Oke, saya terbitin lanjutannya sampe tamat untuk kau yang meng-alert atau yang menge-fave jika ada. Semoga waktu luangmu terisi, dan saya berterimakasih lagi jika kau terhibur. Santai aja, saya nerima apapun.

Dan mungkin jadi kebiasaan buruk saya, tiap chapter panjang. Jadi berhubung ini bulan puasa, jangan siapin kopi biar ga ngantuk kecuali kalo udah magrib ya?

So please, enjoy it!

JK Rowling own Harry Potter's world. Me own nothing. It's all just a leisure filler.

Chapter 12: Di Hutan

o-0-o

"DAAAN. . . YAP! Snitch ditangkap. Selisih yang sangat banyak sekaligus pertandingan yang lama. 210-70. Slytherin menang. Penangkapan yang bagus - walau biasa - dari Kapten Malfoy..."

Seamus mengabari hasil pertandingan di podium komenatornya, walaupun suaranya yang terus-menerus tidak berarti lagi; ladang hijau dan perak di tribun berteriak riuh rendah menyambut kemenangan pertama di musim awal Quidditch.

Draco sedang mendapat banyak tepukan di seluruh tubuh dan hanya tangannya yang memegang snitch yang terlihat. Asrama Slytherin membawa genderang menambah suara yang terlihat rusuh. Hermione dan Ginny berteriak untuk kemenangan Slytherin atau khusus penangkapan snitch tadi. Harry tertawa dan bertepuk tangan bersama Ron, walau Ron mengeluarkan banyak dengusan.

Dan lebih suka mengomentari tribun Slytherin. "Lihat Slughorn! Tidak tiap hari tabung memukul tabung. . ."

Seamus masih berkotek ria, "Untuk Ravenclaw, janganlah berduka. Mungkin kami akan mengalah dan tidak membantai kalian. Tapi aku akan meminta kapten agar menjungkirbalikkan Slytherin - SUPAYA KALIAN BISA JUARA DUA!"

Setidaknya para pendukung beraksesoriskan biru dan perunggu diwakilkan oleh Luna yang berseru, "Wooh. Aku cinta Finnigan. Aku cinta Ravie. Hore Ravenclaw!"

Seamus dengan semangat meninju udara. "Yeah, yeah, kapten Malfoy memang mendapat banyak perubahan yang kurasa bagus. Tapi dia butuh lebih dari sekedar semua yang dia lakukan untuk menyaingi seeker kami. Dia butuh lebih banyak berdoa untuk mengalahkan Yang Mulia Harry. Dan-"

"Diamlah, Finnigan!" teriak seorang gadis Slytherin. Dan banyak sorakan 'woo' untuk Seamus yang meneriakan,

"Aku dibayar bukan cuma diam, tapi memberitakan kenyataan. Kalian tahu, pasti tidak-"

"Tidak terlalu menggambarkan, nikahi saja sana orang itu..." cibir Slytherin lainnya.

"Hei! HEI! Tidak rugi jika kalian semua berdoa untuk kalian sendiri sejak sekarang, walau itu hanya bisa mengiringi seeker kami terbang. Fuut, dengan sapunya..." seru Seamus lagi tidak terlalu mendapat reaksi yang berbeda dari pesorak Slytherion.

"Diamlah, Finnigan!" seru Draco, tapi dia tidak bisa menahan tawa girangnya ketika beberapa rekan bertubuh besarnya telah berhasil mengangkatnya tinggi. "Untuk kalian! Untuk Slytherin!"

Harry tertawa, condong pada Ron. "Pernah membayangkan mereka orang brengsek dan dia adalah Pelahap Maut?"

Ron menoleh padanya dan setelah mengangkat bahu dia berkata, "Memang bagus kalau tidak ada ejekan dalam sekolah tapi, aku tetap tidak suka penjilat pirang itu. Juga tidak akan pernah lupa dia Pelahap Maut. Kita yang membawanya dari Azkaban kan?" Ron menunjuk Malfoy. "Dia - harus membalas budi kita, kalau sudah sampai membuat Hermione sakit."

Tidak merasa berarti senyum seringainya yang selalu keluar di akhir pekan berangin yang jarang ada yang lebih bagus untuk main Quidditch, ketika Harry mendengar nama Hermione, itu menekan tombol gerak tertentu yang membuatnya melacak letak pemilik nama tersebut: tepat dua manusia setelahnya. Berseru-seru dengan Ginny dan bertepuk tangan.

Dia bergumam, "Tidak terbayang akan melihat Malfoy menjadi bagian dari kita dan mendapat tepuk tangan dari empat orang Gryffindor berarti bukan?"

Ron memandangnya bertanya. Harry memberi isyarat tanpa menatap Ron untuk Hermione. "Lihat dia. . . lihat mereka! Dua gadis kita meneriaki seeker asrama lain. Aku bertanya-tanya, seperti apa rasanya cemburu?"

Ron menoleh ke mereka dengan perasaan menguap kepada lainnya kecuali apa yang baru ditanyakan Harry. Tanpa sadar berbisik untuk lidahnya sendiri, "Kau cemburu pada yang mana?" lebih samar bahkan jika dia berkata normal di antara semua yel-yel itu.

Baru lima detik kemudian Harry merasa dituntun untuk bertanya, "Ada yang bermasalah, sobat?"

"Mm? Oh, ya Harry, ah tidak ada apapun disini." kata Ron, baru sadar ketika Harry menepuknya. "Dan, hei, akhir pekan masih panjang, apa yang mau kita lakukan selama itu sementara kapten bilang tak ada latihan? Mau mengunjungi Hagrid dan menyapa Grawp? Aku - tidak seperti kau dan Hermione - belum melihat teman kecil kita sama sekali."

"Lumayan." jawab Harry antusias. "Dan ada sedikit keinginan untuk menjelajahi ruang benda tersembunyi, entah kenapa ada yang menarik yang bisa kutemukan apapun walau setelah Fiendfyre itu menguburnya."

"Yeah? Itu keren."

"Juga maaf soal ruang ketua murid." kata Harry kebetulan ingat itu. "Bukan mauku dilarang atau tidak membawamu masuk ke ruangan itu. Dan itupun karena ditambah dengan bentakan si Ketua Murid perempuan."

"Tidak mengejutkan." dengus Ron tertawa. Lumayan melupakan perasaannya.

Sebuah suara deham, Hermione entah sejak kapan ada di bangku di atas mereka berdua mengatakan, "Kalian kenal siapa ketua murid perempuannya?"

Harry dan Ron saling pandang. Harry berkata lambat dengan menahan kedipan dan seringaian, "Menurutmu?"

Ron mengambil tampang menggurui dan sok tahu Hermione. "Seseorang yang takut dengan-" Ron dengan cepat mencabut tongkatnya dan mengayunkan pada pergelangan tangan kirinya. Tangan itu jatuh berdebum begitu saja dan bersamaan dengan erangan Ron darah mengalir dari sana. Ron berteriak dan Hermione berjengit terpental dan terduduk gemetar ke kursi di belakangnya.

Teriakan sakit Ron yang mendapat banyak perhatian lebih dari yang diduga Harry, menjadi suara tawa. Harry melirik Hermione takut akan reaksinya, walau tidak bisa menahan gejolak jailnya.

"Tanganmu." gerutu Hermione menunjuk dengan gemetar tangan putus Ron dan jijik untuk memandangnya.

Dengan sentakan bahu, tangan Ron yang putus, pergelangan sampai jari Ron muncul lagi. Darahnya masih ada, tipuan yang sangat bagus.

"Tangan jail ideku untuk toko George. Aku selalu memakainya kemana-mana. Mengundang gelak tawa dari udara sekitar jika ingin. Yeah! Butuh bantuan, Ketua Murid perempuan?"

