Hening.
Semua anggota, termasuk Seokjin, telah berkumpul di halaman belakang sekolah, di gedung olahraga yang lebih menyerupai gudang. Sementara Jimin berjongkok dengan jemari yang memainkan debu di lantai, Hoseok dan Namjoon malah sedang fokus mengiris kehadiran Sang Pangeran dengan tatapan mereka yang penuh analisa. Seokjin mengusap pipi, "Kulit wajahku memang agak kering belakangan ini, jadi, tidak perlu memandangiku seperti itu."
Namjoon, akhirnya, menghela nafas. Sepertinya nafasnya tertahan sejak tadi. "Bukan itu," Katanya. "Kemarin, kau pergi kemana? Kami semua menunggumu di klinik."
"Oh, apa tidak ada orang Cina yang kesini?"
Orang Cina yang kesini. Sungguh, Seokjin.
"Orang Cina apa?" Namjoon pura-pura bingung dan itu membuat alis Seokjin merengut. Tentu saja, ia datang ke sekolah Internasional itu dan menemui Yifan bukan untuk sekadar jadi bahan tontonan, bukan untuk sekadar jadi mangsa sukarela. Jika tidak ada satupun anak buah Yifan yang datang ke Haeyu dan memberi konfirmasi aliansi, maka itu artinya Yifan telah berbohong.
"Kau serius?"
"Apanya?"
"Orang kaya memang selalu licik," Seokjin berbalik dan hampir berlari meninggalkan tempatnya ketika Yoongi memasang kaki dan membuat anak itu tersandung. "AW! Hei, apa-apaan,"
"Namjoon," Yoongi melirik skeptis dan si terpanggil kemudian berdeham. "Maksudku, orang Cina apa? Apa dia bernama Zitao yang matanya hampir tak bisa berkedip (karena sipit)?" Sahutan itu membuat Namjoon mendapat pukulan di kepala dari Hoseok. Siapapun tahu kalau Namjoon memiliki mata yang sama sipitnya seperti Tao—juga Yoongi.
"Iya! Dia kesini, kan? Syukurlah,"
"Apa yang kau lakukan?" Lagi, tatapan Namjoon berubah serius dan nada suaranya bahkan membuat Jimin berhenti menggerakkan jari. "Kenapa kau bergerak tanpa memberitahu apapun pada kami?"
Seokjin memutar bola mata, tak habis pikir. Bagaimana bisa Namjoon melupakan situasi kemarin? Haeyu tampak seperti lautan pelajar yang kehabisan obat penenang dan Seokjin bahkan tidak tahu kemana kawan-kawannya berpencar. Lalu bagaimana caranya untuk 'memberitahu apapun pada mereka'? "Kau tak mengerti rasanya jadi aku. Saat kalian adu otot, yang kulakukan cuma kebingungan. Meskipun aku ikut mengamuk seperti kalian, kemampuanku tidak setara dengan orang-orang itu. Aku mungkin langsung terkapar dalam sekali pukul," Seokjin terkekeh. "Hanya dengan meminta bantuan, aku bisa berguna."
Yoongi angkat alis, melirik Namjoon yang memijat kepala dan Hoseok yang menghampiri Seokjin, menepuk punggungnya dengan cengir lebar. Tak perlu dipertanyakan, Hoseok pasti sedang memuji Seokjin atas usahanya karena meskipun termasuk orang yang bisa saling tinju, Hoseok punya perasaan yang sensitif. Ini hanya sebuah penghargaan yang tak seberapa.
"Apa yang ia lakukan padamu?"
"Eh?" Seokjin menoleh pada Namjoon, begitu pula Yoongi, Hoseok, dan Jimin. Jungkook? Absen. Mungkin bocah itu sedang duduk disamping Taehyung yang demam setelah kejadian kemarin.
"Dia pasti memberikan syarat, kan? Tidak mungkin seorang berandal kaya raya dengan sukarela mengirim anak buahnya untuk sebuah aliansi."
"Oh, itu,"
"Apa? Apa syaratnya?"
"Bukan hal yang sulit, aku yang tak bisa apa-apa ini bahkan menyanggupinya. Jangan khawatir."
"Aku perlu tahu, sunbae. Karena kau mungkin tidak tahu apa yang kau lakukan, jadi aku harus tahu yang terjadi."
