Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

.

CHAPTER 12

.

"Terima kasih telah mengajariku merajut, Hinata." Kata Temari sambil tersenyum.

"Sama-sama, Temari-san. Rasanya menyenangkan bisa berbincang-bincang dengan seseorang selama merajut." Kata Hinata sambil mengelus syal berwarna merah yang baru saja ia selesaikan.

"Ah, seharusnya dari dulu aku mengunjungimu." Temari menghela nafas. "Sudah lama kita bertetangga namun kita tidak pernah saling berbincang."

"Mm. Aku akan lebih sering lagi mengunjungimu sekarang." Kata Hinata sambil tersenyum ke arah Temari.

"Tentu saja! Aku akan selalu menanti kedatanganmu." Melihat gelas kosong dan piring kotor di meja, Temari bangkit berdiri. "Ah, aku akan membuatkanmu minum sebentar."

"Tak perlu repot-repot, Temari-san." Kata Hinata dengan sopan.

"Tidak ada yang repot, Hinata. Dan bukankah sudah kukatakan padamu untuk memanggilku Temari, tidak perlu seformal itu padaku."

"Ba-baik."

Temari kemudian melenggang pergi ke dapur sambil membawa gelas-gelas dan piring. Hinata kemudian mengedarkan pandangannya pada interior rumah Temari yang terkesan sederhana namun hangat.

Hinata Hyuuga yang asli sama sekali belum pernah mengunjungi tetangganya ini. Sifatnya yang pemalu terkadang membuatnya kikuk dan canggung ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ah… tak mengherankan ia kalah dari Sakura Haruno yang jauh lebih periang, ramah dan pandai bergaul.

"Hinata."

Mendengar namanya dipanggil, Hinata menoleh.

"Gaara-san." Sapa Hinata.

Pria berambut merah itu kini berjalan menghampiri Hinata dan duduk di sofa yang ada di sampingnya. "Aku tidak tahu kau bisa merajut." Kata Gaara sambil mengamati perlengkapan merajut yang masih berserakan di atas meja.

"Kita sudah tidak berjumpa selama bertahun-tahun, aku sudah banyak berubah." Kata Hinata sambil mengelus syal merah yang ada di pangkuannya.

"Aku tahu."

Kini mereka saling membisu.

Gaara menghela nafas panjang. "Haruskah kita bersikap secanggung ini?"

Hinata mengangkat bahunya. "Kita adalah mantan kekasih. Kurasa bersikap canggung adalah hal yang wajar." Kini Hinata menundukkan wajahnya. "Terlebih mengingat pembicaraan terakhir kita."

"Aku hanya mengatakan padamu apa yang kurasakan. Melepaskanmu adalah hal yang paling kusesali dalam hidupku."

Hinata mengangkat kembali wajahnya dan menatap mata hijau pria itu. "Kumohon jangan mengatakan hal-hal semacam itu lagi."

"Mengapa?"

Hinata mencengkeram erat syal merah itu. "Karena aku tidak akan berlari padamu. Kumohon jangan menungguku dan lupakan aku." Kata Hinata dengan serius.

Gaara tersenyum tipis. "Bagaimana jika suatu saat nanti kau membutuhkan bantuanku?"

"Aku tidak akan berlari padamu dan memohon bantuanmu."

"Kau sangat serius." Kata Gaara dengan sorot mata sedih. "Tekadmu sudah bulat. Kau benar-benar ingin menjaga jarak dariku."

Hinata memalingkan wajahnya.

"Bisakah kau katakan alasannya padaku?" Bisik Gaara. "Alasan mengapa kau benar-benar tidak ingin berada di dekatku."

"Karena kau mencintaiku." Kata Hinata sambil menatap mata Gaara untuk menunjukkan keseriusannya. "Kau mencintaiku, dan aku tidak ingin memanfaatkan perasaanmu demi kepentingan pribadiku. Aku tidak ingin menginjak-injak perasaanmu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak ingin menggantungkan harapan palsu padamu hanya karena aku menyambut uluran tanganmu yang menawarkan bantuan padaku. Aku tidak ingin menghancurkan hatimu dengan tetap berada di dekatmu dan berpura-pura tidak memahami perasaanmu."

