Disclaimer : Masashi Kishimoto (ah iya, ada scene yang terinspirasi dari drama korea, Gu Family Book :D)
Pairing : SasuHina
Rating : T/M (WARNING! Err— buat jaga-jaga aja ...BERHATI-HATILAH ! SAYA TAK MENANGGUNG DOSANYA!)
Genre : Mysteri, Hurt/Comfort, Romance, Fantasy,Drama
Warning : GAJE, GARING, segala macam kesalahan mohon dimaafkan..HOHOHO \(^o^)/
#osh... terima kasih para readers udah baca sampe ch.12 ini. :D
Di ch. Ini, penjelasan tentang janji ChoSakSaH yang di lupakan sasuke akan diungkapkan, maaf sekali kalau kisah masa lalu ChoSakSah ini tidak memuaskan atau tidak mengharukan. selamat menikmati *memangnya makanan?* hoho, maksudnya selamat membaca, enjoy this chapter !
THE BELL BESIDE YOU
CHAPTER 12 : CHO-SAK-SAH
Kaki-kaki kecilnya terus berlari menuju keramaian kota yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, ramai, hiruk pikuk yang mulai terdengar dari kedekatan ini. Gadis itu sangat senang, merasa sudah cukup umur dan diizinkan oleh ayahnya keluar dari penjara yang menyesakkan dan mulai belajar untuk mengenal dunia, itulah pesan ayahnya. Tumben-tumbenan saja ayahnya berkata sedemikian rupa, bagi gadis ini kata-kata ayahnya bagai penyejuk dan penghilang kepenatan dalam dirinya, walaupun ia masih harus dijaga namun, baginya anggap penjaga itu tidak ada, tidak masalah kan?
Sekarang ia telah berada ditengah-tengah keramaian yang sungguh tak ada duanya. Para pedagang dan pembeli yang berlalu lalang bergantian melakukan tujuannya dan urusannya. Bagi seorang heiress yang sudah dikurung di mansion selama 6 tahun, pemandangan akan keramaian ini sangat indah. Peluh peluh yang keluar dari orang yang terjebak keramaian dan juga bau-bau yang bercampur dari peluh mereka terasa seperti minyak kasturi bagi heiress ini.
"hinata-sama. Pelan-pelan"
Hinata tidak mempedulikan perkataan bunkenya yang sedari tadi mengawalnya dari belakang, berlari mengejar hinata yang kelewat kesenangan. Hinata bingung ingin mulai dari sudut mana, ia ingin menjelajah seluruh kota ini. Kepalanya mulai menoleh kearah kanan dan kiri, melihat gedung-gedung cakrawala dan lampion-lampion terang yang menabjukkan. Bagus sekali! Akhirnya hinata bisa melihat dan mengikuti Festival yang sangat langka setahun sekali ini besok.
Festival lampion harapan, adalah salah satu festival yang diadakan di konohagakure. Bisa 3 tahun sekali atau 2 tahun sekali dan bahkan 5 tahun sekali. Festival ini tak tentu namun pasti dilaksanakan dengan kurun waktu tak boleh lebih dari 5 tahun dilewatkan. Para hokage juga tak tau pasti apa tujuan festival ini, tapi bagi masyarakat bisa dijadikan sebagai ajang bagi mereka untuk pemicu semangat. Dan hokage percaya anggapan mereka, karena sehabis dilakukan festival ini, para masyarakat akan menjadi semangat dengan sendirinya, karena itulah festival ini selalu dilakukan. Kegiatan yang biasa dilakukan saat festival ini tak berbeda dengan pelaksanaan festival lainnya, hanya saja disepanjang jalan dan disetiap rumah akan memasang lampion, para penduduk berbondong-bondong pergi kepusat kota untuk membawa lampion mereka dan menggantungnya dengan rapi, dan tentunya hal yang tak bisa dilewatkan adalah menggantung lampion yang bertuliskan harapan mereka di atas monument atau di tengah kota.
Karena kelewatan senang, hinata tidak melihat wajah orang-orang yang dilewatinya. Beberapa kali ia menabrak orang yang tak ia kenal dan meminta maaf berulang-ulang. Bunkenya sampai harus sangat waspada mengawasinya, takut-takut ada harimau yang menerkam soukenya. Rasanya, ingin sekali ia berada disamping soukenya untuk menjaganya lebih dekat, namun ia ngerti dan kelewat pengertian akan perasaan bagaimana rasanya kesan keluar dari mansion untuk pertama kalinya bagi seorang heiress. Ia harus berpura-pura tidak ada disana, membiarkan sang souke bergerak bebas. Namun, sang harimau yang terlihat sangat dingin dan kejam seakan-akan ancaman terbesar dan dalang ketakutan bagi bunke ini terlihat, ia tepat menabrak soukenya—hinata, hingga hinata jatuh terjerembab keatas tanah.
"aaa..." hidung hinata membentur tanah yang kasar dan keras sehingga membuat hidung imut nan putih miliknya memerah.
Harimau itu melihat badan hinata yang terjatuh tepat disampingnya, ia hanya menatap datar dan kosong seakan-akan dia tak ada urusan dan tidak melakukan kesalahan apapun. Melihat tak ada reaksi apapun dari harimau itu, bunke hinata serasa marah dan kesal. Ketika harimau yang kurang ajar itu mau berlalu, hinata yang terjerembab menarik kaki harimau itu, sehingga membuat harimau itu kaget dan menatap tangan mungil milik gadis bersurai indigo yang menggenggam pergelangan kakinya.
"tolong, hidung hina...hi-hidung hina be-beldarah." Hinata mendongakkan kepalanya keatas untuk menatap orang yang menabraknya, ia masih menatap kosong kearah korban yang ia lukai. Mata onyxnya membuat hinata agak takut, lalu ia menenggelamkan kepalanya dalam-dalam, ia melonggarkan genggaman tangan mungilnya sehingga perlahan terlepas dari pergelangan kaki putih milik pemuda yang sepertinya seumuran juga dengannya.
