ONLY WITH YOUR LOVE

.

.

.

CHAPTER 11

.

.

.

PAIRING KIM KAI x OH SEHUN ( KAIHUN ) KIM JONGIN x OH SEHUN ( JONGHUN )

.

.

REMAKE NOVEL LISA KLEYPAS DENGAN JUDUL YANG SAMA.

.

.

CHAPTER SEBELUMNYA

.

.

Wajah Jongin jauh lebih lembut dan tidak sekaku Kai. " Jongin. " Bisik Sehun, dan mata Jongin terbuka. Mata biru itu terlihat lembut dan hangat, tidak memiliki pancaran mengejutkan yang sudah mulai terbiasa dilihatnya.

Jongin menarik napas mengantuk, mengerjapkan mata saat melihat Sehun. Saat menyadari Sehun bukan bagian dari mimpi, Jongin langsung bangun dan menatapnya. " Sehun. "

Dengan canggung Sehun mencondongkan tubuh ke depan dan memeluk Jongin, tidak lama kemudian lengan Jongin terangkat untuk membalas pelukannya. " Selama berbulan bulan ini aku pikir kau sudah mati. " Ucap Jongin dengan suara lemah dan Sehun merebahkan kepala di bahu Jongin, lalu menangis terisak. Sehun dapat merasakan cintanya dan juga cinta Jongin yang perlahan memudar.

.

HAPPY READING

.

.

Setelah air matanya kering, Sehun merasa lebih tenang bersama Jongin, tapi tidak untuk waktu yang lama. Emosi yang terluap tidak mampu menghapuskan ketegangan di udara, percakapan mereka masih kaku dan canggung. Sehun merasa suaminya lega bisa melihatnya, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa ada banyak sekali halangan di antara mereka.

Sambil duduk di pinggir tempat tidur bertiang empat, Sehun mencoba untuk menjelaskan kenapa ia tidak ada di rumah untuk menyambut kepulangan Jongin dan menceritakan semua yang terjadi di pulau. " Bagaimana dengan Kai? " tanya Jongin.

" Dia membunuh Wu Yifan... "

" Bagus. " Ucap Jongin dengan suara pelan dan dingin.

" Dan aku pikir sekarang Kai baik baik saja, kecuali beberapa luka kecil. Tapi mereka membawanya ke penjara. Aku... aku takut dengan apa yang akan terjadi pada Kai kemudian. Mereka pasti akan menghukumnya. Dia mungkin akan dihukum mati... "

" Tidak. Ayah tidak akan membiarkan hal itu terjadi. " Sela Jongin.

Sehun menatap mata Jongin yang berwarna biru jernih, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain memercayai perkataan pria itu. Dulu sekali, ia pernah mengatakan pada Jongin bahwa pria itu memiliki mata bak malaikat. Tapi, setelah semua yang dialami Jongin, apakah mungkin Jongin masih memiliki tatapan lembut seperti dulu?

.

.

Kyuhyun sudah mencukur jenggot Jongin dan memotong rambutnya, hingga wajah Jongin terlihat bersih. Sungguh menggelisahkan saat menatap Jongin dan melihat bayangan Kai di sana. Sebagian besar orang akan menganggap Jongin lebih tampan dibandingkan Kai. Wajah Jongin seperti karya seni yang sempurna, elegan, baik, dan terbuka. Sehun tidak bisa membayangkan bibir Jongin terangkat untuk menyeringai, mata Jongin panas oleh kemarahan, gairah atau kegembiraan yang liar. Kai, justru sebaliknya, akan selalu memiliki aura penyendiri, dan Kai memiliki sifat liar yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kepribadian pria itu.

" Jongin. " Ucap Sehun dengan lembut. " Bisakah kau mencoba menceritakan padaku apa yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini? "

Sehun merasa terdorong untuk menanyakan itu. mungkin jika Jongin menunjukkan tanda tanda membutuhkannya, jika Jongin mau berbagi rasa sakit yang dialami pria itu dengannya dan membiarkannya membantu, perasaan lamanya terhadap Jongin bisa muncul lagi.

Tapi Jongin menggelengkan kepala. " Aku tidak bisa. " Ucap Jongin dengan suara serak. " Aku tidak mau membicarakannya. " Jongin mengubah topik pembicaraan dengan bertanya seperti apa kehidupan Sehun di New Orleans sejak mereka terpaksa berpisah. Sehun mulai menjabarkan emosi yang dirasakannya pada bulan bulan awal sejak mereka berpikir Jongin sudah mati, tapi kemudian ia melihat wajah Jongin berubah murung. Sehun berusaha mencari topik lain yang lebih riang dan ia berhasil menghibur Jongin dengan cerita tentang pertemuannya dengan keluarga dan teman teman Jongin.

Tiba tiba saja terjadi kesunyian yang canggung. Sehun menyadari dengan sedih bahwa ia tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan.

Sehun menatap Jongin dengan tidak nyaman dan bertanya tanya kemana semua keakraban yang sudah terbina selama mereka berada di Prancis. Sehun menyadari bahwa ia sudah duduk lagi di kursi... kapan ia bergeser dari pinggir tempat tidur? Setelah meraih tangan Jongin, Sehun menggenggamnya dengan lembut, dan Jongin meringis saat merasakan salep yang dioleskan Kyungsoo di telapak tangannya.

" Iih. " Ucap Jongin sambil tertawa dan menarik tangan dari genggaman Sehun. " Kenapa tanganmu terasa licin? "

Sehun merona. " Aku minta maaf. " Ucap Sehun dengan salah tingkah. " Tanganku terluka saat aku... ini hanya salep yang dioleskan oleh Kyungsoo. "

" Jangan sampai terkena seprai. " Ucap Jongin.

Kai tidak akan mengkhawatirkan sedikit salep ataupun seprai, Kai akan lebih mengkhawatirkan lukanya. Kai akan membuatnya tertawa dengan bereaksi seolah ia terluka parah, kemudian Kai akan menghujaninya dengan ciuman... Sehun segera menyingkirkan pikiran itu dari dalam kepalanya.

Jongin bersandar lagi di bantal, senyuman pria itu lenyap. " Aku lelah. " Gumam Jongin.

" Kalau begitu, aku akan membiarkanmu beristirahat. Mungkin besok kau akan lebih kuat untuk berbicara. " Sahut Sehun lembut.

Jongin menatap Sehun dengan murung. " Iya. Ada hal yang harus kita selesaikan. "

" Besok. " Sehun berdiri dan menunduk untuk mencium pipi Jongin. " Bonne nuit ( selamat malam ) , Jongin. "

Dengan gelisah Sehun menuruni tangga dan meninggalkan rumah utama tanpa mengucapkan selamat malam pada satu pun keluarga Kim. Ia harus menjadi dirinya sendiri untuk bisa berpikir dengan jernih. Ia tidak percaya Jongin dengan sengaja bersikap dingin padanya. Jongin tidak tahu lagi bagaimana harus berbicara dengannya, sama seperti ia tidak tahu lagi bagaimana harus berbicara dengan Jongin. Ia sangat berharap bisa merasakan tanda tanda tentang perasaan Jongin terhadapnya. Akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah di antara mereka jika ia tahu apa yang Jongin inginkan dan harapkan!

