DELIVERY SERVICE

[ CHAPTER 12 ]

EXO FAN FICTION

By kwondami

CASTS: ALL EXO MEMBERS

GENRE: Romance, Friendship, Humor

RATING: T

LENGTH: Chaptered

WARNING: Shounen-ai, Boy x boy


.

.

.

Seorang pemuda berambut poni menutupi dahi nampak bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Ia sengaja menyembunyikan dirinya agar tidak diketahui. Dari balik pohon tersebut, ia diam-diam melongokan kepalanya untuk melihat sesosok namja.

Namja yang ia amati nampak asik memberi makan tiga anak anjing yang manis. Seekor anak anjing kemudian menjilat hidung si namja, membuatnya terkekeh geli.

"Hahahaha, kyeopta hentikan." Seekor anak anjing yang lain kemudian menarik-narik ujung celana jeans yang ia kenakan. "Rupanya kalian masih ingin bermain-main ya? Tapi sayang sekali, aku harus segera berangkat kerja." Namja tersebut menepuk-nepuk ketiga anak anjing dengan sayang.

Ketika ia berdiri, si pemuda yang sedang melongokan kepalanya dari balik pohon refleks kembali bersembunyi. Si namja mulai berjalan sambil bersiul pelan, namun langkahnya terhenti oleh bunyi bel sepeda.

"Luhan, selamat pagi!"

"Selamat pagi Paman. Apa kau masih punya sisa susu stroberi untukku?"

"Tentu saja, ini." Si penjual susu menyerahkan sekotak untuk Luhan. Setelah itu ia berkata, "Kudengar kau sudah berhenti bekerja di toko bunga bibi Hwang? Lalu sekarang kau kerja dimana?"

Luhan menusukkan sedotan pada kotak susunya kemudian mulai meminumnya. "Hari ini hari terakhirku bekerja disana. Mulai besok aku akan bekerja di sebuah kedai pizza."

"Kedai pizza?" Kening si penjual susu berkerut. Istilah 'pizza' terdengar asing di telinganya.

"Benar. Pizza itu makanan khas Italia Paman, bukan makanan Korea," terang Luhan.

"Oh, pantas aku baru mendengarnya. Ya sudah, bekerjalah yang giat dimanapun kau berada. Kudoakan kau mendapatkan yang terbaik."

"Gamsahamnida." Luhan membungkuk sopan.

"Ya sudah, aku pergi dulu. Salamkan salamku pada bibi Hwang. Anyeonggeseyo~" si penjual susu dan sepedanya pun menghilang di tikungan.

Luhan membuang kotak susunya yang telah kosong ke tempat sampah kemudian kembali berjalan. Si pemuda berponi mengikutinya dari belakang. Dia tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan. Ia tidak suka disebut stalker, namun hal yang dilakukannya saat ini jelas-jelas perbuatan seorang penguntit.

Setelah beberapa tikungan, Luhan nampak berdiri di sebuah kedai pizza. Ia menarik nafas lalu bergumam pada dirinya sendiri. "Besok tempat ini akan menjadi tempat kerjaku yang baru. Kuharap tempat ini akan senyaman toko bunga bibi Hwang. Semoga." Dalam hati ia berharap agar hari cepat berganti menjadi esok.

Setelah Luhan menjauh beberapa langkah, kini giliran si pemuda yang berdiri di depan pintu kedai. Ia kemudian membaca sebuah pengumuman yang tertempel di kaca transparan kedai.

LOWONGAN PEKERJAAN

Dibutuhkan empat orang untuk mengisi posisi:

Koki (Spesialisasi masakan italia)

Waitress

Delivery Service

Cleaning Service

Syarat: Laki-laki, ulet, pekerja keras.

Keterangan lebih lanjut hubungi manajemen Kedai EXO.

.