"ma-maaf.." seharusnya pemuda itulah yang mengucapkan maaf, bukan hinata. Dasar hinata bodoh. Yah..setidaknya ia tak ingin merusak anniversary pertamanya dengan dunia luar bukan? Mata onyx yang pemuda itu miliki sangat menyeramkan seakan-akan ingin melahap hinata saat itu juga. Hinata mendengar helaan nafas panjang dan decakan kesal yang sepertinya berasal dari pemuda itu, sehingga berhasil membuat hinata tambah gelisah dan takut. Ia sangat berharap sekarang bunkenya—neji, datang menemuinya dan menolongnya untuk mencairkan suasana yang dingin ini. Pemuda itu menatap intens kearah gadis lemah yang menjadi korbannya. Menatap yukata yang sudah belepotan tanah, tetesan darah yang berasal dari hidungnya, lalu lecetan kecil yang ada ditelapak tangan mungil gadis itu. itu semua perbuatannya, namun ia merasa sama sekali tak bersalah, bukankah itu salah gadis itu? dia sendiri yang seperti orang bodoh tak memperhatikan jalan yang ia lalui didepan dan malah memilih melihat-lihat gedung dan suasana di setiap rumah warga dan toko. Pemuda itu merogoh sakunya, lalu memberikannya kepada gadis yang masih tertunduk didepannya. Bukan memberikan secara baik-baik namun ia langsung melemparkan sapu tangan bewarna biru tua itu seperti melemparkan uang receh kepada pengemis, sungguh kasar sehingga membuat hinata tersentak. Ketika ia menengadahkan kepalanya, pemuda itu sudah berlalu dan tertelan keramaian warga dan digantikan oleh sirat kekhawatiran milik bunke-nya, neji. Kenapa ia lama sekali datang? Neji membantu hinata berdiri lalu merangkum kedua pipi chubby hinata.
"ya ampun, hinata-sama! Hidungmu berdarah!" neji berusaha merogoh-rogoh sakunya untuk mencari benda yang bisa digunakan untuk mengusap darah yang ada di hidung hinata, sedang hinata menatap sapu tangan yang diberi oleh pemuda tak bertanggung jawab itu. disapu tangan itu ada lambang uchiwa bewarna merah diatas dan dibawahnya bewarna putih. Rasanya sayang sekali memakai sapu tangan ini untuk mengelap darahnya. Walau pemuda itu memberi sapu tangan ini dengan kasar namun hinata tetap senang karena setidaknya pemuda itu masih mendengar cicitan nya yang sangat kecil dan selalu gagap. Hinata menggenggam erat sapu tangan itu didadanya. Akhirnya neji mendapatkan sapu tangan untung-untungan dari lubang terdalam sakunya, dan langsung mengelap darah di hidung hinata.
"ck..pasti ini ulah si berandal uchiha." Neji sangat geram, neji sendiri juga datang telat dan uchiha sialan itu sudah keburu kabur. Padahal jarak neji tadi sangat dekat dengan hinata yang jatuh namun kerumunan semakin ramai secara tiba-tiba seakan-akan mengalangi neji untuk mengganggu kedua anak kecil yang sedang memulai jalan takdir mereka.
"neji-nii, kenal?" pengecualian untuk hinata adalah, ia berhasil berbicara lancar didepan bunkenya—neji. Karena, neji sudah bersama hinata sejak lahir. Ia selalu menjadi teman bermain dan belajar hinata sekaligus menjaganya dari marabahaya.
"kalau hinata-sama ingin selamat, menjauhlah darinya." Hinata menampilkan huruf O ketika neji berkata seperti itu.
"memangnya, neji-nii tatut apa?"
"hahh...kau tak akan mengerti hinata-sama. Lebih baik sekarang kita pulang saja hinata-sama. Yukata anda kotor sekali." Neji menarik tangan hinata namun hinata menepisnya.
"enggak mau, hina-chan kan belum jalan-jalan."
Hinata melengos lalu berjalan berlainan arah dengan neji sehingga membuat neji menghela nafasnya yang tertahankan.
"hinata-sama, tapi ini memalukan. Nanti hiashi-sama marah."
"hina-chan gak dengel,gak dengel! Ayo cucul hina-chan nanti neji-nii ilang." kini hinata berjalan lebih berhati-hati. Ia mulai mendekati toko satu-persatu dan sesekali menyicip makanan dan permen yang dijual di toko itu, dengan berat hati, neji mengikuti soukenya. Hinata merasa perutnya sudah agak full sehingga sepertinya sudah cukup berburu makanannya. Ia merasa matahari sebentar lagi terbenam dan neji sudah berkali-kali memperingatinya untuk segera pulang, namun entah mengapa hinata merasa penasaran akan suatu hal yang seirng ia dengar dari pembantu-pembantu dimansionnya, ketika mereka bercerita mengenai sebuah dongeng kepada hinata, mereka pasti mengambil Take Place nya di konoha dan juga sering memakai salah satu tempat romantic dikonoha yakni, kursi diatas monumen konoha. Hinata sudah bisa melihat betapa tingginya monumen itu sehingga dari pusat kota pun terlihat oleh kedua mata lavender miliknya. Hinata ingin sekali pergi kesana, ia ingin melihat matahari terbenam.
"neji-nii, ayo kita kecana! Ke atas monumen konoha." Hinata menunjuk monumen itu, sehingga membuat neji kaget dengan kemauan soukenya ini.
"ta-tapi, hinata-sama...hiashi-sama tak mengizinkanmu pulang malam."
"tapi hina-hime mau kesana! Ayo neji-nii...ne..ne...ayooo" hinata menarik-narik baju neji untuk pergi bersamanya menuju monumen itu, neji rasanya tak bisa menolak permintaan dari soukenya. Sepertinya neji harus mendapat hukuman lagi dari hiashi-sama. Setidaknya ia bisa kembali membuat mata hinata jauh dari air mata kelelahan. Neji menunjukkan jalan menuju monumen hokage itu, entah darimana soukenya ini mengetahui tempat itu, memang neji akui tempat itu adalah tempat favorit yang sering dikunjungi oleh berbagai kalangan. Namun, demi mendapatkan keindahan yang tak tertahankan itu, harus terlebih dahulu disiksa dengan ratusan anak tangga atau mungkin bahkan sampai ribuan?