Sehun berjalan menyusuri jalan setapak menuju bangunan kecil tempat ia tidur dengan langkah pelan, larut dalam pikirannya sendiri. Bahkan sekalipun ia tidak akan pernah bisa memiliki Kai, ia tetap ingin mengajukan pembatalan pernikahannya dengan Jongin. Ia tidak yakin Jongin mau tetap menikah dengannya, apalagi dengan adanya Shixun. Rasanya sangat salah jika ia tetap menikah dengan Jongin, yang akan selalu mengingatkannya pada Kai. Tapi ia tidak mau membuat Jongin merasa seolah ia meninggalkan pria itu. ia harus membuat Jongin menyadari bahwa putusnya ikatan pernikahan mereka akan membuat mereka berdua lebih bahagia.

Malam datang dengan cepat, dan Sehun memilih berjalan jalan sebentar di taman. Setiap bagian tubuhnya terasa sakit karena kelelahan, tapi ia terlalu gelisah untuk bisa tidur malam ini. Sambil duduk di bangku batu yang dingin, Sehun mengamati taman yang hijau disekitarnya. Ia menggigil kedinginan saat embusan angin malam menyapunya. Ia tidak lagi merasa takut pada kegelapan... Satu satunya hal yang membuatnya benar benar takut hanyalah kehilangan Kai.

Sehun duduk untuk waktu yang sangat lama, memandang langit gelap yang dihiasi bintang. Rasa kantuk mulai menyerangnya, dan ia berdiri untuk kembali ke kamar. Suara lembut terdengar dari suatu tempat di dekatnya. Dengan penasaran ia mengendap endap di belakang semak untuk mencari tahu. Ia langsung berhenti dan tersentak saat melihat itu adalah Jongin. Tapi apa yang dilakukan Jongin di luar sini? Alis Sehun bertautan, dan ia mengerutkan kening dengan bingung. Jongin mengenakan pakaian lengkap dan sedang memeluk sosok mungil bermantel... Wah, Jongin pergi keluar di tengah udara malam yang dingin untuk bertemu dengan Shixun secara diam diam! Dan tadi Jongin bilang pria itu terlalu lelah untuk bicara dengannya!

Dengan mengintip melalui celah semak semak, Sehun mengamati saat Jongin menarik tudung jubah Shixun dan menunduk untuk mencium pria itu, ciuman yang panjang dan dengan mulut terbuka, tidak seperti ciuman yang pernah diberikan Jongin padanya. Jongin memperlakukan Shixun dengan cara yang berbeda dengannya. Shixun mengatakan sesuatu pada Jongin, dan Jongin tertawa sambil memeluk pria itu. sehun terkejut melihat bagaimana Jongin berbicara dengan Shixun, begitu wajar dan antusias, seolah ada banyak sekali hal yang ingin dikatakan Jongin pada Shixun tapi tidak ada cukup waktu. Sehun sempat tergoda untuk melompat keluar dari semak semak dan mengumumkan bahwa ia memergoki mereka, bahwa rahasia mereka sudah terbongkar. Di sisi lain...

Wajah Jongin terlihat jelas di tengah cahaya bintang. Sehun merasa takjub oleh perubahan yang dilihatnya di wajah Jongin. Ekspresi murung dan sedih sudah lenyap, dan mata Jongin berbinar binar saat memandang Shixun. Pria itu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Jongin, dan Jongin menoleh untuk mencium telapak tangannya. Hal yang tak pernah dilakukan Jongin kepadanya bahkan dari awal mereka memutuskan untuk berhubungan dan menikah. Kelembutan di antara Jongin dan Shixun menyentuh hati Sehun.

Tiba tiba saja Sehun tersenyum. Oh, ini membuat segalanya menjadi sederhana! Jongin berbeda saat bersama dengan Shixun karena Jongin jatuh cinta pada pria itu. tidak diragukan lagi Jongin pasti menginginkan pembatalan pernikahan dengannya. Mungkin itulah yang hendak dibicarakan Jongin dengannya besok, dan ia akan meyakinkan Jongin bahwa ia pikir itu adalah keputusan yang paling bijaksana untuk mereka berdua. Sehun menghela napas lega, dan pergi sebelum pasangan itu mengetahui keberadaannya.

.

.

.

Keesokan paginya Siwon pergi untuk mengunjungi Kai di penjara dan Sehun menghabiskan waktu bersama Kyuhyun dan anak anaknya di ruang tamu. Kegelisahan Sehun semakin meningkat saat ia membayangkan apa yang mungkin dialami oleh Kai. Ia pernah melewati Cabildo, saat ada seorang tahanan yang dibenci dipenjara di sana. Ada banyak sekali penduduk kota yang berkumpul di halaman di samping penjara, meneriakkan umpatan kasar dan melemparkan kotoran pada tahanan itu. kabar tentang penangkapan Griffin sang perompak terkenal akan menyebar dengan cepat. Bagaimana jika mereka akan memberikan perlakuan yang sama kejamnya terhadap Kai ?

Evelina dan Angeline sedang bermain boneka di jarak yang aman di depan perapian, sementara Kyuhyun duduk dengan memangku keranjang peralatan menjahit. Karena tidak banyak yang bisa Sehun lakukan dengan kondisi tangan yang terluka, ia duduk di sofa dengan Rafe meringkuk di atas dadanya, dan membaca surat kabar berbahasa inggris. Jarum jam yang berada di atas perapian terasa bergerak dengan sangat lambat.

Akhirnya Siwon pulang, membawa serta udara dingin dari luar saat pria itu berjalan masuk ke ruang tamu yang nyaman. " Suamiku. " Seru Kyuhyun, melompat dari kursi. Siwon memeluk Kyuhyun dan menciumnya singkat.

Sehun tidak bisa bergerak karena beban bayi yang tertidur di bahunya, tapi matanya terfokus pada Siwon.

" Siwon, cepat katakan pada kami kabar yang kau bawa. " Ucap Kyuhyun, sambil melepaskan mantel Siwon dan menarik pria itu ke kursi.

Siwon menjulurkan kakinya yang panjang dengan nyaman, terlihat sangat bangga pada dirinya sendiri. " Aku akan bertemu dengan Gubernur Villere malam ini. Kabar yang aku terima adalah bantuan Kai dalam penyerangan ke pulau perompak membuat Villere mempertimbangkan untuk memberikan pengampunan terhadap Kai. "

Sehun terlonjak, memeluk Rafe dengan sangat erat hingga bayi itu terbangun dan mulai merengek. " Oh Tuhan. Aku takut membiarkan diriku berharap. " Ucap Sehun dengan napas tertahan.

Kyuhyun menghujani Siwon dengan ciuman dan pujian. Eveline dan Angeline menghambur ke arah Siwon, terkikik, dan berbagi kegembiraan itu, meskipun mereka tidak mengerti karena alasan apa. Selama sejenak Siwon hampir tidak terlihat di tengah kerumunan kepala berambut merah di sekelilingnya.