Dan itu memang benar, Hinata tidak ingin seperti Sakura yang memanfaatkan perasaan cinta Naruto demi tujuan pribadinya. Sakura jelas-jelas mengerti perasaan Naruto padanya namun ia berpura-pura tidak tahu hanya demi membuat Naruto tetap berada di sisinya dan membantunya menyelesaikan semua masalahnya.

Hinata tidak ingin seperti itu. Itulah mengapa sejak awal ia membuat garis batas antara dia dengan Gaara.

Gaara terlihat tertegun. "Kau menghindariku karena perasaanku?"

"Ya." Kata Hinata dengan tegas. "Aku menghindarimu karena aku menghargai perasaanmu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu, jadi yang bisa kulakukan hanyalah menghindarimu."

Kini Hinata mendekati Gaara dan mengalungkan syal merah rajutannya di leher pria berambut merah itu.

"Aku yang merajut syal ini dengan kedua tanganku." Kata Hinata perlahan. "Kumohon terima ini sebagai bentuk rasa maafku sekaligus rasa terima kasihku. Kau adalah pria yang baik, Gaara Sabaku. Kau berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku."

Selesai mengalungkan syal itu, Hinata menarik tangannya namun dihentikan oleh Gaara. Pria iru menggenggam tangannya dengan lembut.

"Apakah sudah tidak ada kesempatan untukku?" Tanyanya dengan sendu.

Hinata menggelengkan kepalanya. "Maaf…"

Gaara lalu melepaskan tangan Hinata sambil tersenyum tipis. "Kau benar-benar wanita yang jahat, Hinata."

Hinata tersenyum pahit mendengar perkataan Gaara. Itu karena aku adalah si antagonis dalam cerita ini.

.

.

Hinata membaca pesan Neji.

Semuanya sudah disiapkan. Menuju tahap selanjutnya.

"Hari ini aku akan pulang larut." Kata Sasuke sebelum ia pergi bekerja.

"Oke." Jawab Hinata sambil mencengkeram erat ponsel di tangannya.

Sasuke hanya menoleh sekilas ke arah Hinata lalu melenggang pergi.

Hinata hanya memandang punggung Sasuke yang menghilang di balik pintu dengan perasaan pahit. Apakah Sasuke akan tetap berada di sisi Sakura sampai akhir? Sebenarnya seberapa dalam perasaan Sasuke pada Sakura?

Ponsel Hinata kembali berbunyi.

Apa kau yakin akan melakukan ini semua? –Neji

Ya. –Hinata

Tidak ada jalan lain lagi bagi Hinata. Ia harus rela terseret dalam arus yang ia ciptakan demi menghancurkan tiga orang jahanam itu.

Maaf telah merepotkanmu. –Hinata

Hinata hanya bisa meminta bantuan Neji kali ini. Untunglah sepupunya itu sangat baik hati dan pengertian padanya.

Sasuke, Sakura, Naruto… Aku telah menyiapkan kejutan untuk kalian.

.

.

"Sasuke-kun…" Sapa Sakura dengan riang. "Hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku?"

Sasuke memandangi Sakura dengan tatapan serius.

Hati Sakura tiba-tiba resah. "Ada masalah apa, Sasuke-kun?"

Sasuke menghela nafas. "Mengapa kau mengatakan hal-hal seperti itu di saluran TV, Sakura. Tidakkah kau tahu jika tindakanmu itu justru memancing gosip terhadap dirimu? Publik menjadi bertanya-tanya mengenai dirimu."

Ekspresi Sakura mengeras. "Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Kita berdua saling mencintai, bukankah hal yang selanjutnya kita lakukan adalah membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih lanjut lagi."

"Haruskah kau mengungkapkan hal ini sekarang?"

"Lalu kapan lagi, Sasuke-kun?" Tantang Sakura dengan mata berapi-api. "Kau menolak memberi ketegasan padaku, kau juga menolak meninggalkan wanita itu. Lalu aku harus bagaimana lagi?!"

Sasuke meraih tangan Sakura. "Aku sudah membuatmu menderita selama ini."

Sakura mengeratkan genggamannya di tangan Sasuke. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan pria ini.

"Mungkin seharusnya kita mengakhiri hubungan ini, Sakura."

Jantung Sakura seakan berhenti mendengar kata-kata itu. "A-apa maksudmu Sasuke-kun… me-mengapa kau mengatakah hal seperti itu?! Bukankah kau mencintaiku?!"