"Lowongan pekerjaan? Apa mungkin jika aku melamar kerja disini, aku akan bisa berkenalan dengannya?" Tanpa pikir panjang, pemuda bernama Sehun ini melangkahkan kakinya masuk ke dalam kedai untuk bertanya tentang lowongan tersebut. Ditempatkan di posisi mana pun tidak masalah (selain posisi koki tentunya). Asalkan ia bisa bersama dengan namja yang selama setahun terakhir ini selalu diam-diam ia ikuti.

Namja yang akhirnya ia ketahui bernama Luhan.


.

.

.

Matahari telah tinggi, namun sesosok pemuda masih tertidur pulas di kasurnya. Alarm di nakas berbunyi nyaring seakan berteriak agar si pemuda cepat bangun. Namun pemuda berponi tersebut malah mematikan alarm kemudian menggeliat dan kembali membenamkan wajahnya ke bantal yang nyaman. Ini sudah yang ke lima kalinya ia mematikan alarm. Sebuah teriakan kemudian mengusik tidurnya.

"Oh Sehun! Sampai kapan kau akan tidur! Bukankah hari ini kau ada janji!?"

Huh, eomma mengganggu saja.

Aku kan sedang mimpi tentang Luhan.

"Kalau kau terlambat di kencan pertamamu, eomma tidak tanggung jawab!"

Terlambat...?

Kencan...?

"ASTAGA!" Sehun spontan terbangun lalu bergegas menuju kamar mandi. "Eomma, kenapa eomma tidak membangunkanku lebih awal! Huaaaaa kalau begini aku bisa terlambat!" Sehun semakin terkejut ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sepuluh. Tiga puluh menit sebelum waktu yang ia janjikan pada Luhan. "HUAAAAAAAAA~"

"Aku sudah membangunkanmu sejak pukul tujuh. Alarm juga sudah berkali-kali berbunyi," tutur Sehun eomma tak mau disalahkan.

Dengan terburu-buru, Sehun segera membersihkan diri kemudian menyambar kemeja yang sudah ia seterika licin sejak semalam. Ia begitu gugup untuk hari ini sehingga tidur larut.

Semalam ia bermimpi, mimpi yang terasa nyata.

Sehun bermimpi sebuah momen ketika ia masih diam-diam mengikuti Luhan. Ketika Luhan belum bekerja di kedai pizza EXO, ketika Luhan belum mengenalinya.

Sehun menatap pantulannya di kaca. Penantiannya selama setahun akan terbayar hari ini.

"Ayo cepat! Jangan biarkan kekasihmu menunggu."

"Iya bukan kekasihku. Eh, maksudku belum menjadi kekasihku." Sehun memberi penekanan pada kata 'belum'.

"Loh? Lalu—?"

"Aku akan memintanya hari ini," Sehun berkata mantap. "Sudah ya, aku berangkat. Doakan aku!" Sehun memberikan ciuman ringan pada pipi ibunya berlari keluar. Langkahnya hampir saja tersandung beberapa kali karena ia terlalu terburu-buru.

Sang Ibu mengusap-usap pipinya yang dipenuhi tanda-tanda penuaan. "Hah, anakku sudah besar rupanya."


.

.

.

Sinar mentari pagi menembus kisi-kisi jendela. Cahayanya yang hangat menelisik menerangi wajah seorang pemuda yang masih terlelap. Sesaat ketika ia membuka matanya, rasa nyeri mendadak menghantam punggungnya.

"Ouch, punggungku." Ia mengangkat tubuhnya. Pantas saja, semalaman ia tidur di sisi tempat tidur. Hanya kepalanya saya yang menyender pada sisi empuk kasur sedangkan bokongnya menempel pada kursi yang keras. Belum lagi punggungnya digunakan untuk menggendong Baekhyun yang tidak ringan.

Chanyeol mengucek-ngucek matanya pelan. Bibirnya lalu membentuk lengkung senyum. Bagaimana tidak, dihadapannya tidur seorang malaikat yang terlelap dengan damainya. Cahaya mentari pagi membuat wajah sang malaikat semakin bersinar.

Chanyeol menempelkan tangannya pada dahi Baekhyun. Dia mendesah lega. Syukurlah, panasnya sudah turun. Semalam Chanyeol benar-benar kalut jika terjadi sesuatu pada Baekhyun. Untunglah akhirnya ia dapat membawa Baekhyun ke klinik dua puluh empat jam.