"Itu tidak lucu." jengit Hermione, namun tetap menerima bantuan Ron.

"Aku akan menilainya lucu jika Harry saja ikut tertawa." kata Ron pelan. Hermione mendeliknya dan Harry hanya malu memandangnya.

"Tapi ini curang. Kau bahkan tidak memukul Ron yang malah sudah menjailimu, Mione!" kata Harry, menurutnya sedang membela diri.

"Hei," kata Ron ingat sesuatu begitu saja. "Sejak kapan kau memanggil Hermione Mione?"

Harry hanya menahan tawanya memandang Hermione. "Pertanyaan yang sama. Kurasa kalian-"

Dia hampir bilang mereka cocok karena bertanya hal yang sama. Harry tidak melanjutkan karena tidak mau memikirkan - dan mengakui - kalau Ron dan Hermione adalah pasangan.

"Baiklah," Hermione yang berkata, tidak merasa apa-apa melihat Harry tak melanjutkan. "Aku, sebagai teman yang setidaknya mau berpikir, shh ("Apa?" Ron bilang) aku hanya ingin mengingatkan kalian bahwa kita adalah murid NEWT, jadi..."

"Lebih baik olahraga menulis di ruang rekreasi atau membongkar ulang perpustakaan. Seharusnya aku tahu dari aromanya kalau Hermione muncul. Ya kan, Harry?" potong Ron. Dan Hermione mengangguk.

"Tapi ide Hermione yang ini bagus." jawab Harry. "Aku benci mengakui kalau aku menjadi gemar belajar juga. Yah, apa boleh buat kan?"

"Aku akan merendengimu, Sobat." kata Ron menyeringai. "Banyak peer, selalu esai, tugas prefek, dan tentu saja kesibukan Quidditch. Benar-benar hari Hogwarts yang dirindukan. Harry, bagaimana kalau kita hidupkan kembali Voldemort?"

"Kau tidak akan mau mengatakan itu." kata Hermione jengkel. "Ayo ikuti aku kalau mau pintar. Ginny, sampai nanti!"

Harry hampir melupakan Ginny. Tidak memikirkan kalau dia sudah bersikap cukup tak acuh dan pantas buat Ginny. Tapi Hanya tersenyum, melambai seraya berkata, "Dah!" dan mengikuti Hermione. Ratusan kali berbeda dengan Ginny yang terus memperhatikan Harry berjalan pergi tidak dengar dua teman perempuannya sedang menertawakan sesuatu dan berusaha mendapatkan perhatian dari Ginny.

"Berhentilah menampilkan keeksentrikanmu soal menjaili hanya untuk menertawai orang, dimana wibawamu sebagai prefek? Demi Tuhan..." kata Hermione menasihati Ron, saat Harry berlari mendekat pada mereka keluar podium Quidditch.

"Itu cuma potongan tangan seharga satu galleon dapat lima buah yang konyol. Aku sudah lama tidak tertawa karenamu, Hermione." sahut Ron nyengir. "Kau juga boleh menggunakannya padaku jika kau ingin sedikit -aku takut ini kata terlarang buatmu- 'haha', paham?" Melihat Harry sudah bergabung dia bertanya, "Harry, kemana saja kau tidak membuatnya tertawa, dia butuh tertawa untuk awet muda."

Harry cuma mengangkat bahu. "Apa yang kalian obrolkan?"

"Kurasa kau yang konyol, Ron, bukan benda tangan itu tadi." kata Hermione, mendengus. "Jangan ikuti dia Harry, hanya tidak lebih buruk dari jalan memenjarakan orang untuk mendapat kursi kekuasaan."

"Aku suka mendengar 'tidak lebih buruk'nya." gumam Ron masih nyengir pada Harry.

"Kejam sekali sampai memenjarakan orang. Kita memang benar-benar butuh pemimpin muda dengan pikiran dan sifat sepertimu, Miss Hermione." sambung seseorang dalam suaranya yang melandai antara datar dan menyampaikan lelucon.

"Profesor Colm..." kata mereka bertiga.

Profesor Colm, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam - yang memakai scarf hijau perak sedang bersandar pada pegangan tribun puncak menghadap lapangan yang semuanya mengarak makin sepi menuju kastil. Jika dilihat dari dekat, antara rambut dan matanya akan terlihat lebih jelas tak ada alis disana. Sebab tadinya warna rambutnya hampir sewarna dengan kulit wajahnya apalagi di antara cahaya, dan biasanya Ron akan meledak tertawa jika profesor Colm hilang dari jangkauan.

"Dan halo, Gryffindor-Gryffindorku!" katanya, seharusnya kalimat itu bernada riang, tapi profesor Colm bernada malas.

Ron mencoba saling pandang. Hermione memberinya tatapan memperingati agar tidak kelepasan tertawa. Harry yang menyahut, dengan anggukan.

Hermione berkata, "Ya, profesor. Ada yang perlu kami bantu?"

Profesor Colm ketika memandang malas Hermione dengan suara rendah berkata, "Miss Hermione, itu alis yang sangat menarik, seandainya aku punya satu." Ron menjadikan tawa seperti muntahan, dan susah payah menahannya dengan berbalik memunggungi mereka semua. Hermione kembali memandangnya tajam. Profesor Colm mengangkat suatu bagian dimana seharusnya alis mata berada dan berkata, "Ada yang menarik di belakang situ, Mr Ron? Apa ada suatu kejutan untuk menumbuhkan alisku?"

Ron dengan cepat berbalik, cukup dengan tersenyum dan menarik napas dalam lalu berkata, menunjuk langit, "Pertandingan yang bagus bukan, profesor?"

"Oh well, pertandingan yang menarik. Tapi semua Slytherin itu masih terlalu remeh untuk melawan tim kita kan?" kata profesor Colm mengangguk-angguk. Dan tidak peduli syal tim mana yang dia pakai, dia berkata, "Gaya seeker mereka konyol. Cara menangkap snitch yang pasaran hanya dengan untung-untungan tidak akan memenangkan pertandingan kedua kali. Selama ada Mr Harry, Gryffindor tidak akan kalah. Bukan begitu?"

Harry sedikit keberatan pada bagian menyebutkan kemenangan karena dirinya. "Er, kemenangan ditentukan dari kerja sama tim, Profesor. Semua posisi berkaitan dengan hasil kemenangan yang diinginkan."

"Tentu saja, profesor. Harry telah merendah meninggalkan jabatan kapten." seru Ron, perasaannya senang walau mendapat sentakan dari Harry.

"Aku tidak peduli." sahut profesor Colm santai seperti mengantuk. Tapi Harry bisa melihat Hermione yang tidak bisa menahan senyumnya. Ron jadi merengut. "Aku perlu menyampaikan ketua murid dipanggil ke kantor kepala sekolah. Dua-duanya. Artinya cuma dua. Dan juga berarti tidak memerlukan tambahan satu orang berkepala api-api seperti Mr Ron. Nah, sampai ketemu, anak-anak."

Dan Profesor Colm berdiri tegak lalu pergi duluan seolah tidak pernah bicara dengan siapapun, menghilang menuju jalan keluar podium. Harry melirik mereka, saat Hermione berkata, "Itu- sifat yang... benar-benar... berbeda. Dan kita sangat kenal dengan Luna."

Dan kalimat lainnya tenggelam oleh tawa Ron yang seakan meledak dari kepalanya. "Kukira Simlar yang akan parah, aku tidak menyangkanya dari awal. Dari semua staf yang pernah direkrut Hogwarts selama aku berada disini, Colm kukira yang paling menyaingi kegilaan Trelawney. Tapi aku suka gayanya, lelucon alis yang tak ada habisnya."