Karena dibangunkan secara kasar dari tidurnya, Rafe menolak untuk diam sampai Kyuhyun mengambil bayi itu dari Sehun. setelah merengek kesal, Rafe meletakkan kepala di bahu ibunya dan mengisap kepalan tangan mungilnya. Sehun memaksakan dirinya untuk duduk lagi. " Bagaimana kondisi Kai? " tanya Sehun, sambil mencondongkan tubuh ke depan.

" Kai dalam kondisi sehat. Dokter sudah merawatnya dan sepertinya tidak ada rusuknya yang patah. Atas desakanku, Kai diberi air panas, sabun, dan pakaian bersih. " Siwon tersenyum kecut. " Sejujurnya, aku tidak mengira Kai akan terlalu diistimewakan. "

" Diistimewakan? " ulang Sehun dengan bingung.

Siwon menggeleng sedih. " Bien sur... tentu saja, aku juga terkejut oleh reaksi publik terhadap penangkapan Kai. "

" Apa sebenarnya maksudmu? " tanya Kyuhyun.

" Tampaknya, diseluruh penjuru New Orleans Kai dianggap sebagai perompak yang mempesona. Sosok romantis. Kisah tentang petualangan Kai, baik yang nyata maupun yang hanya khayalan, dibicarakan di kedai kopi dan di alun alun kota. Memang kedengarannya konyol, tapi seluruh penduduk kota mengidolakan Kai. " Jelas Siwon.

" Apa artinya mengidolakan? " tanya Sehun dengan nada curiga.

" Itu berarti ada kerumunan pengagum Kai yang berkumpul di luar Cabildo. Kai tidak diizinkan bertemu siapapun, tentu saja... kecuali aku... tapi ada banyak wanita dan pria yang menunjukkan kekhawatiran terhadap nasib Kai di dalam penjara. Mereka membawakan makanan dan berbotol botol wine, yang sebagian besarnya dibagikan oleh Kai pada para penjaga dan rekan rekannya sesama tahanan. " Sahut Siwon sambil menggelengkan kepalanya.

" Tapi itu sangat tidak masuk akal! " seru Sehun.

" Dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Aku baru saja diberitahu pagi ini tentang tiga orang wanita berbeda yang mengaku telah dinodai oleh Kai di pesta keluarga Kangin. "

Eveline menatap Siwon dengan penasaran. " Papa, apa artinya dinodai? "

Kyuhyun memelototkan mata untuk menegur Siwon. " Sst, Evie, itu bukan kata yang pantas untuk diucapkan oleh gadis kecil. "

" Konyol. " Ucap Sehun, wajahnya merona karena cemburu. Kai adalah miliknya, bukan objek kekaguman untuk para wanita bodoh yang membayangkan diri mereka jatuh cinta pada seorang perompak tampan ! Sehun membayangkan Kai pasti merasa senang dengan semua perhatian yang diterimanya dari banyak sekali wanita dan pria cantik. Kai sedang bersenang senang, sementara di sini Sehun mengkhawatirkan pria itu ! " Apakah Kai menanyakanku? " cetus Sehun.

Senyuman ironis Siwon memudar menjadi ekspresi yang lebih serius. " Sejujurnya_ " Ucap Siwon dengan suara pelan. " _ yang dilakukan Kai hanyalah membicarakan dirimu. "

Amarah Sehun langsung lenyap, dan ia menunduk ke pangkuannya, dikuasai oleh perasaan rindu. " Apa yang dikatakannya? " Tanya Sehun.

" Aku yakin Kai akan mengulangi sebagian besar perkataan itu padamu secara pribadi. Sepertinya Kai berharap selama dia ditahan, kau akan menyelesaikan masalahmu sendiri di sini. " Sahut Siwon.

" Oh, benarkah itu? " Sehun memelototkan mata, tapi tidak ditujukan pada siapapun secara khusus. " Aku rasa dia menganggap itu hal yang mudah. Aku rasa dia berharap setelah lima bulan berpisah aku bisa langsung mendatangi Jongin dan mengatakan padanya... "

Sehun terdiam sambil terkesiap saat ia melihat Jongin di ambang pintu. Jongin mengenakan jubah panjang, rambut gelap Jongin sudah tersisir rapi dan mata biru Jongin terfokus padanya.

" Mengatakan padaku apa? " tanya Jongin dengan tegas.

Sehun merasa lidahnya membeku. Wajahnya memucat, dan ia menyadari suasana berubah sangat sunyi. Semua orang menatapnya.

Kyuhyunlah yang akhirnya memecah kebisuan yang mengerikan itu. " Jongin. " Saran Kyuhyun dengan lembut. " Kenapa kau tidak mengajak Sehun ke ruang sarapan ? kalian berdua belum makan. Aku akan meminta Kyungsoo datang kesana dengan membawakan kopi dan makanan kecil. Kalian berdua bisa berbicara di sana tanpa diganggu. "

Sehun menyesap kopi dari cangkir porselen yang indah, sementara Jongin membelah roti gulung dan mengolesinya dengan mentega. Sehun menatap Jongin dengan gelisah, menunggu Jongin mengatakan sesuatu, sampai akhirnya ia tidak bisa lagi menanggung kebisuan itu.

Cangkir Sehun berdenting ditatakannya, saat ia menurunkannya. " Jongin, kita harus mulai memikirkan tentang... pernikahan kita, dan situasi kita saat ini. "

Serangkaian emosi berkelebat di wajah sensitif Jongin, terkejut atas keterus terangan Sehun, kebingungan, dan kebulatan tekad. " Aku juga sudah memikirkannya. " Ucap Jongin. " Dan itu bukan hal yang mudah. "

" Tidak, tentu saja tidak. " Kata Sehun. " Itu sama sekali bukan masalah yang sederhana. "

" Dalam beberapa hal, iya. " Jongin menyetujui ucapan Sehun.

Sehun mengerutkan kening dengan tidak yakin. " Jongin, aku tahu kau tidak mau membicarakan tentang apa yang terjadi, aku tahu hal itu terlalu menyakitkan untukmu... tapi ada beberapa hal yang harus ku katakan padamu. "

" Tentang Kai? " tanya Jongin dengan getir.

" Tentang aku. Jongin, ku mohon... " Sehun mengulurkan tangan untuk meraih tangan Jongin. " Selama berbulan bulan itu aku pikir kau sudah mati, jika tidak aku mungkin akan terkurung di penjara itu bersamamu. Aku tidak menderita luka fisik, tapi aku mengalami kedukaan yang sangat besar hingga aku berharap aku bisa ikut mati bersamamu. "

Jongin menatap Sehun dengan penuh kasih. Jongin menggenggam tangan Sehun dengan erat. " Sehun... "

" Aku tahu aku tidak akan pernah bisa merasa bahagia lagi. " Lanjut Sehun. " Aku tidak akan pernah tertawa atau merasakan kegembiraan lagi. Aku yakin aku akan selalu sendirian dan aku tidak akan pernah mencintai lagi. Kemudian... aku sampai pada tahap di mana aku bisa menerima kematianmu, Jongin. "

Ekspresi wajah Jongin berubah dingin. " Aku tidak mati. " Tegas Jongin. Sambil mencondongkan tubuh ke depan, Jongin mencengkeram lengan atas Sehun.