"Aku mencintaimu Sakura… dan aku tidak ingin kau berkorban lebih jauh lagi untukku."

Air mata Sakura berjatuhan. "Aku tidak mempermasalahkan hal itu… tidak pernah… aku rela melakukan semua demi dirimu."

"Dan aku tidak ingin melihatmu terluka. Kumohon mengertilah, Sakura. Aku berusaha melakukan hal yang benar. Kau telah berulang kali terluka demi diriku, kau juga menangis demi diriku. Aku tidak ingin melukaimu lebih jauh lagi."

"Tapi bukankah ini artinya kau mempertahankan Hinata?! Mengapa kau memilihnya dan bukannya diriku?!"

Sasuke mengecup lembut punggung tangan Sakura. "Maafkan keegoisanku." Bisiknya dengan lembut.

Sakura menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menerima kenyataan ini!

"Aku tidak ingin berpisah darimu, Sasuke-kun." Kata Sakura dengan tegas. "Tidak akan."

.

.

"Apakah dia akan muncul disini?" Tanya Hinata pada Neji.

"Aku sudah mengecek kegiatannya. Setiap akhir pekan Sakura selalu berbelanja disini pada jam empat sore." Kata Neji dengan serius. "Haruskah kau melakukan ini semua, Hinata?"

"Ya." Jawab Hinata dengan tegas. "Aku akan membongkar topeng busuk ketiga orang itu."

Neji menghela nafas. "Baiklah jika itu maumu. Aku juga sudah berkoordinasi dengan Mei Terumi untuk mengurus sisanya."

Hinata menganggukkan kepalanya. Ia sudah siap.

Tak lama kemudian mobil Sakura tiba di lokasi parkiran tak jauh dari tempat mereka.

"Nii-san, siapkan semuanya." Kata Hinata sambil beranjak turun dari mobil. Samar-samar ia mendengar Neji mengatakan 'tentu'.

Sosok cantik Sakura Haruno turun dari mobil dengan gerakan anggun. Rambut merah mudanya tergerai bebas di pundaknya.

"Sakura." Panggil Hinata.

Sakura menoleh. Ketika mata hijaunya tertuju pada sosok Hinata, ekspresi kemarahan langsung menghiasi wajahnya.

Hinata sedikit terkejut melihat tingkat kemarahan yang ditujukan Sakura padanya. Bahkan ia belum melakukan apapun!

"Apa maumu." Kata Sakura dengan ketus sambil melipat tangan di dadanya.

Hinata tersenyum manis bak malaikat. Neji sedang merekam ini semua. "Aku hanya ingin melihat seperti apa wajah wanita jalang yang merebut suamiku."

Dari jarak mereka, mustahil Neji bisa merekam percakapannya dengan Sakura. Itulah mengapa ia mementingkan ekspresi wajah yang tepat.

Sakura terlihat terkejut, namun tak lama kemudian matanya berubah menjadi penuh amarah.

Meledaklah Sakura… batin Hinata sambil tetap mempertahankan senyumnya.

"Jangan terkejut seperti itu, Sakura. Bukankah itu memang kenyataannya? Kau hanyalah seorang wanita murahan yang menginginkan sesuatu yang bukan menjadi hakmu."

"Tutup mulutmu!" Bentak Sakura sambil mendekati Hinata.

"Dengan cara apa kau merayu suamiku? Apa kau juga tidur dengannya? Sayang sekali bukan, setelah semua yang kau lakukan untuknya Sasuke tetap tidak ingin meninggalkanku demi dirimu." Kini Hinata tertawa kecil. "Kau benar-benar menyedihkan."

"Aku bisa menghajarmu saat ini juga, Hyuuga. Jangan uji kesabaranku." Ancam Sakura dengan serius.

"Hajar saja aku. Toh, meskipun kau menghajarku hingga babak belur Sasuke tetap tidak akan memilihmu. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menyandang status sebagai nyonya Uchiha. Kau benar-benar tidak layak mendapatkannya Sakura, kau hanyalah sampah-"

Plak!

Sebuah tamparan tepat mengenai pipi Hinata. Inilah yang kutunggu-tunggu…

Hinata kembali menatap Sakura. "Kau hanyalah sampah, benar-benar menjijikkan."