"Aku rasa dia hanya bercanda." gumam Hermione memulai berjalan. "Dengan berusaha dinilai lucu dan disukai semua murid. Tapi ekspresinya... tidak bisakah dia menyeringai atau berkedip atau apapun. Dan sekarang aku menilainya dia memang orang dingin yang berusaha menjadi pelawak."

Harry mengangkat alis. Ron yang menyahut, "Siapa yang peduli hanya karena dia sering melawak atau tidak. Kalian tahu, aku akan hormat dengannya. Guru Hogwarts kuyakin tidak akan pernah mengingkari janjinya jika sudah mengatakan apa yang akan dia ajari, aku masih menunggu habis liburan nanti dan dia akan memenuhi janjinya mengajari sihir tanpa tongkat... Itu menakjubkan, aku rela rambutku dijadikan bahan lelucon untuknya jika itu dipercepat."

"Oh, menyedihkan." kata Hermione padanya. "Tapi soal sihir tanpa tongkat, di Sejarah Hogwarts tidak pernah ada guru pertahanan yang mengajari sihir tanpa tongkat, bahkan jarang sekali disinggung disana."

"Itu dia yang menarik bukan?" kata Harry.

"Yeah, tanyakan beberapa generasi apakah mereka pernah belajar hal itu. Dan tanyakan apakah ada guru yang pernah mengajari sihir tanpa tongkat meskipun mereka bisa. Ini menakjubkan, Harry." seru Ron sangat antusias, jarang Harry melihat orang itu antusias bahkan pada pelajaran yang belum dia rasakan. "Dan apakah itu juga berarti tidak akan ada pergantian guru pertahanan tiap tahun seperti dulu lagi?"

Harry dengan setia untuk menyambut keantusiasan Ron saat mengatakan, "Nampaknya Colm sudah mendapat posisi bagus di hati muridnya, awal yang sangat bagus setelah menjadi kepala asrama Gryffindor."

"Benar juga, aku ingin melihat sifatnya itu jika Gryffindor sedang pesta; pasti banyak yang akan membandingkannya dengan McGonagall nanti." kata Ron. "Padahal kukira posisi itu akan ditempati sesama guru transfigurasi, si scots konyol itu..."

"Ron!" kata Hermione. "Kau seorang prefek!"

Ron memutar matanya pada Harry dengan bosan.

"Kau memang prefek." kata Harry sederhana setelah mengangkat alis. Ron hanya linglung cuma bersuara, "Oh, ya, ya, tentu saja."

Tujuan mereka bertiga sebenarnya adalah ruang rekreasi di menara Gryffindor yang jarang didatangi Harry dan Hermione, menghabiskan seperti biasa akhir pekan jika tidak ada latihan Quidditch atau kunjungan desa Hogsmeade, tapi walaupun Ron masih membicarakan apa yang bisa dilakukannya dengan dua sapu barunya dan memimpin jalan menaiki tangga menuju potret nyonya gemuk; Harry berhenti mengikutinya tetap berdiri di koridor bersama Hermione yang memutuskan dia harus menyela Ron.

"...aku sedang membayangkan jika dua sapu diperbolehkan dalam pertandingan Quidditch. Aku menggunakan dua sapumu saat latihan, Harry, kau tahu, aku sedang mencoba berd-"

"Ron, kau masih ingat apa yang dipesankan oleh profesor Colm kan?"

Ron memandang berkeliling sementara ocehannya yang nampak membuatnya sangat senang terjeda, dan mendapati dua rekannya mendongak padanya di bawah tangga.

"Apa? Oh, iya, profesor Colm bilang kalian dipanggil ke kantor McGonagall." katanya jelas mencoba tidak ada apa-apa dan tidak bermasalah, walau gagal di akhir.

"Benar." kata Hermione lagi. Dia tampak mendapat kesulitan untuk memindahkan sepatunya menyusuri koridor yang tersisa ke kantor McGonagall meskipun tidak mengerenyit. "Kalau begitu maaf, erm, kita akan ketemu lagi saat kami terbebas, well..."

Hermione telah berhasil bergerak dan seolah dia tidak sadar melakukan itu, tampak resah jika ada di dekat mereka berdua jika bernuansa canggung aneh seperti saat itu. Lupa mengajak Harry atau setidaknya mengucapkan sampai nanti simple buat Ron.

Gerakan mengangkat alis Ron yang maksudnya bertanya ada apa sangat jelas tidak tulus. Harry menoleh pada Hermione yang menjauh nampak tidak mau menunggunya terlebih dulu dan Harry yang sebenarnya tidak sanggup terus berpura-pura tak ada apa-apa, hanya berkata, "Well, Dagh!"

Harry berada di antara dua perasaan tidak enak pada Ron dan tidak terpungkiri rasa senang akan berdua saja lagi dengan Hermione. Jadi menurutnya tidak wajar jika berkata 'jangan kuatir aku akan menjaga Hermione untukmu' 'aku tidak akan macam-macam dengannya' dan 'aku akan membuatnya tertawa' Membuat langkahnya menjadi berat. Tapi apa boleh buat, unsur persaingan antar lelakinya muncul dan mengacuhkan seacuh-acuhnya Ron saat sudah tidak terlihat.

Harry berlari kecil menyusul Hermione, sambil memanggil, "Hermione... Hermione..."

Ketika sudah sampai sangat mengejutkan untuk Harry karena Hermione berhenti dan berbalik mendadak lalu berkata galak, "Apa?"

Harry ikut berhenti, agak sedikit tersinggung. "Apa maksud nada itu? Aku hanya mau bertanya kira-kira urusan apa yang mau profesor McGonagall lakukan dengan kita."

"Oh, maaf, Harry, aku kira - ah, lupakan saja..." gumam Hermione, mukanya sedikit merona karena malu. Harry mengamatinya dalam, ke suatu tebakannya bahwa Hermione pikir dia akan membicarakan soal Ron, dia kurang begitu paham, dan tidak ingin paham. Hermione bergumam setelah berjalan dalam rasa canggung yang hanya ada di otaknya, "Dan kita akan segera tahu apa itu urusannya."

Harry dan Hermione telah menghadap dua gargoyle batu maka setelah mengatakan kata kuncinya, mereka menaiki tangga spiral. Meski tahu McGonagall yang akan ada di belakang meja utama di dalam nanti, ada perasaan yang membuat Harry pernah lupa kalau Dumbledore tidak masih hidup, atau sehat, dengan selera humor anehnya, serta wajah bijaknya yang akan ditemui Harry sebab tidak ada perbedaan sama sekali dari ingatannya dulu dengan ruang Dumbledore kini, setidaknya dari luar.

Tapi tidak sekarang saat dia lumayan berusaha menebak apa yang mau diurusi McGonagall, meski harus diakui dia ingin bertemu Dumbledore setelah sekian lama dan walau cuma lukisan. Salah satu dari enam orang yang mengajarinya kehidupan.

Harry yang menggerakkan pengetuk pintu griffin emas tersebut, dan membukanya membiarkan Hermione masuk setelah mendengar suara tinggi, "Silakan masuk!"

"Profesor..." kata Hermione saat Harry menutup pintu di belakang sana. Profesor McGonagall baru saja melepas kacamatanya dari kegiatannya yang seperti membaca dan menulis sebuah atau puluhan buah sesuatu yang menyaingi ketebalan Sejarah Hogwarts. Harry tidak heran, sudah biasa.

"Mau istirahat dulu, atau mau langsung bekerja...?" tawarnya dengan hangat, memandang bergantian pada dua ketua muridnya.

Harry mau istirahat dulu, tapi sangat tahu kalau Hermione akan berkata, "Apa memangnya yang akan dikerjakan, Profesor?"