Dokter yang berjaga subuh tadi segera melakukan pertolongan pada Baekhyun. Setelah diminumkan obat, Baekhyun akhirnya terlelap. Begitu juga dengan Chanyeol.

Chanyeol melirik jam tangannya, nafasnya tersangkut di tenggorokan. "Astaga sudah jam sembilan! Aku terlambat masuk kerja!"

Namun baru saja Chanyeol berdiri, sebuah tangan mungil menarik ujung jaketnya. "Hyung, jangan pergi..." Baekhyun mengerjap lemah. Suaranya terdengar hampir seperti bisikan.

"Baekhyun-ah, kau sudah bangun? Apa masih terasa sakit?" Chanyeol kembali duduk lalu mengelus dahi Baekhyun.

Ia bimbang. Sebenarnya ia tidak sampai hati meninggalkan Baekhyun namun ia juga bisa diamuk Kris jika membolos.

Tapi masa sih Kris tidak akan memberinya izin untuk cuti barang sehari?

"Aku tidak akan pergi." Akhirnya Chanyeol berkata pelan untuk meyakinkan Baekhyun. "Tunggu di sini, aku akan menelepon Kris gege untuk minta izin, oke?"

Baekhyun mengangguk lemah. Chanyeol pun segera ke luar kamar untuk menelepon bosnya.

"Halo, hyung."

"Ya, ada apa?"

"Ehm—ani—bisakah aku minta cuti hari ini? Aku ada urusan mendadak. Dipotong gaji pun aku tidak masalah hyung." Suaranya dibuat sememelas mungkin agar Kris mengabulkan permohonannya.

"Kau ini bicara apa sih? Kau mabuk ya?"

"Eh?"

Suara Kris terdengar gusar. "Sekarang kan hari minggu dan kedai tutup. Aku tidak punya waktu untuk meladeni leluconmu!"

"Ya ampun!" Chanyeol menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa ia begitu bodoh? Ia mengecek arloji digitalnya. Disitu tertera 'Sun' singkatan dari Sunday yang berarti hari minggu. "Gomawo hyung, maaf sudah mengganggumu."

Chanyeol menutup ponselnya cepat lalu tersenyum lebar. Ia kembali ke kamar pasien, tempat Baekhyunnya terbaring.


.

.

.

Oh Sehun menatap namja di sampingnya dengan tatapan kagum luar biasa.

Bagaimana tidak, Luhan memakai jumpsuit berbahan jins dengan kaus berwarna kuning cerah di bagian dalam. Sebuah topi yang dipakai terbalik semakin mempermanis penampilannya. Penampilannya sungguh berbeda dibanding ketika ia memakai seragam karyawan kedai Pizza EXO.

Luhan tersenyum riang. Kedua maniknya berbinar antusias. Luhan bagaikan seorang anak kecil berumur lima tahun yang kegirangan dibawa ke taman bermain. Melihat Luhan semanis ini membuat Sehun menyesal karena telah kemeja kotak-kotak berwarna merah. Selain tidak matching dengan Luhan, kemejanya membuatnya tampak terlihat resmi—bukan santai.

Ugh, hal kecil ini sungguh mengganggu rasa percaya diri Sehun.

"Sehun, kenapa kau diam saja? Kau tidak senang ya jalan denganku?"

"A—ani bukan begitu ge, aku senang. Sungguh!" DEMI TUHAN AKU SANGAT SENAAANNNGGGG! Rasanya Sehun ingin berteriak saja, tapi dia takut Luhan menganggapnya aneh.

"Kau ingin naik wahana apa ge?"

"Aku ingin masuk ke rumah hantu."

Mati kau Oh Sehun.

Seumur hidup Sehun tidak pernah masuk rumah hantu karena ia sangat penakut! Hei, jangan tertipu oleh tampangnya yang tanpa ekspresi. Si manusia tanpa ekspresi ini bahkan bisa terkencing-kencing kalau sudah ketakutan.