Belum setengah perjalanan, neji sudah bisa melihat betapa terengahnya nafas hinata, kakinya sudah beberapa kali berusaha ia tekukkan untuk meredam rasa pegal yang ia rasakan, peluh pun sudah memenuhi dahi dengan poni milik hinata. Neji tak tega melihat hinata yang sudah tampak sangat kelelahan. Neji menyadari bahwa matahari sudah terbenam dan lampu-lampu sepanjang tangga sudah mulai dihidupkan.
"hinata-sama, sebaiknya kita pulang saja."
Hinata masih berusaha menstabilkan nafasnya yang sesak, neji menarik tangan hinata dan mengajaknya menuruni tangga, hinata terlihat tidak memberontak namun beberapa saat kemudian, neji mendengar isakan tangis dari hinata, sehingga membuat neji menghentikan langkahnya dan memandang kearah hinata yang sudah tak bisa menahan tangisnya.
"huweee...padahal...hi-hina-chan.. ingin melihat ...matahali telbenam...hiks...huweee..." tangisan hinata makin mengeras dan menggelelegar. Neji terlihat sangat khawatir dan mulai mengelus-elus rambut hinata agar ia tenang.
"hinata-sama, tenanglah. Besok kita bisa kesini lagi, kan masih ada festival lampion." Mendengar apa yang dikatakan neji, tangisan hinata berubah menjadi isakan dan akhirnya berhenti.
"be-benalkah?"
"hum..." neji mengangguk mantap, hinata tersenyum lalu mulai membayangkan betapa indahnya monumen konoha dengan lampion-lampion yang bertaburan.
Hinata mengikuti langkah neji menuju mansionnya, dengan hati riang gembira ia melompat-lompat saking senangnya. Didepan neji, ia bisa sebegitu meninggalkan norma dan kesopanan yang telah ayahnya ajarkan. Neji sendirilah yang membiarkan hinata bebas dihadapannya, ia bisa mengerti bagaimana perasaan hinata. Berkali-kali neji melihat bagaimana cara hiashi memperlakukan darah dagingnya sendiri, ia memukul fisik dan batin lemah lembut milik hinata diumurnya yang masih tergolong sangat belia jika sedikit atau bahkan banyak kesalahan yang hinata lakukan. Dan yang lebih kejamnya lagi, hiashi pernah berkata langsung kepada hinata bahwa dia ingin sekali membuang hinata keluar dari klannya, dan berkali-kali mengancam ingin menghapus garis keturunan hinata dari silsilah keluarga hyuuga. Kejam sekali, walaupun mereka masih kecil, namun perkataan seperti itu sudah dapat dimengerti bukan?
Gerbang mansion sudah terlihat dan neji hanya bisa menghela nafas ketika melihat seorang pembantu yang sangat terlihat khawatir berdiri didepan mansion itu. sudah neji duga bahwa, hiashi pasti sudah mengerahkan pengawal untuk mencari dirinya dan hinata. Ketika melihat neji dan hinata mendekat, pembantu itu langsung membelalakkan matanya. Keadaan hinata yang anggun dan cantik kini berubah menjadi belepotan tanah dan kumal. Ia langsung mendekati hinata dan menggendong badan mungil milik hinata.
Tanpa berpaling kearah neji, pembantu itu langsung berlalu menuju pintu gerbang mansion dan masuk. Neji tau harus kemana ia pergi setelah ia melewati gerbang mansion hyuuga itu, ia harus menemui hiashi terlebih dahulu dan menagih hukuman yang biasa ia dapatkan ketika melanggar aturan.
Neji duduk bersimpuh dihadapan hiashi yang sedang menghirup wangi ocha nya dan meminumnya penuh kharisma.
"sebagai bunke hyuuga, tak sepantasnya kau melanggar aturan."
Neji hanya terdiam, menunggu kelanjutan kalimat dari hiashi, biasanya neji juga dipaksa untuk mendengar ocehan dan ceramah dari hiashi dari pagi sampai keesokan paginya, pernah juga selama 2 hari lamanya ia bermeditasi dan kupingnya hampir lepas karena ocehan dari mulut hiashi yang tajam menusuk layaknya pedang. Akan lebih baik jika hiashi berpindah profesi menjadi pendeta, dimana ceramahnya mungkin akan lebih berguna bagi orang-orang yang sedang membutuhkan ceramah itu.
"walaupun dia sudah kuizinkan untuk mengenal dunia luar, bukan berarti dia bisa keluar dari aturan. Aturan tetaplah aturan, dan kau tau kan apa akibatnya jika kau melanggar aturan itu."
"maafkan saya hiashi-sama."
"kau harus terima hukumanmu neji sebagaimana kau adalah bunke yang harus melindungi dan menjaga heiress mu yang masih labil dan sangat lemah itu. jangan ajrkan ketidak disiplinan bagi dia, apakah malam masih tampak siang bagimu? Aku sama sekali tak mengizinkan dia pulang setelah matahari terbenam namun kau entah membawanya kemana sampai-samapai pulang setelah matahari terbenam."
Neji kembali terdiam dan tak menjawab lanjutan kata demi kata yang mulai terluncurkan dari mulut hiashi. Menyesap teh lalu kembali bicara, menyesap teh lalu kembali bicara, menyesap teh lalu kembali berbicara, menyesap teh lalu kembali berbicara begitupun seterusnya. Entah seberapa banyak ocehan dan teh dalam cangkir itu, serasa tak akan pernah habis disesap hiashi. Telinga neji memerah akibat panas mendengar ucapan hiashi, neji dengan mudah bisa menebak bahwa, keesokan paginya, ia tak akan bisa menemani hinata pergi ke festival lampion karena ia harus mendengar ceramah harian hiashi. Dan juga hinata pasti tak akan bisa menghadiri festival lampion itu karena pasti hiashi sudah mengambil kebijakan kepada pembantunya untuk menghukum hinata, neji rasa kebebasan hinata akan ditutup lagi. Ia akan dikurung lagi, setidaknya selama 1 bulan. Kejam sekali.
