MrsGoldenweek: ahahaha.. Ling Tong naksir siapa cbaa? hehehe.. cinta segi empat? (*tring! Lampu otak nyala)

black roses 00: masa si? apa karena tewasnya daddy Jian? , ugh.. iya sih.. -_-'

Morning Eagle: entah kenapa, wa selalu pngen Gan Ning n Ling Tong begitu, tp biar gtu sebenarnya mereka saling mdukung koq ^^

kalo tewasnya daddy Jian si setau wa emg gtu (mnurut Romance of the Three Kingdomsnya shifu Luo Guanzhong- lah disini dia cuma kebagian jadi tabib yg nongol di Ch 2 *disambit shifu Luo) Well, this is Ch 12, about something I feel, enjoy ^^

...

Istana terasa sepi. Lagipula kami masih dalam suasana berkabung karena kematian tuan Sun Jian. Aku duduk di kamarku, lalu terdengar ketukan di pintu, dan ternyata Shang Xiang.

"Yu Na, apa kau tidur?" Tanyanya.

"Tidak, masuklah kakak Xiang."

Dia masuk, matanya sembab, tapi tetap berusaha untuk tersenyum.

"Aku benci keadaan ini. Aku benci harus menangis." Katanya. "Aku juga, kakak Xiang.. Aku juga.." Kami sama-sama terdiam.

"Ah, aku tidak mau menangis lagi. Ayah juga tidak akan suka! Mm, bagaimana kalau kita ngobrol saja?" Kata Shang Xiang. Aku tersenyum, benar juga, "Ya.."

"Mmm.. Yu Na.. Apa kau pernah jatuh cinta?" DOEEENK! Pertanyaan apa itu? Seketika wajahku memerah. Tentu saja pernah, tapi sejak kepergian Edo aku belum menemukan sosok yang kusukai, kecuali..kecuali.. Xun.. Dia tidak seperti Edo.. Dia berbeda..

"Eerr.."

"Aku rasa aku jatuh cinta.." Lanjutnya. Fuuuh, syukurlah, berarti dia hanya akan curhat. Untung tidak menyanyaiku.

"Ah? Kakak Xiang? Benarkah?"

"Hhh... Sebenarnya aku juga tidak yakin.. Aku menyukainya sejak hari itu. Hari dimana dia menolongku saat jatuh dari kuda. Aku merasakan perasaan yang aneh karena dia begitu mengkuatirkanku. Sebenarnya sejak pertama kali melihatnya aku sudah menyukainya. Perlahan berubah menjadi cinta. Wajah itu terus membayang. Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku. Dia tidak pernah mengatakan menyukaiku.." Shang Xiang menunduk. Tampak sedih.

"Dia.. Bahkan tidak menganggapku seorang wanita.. Kami lebih sering bertengkar daripada tidak.. Hhh.. Tapi, berada disampingnya saja aku sudah senang, meskipun kadang kesal juga karena ia tidak pernah menyadari perasaanku.."

Aku memegang tangannya. Lalu dia tersenyum, "Apa aku boleh berharap, Yu Na?"

"Tentu saja, kakak Xiang. Harapan akan selalu membuat kita bertahan, harapan juga yang akan membantu kita melangkah." Aku menyemangatinya.

"Kau ini.. Cara bicaramu seperti Xunnie, hahahaha.. Aah.. Tapi akhir-akhir ini aku malah jadi bingung.."

"Kenapa?"

"Seseorang yang baru kutemui mulai mengganggu pikiranku.. Dia.. Berbeda.. Yah meskipun si bodoh yang tidak mengerti perasaan wanita itu juga berbeda, tapi, laki-laki ini.. Apa ya? Memiliki kharisma.."

"Kakak Xiang, siapa dia?" Aku jadi antusias, sikapku benar-benar jadi kekakanak-kanakan.

"Ehm, aku.. Bertemu dengannya saat dikota. Dia sangat berwibawa. Aku rasa dia orang yang terpelajar. Tapi.. Sepertinya bukan dari Wu.." Lalu dia terdiam.