" Tapi aku tidak tahu ! kemudian Kai dibawa kesini dalam keadaan terluka sangat parah, sehingga kami semua berpikir dia tidak akan bisa melewati malam pertama disini. Kai berbeda denganmu... sangat sinis dan kasar, sangat pemarah. Pada awalnya aku membencinya. Tapi saat aku merawatnya, semakin lama menjadi semakin penting bagiku bahwa dia hidup, dan tiba-tiba saja... " Sehun terdiam dan menatap Jongin dengan sorot tidak berdaya. Tangan Jongin mencengkeram lengan Sehun dengan sangat kuat hingga terasa menyakitkan. " Tiba tiba saja aku ingin bersama dengannya setiap menit, setiap hari. Saat kami bersama, aku merasa lebih hidup dari pada sebelumnya. Aku rasa aku tahu Kai telah jatuh cinta padaku. Aku bisa mengetahuinya dari cara Kai menatapku dan berbicara padaku... da... dan aku tahu dia berusaha melawan perasaan itu, sama sepertiku, tapi... " Sehun menarik napas dengan bergetar. " ...tidak ada satupun dari kami yang bisa mencegahnya terjadi. "

Jongin melepaskan Sehun dan berdiri dengan mendadak, membentur meja hingga membuat kopi terciprat keluar dari tepi cangkir. " Apakah kau membiarkan dia... "

Sehun menggigit bibirnya, bertanya tanya apakah Jongin berhak mengetahuinya, apakah Jongin berhak untuk menanyakannya. Secara hukum Jongin memang masih suaminya. Ia telah mengkhianati Jongin. Tapi pada saat itu ia tidak tahu bahwa Jongin masih hidup.

Membaca jawaban dalam kebisuan Sehun, Jongin berusaha mengendalikan amarah dan rasa dikhianati.

Sehun duduk dengan kaku di kursi, tidak berani menatap Jongin.

" Seharusnya aku sudah bisa menduganya. " Ucap Jongin kemudian. " Pada saat Kai berusia enam belas tahun, dia sudah menjadi perayu ulung. Dia pasti menganggap pria polos sepertimu sebagai mangsa yang mudah. "

Merasa tersinggung oleh sikap merendahkan Jongin, Sehun berdiri dan menghadap pria itu. " Aku melakukannya dengan kesediaan penuh. Aku ingin bersama Kai karena aku mencintainya. "

" Tidak. " Tegas Jongin dengan mantap. " Kau terlalu polos untuk tahu perbedaan antara cinta dan nafsu. "

" Dan begitu juga dengan Shixun? "

Jongin terlihat seperti Sehun baru saja memukulnya. " Apa? "

Merasa menyesal dengan komentarnya yang keterlaluan, Sehun berbicara dengan suara yang lebih lembut. " Aku tahu hubunganmu dengan Shixun. Aku tahu hubungan itu dimulai sebelum kau datang ke Prancis untuk menikahiku, dan bahwa kau memilihku dari pada dia karena kau menganggap aku lebih layak. "

" Itu bukan... "

" Semalam aku melihatmu bersamanya di taman. " Sela Sehun.

Sehun mengamati rona merah mulai merayap ke pipi dan pangkal hidung Jongin. " Kau mencintai Shixun, Jongin. Kau bisa menemukan kebahagiaan sejati bersamanya, kebahagiaan yang melebihi apa yang bisa kita dapatkan bersama. "

Jongin berjalan ke depan jendela dan menatap ke arah langit yang berawa. Jongin meremas tepi jendela. " Aku sudah pernah memilih di antara kalian berdua. " Ucap Jongin. " Aku menginginkanmu, Sehun. karena banyak alasan. Salah satu alasan yang paling penting adalah karena aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu. "

" Tapi kau juga mencintai Shixun. " Ucap Sehun lembut.

" Dengan cara yang berbeda. "

Meskipun suasana tegang, Sehun tetap tersenyum kecut. " Mungkin kau bisa menjelaskan padaku dengan cara apa kau mencintaiku dan dengan cara apa kau mencintainya. " Sehun sama sekali tidak berniat terdengar sinis, tapi seperti itulah Jongin mendengarnya.

" Sebelumnya kau tidak pernah berbicara seperti itu. " ucap Jongin dengan datar. " Aku rasa itu karena pengaruh Kai. " Jongin berbalik dan bersandar dirangka jendela, menautkan ibu jari di dalam saku dan menopangkan bobot tubuh di satu kaki. " Kemarilah. " Ucap Jongin dengan suara pelan.

Sehun mematuhi, berdiri sekitar tiga puluh sentimeter dari pria itu. Jongin tidak meraihnya, hanya menatapnya dengan tajam.

" Satu dari sekian banyak perbedaan antara aku dan saudara kembarku. " Ucap Jongin. " Adalah cara kami memandang kewajiban dan tanggung jawab. "

" Apakah kau menganggapku sebagai kewajiban? Sebagai tang... "

" Biarkan aku bicara. " Tegas Jongin. " Kita sudah menikah, Sehun. Tidak ada yang bisa mengubah itu. secara hukum kau masih istriku. Apakah kau tidak berpikir bahwa kita punya kewajiban untuk menghormati janji pernikahan yang sudah kta ucapkan? Bersama di masa senang dan susah? Keadaan telah mengubah kehidupan kita, tapi alasan utama kita menikah masih tetap ada. Kita mirip dalam banyak hal, kita akan bisa menemukan ketenangan hidup dengan satu sama lain. " Jongin terdiam dan menambahkan tanpa emosi. " Selain itu... aku bersedia memaafkanmu atas... perselingkuhanmu. Aku ingin kau tetap menjadi istriku. "

Sehun menatap Jongin dengan terperanjat. Ini sama sekali tidak seperti yang ia harapkan. " Tapi apakah kau tidak menginginkan lebih dari sekedar ketenangan hidup? " tuntut Sehun. " Aku ingin! "

" Kau berpikir cinta yang liar dan penuh nafsu itu akan bertahan selamanya. Tapi cinta itu akan padam dengan cepat, Sehun. apa yang kau rasakan terhadap saudaraku tidak akan bertahan... rasanya memang ajaib, luar biasa, tapi hanya untuk sementara waktu, kemudian rasa itu akan padam tak bersisa. " Ucap Jongin.

" Dari mana kau tahu? "

Wajah Jongin mengeras, selama sejenak mengingatkan Sehun pada Kai. "A yahku menikahi ibuku karena ibuku adalah wanita yang menarik dan membuat ayahku sangat bergairah. Tapi saat api gairah itu padam, tidak ada fondasi yang sesungguhnya untuk pernikahan mereka... dan situasi itu berakhir dengan perselingkuhan dan tragedi. Selama bertahun tahun aku dan Kai harus menderita akibat dari pernikahan itu. " Jelas Jongin dengan datar.