Saat McGonagall menunduk memandang hasil kerjaannya, Harry menghela napas panjang setelah mengerling mendapati lukisan para mantan kepala sekolah lengkap kecuali figura Albus Dumbledore. Tidak begitu dipermasalahkan Harry setelahnya, malah dia berpikir ialah orang konyol yang bicara dengan orang yang sudah tiada.

"Sebenarnya aku tidak mau meminta ini, tapi aku tidak melihat orang lain yang kurasa sanggup untuk melakukannya dan memiliki waktu bebas saat ini. Aku butuh pembaharuan beberapa aturan pada buku besar Hogwarts. Sementara aku -seperti yang kita juga tahu - Miss Granger, dirimu sangat sanggup untuk membantu. Aku cuma ingin minta bantuan untuk menyusunnya dan mencocokannya dengan buku di rak utama perpustakaan. Maukah kamu?"

"Tidak apa." sahut Hermione cepat, mengangguk. "Saya bisa membantu anda, Profesor. Sekarang juga, bukan begitu?"

"Ya, sekarang juga. Terima kasih atas itu. Kita akan ke perpustakaan. Aku akan ikut dalam pengerjaan ini. Repot jika memaksa tetap mengerjakannya disini." McGonagall mengepak semua benda di atas meja kerjanya dengan satu jentikan tongkat. Melihat Hermione seraya bangkit dan mengatakan, "Kalau begitu mari, Miss Granger..."

Harry melirik Hermione yang bangkit sementara dia sudah memegang pegangan kursinya berniat hal sama. Ketika sambil memutari meja, McGonagall berkata, "Oh, Mr Potter, bukan bermaksud tidak menghiraukanmu, aku agaknya menduga cuma sedikit hal yang akan kau pahami. Bantuanmu dalam hal ini tidak diperlukan. Maaf karena membuang waktumu, tapi aku hanya membutuhkan Miss Granger. Kami takkan lama, kalian kupastikan sudah bertemu lagi tidak lebih dari dua jam lagi dan mungkin kurang."

"Oh, baiklah." kata Harry agak heran, melanjutkan gerakan berdirinya. Berpikir agak jengkel untuk apa dia ikut dipanggil kalau begitu dan memang agak membuang waktu disana jika tidak ada Dumbledore yang sebenarnya menjadi tujuannya jika boleh berlama. Tapi saat ini dia berniat ke menara Gryffindor. Hermione pasti tahu dia akan ada disana.

"Well, kalian adalah satu paket." McGonagall melanjutkan agak membuat Harry bertanya. Dipandangi dua muridnya membuat beliau kembali meneruskan, "Dua ketua murid itu seperti satu hal yang terikat dalam kontrak sihir. Jadi kalian berdua yang akan terpanggil, baru bisa setelahnya cuma salah satu yang dimintai tolong. Maka maaf jika kau merasa waktumu dibuang."

Harry hanya mengangguk, jujur masih bingung. Namun sangat mengerti Hermione menangkap maksudnya.

McGonagall sedikit memberi isyarat pada Hermione untuk memimpin, ketika beliau menoleh pada Harry lagi. "Aku tidak menganggap ini adalah ruangan pribadiku. Ruanganku ada di kamar yang tidak akan bisa kau masuki jika tidak kuberi izin. Jadi mungkin kau diperkenankan untuk berlama disini, dan Albus sering sekali bertanya tentangmu. Kurasa baik jika kalian bertemu, mungkin kini dia sedang ke figura favoritnya."

Harry memahami yang itu. Melihat McGonagall berjalan keluar dan Hermione berkata, "Kau akan di menara Gryffindor jika aku mencarimu, oke?"

Untuk itu Harry mengangkat alis, dugaannya selalu benar tentang Hermione, dan pintu terpelitur tersebut menutup meninggalkan Harry sendirian. Baru ada niat memandang tempat tambatan seperti lemari pensieve atau Fawkes yang nihil disana, saat suara dari belakangnya berkata, "Oh, Harry..." dia menoleh dan melihat Dumbledore merunduk masuk dari suatu rongga serta matanya yang bahkan bersinar ketika melihat dirinya, sangat senang. "Sungguh-sungguh pertemuan dan kejutan yang sangat menyenangkan..."

"Profesor Dumbledore..." kata Harry, ada kesenangan melihat beliau disana, namun tidak dimunculkan di ekspresi.

Dumbledore terkekeh pelan dan mengayunkan tangannya, berdiri dengan tegap pada figuranya. "Tidak apalah jika kau suka menyebutku profesor. Sedang menunggu Minerva atau dia bilang kau ditunggu olehku?"

"Oh, beliau meminta bantuan yang tidak bisa diberikan oleh saya. Membawa Hermione dan bilang kalau tidak masalah lama disini, beliau juga baru saja keluar."

"Ah, apa dia bilang kalau aku ingin bertemu denganmu?" tanya Dumbledore memandangnya tersenyum.

"Beliau hanya bilang anda bertanya soal saya." jawab Harry seadanya.

"Oh, aku memang ingin bertemu denganmu, Harry anakku. Bukankah dirimu juga?" kata Dumbledore penasaran.

"Yah, yeah, tentu saja." Harry mengatakannya seperti tidak tulus, namun dia tulus. Dan Dumbledore tidak akan mungkin mempersalahkannya. Sedikit memandang berkeliling dia kembali menunduk pada Harry yang sama-sama berdiri.

"Tidak terburu-buru kah?" tanya Dumbledore.

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi bagaimana dengan sedikit perbincangan santai setelah sekian lama yang bahkan jarang kita lakukan saat aku hidup?"

Harry mengangguk, beberapa memang ingin ditanyakannya. Sedikit memiriskan perbincangan santai, tidak pernah ada antara dirinya dengan Dumbledore. Semoga ini tetap santai.

Harry yang memulainya. "Well, anda dari mana? Erm, lukisan yang mana?"

"Aku baru dari Wizengamot. Tempat yang paling sering kukunjungi, melihat satu sidang lain yang menurutku perlu aku amati walau tidak berkaitan denganku sama sekali. Mereka mempersidangkan orang tua teman kita, kau pasti juga kenal; Narcissa Malfoy. Sidang ganda karena seorang kapten Auror dengan sangat baik menjamin dia."

"Narcissa..." Harry bergumam, sangat tahu pasti siapa si kapten Auror yang Dumbledore maksud. Namun tidak berpikir hal aneh. "Profesor, bagaimama hasil sidangnya? Bukankah dia sedang sakit?"

"Oh, sidangnya sangat lancar dan. . . Narcissa," sahut Dumbledore dengan cepat seperti telah menduga reaksi Harry. "Narcissa berhasil mendapat kebebasan secara utuh. Di bawah tanggung jawab sang kapten Auror. Walau..." Dumbledore nampak menghela napas menyesal. "Keadaannya tidak membaik, sangat tidak membaik. Aku sangat sangat khawatir teman Slytherin kita akan kehilangan dua orang tuanya."

"Oh," gumam Harry iba.

"Aku cuma bisa berharap masa depan Gryffindor dan Slytherin tidak seperti pendahulunya." kata Dumbledore antara desah dan normal. Harry merenung dan tidak sadar sudah mengangguk, bahkan mungkin tidak dengar kalimat terakhir Dumbledore baru saja.

"Harry," ia bahkan tersentak dengan suara tenang Dumbledore. "Silakan duduk. Aku tidak memaksa dirimu berdiri terus, sementara aku hanya lukisan. Kita telah sepakat di awal akan berbincang santai bukan?"

"Benar." gumam Harry lagi, dan kembali duduk. Berusaha reda akan berita Narcissa Malfoy.

"Bagaimana dengan tugas ketua muridmu? Apakah berat? Aku sangat tidak menyangkal jika itu yang kau pikirkan."