"Dia sangat gagah, entah kenapa sejak pertemuan itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya, jantungku berdebar-debar kalau mengingatnya. Aku berharap bisa bertemu lagi.. "

"Kakak, apa kau tahu siapa namanya?"

"Mmh.. Liu Bei.. Ya, Liu Bei.."

Liu.. Bei? Kalau tidak salah dia juga ada di game-nya Karen! Saat memakai Zhou Yu aku pernah berhadapan dengan Liu Bei, nah, gara-gara dia nih Zhou Yu yang kumainkan mati. Karen sampai mencak-mencak dan dendam padanya.

"Quan sepertinya mengenalnya, tapi aku malu menanyakannya. Hmm, bicara soal Quan, sepertinya dia mencintaimu."

"Ha? Apa? Tapi.."

"Ya..ya..ya.. Aku tahu, Xunnie mencintaimu dan sepertinya kau pun punya perasaan yang sama. Hhh.." Dia menghela napas. Aku menunduk. Benarkah? Xun men..cin..

"Ta..tapi kakak Xiang, mana mungkin.."

"Kau tidak tahu? Hmm atau pura-pura tidak tahu? Quan dan Xunnie berubah 180 derajat. Eh, bagaimana perasaan mu pada kakakku?"

"Pangeran Sun Quan orang yang baik. Aku menyukainya.."

"Kau menyukai kakakku tapi mencintai Xunnie kan? Antara suka dan cinta itu berbeda Yu Na.. Dulu aku menyukai Xunnie, kupikir itu cinta, soalnya aku senang mengganggunya tapi dia tidak pernah membalas semua kejahilanku. Tapi ternyata aku hanya menyukainya sebagai adik kecil yang selalu ingin kujahili.. Karena dia juga lebih muda dariku. Perasaan yang jauh berbeda saat aku berada di dekat pria bodoh yang tidak mengerti perasaanku itu! Lalu, Liu Bei.. Ah, entahlah, aku juga tidak mengerti.." Aku sempat cemburu mendengar dia menyukai Xun. Tapi lega saat dia hanya menganggap Xun sebagai adiknya. Lalu, siapa yang dia sebut "si bodoh" itu ya? Ternyata putri mencintai orang yang rumit. Kisah cintanya juga jadi rumit, seperti menganalisa laporan keuangan, halah..

"Sepertinya kakakku akan patah hati.."

"Tapi menurutku pangeran Sun Quan tidak mencintaiku kakak Xiang. Mungkin juga hanya menyukaiku."

"Kenapa? Dia begitu memperhatikanmu, selama ini dia tidak begitu terhadap wanita yang baru dikenalnya." Shang Xiang tidak yakin dengan analisaku.

"Apa kakak tidak memperhatikan saat pangeran berbicara dengan kakak cantik?"

"Kakak cantik?"

"Eeh, maksudku kak Lian Shi.."

"Uumm.. Tidak, kenapa?"

"Pangeran Sun Quan terlihat grogi."

"Grogi?"

"Eh, anu, maksudku, gugup di hadapan kak Lian Shi. Sepertinya berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada kak Lian Shi. Aku rasa mereka pasangan yang cocok."

Ya, sangat cocok, dibanding denganku yang kalau berdiri di dekatnya tidak akan terlihat, dia tinggi, you know!

"Benarkah? Hmm, kalau begitu bagaimana kalau kita dekatkan mereka?"

"Setuju!" Kami bersorak.

"Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya menyenangkan. Apa aku boleh bergabung?" Sapaan lembut dari pintu yang tidak tertutup mengejutkan kami.

"Oh, kak Lian Shi, tentu saja! Silahkan masuk.." Sambutku.

"Lalu, sampai dimana tadi?" Tanyanya. Aku dan Shang Xiang berpandangan.

"Tadi kami sedang bicara soal cinta." Jelas Shang Xiang. "Apa kak Lian Shi pernah jatuh cinta?"

"Hah? A..aku..?" Lian Shi gugup.