"Yuk!" Luhan menarik lengannya tanpa menangkap tatapan horor dari Sehun. Taman bermain baru saja dibuka sehingga belum banyak orang yang datang. Itu berarti mereka bisa langsung masuk tanpa susah payah mengantri.

Kulit Sehun yang sudah pucat menjadi semakin pucat. Ia butuh waktu untuk mengumpulkan keberaniannya. Tapi masa dia harus bilang kalau dia takut? Bisa-bisa Luhan langsung jadi ilfeel padanya.

"Pasti hantu di dalam lucu-lucu." Luhan menoleh antusias pada pemuda sepucat tembok di sampingnya. Bibirnya menyunggingkan senyum semanis gulali.

"Hehehe, iya hyung." Sehun tertawa garing, padahal jantungnya kembang kempis menahan ngeri. Demi Luhan dia akan berusaha terlihat jantan. Ayolah Oh Sehun, kau pasti bisa!

Rumah hantu yang mereka masuki bukanlah wahana yang ditempuh dengan mengendarai kereta kecil. Pengunjung harus berjalan kaki sampai ke pintu ke luar. Refleks, Sehun meraih telapak tangan Luhan lalu menggenggamnya erat.

Luhan terkejut oleh tindakan spontan Sehun. Pipinya merona dalam gelap. Ia tidak menyangka Sehun akan melakukan kontak fisik secepat ini. Dia tidak tahu saja bahwa Sehun melakukannya karena ketakutan.

Kegelapan menyambut mereka berdua. Suara-suara horor mulai bermunculan. Kini mereka tengah berjalan di tengah-tengah suasana kuburan yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Sehun semakin merapatkan tubuhnya pada Luhan. Hal ini membuatnya dapat mencium aroma parfum Luhan.

Wangi vanila...

Tiba-tiba sesosok mumi muncul dari dalam kuburan yang terbuka. Sehun sontak menjerit horor.

"HUAAAAAA EOMMAAAAAA AKU TAKUUUUUUTTTTT!" Sehun bersembunyi di ketiak Luhan lalu menenggelamkan kepalanya di sana. Tubuhnya bergetar, matanya terpejam, dia benar-benar ketakutan.

Luhan ikut terkejut. Bukan—bukan karena sosok mumi yang muncul tiba-tiba, tapi ia terkejut karena Sehun. Sehun memeluknya sangat erat hingga sulit bernafas. Dapat Luhan rasakan tubuh Sehun yang gemetar hebat.

Ia tidak menyangka pelukan pertamanya dengan Sehun dilakukan di depan mumi jadi-jadian.


.

.

.

"Tenang dan bersikap sewajarnya, oke?"

Zi Tao bergerak-gerak gelisah di kursinya.

Jemarinya meremas ujung jasnya yang tersembunyi di balik taplak meja. Ucapan Kris malah membuatnya semakin tegang. Sejak tadi Tao hanya tertunduk tak berani menatap Kris. Keringat mulai bercucuran di tengkuknya. Sungguh, Tao gugup setengah mati!

"Zi Tao, tatap mataku," kata Kris lembut.

Ragu-ragu Tao mengangkat kepalanya. Di hadapannya Kris tersenyum ganteng, namun Tao juga dapat menangkap raut gugup di bola matanya. Ugh, ia menyesal telah menyanggupi permintaan Kris untuk bertemu dengan—

"—Yi Fan!"

"Ibu!"

Mampus kau Zi Tao.

"Kenapa lama sekali sih?" Kris segera bangkit untuk menarik kursi yang terletak di antara dirinya dan Tao. Wanita itu lalu duduk dengan gerakan pelan nan anggun.

"Maaf, tadi ibu bertemu dengan teman-teman lama dulu. Hohoho." Ia lalu memalingkan pandangannya pada pemuda yang tengah menunduk. "Jadi ini—?"

"Anyeonghaseyo, saya Huang Zi Tao," ucap Tao tersendat karena gugup.