Seokjin mengernyit. Apa yang dilakukan Namjoon, semua seolah mencurigai tindakannya. "Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu, tapi siapa yang tahu kalau bayaran yang kau beri mungkin adalah hal menguntungkan bagi mereka namun rentan bagi kita?" Benar. Apa Seokjin tahu hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh diinformasikan? Apa Seokjin tahu hal-hal yang dilindungi oleh pelajar-pelajar preman seperti Yifan dan Namjoon? Apa yang diberikan Seokjin sebagai bayaran pastilah harus yang memberi keuntungan bagi Yifan, kan?
— TAX! —
"Aku tahu apa yang kulakukan, Kim Namjoon. Tapi maaf jika itu malah membuatmu repot, kupikir aku memang tidak pantas menjadi pelindung atau apalah ini. Maaf jika aku hanya bisa membuang waktu kalian. Aku akan pergi."
Berdecak, Namjoon mengacak rambut kesal. Kepalanya tersandar pada papan kasur sementara benaknya dihantui wajah kecewa sang senior yang terlihat hampir menangis bahkan pergi meninggalkan gedung olahraga siang tadi. Kala itu Jimin yang syok langsung menginjak kaki Namjoon sambil meraung kesal 'kenapa kau seperti itu? Kau menyakitinya!' kemudian berlari mengejar Seokjin. Padahal Namjoon sama sekali tidak bermaksud mencurigai Seokjin, malah sebenarnya ia mengkhawatirkan laki-laki itu. Ia hanya ingin melindungi Seokjin dari apapun rencana Yifan karena sistem simbiosis mutualisme tidak akan terjadi jika salah satu pihak tidak mendapat keuntungan. Lalu, Yifan memberi syarat yang bisa disanggupi Seokjin, yang mana pasti merupakan hal mudah, untuk sejumlah pleton preman dalam komando penuh? Sudah pasti itu harus dicurigai. Pasti ada hal lain dibalik ketersediaannya memberi bantuan. "Aku harus mengetahuinya."
Ding dong
Jimin menegak hingga kacamatanya melorot. Untuk sesaat ia diam pada posisi itu sampai didengarnya bel susulan, kemudian ia melompat dan menuruni tangga dengan cepat menuju pintu.
"Hei."
"Hyung?" Jimin mengerjap tak percaya. Itu, di depan pintu rumahnya. Bukankah itu Yoongi? Yoongi? Bertamu ke rumah orang selain Hoseok dan Namjoon?
"Yeah." Yoongi membenahi syal di leher, menyisi hidung, basa-basi. "Kukira aku akan salah rumah."
"A-ah, tidak, ini rumahku. Masuklah,"
"Tidak."
Keduanya diam. Jimin baru membuka pintu sedikit lebih lebar untuk Yoongi masuk ketika orang itu memberi penolakan. Bingung, lagi-lagi Jimin mengerjap. Kenapa Yoongi tidak mau masuk? "Aku kesini untuk menjemputmu. Apa kau mau Seokjin pergi? Perisai Haeyu memang secara resmi telah bubar, tapi bukankah sekarang kita bergerak atas nama sekolah, bersama-sama?"
Jimin termenung. Benar. Apa yang dikatakan Yoongi itu benar dan ia tidak mau Seokjin pergi. Ia mengakui bahwa mendapatkan teman adalah hal sulit, dan Perisai Haeyu adalah tempat dimana Jimin bisa memiliki teman. Tapi,
"Tunggu, jaketku didalam." Jimin agak gugup, berbalik masuk kedalam rumah untuk memakai jaket dan segera pergi bersama Yoongi setelahnya. Namun, tiba-tiba saja Jimin jadi tidak bersemangat. Sesuatu tengah menguasai benaknya sejak ia tahu maksud kedatangan Yoongi.
Bahwa Yoongi melakukan itu tidak hanya untuk mempertahankan Jimin, melainkan untuk mempertahankan keutuhan Perisai Haeyu.
Ya, ini adalah soal Jimin yang beberapa waktu lalu memutuskan berhenti dari Perisai Haeyu namun urung setelah para anggota lain membujuknya dengan menggunakan boneka dan video. Kala itu, orang-orang bilang kalau ide bujukan yang mereka lakukan adalah hasil usulan Yoongi, yang dengan sukses membuat Jimin bersemburat merah tiap kali berpapasan dengan si tukang tidur. Tapi ternyata, itu bukan karena 'dia Jimin', melainkan karena 'dia adalah anggota Perisai. Dia adalah teman kita'.