"Waaah wajahnya merah, jangan- jangan kak Lian Shi sedang jatuh cinta." Aku menggodanya.

"Dengan siapa? Dengan siapa?" Kami menanyainya antusias.

"Itu.. Su.. Sudahlah, sudah malam. Sebaiknya kalian segera tidur. Besok kita akan latihan bersama." Elaknya sambil tersenyum. Aku dan Shang Xiang cemberut. Memang sih, sudah larut malam, tapi kan.. Hhh.. Kami menghela napas, "Baiklaaah.."

"Yu Na, kita lanjutkan besok ya! Misi rahasia ini harus berhasil! Sampai jumpa besok.." Kata Shang Xiang saat akan kembali ke kamarnya. Aku mengacungkan jempol tanda setuju. Lian Shi hanya tersenyum melihat kami.

...

"Uuuh.. Sudah pagi kah?" Aku meregangkan ototku. Aku tertidur pulas. Semalam ini kakek tidak muncul. Kenapa ya? Apa terjadi sesuatu pada kakek? Tiba-tiba PSIUUNG...JLEEB!

"Wuaaa!" Itu teriakan bibi Chu! Aku segera berlari keluar kamarku. Ada apa? "No.. Nona Li.. Cepat masuk kembali kekamarmu! Tutup pintunya! Me.. Mereka menyerang!" Aku melihat bibi Chu tersandar pucat disamping sebuah anak panah yang menancap di dinding kamarku. Aku dengan begonya memang menutup pintu, tapi dari luar, so, aku sekarang bisa melihat beberapa pasukan pemanah bersiap di sepanjang kamar kerajaan. Apa ini? Siapa yang menyerang?

"Nona Li.. Kenapa malah keluar..?" Bibi Chu menatapku cemas, dia masih bersandar di dinding kamarku. Aku hanya nyengir kuda menyadari kebegoanku..

"Yu Na! Kau tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka kan?" Shang Xiang yang sudah siap dengan baju perangnya berlari ke arahku. Aku mengangguk, masih syok. Ini.. Perang beneran ya?

Lian Shi dan Qiaos juga datang. "Hati-hati, panah itu beracun. Aku akan menyerang dari depan. Kalian tunggu disini." Kata Lian Shi, lalu langsung lari mengumpulkan pasukan.

"Aku juga akan membantu. Aku akan menjaga pintu belakang. Mana tahu mereka menyerang dari segala sisi. Kalian tetap disini." Shang Xiang juga pergi ke arah belakang istana Wu sambil membawa cakram besarnya itu. "Kakak Xiang, tunggu!" Teriakku, tapi percuma. Sekarang tinggal aku dan Qiaos.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Xiao. Aku diam. Kalau panah itu sampai di kamar ini berarti mereka sudah mengepung istana. Jangan-jangan..

"Xiao, bawa pasukan pemanah dan pasukan bertombak di sisi kanan istana. Buat barisan berlapis. Lapis pertama adalah pasukan pemanah dengan posisi duduk, lalu pemanah dengan posisi berdiri. Sisanya pasukan bertombak. Terserah mau berapa lapis (seketika aku ingat sebuah iklan- hey, bukan saatnya memikirkan iklan!) Dan Da, kau disisi kiri. Lakukan seperti Xiao. Aku akan membantu dengan musouku!"

Mereka mengangguk dan segera bersiap, kenapa mereka mengikuti perintahku ya? Ah sudahlah. Aku mengambil jubahku. Aku akan ikut ke medan perang. Aku mengkhawatirkan Shang Xiang. Mereka kemungkinan lebih banyak berada di belakang istana, karena saat berangkat para cowo' itu kemarin lewat depan. Otomatis pasukan Wei itu tidak akan melakukan hal yang mencolok dengan menempatkan banyak pasukan ditempat yang akan dilalui pasukan Wu.