Hinata duduk termenung didepan mejanya, sambil mempoutkan bibirnya melihat kearah pembantu yang sangat dekat dengannya. Pembantu itu melarang hinata untuk keluar hari ini, ia dilarang untuk menonton festival lampion di pusat kota konoha. Melangkahkan kaki keluar kamar saja sudah tidak dibolehkan. Hinata menatap jari-jari terampil milik pembantunya yang sedang menunjukkan step by step bagaimana dasar menyulam. Hinata memang feminim dan menyukai hal-hal yang berbau wanita namun, saat ini dia sangat bosan, yang ia inginkan hanya mengikuti festival lampion dan menggantung lampion harapan di monumen konoha bersamaan berpesta dengan penduduk konoha sampai pagi, sehingga setidaknya ia bisa melihat atahari terbit. Mungkin matahari terbit lebih memunculkan harapan dibanding dengan matahari terbenam bukan?
Pembantu itu menyadari aura kejenuhan dari nona muda nya, dia hanya bisa menghela nafas berat ikut meratapi kemalangan yang gadis itu rasakan. Ingin sekali juga rasanya ia menculik hinata dan mengajaknya kabur dari mansion penjara ini.
"hinata-sama, cobalah teknik ini, tusuk bunga bisa membantumu membuat bunga hinata-sama."
Hinata sama sekali tak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh pembantunya, ia hanya ingin FESTIVAL LAMPION.
Hinata merebahkan kepalanya kemejanya sehingga membuat pembantunya semakin menatapnya iba.
"hina-chan ingin sekali ikut festival lampion." Isakan tangis mulai terdengar dari bibir hinata, sehingga membuat pembantunya tambah khawatir.
Hinata terus menunggu dan menunggu kedatangan bunke-nya. Namun, neji tak kunjung datang dan menjemput sang hime untuk keluar dari penjara ini, apakah neji-nii juga dihukum? Kalau begitu festival lampion harapan hanya ada dimimpi saja, mimpi indah milik hinata, membayangkan hal itu hinata makin terisak. Beberapa saat kemudian seorang pembantu masuk kekamar hinata dan memberikan seporsi sarapan untuknya namun hinata sama sekali tak peduli dan menyentuh sarapan yang sangat terlihat nikmat itu. hinata tak ingin apa-apa, ia hanya ingin mengikuti festival lampion, itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang, kalau bisa...lampion yang bergantung itu ingin hinata makan dan menelannya dengan penuh kepuasan.
"ne..akari nee-san, okaa-sama dimana?" hinata bertanya dengan pembantunya yang masih mematung menatap hinata sambil memegang jarum sulamnya, seketika ia berhenti menyulam lalu menatap hinata dengan senyuman.
"ahh.. apa nona lupa, okaa-sama nona singgah ketempat obaa-sama nya nona."
Hinata mengganti posisinya dan sekarang ia meringkuk disudut. "souka..." dengan penuh kedukaan dia menenggelamkan kepalanya. Sekarang kandas sudah harapannya, ibunya juga sedang dirawat dirumah nenknya. Ibunya sedang melakukan persiapan untuk hamil muda dan ibunya diharuskan tinggal dimansion neneknya untuk menjaga keselamatan dan kesuciannya sebelum mengandung dan sekaligus melaksanakan beberapa ritual agar mendapat keberkahan saat mengandung dan kelahiran. Mungkin neneknya kurang mempercayai hiashi karena hiashi yang minim perhatian kepada setiap anggota keluarganya, entah darimana ibunya yang cantik dan lembut itu bisa menikah dengan hiashi yang sangat dingin dan membosankan.
Pembantunya sudah tak tahan melihat hinata yang sudah 3 jam tak beranjak-anjak dari ringkuk-an nya. Ia mempunya ide gila, yang bisa membahagiakan nonanya namun bisa membahayakan karirnya. Hingga akhirnya iapun memutuskan bahwa karirnya bukan apa-apa, walau bagaimanapun kebahagiaan nonanya lebih berharga dibanding dengan sekepok uang yang ia dapatkan.
Ia meletakkan jarum dan benang sulamnya dengan rapi dalam kotak lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar hinata.
Tak berapa lama kemudian, ia kembali kekamar hinata dengan membawa sebuah lampion dengan kertas menjulang dibawahnya yang masih kosong. Ia mendekat kearah nonanya dan dengan pelan dan lemah lembut meraih pundak nonanya.
"hinata-sama.." merasa namanya dipanggil, ia menatap keseseorang yang suaranya yang sangat ia kenal itu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang ada ditangan pembantunya.
"akari onee-san, i-itu."
"iya, ini untuk hinata-sama." Wajah hinata langsung sumringah dan merebut lampion itu seperti anak yang merebut permen miliknya. Namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sedih lagi, sehingga membuat hati akari tercubit.
"ta-tapi...pe-pecuma kalau hina-chan punya lampion cantik tapi enggak digantung."
Pelan-pelan akari mengelus lembut rambut hinata lalu merangkum kedua pipi chubby hinata dan memandangnya penuh arti.
"hina-hime gak usah khawatir. Akari onee-san akan baha hina-hime ke festival itu." wajah hinata kembali ceria mendengar ucapan yang dilontarkan oleh akari, spontan ia memeluk akari erat.
"onee-san!" teriak hinata penuh kebahagiaan akari mendekap majikan yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini. Badannya sangat mungil dan menggemaskan, tangannya sungguh membuat punggung ramping akari tergelitik.