Harry mendengus tertawa pelan. "Yeah, lumayan. Tapi saya tidak pernah mengeluh tentang itu."

"Benarkah?" nada suara penasaran Dumbledore lagi. Harry bahkan tidak menahan alisnya yang terangkat, saat Dumbledore melanjutkan, "Yah, ketua murid memang didesain dengan tugas berat. Aku tidak membicarakan dengan balasannya, tapi itulah sebab kami harus mendatangi calon ketua murid yang mungkin akan merasa terbebani.

"Meski kalau aku sendiri jarang, aku pernah mendatangi satu murid, setidaknya aku berencana mendatanginya. Aku pernah berpikir menjadikan Severus ketua murid karena rasa tanggung jawabnya yang lebih dari cukup, berniat menutupi sisi gelapnya dengan kebaikan, namun aku hanya tak pernah mendatanginya sebab aku mendapat kesan kalau Severus akan sulit berubah dari jalan yang telah diambilnya selama berada di Slytherin.

"Aku tidak sedang membicarakan kejelekannya, tapi aku cuma ingin menyampaikan bahwa bukan hal seperti jabatan penting atau hadiah yang mungkin merubah orang. Aku disini bahkan sangat membayangkan bagaimana jika dengan akhirnya Severus dan Lily bersama."

"Saya tak mungkin menyesal jika saya tidak lahir 'kan?" kata Harry dingin, menunduk lalu menatap beliau lagi.

Dumbledore seperti biasa - tenang. "Aku tidak akan pernah mengisikimu soal tanggung jawab kebaikan lagi, Harry, tapi cinta bahkan tidak hanya mengubahmu ke arah yang lebih baik."

"Apa - apa maksudnya?" Harry hanya mendapati rasa kesal saat mendengar 'kamu' dalam kalimatnya. Ia tidak mengernyit karena berusaha seperti itu.

Dumbledore tersenyum dan berkata, "Tidak ada maksud dalam apapun itu saat ini, Harry. Maaf jika kau merasa tersinggung..."

Harry memandangnya nanar ingin tahu. Namun sekejap menggeleng, merasa tidak pantas menuruti tak menerima kalimat yang seperti kritikan atau masukan tidak membantu dan memberatkan dia yang sering keluar dari Dumbledore.

"Berbicara mengenai Severus... Snape," Harry mengganti topik setelah memandang berkeliling, kembali pada Dumbledore yang tersenyum hangat mendorongnya meneruskan. "Kenapa tidak ada lukisannya di ruangan ini?"

"YEAH! KENAPA?" seru seorang Phineas Nigellus mengangkat tinjunya terhina. Harry tidak menganggap itu menarik, dan sepertinya Dumbledore juga.

"Lukisan Severus, ya? Akan asik jika ada dia di antara kami bukan?" Dumbledore berkata. "Well, aku sangat menyesal semua bermula dari Severus yang tidak menginginkan kebaikannya diketahui. Seperti yang kau juga telah tahu, sebelum ini hanya aku yang tahu apa yang tidak ingin Severus gemborkan. Otomatis, saat aku meninggal, tidak akan ada yang membelanya jika dia di ujung kehidupan. Aku... tidak ingin dia meninggal. Karena mungkin jika aku tahu dia perlu dikenang, aku akan menyiapkan sebuah ritual janji sihir yang akan menempatkan memori yang diinginkan ke dalam lukisan sihir. Aku tidak akan menjelaskan jenis lukisan sihir disini. Tapi jenis lukisan kepala sekolah Hogwarts, adalah penempatan memori pada wadah baru dalam bentuk lukisan. Ketika Severus mati dan belum melakukan janji sihir ini, dia tidak akan bisa menjadi salah satu dari lukisan disini, hal yang akan sangat kita kagumi jika terjadi."

"Harus punya memorinya, sir?" tanya Harry berharap ada solusi yang dilupakan Dumbledore.

"Ah, namun memori secara utuh dan telah melakukan janji sihir sebelum ini." kata Dumbledore sedih. Saling melihat rasa sesal dalam mata masing-masing. "Tapi ilmu sihir juga terus berkembang, Harry. Kita tidak seharusnya mengatur waktu seolah-olah itu sapu terbang."

Sebuah lukisan Phineas Nigellus mendengus keras di suatu sisi, Harry tak berpikir untuk memastikannya.

Dumbledore kembali bersuara, sekarang terdengar berat, "Seandainya aku adalah orang seperti kalian berdua..."

Harry kembali memandangnya ingin tahu.

"Aku selalu merasa bahwa kita bertiga adalah tiga pria bertipe sama, setidaknya di mataku yang tentu saja tak masuk akal ini..."

"Jangan selalu merendahkan diri anda, sir. Saya mohon!" sela Harry cepat begitu saja.

"Kau memang baik sekali, Harry... yah, aku selalu merasa begitu meskipun kita bertiga tak pernah berkumpul saat masih hidup, tanpa beban, tak ada rasa kesal. Aku juga selalu melihat diriku dalam Severus. Dan aku lihat diri Severus dalam dirimu... Dari mataku." Dumbledore memberi jeda, nampaknya percuma mengingatkan dia soal jangan menghina diri sendiri lagi.

"Tapi aku juga ingin menjadi seperti kalian berdua. Dalam hal, kalian pernah mendapat pertanyaan langsung ingin berkorban segalanya untuk orang banyak atau tidak, sementara tidak denganku. Meskipun penanya kalian adalah aku. . . Aku juga ingin tahu apa yang kurasakan, yang kalian rasakan, saat seseorang bertanya terang-terangan apakah kamu mau berkorban banyak hal untuk kebaikan banyak orang."

Saraf memorinya bergerak mondar-mandir, tapi tak juga muncul memberinya ingatan. Perasaannya mengatakan kalau dia tidak tahu kapan ditanyai Dumbledore semacam tadi. Dan memutuskan dengan gila kalau dia belum ditanyai.

"Ada yang perlu kau katakan, Harry?" tanya Dumbledore.

Harry dengan jujur berkata, "Yah, er, tapi saya rasa anda, ataupun orang lain, tidak pernah menanyakan apa saya mau berkorban atau tidak... Sir."

Dumbledore tampak memperlihatkan dahinya yang berkerut secara mendadak tapi samar. "Ah, tentu saja. Aku salah menduganya. Aku mengira saat kau mengetahui semua masa lalu dan kenyataan tentang dirimu dari memori Severus, aku berpikir kalau kau juga mendapat memorimu sendiri yang kosong, bukan begitu, Harry?"

"Saya kurang paham, Sir."

"Pernahkah kau ditanya olehku tentang rela berkorban itu?"

"Tidak." kata Harry cepat. "Dan saya tidak mungkin melupakan hal seperti itu kan?"

"Tentu saja, Harry. Karena memori itu segera aku ambil darimu, aku merasa kau terlalu muda untuk mendengarnya. Aku berpikir untuk mengembalikannya bersamaan kenyataan Horcrux dalam dirimu. Aku minta maaf."

Sudah terlambat, pikir Harry jengkel yang mendapat Dumbledore bertindak semau dirinya. Dan Harry tidak peduli.

"Lanjutkan saja!"

"Well, aku memberi memorimu itu pada Severus, berkata dengan egois dan bodoh kalau kau mau menerima keadaan dengan memikirkannya lagi. Aku tahu aku menyesal. Dan memang mudah melupakan kalau kita merasa ada ingatan yang kosong, mungkin itu sebabnya kau tidak tahu, Harry. Sampai sekarang kau tidak tahu, kulihat?"

"Saya tidak tahu sama sekali." jawab Harry datar.