Amarah Sakura tidak terbendung lagi. Kini ia menyerang Hinata secara bertubi-tubi. Menamparnya, mencakarnya, menjambaknya. Dan Hinata hanya menutupi wajahnya dengan telapak tangannya agar Sakura tidak mencederai matanya. Ia sama sekali tidak melakukan perlawanan, ia ingin agar semua orang berpihak padanya. Ia ingin agar semua orang melihat kebrutalan Sakura.

Tak lama kemudian petugas keamanan datang dan melerai mereka. Hinata menurunkan tangannya dan melihat sosok Sakura yang masih meronta-ronta.

"Lepaskan aku! Aku ingin merobek mulut wanita keparat itu!" Teriak Sakura yang langsung memancing perhatian orang-orang di sekitar mereka.

Hinata lalu memalingkan wajahnya dan melenggang pergi, mengabaikan sumpah serapah yang keluar dari mulut Sakura.

Misi sukses.

Ketika Hinata masuk ke mobil, Neji memandangi luka lebam di pipinya dengan khawatir.

"Ini hanya luka kecil, nii-san." Kata Hinata. "Yang terpenting adalah apa kau sudah merekam semuanya?"

"Ya. Melihat kau diserang seperti itu aku turut geram."

Hinata mengelus pipinya yang lebam sambil tersenyum. "Ia akan membayar untuk ini semua."

.

.

Waktu menunjukkan pukul 22.03 malam. Ini bukanlah jam kunjungan pasien, Sasuke tahu itu. Namun ia menggunakan kekuasaan sebagai seorang Uchiha untuk bisa berada disini saat ini juga.

Ponselnya kembali bergetar. Sasuke hanya meliriknya sekilas lalu mengabaikannya.

Sejak sore tadi Sakura selalu berusaha menghubunginya, ia tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Sakura menelponnya setiap 5 menit sekali. Tapi ia tidak ingin memikirkan mengenai ini sekarang, ada hal yang lebih penting lagi yang harus ia lakukan. Oleh karena itu ia mematikan ponselnya saat ini juga.

Sasuke melirik Kakashi yang berjalan di sampingnya.

Kakashi mengetahui maksud dari lirikan itu. "Semuanya sudah siap. Aku juga sudah menempatkan beberapa orang penjaga untuk menjamin privasi pembicaraan kalian."

Sasuke hanya mengangguk sekilas lalu masuk ke salah satu kamar rumah sakit yang dijaga oleh dua orang pria berjas hitam di pintu masuknya.

Dalam kamar itu nampak sosok Hiashi Hyuuga sedang duduk di ranjang rumah sakitnya dengan selang infus masih menancap di tangannya. Mata pria tua itu mengeras melihat kedatangannya.

"Hiashi-san." Sapa Sasuke dengan sopan.

"Entah apa yang diinginkan oleh menantuku yang terhormat ini hingga ia repot-repot mengunjungi mertuanya di rumah sakit." Sindir Hiashi.

Sasuke mengabaikan sindiran Hiashi, ia justru menyerahkan sebuah map tebal pada pria itu. Karena Hiashi tidak menerimanya, Sasuke hanya meletakkan map itu di ranjang rumah sakit.

"Apalagi yang kau inginkan kali ini?" Tanya Hiashi dengan senyum mencemooh.

"Dokumen itu berisi bukti-bukti dari tindakan Ko Hyuuga yang telah menghancurkan perusahaan Hyuuga." Kata Sasuke dengan tenang.

Hiashi nampak terkejut, namun sesaat kemudian ia berhasil menguasai dirinya. "Apa sebenarnya maksud kedatanganmu saat ini?" Tanya Hiashi dengan nada dingin.

Sasuke mengambil tempat duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang dan mendudukkan tubuhnya dengan santai. "Saya rasa anda perlu membaca dokumen itu sebelum mengambil kesimpulan yang jauh dari realita."

Hiashi hanya menatap Sasuke sekilas lalu mengalihkan perhatiannya pada map yang terletak di sampingnya. Jemarinya yang mulai keriput meraih dokumen itu dan perlahan membukanya.