" Aku mengerti, walau aku tahu Kai lah yang paling menderita, kau hidup dengan kasih sayang dari Siwon dan Kyuhyun dan ia tidak. Tapi... itu sama sekali tidak sama dengan situasiku! " Bantah Sehun.

" Bagiku sama persis. Aku mencintai saudaraku, tapi aku tahu dengan pasti seperti apa dia, Sehun. seumur hidupnya, Kai tidak pernah memiliki hubungan jangka panjang. " Lirih Jongin.

Sehun tidak mencoba mendebat Jongin untuk masalah itu, Jongin sangat yakin pendapatnya benar. Meskipun selama bertahun tahun, ia tidak pernah melihat saudaranya itu. Tapi Sehun yakin pada Kai dan tahu betapa besar Kai mencintainya. Pria itu bahkan akan dengan suka rela menyerahkan nyawanya demi dirinya. Sehun mencoba berbalik dari Jongin. Tapi Jongin menangkap tangannya dan memaksanya tetap disana, ingin Sehun tetap menghadap pria itu. " Jongin. " Ucap Sehun dengan gelisah. " Kalian bersaudara. Wajar saja jika kau merasakan persaingan dengan Kai... "

" Ini bukan karena masalah persaingan. " Bentak Jongin. " Ini tentang fakta bahwa aku peduli padamu. "

" Dan aku juga peduli padamu, Jongin. " Sehun menatap Jongin dengan tajam. " Tapi itu bukan alasan yang cukup untuk mempertahankan aku sebagai istrimu! Kenyataannya adalah kau jatuh cinta setengah mati pada shixun, dan kau terlalu keras kepala untuk mengakuinya. "

" Aku mencoba melakukan yang terbaik untuk kita semua... "

" Jangan! " Sehun menatap Jongin dengan sorot memohon. "Jongin, aku tahu betapa pentingnya kewajiban dan tanggung jawab bagimu. Tapi bagaimana jika tidak ada kewajiban dan tanggung jawab yang harus kau pertimbangkan? Siapa yang akan kau pilih jika kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan? "

" Aku sudah mengatakan padamu apa yang kuinginkan. " Sahut Jongin tegas.

" Pilihlah hanya untuk dirimu sendiri, Jongin. Untuk sekali saja dalam hidupmu, bersikaplah egois. Berpura puralah tidak ada peraturan, tidak ada tanggung jawab. Kau bebas untuk melakukan apa yang diinginkan oleh hatimu. Apa yang kau pilih ? Siapa yang akan kau pilih? "

Jongin terdiam, wajah pria itu kosong.

" Kenapa semalam kau mengatur pertemuan dengan Shixun di taman? " tanya Sehun. " Karena kau tidak bisa menghentikan dirimu sendiri. Kau mendambakannya, kau mencintainya... dan di dalam hatimu, kau ingin percaya hubungan kalian akan bertahan selamanya. "

Saat semakin jelas Jongin tidak akan menjawab, Sehun menjauh dari Jongin. Ia harus bisa bersabar. " Aku rasa kau tidak jujur dengan dirimu sendiri. " Ucap Sehun dengan lembut. " Aku yakin sebenarnya kita berdua menginginkan hal yang sama, Jongin. Ada banyak sekali yang sudah terjadi... kita berdua tidak bisa kembali ke masa lalu. "

" Tidak. " Jawab Jongin. " Tapi kita bisa memulainya dari awal lagi. "

Dihadapkan pada kekeras kepalaan Jongin, Sehun menggelengkan kepala dengan tidak berdaya dan bertanya apakah mereka bisa melanjutkan pembicaraan ini nanti. Mereka berdua membutuhkan waktu untuk berpikir.

Sehun tidak bertemu lagi dengan Jongin sepanjang sisa hari itu, meskipun ia tetap berada di rumah utama, untuk berjaga jaga jika Jongin ingin berbicara lagi dengannya. Ia yakin kekeras kepalaannya bisa meluluhkan Jongin. Tapi Jongin makan siang di kamar, dan tidak turun lagi. Entah Jongin sedang beristirahat atau sedang berpikir, ia harap yang terakhir.

.

.

.

Malam datang dan masih belum ada kabar dari Siwon, yang sekarang pasti pertemuannya dengan Gubernur sudah selesai. Dengan cemas, Sehun bergelung di kursi depan jendela perpustakaan bersama dengan Vesta. Kucing orange itu berbaring diatas pangkuan Sehun sambil mendengkur keras, dan mencakari kemeja yang dipakai Sehun. Sehun menyukai atmosfer perpustakaan yang maskulin, perabot dari kayu mahogani, kertas pelapis dinding warna kuning, merah, dan biru serta sulaman di kursinya.

Vesta menjilati cakarnya dan mulai menutup mata. " Katakan padaku sesuatu, ma belle ( sayang ). " Gumam Sehun, sambil membelai bulu Vesta berulang ulang. " Aku sudah mengamati kebiasaanmu yang suka berganti pasangan dan bagaimana kau meninggalkan setiap pengagummu setelah kau bosan pada mereka. Bagaimana hati nuranimu bisa menanggung semua itu? "

" Dari semua binatang. " Ucap Jongin dari ambang pintu. " Kucing adalah binatang yang paling tidak mungkin punya hati nurani. "

Sehun terlonjak mendengar suara Jongin. " Jongin. " Ucap Sehun, dengan tawa tercekat. " Aku tidak ingat kau punya kebiasaan mengendap endap. "

Jongin menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi serius, kemudian tersenyum pada Sehun. " Boleh aku masuk? " tanya Jongin, dan Sehun mengangguk, tatapan Sehun terfokus pada Jongin. Rambut gelap Jongin disisr dengan rapi dan pria itu mengenakan mantel berwarna biru navy. Beban berat seolah telah terangkat dari bahu pria itu, wajahnya terlihat lebih cerah.

" Duduklah. " Sehun menunjuk ke ruang kosong di kursinya yang berada di depan jendela. Merasa kesal dengan kehadiran pengganggu, Vesta melompat dari atas pangkuan Sehun dan berjalan keluar perpustakaan.

" Aku minta maaf atas sikapku yang sok mengatur pagi ini. " Ucap Jongin. " Kau hanya bersikap jujur padaku. Aku menyadari tidak mudah bagimu untuk melakukannya. "

" Tidak, sangat tidak mudah. " Ucap Sehun dengan suara pelan.