Entahlah. Entah kenapa.
Hanya saja, Jimin merasa sedih.
"Apa ini cukup?"
Di sebuah meja, dua orang duduk berhadapan. Yang satu dengan wajah kepalang serius dan yang satu lagi selalu tersenyum. Dengan jemari yang merapat pada dagu, Si Tukang Senyum menggeleng. "Kau terlalu meremehkanku, Minsoo."
Minsoo. Ya, ini adalah Minsoo yang sama dengan yang pernah duduk mendampingi Yongguk. Ini adalah Minsoo, putera Pak Bang. Ia tengah melakukan negosiasi aliansi dengan salah satu sekolah yang lumayan sering onar. Tentu saja untuk menghancurkan Perisai Haeyu, menyalahkan pikiran Namjoon yang mengira Minsoo akan menyerang sekolah milik ayahnya sendiri. Bukan, bukan itu tujuan Minsoo.
Yang ia mau adalah terbalasnya kematian Yongguk.
"Kutambahkan jumlahnya," Ia menatap mata tamunya lekat-lekat. "Tapi bawakan aku lidah Monster Nam."
"Dengan senang hati."
Bulan sabit. Dan itu bersinar terang sekali malam ini.
Tunggu aku di depan rumahmu. Akan kujemput pukul tujuh
Seokjin menatap layar ponsel lipatnya yang berwarna merah muda dengan nafas mengepul dan pipi yang memerah; suhu akan jadi semakin dingin saat malam hari. Sambil menunggu, kepalanya kembali mengingat kejadian di sekolah ketika Namjoon membomnya dengan sejumlah pertanyaan. Ia menunduk, "Lalu untuk apa aku melakukan ini semua?" dan berbisik lirih.
"Bukankah itu Jin-sunbae?" Hoseok menunjuk pada kejauhan, pada sosok bermantel hitam yang berdiri tepat di depan pagar rumah yang diduga sebagai tempat tinggal Seokjin. Jimin menyipit dan mengangguk. "Sepertinya iya. Itu sunbae." Sementara Yoongi dan Namjoon masih sibuk tersipit-sipit, mencoba melihat apa yang dilihat Hoseok dan Jimin. Kali ini Jungkook hadir bersama mereka—dengan wajah kesal karena orang-orang ini menjemput ke rumah Taehyung dan Taehyung sudah pasti memaksanya agar ikut pergi—namun tak memberi perhatian penuh sampai kemunculan sebuah motor 250cc berlalu disamping mereka dengan suara mesin bak para pembalap.
"Sumpah, seandainya ia tahu betapa mengganggunya knalpot itu!" Jungkook menggeram, segera menutup telinga dengan beanie warna marun yang ia kenakan. Motor itu kemudian berhenti di depan Seokjin, tak tanggung-tanggung, Seokjin bahkan dipakaikan helm sebelum mendudukkan diri pada boncengan di belakang sang pengendara dan pergi bersamanya.
"Oh, tidak." Jimin melongo.
"Yah, dia pergi." Hoseok melengos.
"Ah?" Yoongi menelengkan kepala.
"Sudahlah, kita pulang saja." Namjoon langsung balik badan dan berjalan menjauh sementara Jungkook malah berlari mendahului, ngebut pulang kembali ke sisi Taehyung. Yoongi menatap Namjoon kemudian mendengung, "Kukira Sang Pangeran tidak punya teman karena terlalu banyak orang yang segan padanya,"
Namjoon berhenti, mengernyit.
"Lalu, bukankah di sekolah kita tidak ada yang punya motor seperti itu?"
Namjoon menegak.
"Orang itu pasti orang kaya."
Hening.
Krik krik krik
Hening.
JENGJENG
Namjoon berbalik—lagi. "YOONGI, APA ITU YIFAN?"
"ASTAGA, HYUNG. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?"
"911! 911!"
Dan Yoongi menguap sementara tiga orang di dekatnya beribut tak keruan.
"Kau terlihat murung," Menyumpit beberapa potong daging dari pot panas, Yifan bertanya pada Seokjin. Benar, yang membawa pergi Seokjin adalah Wu Yifan, si Nomor Lima. "Terjadi sesuatu?"