"Dan berarti kau tidak perlu diingatkan untuk menjadi pahlawan sejati." sahut Dumbledore tenang. "Memorimu yang kosong itu mungkin masih tersimpan di rumah Severus, jika dia memang tidak memberikannya padamu setelah aku memberikan itu kepadanya."

Harry bertanya-tanya kenapa memori itu sampai disingkirkan sejenak, lalu memandang kakek itu, "Tentang apa sebenarnya isi dari memori itu, sir?"

"Hanya kebodohan dan keegoisan diriku, yang nekat bertanya hal tersebut dan menuntunmu untuk berkorban." Dumbledore berkata dengan tersenyum sedih. "Mungkin memang tak pantas untuk menjadi ingatanmu,"

"Saya ingin melihatnya." gumam Harry. "Saya ingin memilikinya kembali."

"Oh, tentu saja, itu adalah milikmu seutuh-utuhnya. Dan kuberikan pensieve untukmu dengan senang hati. Ingatan lama sulit diingat, dibanding dengan melihat ulang menggunakan pensieve."

Harry mengangguk. Meski tak dengar apa yang Dumbledore katakan dengan teliti.

"Bagaimana saya mendapatkannya saat ini?" Harry bertanya tanpa berusaha.

"Jika ada di rumah Severus, mungkin kau hanya tinggal ke sana dan mengambilnya." jawab Dumbledore. "Dan..."

"Maaf, bolehkah saya gunakan perapiannya, sir?" Harry meminta.

"Tentu, dan memang itu juga yang akan kuusulkan. Tidak perlu kesana jika dengan floo, kau hanya tinggal memasukan tangan dan tongkatmu, serta sedikit mantra panggil." Harry bangkit berdiri, setelah mengangguk mengerti. "Bubuknya ada di tempat yang biasa..."

Harry menjumputnya sambil membatin 'incendio' dan melempar bubuk floo ke dalam perapian mewah yang segera berkobar hijau. Berpikir pasti apa yang mau dikatakan setelah menjuluri tangan yang memegang tongkatnya dalam api.

Mengatakan dalam gumaman, "Ruang Lily, Spinner's End." Harry mengerjap saat tangannya serasa di tarik. Sangat pasti kalau ruang itu punya perapiannya. "Semoga ada disana. Accio!"

Harry tak perlu menunggu sebab saat berkonsentrasi apa bendanya, sebuah tabung kecil menyelip dalam tangan pemegang tongkatnya dan dia segera menarik keluar tongkat serta sebuah tabung berisikan cairan perak. Harry menghela napas dan berdiri memandang ke lukisan Dumbledore. Dumbledore mengangguk dan mempersilakan dengan tangannya pada lemari pensieve. Harry kembali menjadi sangat tertarik pada tabung itu dibanding tongkatnya.

Berjalan bahkan seperti tanpa sadar, menyiapkan pensieve, menuang isi memori, dan dia mengambil napas dalam seperti biasanya, masih berpikir isi pensieve layak dengan air.

Dia terlempar dari ruang kepala sekolah, namun dengan kaget ia berpikir pensieve tidak bekerja normal. Antara sadar karena ruangan sangat lebih suram dan temaram, serta dua orang yang duduk pada bangku utama yang telah disediakan. Ruang Kepala Sekolah yang sama, dengan Dumbledore sehat seutuhnya namun sangat tua pada kursi besarnya yang sama, dan Harry lain yang nampak baru berusaha reda dari keadaan marah.

Harry mendekat, sudah tahu kapan waktu di ruangan ini. Dumbledore dengan bimbang dan berairmata mengatakan, "Kau mungkin bertanya-tanya, mengapa aku tidak pernah memilihmu sebagai prefek? Aku harus mengaku... bahwa aku berpikir... Kau sudah punya cukup tanggung jawab."

Harry tahu itu adalah waktu terakhir kali dia melihat Dumbledore dalam keadaan sehat tanpa tangan hitam di tahun kelima. Dan selagi Harry memandangi tertarik, dia sangat terkejut seolah dibangunkan di tengah mimpinya karena mendapati dia tidak ingat apa yang terjadi setelah Dumbledore mengatakan kalimat itu. Seperti terputus begitu saja di otaknya.

Yang dia ingat setelah air mata Dumbledore menetes hampir tidak lebih dari keyakinannya bahwa jika dia menyingkap tudung di departemen misteri, Sirius akan keluar dan tertawa. Tidak mati sama sekali. Harry bahkan merasakannya lagi saat menyaksikan ini kembali berlangsung.

Dia sangat fokus mengabaikan rasa marah yang melebur saat Dumbledore melanjutkan tanpa usaha untuk mengusap matanya, "Bahkan tanggung jawab yang sangat besar. Yang bahkan tidak pantas untuk dikatakan karena itu terlalu berat, aku tidak sanggup untuk lama memikirkannya, bagiku mustahil ditanyakan dengan ringan..."

"Apa itu?" Harry mendengar dia sendiri, tahu kalau dia gengsi untuk merasa kasihan pada Dumbledore yang menjadi lemah dimana waktunya ia ingin marah padanya. Ternyata dulu dia berpikir tidak ada yang lebih mengejutkan daripada ramalan yang telah didengarnya.

Dumbledore memandang Harry seakan dia menjadi benda terpenting, terapuh, termenarik yang pernah dia lihat. Dia masih seperti itu saat menarik napas terdalam yang pernah Harry perhatikan, dan berkata, "Harry, mungkin kau akan mengecapku sebagai orang teregois, tapi jika kau, Harry Potter," ada ketegangan dalam aliran darah Harry. "Seorang remaja tanggung yang telah mendengar kenyataan tentang takdir dirimu, dan seandainya kau diposisikan menjadi seseorang yang berkorban, segalanya, bahkan nyawa hidupmu, untuk diharapkan menjadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia dan segala isinya dalam keadaan aman. Akankah kau mau berhati besar melakukannya?"

Harry sedang melihat dirinya tertegun, bahkan dia tidak tahu dirinya bisa tertegun kaya gitu. Dan itu mengartikan bahwa Harry mengerti apa yang coba Dumbledore sampaikan.

"Pandanglah aku jijik sesuka hatimu yang telah menanyakan hal sangat berat dengan... ringan." kata Dumbledore tetap berat. "Tapi apa yang pasti kau niat dan akan lakukan dalam keadaan seperti itu?"

"Menyelamatkan... semua orang?" Harry menelan ludah sangat ragu. "Cuma saya yang sanggup dengan mempertaruhkan semua yang saya miliki, dan bahkan nyawa saya?"

Harry menarik napas ngeri. Dumbledore tidak perlu mengangguk atau mengiyakan, Harry tahu itu benar dari mata Dumbledore yang berkaca-kaca. Bernapas cepat, dia menunduk tidak menduga Dumbledore mengatakan itu. Tapi Harry tahu dirinya mungkin akan seperti itu.

Harry memikirkan akan semuanya. Membayangkan keadaan, terreka begitu saja. Semua anak muda Hogwarts sedang menyambut musim liburan sesaat lagi di antara Harry dan jendela menara itu. Harry sekarang satu-satunya murid Hogwarts yang mengikuti ujian tambahan dengan tema 'berhati besar' Harry bahkan tidak memikirkan ini, ini adalah sesi tertentu hidup yang seharusnya, menurutnya, terjadi begitu saja. Tidak ditanyakan. Karena artinya sama dengan pertanyaan mau mati untuk semua orang; atau mau hidup dengan rasa bersalah dan perngorbanan semua orang. Harry tidak menyangkal rasa jijiknya pada Dumbledore saat ini.

Membayangkan semua orang tumbang dan nyawa mereka berterbangan memandangi dingin Harry yang satu-satunya masih berdiri, masih bernapas. Dan Harry cuma akan menyesal, menangis hingga buta. Melihat yang terakhir adalah orang terdekatnya.