Jongin menatap Sehun lekat lekat, dan ada keterbukaan di mata Jongin, yang sebelumnya tidak ada. " Aku merasa... masih merasa... ada sesuatu yang berharga yang telah dirampas dariku. Aku tidak menyalahkanmu, atau Kai. Yang aku tahu hanyalah sebelum aku ditangkap oleh Yifan dan anak buahnya, kau adalah milikku dan kita punya masa depan berdua. Dan aku percaya kita akan bisa hidup dengan tenang, Sehun. "

" Aku juga. " Ucap Sehun dengan tulus. " Tapi Jongin... "

" Tidak. " Gumam Jongin. " Biarkan aku bicara dulu. Sekarang aku menyadari bahwa bukan hanya kau yang sudah berubah, tapi aku juga. Masa depan yang pernah kubayangkan sudah tidak mungkin lagi terwujud. " Jongin meraih tangan Sehun, dan jari jari mereka bertautan dengan erat. Sehun mulai terisak, dan Jongin mencari cari sapu tangan di saku, lalu memberikannya pada Sehun sambil tersenyum. " Sejak hari kita berpisah. " Kata Jongin. " Aku sering terperangkap di dalam mimpi buruk. Selama berbulan bulan aku menjalani hidup tanpa harapan, tanpa perasaan... tidak ada lagi yang terasa nyata bagiku. Tapi saat aku bersama dengan Shixun, mimpi buruk itu lenyap dan aku mulai bisa merasakan hal hal dengan nyata. Dan aku menganggapnya sangat menggelisahkan. Aku masih belum yakin aku ingin merasakan sesuatu... aku hanya ingin aman dan damai. "

" Aku mengerti itu, setelah apa yang sudah kau alami. " Ucap Sehun. " Tapi kau akan merasa aman bersama Shixun. Aku melihat sendiri betapa bahagianya kau saat bersamanya. "

Jongin menunduk ke tangan mereka yang bergandengan. " Aku memang mencintai Shixun. " Ucap Jongin.

" Aku tahu itu. dan Shixun juga mencintaimu. Kenapa suami istri harus sama persis untuk bisa menemukan kebahagiaan dengan satu sama lain? Justru, aku menganggap perbedaanlah yang membuat hidup lebih menarik. " Sehun menggenggam tangan Jongin lebih erat. " Temuilah Shixun. "

Jongin menoleh ke Sehun sambil tersenyum menawan. " Jadi sekarang kau memberikan perintah. "

" Iya. " Sahut Sehun sambil tersenyum lembut.

" Dan apa yang harus kukatakan padanya, sayang? " Goda Jongin.

" Katakan padanya bahwa kau memujanya, dan bahkan kau akan menikahinya segera setelah kau mendapatkan surat pembatalan pernikahan. " Ucap Sehun.

Ekspresi wajah Jongin berubah serius. " Sehun, apakah ini yang kau inginkan? "

" Oh, iya. " Tegas Sehun.

" Tapi jika kau membutuhkan bantuanku, jika kau membutuhkan aku untuk menjagamu, aku akan selalu... "

" Tidak, mon cher... Sayangku. " Sehun tertawa pelan. " Kau masih mengkhawatirkan masa depanku, iya kan? Jangan cemaskan aku, Jongin... aku tidak akan membiarkan diriku diabaikan atau dilecehkan. Saudaramu tidak akan merasa bosan terhadapku setidaknya selama lima puluh tahun ke depan. "

" Kau sangat yakin akan hal itu. " ucap Jongin, lebih sebagai pernyataan dan bukan pertanyaan.

" Seyakin takdir. " Bisik Sehun, memberikan senyuman ceria pada Jongin, yang dibalas Jongin dengan sama cerianya.

Kelopak mata Jongin tertutup. Secara spontan Jongin memberikan ciuman di bibir Sehun. itu adalah ciuman datar dan hangat, yang biasa diberikan seorang kakak pada adiknya.

Tiba tiba saja Sehun merasa panas dingin dibelakang lehernya, dan ia tahu itu bukan disebabkan oleh Jongin, tapi oleh kehadiran orang lain di ruangan itu. Sehun mendongak, dan jantungnya langsung berhenti berdetak saat ia melihat Kai berdiri di sana. Kai mengenakan kemeja putih longgar yang terbuka beberapa kancing, celana panjang hitam dan sepatu hitam. Kai menatap Sehun dengan sangat dingin dan sinis, hingga Sehun tidak mampu bernapas.

Sehun tidak pernah melihat saudara kembar itu berada di ruangan yang sama. Rasanya sangat mengejutkan. Sehun mendapati dirinya sulit untuk percaya bahwa satu orang bisa salah dikenali sebagai yang lain. Meskipun wajah mereka identik, tapi mudah sekali untuk membedakan mana yang dokter dan mana yang mantan perompak. Yang satu adalah jenis pria yang diharapkan semua ibu untuk menjadi suami anak mereka. Sementara yang lain adalah jenis pria yang diharapkan semua ibu agar dijauhi oleh anak mereka.

Jongin melepaskan tangan Sehun dan berdiri. " Jadi kau sudah diampuni, saudaraku. " Ucap Jongin.

Kai mengalihkan tatapan tajamnya dari Sehun dan menatap saudaranya dengan senyuman hangat. " Iya. Setelah ini, aku takut pengaruh politik Ayah sudah kandas tak tersisa. Ayah tidak akan punya satu pun utang budi yang tersisa yang bisa ditagihnya. "

" Kai, apa yang kau lakukan untukku... " mulai Jongin, dan terdiam seolah Jongin lupa akan mengatakan apa. Jongin melangkah maju dan memeluk Kai dengan erat. Mereka berpelukan dengan cepat, kemudian Kai melepaskan Jongin sambil tertawa miris.

" Bagian yang terburuk adalah berpura pura menjadi dirimu. " Ucap Kai. " Bukan hal mudah mengeluarkan kebaikan dan kelembutan seperti itu. dan harus mendengarkan dengan sopan semua keluhan penyakit yang menghinggapi ibu ibu tua di New Orleans. "

Jongin tertawa. " Harus ku akui, aku tidak bisa membayangkan kau mendengarkan siapa pun dengan sopan. "

Kai mengamati saudaranya dengan penuh kasih. " kau kelihatan sehat, Jongin. Tidak ada orang yang lebih melegakanku dari pada melihatmu hidup, dan kembali kesini dengan selamat. "

" Terima kasih. " Ucap Jongin. " Semua ini karena dirimu. " Mata biru bertemu dengan mata biru, saat saudara kembar itu memberikan tatapan saling mengerti. Mereka sudah berpisah untuk waktu yang lama, tapi tidak ada yang akan bisa memutuskan ikatan di antara mereka.

" Saat aku mendengarmu sudah mati. " Gumam Kai. " Aku merasa sebagian dari diriku hilang. "

" Aku ingin membunuh diriku sendiri saat aku menyadari kau menukar dirimu untukku. " Lirih Jongin.

" Aku tidak pernah berpikir dua kali untuk melakukannya. " Tegas Kai. " Aku hanya berharap aku bisa membuat Yifan membayar sepuluh kali lipat atas apa yang dilakukannya padamu. "

" Ada hal hal yang harus kubicarakan denganmu, Kai. " Ucap Jongin.

" Aku tahu. " Ucap Kai dengan suara pelan. " Kapan pun kau mau, saudaraku. "

Sehun berdiri dan melangkah menghampiri mereka. " Kai, aku... "

" Aku lihat kau sudah bersatu lagi dengan istrimu. " Ucap Kai pada Jongin, mengabaikan Sehun. suara Kai berubah dingin dan kaku, seolah Kai sedang memuji saudaranya atas kemenangan dalam permainan kartu. " Ku ucapkan selamat. "

" Sebenarnya... "

" Jelas sekali aku telah menyela momen pribadi. " Kata Kai. " Aku akan meninggalkan kalian berdua untuk... merayakannya. Kita akan bicara lagi nanti, Jongin. " Sebelum ada yang bisa menjawab, Kai sudah berbalik dan berjalan keluar dari perpustakaan.