Akari mengendap-endap didinding mansion. Berusaha mengawasi ruangan souke tempat ceramah harian yang sedang berlangsung antara neji dan hiashi. Menyadari bahwa percakapan antaranya masih serius, akari menghembuskan nafas lega. Ia sedikit melirik kearah neji yang matanya sudah dihiasi dengan kantung panda, karena dari kemarin malam mulut majikannya Hiashi belum puas-puasnya melontarkan ceramah kearahnya. Andai saja hiashi menyadari bahwa, ceramah yang ia lontarkan sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya saja...diulang-ulang! Mungkin agar lengket di otak neji. (duhh...author jadi merasa bersalah sendiri =_=" hiashi OOC banget sih~~)
Akari terkekeh pelan, lalu ia kembali mengendap-endap kekamar hinata. Ia geser pintu shoji itu lalu menutupnya kembali. Hinata sudah dibalut dengan yukata bewarna lavender dengan corak bunga lotus putih. Cantik sekali hime satu ini. Mungil dan rambutnya kelihatan halus dan akari serasa tak tahan ingin membelai kelembutan hinata. Akari tersenyum lembut kearah hinata yang sudah membawa sebuah lampion ditangannya. Ia menunduk mensejajarkan diri agar tingginya sama dengan hinata, lalu ia tersenyum kearah hinata dan membelai rambut lembut hinata.
"hina-hime, sekarang aman. Kita bisa kabur."
Wajah sumringah hime tertampilkan, tak terbayang betapa bahagianya dirinya sekarang. Mengikuti festival lampion merupakan mimpinya. Dan sekarang akhirnya akan terwujud. Tinggal satu langkah lagi!
Akari menuntun tangan mungil hinata, lalu berjalan mendekati jendela. Pelan-pelan akari membuka jendela itu agar tidak menarik perhatian para gardener mansion hyuuga. Setelah jendela itu terbuka, akari mencoba memeriksa keadaan, kanan dan kiri kosong dan tak ada siapa-siapa. Akari pun memanjat jendela itu duluan. Dengan susah payah kaki jenjangnya ia selonjorkan agar meraih tanah yang ada disana. Yukatanya pun sempat tersingkap sedikit. Setelah berhasil, ia gantian mengangkat tubuh mungil hinata lewat jendela itu, badan hinata sangat kecil sehingga mudah baginya untuk membopong hinata.
Hinata sudah berpijak ditempat yang sama seperti akari berpijak, ia memperhatikan akari yang sedang mengangkat sebuah tangga yang cukup tinggi dan sepertinya akan mampu untuk melewati pagar mansion hyuuga yang tinggi seperti penjara. Dengan hati-hati akari merangkum kedua bahu hinata dan tersenyum penuh arti.
"hina-hime, apa hina-hime bisa memanjat duluan? Biar akari onee-san berjaga disini. Ok?" hinata melihat tangga yang sudah tersusun rapi untuk melewati pagar tinggi mansion hyuuga, ia menatap tangga itu tidak yakin. Tidak bisa! Hinata tidak boleh menyerah, ia harus bisa. Tinggal selangkah lagi ia bisa mengikuti festival lampion. Hinata tak boleh kehilangan kesempatan satu ini. Hinata kembali menatap akari yang menunggu jawaban lalu dengan yakin, hinata mengangguk mantap.
"t-tapi, o-one—chan arus nyucul hina-hime ya?" akari tersenyum lalu mengelus pipi chubby hinata.
"iya, hina-hime. Hina-hime tenang saja."
"ja..janji ya?" hinata memberi jari kelingking mungilnya kepada akari. Akari mengerti, lalu menyambut jari mungil hinata.
"sekalian akari stempel." Akari memberi jempolnya dan melengketkannya kejempol hinata yang 3x lebih kecil darinya untuk menyetempel janjinya. Hinata tersenyum riang lalu tertawa.
"siapa disana?!"
"—!" akari dan hinata tersentak mendengar orang yang sepertinya menyadari kehadiran mereka. Dengan sigap akari langsung mendesak hinata agar cepat menaiki tangganya. Hinata pun tak menolak, ia menaiki tangga itu sekuat tenaga dan secepat nya yang ia bisa lakukan.
Hinata berhasil menaiki tangga dan mendarat kasar ketanah luar mansion, kakinya terasa agak sakit namun untungnya tak terkilir. Ia menunggu akari. Namun, sayangnya akari tak muncul-muncul. Hinata menyipitkan matanya lalu ia menyadari bahwa tangga yang ia gunakan untuk keluar mansion tadi sudah tak ada diatas sana, hinata melongo. Jangan-jangan akari-onee chan gagal? Kalau memang iya, jadi apa yang harus ia lakukan? Apa akari onee-chan akan dihukum karenanya?
Tiba tiba mata hinata terbelalak, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia sempat mendengar apa yang akari onee-chan katakan sebelum hinata meluncur keluar mansion.
"hina-hime, tunggulah akari onee-chan ya? Hina-hime harus percaya!"
Hinata mengangguk-anggukkan kepalanya mantap mengingat apa yang akari katakan. Ia pun menunggu akari. Berkali-kali ia tatap lampion ditangannya, ia tak sabar untuk menyicip gurita bakar, takoyaki, dan makanan lainnya yang belum pernah ia cicipi selama 6 tahun hidupnya. Ia sebenarnya bosan memakan makanan higenis koki mansion hyuuga ini. Hinata juga membayangi ia akan menggantungkan permintaan pertamanya di tebing monumen konohagakure juga melihat matahari terbit paginya. Pesta semalaman, bukankah itu asyik?
Hinata tak sadar bahwa ia sudah menunggu akari yang belum juga muncul selama 2 jam, sekarang hari sudah mulai sore. Hinata menghembuskan nafasnya berat, sesekali ia mengelap sudut matanya, ia meneteskan air mata. Sesengukan dan mencoba bersabar.
"uhk..kemana akari-onee-chan? " hinata sedikit menghentak-hentakkan kakinya. Lalu ia berjongkok, menuliskan sesuatu ditanah. Setelah puas menulis-nulis, ia berdiri lagi. Namun sekarang perhatiannya teralihkan ketika melihat seekor kupu-kupu putih yang sangat indah. Hinata terpesona akan keindahan kupu-kupu itu, benar-benar berbeda dengan kupu-kupu biasa yang hinata temui. Sayap dalamnya bewarna lavender seperti matanya lalu sayap luarnya bewarna putih, putih keperak-perakan. Senyum dibibir hinata merekah seketika sehingga hinata tak menyadari bahwa dirinya mengikuti kemanapun kupu-kupu itu pergi, berusaha menggapainya dan menangkapnya.