"Tidak," Seokjin langsung tersenyum dan menggeleng, mulai menyantap sajian di depannya. "Enak sekali. Kau biasa makan disini?" Tanyanya dengan mulut terisi penuh. Itu membuat Yifan tertawa.
"Ini tempat kesukaanku."
"Begitukah? Dengan siapa kau biasa kemari?"
"Sendiri."
Seokjin terdiam sebentar sebelum memberi angguk kecil dan senyum yang sama. Tadinya ia berniat untuk tidak melanjutkan percakapan, tapi kemudian Yifan menyampaikan sesuatu yang, sepertinya, seharusnya, dibiarkan menjadi rahasianya sendiri; yaitu bahwa hanya Seokjin-lah yang ia pilih untuk menemani makan malamnya disini, di tempat kesukaannya ini. Bahkan ia tidak mengajak Zitao ataupun keluarganya. "Karena ini spesial." Katanya.
Dan kesalahan yang Seokjin lakukan dengan penuh kesadaran adalah: ia berdebar. Ia tahu itu salah tapi ia tidak mencegah debaran itu. Tidak sama sekali.
Bersin. Jimin bersin dan menggosok hidung merahnya yang dingin. Ia bersama tiga sekawan bodoh seniornya masih berdiri di depan pagar rumah Seokjin. Hoseok berjongkok di samping Jimin lalu merapatkan jarak mereka, "Aku juga kedinginan."
"Mungkin Seokjin-sunbae akan pulang larut."
"Mungkin."
"Aku ngantuk," Yoongi, dengan tangan yang sejak tadi bergelayut dalam saku jaket, kini buka suara. "Kita pulang saja."
"Kau bercanda, kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan Yifan!" Namjoon mengernyit.
"Kau juga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan sekarang." Deg—Pertanyaan retoris yang telak menancap benak Namjoon. Yoongi pasti selalu begini, caranya untuk membuat seseorang sadar telah melakukan kesalahan adalah dengan menghadapkan orang itu langsung pada kesalahannya. Membuat siapapun tak bisa berkutik. Akhirnya, mereka menuruti Yoongi dalam diam.
— TAX! —
Melamun.
Yang Seokjin lakukan sejak pagi, sejak bokongnya mendarat di kursi, hanya melamun.
Entah kenapa, tadi malam dan pagi ini, langit berwarna merah jambu.
Tadi malam, setelah menurunkan Seokjin di depan rumahnya, Yifan tersenyum dari balik kaca helm yang kehitaman, membantu Seokjin melepas helm yang ia kenakan, membenahi rambutnya, lalu merapatkan resleting jaketnya. "Besok, aku akan menjemputmu sepulang sekolah dan kita akan jalan-jalan ke tempat spesial lainnya. Kau mau, kan?"
Melamun.
Yang Jimin lakukan sejak pagi, sejak bokongnya mendarat di kursi, hanya melamun.
Entah kenapa, tadi malam dan pagi ini, langit berwarna merah jambu.
Tadi malam, setelah memutuskan untuk meninggalkan rumah Seokjin, Yoongi mengepalkan sebuah koin ke tangan Jimin. Koin itu adalah yang selalu digenggamnya di dalam saku jaket; koin itu hangat. Logam menyerap suhu tubuh Yoongi dibalik dinginnya udara malam hari dan ia tahu Jimin kedinginan. "Genggam terus, itu akan tetap hangat."
Romansa yang indah.
Tapi...
Tap tap tap
BRAKK—"Jungkook!" Seseorang membuka pintu kelas dengan sangat berisik, membuat Jimin tersadar dari lamunan, bahkan melompat kaget.
"Jungkook bolos lagi. Hei, kenapa kau tampak ketakutan begitu?"
"Di bawah..."
.
.
"Namjoon, Namjoon," Tiga orang pelajar berlari kalang kabut menuju kelas Namjoon yang kala itu tengah bersandar malas pada meja dengan ekspresi seolah malaikat telah mengambil nyawanya. Dan ketika orang-orang itu tiba dengan terengah, hanya Hoseok yang merespon—karena Yoongi sedang tidur dengan lagu yang melekat di telinga dan kalian sudah tahu ada apa dengan Namjoon. "Hei, hei, tenanglah. Ada apa?"