" Kai! " Sehun berteriak memanggil , tapi tidak ada respon. Dengan cepat Sehun berbalik ke Jongin. " Di... dia salah paham dengan ciuman itu. " ucap Sehun dengan panik. " Dia tidak mengerti... "

" Jika aku tidak salah menebak. " Ucap Jongin dengan serius. " Kai mengharapkanmu untuk mengejarnya. Mungkin akan lebih bijaksana jika kau segera melakukannya. Dan sementara itu... " Jongin tersenyum, tiba tiba terlihat sangat bersemangat seperti anak kecil. " Aku berencana untuk mengunjungi Shixun. "

" Semoga beruntung. " Ucap Sehun dengan suara pelan.

" Semoga kau beruntung. " Balas Jongin lembut.

Sambil berlari ke lorong, Sehun berhasil mengejar Kai saat pria itu sampai di ruang depan yang berbentuk segi delapan. " Kai, tunggu. " Sehun menyentuh lengan Kai. Kai berbalik untuk menghadapnya, berdiri menjulang didepannya. Bertolak belakang dengan sikap dingin Kai beberapa saat sebelumnya, sekarang Kai bernapas cepat dan mata biru Kai penuh dengan amarah. " Kai, aku dan Jongin sudah bicara, dan... "

" Yifan memang benar tentang satu hal. " Ucap Kai dengan sinis. " Sepertinya kau cocok dengan Kim bersaudara yang manapun. "

" Apa? " Sehun menatap Kai dengan terperangah. " Biar ku jelaskan... "

" Tidak perlu repot repot. Aku tidak tertarik mendengarkan penjelasan. " Bantah Kai.

" Kau memang orang yang paling tidak masuk akal, paling keras kepala... "

" Aku tidak menyalahkanmu jika kau ingin mempertahankan Jongin. " ejek Kai. " Dia jenis pria yang aman dan terhormat... dan aku hanya pria bajingan... sampah masyarakat... Jongin seorang suami teladan, berbeda denganku. Dan jika kau mendapati dia tidak bisa memuaskanmu di tempat tidur, aku selalu bisa mendatangiku untuk mendapatkan... "

Sehun menampar wajah Kai. Suara tamparannya bergema di seluruh aula depan. " Setelah semua yang sudah ku alami, aku tidak akan membiarkan kau menghinaku! "

" Oh, aku tidak menghinamu... "

" Kau cemburu... " Sela Sehun.

" Aku sangat mengagumi kemampuan dalam mendapatkan apa yang kau inginkan. " Sinis Jongin.

" Aku hendak mengatakan padamu bahwa aku dan Jongin sudah memutuskan untuk mengajukan pembatalan pernikahan! " Teriak Sehun.

Suara jengkel Siwon bergema di belakang mereka. " Kenapa kalian ribut ribut disini? " Siwon berdiri di anak tangga terbawah bersama dengan Kyuhyun. " Apakah kehebohan ini memang perlu? Aku berharap kalian berdua bisa mengatasi perbedaan dengan sikap yang lebih pantas. "

Setelah memelototkan mata pada mereka berdua, Kai menyeret Sehun ke ruang tamu terdekat dan membanting pintu.

Siwon mulai tertawa. Kyuhyun menoleh ke arah Siwon dengan bingung. " Suamiku, kenapa kau tertawa seperti itu? "

Siwon mengangkat Kyuhyun menaiki dua anak tangga pertama, sehingga mereka bisa berdiri sejajar. " Aku sedang memikirkan sofa sulamanmu dengan kain sutra biru. " Ucap Siwon, menarik lengak Kyuhyun ke seputar lehernya. " Dan bertanya tanya apakah mereka bisa lebih berhasil dengan sofa itu dibandingkan kita. "

Kyuhyun langsung merona, kemudian mata hazel Kyuhyun membelalak. " Siwon, kau tidak berpikir mereka akan... "

Siwon menoleh dari atas bahunya ke pintu yang tertutup dan tatapan riangnya kembali ke Kyuhyun. " Tiba tiba suasana berubah sunyi, iya kan? "

Kyuhyun memelototkan mata pada Siwon. " Siwon Kim. " Ucap Kyuhyun. " Putramu sudah menjadi hampir sama keterlaluannya seperti dirimu! "

Siwon menyeringai dengan arogan. " Mungil, kau tidak akan mau aku bersikap sebaliknya. "

.

.

.

Segera setelah pintu tertutup, Kai membalik Sehun dalam dekapan pria itu dan melumat mulutnya. Sehun meronta dengan setengah hati, masih kesal dengan betapa cepatnya Kai menarik kesimpulan yang salah. Kai memeluk Sehun dengan lebih erat, mulut Kai memuja mulutnya sampai ia bergetar dan menyerah. Sehun melengkungkan tubuhnya ke tubuh Kai, menarik kemeja putih Kai sampai terlepas dari celana pria itu. tangan Sehun menyusup masuk ke balik kemeja Kai, membelai punggung Kai yang lebar dan keras.

" Jangan sampai aku melihatmu mencium pria lain lagi. " Gumam Kai di leher Sehun. " Bahkan kakek tua yang sudah pikun sekalipun. Aku tidak sanggup menanggungnya. "

" Dasar kau orang tolol... pencemburu... tidak rasional. " Tuduh Sehun dengan suara terengah.

" Iya. " Kai menarik Sehun ke dalam rengkuhan tubuhnya, merapatkan tubuh Sehun ke bagian tubuhnya yang mengeras. " Aku mencintaimu. " Ucap Kai dengan suara serak. Sambil menguburkan wajahnya di leher Sehun, Kai menarik kancing kemeja Sehun. " Kau cantik... sangat cantik... "

Sehun membelai bagian belakang kepala Kai dan menciumi telinganya. " Tidak di sini. " Bisik Sehun. " Seseorang mungkin masuk... "

" Aku tidak peduli. Aku membutuhkanmu. " Setelah menemukan mulut Sehun lagi, Kai mengeksplorasi tepi bagian dalam mulut Sehun dengan ujung lidahnya. Erangan pelan terlontar dari mulut Sehun, dan Kai melumat mulut Sehun lagi, lidahnya mencari cari di dalam kehangatan Sehun yang manis.

Dengan tidak berdaya Sehun menarik kemeja Kai sampai ia melepaskan ciumannya dan melepaskan kemeja tersebut. Jari jari Sehun membelai dada Kai dengan gerakan lembut. " Kau bahkan tidak memikirkan aku. " Ucap Sehun. " Dengan semua wanita dan pria yang membawakan barang barang untukmu... berbotol-botol wine... "

" Aku meminta semua orang di Cabildo bersulang untuk kecantikanmu. " Ucap Kai.