Sasuke menatap dengan tenang wajah Hiashi yang semakin berubah pucat ketika membaca isi dokumen itu. Ia tahu apa yang tertulis dalam dokumen itu. Ko Hyuuga, yang merupakan kerabat dari Hiashi Hyuuga menyalahgunakan jabatan yang dimilikinya untuk menggulingkan perusahaan Hyuuga. Ko mengacaukan semua angka penjualan yang dihasilkan dan membuat Hyuuga menderita kerugian dari waktu ke waktu. Ia juga menjual beberapa aset perusahaan tanpa sepengetahuan siapapun dan berhasil menutup jejaknya dengan baik. Selain itu ia juga mentransfer kekayaan perusahaan dalam rekening pribadinya dan membuat Hyuuga kehilangan nominal uang dalam jumlah yang besar.

Tubuh Hiashi Hyuuga gemetar karena menahan shock. "I-ini tidak mungkin…"

"Anda adalah seorang pemimpin yang baik, Hiashi-san." Kata Sasuke dengan tenang. "Namun anda juga memiliki kelemahan, yaitu terlalu mempercayai kerabat dan orang-orang yang anda sayangi. Anda selalu berfokus pada menghadapi krisis yang terjadi di perusahaan namun tidak pernah mencari tahu dengan detail apa penyebab dari krisis itu."

Hiashi kembali meletakkan dokumen itu dengan tangan gemetar. "Tapi Ko… dia tidak mungkin melakukan hal seperti ini." Kata Hiashi dengan penuh penyangkalan.

Sasuke menatap Hiashi dengan serius. "Apakah anda tahu mengenai alasan saya menolak memberi bantuan pada anda waktu itu?"

Sepasang mata pucat Hiashi mengeras.

Sasuke kembali berbicara. "Itu karena saya ingin melihat sampai dimana kemampuan anda dalam menghadapi krisis yang menimpa Hyuuga. Saya ingin melihat apakah anda mampu menemukan tikus yang menggerogoti Hyuuga dari dalam… namun anda ternyata tidak bisa."

Hiashi tersenyum mencemooh. "Apakah kedatanganmu kemari karena ingin mentertawakan kegagalanku?"

"Tidak." Kata Sasuke dengan serius. "Saya ingin memberi bantuan pada perusahaan Hyuuga."

Hiashi memasang ekspresi dingin. "Dan apa alasanmu melakukan itu? Saat ini Namikaze hampir berhasil mengambil alih Hyuuga. Mengingat hubunganmu dengan pewaris tunggal Namikaze yang begitu dekat kupikir kau akan mendukungnya."

Sasuke tersenyum tipis. "Apakah anda sudah membaca dokumen itu hingga tuntas, Hiashi-san?"

Hiashi tidak menjawabnya namun Sasuke bisa menebak dengan jelas jika Hiashi tidak membaca dokumen itu hingga akhir.

"Mungkin anda dan semua orang berpikir setelah Namikaze berhasil mengambil alih Hyuuga maka Namikaze akan menjadikan Hyuuga sebagai salah satu bagian dari Namikaze group. Namun itu semua salah…"

Ekspresi Hiashi semakin mengeras.

Sasuke kembali berbicara. "Apakah anda mengenal Kaguya Otsutsuki? Ah… mana mungkin anda lupa, dia adalah adik bungsu anda yang kini telah berhasil menjadi pemimpin wanita perusahaan Otsutsuki."

"Apa hubungan Kaguya dengan semua ini?" Tanya Hiashi dengan geram.

"Pernahkan anda memikirkan alasan mengapa adik perempuan anda menolak memberikan bantuan pada perusahaan Hyuuga meski sedikit saja?" Tanya Sasuke dengan santai.

Hiashi tampak berpikir sejenak. Tak lama kemudian sebuah pemikiran berkelebat di benaknya dan membuat wajahnya semakin pucat. "Dia… ingin menghancurkan Hyuuga…"

Sasuke tersenyum tipis. "Tepat sekali. Kaguya bekerja sama dengan Ko untuk menciptakan krisis. Itulah mengapa tidak ada yang bisa membongkar kejahatan Ko meski ia telah melakukannya sekian lama. Setelah krisis terjadi, Kaguya bekerja sama dengan Namikaze untuk mengambil alih Hyuuga sedikit demi sedikit, dimulai dari pergantian jajaran dewan direksi yang menuntut anda untuk mundur. Setelah anda kehilangan kendali atas perusahaan Hyuuga… maka Kaguya akan berpura-pura menyelamatkan Hyuuga dari tangan Namikaze dan menguasai Hyuuga sepenuhnya."