Aku berlari ke arah belakang istana. Di sepanjang jalan aku melihat banyak prajurit terluka terkena panah. Musou, aktiflah! Aku ingin mereka sembuh! Cahaya jingga itu muncul, dan bergerak ke arah para prajurit yang terluka. Salah seorang dari mereka menyadarinya, "Nona Li, terima kasih.." Aku hanya bisa mengangguk, lalu terus berlari. Hhh.. Beginilah rasanya berjuang mempertahankan negara. Seperti inikah yang dirasakan para pahlawan ku dulu? Rasa nasionalisme ku sebagai rakyat Wu tiba-tiba muncul, maafkan aku, Jendral Sudirman, maafkan aku pak SBY, bukannya berkhianat pada NKRI, tapi saat ini aku berjuang untuk Wu!

Saat melintasi lorong aku bertemu Xiao En. "Kakak Liii.. Kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan napas terengah- engah.

"Xiao En? Bukannya kau sudah berangkat bersama Taishi Ci?" Tanyaku

"Ya, tapi tiba-tiba Jendral Taishi Ci menyuruhku kembali untuk menjagamu, ternyata firasatnya benar."

"Kalau begitu bantu aku ya. Aku harus memberikan musou pada setiap prajurit yang terluka, lindungi aku."

"Baik! Prajurit Xiao En siap melindungi kakak Li dan istana Wu!" Soraknya sambil mengacungkan tombaknya.

"Hey, dimana kau mendapatkannya?"

Tanyaku saat melihat tombak itu.

"Oh ini? Aku diberi ini waktu latihan, jadi kubawa saja kemana-mana.. Kakak mau? Aku akan mengambilkannya di ruang senjata."

"Ruang senjata dimana?" Sambil berlari aku tetap mengeluarkan musou untuk prajurit yang terluka sepanjang jalan yang kulewati. Aku mulai bisa mengendalikannya.

"Dibagian belakang ada satu, kakak mau ke belakang istana kan? Aku akan mengantar kakak."

Kami berlari menuju belakang istana. Sesampainya disana aku memilih satu tombak yang tidak terlalu besar. Aku tidak mau bertarung jarak dekat.

"En! Tolong bawakan Mao!"

"Mao?" Xiao En bingung.

"Err.. Maksudku kudaku, penjaganya tahu itu. Kau minta saja padanya."

"Baik!" Xiao En lalu berlari ke kandang kuda. Sementara aku menuju gerbang belakang istana yang sudah ditutup rapat. Aku melihat salah seorang penjaga yang sekarat dibopong temannya yang juga terluka. Sambil menunggu Xiao En sebaiknya kubantu mereka. Aku bisa menyembuhkan penjaga yang terluka, tapi aku tidak bisa menyembuhkan yang sekarat karena racun. Dia akhirnya tewas. Ternyata musouku tidak cukup menahan laju racun.

Xiao En muncul dengan kudanya dan Mao. Aku segera menaiki Mao (tumben sekarang tidak perlu dibantu). Aku meminta penjaga membuka gerbangnya. "Nona, sebaiknya disini saja. Aku bisa dibunuh Jendral Tashi Ci kalau membiarkanmu pergi. Diluar sangat berbahaya." Penjaga itu menolak membuka pintu.

"Tapi diluar putri kerajaan Wu sedang berjuang! Apa kau mau mati dibunuh Sun Quan? Jangan khawatir, aku bisa bertarung dan punya pengawal. Jadi tolong buka pintunya." Dia melihat ke Xiao En, meragukan kemampuan En.

"Cepatlah, putri Shang Xiang dalam bahaya!"

"Ba..baik!" Dia segera membuka pintu.

"Oiya, berapa pasukan yang dibawa putri Shang Xiang?" Tanyaku sebelum keluar gerbang.

"Ti..tidak banyak nona, sepertinya pasukan difokuskan ke arah depan bersama nona Lian Shi." Jelasnya. Sudah kuduga, salah strategi!

"Terima kasih." Aku dan Xiao En segera memacu kuda. Penjaga kembali menutup pintu gerbangnya.