Masih dengan nafas separuh, salah satu dari para pelari tadi menunjuk ke arah jendela. "Pastikan saja sendiri-"
"Ah, ini Haeyu."
Seseorang, dengan rahang hampir berbentuk persegi dan rambut ikal, melempar pandang jauh ke ujung bangunan sekolah yang diterpa sinar matahari. Sinar itu agaknya membuat ia menyipit, tapi siapa perduli.
"Sunbae, Monster Nam ada di lantai kedua."
Akhirnya, ia menyeret pandangannya kebawah, pada deretan jendela yang kemudian teralihkan oleh tubuh-tubuh pelajar Haeyu.
Mereka berdiri, memagari seluruh lantai mulai dari lantai satu hingga tiga.
Mereka telah memasang badan dan bersiap menyambut.
"Ya Tuhan," Jimin menutup mulutnya kaget. Dari lantai tiga, apapun yang terjadi di bawah sana dapat terlihat dengan amat jelas.
Ada segerombol pelajar dengan seragam asing mengepung gerbang Haeyu. Itu seragam Chaeju dan Seoul International School. Mereka sangat banyak, amat sangat banyak.
"Itu 'kan seragam SIS?" Hoseok mengernyit. "Tapi, dengan Chaeju? Bukankah seharusnya Yifan beraliansi dengan kita?"
Dari lantai satu, Seokjin dapat melihat wajah pimpinan kelompok itu. "Itu bukan Yifan..."
.
.
"Perisai Haeyu,"
Minsoo, dari belakang para anak buah yang berbondong-bondong, menyeringai. "Aku tak perduli berapa banyak siswa akan jadi korban sampai aku bisa menghancurkan kalian."
Minsoo takkan membiarkan Haeyu beristirahat walau hanya satu hari.
"Jangan pergi,"
Taehyung mencengkeram kaus Jungkook erat-erat setelah mendengar percakapannya di telepon dengan Namjoon, yang mengabarkan keadaan di sekolah mereka. Jujur saja, Jungkook dilema. Di satu sisi ia merasa harus membela sekolahnya, tapi di sisi lain, ada Taehyung yang menahan kepergiannya dan itu bukan tanpa alasan. Jungkook mengerti apa yang membuat Taehyung tidak memberi izin. Apapun itu, itu menyangkut keselamatan mereka berdua, termasuk Ibu Taehyung di rumah ini.
"Kookie, jangan. Tolong aku..."
"... Ya. Ya, aku tahu..."
Sialan. Bang Minsoo sialan.
"Hyung, anak itu berulah lagi." Kim Hanbin. Nama yang melekat pada kemeja siswa ini masih sama. Dan yang ia lakukan juga masih sama: memberi laporan pada seseorang entah siapa. "Kali ini dia bersama... Tunggu, aku belum melihat wajah pimpinan orang-orang ini," Ia bisa mendengar orang di seberang sana mengucap 'oh, man' atas keterangannya barusan, membuatnya terkekeh. "Oke, itu si Nomor Enam."
"Oh, anak-anak lucu itu. Ups, aku menumpahkan anggurku."
"Lalu, 'dia' kita juga tidak disini. Aku tidak melihatnya sejak kemarin, begitu pula dengan tangan kanannya."
"Itu bagus! Bagaimana dengan adikku? Ups, hei, dimana anjingku? Hanbin, apa kau melihat Baby B diantara mereka?"
"Adikmu dalam jangkauanku. Lalu, Baby B," Hanbin mengetuk dagu. "Tidak ada, hyung."
"Oke, kalau kau mau ikut main dengan mereka, silahkan saja. Ups, selopku. Nah, selamat bersenang-senang!" Pip, tuut tuut tuut—Ia segera memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celananya, lalu meregangkan tubuh dan menjilat bibir. "Yes, ayo bermain~"
Di tempat lain, Baby B, tersenyum puas. Tidak ada yang tidak diketahuinya tentang gerak-gerik Minsoo. Tentu saja.
Karena ia telah memasang penyadap mikro pada seragam sekolah Yongguk dan Minsoo, yang membuatnya mengetahui setiap kalimat dan gerak mereka, termasuk saat Yongguk membeberkan ciri-ciri Baby B.
"Minsoo yang bodoh, Minsoo yang malang. Seberapa hebatnya kamu, Yongguk tidak akan hidup lagi."
— TAX! —
Bersambung