Pupil ibu Kris membelalak lebar. "Se—seorang pria?" Nada suaranya terdengar sangat kaget.

Kulit Kris memucat bak vampire kekurangan darah. Tunggu, bukankah ibunya kan pernah bilang dia tidak peduli jika Kris mengenalkan pria maupun wanita? Kris tidak salah ingat bukan?

Tapi bagaimana jika ucapan ibunya itu hanya sebuah guyonan?

Bagaimana jika ibunya tidak menerima kenyataan bahwa Kris penyuka sesama jenis?

Kris tertunduk.

Ia meremas tangannya yang basah karena keringat dingin, tak berani menatap ibunya.


.

.

.

"Jadi kau meneleponku hanya untuk menemanimu berbelanja?"

"Menurutmu lebih segar yang mana? Paprika yang ini atau yang ini?" Xiumin mengacungkan sebuah paprika hijau di tangan kanan dan paprika kuning di tangan kiri, tak mempedulikan gerutuan kekasihnya.

"Huh, ini kan hari minggu. Mestinya aku sedang tidur siang sekarang."

"Apa kau bilang?" Xiumin melotot galak.

"Eh, maksudku—paprika hijau lebih baik." Chen cepat-cepat menambahkan sebelum pacarnya itu marah. Xiumin memang imut dan menggemaskan, tapi jika sudah marah itu sama saja membangunkan macan betina yang galak.

"Benarkah?" Xiumin akhirnya memasukan paprika hijau ke keranjang dorong. Chen mendesah lega karena kekasihnya tidak jadi marah.

"Sesekali kan tidak apa-apa menemaniku belanja. Toh kita juga jarang pergi kencan." Xiumin berkata sambil tetap sibuk memilih-milih sayuran. Kali ini yang dipilihnya adalah selada.

"Tapi kan kita bertemu di tempat kerja setiap hari," balas Chen santai.

"Itu tidak sama. Dasar Jongdae bodoh! Bilang saja kau bosan bertemu denganku!" Kali ini giliran Xiumin yang menggerutu sebal. Ia mendorong keranjang belanjaannya meninggalkan Chen di belakang.

Chen mengejar Xiumin yang tengah merajuk. "Hei hei... kau jadi tidak manis kalau cemberut seperti itu." Tapi benar juga, selama setengah tahun mereka menjalin hubungan, mereka jarang sekali menghabiskan waktu berdua di luar pekerjaan. Alasannya ya karena setiap hari mereka selalu bertemu di dapur kedai pizza EXO.

"Kalau kau cemberut, aku jadi ingin makan bakpau saja."

Langkah Xiumin terhenti. Keningnya berkerut. "Maksudmu?"

"Maksudku—" Chen tidak meneruskan kalimatnya karena bibirnya mendarat di pipi tembam milik Xiumin. Mencuri cium pipi kekasihnya yang putih nan empuk bak bakpao.

Xiumin tercengang. Tekstur bibir lembut kekasihnya yang menyapu permukaan pipinya berulang-ulang.

Mulutnya bahkan membentuk 'O' sempurna.

Beberapa orang yang berada supermarket tersebut melirik kedua pasangan mesra tersebut malu-malu. Beberapa di antaranya terkikik kecil.

Setelah melakukan perbuatan yang mengundang perhatian tersebut, Chen melengos pergi tanpa rasa bersalah. Meninggalkan wajah bulat Xiumin yang semerah tomat dan jadi pusat perhatian. Xiumin menyentuh pipinya yang sepanas wajan.

"Ya Kim Jongdae! Kembali kau!"


.

.

.

"Hahahaha, kenapa kau tak beri tahu aku kalau kau takut hantu?"

Yeah great, sekarang Luhan pasti menganggapku sebagai pria pengecut. Sehun membatin.

Saat ini mereka berdua telah keluar dari wahana rumah hantu. Setelah kejadian Sehun memeluk Luhan, ternyata Sehun bersembunyi di balik punggung Luhan ketika mereka memasuki area rumah sakit angker yang didesain dengan mayat-mayat mengerikan dan suster jadi-jadian.