Keinginan hinata pupus ketika melihat kupu-kupu itu meninggalkannya kembali sendiri. Dengan kejamnya kupu-kupu itu mengarah kelangit, tempat yang lebih luas untuknya terbang sedang hinata? Kini ia menyadari betapa bodohnya dirinya. Hinata melihat kekanan dan kekiri, disekelilingnya, pohon-pohon menjulang tinggi, semak-semak belukar mengancam gerakannya. Ia tak tau sekarang ia sedang berada dimana. Ia berusaha menahan isakan tangisnya dan mencoba memberanikan diri untuk mencari jalan keluar dari tempat itu. ia mencoba berjalan dan terus berjalan tanpa henti, namun tempat yang ia lewati semakin seram dan juga langit terlihat mulai senja. Hinata tak tau harus kemana lagi, ia tersesat. Hinata terduduk ketika ditanah lalu mulai mengeluarkan tangisannya. Kuat dan semakin kuat. Hinata menenggelamkan mukanya kelututnya yang ditekuk. ia mengutuk dirinya yang telah bersikap bodoh dan egois. Mungkin ini balasan dari kami-sama karena sikapnya yang terlalu tamak dan tidak sabaran.
Suara aungan anjing hutan berhasil membuat bulu kuduk hianata berdiri, bukan hanya suara aungan namun geraman khas anjing terdengar ditelinga hinata. Rasa takut mulai menyelimutinya, takut dan lebih takut ketika bunyi semak yang sepertinya terbuka. Dengan mencoba berpikir positif hinata perlahan-lahan menatap semak-semak yang ada dikelilingnya dan tatapannya berhenti ketika melihat ada seekor anjing hutan bewarna hitam yang menakutkan memandangnya penuh kelaparan. Tenggorokan hinata tercekat dan ingin menjerit. Ia mencoba menjauh, namun anjing itu tetap mengaung-ngaung dan menggonggong kearah hinata. Hinata memohon agar siapa saja menolongnya sekarang, hinata berjanji tidak akan nakal lagi. Kami-sama mohon tolong hinata saat ini. Hinata benar-benar tak ingin berakhir dimakan anjing dan saat ini ia sedang kabur hanya untuk mengikuti festival lampion. Anjing itu semakin ganas melihat hinata yang berusaha menjauh, hinata semakin terisak. Ia sangat takut dan sepertinya ia harus benar-benar menjerit.
"diam! Jangan bergerak."
Hinata tersentak mendengar perkataan itu, hinata merasakan ada seseorang yang berada tak jauh darinya. Bukannya tenang, hinata malah tambah khawatir.
"hi-hina-hime a..atut...to-tolong."
"diam! Jangan alihkan pandangan!"
Hinata mengurungkan niatnya untuk menatap siapa orang itu, ia menahan dan terus menahan namun seberapa tahankah ia tak mengeluarkan air matanya? Anjing itu terlihat mengerikan dan kelaparan. Hinata seperti mangsa, dan sekarang ia disuruh diam? Apakah orang itu pemilik anjing itu? apakah dia bermaksud untuk menjadikan hinata sebagai makanan peliharaan nya saat ini? Hinata benar-benar tak rela jadi makanan anjing, lebih baik ia dikurung dimansion selama 1 tahun lagi, dan berakhir ditangan ayahnya. Bukan berakhir dalam keadaan hina 'dimakan anjing' setidaknya ia mati dalam keadaan sedikit terhormat jika mati ditangan ayahnya.
"hi-hina-hime..a-atutt...huweee..."
"jangan bergerak, diam, dan jangan berteriak."
"a-apa k-kau ja-jahat?" hinata ingin menoleh namun dia berhasil dicegah oleh peringatan dari orang itu. sehingga hinata terbisu.
"tenanglah, sasuke disini melindungimu."
DEG...
Mata lavender hinata yang berkaca-kaca membelalak hebat ketika mendengar kata-kata menyejukkan itu, sehingga ia tak tahan untuk berpaling. Dan akhirnya, hinata pun menatap kearah seseorang itu, alangkah terkejutnya hinata ketika menyadari bahwa ia mengenali rambut raven itu, dia adalah pemuda yang membuatnya terjerembab ditanah saat dipasar kemarin, pemuda dengan sapu tangan dongker. Pemuda itu menggeram.
"sudah kubilang jangan alihkan pandangan!" pemuda itu berteriak, namun peringatannya terlambat dan anjing hutan itu segera maju untuk menerkam hinata, hinata membelalakkan matanya dan menjerit
"KYAAAAAHHHHHHHHHHHH..." tak ada rasa sakit sedikit pun yang hinata rasakan, seharusnya anjing itu sudah melahap hinata. Tapi kalau tidak salah hinata mendengar erangan-erangan gigitan anjing, kalau bukan menggigit hinata jadi anjing itu menggigit siapa? Jangan katakan bahwa? Hinata membuka kedua mata levender indahnya dan alangkah kagetnya dia ketika melihat anjing itu yang menggigit tangan pemuda itu. pemuda itu meringis kesakitan. Hinata takut dan khawatir, ia ingin menjerit.
"jangan menjerit, nanti dia tambah ganas."
"ta..tapi"
"tidak apa-apa. Ini tidak seberapa." Pemuda itu berkata dengan tenangnya, sehingga membuat mata hinata kembali berkaca-kaca. Ia ingin sekali menjerit dan tenggorokannya tercekat menahan jeritan dari pita suaranya. Hinata hanya memperhatikan pemuda itu yang masih pasrah memberikan tangan mungilnya untuk pelampiasan gigitan anjing itu. pemuda itu malah mengelus-elus kepala anjing hitam yang mengerikan itu. dan ajaib, anjing itu pun pergi dengan sendirinya, anjing itu sudah terlihat tenang. Ketika anjing itu sudah menjauh dan hilang ditelan semak. Hinata agak tenang, ada sedekit terbesit kekhawatiran akan pemuda yang menyelamatkannya itu. tangannya penuh dengan darah bekas gigitan anjing itu. hinata beranjak dan mendekati pemuda itu, diraihnya tangan pemuda itu sehingga membuatnya menatap kaget kearah hinata.