"Kaguya… dia benar-benar berencana balas dendam pada keluarga Hyuuga yang telah mengusirnya dulu…" Bisik Hiashi dengan panik. "Kebenciannya pada ayah telah mendorongnya melakukan ini semua… ia ingin menghancurkan perusahaan yang merupakan simbol dari kebanggan ayah."

Sasuke kembali berbicara, sama sekali tidak tertarik dengan masalah internal keluarga Hyuuga. "Saya tidak tahu apa yang ditawarkan oleh Otsutsuki yang membuat Namikaze mau bekerja sama dengannya. Memang benar saya dan Naruto sahabat dekat dan tidak pernah mencampuri urusan pekerjaan masing-masing. Namun anda adalah ayah mertua saya… saya tidak akan diam saja dan membiarkan Hyuuga tumbang di tangan sahabat saya. Mungkin saya tidak bisa membantu anda secara terang-terangan karena tidak ingin memperkeruh keadaan, namun saya bisa menyokong Hyuuga untuk bangkit kembali."

Hiashi menatap Sasuke dengan serius. "Kau hanya tidak ingin menciptakan konflik dengan Namikaze, itulah mengapa kau menemuiku secara sembunyi-sembunyi. Kau tidak ingin membuat perselisihan dengan sahabatmu mengenai ini semua. Kau menciptakan sandiwara dengan berpura-pura menolak membantu Hyuuga demi menghindari kecurigaan Namikaze dan membuatnya berpikir jika kau tidak ingin turun tangan untuk menyelesaikan krisis ini padahal kau telah menyelidiki semua yang terjadi."

Sasuke tersenyum. Ternyata pria tua ini masih berpikiran tajam. "Saya hanya ingin menjadi pihak yang netral dalam masalah ini."

"Apa yang membuatmu berpikir aku akan menerima bantuanmu?"

"Karena anda tidak memiliki jalan lain lagi, Hiashi-san. Tidak ada yang bisa membantu Hyuuga, ah… atau lebih tepatnya tidak mau. Hutang Hyuuga telah menumpuk, aset yang dimiliki hampir kosong, kondisi keuangan Hyuuga sangat kacau, harga saham perusahaan Hyuuga juga telah terjun bebas… apa yang bisa anda lakukan selanjutnya?"

"Lalu apa yang akan kau dapatkan dari membantu Hyuuga bangkit kembali? Kau bahkan telah bekerja keras dalam mengorek semua informasi pribadi perusahaan. Apa tujuanmu sebenarnya?" Tanya Hiashi dengan nada dingin.

Sasuke mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sepatunya. "Tidak ada."

Hiashi tersenyum kaku. "Kau adalah orang yang licik dan manipulatif. Mana mungkin kau membantu orang lain tanpa mengharapkan keuntungan apapun."

Sasuke bangkit berdiri. "Anda bebas berpikir mengenai apa alasan saya melakukan semua ini. Saya hanya ingin membantu Hyuuga, tidak lebih."

"Apa kau melakukan semua ini karena ingin membayar perasaan bersalahmu pada Hinata?"

Sasuke hanya membisu.

.

.

Hinata menatap wajahnya di cermin. Pipinya bengkak akibat tamparan dari Sakura. Selain itu sudut bibirnya juga lecet akibat tamparan itu. Karena Hinata menggunakan telapak tangannya untuk menutupi wajahnya, bekas cakaran kuku menghiasi tangannya dan beberapa bagian wajahnya yang luput dari perlindungannya. Hinata mengelus rambutnya sambil sedikit merintih. Amukan Sakura benar-benar luar biasa, wanita berambut pink itu juga menjambak rambutnya hingga kulit kepalanya terasa perih. Selain itu pucuk kepalanya juga terasa nyeri akibat pukulan Sakura yang dilayangkan padanya.

Waktu menunjukkan pukul 22.30 malam namun Sasuke belum juga pulang. Mungkin Sasuke menghabiskan malamnya dengan Sakura atau apapun itu.

Hinata tidak peduli.

Ia tidak sabar menanti esok pagi.

.

.

Pada pagi harinya, publik dihebohkan dengan video pemukulan yang dilakukan oleh model cantik Sakura Haruno pada seorang wanita biasa. Semua orang bertanya-tanya konflik apa yang telah terjadi diantara keduanya hingga terlibat pertengkaran seperti itu.