Oh, jangan lupa lolongan makhluk-makhluk mengerikan tadi semakin menambah horor suasana. Sehun menjerit sejadi-jadinya. Lupa kalau perannya di cerita ini sebagai seorang seme.

Sehun tertunduk malu. Ia fokus pada ujung sepatunya—terlalu malu untuk memandang Luhan.

Hancur sudah image yang selama ini ia bangun.

Hancur sudah kencan yang sudah susah payah ia rencanakan.

Ia bertaruh—pasti—pasti Luhan sangat ilfeel padanya.

Luhan tak hentinya tersenyum. Dia tidak menyangka Sehun begitu penakut pada hantu yang menurut Luhan sendiri konyol. Tapi Luhan lebih suka Sehun yang seperti ini. Ia suka Sehun yang apa adanya.

Luhan menundukkan kepala agar dapat melihat wajah Sehun yang merah padam karena malu.

"Sehunna, sungguh tidak apa-apa." Luhan berkata selembut mungkin agar Sehun tidak tersinggung.

Eh, apa tadi apa yang Luhan bilang? Sehunna?

Sehun mengangkat kepalanya agar bisa bertatapan dengan Luhan. Luhan tersenyum tulus dan itu membuat hatinya lega. Melihat ketulusan Luhan membuat Sehun berani membuka rahasianya yang lain.

"Sebenarnya ada satu lagi yang aku takutkan." Sehun kembali menunduk.

"Eh? Apa itu?"

Sehun menggigit bibir bawahnya untuk meredam degupan jantung yang berdetak seenaknya. Ia harus tetap mengatakannya jika tidak mau hal konyol seperti tadi terjadi lagi.

"Aku takut ketinggian hyung. Jadi bisakah kita tidak naik wahana yang memacu adrenalin?" Sehun berkata lirih.

Luhan tercengang.

Nampaknya ia harus mengubur keinginannya untuk naik roller coaster dan bianglala.


.

.

.

"Se—seorang pria?"

Pupil ibu Kris melebar. Mulutnya membulat sempurna. Hari ini puteranya—Kris—berjanji untuk mengenalkan calon pendampingnya. Dan Kris memang menepati janjinya. Ia datang bersama seseorang, tepatnya seorang pria.

"Bukankah kau karyawan delivery pizza di kedai milik puteraku?"

Pertanyaan ibunda Kris membuat Tao mengangkat kepalanya. Tao mengangguk pelan. Wanita itu kemudian menatap Tao dari atas sampai bawah, seakan menganalisis sesuatu. Ditatap intens seperti itu makin membuat Tao salah tingkah.

Seharusnya dia memang tidak menerima tawaran menjadi pacar pura-pura bosnya. Sekarang pasti ibunda Kris menganggap Tao tidak sepadan untuk bersanding dengan anaknya. Keringat dingin menetes deras di pelipis Tao. Nafasnya sendiri sudah tak teratur saking groginya.

Setelah puas memandang Tao, wanita menawan tersebut balik menoleh pada putera semata wayangnya.

"Yi Fan, apa kau benar-benar mencintainya?"

Kris terhenyak, tubuhnya mengejang seketika. Pori-porinya seakan berlomba mengeluarkan keringat dingin. Apa ibunya baru saja bertanya tentang perasaannya pada Tao?

"Bagaimana denganmu Huang Zi Tao, apakah kau serius mencintai puteraku?"

Blar!

Perut Tao tiba-tiba melilit seperti adonan pizza yang sedang diuleni. Bagaimana ini? Apakah ia harus tetap bersandiwara?

Tao sendiri belum bisa memastikan perasaannya pada Kris. Ia sangat menghormati bosnya itu—dan—err—mungkin sedikit menyukainya. Tapi untuk cinta? Bukankah cinta merupakan sebuah perasaan yang kompleks?

Zi Tao melirik Kris diam-diam. Kris tampak pucat pasi di kursinya.