"apa tanganmu tidak apa-apa?" dengan cepat, ia menepis dan melepas pegangan hinata. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"sudah kukatakan tidak apa-apa, pulanglah." Pemuda itu ingin berlalu, namun hinata tidak menuruti kata-katanya sedikitpun.
Hinata mengikuti pemuda itu, sehingga membuat pemuda itu risih. Ia memberhentikan langkahnya lalu menatap tajam kearah hinata.
"kan sudah kubilang, pulanglah."
"ta-tapi, hi-hina-hime tak tau ja-jalan pulang. Go-gomen..."
Sasuke mendesah pelan, lalu ia meneruskan perjalanannya tanpa memperdulikan hinata yang mengikutinya. Hinata dapat melihat sebuah gerbang mension yang didepannya terdapat sebuah lambang uchiwa, lambang yang sama dengan sapu tangan yang pernah pemuda itu berikan. Hinata langsung bisa menebak, itu pasti rumah pemuda ini.
Pemuda itu membuka gerbang mansion, lalu masuk. Ketika hinata ingin ikut masuk, ia langsung mencegah hinata, mendorongnya kuat hingga hinata terjatuh dan membanting gerbang mansion itu. hinata hanya bisa melongo dan kaget betapa kejamnya pemuda itu. tapi, sepertinya hinata pantas untuk mendapatkan pukulan dan perlakuan seperti ini. Apakah pemuda itu marah? Semenyebalkan itukah hinata? Bibir hinata kembali bergetar, ia takut. Takut ditinggal sendiri lagi. Yukatanya sudah kotor, dan lampionnya sudah terjatuh entah kapan. Malam sudah menyambut. Hinata merasa takut, disini gelap dan hanya ada cahaya remang-remang. Hinata menenggelamkan wajahnya kelutut dan duduk didepan gerbang mansion uchiha. Ia terisak.
Kriett...
Pintu gerbang mansion terbuka, hinata kaget. Ia langsung cepat-cepat menoleh kearah gerbang dan disana ia melihat seorang wanita cantik, berambut panjang dengan tatapan lembut kearahnya. Ia tersenyum lalu mensejajarkan tinggi dengan hinata.
"maafkan sasuke ya hina-hime. Dia memang nakal." Wanita itu mengelus lembut rambut hinata.
"ke-kenapa tau nama hina-hime?" wanita itu terkekeh mendengar pertanyaan hinata lalu mencubit pipi chubby hinata.
"oba-chan tau mama hina-hime. Jangan takut. Ayo masuk." Tanpa mengindahkan tanda tanya yang masih terhias dikepala hinata, wanita itu menarik tangan mungil hinata untuk masuk kedalam mansion uchiha. Mansion ini cukup terawat dan memiliki taman yang indah. Hinata terpesona dengan kerapian mansion ini, ternyata bukan hanya mansion hyuuga yang indah, ternyata mansion ini juga indah.
Kini hinata sudah duduk bersimpuh di ruang makan bersama para anggota keluarga pemuda penyelamatnya tadi. Hinata melihat satu-satu para penghuni mansion ini, ada wanita cantik nan lembut tadi, lalu ada seorang lelaki yang sepertinya adalah ayah dari pemuda tadi, dan juga disampingnya ada seseorang dengan wajah yang ramah sangat mirip dengan pemuda yang menyelamatkannya, dan terakhir adalah pemuda tadi yang masih melipatkan kedua tangannya, dan tangan mungil itu sudah diperban dengan rapinya.
"hina-hime, perkenalkan. Ini adalah sasuke anak bungsu oba-chan, dan yang itu kakaknya sasuke, anak sulung oba-chan, namanya itachi. Dan yang ini, suami tercinta oba-chan fugaku. Oba-chan sendiri mikoto. Kami semua keluarga bahagia uchiha." Mikoto tersenyum lembut, pipi hinata memerah mendengar sambutan ramah itu.
"umm..hi-hina-hime." Hinata sangat gugup, ini pertama kali ia berkenalan dengan sebuah keluarga yang tidak memiliki kepentingan yang terlalu penting.
"yoroshikune hina-hime chan" itachi memberi salam hangat kepada hinata juga sehingga membuat hinata tambah malu, sedang sasuke dan fugaku hanya menatapnya kosong dan datar. Sepertinya sikap sasuke benar-benar keturunan fugaku.
Setelah sesi-sesi perkenalan berlangsung lancar, makan malam pun terlaksana. Masakan buatan mikoto sangat enak dan lauknya bervariasi. Candaan kadang keluar dari mulut itachi atau mikoto, sedang fugaku dan sasuke juga kadang menanggapi dan senyum. Sasuke juga terlihat bahagia. Senyumnya benar-benar menggemaskan, hati hinata berdesir ketika pandangannya dengan sasuke sengaja bertemu, pipinyapun tambah merona. Sesaat ketika hinata mencoba mengalihkan pikirannya, ia teringat tentang Festival Lampion. Benar!
"a..ano ne,, umm.. oba-chan"
"ya, hina hime-chan?"
"um...fe-festival la-lampion."
"ahhh...benar. festival lampion, tenang saja hina-hime chan, kami tidak semembosankan itu. kami sengaja memilih makan malam bersama dahulu, baru ketika agak malam baru kesana."
Hinata mengangguk-angguk kecil.
"apakah hina-hime mau ikut?" mikoto menawarkan hinata, hinatapun mengangguk semangat mendengar hal tersebut, ia sangat senang. Acara makan pun dilanjutkan, lalu setelah selesai, keluarga uchiha pun bersiap-siap untuk pergi ke festival lampion. Hinata membantu membereskan peralatan makan, namun mikoto mencegahnya tapi hinata tetap bersikeras hingga mikotopun hanya bisa pasrah. Lalu setelah membersihkan semuanya, mikoto menyeret hinata kekamarnya, untunglah fugaku-sama sudah bersiap-siap dan menunggu didepan. Mikoto dan hinata berada dikamar berdua, mikoto segera memilih yukata untuknya lalu mengambil sebuah yukata mungil dan diberikan ke hinata. Hinata kaget.