Ron dan Hermione berdiri di mengantarainya. Hanya nyawa mereka yang belum terbang. Orang yang menurut Harry, sangat peduli dengannya dan masih hidup dengannya. Memikirkan bagaimana mereka mati sementara Harry hidup. Memutar ulang semua kesetiaan yang pernah Harry rasakan.

Dan di saat itu Harry baru tahu hal besar. Dia sudah berniat mendekati Ginny, agar melupakan dan tidak merasakan rasa kasih sebagai kekasih dari Hermione. Dia tidak ingin Hermione merasakan kasih yang sesaat darinya, karena Harry harus merelakannya, karena dia yang perlu untuk berkorban. Tidak ada yang mendorongnya, hanya keputusannya yang menentukan. Sedang sangat berdoa Hermione bahagia dengan Ron di akhir tahun kelimanya.

"Saya akan melakukannya. Meski saya harus mati, walaupun tidak ada yang saya bisa dapatkan di dunia dan hanya sebentar hidup, saya rela mati jika itu untuk orang yang saya sayangi. Untuk orang yang menyayangi saya. Saya tidak takut mati, karena mereka akan bahagia jika saya bisa mengalahkan Voldemort, saya akan membuatnya setengah mati, jika itu yang bisa dibayar dengan seluruh nyawa saya."

Ada keheningan antara mereka. Lebih banyak air mata yang keluar dari Dumbledore. Harry memelototinya dengan tekad yang menggemparkan dia yang sedang menonton mereka. Dia menganga, desiran darahnya ada berkali-kali, tapi tidak bisa menahan seringaiannya dan berbisik, "Kalimat yang keren..."

Selang waktu kemudian Dumbledore dengan cepat dan menyesal mengatakan, "Maaf, Harry, ada saatnya kau mengingat ini, anakku..." Harry melihat dirinya tidak sadar di kursinya, mengernyit pada Dumbledore yang entah kapan mengeluarkan tongkat, bahkan memasukkan lagi tongkatnya. "Dan rasakanlah lebih banyak kebahagiaan dengan gadis yang kau cintai..."

Harry dengan begitu saja melihat dirinya berpaling dari dua gargoyle batu yang berderak menutup, dan dia heran memperhatikan dirinya sendiri saat 16 berjalan menjauh dengan melamun di koridor depan kantor kepala sekolah.

"Aneh..." bisik Harry, merasa memori ini kurang lengkap, namun mengangguk-angguk sudah ingat saat dari tempat ini.

Selanjutnya Harry ditarik dan mengambil napas panjang keluar dari pensieve. Hanya membayangkan pesan Dumbledore, dan kalimat yang masih tidak dia percaya bisa dia ciptakan.

"Bagaimana?" kata Dumbledore dengan suara rendah dari figuranya.

"Ingatan yang menarik." kata Harry mengambil serabut memori itu, dan mengetukkan ujung tongkatnya pada pelipisnya, puzzle ingatannya kembali menuju lengkap.

"Aku mungkin berfirasat bahwa Severus juga berniat untuk tidak memberikannya, kukira dia mungkin tidak ingin kamu menganggapku jahat." beliau kembali menghina dirinya. "Aku masih bisa mencium keegoisanku sendiri, dan aku sadar aku adalah lukisan."

"Saya mengerti mengapa anda melakukannya, sir."

"Ah, kamu merasa dirimu keren." kata Dumbledore meledek dan sedikit terkekeh. Harry cuma balas tersenyum, ini benar-benar bagus. Semua yang dia pikirkan di dalam memori, yang dia katakan, juga dia lakukan.

"Tapi, sir, ada yang ingin saya tanyakan, bukan soal memori tadi, saya tidak peduli pecahannya." Harry berjalan kembali menuju tempat duduknya tetap memandangi Dumbledore, yang Harry tahu apa arti ekspresi tenang Dumbledore saat itu. "Tapi berbicara mengenai memori yang hilang, saya ingin bertanya tentang itu."

"Tanyakanlah kalau begitu..." kata Dumbledore setenang yang Harry sudah duga.

"Saya pernah kehilangan ingatan saya selama lima hari..." dan Harry kembali menceritakan dimana lima harinya terganti dengan lima hari di mimpi soal masa depannya waktu awal tahun pelajaran. Menanyakan kenapa.

Harry memang mengharapkan Dumbledore serius menyahutnya, tapi tidak menduga seserius lukisan itu ketika mengatakan, "Aku sungguh takut itu belum pernah kudengar, dan aku sangat tahu tentang dirimu selama aku hidup. Tidak berlebihan kusedikit rasa semua tentang dirimu kuketahui, harus dikatakan ini adalah sesuatu yang baru. Bahkan untuk orang lain."

Harry hanya menunggu lanjutannya. Dumbledore tampak berpikir keras, lukisan nampaknya tidak mempengaruhi semua yang sedang dilakukannya. Belum memandangnya, Dumbledore yang sedang mengusap janggut peraknya bertanya, "Apa kau pernah mengalaminya lagi, selain dua yang lain?"

"Tidak." Harry menggeleng. "Selain di akhir Juli dan malam sampainya kereta di sekolah."

"Berarti benar." bisik Dumbledore. Mengerling Harry untuk bertanya. "Keduanya di akhir bulan, bukan begitu?"

"Er, ya, kurang lebih." jawab Harry yang tidak memikirkan sama sekali bagian itu. Tapi jika sedikit dipaksa, apa yang dinyatakan Dumbledore benar.

Dumbledore mengangguk-angguk sendiri. Namun kali ini gumamannya terdengar Harry. Tahu itu ciri khas Dumbledore yang tidak menyampaikan maksudnya kecuali menurutnya sudah pasti.

"Tidak akan mungkin... Tapi apa tujuannya... Apa maksudnya... Yang terpenting..." mendadak Dumbledore seperti siap berduel dengan Tom Riddle, dan memandang Harry sangat tegas, "Apa ketiga benda itu masih aman, Harry?"

Harry tahu apa maksudnya. "Tidak pernah pindah dari tempatnya, profesor. Jubahku sangat aman. Makam anda tidak mungkin dibongkar lagi karena semua guru ikut menyegelnya. Dan batu itu masih tersembunyi di hutan."

"Kau benar-benar sudah memastikannya aman? Yang terakhir?" tanya Dumbledore lagi. "Karena seharusnya hanya dirimu yang tahu, Harry..."

"Saya- tidak berniat mencarinya. Mungkin terkubur, terinjak para Centaur." kata Harry ragu. "Tapi memang siapa yang mau mencarinya, profesor? Lagipula kenapa bisa ada yang tahu batu itu di dalam hutan? Hanya saya yang anda beri yang tahu batu itu adalah relik kematian..."

"Kau mengalami hal aneh dengan mimpi dan ingatan selama lima hari, Harry." kata Dumbledore, kali ini berusaha tenang.

Harry tersentak, kenapa dia tak sadar. Siapa saja yang sangat hebat dan ia takut jahat sangat bisa menyusuri jejak ingatannya semudah mengingat ingatan diri sendiri. Jadi konyol bertanya bagaimana ada yang bisa tahu. Seharusnya Occlumency adalah hal mudah, batin Harry kesal.

"Aku sangat punya firasat buruk siapa yang melakukannya. Jika memang siapa adalah kata yang tepat..."

"Saya akan mengeceknya, profesor..." kata Harry dan langsung bangkit berniat pergi.

"Kamu ingin pergi saat ini juga? Sendiri, tanpa persiapan?" kata Dumbledore, dari suaranya, Harry menangkap rasa takut. Dan dia berbalik dari depan pintu memandang kepada lukisan pengajar kehidupannya, dan sudah bertekad berkata, "Saya sangat siap, Profesor. Saya selalu siap."