Saat melihat pasukan Wei musou bertahanku tiba-tiba aktif sendiri. Kalau yang ini aku memang belum bisa mengendalikannya. Aku dan Xiao En menebaskan tombak ke semua pasukan Wei. Tujuanku adalah menemukan Shang Xiang. Astaga, banyak sekali mereka. Mana pasukan Wu? Aku melihat beberapa prajurit Wu berusaha bertahan dengan luka disekujur tubuhnya. Aku mengeluarkan musouku. Aku ingin semua prajurit Wu yang masih hidup sembuh! Mereka tidak menyadari hal itu sampai Xiao En berteriak ke arah mereka,"Demi kerajaan Wu, luka kalian sudah sembuh! Teruskan berjuang!" Mereka kembali bersemangat. Pasukan Wei mulai terdesak. Tapi aku masih belum menemukan Shang Xiang.

Sepertinya aku harus menerobos pasukan Wei. Aku memacu Mao ke tengah-tengah pasukan Wei sambil terus menebaskan tombak ke kiri dan kekanan. Ternyata mereka membuat strategi yang aneh. Pola melingkar dan mengurung pimpinan pasukan di tengah-tengah. Itu Shang Xiang! Sedang menghadapi Jendral gendut dengan senjata besarnya. Kaki Shang Xiang terluka, aku harus cepat. Saat si gendut itu melompat aku mengayunkan tombakku dan melukai punggungnya, dia terkejut dan mundur menahan sakit. Kesempatan itu kugunakan untuk menyembuhkan luka Shang Xiang.

"Yu.. Na.. Kau.. Kau bisa.."

"Nanti saja bicaranya, dia datang!"

Aku setres juga melihat si gendut itu berlari ke arah kami dengan wajah marah dan mengayun-ayunkan senjata besarnya itu. "Tidak masalah." Shang Xiang maju, dan dengan gerakan ringan dia melemparkan cakram besarnya tepat saat pertahanan si gendut itu terbuka dibagian perut. Si gendut jatuh, pasukannya pucat, "Jendral Xu Zhu jatuh, Jendral Xu Zhu jatuh!" Mereka berteriak panik. Beberapa berusaha mengangkat tubuh gendut itu ke atas kudanya. Lalu sebuah suara berteriak lantang "Mundur! Bawa Jendral kembali ke markas! Mundur semua!" Pasukan Wei yang tersisa menarik diri.

"Shang Xiang, Yu Na! Kalian tidak apa-apa?" Lian Shi muncul dengan kudanya. Pantas saja pasukan Wei mundur, pasukan kami ternyata mendapat bantuan. "Kami baik-baik saja kak Lian Shi. Yu Na menyembuhkan lukaku, jadi aku bisa mengalahkan si gendut sialan itu. Bagaimana denganmu?" Tanya Shang Xiang.

"Tentu saja tidak apa-apa, di depan hanya ada 50 orang Wei dengan Jendral bancinya itu. Sementara aku membawa ratusan orang. Aku benar-benar salah perkiraan. Ternyata mereka menyerang dari belakang." Ujar Lian Shi. "Tapi aku salut pada Yu Na. Dia menyadari kelemahanku dengan cepat, dan membagi pasukan untuk mempertahankan istana. Xiao dikanan dan Da di kiri, pasukan mereka lebih dari cukup, jadi aku tak perlu khawatir dan bisa langsung kesini membantumu. Sepertinya dia memberi pengaruh positif bagi Yu Na.." Lanjutnya sambil mengedipkan mata pada Shang Xiang.

Shang Xiang tersenyum dan menepuk bahuku,"Aku bangga padamu, Yu Na. Kau strategis kami yang hebat!"

"Ahaha.. Itu kebetulan saja.."

"Itu bukan kebetulan Yu Na, aku tahu kau bukan gadis biasa. Pantas saja dia menyukaimu, kau gadis pintar, meskipun tidak menunjukkannya."

"Ahaha..ahaha.." Aku tertawa garing.

"Ayo, kita kembali ke istana. Semua harus dibereskan sebelum mereka pulang." Ajak Lian Shi. Kami pun kembali ke istana.