"hina-hime ganti pakaiannya ya, yang hina-hime udah kotor lho." Mikoto merayu hinata, hinata berusaha menolak namun mikoto tidak menerima penolakan, ia memaksa hinata sehingga akhirnya hinata memakai yukata indah itu. yukata itu sangat pas dibadan mungil hinata, mikoto mengatupkan kedua tangannya, ia tersenyum senang dan puas. Ia sangat geram melihat hinata yang begitu mungil, ditambah pipi chubbynya yang memerah ketika malu mendengar pujian yang berkali-kali mikoto ucapkan.
Ketika keduanya sudah siap, mereka keluar kamar. Didepan mansion sudah ada ketiga anggota keluarga lainnya yang menunggu mereka. Hinata menatap sasuke, dan tatapan mereka kembali beradu. Pipi hinata kembali memerah, ia pun menunduk malu.
"hina-chan, kawaii." Cubitan dipipi hinata sangat keras sehingga berhasil membuat hinata menjerit imut. Itachi benar-benar jahil, setelah mencubit pipi hinata, ia langsung menggendong tubuh mungil hinata sehingga membuat hinata kaget.
Mikoto tertawa melihat itachi, "okaa-san, aku ingin adik perempuan." Perkataan itachi membuat mikoto tersipu, dan fugaku hanya berdehem mendengarnya, sedang sasuke hanya menghembuskan nafasnya berat. Ia iri dengan apa yang itachi katakan. Insting anak-anak sasuke bekerja, ia pun menarik yukata yang kakaknya pakai, sehingga membuat itachi menoleh kebawah melihat sasuke. Itachi tersenyum geli lalu memindahkan gendongan hinata ketangan kirinya, dan kemudian ia menggendong sasuke ditangan kanannya.
"sasuke juga kawaii.." itachi terkekeh melihat sasuke yang tersipu mendengar perkataannya. Mikoto hanya menatap betapa lucunya tingkah anak-anaknya. Itachi jalan didepan, sedang mikoto dan fugaku dibelakang, mereka mengobrol-obrol kecil.
"ne, fugaku-sama. Punya anak perempuan asyik ya?"
"jangan menggodaku."
"kau ini, malah membuatku malu."
Suasana hening.
"jadi, apa kau benar-benar telah membulatkan keputusan itu?"
"tentu, bukankah menyenangkan punya menantu imut seperti hina-hime?"
"hn."
"lihat, kau tidak menyadari bahwa yukata hina dan sasuke couple." Fugaku menyipitkan matanya lalu, menggeleng-gelngkan kepalanya. Istrinya benar-benar menyeramkan, bagaimana bisa ia lakukan hal ini? Dan dari kapan ia merencanakannya. Mikoto hanya terkekeh senang, ia sangat bahagia.
Sedang sasuke yang berada didalam gendongan itachi bersama dengan hinata hanya mendengarkan cerita yang itachi lantunkan. Terkadang, sasuke juga menatap hinata. Bukan hanya mata sasuke saja yang tertarik dengan rambut lembut hinata, namun hidungnya juga aktif mencium bau lavender yang terus menguar setiap ia bertemu dengan gadis mungil bersurai indigo itu. entah mengapa, walau sasuke masih kecil dan tak tau apa-apa, naluri nya akan ketertarikan terhadap wanita sudah muncul, dan itu karena hinata hyuuga—salahkan gadis mungil itu.
=ToBeContinue=
#A.N : festival lampion harapan? Ohh, itu adalah akal-akalan dari author aja, hahahaha :D jangan terlalu percaya deh, di naruto gak ada kok, namanya juga fanfic :p. ternyata membuat kharisma anak-anak itu sulit juga...fyuhh~~~
Ah benar, kalian belum mengerti apa arti dari Cho-sak-sah ya? hu'umm...author bagi jadi dua CH, jadi di CH selanjutnya anda-anda baru bisa menemukan arti dari Cho-Sak-Sah itu sendiri, selamat menunggu ch selanjutnya, dan semoga gak pernah bosan sama fict ini yahhh~~~ :D
SPECIAL THANKS TO :
Cahya levenderhyUchiha | rozhee flouwerz | hinatauchiha69 | re | guest | hanna uzumaki
For read and review :D, don't forget to review this chapter again!
POJOK BALASAN REVIEW :
Cahya lavenderhyUchiha : entah tuh, tanya aja ama naruto nya, nakal amat ya? hohohoho,,, iya, ini udah updet kilat. Selamat membaca dan jangan lupa review lagi :D
Rozhee flouwerz : hohoho,,, ada kambing itamnya kali jangan-jangan. Bandar masalah. Arti kata yang dikatakan hyuuta akan dibahas diCH berikutnya~ :D selamat membaca dan kalau berkenan review lagi :D
Hinatauchiha69 : sayang sekali, kalau yang itu orang ke3 nya tetap hyuuta, gomennasai ^^v. Alasan naruto apa ya? entahlah, nanti juga akan tau sendiri :D selamat membaca CH ini dan jangan lupa di review lagi~~
Re : kenapa naruto jahat banget?
Apa semuanya rencana stunade?
Fic ini bakal happy ending kan?
Berarti hinata udah nggak virgin lagi? : waduhhh... banyak amat pertanyaannya? One by one ya~~... naruto jahat amat? Ada alasannya :D. Rencana tsunade? Bilang gak ya...nanti akan kita ketahui di CH 16, masihh jaohhh~~~ bakal happy ending atau enggak nya masih mistery, author juga agak pusing mau sad atau happy, tapi author usahain happy deh :D. Masalah hinata virgin atau enggak, tentu masih virgin karena narutonya belum sempat (*&*^^%$ #^)(*(&&^^%%$%^ heheheeh :D
Hanna uzumaki dan guest : oke deh,,,, akan dilanjutin anmpe tamat. Tetep dukung author ya~~ ma'acih udah mampir. Jangan lupa review lagi ya :D
THANKS YA READERS YANG UDAH KEEP READING~~~~ author seneng bangeettttt :D
Mind to RnR, RnFav, RnF~~~ :D