Dalam video itu nona Cherry Blossom menampar seorang wanita berambut panjang yang sedang tersenyum ke arahnya. Tidak hanya itu, nona Cherry Blossom juga melakukan penganiayaan dengan mencakar, menjambak dan memukul wanita itu. Si wanita malang tidak melakukan perlawanan, ia hanya melindungi wajahnya dan menerima semua perlakuan kasar itu.

Publik langsung bersimpati pada wanita berambut panjang itu dan mengutuk sikap Sakura yang kasar dan brutal. Nama Sakura Haruno langsung menjadi trending topik, semua orang mencemoohnya meski masih ada beberapa orang fans setia yang membelanya.

Tak lama kemudian muncul fakta lain. Identitas dari wanita berambut panjang itu tidak lain adalah seorang Hinata Uchiha, istri dari pengusaha muda Sasuke Uchiha. Publik menjadi bertanya-tanya apa yang telah terjadi diantara keduanya.

Pada akhirnya muncul sebuah artikel yang membongkar skandal perselingkuhan antara Sakura Haruno dengan Sasuke Uchiha. Dalam artikel yang ditulis oleh jurnalis yang bernama Mei Terumi, hubungan perselingkuhan antara Sasuke dan Sakura sudah terjalin sejak lama. Artikel itu juga mencantumkan berbagai foto yang menunjukkan kedekatan dua orang itu.

Publik menjadi gempar!

Mereka lalu menghubung-hubungkan berita ini dengan video penganiayaan yang tersebar luas di internet. Publik lalu mengambil kesimpulan jika aksi penganiayaan itu dilakukan karena Sakura merasa cemburu pada istri sah Sasuke Uchiha lalu menyerangnya secara brutal.

Dalam sekejap saja Sakura menjadi wanita yang paling dibenci oleh publik.

Semakin lama gosip yang beredar semakin kencang. Banyak orang yang mencurigai jika Sakura memanfaatkan hubungan gelapnya dengan Sasuke Uchiha untuk menjadi bintang ambassador produk yang ia iklankan. Publik juga menuduh Sakura memanfaatkan kecantikannya untuk menggoda pria yang telah beristri dan berusaha menguasai kekayaannya. Namun yang jelas, semua orang bersimpati dan merasa kasihan dengan sosok Hinata Hyuuga yang malang.

Nama baik Sakura menjadi runtuh. Kini ia di cap sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain. Tidak ada seorangpun yang membelanya, publik menyudutkannya dan memberikan berbagai komentar negatif mengenai si model cantik itu.

Hinata hanya menyaksikan ini semua dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

Masih banyak lagi kejutan untukmu, Sakura…

Ini masih belum seberapa…

.

.

"Jadi ini semua adalah perbuatan Hinata?" Tanya Sasuke pada Kakashi.

Pria berambut silver itu mengangguk. "Ya. Dengan dibantu oleh Neji Hyuuga."

Sasuke mengerutkan alisnya. "Lalu mengenai artikel itu?"

"Neji Hyuuga yang telah membocorkan informasi mengenai kedekatanmu dengan Sakura pada Mei Terumi. Um… foto-foto itu diambil oleh Mei Terumi sejak lama. Nampaknya jurnalis itu sudah mengendus mengenai perselingkuhanmu sejak lama, hanya saja ia baru berhasil membeberkannya sekarang karena memiliki narasumber yang bagus."

"Bisakah kau mengendalikan semua pemberitaan ini?"

Kakashi mengangkat bahunya. "Aku bisa saja melakukan itu tapi aku tidak bisa menghentikan reaksi dan komentar publik terhadap semua pemberitaan ini."

Sasuke menghela nafas sambil menutup matanya. "Sudah menyebar huh."

"Hampir semua orang mengetahuinya, Sasuke. Kini publik menyudutkan Sakura dan menjatuhkan nama baiknya."

"Ini yang kutakutkan." Gumam Sasuke. "Bagaimana reaksi Sakura?"

"Sakura tidak bisa meninggalkan apartemennya karena dihadang oleh kerumunan wartawan yang ingin meliputnya. Situasi menjadi semakin buruk, Sasuke."

Sasuke lalu melirik ke arah boneka singa yang belum sempat ia buang.

Hinata benar-benar menciptakan masalah besar sekarang.

.

.

Please review^^

Rencananya saya mau posting chapter ini tadi malam tapi malah hujan deras ditambah angin dan petir yang menggelegar jadinya… yah…