Kris lalu menginjak kaki Tao yang berada di bawah meja. Tao meringis pelan. Tao mengerti bahwa itu merupakan sebuah kode. Tao lalu membuka bibirnya, bersiap untuk mengucapkan sebuah pengakuan spektakuler.

"Sa—saya mencintai putera anda—nyonya." Kalimat tersebut meluncur dari bibir peach Tao. Nyonya Wu semakin terkejut akan pernyataan Tao barusan.

Kris mempersiapkan dirinya untuk sebuah kemungkinan terburuk. Bisa saja ibunya tidak terima dan marah. Kris bahkan sudah siap dipermalukan di depan umum jika ibunya membentaknya di tempat. Ia bahkan sudah mempersiapkan pipinya untuk ditampar.

Namun keterkejutan wanita menawan ini hanya sebentar karena wajahnya tiba-tiba berubah sumringah.

"Aigooo~ manis sekali. Sudah kuduga kalian memang saling mencintai. Aku sudah menyukaimu sejak kau mengantarkan pizza di rumah kami." Ujarnya ramah.

Kris menganga. Dagunya yang lancip hampir lepas dari engselnya.

Mrs. Wu lalu meraih tangan Tao dan menggenggamnya erat. Ia memandang Tao langsung pada manik matanya. "Jadi kapan kalian akan melaksanakan pernikahan?"

Jeder!

Apalagi ini? Kenapa ibunya selalu bertindak di luar perkiraannya sih?

"Ibu yang benar saja!"

Sedangkan Tao hanya bisa mematung shock di kursinya.


.

.

.

Luhan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar taman bermain. Tangannya sibuk memeluk boneka rusa imut.

Senja telah beranjak, menampilkan bias oranye di ujung cakrawala.

Hari ini mereka cukup bersenang-senang. Yeah—meskipun Luhan tidak naik roller coaster kesukannya atau bianglala yang jadi favoritnya. Tapi dengan adanya Sehun di sampingnya, hal itu sudah lebih dari cukup untuk Luhan.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf—aku mengacaukan hari ini."

Sehun tahu bahwa Luhan ingin sekali naik roller coaster dan bianglala, tapi untuk menjaga perasaan Sehun—Luhan rela mengalah. Di sisi lain Sehun merasa menjadi seorang yang pengecut. Ia kesal pada dirinya sendiri yang begitu penakut.

Luhan tersenyum kecil. "Aku senang kok, terima kasih telah mengajakku kemari." Luhan menenggelamkan wajahnya pada boneka rusanya yang baru. Sehun memang tidak bisa menemaninya naik wahana yang menegangkan itu, tapi sebagai gantinya—ia cukup piawai menembak botol-botol kaleng di kios souvenir sehingga bisa memberikan Luhan sebuah boneka rusa.

Sehun mengangguk canggung.

Ia lalu melihat sirat kelelahan pada wajah Luhan.

"Luhan ge, apa kau lelah?"

"Sedikit."

"Kalau begitu naiklah ke punggungku."

Langkah Luhan terhenti. Elusannya pada kepala si boneka rusa juga mendadak berhenti.

"A—apa?"

"Iya, naiklah ke punggungku." Sehun berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar normal. Dalam hati ia merasa takut kalau Luhan menolaknya—pasti Sehun akan mendapat malu double combo. Ia hanya tak tega melihat Luhan kelelahan, sungguh. Yeah—meskipun sebenarnya ada modus lain.

"Benar tidak apa-apa?"

Sehun mengangguk pasti. Inilah kesempatan untuk menujukkan bahwa dia adalah seme sejati. Sehun berjongkok agar Luhan mudah menaiki punggungnya.

Awalnya Luhan merasa ragu namun melihat Sehun yang sudah memposisikan tubuhnya berjongkok membuat Luhan jadi tidak enak untuk menolak. Ia lalu naik ke punggung Sehun dan mengalungkan lengannya di leher jenjang Sehun sambil tetap memegang si boneka rusa.

"Maaf aku agak berat." Kata Luhan saat Sehun akhirnya berhasil berdiri.

