorang Namikaze. Dia tidak boleh terlalu dekat dengan para wanita dari keluarga ini.

Tatapan wanita itu mengarah pada Hinata yang bahkan tidak menunjukkan reaksi terkejut ketika pisau steak itu melayang dan nyaris memotong leher Sato-san. Mengerikan.

"A...Aku ingin ke kamar mandi."pamitnya tergesa-gesa.

Sementara, Tuan Murakame semakin tersenyum lebar ketika mendapati meja hanya tersisa antara dirinya dan Hinata yang seksi. Oh, dan dengan pria dingin disampingnya? Murakame amat yakin pria itu hanyalah ajudan keluarga Namikaze.

"Sato begitu agresif menghina, bukan begitu Nona Namikaze?"tanya pria itu basa-basi. Hinata hanya mengerutkan dahi cantiknya dengan sebal. Pria itu berbicara dengan suara yang nyaris tercekik dan menatap tubuhnya dengan air liur yang membasahi bibir berminyaknya yang menjijikkan. Cih! Seperti babi kelaparan saja, umpat Hinata dalam hati.

"Aku bahkan memiliki penawaran yang lebih mudah untuk ditempuh."ujar Murakame lagi. Pria itu menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Hinata. "Kau hanya perlu membayarnya dengan tubuhmu, Nona. Aku tidak memerlukan hubungan berkali-kali. Tapi aku bisa menjamin semua perusahaanmu jika kau mau tidur denganku setidaknya selama 6 bulan. Bagaimana?"

Murakame mengerling seolah ingin menggoda yang malah membuatnya terlihat semakin menjijikkan. Pria itu mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuh ringan payudara Hinata.

Nyaris saja Hinata melayangkan tamparan ke pipi pria yang berpenampilan seperti babi guling itu. Namun aksi Murakame yang hendak menyentuh Payudara Hinata itu terhenti ketika Sasuke menangkap tangannya dan mematahkan tulang pria tersebut.

"KRAKK!"

"AAAAARRRRGGGGHHH!"lolong Murakame yang membuat meja 12 untuk sekali lagi menjadi perhatian ruangan.

"Baru mematahkan tangan kananmu yang kurang ajar, Tuan. Lain kali aku akan mematahkan setiap tulang dalam tubuhmu kalau kau berani menyentuh tunanganku. Bahkan aku bersumpah akan membuatmu lumpuh kalau kau berani mengucapkan kata-kata kotor lagi di hadapannya. Kau mengerti?"bisik Sasuke dingin. Pria itu tidak berhenti membengkokkan tangan Murakame sampai pria gemuk itu mengangguk dengan wajah yang sudah mulai membiru menahan sakit.

"Baiklah. Kita pulang sekarang."komando Sasuke tanpa pikir panjang. Tubuh Hinata yang mengenakan gaun seberat 10 kg itu dipanggul Sasuke seolah tengah membawa karung bulu. Pria itu menatap tidak suka pada semua pria yang semula menatap Hinata dengan pandangan mesum.

"Ka...Kau membuat keributan yang tidak perlu U...Uchiha."

"Hn."

"Ba..Baka!"

"Lain kali pakailah pakaian biarawati kalau kau berniat keluar."

"Turunkan aku bodoh! Aku bahkan tidak bisa melihat dimana Naruto-nii memarkirkan mobil kami tadi. Dan lagi..."

Sasuke menurunkan Hinata tanpa aba-aba dan mendudukkannya pada salah satu bangku yang berada di luar area bangunan hotel. Mata onix nya berkilat marah.

"Uchiha tidak suka berbagi miliknya. Kau tau?"

Kalimat itu sontak membuat wajah Hinata memerah. Kalimat penuh kepemilikan itu menegaskan keinginan pria itu untuk tidak ingin membagi dirinya. Apa pria itu setidaknya mulai melihatnya sebagai wanita dan mulai melupakan Sakura?

"Kau bisa meneriakkan namaku kalau ada yang kurang ajar padamu. Kau bisa mengandalkanku Hinata."

"Ha...Hai."

Pria dingin itu menghela nafas berat dan menarik Hinata berdiri. Tanpa meminta persetujuan, dia menarik tangan gadis itu dan membimbingnya masuk ke dalam taksi bersamanya. Dan selama perjalanan, Hinata hanya bisa menunduk dengan wajah memerah. Sementara pria itu memeluk bahunya dengan posesif dalam keheningan.

.

.

Sakura menatap jengkel kebungkaman yang terus dilakukan Naruto sepajang perjalanan pulang. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali.

"Kalau kau tetap diam dan tidak ingin mengatakan apa-apa, aku akan melompat keluar dari mobil, Anata."ancam Sakura.

Naruto menghela nafas panjang dan menepikan mobilnya. Pria itu mengalihkan tatapan ke arah Sakura dengan ekspresi campur aduk. Netra berwarna biru miliknya terlihat... kalut.

"Apa yang berusaha kau sembunyikan dariku, Anata?"tanya Sakura dengan lembut. Kedua tangan mungilnya menangkup rahang Naruto dan mengecup hidung pria itu.