Dan dengan penuh menghadap Dumbledore jika itu yang diperlukan untuk membuktikan ucapannya tadi.

"Dan, Profesor, saya harus bilang saya mempelajari lebih banyak saat melihat sifat saya sendiri di pensieve, saya tidak akan tenang jika ini berkaitan dengan kejahatan. Meski anda tidak mengatakan itu langsung, saya sangat mengenal anda. Saya tetap akan berangkat saat ini."

"Berjuta maaf, nak." kata Dumbledore memelas.

"Tidak apa, profesor." sahut Harry semakin tenang. "Mengingat saya sangat suka dengan satu semboyan kuno yang mengatakan; lebih baik merasakan sakit dulu, baru merasakan kebahagiaan setelahnya."

"Aku juga suka, anakku." Dumbledore tersenyum sedih. "Tapi jika kau memang ingin pergi, tidak ada yang mungkin menahanmu untuk mendapatkannya jika memang begitu seharusnya,"

Harry mengangguk lagi, dan berbalik keluar membuka pintu. Dan Dumbledore berkata keras, "Maksudku gunakanlah mantra panggil biasa."

"Terima kasih, profesor." kata Harry menutup pintu dan melangkah keluar.

Harry menarik ujung jubah gaib dari sela mantra Hermione dan sembunyi di baliknya selama perjalanan di dekat banyak murid yang berkeliaran. Cuaca bagus untuk Quidditch masih berlangsung di halaman, sinar matahari dengan tetap mengejutkan menyentuh bumi. Harry seperti keinginannya tidak mendapat perhatian sampai ke dalam Hutan Terlarang.

Merasa sudah dalam, dia melepas jubah gaib. Mengangguk balik pada satu kelompok centaur. Dan mengayunkan tongkatnya untuk menunjukkan jalan, berpikir bekas sarang Aragog sangat jauh ke dalam hutan dan dia tidak menghapalnya.

Semakin dalam, walau masih ada cahaya, kesuramannya sangat terasa. Tapi tidak berniat menggunakan kembali jubah gaib. Banyak sekali makhluk setengah jinak setengah liar piaraan Hagrid dia lihat. Dan pohon semakin besar dan menjulang, akarnya seperti bebatuan berlumut.

Kemudian Harry mulai hapal sekitar tempat ini. Orangtuanya dan yang lain pernah muncul menemaninya di jalan ini. Maka dia melihat lengkung berbentuk ceruk raksasa itu. Harry diam berdiri di sana. Belum mendekat dan tahu kalau mantra panggil sudah bereaksi dari sini.

Harry mengangkat tongkatnya. Membatin berkali-kali, tapi menyerah dan dengan lantang merapal, "Accio!"

Harry menggeleng. Berjalan maju dan terus berkata, "Accio! Accio batu kebangkitan!" ke berbagai arah. Tetap tidak ada tanda sesuatu yang akan dia tangkap.

Harry dengan yakin sudah pasti berdiri di tempat di mana dia menjatuhkan batu itu. Dan keyakinannya tidak memudar, dia tidak mungkin lupa, meski dia sudah menggali tanah di sekitar sana dan menggumamkan mantra panggil berkali-kali. Harry menghela napas dan berdiri.

Dia sedang berpikir, apakah maksud lukisan Dumbledore kalau batu itu tidak ada disini, akan ada orang jahat lagi?

Harry merasa kesal. Tangannya di pinggang dan bergumam, "Seharusnya aku menjaga batu itu..." Memandang berkeliling pada hutan yang murni sunyi, tidak ada angin terasa, dan segera disangkal olehnya karena dahan yang Harry toleh di atas punggungnya tinggi telah bergoyang sederhana. Bahkan di saat itupun Harry mengernyit waspada pada dahan.

Mencoba mantra panggil sekali lagi dan memutuskan tidak ada. Mungkin ada pendapat lain dari Hermione atau Dumbledore, berharap batu itu tidak disalahgunakan saja. Dia menyerah, mungkin dugaan Dumbledore salah atau mungkin batu itu tidak ada di dekat sini, dia tidak bisa menebak-nebak, mungkin menggali semua daerah sekitar, bertanya pada para centaur, baru Harry berniat kembali ke kastil.

Kejadiannya begitu cepat, saat baru selangkah dia mendapat dorongan dari tongkat sihirnya untuk merapal, "Ascendio!" dan dia melompat sangat tinggi melebihi pepohonan di sana, merapal pelambat, dan dia melayang serta memandang beberapa penjuru yang dirasanya ada yang tidak biasa. Jantungnya tetap terpacu berharap ada yang menunjukkan rupa telah mengamati Harry.

"Finite incantatum!" kata Harry jelas, berharap mantra ilusi akan hilang bagi yang mengenakannya. Tapi sekali lagi; nihil reaksi.

"Ascendio!" maka dia berada setinggi di awal tadi, karena jatuhnya hanya melambat. Selama beberapa menit angin wajar meniup semua ujung pohon dan menggoyangnya pelan. Harry menggeleng, mungkin hanya perasaannya. Terlalu kuatir atau mungkin terlalu peka.

Dia telah mendarat, berdiri memahami tempat yang baru saja dia curigai, hingga akhirnya menyakukan tongkatnya dan berjalan keluar. Terus semakin jauh menuju tepi hutan dan tidak menoleh ke belakang lagi, itu juga untuk fokus seandainya instingnya benar. Memang dia agak meragukan jika ada yang mengamatinya sementara dia tidak mengetahui keberadaannya setelah semua pengalaman ini. Dia tidak menemukan batu itu dan hanya bertanya-tanya apa yang dipikirkan Dumbledore soal hubungan antara ingatannya yang hilang dengan relik kematian ini.

Sangat meyakinkan dia butuh Hermione, memikirkannya sepanjang jalan. Apa yang seharusnya dia pahami?

.

Dia melihat bahwa Harry Potter sedang memikirkan apa kira-kira yang terjadi saat batu kebangkitan yang dicarinya tidak terbang kepadanya ketika dia memanggil.

Saat sebuah batu hitam yang retak bergerigi itu berputar-putar pelan seperti mata gaib di rongganya dalam kepulan asap hitam yang sewaktu-waktu memekat, muncul jauh di atas pohon di mana Harry Potter hampir menebak keberadaannya.

Suara keretukannya itu sangat sangat samar ketika kata terdengar saru dengan angin musim gugur. "Hampir saja..." dan dia lenyap pergi, lagi, untuk menuntaskan persiapannya; Menguasai orang dekat Harry Potter.

.

Harry baru menemui sekawanan Thestral dan dia menoleh ke belakang dimana sama sekali tidak mendapat jarak pandangan yang jauh, perasaannya hanya kembali aneh tentang batu kebangkitan itu. Bahaya seperti menduga Malfoy adalah Pelahap Maut, namun kali ini berkali lipat bahaya lebih murni.

Xt-B-cX

Penjelasan Chapter:

- Itu pertandingan Quidditch pertama dan saya sengaja merubah Gryffindor menjadi Ravenclaw.

- Saat Harry bilang, "Aneh." itu karena setelah Dumbledore-pensieve memantrai Harry-pensieve, dia mendapati begitu saja keluar kantor. Berpikir seperti diskip

Saya kurang tahu penjelasan wandless magic di canon. Saya mohon sejarahnya. Kritik membangun pun adalah yang paling membantu, tapi seperti yang saya udah bilang, saya terima apapun. Please. Jika ada yang tidak dimengerti, tanyakan saja. Jawabannya akan ada di chapter depan atau inbox-mu.

See you soon. Really soon. Thanks! =))