Sehun mengeluarkan tawa teredam di bahu Kai. " Apakah kau benar benar bebas sekarang? Tidak ada tuduhan, tidak lagi menjadi buronan... "

" Aku sepenuhnya milikmu. " Kai mencium alis Sehun dan kelopak matanya. " Ini bukan penawaran. Sebagian besar orang akan mengatakan padamu bahwa aku adalah penjudi yang berbahaya. "

" Dan bagaimana aku harus menjawab mereka? "

Kai melingkarkan lengan di seputar tubuh Sehun, memeluk Sehun dengan erat. " Katakan pada mereka aku tidak bisa hidup tanpamu. "

Kai membaringkan Sehun di atas sofa dan melepaskan sandal Sehun, kemudian Kai melepaskan sepatunya sendiri. Jantung Kai mulai berdetak dengan cepat dan ia meremas kaki dan paha Sehun. Sehun melengkungkan punggung ke tubuh Kai dengan lentur, menciumi kulit leher dan bahu Kai yang hangat, meresapi rasa dan aroma tubuh Kai. Kai mendorong Sehun agar berbaring telentang dan membuka kancing kemeja yang dipakai Sehun.

Sambil berjongkok di atas Sehun, Kai menyibakkan kemeja Sehun ke samping. Dengan lumatan mulutnya, Kai membuat puncak dada Sehun mengeras, sampai Sehun terengah dan berusaha membebaskan lengannya dari kemeja. Kepala Kai tertunduk di atas dada Sehun, dan Kai bergumam meminta Sehun agar tidak bergerak. Dengan perlahan ketidak sabaran Sehun meleleh menjadi kenikmatan yang memabukkan, dan Sehun berubah santai di bawah tubuh Kai.

Kai menanggalkan kemeja Sehun, menarik celananya hingga lepas dan merobek celana dalam yang di pakai Sehun dengan tidak sabaran. Sehun membuka kancing celana Kai, membelainya dengan gerakan yang membuat dunia Kai berputar. Kai harus menjauhkan tangan mungil Sehun, merasakan kendali dirinya runtuh seketika. " Hentikan. " Gumam Kai. " Terlalu cepat... Tunggu... "

Sehun mengangkat tubuhnya ke tubuh Kai, jari jarinya membelai punggung Kai dengan sentuhan yang lembut. Sambil mengerang, Kai balas membelai paha Sehun. Kai lebih dari siap untuk memasuki Sehun. Kai tahu Sehun bisa dengan mudah menariknya ke dalam tubuh pria itu, tapi ia ingin memperlama momen ini. Bibir Sehun yang membengkak karena ciuman, dan lengan Sehun yang melingkari leher Kai, menarik Kai untuk menunduk dan melumat bibir Sehun lagi.

Bibir mereka menyatu, dan tiba tiba saja Kai tidak bisa menahannya lebih lama lagi, ia mendorong paha Sehun agar terbuka lebar dan memasuki Sehun. Sambil memegangi pinggul Sehun, Kai bergerak lagi, dan lututnya terpeleset, dan mereka berdua nyaris jatuh berguling ke lantai. Kai mencoba mencari pegangan di sofa yang licin itu, tapi tidak bisa menemukan apa pun, dan ia mengumpat dengan suara parau. Bantal kecil merosot dan jatuh di atas wajah Sehun. Sehun mulai tertawa terbahak bahak.

" Aku sangat lega. " Ucap Kai, mengambil bantal itu dan melemparkannya ke seberang ruangan. " Karena kau menganggap ini menghibur. "

" Oui, sangat menghibur. " Sehun melingkarkan lengan di seputar pinggang Kai. " Apa yang harus ku lakukan? " Bisik Sehun.

Meskipun dalam keadaan frustasi, Kai tetap menyeringai pada Sehun. " Berpeganglah padaku, sayang. Kita akan menemukan cara. " Kai menarik tubuh Sehun ke bawah tubuhnya, menopangkan satu kaki di lantai dan mengulurkan tangan ke atas kepala Sehun untuk berpegangan di lengan sofa. Posisi itu memberinya pegangan yang dibutuhkannya, dan gerakannya yang berirama di mulai lagi, dengan perlahan dan dalam. Dengan mata setengah terpejam, Sehun memeluk Kai dengan lebih erat.

Mulut Kai turun ke dada, bahu dan lehernya. Sehun terkesiap saat Kai bergerak di antara pahanya, saat ia merasakan dirinya mengetat disekeliling Kai, dan kenikmatan meledak di sekujur tubuhnya sampai ia tidak bisa bernapas. Sambil mengejang di dalam dekapan Kai, Sehun memasrahkan diri dalam pelepasannya yang mengguncangkan. Kai menghunjam lebih dalam dan menahan diri di sana, mata Kai terpejam dan ia menguburkan teriakan nikmatnya di dalam mulut Sehun.

Setelahnya, dalam keadaan berpelukan, mereka berbaring dengan nyaman di sofa. Kepala Sehun bersandar dengan nyaman di dada bidang Kai. Dengan santai ujung jari Sehun melingkari puncak dada Kai. " Pembatalan pernikahan akan membutuhkan waktu. " Ucap Sehun dengan mengantuk. " Dokumen pernikahan harus diambil dari Prancis, dan gereja harus diberikan penjelasan... "

" Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, asalkan pembatalan pernikahan itu dilakukan dengan semestinya. " Sahut Kai.

" Sementara itu situasi pasti akan sulit, dengan kita semua tinggal disini. " Lirih Sehun.

Kai menggeleng sambil mengerutkan kening. " Tidak, cintaku. Aku akan tinggal di salah satu hotel di kota. "

" Oh, tapi... "

" Aku tidak bisa tinggal di bawah atap yang sama dengan Jongin. " Tegas Kai. " Atau dengan keluarga Kim yang lain. Mereka semua akan mengamati kita. Dan pengamatan konstan seperti itu akan membuatku gila. "

" Tapi kapan aku bisa bertemu denganmu. " Tanya Sehun dengan sedih.

Kai tersenyum dan membelai punggung Sehun. " Jangan khawatir. Aku akan datang untuk melakukan pendekatan secara resmi padamu. Aku akan menemuimu setiap hari. Kita akan mengatur pertemuan rahasia. Mungkin kau akan menganggapnya romantis... "

" Tidak, aku akan menganggapnya sangat melelahkan, membuat frustasi, harus mengatur pertemuan rahasia... " Sehun merajuk dan menyembunyikan wajahnya di dada Kai. " Aku ingin bersamamu sepanjang waktu. "

" Sebentar lagi. " Tawa lembut Kai bergema di telinga Sehun. " Sayang, kau tidak akan bisa menghentikannya. "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

Yeaayyyy akhirnya end juga pyeuhhh berkurang satu utang FF hehehe.

Makasih bagi yang selama ini udah Follow, Favorite plus Review... Big Thanks pake banget.

Untuk silent readers ayolahh kasih review di chapter terakhir ini pweaseeeee..

Ada yang pengen epilognya... ? Kalau yang review banyak bakalan dikasih epilog.