"Aku tidak ingin membuatmu khawatir."

"Kau yang begini malah membuatku lebih khawatir. Kau tau?"

"Maafkan aku."

Sakura menggelengkan kepalanya dan melepaskan seat belt yang dikenakannya. Dia melompat dan memosisikan dirinya duduk di pangkuan Naruto. Posisi paling nyaman yang sering mereka lakukan ketika membicarakan suatu masalah yang menurut mereka cukup berat untuk dikatakan. Kebiasaan yang terbentuk sejak Naruto meruntuhkan seluruh dinding egois yang dibangunnya bertahun-tahun yang lalu.

"Aku tidak suka kau bersikap seperti ini. Aku istrimu. Apa gunanya kalau aku hanya mendampingi di saat kau bahagia? Aku ingin menjadi temanmu di saat yang sulit juga, Anata. Apa semua itu terlalu sulit untuk kau lakukan? Aku tidak serapuh yang ada dikepalamu. Aku cukup tangguh untuk mendampingimu."

"Aku tau. Maafkan aku."bisik Naruto sembari memeluk Sakura. Menghirup aroma sakura dan cherry yang menguar dari tubuh istrinya. Aroma menenangkan yang selalu ingin dihirupnya hingga akhir hayat.

"Perusahaan sedang sulit. Ada 2 pabrik yang harus kututup. Aku tidak bisa memecat seluruh karyawan secara sepihak. Aku baru bisa mengatakan memberhentikan mereka secara sepihak untuk sementara waktu. Kerugiannya bahkan membuat perusahaan harus menanggung biaya sebesar keuntungan perusahaan selama 2 tahun. Aku harus mencari solusi sekaligus pinjaman dalam jumlah besar atau aku harus menutup 2 perusahaan cabang di wilayah Kobe dan Hokaido.

"Aku tidak ingin membuatmu susah karena memikirkan itu semua. Aku juga tidak bisa membuat Hinata khawatir terus-terusan dan menyalahkan dirinya sendiri jadi aku meminta Teme untuk membantuku menyembunyikan beberapa hal penting dari Hinata agar dia tidak mengalami kesulitan seperti kami. Aku juga tidak bisa mendiskusikannya pada Ayah karena penyakit jantungnya. Aku tidak bisa mengajakmu berdiskusi karena aku takut kau akan berpikir terlalu berat. Aku tidak ingin membuatmu susah karena kondisi yang kita alami. Aku juga takut... aku akan kehilanganmu."

"Baka!"geram Sakura sembari memukul pelan bahu suaminya.

"Maafkan aku."

"Apa kau pikir hanya karena itu semua aku akan meninggalkanmu? Aku bahkan tidak membutuhkan semua uangmu. Bukankah sudah kukatakan sejak awal kita menikah kalau uang bukan segala-galanya untukku? Aku sudah mendapatkan uang dengan pekerjaanku. Aku hanya butuh kehadiranmu dan kepercayaanmu, Naruto. Aku tidak butuh semua kehidupan mewah kalau pada akhirnya aku harus kehilanganmu. Kau harus percaya kalau sesulit apapun kondisi kita, aku akan tetap ada. Aku bisa membantumu dengan mencari pinjaman di kenalan ayahku. Yah, walau aku tidak terlalu yakin apa mereka masih mengingatku. Setidaknya ada yang bisa kulakukan. Kita bisa berjuang bersama. Kau mengerti?"

Air mata turun perlahan di kedua netra saphire milik Naruto. Pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya. Merasa tenang sekaligus terberkati.

"Aku tidak tau harus mengatakan apa. Kami-sama terlalu baik sehingga membuatmu menjadi istriku."

Sakura terkekeh dan mengecup ujung bibir Naruto. "Aku juga beruntung menikahimu. Pria keras kepala milikku yang membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia. Aku mencintaimu Anata. Dan aku harus mengingatkan hal ini. Kau bisa mengandalkanku. Wakarimashita ka, Naruto-sama?"

"Hai, wakarimasu."

Kalimat penuh cinta Sakura terngiang dalam telinga Naruto. Rasa hangat menyelimuti hatinya dan membuatnya semakin tidak ingin melepaskan wanita dalam pelukannya ini. Kami-sama... mudah-mudahan kebahagiaan ini tidak menjadi pertanda yang buruk. Dia tidak ingin kehilangan lagi.

.

000

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.


Hai minna. Apa kabar? Maafkan Chiyo yang sudah lama nggak muncul. Hm... Ini bukan karena Chiyo sengaja. Tapi karena tugas negara.

Oh ya, Selamat Hari NaruSaku semua (3 April). Oke itu telat. Chiyo juga telat ngucapin selamat ulang tahun buat Haruno Sakura san. Chiyo penggemar berat Sakura soalnya.

Terima kasih untuk antusiasme para reader sekalian. Semoga kalian suka. Kritik dan saran tetap jalan ya teman. Kutunggu respon kalian.

Jaa matta ne minna.