Ugh, berat sekali. Tapi ini cara terakhir untuk menunjukkan sisi jantanku!

Sehun menarik napas panjang, berusaha menahan beban di punggungnya yang tidak ringan.

Dada Luhan menempel pada punggung Sehun. Samar Sehun dapat merusakan degupan jantung Luhan yang tidak teratur.

Apa Luhan juga berdebar-debar seperti dirinya?

Di sisi lain Luhan berusaha meredam jantungnya yang berdetak liar, mengalirkan darah pada sekujur tubuhnya. Ia hanya bisa berdoa agar telinga Sehun tak cukup tajam untuk mendengar detaknya. Dari posisinya, ia dapat mencium aroma rambut Sehun. Ia juga bisa melihat bahwa leher Sehun benar-benar seputih susu. Punggung Sehun juga terasa kuat dan hangat.

"Ge—"

"Hm?"

Sehun menghela nafas dalam sampai seluruh sel di paru-parunya mengembang. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan inilah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Jantungnya berdegup menggila seakan hendak loncat dari rusuknya.

"—apa kau mau jadi pacarku?"

Saraf tubuh Luhan membeku. Sedangkan bagi Sehun, oksigen seperti terambil paksa dari paru-parunya.

Sehun dapat merasakan tubuh Luhan mendadak kaku dalam gendongan.

"Aku sungguh menyukaimu ge. Mungkin bagimu aku ini orang yang baru kau kenal beberapa bulan belakangan. Tapi ingin kau tahu bahwa aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku tahu kau selalu memberi makan tiga anak anjing terlantar yang kau beri nama Gwiyomi, Kiyowo, dan Kyeopta. Aku tahu kalau kau selalu minum sekotak susu tiap pagi—malah sering si paman penjual susu memberikannya gratis untukmu. Aku tahu sebelum ini kau bekerja di toko bunga bibi Hwang—"

Luhan terkesiap. Bagaimana bisa Sehun tahu hal sedetail itu?

"—maafkan aku karena telah menjadi stalker sejak setahun lalu."

Pengakuan Sehun semakin membuat Luhan makin tercengang.

"Kau boleh menganggapku aneh, freak, penakut, pengecut, atau apapun itu. Tapi satu hal yang harus kau tahu..." Sehun menghentikannya langkahnya, membiarkan sinar oranye matahari senja menyorot tubuh mereka berdua. "...Aku benar-benar menyukaimu."

Luhan dapat menangkap kesungguhan dalam nada Sehun.

Angin semilir membelai keduanya. Mengiringi pernyataan cinta Oh Sehun pada Xi Luhan. Punggung Sehun basah oleh keringat. Tapi itu tidak ada artinya dibandingkan penantiannya selama setahun.

"Jadi—bagaimana ge?"

Jantung Sehun tak ubahnya landasan pacu saat ia rasakan nafas Luhan berhembus di tengkuk lehernya. Ia tahu, Luhan akan segera berucap.

Satu detik.

Dua detik.

Darahnya berdesir hebat.

Tiga detik.

Empat detik.

Sehun menghitung dalam hati.

Lima detik.

"—a—aku mau."

Enam detik.

Dan penantian Sehun selama setahun akhirnya terbayar sudah.

.

.


To be continued


a/n:

Halo readers-nim sekalian.

Dami mohon maaf karena baru sempat update Delivery Service. Dami mengalami author block untuk cerita ini. Mood sempat hilang, karena itu Dami sempatkan untuk menyicil dan update di tengah kesibukan riset supaya kelanjutan cerita ini tidak terbengkalai.

Dan mungkin setelah ini akan hiatus lagi. *ditimpuk*

Hiatus sampai silent reader pada tobat.

Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan dan ada typo mungkin?

Maaf juga karena saya tidak bisa menceritakan semua pairing dalam satu chapter karena susah mencampurkan mereka semua dalam satu chapter! Dami sendiri ga dapet feelnya. Tolong dimengerti.

Makanya REVIEW ya, biar saya jadi tergugah untuk melanjutkan ke chapter selanjutnya. ;)